01-Agust-2008 Take A Nap di ketinggian 3300 MDPL lereng MAHAMERU

Posted: August 9, 2008 in jawa, Jawa Timur
Tags: , ,

Mahameru, tempat tidurku yang paling tinggi (sejauh ini…)

400 m menuju puncak Mahameru dan aku pun menyerah dan tidur……….

Mahameru….gunung angkuh menyebalkan….!!!

Treknya terjal berpasir-berdebu-dan-berbatu tak berumput sehelaipun (katanya sih kemiringannya hampir 60 derajat). Tumbuhan terakhir adalah sebatang pohon cemara kering kerontang, merana kekurangan air dan dihembus angin dingin pegunungan setiap saat. Selepas si cemoro tunggal ini jalur trekking terus menanjak tanpa tumbuhan selembarpun…., tanahnya kering berpasir dan berbatu-batu yang amat sangat labil. Tak ada tempat berlindung dari angin dingin menggigit tulang. Tak ada tempat berpegangan kala pijakan kaki kurang kokoh…., yang bisa dilakukan cuma berlutut atau tiarap sekalian untuk sekedar menahan tubuh agar tidak menggelinding…

Sebelum bisa sampai di jalur trekking menyebalkan itu…., kita harus berjalan…berjalan….dan..berjalan… dari desa terakhir (desa Ranu Pane), naik turun bukit hingga sampai ke Ranu Kumbolo. Ada 3 pos peristirahatan di antara Ranu Pane dan Ranu Kumbolo. Aku berangkat jam 5 sore dan sampai di Ranu Kumbolo jam 10 malam, trekking tersaruk-saruk malam-malam ditemani ribuan bintang di atas kepala.

Di Ranu Kumbolo, kita bisa buka tenda di tepi danau yang dikelilingi oleh bukit-bukit. Airnya dingiiiinnn….dan ada tanda larangan berenang dan mencuci pakai detergent. Kita juga bisa tidur dalam pondok-pondok kosong, yang memang diperuntukan bagi para pendaki yang ingin beristirahat sejenak. Matahari terbit akan muncul di celah antara 2 bukit di sebrang danau…. Mahameru tidak terlihat, hanya asapnya kadang-kadang terlihat membubung dari bukit sebelah selatan. Musim kemarau ini membuat warna-warna rumput dan pepohonan menjadi kuning keemasan…

Ranukumbolo, dengan mentari pagi diantara 2 bukitnya, dan pemancing

Setelah Ranu Kumbolo, kita masih harus berjalan lagi menuju Kalimati. Aku menempuh jalur Ranu Kumbolo – Kalimati ini dari jam 10 pagi hingga jam 2 siang. Jalur awal berupa tanjakan terjal berdebu menaiki bukit sebelah barat Ranu Kumbolo, tanjakan cinta katanya namanya, tapi…cinta macam apa yang menyuguhkan tanjakan terjal melelahkan seperti itu…, aku tidak tahu. Lalu kita akan turun bukit lagi menuju hamparan padang rumput gersang berdebu yang cukup luas (disebut sebagai padang Oro-Oro Ombo). Dari Oro-Oro Ombo ini bisa terlihat puncak Mahameru yang gundul-gersang dan menyemburkan asap putih “wedus gembel” setiap beberapa belas menit berselang, kadang besar…., kadang kecil saja.

Kerumunan para pendaki memenuhi tepian Ranu Kumbolo

Selepas Oro-Oro Ombo, kita akan sampai ke hutan cemara. Jalur dalam hutan cemara ini menaik tapi tidak terjal. Musim hujan pastilah lebih rindang. Banyak tanaman perdu yang buahnya dapat dimakan, misalnya murbai merah dan “cecendet” kalau orang Sunda-Ciamis bilang. Di hutan cemara ada tempat agak lapang untuk sekedar duduk-duduk beristirahat sejenak, mungkin bisa untuk mendirikan 2 tenda. Tidak ada sumber air di sini.

Merambah padang savana Oro-oro Ombo yang kering kerontang

Di ujung hutan cemara, kita akan sampai ke lapangan rumput yang juga cukup luas, bisa menampung mungkin 4-6 tenda, tapi disini pun tidak ada sumber air. Dari lapangan ini, puncak Mahameru tampak sangat jelas dan menakutkan untuk didaki. Pikiran pertama sewaktu melihat Mahameru nan besar dan jangkung itu adalah “Bagaimana cara mendakinya ya….??? Ga ada pohon…dan…monyong banget begitu….????? Turunnya bagaimana pula….??? Enaknya para-gliding aja kali ya….”

