12 Jan 2008 Ngaprak di Papandayan

Posted: January 20, 2008 in jawa, Jawa Barat
Tags: , , ,
 " Jurang curam menghadangku
Getarkan jiwa
Dan pekatnya kegelapan
Kian Melanda...."

Kawah Papandayan dilihat dari tepi jurang kawah di puncak selatan

Itu adalah syair lagu “Mimpi” yang dipopulerkan oleh penyanyi Anggun C. Sasmi.  Saya terinspirasi untuk menyanyikannya keras-keras ketika sedang menapaki bibir jurang terjal kawah Papandayan di puncak selatan, untuk menyemangati diri sendiri dan teman sependakian ketika menyadari bahwa kami masih jauh dari areal aman “parkiran mobil” sementara hari sudah semakin senja, perbekalan habis, tidak membawa senter, dan badan sudah semakin lelah.

====================

Perjalanan pendakian Gunung Papandayan ini diawali dengan berkumpulnya kami di Terminal Kampung Rambutan, sekitar jam 11 malam bus berangkat dengan menuju Kota Garut (AC-ekonomi Rp.30.000,-). Tidak banyak yang bisa diceritakan selama perjalanan karena kami semua tertidur…dan baru benar-benar terbangun ketika beberapa orang berteriak-teriak “Terminal ..terminal…terminal Garut…sudah sampai…”Hah….??? Oh…sudah sampai ya??? Barang bawaan buru-buru dibenahi, kami diaturunkan hingga depan Mesjid Agung Garut (kebetulan arah menuju pool bis ini melewati rute ini).

Mesjid Agung tampak sepi, maklum baru jam 3 pagi. Pintu gerbangnya tidak terkunci, tapi pintu-pintu ke dalam mesjid masih terkunci begitu juga dengan pintu toilet dan tempat wudhu, maka kami beristirahat di teras mesjid yang dingin.  Udara dingin kota Garut serasa semakin menggigit.Tak lama muncul Bapak-bapak penjaga Masjid dari dalam salah satu ruangan di bagian samping Masjid dan mempersilahkan kami untuk menggunakan toilet.  Pintu-pintu masjid pun dibuka satu per satu, kami tidak kedinginan lagi.

Usai sholat shubuh berjamaah, kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Desa Cisurupan.  Harus berjalan sedikit ke arah pertigaan agar bisa naik angkutan umum ke Desa Cisurupan. Ternyata ada beberapa pilihan angkutan (terutama kalau siang), yaitu angkot warna biru putih tujuan Cikajang (Rp. 5000,-), elf atau bus kecil.

Sekitar jam 5:40 pagi , kami sudah sampai di pertigaan Desa Cisurupan.Di hadapan sana tampak Gunung Papandayan, sedangkan di belakang tampak Gunung Cikuray yang seperti kerucut karena belum pernah meletus, dan di balik Gunung Cikuray tampaklah mentari pagi…..hmmmm….sungguh suatu pemandangan yang sangat mempesona. 

Untuk menuju kawah Papandayan, ada 2 alternatif angkutan umum, yaitu ojek (Rp 30.000,- sekali jalan) atau mobil bak terbuka (Rp5.000,-), akhirnya kami mencarter salah satu kendaraan bak terbuka seharga Rp.50.000,- (sekali jalan).

Sekitar jam 6:30 pagi memulai perjalanan menuju pelataran parkir kawah Papandayan. 

Serasa seperti sedang menonton layar tancep yang film nya sudah dimulai padahal layarnya masih belum berdiri tegak, Gunung Cikuray di belakang mobil tampak semakin membesar dan meninggi. Pemandangan pegunungan berkabut di kiri kanan juga tak kalah mempesonanya. Udara dingin menggigit, menampar wajah-wajah .  Setelah melewati kampung terakhir di dekat sungai, kami memasuki areal perkebunan sayur mayur. Di beberapa tempat tampak para petani sedang memuat hasil panen kol ke atas truk.

