Seren Taun (4-5 Agsts 2007)

Posted: August 9, 2007 in jawa, Jawa Barat
Tags: , , , ,

UPACARA SEREN TAUN

4-5 Agustus 2007

Seren Taun ??? Apaan tuh??? Waaa…di Sukabumi n Kuningan pula tempatnya… deket nih… Begitu pemikiran pertama yang melintas di benak waktu pertama kali baca salah satu postingan di indobackpaker (oleh mas Haryo Yuswo PY dan mas Arithma Fajar Trilaksono, terima kasih banyak ya mas-mas atas infonya). Berkat info dari mas-mas inilah dan juga munculnya event di natrekk serta info dari Pak Yana temen sekantor gw yg dah pernah pergi ke Cipta Gelar, akhirnya jadi juga gw n temen gw Wiwied pergi ke Cipta Gelar.

Tadinya keder juga sih mo pergi berduaan doang ke negeri antah berantah…, biasalah wara-wiri di millis buat nyari temen jalan akhirnya dapet 4 orang temen lainnya yang juga tertarik (Erin, Emyl, Esma, dan Risda), tapi ooo… ternyata beda jalur juga , mereka ngebetnya ke TNGH alias Taman Nasional Gunung Halimun…!!! Tapi yo wis sutralah…. Jalan bareng ampe Kantor Balai Taman Nasional Gunung Halimun – Salak, udah itu pisahan menuju destinasi masing-masing.

Jumat malam temen-temen semua nginepan dulu di kost-kostan gw, rencananya Sabtu jam 5 berangkat ke Parung Kuda, halah..halah…rencana tinggal rencana… temen2 bangunnya pada kesiangan, dah gitu pake acara nge-bubur ayam dulu, n shopping di Alfamart dulu… dan barulah jam 7:30 kami akhirnya benar-benar berangkat…. Karena macet di pasar Cicurug, jam 8 kami baru sampe di Terminal Parung Kuda. Pake dikibulin ongkos pula sama sopir angkotnya halah..halah…”abdi pan urang dieu mang, masa ongkos Cicurug-Parung Kuda 5 ribu ??? nu bener we mang…mang?? Bogor-Cicurug karek etah 5 rebu ongkos naaaa…”

Jam 08:30 dari Parung Kuda kami naik L-300. Jalanannya mulus karena tahun ini memang di Sukabumi sedang gencar2nya perbaikan jalan. Tapi alamaaaakkk….ngga ada yg lempeng, bulak belok bulak belok..kaya uler, untung duduk di depan, kasihan banget temen yg pada duduk di belakang di jejel-jejel ama penumpang lain beserta barang bawaanya, turun satu naik 3 hi…hi…. “Mangpang meungpeung Neng” kata si Emang Sopir “Biasana mah sepiii…” Lucunya, mungkin karena tiap hari hilir mudik situ, Si Emang Sopir jadinya kenal semua orang, soo…setiap kali ada penumpang di pinggir jalan dia berhenti trus minta maaf ngga bisa bawa tuh penumpang karena mobilnya penuh nuhhhh….aduh si Emang someah pisan deh ahhh.

Jam 9:30 kami sampe di Kabandungan (ongkosnya 10 ribu per orang) turun persis di depan Kantor Balai Taman Nasional Gunung Halimun – Salak (TNGHS) dan langsung melaporkan tujuan kami ke petugas jaga (Pak Ali namanya). Temen2 yg mo ke TNGH masih terus ngebujuk gw n Wiwied supaya ikut mereka dulu baru kemudian ke Cipta Gelar, tapi dengan alasan ngga akan kebagian moment Seren Taun, akhirnya kami sepakat untuk pisahan di sini. Gw n Wiwied dengan bantuan Pak Ali nyari ojek carteran yg mau nganter kami ke Cipta Gelar, dapet siyyy…tapi mahal Rp150.000 per ojek sekali jalan walahhh…inimah 3 kali lipet dari info yang kami dapat (menurut info awal dari pak Yana nyewa ojek paling-paling Rp 50.000). Setelah tawar menawar, akhirnya tercapailah kesepakatan harga Rp110ribu per ojek sekali jalan. Yaaaa…sutra lah daripada balik lagi n muter lewat pelabuhan ratu…