Tapi tempat membuka tenda sebenarnya bukan di sini, melainkan di Kalimati yang berupa lapangan rumput gersang yang cukup luas. Jaraknya cukup lumayan dari padang rumput tadi, jalurnya menurun merambah hutan. Sumber air di Kalimati ini ada kira-kira 1 km dari pondok peristirahatan. Ini adalah sumber air terakhir. Di Kalimati ini ada Tugu Memorian untuk mengenang salah satu pendaki yang hilang. Padang Kalimati ini membujur dari timur ke barat, dikelilingi oleh hutan.

Tempat perkemahan lainnya, sangat sempit ada di hutan Arcopodo. Dari Padang Kalimati ke tempat agak lapang Arcopodo harus melewati sebelah timur padang Kalimati, lalu menanjak terus melewati hutan (trek Kalimati-Arcopodo aku lewati dari jam 1 malam hingga jam 3 pagi) . Tanjakannya lumayan terjal dan sukar dilalui, kadang-kadang harus melewati jalur tepi jurang, atau bahkan jalur yang diapit 2 jurang kanan kiri. Di Arcopodo ini tidak ada sumber air.

Dari Arcopodo ini kita akan menuju Kelik yaitu batas vegetasi terakhir sebelum pendakian Mahameru sesungguhnya..!!!!

Selepas Kelik, berhentilah sejenak, tarik nafas dalam-dalam, berdoalah kalau masih percaya keajaiban doa, karena dari sini kita akan memulai perlombaan ini… Perlombaan menaklukan Sang Mahameru, perlombaan menaklukan rasa haus, perlombaan menahan hawa dingin, perlombaan menjinakan jantung yang melompat-lompat seperti mau menjebol dada, perlombaan menekan rasa putus asa karena sepertinya kecepatan pendakian kita tidak lebih cepat daripada sang kura-kura di darat……dan perlombaan menjaga stamina serta semangat…!!!! Dua teguk air minum di sini sangatlah berharga….berhematlah dengan air mu…!!!

Struktur tanahnya yang kering berpasir dan berbatu-batu sangat labil dan mudah longsor serta mengeluarkan debu yang memedihkan mata dan pernafasan. Melangkahlah dengan telapak kaki hampir horizontal, kalau melangkah dengan telapak kaki vertikal (jari-jari kaki ada lurus di depan kita) maka kita akan terperosok turun kembali, tidak akan maju-maju….!!! Usahakan jangan menginjak batu-batu yang kurang besar ukurannya, karena batu akan tercabut dari tanah berpasir dan menggelinding ke bawah , menimpa orang-orang di belakang kita. Jaga jarak kita dengan pendaki di depan dan di belakang kita..

Beberapa ratus meter di atas Kelik, kita akan sampai di Cemoro Tunggal, yaitu tempat tumbuh satu-satunya pohon cemara di lereng Mahameru. Di Cemoro Tunggal (aku sampai sini kira-kira jam 4 subuh saat semburat fajar mulai berpendar di timur Mahameru) ada tempat yang bisa dijadikan tempat duduk beristirahat yang cukup nyaman karena terlindung batu besar yang bisa dijadikan tempat bersandar dan perlindungan dari angin.

Selepas Cemoro Tunggal, kemiringan jalur pendakian semakin tajam dan semakin sukar dilalui. Semakin ke atas, semakin banyak batu-batu besar dan batu-ba
tu besar sekali. Usahakan jangan menginjak permukaan tanah yang tipis (bagian dalamnya keras berbatu), karena kaki kita tidak akan kuat menahan tubuh, pasti akan tersuruk mundur lagi…. Pakailah tongkat untuk mengetahui tempat-tempat yang akan kita pijak selanjutnya.

Karena sekarang ada larangan berada di puncak melebihi jam 11 pagi, maka para pendaki biasanya berangkat dari Kalimati sekitar jam 1 malam, bahkan ada yang mulai jam 11 malam. Maka usahakan makan makanan berenergi tinggi sebelum berangkat, bawa minuman hangat kalau bisa, bawa coklat atau madu dan air isotonik. Pakai baju hangat, kupluk atau balaklava, sarung tangan, kaus kaki tebal, sepatu trekking yang mutunya baik dan nyaman dipakai serta kalau bisa tingginya di atas mata kaki (supaya tidak terlalu banyak kemasukan tanah, pasir dan batu kerikil). Pakai kacamata pelindung debu dan sinar UV. Headlamp atau senter harus bekerja dengan baik (kalau bisa pakailah batere lithium yang tahan lama).

