GUNUNG HALIMUN-GUNUNG SALAK 19 Mei 2007

Udah hampir 6 minggu terakhir ini ngga jalan, otak dah bete kaki dah gatel. So..hari Jum’at malam rencana dah fixed 6 orang berangkat (5 ce 1 co), ketemuan jam 8 pagi di Villa Perhutani Wana Wisata Cangkuang (Kab. Sukabumi-Jawa Barat) .

===============================

MENGARUNGI JALAN BERLUMPUR

Wah, Sabtu pagi ini cerah ceria, mudah-mudahan siang menjelang sore nanti ngga turun hujan, biasanya di sini kalau sudah jam 12 siang harus siap-siap diguyur hujan. Dari kost-kostan gw di Cicurug, kita naik angkot Ungu (jurusan Benda-Cibadak), turun di pertigaan Cidahu, nyambung lagi angkot Putih ke Terminal Cidahu. Untung di pasar Cicurug dan di pertigaan Cidahu belum macet, jadi perjalanan pertama bisa cepat.Jalanan menuju Terminal Cidahu, kondisinya sudah cukup parah, banyak lobang di sana-sini ditambah pula dengan polisi tidur. Pemandangan kiri kanan, cukup lumayan, ada sawah-sawah dan tentu saja gunung Salak.

Sesampai di terminal Cidahu (terminalnya kecil banget), lanjut pake ojek ke Villa Perhutani.Dengan menyebut mantra sakti “Bade ka Villa Perhutani Pak Candra”, mamang ojek pun langsung tahu kemana harus menuju.  Jalanannya penuh dengan tanjakan terjal dan tikungan tajam, gw ngeri juga takut motornya ga bisa naek kaya di Senggigi Lombok dulu.Tapi, kekhawatiran gw sebenarnya ngga perlu, sebab ojek2 di situ sangat mahir dengan pekerjaannya.

Pemandangan sebelah kiri jalan diisi dengan semak belukar dan pohon-pohon tinggi menjulang, sementara sebelah kiri dan belakang adalah hamparan lembah yang seperti berujung di Gunung Gede Pangrango.Gunung Gede Pangrango tampak seperti negeri di atas awan, negeri kahyangan tempat para dewa dewi nan baik hati itu tinggal.Leher gw sampai melilit-lilit saking terpesonanya dengan keindahan alam dari atas kaki gunung di pagi cerah ceria ini.Maunya sih gw duduk di ojek dengan menghadap ke belakang…..

Memasuki kawasan perkemahan di Wana Wisata Cangkuang, ternyata banyak juga para pendaki yang sudah mendirikan tenda di sana-sini, yang masih jalan dengan mengusung backpack juga ada beberapa.

Bersama Pak Candra di Villa Perhutani Wana Wisata Cangkuang (Cidahu, Sukabumi)

Sesampai di kawasan Villa Perhutani, waa….rupanya di villa sedang banyak tamu-tamu dari Jakarta (maklum hari kejepit nasional).  Tamunya jaim-jaim banget, hi…males deh gw juga nyapanya.

Akhirnya teman-teman lainnya dateng juga, setelah berkenalan singkat, maklum belum kenal satupun, dan upacara pengarahan singkat dari Pak Chandra dan berdoa, akhirnya dengan ditemani salah satu Petugas Jagawana bernama Pak Ujang, kamipun siap berangkat. Jadi tim kami terdiri dari : Kang Wido, Ati, Lita, Nurul, Sifa, gw dan Pak Ujang (ce 5 , co 2).  Dealnya adalah ini bener-bener soft trekking, kalo kuat kita terus sampai kawah, kalo ngga kita ke air terjun saja.Secara dengan alasan mendadak dan benar2 ngga siap, ketiga temen cewek yang baru ketemu itu bener-bener saltum, semuanya pake sendal jepit yang hanya cocok dipakai buat ke pasar or ke mall apalagi sendalnya Ati, celananya mendekati putih pula warnanya…waaah….

Jalur trekking pertama yang langsung menjulang,  membuat kami para mall visitor yang terbiasa dengan escalator dan lift terengah-engah kaya orang yang tiba-tiba terserang bengek parah.  Hampir setiap 5 or 10 menit kami berhenti untuk mengatur nafas, sementara Pak Ujang dadanya lempeng-lempeng aza.