Jam 9:50 perjalanan ber ojek pun dimulai, melewati Cipeuteuy n Cihamerang (??), terus sampe ujung aspal, memasuki jalanan berbatu, yg dilanjutkan dengan jalan setapak dari tanah yang kering dan berdebu, turun naik melewati kebun dan huma para penduduk yang ditanami sayur-sayuran dan palawija. Di suatu titik, kami berpapasan dengan rombongan bersepeda. Sehabis hamparan kebun sayur yang panas dengan jalan tanahnya yang kering kerontang berdebu, kami memasuki belukar, jalanan semakin sempit dan semakin sulit dilalui.

Setelah perjalanan kira-kira 1 jam, kami di hadang oleh jembatan dari kayu glondongan dan batang bambu. Di situ, kami juga bertemu pengendara motor lainnya yang tengah kebingungan untuk menyebrang, karena untuk menyebarang diperlukan 2 orang yang memegangi motor dari depan dan dari belakang. Kami semua pun turun. Mamang ojek yang kami tumpangi dan pengendara motor yang kami temui, bahu-membahu saling bantu untuk menyebrangkan motor masing-masing. Semua barang bawaan kami diturunkan dari ojek dan di onggokkan di pinggir. Setelah semua motor berhasil menyebrang, kamipun melanjutkan lagi perjalanan kami.

Semakin lama, semak belukar semakin padat dan kami mulai memasuki hutan Gunung Halimun. Jalanan semakin tidak bersahabat, melintasi jalan setapak yang hanya cocok untuk pejalan kaki alias trekker. Ranting-ranting belukar di kiri kanan, membuat kami yang tidak memakai helm harus extra hati-hati, karena bisa-bisa pipi atau mata kami tergores ranting-ranting. Di bagian kaki juga ngga luput dari goresan kayu-kayu, ranting, dan batu-batu yang loncat dipijak ban motor ojek. Temen gw wiwied yang cuma pake sendal jepit sudah merasakan akibatnya, kesambit bonggol kayu, batu, n ranting dan hampir kena knalpot panas waktu motor ojeknya keseleo nginjek jalanan tanah yang licin dan berbatu-batu….

Jalur trekking di hutan Gunung Halimun yang dipenuhi pohon-pohon tinggi menjulang dan rimbun ini sangat teduh, membuat jalan tanah yang kami lewati lembab dan licin. Struktur tanahnya yang terdiri dari tanah merah dan tanah kuning sangat liat dan licin. Beberapa kali ojek yang di tumpangi Wiwied tergelincir hingga hampir mereka jatuh. Di suatu titik, tanah yang dalam tergali oleh roda-roda motor trail di depan kami, membuat rem depan ojek tumpangan Wiwied rusak, sehingga berkali-kali hampir nyelonong ke semak-semak.

Beberapa kali kami turun dari ojek dan berjalan kaki sementara mamang-mamang ojek itu berupaya membetulkan rem depan motor ojek tumpangannya Wiwied. Jauh juga kami berjalan, melewati jalur tanah liat yang licin, jalanan berbatu, dan dikiri kanan kami adalah semak belukar yang sangat rapat, sementara di atas kami adalah pohon-pohon tinggi menjulang yang membuat suasana seperti jam 6 pagi padahal saat itu sudah hampir jam 12 siang. Kami juga bertemu dengan 2 orang anak laki-laki yang tengah berburu kupu-kupu langka, katanya biasanya mereka jual ke orang Jakarta seharga 10 ribu per ekor, kalo yang langka lebih mahal lagi. Kami juga melewati beberapa sungai kecil berair super jernih dan sejuk.

Beberapa kali kami berpapasan dengan rombongan pengendara motor yg rupanya juga akan ke Cipta Gelar dalam rangka Seren Taun. Dari informasi mereka, kami mengetahui bahwa motor ojek tumpangannya Wiwied sudah dapet pinjaman spare part rem depan dari salah seorang pengendara dan sebentar lagi dah bisa di pake lagi, yaaa…syukurlah…kami juga sudah cape berjalan dari tadi dan perut sudah keroncongan minta diisi, sedangkan nasi bungkus yang kami beli di Cipeuteuy tadi dan biskuit2 semuanya ada di ransel yang diikat ke motor ojek kami masing-masing.