Sekitar jam 7 sudah sampai di pelataran parkir dekat kawah.  Ada beberapa bangunan warung di sekelilingnya, tapi cuma sekitar 2 atau 3 buah saja yang sudah buka.Udara tambah dingin menggigit.  Di depan kami tampak kawah Papandayan yang mengepulkan asap putih berbau belerang.  Beberapa guide lokal langsung merubungi kami dan menawarkan jasa guiding.  Setelah tawar menawar harga, kami pun sepakat untuk menyewa jasa guide lokalnya Kang Asep dan temannya seharga Rp.120.000,- per 1 hari. Katanya kami akan diantar ke tegal alun tempat tumbuhnya bunga edelwis, terus ke Puncak, dan pulangnya memutari kawah. Kami yang tidak tahu medan sama sekali, mempercayakan sepenuhnya kepada Si Kang Asep ini.

Sekitar jam 7:30 berangkatlah kami dengan hanya membawa bekal berupa biskuit-biskuit dan air minum (barang bawaanlainnya dititipkan di salah satu warung yang ternyata belakangan diketahui adalah milik istrinya Kang Asep).

Uap belerang di kawah Gunung Papandayan

Udara dingin masih saja terasa menggigit walaupun matahari sudah menyorot cerah.Jarak dari pelataran parkir ke kawah cukup dekat, dengan berjalan santai dapat ditempuh dalam waktu 30 menit (tentu saja dengan diselingi berfoto-foto).

Asap-asap belerang berwarna putih tampak mengepul dimana-mana.Di beberapa sumber asap, tampak tanahnya berwarna kuning kehijauan.Sumber asap nya ada yang kecil saja, tapi banyak pula yang besar bergolak-golak dan meletup-letup.  Di depan sana tampak tebing berwarna putih dan diatasnya ditumbuhi pepohonan. Kata Kang Asep, ke sanalah nanti kami akan pergi.

Selain kami, ada pengunjung lain (juga dari Jakarta) yaitu sepasang suami istri yang sudah sangat senior dari segi usia. Nah karena jarak berangkat kami dengan mereka hampir bersamaan, maka kami beberapa kali berpapasan.

Senior Traveler Couple, our annoying neighbour

Dari kawasan kawah, jalur berbelok ke kanan. Sebagian jalannya tampak sudah dipasangi batu-batu seperti kalau jalanan mau di aspal.  Tapi di beberapa tempat jalannya tertimbun longsor hingga tidak bisa di lalui, hingga harus melewati jalur jalan setapak yang dibuat penduduk, melewati lembah dan parit kecil, serta melalui tanjakan terjal yang membuat kehabisan nafas.  Di atas tebing , kembali harus melalui jalanan berbatu hingga ke suatu pelataran, katanya ini adalah tempat berkemah karena ada sumber air tawar dan ada warung. Di situ , trelihat ada 2 tenda dan beberapa pendaki yang terlihat sebagai pendaki kawakan. Sementara sepasang suami istri beserta guide-nya sudah berjalan mendahului kami.

Waktu sudah menunjukan jam 10, kami pun melanjutkan kembali perjalanan, jalurnya berbelok ke arah kiri (kalau mengikuti jalanan yang lurus katanya bisa mencapai Pangalengan – Bandung).  Jalur kali ini cukup rimbun dan hijau, melipir mengitari tebing. Sebelah kiri adalah jurang curam yang dibawahnya ada jalan berbatu tadi.

Setelah beberapa lama berjalan dengan mengikuti beberapa jejak seperti tulisan-tulisan anjuran melestarikan alam papandayan, sampailah di suatu tempat terbuka yang ditumbuhi beberapa pohon bunga edelwis, dan kami kehilangan jejak, sementara sang guide tertinggal jauh di belakang karena harus menemani salah satu teman kami yang fisiknya kurang fit. Untunglah di kejauhan sebelah kiri terdengar teriakan dan terlihat warna oranye dari topi kupluknya guide sepasang suami istri tadi. Maka ke sana lah kami menuju. Karena berfoto-foto dulu, kami jadi kehilangan jejak lagi. Berteriak-teriak beberapa kali, tetap saja tidak ada balasan, maka diputuskan untuk menunggu guide dan teman kami yang tertinggal di belakang.