Jalanan yang kami lalui berupa jalan setapak berbatu yang katanya dibangun oleh pengelola Javana Spa tempat relax-nya orang-orang yang kelebihan muatan di rekening banknya.  Kami juga berpapasan dengan rombongan expatriat tamu-tamunya Javana Spa yang sudah kembali dari kawah (menurut Pak Ujang, program trekking ke kawah Ratu yang diselenggarakan Javana Spa untuk tamu-tamunya dimulai jam 6 pagi, jadi jam 10 mereka udah kembali lagi ke villa).

Beberapa menit berjalan, tim kami sudah terpecah dua, Pak Ujang-Gw-Sifa-Ati di tim depan, Nurul dan Lita tertinggal dibelakang dengan dijaga oleh Kang Wido.Timun (yang katanya untuk penawar racun belerang) sebanyak 1 kilo yang dibawa Ati dkk sangat menguras tenaga si pembawa.Tim depan harus beberapa kali berhenti cukup lama untuk menunggu tim belakang, kesempatan ini gw pakai untuk memfoto apa saja yang kira-kira menarik dan juga untuk mengamati tumbuhan di kiri kanan jalan, sambil mengingat-ngingat kembali pelajaran pramuka yg gw dapet jaman sekolahan dulu.

Tim buntut

Semakin lama jarak antara tim depan dan tim belakang semakin jauh, melalui para pendaki lain yg berjalan menyusul mendahului kita, kondisi Nurul dan Lita yang sudah kepayahan.  Kang Yuda muncul sendirian membawa kabar kurang baik, katanya Nurul ngga sanggup ngelanjut jadi mau balik lagi ke Villa, sedangkan Lita mau nyoba ngelanjut tapi masih istirahat di belakang, minta ditunggui. Pak Ujang akhirnya mengambil alih backpack bawaan Ati dkk, dan kembali untuk menjemput Lita.  Setelah Lita muncul, kitapun melanjutkan langkah kita pelan-pelan.

Gw berusaha untuk mengalihkan perhatian para cewek yang kecapean dengan mengajak Pak Ujang bercanda dan mengomentari tumbuhan obat yang berhasil gw kenali berkat rajin jalan grasak grusuk jaman kecil dulu di kampung nun di kaki Gunung Sawal di daerah Ciamis sana, dan juga berkat demen ikutan acara pramuka jaman sekolahan dulu (terutama sesi menjelajah alamnya, gw paling sebel sama pelajaran Semapur dan tali temali, dan kenapa gw harus selalu jadi ketua regu!!! padahal gw kan badannya paling kecil).Demi mendengar obrolan canda antara gw, pak Ujang dan Sifa, lama-lama temen-temen cewek yang lain akhirnya bisa juga ikut bercanda-canda dan sedikit melupakan kepenatan dan kecapean kaki mereka dan kekhawatiran akan putusnya sendal mall mereka.

Tapi tetap…pertanyaan keramat “masih jauh ngga Pak Ujang???” acap kali keluar dari mulut Lita (yang mengaku anak Kalimantan tapi lebih Jakarta dibandingkan Sifa si anak Jakarta).  Pertanyaan itu ditanggapi Pak Ujang dan gw dengan jawaban canda “sebentar lagi…dua belokan lagi kok…. “ (maksudnya belok kiri dan belok kanan). Tapi suatu kali, pak Ujang menjawabnya dengan “Sebentar lagi didepan ada warung, bisa berhenti dan makan-makan dulu”, jadilah pertanyaan Lita bralih ke “warungnya mana Pak Ujang??? jangan-jangan udah pindah???” Hi…hi…dasar warung minded. Tapi diakhir jalan berbatu bikinan Javana Spa, itu warung yang dirindukan Lita akhirnya kelihatan juga.

Dengan melewati jembatan kecil dari batang-batang pohon diatas sungai kecil berair jernih yang dibuat menjadi tempat cuci mencuci (ada pancurannya segala), dan di-wellcome-i dengan plang merah berisi tulis putih “ Selamat Datang di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak” kamipun memasuki area warung 1 tempat para pendaki beristirahat.

