(16-19 Agustus 2007) Sawarna – Bayah

Posted: August 21, 2007 in Banten, jawa
Tags: , ,

Ini dia triping 3 hari ala srimulat (minjam istilahnya Emyl) karena kita ketawa ketiwi melulu selama 3 harian…bener-bener gokill…!!!

Kamis, 16 Agustus 2007

Berhubung kami yang para kuli ini ngga seragam jam pulang ngulinya, maka kami terbagi jadi 2 kloter. Kloter 1 terdiri dari : Erni, Fitri, Anis, Rika, dan gue, sedangkan kloter 2 terdiri dari Emyl, Esma, dan Risda.

Kloter 1 (kecuali gw yg nunggu di Cicurug) janjian ngumpul di Terminal Baranang Siang Bogor jam 19:0 ~ 19:30 …. dan ternyata baru jam 20:05 mereka dapet bis, setelah sempat macet gara-gara pas jam pulangnya orang2 garment akhirnya jam 21:15 mereka nyampe juga di tempat gw nunggu. Waahhhh…bis nya penuh bangettt.

Jam 23:22 tiba-tiba mesin bis kami batuk-batuk dan akhirnya mogokk…. walah tengah malam di negeri antah berantah pula dan masih jauh dari Pel. Ratu… menurut Erni mungkin kualat kali gara-gara dia ditarik ongkos Rp17.500 sedangkan Anis cuma Rp15.000!!!

Ngga lama kemudian bis sudah bisa jalan lagi, tapi alamaaakkkk…mesinnya tiba-tiba mati lagi n mogok lagi padahal terminal Pel. Ratu tinggal 2 tanjakan pendek lagi, para penumpang pria alias bapak-bapak berusaha mendorong bis… Di tanjakan rendah yang pertama si bis berhasil didorong melewati tanjakan dan menggelinding mulus menuruni turunan….tapi menjelang tanjakan ke-2 yg agak tinggi bis-nya tidak mampu terus… Wahh terpaksa deh kami semua turun. Kami pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki di tengah malam buta, menuju meeting point kami dengan Pak Djay – pemilik mobil pick up yang akan kami tebengi hingga Sawarna – yaitu didepan POM Bensin dekat TPI Pel. Ratu.

Setelah tanya sana sini akhirnya kami bertemu dengan Pak Djay. Kami pun segera melakukan confrence call alias berembuk dengan kloter 2, memutuskan apakah mau nunggu kloter ke-2 yang ternyata saat itu masih di Ciawi – Bogor (ajagilabusyettt….) dengan resiko harus tidur di sini di dalam bak belakang pick up sampai pagi atau berangkat duluan menuju Sawarna dengan resiko meninggalkan rekan-rekan dibelakang…., akhirnya kami sepakat untuk berangkat duluan.

Maka mulailah perjalanan berguncang-guncang di bak belakang pick up Pak Djay. Gue, Rika dan Anis memilih tidur di bak belakang, di atas tikar yg sudah disiapin Pak Djay. Gara-gara menghadap belakang ternyata pusing juga melihat pohon-pohon dan bangunan-bangunan berlarian berlawanan arah dengan yang biasanya kita lihat kalo naik mobil dengan posisi menghadap ke depan. Hwaaaa…daripada pusing mending tidur!!! Awalnya ngga begitu dingin cuma berjaket doang, tapi brrrr….lama-lama dingin juga. Ngga tahan akhirnya minta berhenti dulu di tempat terang untuk bongkar backpack nyari sleeping bag (kecuali Anis yg males bongkar). Hmmmm…. anget….dan zzzzz…. kami pun tertidur pulas.