Sisa-sisa hutan yang terbakar

Cukup lama juga menunggu, rupanya teman kami itu sempat makan mie rebus dulu di warung tadi. Setelah berkumpul kembali, kami melanjutkan lagi perjalanan. Kali ini jalurnya berupa hutan gundul yang kayu-kayunya telah mati terbakar sewaktu gunung ini meletus di tahun 2002 lalu, di beberapa tempat tumbuh-tumbuhan hijau telah tumbuh kembali, tapi sebagian besar hanya berupa tanah berbukit berwarna putih yang dihiasi dengan pohon-pohon hitam kering karena terbakar.Sangat susah mencari jalur yang benar karena semuanya tampak sama saja, tidak ada jejak rerumputan yang rebah terinjak karena memang tidak ada rerumputan, kalau pejalan kaki didepan kami kebetulan menginjak temapt becek, barulah kami bisa melihat jejak. Sementara rombongan kami kembali terpisah, berkali-kali kami yang didepan harus berhenti, menunggu guide dan teman kami yang ada di belakang.

Menara pasir ciptaan tetesan hujan

Semakin ke atas, pohon-pohon meranggas terbakar itu semakin jarang dijumpai, berganti dengan pepohonan yang rimbun. Di satu titik kami yang berjalan tanpa guide, kembali kehilangan jejak, guide kami tadi bilang untuk terus berjalan lurus, sementara di depan kami adalah jurang curam, kami menemukan jejak samar-samar dari orang-orang yang berjalan di depan berupa tanah-tanah yang menempel di pohon yang melintang rebah di atas jalur dan di bebatuan, sera luruhan tanah gembur yang runtuh terinjak, tapi karena kurang yakin maka diputuskan untuk menunggu guide . Dan memang jalur ke kanan ini adalah jalur yang benar.

Tak lama kemudian sampai  di padang luas terbuka dan banyak dijumpai pohon-pohon edelwis. Inilah  padang edelwis Tegal Alun….  Senangnyaaa..sudah berhasil sampai di sini, tapi kami juga semakin khawatir karena dari atas dan dari bawah lembah, kabut putih mulai menyelimuti, sementara temen kami dan guide kami masih belum terlihat. Waktu sudah menunjukkan jam 12:40 bekal biskuit dan air minum sudah semakin berkurang.  Setelah kelompok kami kembali utuh, perjalanan dilanjutkan, melewati jalur lingkaran yang mengelilingi kawah, juga melewati puncak jalur selatan. Di Tegal Alun ini terdapat mata air yang sangat jernih dan sedingin air es, lumayan untuk  mengisi kembali botol-botol air minum yang sudah kosong, tanpa dimasak…..

Padang edelweis Tegal Alun

Selepasnya Tegal Alun, jalurnya terus menanjak menerabas hutan penuh belukar (pohon-pohon besarnya masih tampak kering terbakar).Di suatu titik, di arah kiri kami bisa melihat dengan leluasa ke arah Tegal Alun dan jalur-jalur yang sebelumnya kami lalui, karena rupanya jalur ini berada persis di bibir jurang kawah.Kadang-kadang pemandangan lepas ke bawah itu tertutup sama sekali oleh kabut putih tebal, jika kabutnya menyibak lagi maka akan terlihat danau belerang berwarna putih kehijauan dan mengepulkan asap putih nun jauh di bawah sana.Dan rupanya kami telah sampai di puncak Gunung Papandayan yang setinggi 2622 m DPL ini.

Semakin lama, jalurnya semakin menurun terjal, rimbun dan sempit, di sisi kiri kami adalah tebing kawah yang curam dan dalam, sedangkan di kanan kami adalah jurang curam pula tapi rapat ditumbuhi pepohonan.Kami yang terpisah dari guide kami, berjalan hanya dengan mengandalkan penanda jalur berupa ikatan-ikatan tali rapia di batang pohon.

Lalu kami bertemu kembali dengan sepasang suami istri tadi. Rupanya jalanan menurun terjal ini sangat menyulitkan buat mereka, terutama sang suami. Otomatis perjalan kami juga jadi tertahan karenanya. Tapi di suatu titik, mereka mempersilahkan kami untuk jalan duluan. Lumayan bertambah lah kecepatan kami, tapi tidak terlalu cepat karena teman kami ada yang kesulitan dengan jalan menurun.

Rombongan kami terpisah jadi 3 bagian.Di paling depan ada Erni, Anis, dan Nisa; di tengah ada saya dan Audrey, sedangkan di belakang sana ada guide kami dan Risda. Saya memperlambat kecepatan karena harus mendampingi Audrey yang semakin kepayahan, sementara persediaan minum dan biskuit sudah habis.  Untuk menyemangati Audrey, dan menandai lokasi keberadaan tempat saya, melantunlah lagu Mimpi-nya Anggun C. Sasmi (terinspirasi oleh jurang-jurang yang menganga di kiri kami).  Lumayanlah kayanya suara saya meningkat beberapa oktaf selama konser solo itu he..he….