Pengalaman bodohku kali ini adalah:

·tidak membawa cadangan batere yang cukup untuk headlampku

·di arcopodo aku menitipkan semua ransumku (air jahe wangi panas dalam termos, isotonik water, susu kotak, madurasa beberapa sachet, sale pisang) dan pheripheral camera (cadangan memory card dan batere) serta seluruh uang dan hp ke salah seorang porter dari rombongan lain yang bersedia menolong membawakan daypack ku, sebenarnya tidak ada kejadian buruk dengan semua harta bendaku itu, tapi…..ternyata si porter itu tidak berniat mendaki hingga puncak, dan tidak menginformasikannya kepadaku, jadi….tidak ada serah terima kembali atas semua ransum dll sebelum aku mulai mendaki, alhasil…mendakilah aku dengan hanya berbekal tongkat kayu dan senter pinjaman, tanpa air setetespun dan tanpa ransum apapun…..

Karena kebodohanku itu, aku hampir menyerah kehausan di Cemoro Tunggal, untunglah ada pendaki baik hati yang memberiku seteguk air hingga aku mampu berjalan beberapa puluh meter lagi sampai bertemu seorang teman pendaki yang headlampnya mati dan mendaki merangkak-rangkak serabutan. Beberapa saat kemudian porternya si pendaki ber-headlamp mati itu sampai di tempat kami, maka berpesta air lah kami kemudian… huaaahhhhh……nikmatnya……

Mengagumi harmoni keagungan alam di lereng Mahameru

Saat matahari terbit, aku juga sudah hampir menyerah kehausan dan kedinginan, untunglah waktu merogoh saku jaket ketemu 1 sachet Tolak Angin™ yang langsung kutenggak habis dan mampu mengantarku beberapa puluh meter lagi hingga akhirnya bertemu teman-teman serombongan yang sudah jauh mendahuluiku. Dan ooohhh… Rika temanku membawa persediaan air berlebih yang bisa aku rampok, dan gula merah juga untuk menambah energi…!!! Dan Meriam….dia membagikan biskuit oreo-nya yang walaupun sangat susah menelan karena keringnya tenggorokan…, lumayan sekali untuk mengganjal perut….. Terimakasih banyak kawan-kawan..!!!

Tak lama kami sampai di titik bertanda “500 meter menuju puncak”…., tapi….sewaktu mendongak… alamaaaakkkk…. puncak masih jauuuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhh………..banget. Pendaki-pendaki di depan kami tampak kecil sekali, berceceran di beberapa titik ketinggian berbeda-beda.

Matahari semakin tinggi, menyinari alam sekitar Mahameru. Matahari ada di sebelah kiri kami, diatas daratan yang tertutup awan putih mengambang. Di kanan kami, nun jauh di bawah sana ada puncak-puncak gunung entah apa namanya. Di kanan belakang, tampak pegunungan Tengger dengan awan-awan putihnya. Di belakang kami, ada hutan Arcopodo yang semalam kami lalui, lalu ada padang Kalimati, dan padang rumput ditepi hutan cemara “Cemoro Kandang”, lalu di sana lagi ada padang Oro-oro ombo…., dan jauuuuhhhh… di sana berkilauan air danau Ranu Kumbolo, dan semakin jauh ada desa Ranu Pane… Whuuaaaaa……sejauh itukah jarak yang kami tempuh sejak 2 hari ini…..???? Huuuu……dan sejauh itu pula lah jarak pulang kami kembali…hikss….:((