Di tengah jalan kami terbangun karena mobil berhenti gara-gara ada orang yang mau menumpang. Katanya mereka biasanya memang begitu. Gara-gara sudah biasa dan biasanya ngga ada orangnya di bak belakang sini, maka si Bapak main naik aza tanpa babibu, hampir saja gue diinjek nya eee….. Bapak ati-ati dooong ada orangnya nih…!! Si Bapak pun kaget melihat ada 3 bidadari tidur di bak pick up!!! Tidur lagi ahhhh… ngantuk. Sayup-sayup antara sadar dan tidak masih terdengar obrolan bapak-bapak itu yg sekali-sekali dijawab Anis. Entah di daerah mana tuh Bapak-bapak yang nebeng turun. Sisa perjalanan dilalui dengan tidur pulas….

Tiba-tiba mobil berhenti, pintu mobil dibuka dan dibanting menutup, dan “Woooy…woyyy…bangun woy, udah sampe. Ayo packing2 lagi…, kita musti nyebrang sungai…” kata Erni. Hahhh???? Jam berapa ini??? Ternyata baru jam 02:30 pagi…. Serasa mimpi, gw berusaha melipat kembali sleeping bag dengan benar, walahhh…. ternyata susah, yasud di lipet ngasal dan bessss… dimasukin ke backpack.

Waaa…di mana ini Pak Djay??” tanya gue. “Di Sawarna” kata Pak Djay. Tapi kita musti nyebrang sungai, jembatan gantungnya ambruk diterjang banjir bandang. Headlamp dan senter pun dikeluarkan, celana digulung, kaos kaki dilepas, dan byurrr…kecuprak…kecuprakkk…. kita pun nyebrang sungai di bagian yang dangkal, cuma selutut, lebarnya kira-kira 3 meter ada kali ya… (maksudnya bagian yg berairnya…).

Sehabis nyebrang sungai, kita musti berjalan di pematang sawah, yaaa…. kira-kira 200 meteranlah. Di langit bulannya bulan sabit, bintang pun dikit karena tertutup awan. Setelah melewati selokan irigasi, kami sampai di rumah kenalannya Pak Djay. Ternyata ini adalah rumahnya Pak Puloh, pengrajin arang batok kelapa rekan bisnisnya Pak Djay. Seisi rumahpun terbangun gara-gara kedatangan kami. Setelah ngobrol berbasa-basi dengan tuan rumah, kami pun meneruskan tidur. Sebagian tidur di kasur yang digelar di lantai ubin, sebagian tidur dalam sleeping bag di lantai, dan gw kebagian tidur di kursi. Zzzzz….sampai pagi, niat hunting sunrise lewatlah sudah….

Jumat, 17 Agustus 2007

Pagi-pagi…sambil menunggu sarapan yang sedang disiapkan Bu Puloh, kami keluyuran di sawah, hunting foto ceritanya sih…., ada keluarga bebek berenang di sawah di foto, ada ibu-ibu mencuci di kali difoto juga, ada iring-iringan orang-orang nyebrang sungai sambil menggotong perahu hias untuk pawai 17-an difoto pula, sampai ke telur keong mas yang menempel di batang padi pun di foto. Ahhh…ya, ayam jago juga difoto!!

Hhhh…laper…balik ke rumah lagi yukkk…dan ternyata sarapannya sudah siap. Hmmm…sedaaappp… Rencananya pagi ini kami mau ke pantai yang terdekat dulu yaitu pantai Ciantir sambil menunggu teman-teman yang lain. Yukk..yukk sudah jam 08:20 kita berangkat yukkk…tapi begitu buka pintu…lhaaaaa…..itu me
reka lagi nyebrang sungai. Woooyyyy….kami di sini teman-teman!!! Rencana ke pantai pun dibatalkan.