Di situ sudah banyak rombongan para pendaki yang sedang beristirahat.  Gayanya lucu-lucu.  Ada yang bergaya pendaki sejati lengkap dengan sepatu gunung/sendal gunung, celana lapangan, dan backpack gede.  Ada juga yg bergaya turis expatriat nan cuek, bercelana pendek yang sangat pendek, sepatu cats, kaus kaki putih yang sudah berubah warna, kaos ketat badan semi tang top, slayer kucel, dan rambut ber-rawis-rawis (yg ini bener-bener bikin temen2 cewek tertawa geli).  Ada juga pendaki cewek yang berkostum celana batik yogya (tau kan yg suka banyak dijual di Malioboro dan enak buat dipake tidur), bagian pantatnya dah kotor dengan lumpur sepatu cats nya juga, mungkin jatuh terpeleset ke lumpur entah dimana.  Salah satu rombongan pendaki ternyata berasal dari Tambun – Bekasi yg terdiri dari 3 orang cowok, bergaya trekker, berlogat city boy.

Setelah ngaso sebentar dan makan minum sedikit, kitapun melanjutkan perjalanan kembali.Kita berada di belakang rombongan pendaki yang selengean tadi, dan di belakang kita adalah rombongan yg dari Tambun Bekasi.

Sebelum berjalan Pak Ujang berkata “Dari sini, harus siap-siap berkotor-kotor ya”, eeehhh…benar saja, baru sekitar 5 meter dari warung, jalanan berlumpur yg sudah acak-acakan dilalui orang-orang didepan kita, sudah siap menghadang.

Lita dan Ati yang bersendal mall langsung mengeluh “Aduuuhhh…sendalku takut putus nih, apa dicopot aza ya????”  Setelah melewati beberapa langkah memakai sendal mereka diatas jalanan setapak berlumpur, akhirnya mereka memutuskan untuk menenteng sendal mereka, tapi persoalan ternyata ngga selesai sampai di situ.  Akibat tangan kiri menenteng sendal dan tangan kanan sibuk mengangkat-angkat celana mereka yg takut terkena lumpur, mereka jadi terpeleset peleset beberapa kali, karena ngga bisa berpegangan.

“Udah celananya di gulung aza tuh, jadi kan bisa pegangan ke pohon” kata Pak Ujang sedikit kesel campur geli. Ya…walaupun terlambat karena celana mereka sudah benar-benar kotor sampai ke lutut, akhirnya celana mereka digulung juga, lumayan deh kecepatan jadi bertambah walaupun sedikit. Suara-suara keluhan “aduh ah oh” dan berbagai kata latah selalu terdengar dari Lita dan Ati saat terpeleset, bikin gw tertawa geli berkali-kali.

Jalanan berlumpur ini benar-benar membuat kami sibuk memilih jalan yang bisa dilalui tanpa terlalu berlumpur-lumpur.

Setelah melewati jalan berlumpur dan kembali ke jalan berbatu, keluhan-keluhan itu tetap menyertai kami. Kali ini akibat kaki mereka yang tak bersendal itu, sakit menginjak batu-batu, sementara sendal mereka belum bisa dipakai akibat licin belepotan lumpur. Hi…hi….bener-bener bikin geli deh tuh anak dua. Untungnya, ditengah jalan ada parit kecil dengan airnya yang jernih sehingga dengan bersuka cita mereka berbasah-basah mencuci kaki dan sendal dan bagian bawah celana panjang mereka sehingga menyebabkan kemacetan lalu lintas PARA PENDAKI.  “Maaf ya mas agak lama, cuci sendal dulu nih” begitu kata Lita ke cowok-cowok rombongan Tambun Bekasi di belakang kita.  “Oh iya, gapapa mbak, 2 hari di situ juga kita tungguin koq” jawab mereka ditimpali tawa semua orang.

Selepas jalanan setapak berbatu dan sempit, kita tiba di tanah lapang.  Kata Pak Ujang, lapangan ini adalah bekas explorasi galian dalam rangka mencari sumber gas alam tapi gagal, karena gas alamnya ngga ada, hii…kasian deh salah estimasi kali.

Setelah lapangan ini dengan melewati jalan setapak berbatu lagi, kita menemukan warung ke dua.  Selanjutnya jalanan setapak semakin kecil dan rimbun dengan semak-semak.  Beberapa kali tumbuhan berbunga dan berbuah lucu menarik perhatian gw, dan beberapa kali parit berair jernih yang memotong jalan setapak menarik minat Sifa, Lita dan Ati, sementara gw berusaha tetap kering walaupun sedikit kotor kena lumpur, mereka malah sengaja berbasah-basah ria, jadilah sendal mereka terus menerus licin dan terpeleset-peleset.