Jeng Mer, yang mendaki sedikit lebih tinggi lagi

Dengan berbekal setengah botol isotonik water milik Rika, aku beringsut-ingsut setapak demi setapak mendaki sang Mahameru…. Beberapa pendaki duduk tertidur di batu-batu besar yang berserakan, beristirahat sejenak mengumpulkan stamina. Semakin berat rasanya langkahku…., perutku kosong melompong dan dingin. Hmmm…efek panas TolakAngin™ rupanya sudah habis…. Staminaku drop….!!! Di sebuah batu cukup besar di tepi kanan jalur pendakian – tepat di sisi jurang – aku pun berhenti…. Lalu Meriem sampai tempatku dan kami sama-sama istirahat di tempat itu sambil mencoba makan biskuit Oreo™ dan ngedumel tentang bodohnya kami-kami ini yang mau-maunya bersusah-susah menyiksa diri seperti ini… Dan tentang jalan pulang yang terlihat amat sangat jauh dari atas sini…. Dan tentang bagaimana caranya kami akan menuruni lereng terjal ini pada saat turun gunung nanti…. Dan tentu saja tentang bagaimana caranya kami akan mencapai puncak Mahameru dalam kondisi stamina selemah ini…

Sementara teman kami Rika dan Mas Yani sudah berjalan jauh mendahului kami berdua, kadang-kadang punggungnya masih terlihat di kejauhan. Sedangkan Mas Riv mungkin saat ini sudah muncak…. Ahhh…mereka memang benar-benar pendaki. Sedangkan aku…., aku cuma tukang jalan-jalan yang iseng yang kali ini jalan-jalannya (-jalan kaki—red) kejauhan dan ketinggian, soksokan pengen naik Mahameru ….. Bodoh sekali…!!!! Tapi temenku Meriem ini juga dulunya anak MAPALA dan sudah sangat berpengalaman naik turun gunung. Sekarang, menghadapi Mahameru, diapun kepayahan…!!!

Setelah beberapa lama beristirahat, aku putuskan untuk menyudahi kekonyolan ini sampai di sini saja. AKU MAU TURUN…!!!! Tapi aku mau tidur dulu di balik batu ini, meringkuk kaya udang… Temenku Meriem, katanya masih mau mencoba naik lagi, jadi ya sudah aku tunggui daypack nya sambil merem-merem melek….!! Sewaktu aku mendongak, tidak jauh diatas tampak temenku Meriem sedang berhenti dan bernafas megap-megap… Aku teriaki “Lho kok baru nyampe situ…???” dan dia cuma meringis, ya sudah aku merem lagi. Karena kedinginan aku berganti posisi lagi, menghadap matahari.

Tidak lama aku duduk, dan melihat temenku Meriem sudah berdiri di atas batu tadi lagi, aku teriak lagi “Aku mau turun aja..!!! Turun yukk…!!!” “Iya..aku juga mau turun, tapi susah…” jawabnya. Jadi aku tunggu dia sampai ke tempatku. Setelah itu kami memulai proyek turun gunung.

Mula-mula temenku Meriem turun duluan, lalu setelah debu yang ditinggalkannya agak berkurang, akupun menyusul turun. Lututku gemetar, jadi aku mulai pelan-pelan, tapi lama-lama aku menemukan ritme langkahku dan semakin cepat sampai menyusul temenku dan harus berhenti berkali-kali. Akhirnya temenku menyilahkan aku untuk turun duluan. Dan meluncurlah aku setapak demi setapak. Badan miring menghadap matahari, tapak kaki horizontal mencari-cari pijakan yang cukup stabil untuk langkah selanjutnya, terus begitu semakin jauh meninggalkan temenku yang rupanya kesulitan langkah. Tapi langkahku terganggu oleh beberapa pendaki yang turun gunung sambil berlari yang meninggalkan debu bergulung-gulung dibelakangnya…BAHHHHH….!!! Aku juga berpapasan dengan temenku yang lain, Mas Riv, yang rupanya sudah muncak duluan dan turun duluan pula, dengan sangat cepat.

Akhirnya aku sampai kembali di Kelik, dan bertemu dengan 2 orang Prancis yang tadi turun gunung sambil berlari, kami mengobrol sejenak, ternyata mereka rombongan dari Balikpapan dari salah satu oil company. Aku melanjutkan langkahku lagi, meninggalkan ke-2 orang Prancis yang sedang membersihkan sepatu-sepatu mereka dari pasir yang masuk. Tujuanku jelas, yaitu untuk secepatnya sampai di Arcopodo, untuk menggali harta karun yang tadi kami sembunyikan di semak-semak. Kembali aku bertemu dengan temanku Mas Riv yang juga sedang membersihkan sepatunya. Aku ikut-ikutan duduk di batang pohon tumbang, sambil menatap ke arah jalur pendakian. Nun jauh di atas sana, beberapa pendaki sedang berusaha turun gunung, aku juga lihat temanku Mas Yani sedang turun gunung, tapi masih jauuuuhhhh….diatas…. Pendaki-pendaki Perancis itu lewat mendahuluiku setelah berfoto-foto di sekitar tempatku istirahat. Airku tinggal 2 cm dari dasar botol yang sudah kumal penuh debu.