Dengan hebohnya bertemulah ke-2 kloter backpacker super gokilll….ramai saling bertukar cerita di teras rumah yang tepat di depannya mengalir saluran air untuk irigasi sawah, yang ternyata juga dipakai untuk kegiatan MCK yuppp…MANDI CUCI KAKUS, seperti ibu-ibu di depan kami yang sibuk mencuci piring dan baju, ada juga yang mandi, hi…hi…hi…saruuuu…

Ternyata kloter 2 ini sempet berantem dengan supir angkot yang berjanji mo nganter sampai Pel. Ratu ternyata bokis akibatnya mereka diturunin di tengah jalan tanpa tau ada di daerah mana, di pagi buta pula wah…dan mereka akhirnya nebeng truk sampai Pel. Ratu…asyrikkkk….seru punya!! Dari Pel. Ratu sudah ada angkot, sampai pertigaan Ciawi-Sawarna, selanjutnya naik ojek sampai Sawarna…nyebrang sungai deh ke sini, ke Kampung Leles namanya…..

Setelah berembuk lagi tentang tempat-tempat yang mau kita kunjungi, akhirnya kami memutuskan untuk ke Goa Lalay dulu sampai waktunya Sholat Jum’at karena Mang Puloh kan musti ke Mesjid. Sorenya kita susur pantai dari mulai Laguna Pari, Karang Heulang, Batu Layar, sampai Ciantir. Rencananya mo hunting sunset di Batu Layar.

Dengan menyusuri sepanjang jalur irigasi yang katanya memang sumbernya dari Goa Lalay tersebut, kami berjalan beriringan, melewati kebun dan sawah penduduk yang tampak kering dan kosong karena sudah lewat musim panen dan belum tiba musim tanam berikutnya.

Jam 09:25 kami tiba di suatu bendungan yang ada kincir air kecil untuk menaikan air ke pipa-pipa yang akan dialirkan ke sawah-sawah. “Nah, kita sudah sampai ke Goa Lalay” kata Mang Puloh. Hahhh?? Mana goa-nya Mang??? Itu lobang air yang sempit itu goa lalay nya kata si Emang lagi. Alamakladalahhh…..kecil bener lobangnya??? Salah kali Mang…bukan ini!!! Orang dari gambar-gambar di internet goanya gede, orang bisa masuk sampai ke dalam… Gambar orang yang ber-foto di dalam goa dengan peralatan caving lengkap juga ada di Kompas OnLine….

Yaaaa….ternyata si Mang Puloh ini ngga tau potensi wisata daerahnya sendiri, dia ngga tau kalo ada Goa Lauk dan Goa Lalay yang sering di jelajah para Caver. Wahhh…yasud kita ke desa aja deh ke rumahnya Pak Hudaya sang tokoh Sawarna, minta tolong dicariin local guide yang pernah masuk ke goa-goa tersebut..

Kalo mo ke desa, lewat sini Neng” kata Mang Puloh. Kita pun menempuh rute berbeda dengan rute waktu berangkat. Ngga lama…di sebelah kanan ada pintu goa besar menganga….. “Lho, Mang …., ini goa bukan??? Ini goa Lalay nya kali Mang, tuh besar banget di dalamnya…ada sungai bawah tanah yang mengalir di tengahnya…stalaktitnya juga banyak…tapi ga ada lalay nya…” Tapi di mulut goa, ada semacam bak air dari tembok, sungai bawah tanahnya pun di bendung dengan tembokan dan airnya di alirkan ke saluran irigasi… Wahhh…ternyata si Mang Puloh juga ngga tahu tentang goa ini dan belum pernah ke sini. Waduhhh…bahaya deh jangan masuk dulu terlalu dalam, takutnya sungainya berbahaya…..

Selagi bertanya-tanya dan berdebat kusir serta ber-narsis ria di mulut goa, tiba-tiba ada serombongan cewek berkaos merah merah membawa headlamp dan senter, dipimpin oleh seorang bapak-bapak yang membawa lampu petromax…. Ternyata mereka ber-8 adalah rombongan dari Jakarta juga, baru tiba tadi pagi, dan berniat menyusuri goa Lalay ini. Waaaa….kebetulan….. Goa di cinta guide pun tiba…. boleh nebeng ngga??? Xi..xi..xi..xiiii…. srikk..asyrikk..asyriiikkkk…..nebeng lagiiiii….