Kabut putih kembali menyelimuti jalur, dan pohon-pohon sepanjang jalur juga semakin rimbun hingga matahari sore pun tidak sanggup menembusnya. Teman-teman yang di depan tidak menyahut ketika di teriaki, sementara yang di belakang sudah jauh tertinggal, jadi sekarang tinggal saya dan Audrey.  Kami berdua tersaruk-saruk menembus belukar lebat. Beberapa kali jidat Audrey berkenalan dengan ranting dan batang-batang pohon…. Saya berusaha terus menyemangati Audrey yang jangkauan pandangnya sudah semakin terbatas. Kami berdua sangat senang ketika di suatu titik mendengar kembali suara teriakan teman-teman lain yang ada di depan. Rupanya mereka bingung, tidak tahu harus mengambil arah ke mana, karena kalau ke kiri walaupun ada penanda tetapi berakhir di tebing curam sedangkan ke kanan tidak ditemukan penanda dan tanahnya kembali menaik, sedangkan kami harus terus turun.

Di bibir tebing tadi ketika kabut menyibak, kami sudah dapat melihat areal parkir yang tadi pagi kami datangi.Akhirnya terpaksalah kami menunggu rombongan suami istri beserta guide-nya (untuk menunggu guide kami beserta temen kami pasti terlalu lama), sementara matahari semakin condong ke barat.

Ketika rombongan suami istri sampai, guide nya mengatakan kita harus mengambil jalur ke kiri, menuruni tebing curam (hampir vertical). Dengan di bantu oleh Kang Ujang (guide si suami istri itu), satu per satu kami menuruni tebing. Mula-mula saya yang turun, disusul oleh Erni. Saking curamnya dan sulit mencari akar atau batang pohon untuk berpegangan dan tanahnya yang gembur-lembab-dan-licin hampir saja saya terpeleset dan terbanting menggelundung ke bawah. Tapi untunglah masih sempat meraih batang pohon dan berpegang kuat-kuat di situ sampai menemukan pijakan cukup stabil. Saya terus menguatkan tekad padahal kaki dan tangan sudah gemetar. Dengan sambil seperti main perosotan, saya terus menuruni tebing sambil mencari-cari pita penanda di tengah suasana hampir gelap. Rupanya matahari sudah terbenam yang tertinggal hanyalah cahayanya yang kuning kemerahan, sinarnya sudah melemah dan tidak mampu menembus rimbunnya pepohonan.

Dari bawah sana kadang-kadang terdengar teriakan-teriakan samar-samar, maka saya pun balas berteriak.

Di akhir tebing curam, jalurnya berbelok ke kiri, penanda jalur masih bisa terlihat di batang pohon, saya berhenti dan beristirahat sambil menunggu Erni. Setelah Erni muncul, kami melanjutkan perjalanan dengan tujuan untuk bisa sampai ke bawah sebelum cahaya matahari benar-benar hilang, tapi kami kalah, sinar matahari sekarang benar-benar hilang……tanah pun tidak bisa kami lihat lagi. Senter kecil murahan yang saya bawa, cahayanya tidak cukup untuk menerangi apapun karena rupanya batere nya sudah harus diganti, sedangkan cadangan baterenya ada di ransel yang di bawa Kang Asep yang sekarang entah ada dimana…..ahhh….bodohnya …..

Untungnya hp-nya Erni ada fasilitas light nya dan cukup terang untuk menyinari jalan yang kami lalui dan untuk mencari penanda jalur.Tapi semakin ke depan, jalurnya semakin gelap dan rimbun.Kami pun memutuskan untuk menunggu teman-teman lainnya, sambil berulang kali berteriak menyahuti teriakan orang-orang di bawah sana.

Sewaktu menghidupkan HP ternyata ada sinyal Telkomsel, buru-buru saya telpon kakak yang dulu pernah tinggal lama di Cisurupan untuk minta tolong menelopon Polsek Cisurupan guna menurunkan bala bantuan untuk mencari kami. Beberapa kali sinyal nya terputus ditengah pembicaraan, tapi saya berhasil menyempaikan keadaan kami .