Aku lanjutkan lagi perjalanan ku, lemas sekali rasanya kaki ini, dan kepalaku sakit luar biasa… Lama kemudian barulah aku sampai di pelataran pertama Arcopodo, dan segera celingukan mencari bekal diantara semak-semak…, tapi tidak ada apapun lagi disana..!!! Semakin lemas saja badanku dan semakin sakit kepalaku. Aku buka 2 lapis jaket tebal dan 2 lapis celana panjang yang masih aku pakai….untunglah ada 2 orang porter rombongan lain yang lewat dan salah satunya mau menolongku membawakan pakaian-pakaianku hingga ke Kalimati…terimakasih banyak teman-teman…. Tapi sayangnya merekapun tidak punya persediaan air minum lagi, rupanya kami semua pun begitu…, karena setiap pendaki yang melewatiku selalu menjawab begitu…L

Tidak lama kemudian teman-temanku Rika, Meriem, dan Mas Yani sampai di tempatku, dan kami duduk-duduk beristirahat bersama-sama, sambil makan sisa bekal mereka. Lalu rombongan pendaki Balikpapan yang masih 1 rombongan dengan orang-orang Prancis itu pun bergabung bersama kami. Setelah cukup lama kami melanjutkan perjalanan kami kembali. Tapi ditengah jalan aku memutuskan untuk beristirahat lebih lama dan meyilahkan teman-temanku melanjutkan perjalanan.

Akhirnya aku sampai juga di perbatasan Kalimati, dan AHA……..di bawah pohon rindang duduklah sang porter kecil yang kutitipi daypack beserta isinya itu….sedang makan dan minum ditemani 1 orang teman porter lainnya. Begitu melihatku, dia langsung mengangkat tinggi-tinggi daypack ku itu sambil menyeringai dengan mulut penuh makanan……

Gubrakkkssss…..akupun langsung menjatuhkan badanku dekat mereka dan langsung menceritakan keadaanku selama mendaki dan turun. Kami bertiga segera menikmati segala bekal yang ada di dalam daypack ku, air jahe wangi hangat, isotonik water, coklat, MaduRasa™, biskuit Mari, susu kotak… semuanya dengan rakus kami makan dan minum. Lalu ada rombongan Balikpapan lainnya (entah berapa jumlah total mereka seluruhnya) yang juga ikut berpesta dengan kami bertiga. Lalu ada salah satu teman ke-2 porter itu yang datang dari arah Kalimati dan membawa 1,5 liter air minum dan beberapa irisan daging buah nanas yang segaaaaaarrrr…… Waaaa….. terimakasih teman-teman semuanya….

Setelah puas makan dan minum, kami semua berjalan beriringan menaiki tanjakan menuju Base Camp Kalimati. Dan jam 12 siang aku sampai ditempat kawan-kawanku yang sudah berkumpul semuanya dan sedang ramai bercerita dan semakin ramai lagi karena kedatanganku. Tapi kami harus segera bersiap-siap kembali untuk perjalanan pulang kami menuju peradaban. Kami pun segera makan dan packing. Jam 2 siang kami memulai perjalanan pulang kami.

Matahari memanggang kami dengan sinarnya yang terik. Sang Mahameru tetap angkuh berdiri di sebelah selatan kami. Aku berjalan tersaruk-saruk dengan kakiku yang lemas dan kepala yang sakit berdenyut-denyut. Seperti mayat hidup aku terus berjalan. Di hutan Cemoro Kandang, kami didahului oleh rombongan pendaki Balikpapan. Di padang Oro-oro Ombo, panas matahari begitu terasa, dan menyorot langsung ke muka karena sudah mulai condong ke barat, kami terus berjalan ke arah utara. Menuruni “tanjakan cinta” dan jam 4 sore sampailah kami kembali di Ranu Kumbolo dengan air danaunya yang dingin berkilauan tertimpa cahaya matahari. Hanya sejenak kami beristirahat di situ, sementara rombongan Balikpapan beristirahat agak lama.