Dengan dipandu oleh si Bapak yang bawa petromax (aduh maaf siapa namanya lupa d…) kami beriringan di sungai bawah tanah yang membelah goa, yang ternyata dalamnya cuma selutut, dan dasarnya adalah lumpur halus yang tidak nyaman jika disusuri sambil memakai sendal. Di beberapa spot kami naik ke tepi sungai. Harus extra hati-hati karena di lantai goa ini lumpur yang basah menjadi sangat licin.

Waaa….tinggi banget langit-langit goa-nya… stalaktit-stalaktitnya yang tajam bertonjolan dimana-mana, airnya menetes-netes dari beberapa stalaktit. Tak lupa kami ber-narsis lagi… grup merah bercampur dengan grup backpacker srimulat kami, jadi rame kaya di depan bioskop Keong Mas. Karena peralatan yang tidak memadai dan skill yang jelas tak kami miliki akhirnya setelah agak dalam kami menghentikan perjalanan susur goa kali ini dan kembali ke tempat semula kami masuk.

Sempat terpeleset waktu mau turun sungai, sampai-sampai kamera dan sarungnya nyungseb ke dalam lumpur super becek….untung si Oly gw ini waterproof dan tahan banting, jadi ga apa-apa….dicuci dikit udah bersih lagi, tapi sarungnya musti di sikat nihh… Di mulut goa ini kami berpisah dengan grup merah…, mereka kembali ke desa, sedangkan kami menyusuri rute semula kembali ke Kampung Leles untuk makan siang tentunya…. Terimakasih ya teman-teman…..

Jam 14:30 kami berangkat untuk kegiatan susur pantai (istilah kerennya sih…sebenarnya cuma main-main di pantai…). Rutenya melewati kebun kelapa, kandang-kandang sapi dan kambing, sawah yang kering, bukit gersang dengan rumput liarnya, kebun kelapa lagi, dan setelah melewati salah satu puncak bukit, tampaklah pantai Lagun Pari di bawah kami.

Pasirnya putih berkilauan terkena cahaya matahari, ombak laut selatannya yang bikin gentar berdebur-debur menghantam karang hitam di sebelah timur. Lautnya yang biru membentang sampai batas pandang. Di sebelah barat tampak hamparan batu karang yang menghijau karena ditumbuhi lumut dan rumput laut. Karena sedang surut, banyak sekali hewan-hewan laut yang terperangkap di dalam kubangan air diantara karang-karang. Seperti melihat ke dalam aquarium saja. Kami menjumpai berbagai-bagai hewan laut yang tak kami tahu namanya. Ikan-ik
an kecil beraneka yang sangat susah di foto, selalu ngumpet ke dalam lubang karang setiap kali kami bergerak mendekati walaupun dengan sangat pelan. Gesit bener mereka menghindar. Tapi kalo sabar menunggu dengan kamera yang sudah stand by di dalam air, akhirnya dapet juga beberapa foto ikan. Kalo sudah frustrasi sih, jepret aja dari permukaan seperti kalo kita foto ikan di kolam…, ada pantulannya memang…tapi lumayan lah….

Wilayah pantai berkarang yang muncul hanya kalo laut sedang surut ini, luas sekali. Ada batu-batu karang yang akibat hempasan ombak laut selatan yang kencang selama bermilyar-milyar tahun lamanya, jadi membentuk seperti deretan sandaran kursi berjajar-jajar, berjalur-jalur seperti di bioskop 21, semuanya menghadap ke laut selatan. Maka kamipun menjulukinya pantai 21.