Lalu tiba-tiba kami melihat ada seseorang datang membawa lampus senter. Ohhh….ya Tuhaaaannnn…. legaaaa… banget rasanya, walaupun yang datang cuma 1 orang.

Kita langsung arahkan dia untuk terus ke belakang menjemput teman-teman kami yang mungkin perlu pertolongan. Selagi kami menunggu teman-teman lain, tiba-tiba datang 1 orang lagi bala bantuan, yaitu Kang Ilet salah satu pencinta alam senior yang tadi bertemu kami di dekat warung. Rupanya Kang Ilet ini khawatir setelah bertemu teman kami Risda di warung dan sudah memprediksi bahwa kami tidak akan sampai di parkiran sebelum hari gelap, maka diapun bersiaga dan menunggu bersama teman-temannya untuk berjaga-jaga kalau-kalau kemungkinan buruk (seperti sekarang) terjadi.

Dan akhirnya kami semua (kami berlima dan kedua suami sitri beserta guidenya) berkumpul kembali di tengah kegelapan hutan Papandayan ini menunggu bala bantuan lainnya yang masih sedang menuju ke mari dengan membawa lampu petromak.  Sedangkan temennya Kang Ilet yang membawa senter kecil pergi menyusul Risda dan Kang Asep jauh di belakang sana.

Rupanya team rescue yang lain cukup jauh jaraknya dengan Kang Ilet sehingga setelah cukup lama menunggu dan tidak datang-datang, maka kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan lagi. Tersaruk-saruk kami merambah jalur belukar yang kadang-kadang menurun cukup terjal. Beberapa kali kakak saya menelepon lagi untuk memastikan kondisi kami saat itu.  Kemudian kami bertemu dengan team rescue lainnya yang membawa petromak. Cukup banyak juga team rescue yang adalah orang-orang lokal sekitar Papandayan ini dan orang nya kocak-kocak serta ramah-ramah.

Beriring-iringan kami melewati jalur menurun yang kadang-kadang sangat terjal.Si Ibu dan Suaminya sudah semakin kepayahan, dan tambah payah lagi karena hari gelap si Bapak-nya yang rabun sudah tidak bisa melihat lagi, sedangkan si ibu sangat mudah panik, sehingga sangat menghambat laju kami.

Setelah cukup jauh kami berjalan menurun, rupanya salah satu anggota team rescue menyadari kalo kami sudah salah jalan….., akibatnya kami harus menyusuri kembali jalan yang kami lalui tadi, hahhhhhh……menanjak lagi…. hausnya minta ampun….Rupanya penanda jalur yang benar berupa botol aqua di batang pohon, tadi terlewatkan oleh kami semua.  Dan untungnya tidak terlalu tersesat jauh.

Yang mengejutkan lagi adalah berita bahwa Risda teman kami yang tertinggal di belakang ternyata sama sekali kehilangan energi dan hampir kehilangan kesadaran, hingga harus digendong….ya Tuhaaannn….tapi mudah-mudahan tidak terjadi hal yang lebih fatal lagi…

Walaupun lambat akhirnya kami bisa sampai kembali ke pelataran parkir…terima kasih……Tuhaaannn.

Kami beristirahat sejenak di warung tempat menitipkan barang tadi pagi, menghangatkan badan di depan perapian, sambil mengisi perut yang keroncongan. Kami berpisah dengan Si Suami-Istri itu, lsementara Risda yang beristirahat di rumah warung sebelah, rupanya sudah bisa bercerita dan bercanda lagi…hahahaa….dasar……

Risda memutuskan untuk beristirahat sampai pagi di rumah warung itu ditemani Kang Ilet, sedangkan kami memutuskan untuk menerima tawaran istrinya Kang Asep (guide kami) untuk menginap di rumahnya. Dengan bermotor (1 motor 2 penumpang beserta backpack-nya) kami pun konvoi lagi menuruni gunung menuju rumahnya Kang Asep.

Udara dingin serasa menusuk-nusuk hingga ke tulang.Di langit, bintang-bintang cemerlang bertaburan.Di bawah sana tampak kerlap-kerlip lampu-lampu kota garut. Hari yang sangat menakjubkan!!!

Bersama Tim Penyelamat. Terimakasih banyak..🙂

Thanks To : all of our rescue team
para trekker ngesot (Risda, Audrey, Nisa, Erni, Anis)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s