Pulau Sabu 2: Alam dan Manusia Berpadu di Sabu

Laut dan pantai bukan hanya sekedar tempat untuk bersantai bagi orang Sabu. Mereka adalah urat nadi kehidupan. Sunrise dan sunset bukan hanya diburu untuk dinikmati semburat lukisan alamnya yang memukau, tapi diburu karena itu adalah saatnya laut surut, artinya saatnya untuk memanen rumput laut atau sekedar membersihkannya dari hama-hama yang menempel.

Jika terlambat, maka pasang sudah merendam seluruh area penanaman rumput laut tersebut.  Sunrise, sunset, dan surutnya laut juga berarti mencari tambahan rejeki atau sekedar untuk mencari tambahan lauk yang sangat “keren”, karena tidak jarang yang diperoleh adalah lobster, kepiting, teripang, ataupun kerang kima yang kalau di Jepang itu muahaallll… harganya.  Keren kaaannn…. ???

Di Sabu ini saya memang membayangkan diri sebagai si Robinson Crusoe, tokoh dalam novel Daniel Defoe yang terdampar di pulau terpencil tanpa penghuni (www.online-literature.com/defoe/crusoe/).  Walaupun yahh…….. pengandaian itu memang lebay… :-p

Jadi mumpung sedang “terdampar”, marilah kita menjelajahi Pulau Sabu !!

===============================================

Alam Sabu yang kering seperti kondisi alam NTT pada umumnya, ternyata masih memiliki area yang bisa ditanami padi sawah.  Beberapa bendungan penampungan air bisa dijumpai di rute menuju Kampung Namata maupun Padero.  Dan tentu saja pohon lontar ada dimana-mana, menjulang tinggi lurus ke langit Sabu yang biru bersih.   Ada hal unik dari pohon lontar ini,  “takikan” atau pijakan kaki ketika memanjat pohon nya ternyata berupa bongkahan batu yang diikat menggunakan tali lontar.  Ini unik sekali buat saya, karena biasanya, takikan di pohon kelapa yang ada di Jawa dibuat dengan cara melubangi atau membacok sedikit kayu nya di beberapa tempat dengan jarak tertentu yang bisa dijangkau rentangan kaki laki-laki dewasa.

Petani gula lontar akan memanen hasil sadapan

Setiap pagi dan sore, dengan parang dan wadah penampung nektar lontar (disebut tuak) tergantung dipinggang, para lelaki Sabu memanjat pohon lontar untuk mengambil nektar lontar yang sudah terkumpul danmembersihkan serta memasang kembali wadah penampung nektar yang telah kosong.  Wadah-wadah tuak itu disebut “haik” dibuat dari daun lontar yang sangat ajaib karena tidak bocor sedikitpun serta kuat.  Tuak yang diambil pagi hari atau sore hari pasti berasa manis segar, sedangkan kalau diambilnya siang hari, akan berasa sedikit asam.

NTT memang disebut sebagai bumi seribu lontar karena disini terdapat banyak sekali pohon lontar.  Masyarakat NTT menyebut pohon lontar sebagai “pohon kehidupan” karena seperti halnya kelapa, seluruh bagian dari pohon lontar bisa dimanfaatkan untuk banyak hal.

sumber air bawah tanah di Goa Medira (alias Lie Medira) di Desa Medira

Pulau Sabu juga  menyimpan sumber air bawah tanah, misalnya yang ada di Goa Medira (alias Lie Medira) di Desa Medira, berjarak kira-kira 8 km ke arah selatan Seba.  Lubang masuk ke dalam gua cukup sempit dan kita harus berjalan sambil membungkuk menyusuri jalan setapak yang sudah terbuat dari beton.  Udara di dalam goa terasa panas dan pengap, walau tepat di atas sumber mata air terdapat bolong kecil hingga udara dan sinar matahari bisa masuk walaupun sangat sedikit.  Airnya yang jernih dan sejuk sangat menyegarkan ketika saya minum.  Lalu tentu saja ada lautan biru jernih dengan ombaknya yang dahsyat dan sudah terkenal kegarangannya bagi angkutan laut.

Lautan memisahkan Pulau Sabu dari “dunia”.  Ketika laut sedang murka, maka pasokan bahan makanan dan bahan bakar terhambat atau bahkan terhenti.  Beras dan bensin menjadi barang langka dan mahal. Orang Sabu tidak bisa kemana-mana.  Tetapi lautan juga memberi nafkah bagi orang Sabu.  Ibu-ibu Sabu, dengan sabar dan rajin mengumpulkan pasir pantai untuk dijual.  Yang lain, mengumpulkan dan memecah batu pantai, juga untuk dijual menjadi bahan bangunan “modern”.

Ibu-ibu pengumpul pasir pantai

Air laut juga menjadi nafkah ketika sudah menjadi garam.  Teriknya matahari Sabu yang seperti mata dewa yang tidak pernah berkedip itu, tidak menggentarkan hati ibu-ibu dan anak-anak perempuan mereka untuk mengisi wadah-wadah mungil berbentuk seperti perahu mini terbuat dari daun lontar dengan air laut yang dengan terseok-seok diangkut dari laut.  Lalu mereka dengan sabar menunggu air laut dalam wadah-wadah tersebut perlahan-lahan mengering karena panas, menyisakan butiran-butiran mineral garam yang jadi berwarna coklat karena terkena lunturan warna daun lontar.  Butiran-butiran kristal garam itu belum bisa dipanen karena masih terlalu sedikit, harus ditambahi air laut lagi 2 atau 3 kali isi lagi, ditunggu hingga kering lagi, barulah kemudian dipanen dengan cara dikerik satu per satu , ditampung ke dalam bakul-bakul kecil yang juga terbuat dari anyaman daun lontar.

ibu-ibu petani garam tradisional

Laut dan pantai bukan hanya sekedar tempat untuk bersantai bagi orang Sabu.  Mereka adalah urat nadi kehidupan.   Sunrise dan sunset bukan hanya diburu untuk dinikmati semburat lukisan alamnya yang memukau, tapi diburu karena itu adalah saatnya laut surut, artinya saatnya untuk memanen rumput laut atau sekedar membersihkan rumput laut dari hama-hama yang menempel, lalu mengikatnya kembali ke tali tambang atau tali rapia yang berjajar berderet-deret di tepi pantai.  Jika terlambat, maka pasang sudah merendam seluruh area penanaman rumput laut tersebut.

Om Ebet membantu seorang ibu mencari rumput laut dan kerang

Sunrise, sunset, dan surutnya laut juga berarti mencari tambahan rejeki dari mengumpulkan teripang, gurita, kerang, dan lain sebagainya , untuk dijual.  Atau sekedar untuk mencari tambahan lauk yang sangat “keren”, karena tidak jarang yang diperoleh adalah lobster, kepiting, teripang, ataupun kerang kima yang kalau di Jepang itu muahaallll… harganya.  Keren kaaannn…. ???

===================================================

Salah satu kontestan pemenang dalam lomba adventure journal   http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/pulau-sabu-2-alam-dan-manusia-berpadu-di-sabu/   Oleh : Dian Sundari

About these ads
Posted in NTT

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s