TIMUN DAN KERACUNAN BELERANG

Suara cicit beraneka burung terdengar bersahut-sahutan ditimpali suara burung tiruan para pendaki.  Tidak lama kemudian bau belerang sudah mulai tercium pertanda kawah sudah dekat, dan waaaa……… itu dia kawahnya!!! Gede banget walaupun ngga segede, sedalem, seberbahaya dan seramai kawah Tangkuban Perahu. Kepulan asap belerang berwarna putih tampak bergulung-gulung dari berberapa sumber.

Kawah Ratu

Ada banyak para pendaki yang menuruni kawah dan berjalan-jalan didasarnya, bahkan ada pula yang mendirikan tenda disisi dalam kawah, astaga!!! Did they really know what they do???  Sementara kita memilih 2 batu besar sebagai pos untuk membongkar perbekalan dan memindahkannya ke dalam perut melalui mulut.  Dan ternyata disitu juga ada warung!!!

Sedang enak-enaknya membongkar makanan dan minuman sambil saling bercanda dan mengejek dan tentu saja berfoto-foto ria, tiba-tiba….ada orang berteriak tak jelas dari dalam kawah dan beberapa temannya yang masih ada di atas berlari ke bawah sambil membawa sesuatu seperti cat pilox yang suka dipake para pencorat soret dinding.

“Ada apa nih, ada apa nih???” kita saling bertanya-tanya.

“Tau, ada inaugurasi anak mapala kali, tuh mereka bawa cat pilox, buat ngerjain anak mapala baru” kata Sifa sok tau.

Tiba-tiba ada teriakan lagi “Ada yang pingsan….ada yang pingsan…bantu gotongin…”“

Hah????” kita saling berpandanganan dan buru-buru melihat ke dalam kawah.  Ternyata cewek berbaju belang pink, pingsan di dalam kawah.  Tiga orang temen cowoknya sedang berusaha menggotong dia ke atas.  Pak Ujang segera bertindak untuk menolong mereka.  Ngga lama kemudian mereka tiba di atas, yang pingsan tadi sudah siuman tapi masih lemas, sementara temen cewek dia yang satunya lagi sudah megap-megap, pias dan hampir pingsan, buru-buru di suruh menghirup oksigen dari tabung yang kata Sifa adalah cat pilox tadi (huuu…dasar wong ndeso, tabung oksigen disangka cat pilox!!!).  Mereka juga disuruh minum susu oleh Pak Ujang (susunya pake dijampi-jampi pula oleh bapak-bapak tua ngga tau siapa, dukun yang sengaja mangkal di warung situ kali).

“Timunnya…., kasihin timunnya…. Timunnya mana tadi???” tanya gw ke Ati.

“O iya, ni timunnya, ayo kasihin!!” kata Lita sambil megang keresek berisi timun 1 kilo.

“Tapi, gw ngga tau timunnya musti diapain??? Dimakan??? Apa digimanain??” tanya gw bego.

“Aku juga ngga tau mbak.  Aku cuman disuruh bawa timun sama kakakku, katanya buat penawar racun belerang nanti di kawah, tapi dia ngga bilang harus digimanain!!???” kata Ati.

“Lha!!!??? Terus gimana dong??? Kasihin ngga??? Kita berniat baik mau menolong, lagian timun ngga ada efeknya, kasihin aza ya???!!” kata Lita dengan cerdas.

“Ya udah kasihin gih, lumayan kan bawaannya jadi berkurang kalo tmunnya abis.  Gw minta satu” kata gw sok bijak.

“Gw juga mau dong” kata Sifa ngekor.

Akhirnya kita semua makan timun, dan sisanya dibagiin ke yang pingsan tadi & teman-temannya. Mudah-mudahan selamet, mudah mudahan ngga keracunan belerang, kan udah makan timun……begitu kata kami berulang-ulang sambil terus memakan timun dan menatap cewek yang tadi semaput & teman-temannya yang juga lagi khusuk memakan timun pemberian kami yang baik hati.

Akhirnya Pak Ujang muncul, yang langsung kita berondong dengan berbagai pertanyaan “ Kenapa sih tadi??? Ada apa sih tadi??? Ini timunnya musti diapain??”

Kata Pak Ujang, anak cewek yang pingsan tadi, rupanya cuci muka dengan air kawah karena katanya manjur buat ngilangin jerawat, tanpa memikirkan kadar belerang beserta efek lainnya, jadilah yang hilang bukan jerawatnya tapi kesadarannya.