Jauh didepannya, batu karang hitam berdiri tegar menahan deburan ombak laut supaya tidak naik ke dalam bioskop. Jika ada ombak tinggi datang, pemandangannya menjadi sangat spektakuler. Karena penasaran dengan pemandangan apakah yang tersji di balik batu karang, Risda naik ke atas karang, dan gw pun menyusul. Dan….wow, ombak ganas berdebur-debur menhantam batu karang tiada henti. Deburan ombak yang cukup besar menyemburatkan air laut menghujani kami, takjub dan ngeri dengan kekuatan alam, gw buru-buru turun takut ada ombak gede banget, bisa terlempar mental menghantam batu-batu karang gw nantinya… Apa yang ditakutkan akhirnya terjadi menimpa temen gw Risda, padahal dia sudah turun dari tebing tapi masih bisa terhantam ombak saking kuatnya, akibatnya dia limbung dan terjatuh, lututnya terluka dan terkilir gara-gara terperosok diantara celah karang.

Selain karang terjal pembawa celaka orang-orang yang penasaran, nekat, dan ceroboh itu, ada pula dataran batu karang yang menghampar datar ke arah barat , lurus membujur dari timur ke barat seperti jalan tol sehabis hujan sore-sore, basah bersinar keemasan akibat pantulan matahari sore. Garis-garis berjajar seperti marka jalan, memisahkan jalur tol yang satu dengan yang lainnya. Indah sekali.

Di pinggir selatan jalan tol, karang-karang megah bergerombol-gerombol lengkap dengan deburan ombak-ombak nya yang menghantam terus menerus. Mengundang orang penasaran dan nekat seperti gw, Risda, Rika, dan Emyl. Mereka semua basah kuyup terguyur ombak karena turunnya tidak di saat yang tepat. Untunglah gw turun selalu pada saat yang tepat. Di Karang pertama tempat Risda jatuh, gw dah turun duluan jadi selamat, di karang ke-2 juga begitu, tapi tetap aja kedinginan kena angin laut sore.

Di sisi utara jalan tol, menjulang 2 buah batu karang seperti layar yang tertancap di perahu nelayan. Oleh karena itu tempat ini dinamakan Tanjung Layar. Menatap matahari sore yang mengintip dari celah-celah awan tepat di atas puncak batu layar, hmmmm….benar-benar indah. Hari mulai gelap, dan kami pun mulai trekking kembali ke kampung Leles. Melewati kebun dan sawah. Untung headlamp nya ta bawa.

Malamnya kami keluyuran keluyuran ke alun-alun desa , tentu musti nyebrang kali dulu dong, niatnya sih mo nonton wayang golek dengan dalang Asep Sunandar Sunarya dari Bandung yang terkenal itu. Ramai banget suasana di alun-alun ini, sepertinya semua penduduk Sawarna tumpah ruah di sini. Mereka menggelar tikar dan membawa perbekalan. Dari balita sampai kakek nenek ada di sini. Berbagai makanan jajanan bisa dijumpai di sini. Beberapa wisatawan asing juga tampak diantara para penonton.

Di panggung sedang berlangsung acara hiburan ngibing alias joget bermusik jaipong atau dangdut. Para pemuda dan bapak-bapak yang mau ngibing (menari) terlihat antri di pintu samping panggung. Yang kebagian langsung naik ke panggung dan langsung mengajak pengibing wanita berbaju warna-warni untuk ngibing sama-sama. Uang saweran pun terlihat di sebar-sebarkan para lelaki pengibing ke arah para nayaga (pemain musik) dan para pengibing wanita. Gaya seruduk banteng ala pemain sepak bola Prancis Zidane Zidane acap kali dipakai oleh pengibing laki-laki ke bagian d#d# pengibing wanita.

Ada juga pengibing lelaki yang membawakan tarian jaipongan solo alias sosoranganan atau bersama teman-temannya, hoby menari kali jadi sumbang tari… Sudah jam setengah sepuluh tapi wayang golek belum juga dimulai. Sudah cape dan mengantuk, kami pun memutuskan untuk pulang.

Kami berembuk lagi untuk kegiatan esok hari. Berhubung Risda kakinya masih sakit jadi mau ga mau dia harus stay di sini. Kami pun akhirnya memutuskan untuk explore pantai Karang Taraje dan pantai Cimanuk alias Cibayawak di Bayah.

