K-r-a-k-a-t-o-a (1 September 2007)

Posted: September 5, 2007 in Lampung, sumatra
Tags: , ,

K-r-a-k-a-t-o-a

31 Agustus – 2 September 2007

Bete gara-gara batal ke Bromo n Sempu, weekend ini gw ikutan trip Krakatau bareng-bareng Ridwan, Darwin, Mamad, Dini, dan Emyl.


Catpernya dibikin jadi trilogi nih, biar ga terlalu cape bacanya. Yang ini adalah yang pertama, yang keduanya Lagun Cabe, dan yang ketiganya Curug Gendang.


Jumat, 31 Agustus 2007

Pulang nguli, gw langsung ngojek ke tempat kost gw, ganti pakaian dan ngusung backpack. Kali ini bawaannya segambreng banget karena di ittenerary-nya ada acara camping (yang so pasti kudu bawa sleeping bag, matras, termos air panas, kain sarung, n headlamp) dan ada acara snorkling-nya juga (snorkle gear bikin bawaan tambah ribet, yasud wetsuit ga di bawa, nyeburnya pake celana pendek n kaos aza), wah selain itu ada acara trekking-nya pula ke Anak Krakatau (mutusin mo pake sendal gunung + kaos kaki aza, dan ternyata adalah keputusan yang sangat salah).

Dengan nebeng temen sekantor yang rumahnya di Tangerang, jam 20:10 gw dah nyampe di Terminal Cikokol – Tangerang, dari situ ngelanjut pake Arimbi ke Cilegon (ongkos Rp 12.000 non AC). Rencananya kami mau nginep di rumahnya Ridwan di Cilegon. Jam 22:15 sampailah di Cilegon, diinstruksikan Ridwan supaya turun depan Kantor PLN dan nunggu di RM Top Ten sampai dia jemput sepulang kerja. Sambil nunggu Ridwan, n karena laper pula belum makan dari siang tadi, gw pesen nasgor udang n udang goreng tepung, plus wedang jahe biar perut anget. Iseng2 SMS temen-temen Jakarta, ternyata mereka belum kemana-mana, masih nongkrong di Café di daerah Blok M sana, astagaaaaaa……ini dah jam 22:20, mo jam berapa mereka nyampe di sini????

Nasgor n udgor dah habis, Ridwan lom dateng-dateng jugaaa… ngantuk banget lagi…halahhh…. Jam 23:30 barulah Ridwan nongol pake motor bebek, astaga… kasian banget tuh motor bebek musti bawa-bawa beruang segede gitu tiap hari…he…he…. Nyampe rumah Ridwan, eh ternyata ada Mas Ocid orang Postpone, ngobrol dulu di teras sampe jam 12an lebih, di temenin sinar bulan yang terang benderang, hmmm…..tapi udaranya panas khas Cilegon….ah ngantuk, tidur duluan ah…

Lagi enak-enak tidur, tiba-tiba gerombolan Jakarta dateng….dan seketika rumah Ridwan jadi hebohhh…. Waaaa… bawaannya gede-gede… kecuali bawaanya Emyl yang cuma 1 daypack kecil. Ngerumpi lagi sampe entah jam berapa, kita pun akhirnya tertidur kecapean sampai pagi.

Sabtu, 1 September 2007

Setelah sarapan nasgor bikinan Mbak Aya (istrinya Ridwan), kami berangkat menuju Carita dengan mencarter angkot. Wah gile, Om Ridwan sang Chef persipan bahan makanannya bener-bener TOP. Semuanya di kemas dalam 1 buah kotak plastik besar, sampai pisau daging pun (yang lebar tipis itu) dia bawa jugaaa….

Jam 9 pagi kami sampai di Carita, di rumahnya pak Samsul eh Saeful (eh sapa sih namanya ???), beliau ini adalah guide yang biasa nganter-nganter turis (biasanya turis asing) ke Krakatau dan Ujung Kulon, dan daerah-daerah sekitarnya. Kru kapal beserta speed boatnya sudah menunggu kami sejak tadi. Dari muara sungai tempat perahu-perahu nelayan bersandar, kami pun memulai perjalanan laut kami menuju Krakatau.

Semakin ke tengah, ombaknya semakin besar. Speed boat kami terlonjak-lonjak menerjang ombak Selat Sunda. Ombak yang terpecah menghasilkan cipratan-cipratan air yang langsung mengguyur para penumpang. Laju speed boat yang melonjak-lonjak juga membikin perut bergolak, muka Emyl berubah hijau pucat karena mabok laut. Sementara gw dan Mamad terkantuk-kantuk akibat minum Antimo ™. Sementara Ridwan, Dini, Darwin dan Mas Ocid , mereka bener-bener Bocah Laut.

Lagi enak-enaknya terkantuk-kantuk sambil nyender ke pegangan besi di pinggir speed boat dan sesekali terciprati pecahan ombak, tiba-tiba dibangunin Ridwan…waktu buka mata, di depan sana tampak pulau Rakata lengkap dengan anak Gunung Krakatau yang berwarna hitam dan puncaknya yang berwarna putih, sedangkan di sisi kiri dan kanan ada juga pulau-pulau lain yang rimbun ditumbuhi pepohonan tropis. Waaaa…..indahnyaaa……

Jam 11 kami merapat di pantai pulau Rakata yang pasirnya berwarna hitam legam dan puanaaaassss…. waktu diinjek kaki telanjang. Kami di sambut plang ucapan “Selamat Datang di Taman Wisata Gunung Anak Krakatau”, di situ juga ada semacam display beris
i sejarah letusan Krakatau beserta jenis-jenis batuan vulkanik dan flora-fauna nya. Dan ada saung jagawana, tapi orangnya ga ada.