Asataga!!!!!?????  Koq ya sembrono banget sih????

Dan timunnya, ternyata tmunnya itu buat mata yang pedih karena uap belerang yang bikin mata terasa terbakar.  Caranya, tuh timun di potong tipis-tipis dan ditempelin ke mata, nanti belerangnya akan keluar dari mata, jadi matanya ngga pedih lagi.   OOOOOOOOO……..begituuu……!!!????  Waahhh timunnya dah abis dimakan, udah pulang aza yuukkkss…. hi…hi….

KEMBALI BERLUMPUR-LUMPUR

Dengan perbekalan yang sudah berpindah ke perut, backpack jadi jauh lebih enteng. Teh’ panas yang gw bawa pake termos portable (dan bikin backpack gw berat bgt), trnyata sangat nikmat diminum, dan bikin badan jadi seger buat menempuh jalan pulang.

Jalur pulang kita lalui dengan penuh canda tawa, mengingat ketololan kita tadi dengan timun dan tabung oksigen.

Dan semakin seru ketika kembali melalui jalur berlumpur tadi.  Ati dan Lita kembali surfing diatas lumpur.  Ati yang ngga bisa menahan tawa benar-benar jatuh bangun di lumpur, celana panjangnya udah ngga berbentuk, sendalnya apa lagi.  Kalo yang lain berusaha mencari bagian jalanan yang lumpurnya sedikit dan sudah dilalui banyak orang sehingga memadat dan sedikit kering, mereka berdua malah sengaja mecari yang banyak lumpurnya dan kayaknya belum ada seorangpun yang menginjak bagian itu (ditandai dengan tidak adanya jejak kaki satupun).  Hal ini langsung memicu ledekan iseng dari gw “Kok milihnya jalanan situ sih??? Empuk ya???” Yang langsung memicu tawa semua orang, dan membuat Ati & Lita semakin terpeleset-peleset ngga bisa menahan keseimbangan akibat tertawa-tawa dan sukses jatuh terduduk diatas lumpur.  Aduh duuuhh…

Sesampainya di warung 1, kembali kegiatan cuci mencuci pun terjadi.  Dan sepanjang jalur pulang itu Ati menjadi bulan-bulanan canda kami semua, setiap ada kubangan lumpur selalu muncul celetukan iseng gw “Ti, kok ngga lewat situ?? Situkan empuk???” dan ditimpali Pak Ujang “Iya, Ti, nanti ngga ada lagi lho, ini yang terakhir!!!”  Hi…hi….ini namanya sengsara membawa nikmat.

Jalur pulang yang menurun, membuat lutut kami gemetaran, tapi laju pulang ini jauh lebih cepat daripada waktu berangkat, mungkin karena kami merasa seperti diudak-udak romobongan pendaki cowok dari Bogor yang ngekor di belakang kami, atau memang karena kami sudah semakin terlatih dengan jalur trekking ini (ceileeehhh….).

BERAKHIR DI AIR TERJUN

Kami mampir ke air terjun nomor 2. Cukup indah.  Air terjunnya ngga besar, tapi lumayan lah, yang penting airnya terjun ….hi…hi…!!!.  Waktu Sifa nanya “Pak Ujang, curug ini namanya curug apa?”  Gw dengan iseng langsung nyeletuk “Curug Air Terjun No 2…hi…hi..”  Wong emang ngga ada namanya kok.

Airnya jernih sejernih jernihnya.  Wahhh….segerrrrr banget airnya. Di sini, kembali kita bongkar bekel yang masih tersisa, sayangnya teh manisnya dah abis, dan ngga ada warung…..o iya ya, kok tumben ga ada warung ya??

Setelah air terjun, kita menuju ke taman bunga (begitu yang tertulis di papan penanda arah), tapi kok mana bunganya????  Ada juga kolam, patio untuk ngaso, batu batu gunung gede-gede yang ditata (untuk ngaso juga kali), dan ada bangunan seperti green house kebun bunga yang memang ada tumbuh bunga didalamnya.