Sabtu, 18 Agustus 2007

Esok paginya, pagi-pagi kami sudah keluyuran di atas pematang sawah menuju TPI di pantai Ciantir, dengan tujuan berburu ikan laut segar tangkapan nelayan. Tapi ternyata di TPI sepi cuma ada beberapa orang nelayan sedang membetulkan jaring, dan seseorang jauh di sana sedang mengumpulkan sesuatu di antara karang-karang. Ombak pagi sama dahsyatnya dengan ombak sore kemarin.

Karang nya ada yang berwarna hijau seperti puding, hijau sampai ke dalam-dalam. Rumput laut dan hewan-hewan laut yang terdampar di genangan air disela-sela karang juga banyak. Orang yang sedang di terbungkuk-bungkuk di karang itu ternyata sedang mengumpulkan rumput laut untuk dimakan, katanya kalo sudah direbus rasanya enak.

Di lantai berpasir TPI ternyata temen-temen menemukan 2 ekor lobster. Daripada ga dapat ikan sama sekali, kita beli aja ini lobster yukkk… dan karena cuma gw yang orang Sunda jadilah gw dijadikan sebagai utusan untuk menanyakan harga lobster, akhirnya kami membeli ke-2 lobster itu seharga Rp.20.000 asyiikkkk….mari kita rebussss….dengan bergembira ria kami pun pulang. Ternyata tadi pagi cuma ada 3 perahu yang melaut karena sebagian nelayan masih agustusan!!!

Sesampainya di rumah, sebelum direbus si lobster dijadikan obyek foto dulu, dari atas, dari samping, dari depan, dari belakang, kaya selebritis… Setelah dicuci jadi keliatan yang satunya warnanya hitam banget sedang yang satunya lagi agak coklat terang. Dan setelah di rebus, ternyata si hitam warnanya jadi merah menyela. Karena wong kere ga pernah makan lobster, prosesi buka kulitnya pun luamaaa…. Tiap lobstar di cincang jadi 8 potong, masing-masing dikunyah berlama-lama biar long lasting rasa enaknya…he…he…katro banget yaaa…. biarin deh!

Sambil sarapan tadi kami berdiskusi tentang cara untuk mencapai pantai-pantai Bayah. Untuk ke sana kami harus ngojek, karena itulah satu-satunya angkutan umum yg tersedia. Merasa masih trauma dengan pegalnya pantat, kaki dan lengan akibat ngojek waktu pulang dari Ciptagelar melewati jalanan berbatu grinjal grinjul, gw mengusulkan untuk menyewa mobil pick up. Dengan bantuan Mang Puloh, kami pun memperoleh sewaan pick up Rp. 200.000,- pp. Oke deh siiippp… mari berangkat….

Kami menyebrang sungai lagi ke desa. Dari sana baru kami naik pick up. Melewati jalan masuk ke Desa Sawarna, melewati pantai Sawarna, dan menaiki bukit. Pemandangan dari atas bukit sungguh indah, pantai sawarna terhampar di bawah kami. Setelah melewati bukit dan hutan, kami sampai di Pantai Cimanuk, tapi kami memutuskan untuk ke Karang Taraje dulu.

Pantai karang Taraje ini tidak kalah indahnya dengan pantai Lagun Pari, Tanjung Layar dan Ciantir. Batu-batu karang dan ombaknya pun sama sangarnya, beberapa karangnya berwarna warni pula sepeti di pantai twenty one. Bedanya di sini sudah lebih komersil, pengunjungnya agak banyak. Mobil ber-plat B juga banyak. Di sini juga banyak warung.

Setelah puas bernarsis ria, kami menuju ke Pantai Cimanuk alias Cibayawak. Di sini juga banyak warung-warung dan pengunjungnya lebih banyak, karena di sini pantainya landai jadi aman untuk berenang. Oya banyak orang pacaran pula hi…hi….