Ngga lama kemudian ke-2 ojek tumpangan kami muncul, kami pun lanjutkan lagi perjalanan berojek. Kali ini jalanan terus menurun, rupanya kami telah melewati puncak bukit. Jalanan menurun bukan berarti menurunkan tingkat resiko karena jalanan terdiri dari batu2 yang mudah copot, sehingga jika kurang waspada dan kurang sabar bakalan keseleo dan tepar di jalanan or malah terlempar ke sisi kanan yang berupa tebing terjal. Seperti salah satu pengendara motor di depan kami, tapi untungnya ngga kenapa napa, dan masih bisa melanjutkan perjalanan.

Akhirnya kami memasuki area perladangan penduduk, karena perut sudah lapar, kami pun beristirahat di salah satu saung di atas bukit. Waaahhh….pemandangan yang terhampar sungguh luar biasa. Cuaca agak mendung, jadi sangat nyaman untuk duduk di bale-bale bambu depan saung sambil membongkar perbekalan berupa nasi, pepes ayam, tempe, dan tahu goreng serta bakso…. ya baksoo karena waktu beli nasi bungkus kami ngebakso dulu, singkat cerita baksonya ngga habis jadi kami bungkus… Waaa… asyik sekali….dan gw juga bawa the manis panas di termos portable..wuihhhh..lengkaplah sudah (apalagi kalo ada rujak yaa….)

Dikejauhan tampak perkampungan penduduk dan ada banyak tenda-tenda terpal seperti layaknya orang hajatan. Waaa….itu kah Pedukuhan Cipta Gelar yang kami tuju??? Ternyata iya!!! Setelah melewati jalan tanah di areal perladangan penduduk, kami tiba di jalan berbatu yang cukup lebar, dan ada mobil!!! Akhirnya kami pun sampai di pintu gerbang masuk Pedukuhan Cipta Gelar yang di berupa portal bambu yang dijaga oleh beberapa Hansip. Pengunjung di wajibkan membayar uang retribusi, bagi yang bermotor tarifnya rp2.000 per motor.

Jam 14:20 kami memasuki alun-alun Pedukuhan Cipta Gelar. Alun-alun nya cukup lebar, mobil-mobil dan motor para pengunjung tampak di parkir dengan rapi. Wah…rata-rata mobilnya adalah jenis 4WD dan ada yang dari Jejak Petualang-nya TV 7!!!! Wah..wah..waaahhh…ramai sekali… Di sekeliling alun-alun terdapat bangunan-bangunan seperti musholla, stasiun radio lokal alias tempat halo-halo, toilet umum, panggung pertunjukkan, balai informasi, stand pameran aneka kerajinan khas Banten (kerajinan khas Baduy juga ada), ada juga balai pertemuan yang sekaligus dijadikan sebagai tempat makannya para pengunjung, ada pula stand pertunjukan wayang golek, rumah besar alias bumi ageung nya Abah Anom sang sesepuh utama di Cipta Gelar ini, lalu ada Leuit si Jimat tempat acara puncak upacara Seren Taun di laksanakan.

Celingukan karena bingung di tempat baru, setelah membayar mamang ojek, kami memutuskan untuk mampir di musholla. Masih bingung dengan apa yang harus dilakukan selanjutnya, kami akhirnya berkeliling dulu, niatnya sih mau mencari rumah penduduk yang biasa dijadikan sebagai tempat menginap. Wah..ternyata kami malah menemukan pasar musiman, segala macam barang dijajakan di tenda-tenda terpal, dari mulai makanan minuman, baju, sendal, tas, hingga CD/VCD/DVD bajakan pun ada. Ternyata panggung pertunjukan pun tidak hanya 1, dilapangan sebelah bawah ada juga panggung dangdut yang saat itu sedang mentas. Ada pula area untuk panjat pinang yang juga sedang ramai. Wahhh…benar-benar hajatan besar nih…