Waktu Ati nanya “Ih, bunga apa itu ya??”  Gw yang isengnya ngga abis2 langsung jawab “Itu bunga terbengkalai”, lha wong ngga keurus gitu, banyak yang layu dan mati, rumput liarnya juga banyak.  Ini taman bunga atau taman rumput ya???? “O ini ya taman bunganya??? Bagus ya???” begitu komentar gw sambil memandang taman terbengkalai yang dipenuhi rumput liar ini.  Komentar tersebut ditimpali ketawa temen-temen lainnya.  Oh rupanya bunganya ada diatap genting bangunan reservoir air punyanya Javana Spa!!!  Sebab cuma di situ tumbuh bunga liar yang sedang mekar beraneka warna…hi…hi…aduh ada-ada aza deh.

Dengan jaminan Pak Ujang sang Jagawana, kami berduyun-duyun menuju daerah terlarang yang berpagar besi tinggi dan selalu terkunci (tapi waktu itu ngga), inilah wilayah Javana Spa!!!  Terkagum-kagum kami memandangi taman yang tertat rapi serta villa-villa peristirahatan nan cantik dan danau alam yang sudah ditata lengkap dengan angsa (beneran bukan patung) berwarna putih dan hitam yang sedang berenang-renang melaju tenang tanpa menimbulkan riak air sedikitpun, kok bisa ya???  Ada juga yang sedang centil meloncat loncat di air dan membenam benamkan kepala dan sayap-sayap cantiknya, aih…pesolek banget deh aahhh….

Sementara Pak Ujang mampir ke pos penjaga Javana Spa, kami dengan takut-takut memfoto-foto si angsa pesolek diatas danau.  Tiba-tiba Pak Ujang ke luar dari pos dan melambai ke arah kami.  “Pak Ujang udah belum ya dimarahinya sama Satpam Javana???  Kalo belum gw nunggu di sini dulu aza ahh” begitu kata gw ke temen2.  Tapi Pak Ujang terus melambai lambaikan tangan memanggil kami, dan ngga ada Satpam Javana yang ke luar Pos nya, jadi kami semuapun berjalan takut takut ke arah pos, dan ternyata ngga diapa-apain kok???K  atanya suka dimarahin kalo ada yang masuk ke situ tanpa ijin.Aaahh…untung ada Pak Ujang sang Jagawana.

Tak lama kemudian sampailah kami ke area Villa Perhutani, ada Nurul dan Kang Yudo sedang menunggu kami di warung.  Kasihan banget Nurul, ngga kuat ikut kami, tapi ngga pulang ke rumahnya kakaknya Ati juga, bete banget nunggu segitu lama.  Kalo gw sih mendingan pulang aza duluan kaliii…..

Ada hal aneh yang baru gw sadari di warung itu. Lebah. Ada lebah yang selalu terbang deket-deket gw, baik itu di deket kawah, selama dijalanan pulang, sewaktu berkutat dengan jalanan berlumpur, bahkan di warung itu. Dan cuma deket gw, ke yang lainnya ngga. Aduh ne, kata Sifa itu gara-gara reaksi gw terlalu berlebihan kalo ada lebah terbang deket-deket gw, gw terlalu takut bakalan disengat si lebah, jadinya gw diikutin terus, si lebah tahu siapa yang takut dan siapa yang ngga.  Aduh ne, ya iyalah gw takut disengat si lebah, wong dia terbangnya deket banget gitu, muter-muter kaya helikopter mo mencari tempat yang aman buat mendarat.  Mending kalo mendaratnya cuman pake kaki2nya doang, nah kalo pantatnya yang berjarum penuh bisa itu mendarat di jidat gw begimana dooong????

Sykukur banget hari ini ngga turun hujan.Jam 3 sore, dengan mencarter angkot, kami semua turun gunung menuju habitat masing-masing…..

Well, thanks girls, thanks Pak Ujang, thanks Pak Chandra, this is a very great and pleasurable moment in my life, I’m sure I’ll be back another time….

===================

Biaya-biaya (jika berangkat dari Jakarta):

  • ·Terminal Jakarta (Kampung Rambutan atau Terminal Kalideres atau Flyover Grogol atau terminal Pulo Gadung, Terminal Tj. Priuk) ke pertigaan Cidahu (bus) Rp.8.000,-
    • ·Pertigaan Cidahu – Terminal Cidahu (angkot)Rp.3.500,-
    • ·Terminal Cidahu – Villa Perhutani Wana Wisata Cangkuang (ojek motor) Rp.10.000,-
    • ·Karcis masukRp.4.000,-
    • ·Jasa guide untuk jagawana tidak ditentukan (kita 4 orang @Rp.10.000,-)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s