Pendaki pergi, Ranu Kumbolo pun kembali sepi

Jam 4:30 sore kami lanjutkan perjalanan menuju Desa Ranu Pane, melipir lereng bukit diatas danau Ranu Kumbolo. Hari semakin gelap. Senter dan headlamp segera dinyalakan kembali. Kami beristirahat sejenak di setiap pos kecuali pos pertama karena begitu senangnya kami setelah menapak kembali di jalur yang ber-pavingblock…., pikir kami jarak tempuh tinggal sedikit lagi jadi untuk apa berhenti beristirahat….!!! Tapi o…oooo…….. setelah berjalan dan berjalan dan berjalan dalam gelap…. sepertinya jalan ini tidak berujung…. L

Tapi akhirnya sampai juga kami di jalan beraspal…., tapiiii….o…oooo….. tidak ada kendaraan apapun yang lewat dan rumah yang kami tuju masih sangat jauh….. Akhirnya kami berjalan lagi dan menemukan rumah pertama yang didepannya ada 2 buah sepeda motor dan ada beberapa orang remaja pria sedang mengobrol. Kami menyewa ke-2 motor itu untuk mengantarkan kami ke rumah tujuan. Oh…senangnya… menaiki sesuatu yang bisa membawa kami dari satu tempat ke tempat lain…!!!

Di rumah tujuan itu kami sudah disediakan makanan hangat di dekat tungku perapian, nikmatnya makan nasi panas dan sambel dan lauk pauk lainnya…. Lalu kami bergantian memasak air untuk mandi. Rencananya jika kami tidak memperoleh jeep tumpangan malam ini, maka terpaksa kami harus menginap di sini. Tapi untunglah kami mendapatkan jeep tumpangan yang mengantarkan kami hingga ke Malang. Sepa
njang jalan ke Malang, aku tertidur lelap, hanya sesekali terbangun karena goncangan kendaraan membenturkan kepalaku ke jendela mobil.

=====================================

Tgl Rute jarak*) Waktu

30Jul08 Ranu Pane – Ranu Kumbolo (2400 MDPL) 10 km 17:00 – 22:00 (5 jam)

31Jul08 Ranu Kumbolo – Kalimati (2700 MDPL) 5 km 10:00 – 14:00 (4 jam)

1Ags08 Kalimati – Acopodo (3000 MDPL) 1 km 01:00 – 02:30 (2,5 jam)

Arcopodo – Kelik (3100 MDPL) …….. 02:30 – 03:30 (1 jam)

Kelik – Cemoro Tunggal …….. 03:30 – 04:30 (1 jam)

CemoroTunggal – Titik 300m to d top (3300 MDPL) 04:30 – 07:00 (2.5 jam)

Puncak Mahameru (3676 MDPL)……………………… (tak tercapai saat ini)

*) informasi jarak tempuh diperoleh dari http://groups.yahoo.com/group/nature_trekker/message/37781; Posted by: “m achsani” arch_sani@yahoo.com, Tue Jan 29, 2008 9:40 pm (PST)

Biaya-biaya untuk pendakian

Tgl Rute Angkutan Biaya

29Jul08 Jkt – Sby Kereta Sembrani Rp. 210.000

30Jul08 Turi – Purabaya Carter Kijang @Rp. 7.000

Purabaya – Malang Bis ekonomi Rp. 10.000

Arjosari – MeetingPoint Angkot Rp. 3.000

Malang – Ranupane pp Carter Jeep+makan @Rp. 157.000

30Jul–1Agsts Porter (Rp.70.000/hari) Rp. 210.000

Ojek Rp. 5.000

*) Biaya makan dan perbekalan belum dihitung

Biaya-biaya selama Wisata Malang dan Pulang (1-3 Agustus 2008)

·Hotel malam 1 Rp. 35.000 (sekamar ber-2, double bed, breakfast, no TV, no hot-bath)

·Hotel malam 2 Rp. 22.500 (sekamar ber-4, 1 double bed, 1 single bed, breakfast, TV, no hot-bath)

·Sewa Kijang Rp. 90.000 (termasuk bensin dan supir)

·Bis Arjosari-SBY Rp. 10.000 (ekonomi)

·Bis ke Turi Rp. 4.000

·Krt ArgoAnggrek Rp.250.000 (AC, Lunch)

*) biaya makan belum dihitung

Comments
  1. cara mengisahkan certa perjalanannya asik untuk disimak, lengkap pula dengan estimasi rincian biayanya.. nice posting @dians999🙂

  2. Aseeekk mba dian ayo kesana lagi, bawa porter sendiri aja hehe

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s