Singkat cerita kami kembali ke alun-alun dan bertanya pada salah satu ibu-ibu dimana kami bisa menginap, oleh salah satu bapak-bapak kami di minta untuk mengisi buku daftar tamu dulu di Bumi Ageung. Setelah mengisi daftar tamu, kami dipersilahkan masuk ke Bumi Ageung dan disuguhi makanan dan minuman, kami juga ditawari makan, tapi berhubung kami baru saja makan, terpaksa tawarannya kami tolak. Katanya kalo mau makan datang saja ke sini, ngga usah malu-malu dan ngga usah bayar… Di sini kami berkenalan dengan Pak Hary, salah satu pengunjung yang juga baru kali itu ke sini (beliau sendiri dari Depok), dan kami pun berkenalan dengan Ibu Juanti, nah begitu tau kalo kami sedang kebingungan dengan tempat menginap, si Ibu menawarkan rumahnya sendiri untuk kami tinggali. Pucuk di cinta ulam tiba niyyy… Bersama Pak Harry (yang juga belum dapat tempat menginap) kami pun menuju rumah si Ibu.

Rumah-rumah di Cipta gelar ini ukurannya kecil-kecil, berupa rumah panggung dengan dinding dari bilik bambu dan atapnya dari rumbia. Tungkunya seperti di Baduy, ditaruh di atas lantai rumah yang terbuat dari bambu dan atau papan, tapi sebelumnya di lapisi lapisan tanah liat dulu untuk mencegah kebakaran. Tapi tidak seperti di Baduy, rumah2nya sudah memakai kaca. Dan tidak ada kamar mandi!!! Kamar mandinya berupa kamar mandi umum dengan air pancuran yang dialirkan dari gunung. Ada beberapa kamar mandi seperti itu, tapi yang dekat dengan rumah si Ibu cuma ada 1, dan waktu mencoba mengantri mandi..halah…ngantrinya bikin frustrasi ngga kebagian terus. Soalnya ibu-ibu sono, mandinya rame-rame, dan ngga pake ngantri, ngga perduli ada orang apa ngga di dalam, mereka langsung nyelonong masuk aza jadi tuh kamar mandi ngga pernah kosong. Mutung karena ngantri kamar mandi ngga kebagian terus, ahhh..mending istirahat alias tiduran dulu deh di rumah Bu Juanti.

Masih frustasi dengan acara ngantri kamar mandi yang ngga berhasil tadi, akhirnya kita pergi ke toilet umum yang ada di alun-alun. Nah..di sini budaya ngantrinya ada, maklum pasien toilet nya kan rata-rata tamu-tamu. Airnya dinginnnn…. Sayang nya yang di toilet umum ini ngga begitu jernih, tapi gpp dehhh…dan mulai bersiap-siap untuk acara malam….tapi…wah..sehabis maghrib ternyata diluar sana turun hujan rintik-rintik…udara jadi semakin dingin, niat untuk keluar rumah akhirnya ditunda dulu. Untuk mengisi waktu, kami ngobrol dengan sesama pengunjung lainnya yang juga nginap di rumah Bu Juanti. Suaminya si Ibu menawarkan untuk bakar jagung daripada bengong ngga keruan, wah asyik banget dingin-dingin makan jagung bakar … Dan sang hujan pun akhirnya reda.

Malamnya kami makan malam di Bumi Ageung ) dan semua orang pun begitu…seperti kondangan, tapi ngga perlu ngamplop, dan makannya pun pagi siang sore, atau selapernya aza tinggal datang n minta sama ibu-ibu seksi repot yang ada di situ, mereka akan dengan tulus melayani kita. Sopan santun nya terhadap tamu luar biasa. Begitu tulus dan begitu asli. Kalo kata sunda nya sih “darehdeh jeung someah pisan”. Kue-kue pun banyak. Wiwied yang tergila gila dengan peuyeum ketan, menggasak panganan itu terus-terusan, matanya selalu mencari-cari si pincuk (karena peuyeum ketannya di pincuk pake daun pisang). Selain makan tradisional, kue-kue modern seperti nastar dan bolu-bolu juga ada. Semuanya boleh kita cicip karena memang semuanya diperuntukan bagi pengunjung.

