Cianjur : Menengok Jayanti

Posted: March 13, 2009 in jawa, Jawa Barat
Tags: , , , ,

http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/cianjur-menengok-jayanti/

The road to Cidaun is a long spiral like road, with holes everywhere. In some area, the road is flooded by water comes from… only-God-Knows-Where….!!! The water makes it hard to locate the hole on the road. If you are not lucky, your car can be stucked by a deep hole full of water. In another area, erosion took almost half side of the road away. You have to be extra careful driving your car. But this Elf Minibus driver never took holes on the road seriously, he just hit it by full speed, makes all of passengers jumping and bumping each others, and knocking their body to the car metal body….!!! And this full holes spiral like road is all the way from Jebrod to Cidaun, no escape…!!! Prepare your stomach…!!!

=============

20090-3-08

Oleh : Dian Sundari

Ini bukan cerita tentang seorang gadis ataupun seorang penyanyi wanita jadul, ini tentang sebuah pantai berpasir hitam, nun jauh ditepi selatan Cianjur, tepatnya di Desa Cidamar, Kecamatan Cidaun, Cianjur selatan, Jawa Barat, sekitar 143 km arah selatan dari pusat Kota Cianjur.

Selama ini, saya rasa, Cianjur dikenal sebagai daerah gunung berhawa sejuk dan hamparan kebun teh.  Cianjur adalah puncak, Cianjur adalah curug, Cianjur adalah Cibodas, Cianjur adalah tauco, hahahahaa… yang ini karena dulu sewaktu masih kecil, seingat saya setiap kali orangtua saya menengok Aki Cianjur (kakek dari pihak ayah), maka oleh-olehnya pastilah tauco J

Saya lupa, mungkin Anda juga…, bahwa tepi selatan Kabupaten Cianjur adalah samudra, “laut kidul” yang oleh orang Jawa dan orang Sunda yang hidup dengan saling berbagi sepotong Pulau Jawa, penuh dengan mitos-mitos magis tentang Nyai Roro Kidul yang senang berkebaya warna hijau ^_^

Tapi bukan karena penasaran dengan Nyai Roro Kidul penyebab saya dan kedua teman saya mendatangi tepian selatan Cianjur, tapi hanya karena alasan klasik “ingin tahu” tempat-tempat yang belum pernah didatangi sebelumnya.  Jadi suatu akhir pekan kami bersepakat untuk memuaskan rasa itu.

Jalan Berliku menuju Cidaun

Terminal Jebrod alias Terminal Pasir Hayam di Kabupaten Cianjur, menjadi titik nol petualangan kami ke selatan.   Terminalnya kecil dan…, kosong tentu saja, karena seperti umumnya terminal-terminal bis di Indonesia, kendaraan dan penumpangnya kompak untuk mengosongkan terminal, dan malah saling menunggu di luarnya.  Yang penumpang curiga kalau naik di terminal pasti itu bis ngetemnya lama, dipungut retribusi terminal, direcoki pedagang asongan dan pengamen, kalau lagi apes maka dipreteli pencopet dan penjambret.  Yang jadi supir dan kernet bis, enggan ngetem di dalam terminal, kalau di terminal maka kena retribusi ini itu, yang resmi dan yang tidak (ini yang biasanya lebih banyak), dlsb dlsb.  Maka terjadilah hukum terminal, “nunggu di luar aja biar langsung berangkat bisnya, cari yang nyodok…!!!”. 

Tapi belum tentu juga kalau naik kendaraan yang di luar terminal maka ia akan otomatis berangkat.  Berangkat sih berangkat.., tapi berputar-putar 7 keliling seperti ritual para penyembah voodoo, sihirnya orang Amerika Selatan (katanya).   Seperti minibus elf yang kami tumpangi ini, entah sudah berapa kali dia berputar mengelilingi tugu tembok itu.

Barulah ketika penumpangnya sudah penuh sesak di dalam, sampai hampir saling berciuman, mobil inipun berangkat diiringi hujan teramat deras.

Dan alamaaakkkk….. (begitu ucapan Bos Jepang saya yang baru belajar Bahas Indonesia jika ada sesuatu yang berjalan tidak baik), jalanan menuju Cidaun ini sungguh menyiksa, 143 km berliku dan penuh lubang sebesar kubangan-kubangan kerbau.  Hujan deras dan limpahan air selokan yang meluap karena mampet, membuat seluruh kubangan, beserta kerbau-kerbaunya jika memang ada, tenggelam dan rata, tak mungkin lagi untuk memilih jalanan, jadi hajar dan lari terus…!!!!