Dengan berbekal air minum, cemilan, dan kamera (tak lupa pula mengolesi lagi kulit kami dengan lebih banyak sun block), kami memulai trekking kami di siang bolong ini menuju puncak Krakatau (maunya sih…..). Pasir hitam yang dulunya adalah lahar panas, sekarang juga tampak dan terasa panas membara di telapak kaki kami.

Teman-teman yang benar-benar bocah laut, kali ini benar-benar saltum. Cowok-cowoknya rata-rata cuma memakai kaos oblong, celana pendek, dan topi. Alas kakinya ada yang cuma memakai sendal jepit (Ridwan, Emyl, Dini, Ocid) dan ada juga yang memakai wet shoes (Darwin & Mamad). Alhasil yang pakai sendal jepit harus berkernyit-kernyit gara-gara telapak kakinya kepanasan dan tertusuk-tusuk pasir hitam krakatau yang bergerigi tajam, sampai-sampai Dini menyerah tidak bisa mengikuti kami ke atas. Untungnya gw pake sendal gunung plus kaos kaki jadi ngga terlalu menderita.

Jalur yang kami lalui, melulu adalah pasir hitam, semakin ke atas pepohonan pinus semakin jarang dan akhirnya tidak ada sama sekali. Matahari memanggang kami dengan teriknya. Berjalan menjadi sangat sulit, karena pasirnya selalu menelan kaki kami hingga mata kaki. Berjalan mundur ternyata sangat membantu tapi harus hati-hati karena banyak bongkahan batu berwarna hitam. Sewaktu berjalan mundur, tampaklah pemandangan luar biasa ke laut lepas. Di depan sana terlihat pulau yang hijau ditumbuhi tanaman tropis, di sebelah kanan juga ada pulau serupa, sedangkan nun jauh di sebelah kiri samar-samar tampak pulau Sebesi. Dan ketika membalik badan lagi, anak gunung krakatau yang gersang dan berwarna hitam tampak menjulang menghadang kami. Saking panasnya, dari atas pasir hitam ini tampak seperti ada asap membentuk kaca fatamorgana.

Satu per satu kami sampai di pos 1 yang landai. Di sini ada semacam alat pemancar satelit, katanya untuk penelitian vulcanology, pembangkit energy-nya memakai solar system, tampak berkilauan di terangi teriknya cahaya matahari. Pemandangan ke laut lepas sangat luar biasa, kalau sore dan pagi hari pasti pemandangannya lebih luar biasa lagi. Tak ada satu pun pepohonan tumbuh di sini.



Mengingat kami benar-benar saltum, akhirnya diputuskan pendakian hanya sampai di sini saja, yaaaaa…….. sayang banget, padahal kata Pak Samsul ke puncak cuma sekitar 700 meter lagi (tapi medannya berat banget boooo…..ada yang musti merangkak segala saking terjalnya…..). Yahhh… yasud dengan kecewa dan dengan rasa penasaran yang membuncah, gw ikut mereka turun lagi. “Gw musti ke sini lagi dan musti naek sampai puncak” begitulah tekad gw waktu itu dan sekarang juga masih begitu, he…he….bukannya jumawa….tapi penasaran banget euy!!!!

Seperti biasa kalo sehabis jalan menanjak, maka jalan menurun adalah surga. Dan memang tidak terlalu berat. Dengan menumpukkan berat badan di tumit yang langsung melesek dalam pasir, perjalanan turun menjadi lebih cepat dan lebih nyaman. Cumaaa…..debunya yang ditinggalkan langkah teman yang berada di depan kami itu yang bikin ngga tahan, bikin mata pedes dan nafas sesek, apalagi kalo arah angin sedang naik.

Teman-teman yang cuma memakai sendal jepit, begitu kepayahan dengan sengatan panas dan tajamnya pasir. Ah…kasihan sekali mereka, sampai berjingkrang-jingkrak terburu-buru menuruni lereng menuju keteduhan pohon pinus. Dan ahhhh…..lega rasanya begitu kami mencapai daerah ber-pinus yang teduh, ingin rasanya langung rebahan di atas tumpukan tebal dan empuknya daun-daun pinus yang berguguran dan terhampar di bawah batang pohon.

Begitu sampai di pantai lagi, ternyata di situ sudah ada 3 buah tenda dan sang jagawana, yang ternyata sedang mengawal para peneliti vulcanalogy dari Perancis. Para peneliti itu tampak sedang berjalan-jalan di tepi pantai dari ujung ke ujung, kalo ngga salah ada 5 orang + 1 orang local guide cewek dan 3 orang jagawana. Setelah mengobrol sebentar dengan jagawana (dan tentu saja membayar retribusi Rp.100.000 dan mengisi buku tamu), kami melanjutkan perjalanan lagi, kali ini menuju Lagun Cabe yang merupakan salah satu spot snorkell di sekitar Krakatau ini.

To Be Continu with d story at Lagun Cabe………

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s