Bayangkan, semua tamu yang jumlahnya beratus-ratus orang itu semuanya dijamin makan dan minum serta akomodasinya secara cuma-cuma …hmmmm…luar biasa… Seluruh penduduk pedukuhan bergotong royong secara sukarela dalam mempersiapkan semuanya. Sayur mayur hasil dari kebun sendiri, ikan berjenis-jenis hasil kolam sendiri, beras hasil bertani selama setahun dan ternak yang dipelihara, semuanya direlakan untuk menyukseskan Upacara Adat Seren Taun. Dan betapa sopan santunnya mereka kepada tamu….padahal tamunya cuma “ngariweuhkeun” doang. Betul-betul pe
ngalaman luar biasa…..

Setelah kenyang makan malam, sambil disuguhi kopi dan berbagai panganan, para pengunjungpun disuguhi berupa-rupa hiburan, ada dangdut, ada jaipong, ada wayang golek, ada pasar malam…tinggal memilih sesuai selera. Kami berdua memilih untuk menikmati jaipongan dan wayang golek. Hmmm…jadi inget jaman kecil dulu waktu di kampung nun jauh di kaki gunung Syawal sana…, belajar kendang, belajar angklung, belajar jaipong, belajar sendra tari…wahhhh. Asyik banget, lenggat lenggut mengikuti kendang para nayaga (sebutan bagi para penabuh musik yang mengiringi penari jaipong). Berbagai-bagai tari jaipong terus mengalir, hingga tiba saatnya pementasan wayang golek.

Semakin malam, udara semakin dingin menggigit tulang….walaupun sudah membungkus diri dengan jaket tebal dan kaus kaki tapi masih menggigil kedinginan… Tak kuat menahan dingin, kami memutuskan untuk kembali ke rumah Bu Juanti. Ahh..ngga kuat nahan ngantuk, kami pun memutuskan untuk tidur. Sementara hiruk pikuk hiburan dan pasar malam masih santer di luar sana. Tidur kami begitu pulas, padahal cuma beralaskan tikar di atas ubin bambu dan untungnya dipinjami selimut tebal oleh si Ibu Juanti yang baik (yahhh…nyesel banget ngga jadi bawa sleeping bag).

Paginya begitu terbangun, tanpa cuci muka dulu karena memang ngga ada kamar mandi, kami langsung menuju alun-alun untuk ngantri toilet umum, dan nekat mandi dengan air super dingin. Brrrr…… Selesai mandi langsung ke Bumi Ageung untuk cari makanan dan minuman, kami di suguhi goreng ketan dan teh manis, hmmm….sedaaaap. Para petugas kebersihan sedang sibuk menyapu alun-alun dan sekitarnya untuk menyambut acara utama yang akan diselenggarakan mulai jam 9 nanti. Mobil-mobil dan motor yang diparkir di sekitar alun-alun dipindahkan dulu, sehingga ngga lama kemudian alun-alun sudah lengang dan bersih.

Panitia berulang kali meminta para pengunjung untuk tidak melewati batas umbul-umbul yang ditancapkan di pinggir alun-alun dan agar para juru foto untuk tertib dalam meliput Upacara Adat Seren Taun yang sebentar lagi akan dimulai. Para penduduk setempat sudah semakin banyak berdatangan ke alun-alun. Leuit si Jimat sudah didandani dengan berbagai hiasan khas. Tikar sudah digelar di depan Sang Leuit, tangga bambu alias “taraje” sudah terpasang di pintu Sang Leuit. Para remaja putri yang bertugas sebagai pager ayu sudah bersiap-siap, demikian pula juru tembang kawih Sunda, berbagai panganan khas dan minuman khas seperti kolak pisang, kolang-kaling, dll sebagai perlambang hasil bumi Cipta Gelar telah digelar di atas nampan di depan Sang Leuit. Ibu-ibu yang bertugas memainkan musik lisung, yang berkain batik dan berkebaya biru pun telah siap di sekeliling lumpang padi dengan alunya masing-masing (musik lisung adalah musik yang dihasilkan dengan cara memukul2 lesung tempat menumbuk padi dengan alu sedemikian rupa sehingga terbentuk suatu musik harmonis).