Sang supir dan kernetnya tak perduli (memangnya ada yang perduli…, saya belum pernah bertemu satupun) dengan kondisi penumpang yang bertekuk-tekuk berjejalan didalam kendaraan yang tertutup rapat karena tak mungkin untuk membuka pintu dan membiarkan sebagian penumpang (laki-laki tentu saja) untuk bergelantungan dipintu seperti tarjan kota.  Saya tertekuk-tekuk dan terbentur-bentur besi jendela, teman saya duduk miring-miring mepet ke arah saya karena takut “tercium” (kan tidak sengaja dicium tohhh…) penumpang disebelahnya.. (hihiii…).  Haduhh… ampun dehhh…

Entah di daerah mana hujan mereda.  Sebenarnya pemandangan di kiri kanan jalan asyik untuk dinikmati, jika saja ada sedikit “kemanusiaan” dalam kendaraan.  Ada hamparan kebun teh, ada hutan tropis khas Jawa Barat yang lebat, dan desa-desa (tapi yahh…sudah “tidak terlalu Sunda” lagi wujudnya, orang-orangnya pasti masih Sunda banget !!).  Tapi juga harus extra hati-hati karena ada beberapa titik lokasi longsor yang memakan sebagian badan jalan.

Sudah lewat jam 9 malam ketika akhirnya mobil elf berhenti di tujuan akhir, Desa Cidaun yang sudah sepi.  Masih ada 1 warung yang buka dan beberapa mamang ojek masih “nonggrong-nongkrong” menunggu para penumpang kemalaman.  Pendatang baru seperti kami tidak ayal lagi menjadi primadona rebutan, walaupun kami sudah berpura-pura menjadi saudara juragan toko grosiran terbesar se-Jayanti, padahal kami hanya kebetulan bertemu dengan adik dari istri sang Juragan yang membuka usaha warung makan di dekat terminal Jebrod tempat kami makan siang tadi malam.  “Mampir saja ke rumahnya, tidak apa-apa Neng.  Bilang saja Teteh yang suruh”, katanya begitu dalam logat Sundanya yang kental.  Jadi, kamipun minta diantarkan mamang ojek ke rumah sang “saudara jauh” , tapi apadaya tidak seorangpun yang menyahut ketika kami mengetuk pintu karena malam sudah terlaru larut.  Batal dehh… dapat akomodasi gratisan L

Butuh waktu kira-kira 15 menit dari Cidaun ke Jayanti, menyebrangi muara sungai super lebar yang saat itu jembatannya masih belum rampung tapi sudah bisa dilalui.  Dari rumah Sang Juragan Grosir yang pintu pagar besi tingginya tertutup rapat, kami berjalan melewati pasar desa yang juga sepi, persis di dekat gerbang “SELAMAT DATANG DI PANTAI JAYANTI”.

Jayanti, the black sandy beach 

Tidak jauh dari situ kami menemukan penginapan pertama, sayangnya harganya lumayan mahal, tidak masuk anggaran kami.  Lalu kami berjalan lagi menyusuri jalan yang sangat sepi, katanya kearah sini ada 2 penginapan lainnya.  Penginapan yang kedua, berupa bungalow-bungalow terpisah yang dibangun mengelilingi taman yang cukup luas dan asri, kebetulan pemiliknya mau menurunkan tarif sewa dan kebetulan juga katanya penginapan ketiga sudah penuh, mungkin karena sewanya termurah diantara semuanya.  Lumayan luas juga bungalow ini, bisa memuat 20 orang backpacker saya pikir.  Kamar mandinya bersih, ada musholla kecil, dan ada 2 kasur lebar terhampar di lantai bungalow.

Bungalow Putri

Ternyata bungalow itu lokasinya berada dibagian tanah yang cukup tinggi.  Masih perlu berjalan beberapa ratus meter lagi untuk bisa sampai ke pantai.  Dibelakang pagar tembok tingginya terhampar sawah hijau.  Semuanya itu tersaji begitu pagi tiba, walaupun kami bangun agak kesiangan dan sedang malas mengejar sunrise.

Perahu-perahu nelayan beraneka warna menghiasi dermaga yang belum selesai dibangun.  Juga ada pasar pelelangan ikan kecil-kecilan.  Di depan pasar ikan terdapat areal untuk parkir yang cukup luas tapi tampak tak terawat seperti bangunan kosong di depan penginapan yang sedianya dibangun sebagai Pusat Informasi Wisata itu.  Beberapa warung penjual ikan bakar berderet memanjang ke arah dermaga.