Disebut pantai Cimanuk karena dulu di karang yang menjulang jauh di sana itu banyak burung walet laut bersarang. Tapi sekarang ga ada satupun. Kalau siang menjelang sore, pengunjung bisa mencapai karang tersebut dengan cara berjalan di atas hamparan karang yang terlihat kalo laut sedang surut. Mulai jam 6 sore laut akan pasang dan hamparan batu karang ini akan tertutup air laut. Ikan laut yang terperangkap diantara karang-karang nya lebih banyak dan lebih beragam. Yang agak besar ukurannya juga ada.

Jam 4 sore kami bergegas kembali ke Desa Sawarna, karena rupanya mobilnya mau dipakai si empunya mobil untuk mengangkut kelapa. Jadilah pak supir melarikan mobilnya seperti kesetanan ngebut naik turun kaya naik roller coaster di Dufan. Kami penumpangnya cuma bisa menjerit-jerit sambil berpegangan ke pinggir pick up.

Kami di drop di depan jalan setapak yang berjudul “Selamat Datang di TPI Sawarna” , melewati jembatan gantung yang tidak rontok gara-gara banjir bandang, melewati rumah-rumah penduduk (salah satunya berjudul “HOMESTAY WIDI”) dan menuju kebun penggembalaan kerbau yang banyak penghuninya, kerbau besar kecil. Kerbau yang besar pada melotot melihat gw dan Fitri yang berkaos merah. Kami berdua lari pontang panting akibat kerbaunya di hela si penggembala iseng tepat ke arah kami…ha….ha….

Kami pun sampai di Pantai Ciantir lagi. Niat berbasah-basah di laut pun kesampaian di sini. Dengan mengikuti 3 orang warga desa yang sedang memancing di tengah ombak yang bergulung-gulung, kami bermain ombak dan bermain air, menakjubkan ternyata di sini adalah pertemuan 2 arus laut, akibatnya ombak datang dari mana-mana, bukan cuma datang dari arah depan tapi dari samping kiri kanan, bahkan ombak yang sudah sampai pantai kembali ke laut lagi dalam bentuk ombak juga…waaa…..luar biasa….

Sebenarnya bisa berjalan terus sampai agak tengah, seperti nelayan-nelayan itu, tapi takut melihat ombak yang bergulung-gulung. Kadang-kadang kami berada tepat di titik pertemuan ombak dari 4 penjuru mata angin. Kadang-kadang kami liat kepala ombaknya bukan berjalan ke arah pantai tapi menyamping merepet terus sepanjang badan ombak itu sendiri ke arah samping sampai bertemu dengan kepala ombak dari arah berlawanan dan byurrrrr…..ombak pecah menjadi buih-buih air laut berwarna putih.

Matahari senja yang kuning keemasan memantul dari permukaan air laut dan memandikan kami semua dengan sinarnya. Pasirnya halus dan putih. Tak ada sampah. Tak ada pengunjung lain kecuali kami. Bebas bergaya narsis apa saja. Bebas tiduran di pasir yang lembut dan hangat tanpa takut terganggu siapa-siapa.

Makin sore ombaknya makin besar. Nelayan yang sedang memancing pun sudah kembali ke darat, entah dapat ikan entah tidak, kami lupa menanyakannya karena sibuk bermain ombak sambil narsis dengan si Oly ampibi. Waktunya untuk pulaaang….waaaaa…..pengen kembali lagi ke sini!!! Asyik banget serasa pantai milik sendiri…

Nyampe rumah dah disiapin ikan bakar n rujak es kelapa muda pake gula merah….hmmmm uenak tenan….

Minggu, 19 Agustus 2007

Esoknya, pagi-pagi sekali kami berpamitan kepada keluarga Pak Puloh. Hari ini kami akan pulang ke habitatnya masing-masing.