Acara utama Upacara Adat Seren Taun di alun-alun ditandai dengan datangnya Ki Lengser yang brewokan putih, berbaju pangsi hitam, berikat kepala wulung, dan berpantat bahenol karena diganjel bantal. Sambil mengacung-acungkan tongkat Ki Lengser mengawali datangnya rombongan pembawa bendera dan umbul-umbul serta rombongan pagar betis yang berpakaian adat. Dan dimulailah segala keramaian nan sakral dan penuh makna ini.

Yang paling mendebarkan hati adalah rombongan debus Banten. Hiyy….begitu ngerinya waktu menyaksikan dari dekat bagaimana seorang bocah berusia sekitar 8 tahunan dipukul dengan sekuat tenaga menggunakan bambu berukuran sedang hingga bambunya hancur berantakan, si bocah juga dibacok kepalanya, digorok lehernya, di beset perut dan dadanya, dipotong lidahnya dengan golok yang tajam mengkilat tapi ajaibnya tidak terjadi apa-apa pada si bocah padahal itu golok sebelumnya telah dicoba ditebaskan ke sebatang bambu berukuran sedang yang langsung putus sekali tebas, hiyyy….ya ampuuun deeehhh…ngeri dan takjub luar biasa. Kalo ngga liat sendiri pasti ngga bakal percaya dengan hal-hal mistis kaya gitu.

Setelah rombongan debus, ada lagi rombongan sulap yang menyulap orang jadi monyet kajajaden. Lalu rombongan pemain angklung, terus semacam rombongan tanjidor, dan iring-iringan petani yang memanggul 2 ikat padi yang digantungkan pada sebilah bambu. Para petani pemanggul padi tersebut waktu berparade bukan cuma asal parade asal jalan, tapi sewaktu berjalan, mereka menggerak-gerakkan padi yang dipanggulnya sedemikian rupa sehingga terdengar bunyi harmonis rekatreketrekatreket…akibat pergesekan tambang pengikat padi dengan batang bambu…sangat khas dan eksotis…

Lalu tibalah acara puncak, dimana Sang Abah Anom beserta keluarganya satu per satu masuk ke dalam Leuit si Jimat untuk mempersembahkan padi hasil panen tahun ini kepada Dewi Sri Sang Dewi Padi. Upacara sakral ini diiringi dengan kawih pupuh Sunda Karawitan yang dilantunkan dengan penuh penghayatan dan hidmat. Tidak sembarang orang mampu melantunkan pupuh Sunda Karawitan ini karena perlu bakat dan latihan terus menerus… Jadi bernostalgia lagi ke jaman baheula nih…waktu kecil dulu Ibuku di kampung adalah salah satu penembang kawih Sunda Karawitan dan selalu mentas di setiap ada acara kawinan atau khitanan di kampung kami. Begitu indah….begitu khidmat…

Setelah upacara di dalam Leuit Si Jimat, acara di lanjutkan dengan sambutan-sambutan dari Wakil-wakil Instansi, ada dari Bupati atau yang mewakilinya, ada dari JICA yaitu salah satu organisasi pemberi bantuan Jepang. Acara ini dilakukan di Balai Pertemuan yang ada di sebrang Leuit si Jimat.

Karena malas mengikuti jalannya urun rembug tersebut, maka kami memutuskan untuk keliling kampung, menyatroni tempat-tempat yang belum sempat kami lihat. Ternyata seperti umumnya di perkampungan Sunda, di sini pun ada banyak balong yang berisi berbagai jenis ikan air tawar, seperti ikan mas, mujair, gurame, dll. Hanya kecil saja kampung ini, sekali putar saja semuanya sudah terjamah. Dan kami pun kembali lagi ke Bumi Ageung, tentu saja untuk mencari makanan dan minuman..he..he… Pengen makan rujak, tapi ga nemu satupun penjual rujak, kami mencoba jajanan jaman kecil dulu yaitu cilok hi..hi…uenak kok….. :))

Sekitar jam 12 siang seluruh rangkaian upacara pun usailah sudah. Satu per satu tamu kehormatan meninggalkan tempat. Abah Anom sang Saibul Hajat Sesepuh Utama di Cipta Gelar ini selanjutnya ngobrol santai di amben Bumi Ageung, pengunjung yang masih tinggal (termasuk kami dan Om Mathias Mucus yang selebritis kondang yang baru datang bersama rombongan offroader nya) berebut bersalaman dengan Abah Anom dan tentu saja berfoto bersama.

Di situ juga kami berkenalan dengan Mas Dhanni dan Pak Jaya yang juga pengunjung (dari Bogor). Setelah ngobrol ngalor ngidul, Mas Dhanni menawarkan untuk pulang bersama-sama memakai mobilnya hingga ke Cibadak, tapi berhubung mobilnya itu ditinggal di Desa Pangguyangan, jadi kami terlebih dahulu harus ngojek, yah sik asi
kkk dehhh…

Setelah makan siang dan berpamitan pada Bu Juanti dan suaminya kamipun memulai perjalanan pulang kami. Rutenya memutar ke arah Pelabuhan Ratu. Jalanannya parah..super parah malah, berbatu-batu dan menurun, membikin sakit pantat, membuat pegel tangan karena berpegangan ke motor, dan membikin pegel lutut karena menahan badan supaya tidak terlalu merosot ke depan.

Di sebuah jembatan di atas sungai kecil berbatu dan berair jernih, kami beristirahat sejenak. Sekitar jam 14:30 kami sampai di Desa Pangguyangan. Dan kamipun berganti kendaraan. Ahhh…usai sudah petualangan berojek ria. Selepas Desa Pangguyangan ini, kami mulai memasuki jalanan beraspal yang berliku-liku dengan pemandangan lepas ke arah Pelabuhan Ratu. Jam 15:40 kami sampai di Pelabuhan Ratu. Sisa perjalanan dilanjutkan dengan tidur (aduh sory Mas Dhanni, dah nebeng tidur pula di mobil…perasaan cape banget niyyy…n masuk angin kayanya). Di Cibadak kami pun berpisah dengan Mas Dhanni dan Pak Jaya. Wiwied ngelanjut ke Bandung via Sukabumi, sedangkan gw pulang dooong… Dan tepar seketika begitu nyampe kostan, ngga sempet cuci muka cuci muka acan…sutralah…

Usailah sudah satu lagi petualangan yang tak kan terlupakan…selanjutnya kemana lagi???? Hmmm…mungkin ke Sawarna dan Ujung Kulon yaaa….

——–000OOOOO000——–


Terimakasih kepada:
– mas Haryo Yuswo PY dan mas Arithma Fajar Trilaksono
– Pak Yana juga atas infonya
– Pak Ali dari Kantor Balai Konservasi TNGHS
– Mamang ojek
– Ibu Juanti n keluarga
– Abah Anom n keluarga n seluruh warga Cipta Gelar
– Pak Hary
– Mas Dhanni dan Pak Jaya atas tumpangannya
– Erin, Emyl, Esma, Risda, dan Leny : keep backpacking girlss…
– Dan tentu saja temen seperjalanan gw Yulia Widyawati alias Wiwied
(he..he…jangan kapok jalan bareng gw yaaaa…..)

Biaya-biaya
Angkot dari Cicurug ke Parungkuda Rp. 2.000,-

L-300 dari Parungkuda ke Kabandungan Rp. 10.000,-
Nyojek dari Kabandungan ke Ciptagelar Rp.110.000,-
Retribusi Masuk Ciptagelar Rp. 2.000,-
Nginep (seikhlasnya) Rp. 20.000,-
Ngojek dari Ciptagelar ke Pangguyangan Rp. 50.000,-
Pangguyangan – Cibadak Rp. 0,-
Makan selama di Ciptagelar Rp. 0,-

L-300 Cibadak – Cicurug Rp. 3.000,-

Total Rp.197.000,-

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s