Dengan menumpang elf satu-satunya jurusan Sarna-Pel. Ratu kami berangkat menuju Pantai Karang Hawu di Pel. Ratu. Walaupun kami sudah pesan tempat duduk dan ongkosnya pun sudah dibayar full tadi malam, tetap saja kami harus berebut tem
pat duduk dengan penumpang lain.

Dan busyet!!! Penumpangnya banyak benerrrr… Orang-orang dan barang bawaan penuh sampai di atap mobil. Ibu-ibu kegencet oleh bapak-bapak yang berdiri berdesakan di pintu, cuma kepalanya doang yang masuk ke dalam mobil, pantatnya nungging kemana-mana. Akhirnya si Ibu ngga tahan kegencet, dan turun sambil ngomel-ngomel. Lagian ibu nekat banget, udah tau mobilnya penuh gini. Tapi ibu-ibu yang bawa balita tetap nekat berdiri ngungging di pintu. Kayanya mereka memang sudah terbiasa demikian. Orang-orang yang akan pergi ke Pel. Ratu dan tidak kebagian mobil terpaksa harus ngojek hingga ke pertigaan Ciawi, untuk kemudian naik angkutan apa saja yang lewat dari arah Bayah. Jalanan dari Desa Sawarna hingga ke pertigaan Ciawi ini rusak parah. Selanjutnya jalanan mulus.

Parahnya lagi, mobil ini ternyata knalpotnya rusak. Jadi asap knalpot nya yang bau dan hitam pekat itu masuk ke dalam mobil, membuat kami seperti tercekik. Untung duduk dekat jendela…. jadi ga terlalu parah. Di Cikotok sebagian penumpang turun, dan semua penumpang yang duduk diatas mobil harus masuk, karena memasuki wilayah Pel. Ratu banyak patroli Polisi, nanti bisa ditilang.

Dari Cikotok, pemandangannya semakin indah, terutama di turunan setelah puncak bukit dekat Pantai Cibingbin. Dibawah terlihat teluk Cibingbin dan banyak perahu-perahu nelayan tertambat di pantainya. Di sini, banyak terdapat villa-villa dan rumah makan.

Tak lama kemudian kami sampai di pantai Karang Hawu. Hmmm….pantainya sangat biasa saja seperti pantai-pantai wisata umum (untungnya belum ada retribusi masuk pantai, kalau dah ada rugi benerrrr…). Banyak cendramata khas pantai dijual di sini. Tenda-tenda sewaan untuk menginap di pinggir pantai juga banyak. Orang yang sedang belajar surfing juga ada, tapi kasihan bener, ombaknya kecil, coba kalo di Pantai Sawarna….

Karena jenuh dengan kondisi pantai yang sangat biasa-biasa saja, kami tak berlama-lama bermain di pantai ini, dan segera melanjutkan perjalanan dengan angkot ke Terminal Pel. Ratu.

Sesampainya di terminal, kami makan siang dulu. Setelah itu baru cari bis ke Bogor, ternyata bis yang stand by ngga ada yang AC, katanya yang AC mah lama datangnya, terpaksalah kami naik bis ini ditengah teriknya matahari Pantai Pelabuhan Ratu hingga keringat kami membanjir. Gawatnya lagi bisnya ngetem-ngetem dimana-mana…ajagilabuneeeee…..puanaaassss….

Kalo sudah jalan sih, angin silir-silir dari jendela kaca yang dibuka lumayan untuk sedikit meringankan rasa panas hingga kamipun tertidur…

Jam 2 siang gw dah nyampe di depan kost an dan turun…hhhhh….leganyaaaaa…. Sementara temen-temen yang lain masih melanjutkan perjalanan hingga ke Bogor, dan dari sana berpencar menuju rumah masing-masing.

———–000000000———-

Thanks to :

Pak Djay, Pak Puloh dan keluarga, Bapak yang memandu kita waktu di goa Lalay, temen-temen semua *in alphabetical order* : Anis, Emyl, Esma, Erni, Fitri, Rika, Risda)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s