Pantainya sendiri berpasir hitam memanjang ke arah barat dari dermaga.  Pantai di timur dermaga berupa pantai berbatu-batu.  Sepagian menuju siang itu kami asyik mengamati sekitar.  Mengagumi para pencari lobster yang dengan berani menyelam diantara batu-batu karang ditengah ombak yang berdebur-debur.  Lucu sekali alat transportasi yang mereka gunakan untuk ke tengah laut, yaitu berupa ban dalam mobil besar-besar yang diikat-ikat dengan tambang hingga bentuknya jadi agak lonjong, dan mereka duduk diatas tali temali tambang tersebut sambil tangannya sibuk mengayuh menggunakan piring makan plastik.  Ya..piring makan plastik, bukan dayung.  Cepat sekali mereka mengayuh, naik turun menunggangi ombak laut selatan.   Kami ingin sekali mencobanya, tapi tidak cukup punya nyali melihat ombak dan batu-batu yang betebaran.  Jadi kami hanya menonton saja sambil terkagum-kagum.

Tak sah rasanya kalau ke pantai tidak makan ikan bakar, jadi kami pergi ke pasar ikan untuk memilih dan menawar sebisanya.  Tapi bau busuk yang menguar membuat perut saya memberontak, jadi saya buru-buru menjauh dari situ.  Ikan-ikan itu kemudian kami bawa ke salah satu warung yang memang menyediakan jasa bakar ikan sepaket dengan nasi putih dan sambal kecap.  Hmmmm…sedaaappp…

Beragam ikan yang dijual di Pasar Ikan alias Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Cidaun.

Rupanya penginapan ketiga yang tadi malam tidak sempat kami datangi berada persis di tepi pantai sebelah barat, dan ada semacam bar & restaurant  yang tadi malam sayup-sayup terdengar musiknya di penginapan.  Ibu warung tempat kami membakar ikan berbisik-bisik sambil menunjuk-nunjuk tempat tersebut sebagai “tempat begituan”.  Hmmm….untung saja kami tidak sempat ke sana tadi malam.

Semakin siang, tempat ini lumayan bertambah ramai.  Banyak rombongan penduduk lokal datang berwisata, baik yang menggunakan angkutan bis carteran, konvoi sepeda motor, maupun truk sewaan.

Sebetulnya di dekat gerbang SELAMAT DATANG di depan sana itu, terdapat juga pintu masuk menuju Hutan Lindung Bojong Larang yang terlihat dipenuhi tumbuhan kayu tua yang rimbun, tapi sayangnya sepertinya sedang tertutup untuk umum.

Kami tidak lupa juga sempat mampir ke “saudara jauh”, Sang Juragan Grosir dekat pasar.  Rupanya ibu warung saudaranya istri sang juragan yang memberikan refernsi di Terminal Jebrod Cianjur kemarin sore itu, sempat menelepon istri sang juragan mengabarkan tentang kami bertiga, tapi karena kami datang sangat terlambat dan sudah terlalu larut, istri sang juragan yang sejak tadi menunggu-nunggu kami akhirnya terlalu lelah dan tidur.  Hmmm… rupanya memang bukan rezeki kami tadi malam.

5 hours in adrenalin-venture or 8 hours in boring-venture..??

Hhh..malas sekali rasanya membayangkan perjalanan pulang yang sangat panjang esok hari.  Bagi teman saya yang rumahnya di Jakarta, perjalananan ke sini seperti “memotong miring” tanah Jawa Barat, dari tepian laut selatan Cianjur, hingga ke tepian utara tanah Jawa di Jakarta.  Kata pepatah orang bijak, “jika kemalangan dan kesengsaraan yang kau bayangkan, maka kemalangan dan kesengsaraan lah yang akan benar-benar kau dapat”.  Jadi itulah yang kami dapat di perjalanan pulang yang lebih lama, tidak seperti normalnya perjalanan pulang yang selalu berasa lebih cepat.

Kalau saat berangkat kami bertemu dengan supir sembrono yang tidak memperdulikan lubang jalanan hingga waktu tempuh hanya sekitar 5 jam, maka waktu pulang kami bertemu dengan supir yang sangat hati-hati menghindari setiap lubang jalanan yang bertaburan tak tentu.

Kau tahu…, seperti gadis gedongan bergaun sutra putih semata kaki dan bersepatu kaca mengkilat, yang takut gaun dan sepatunya terkena setitik debu, maka ia akan berjalan berjinjit-jinjit lambat-lambat memilah dan memilih tanah yang akan dipijak, sambil mengangkat gaun putihnya hingga lutut, meloncati setiap kubangan lumpur dengan takut-takut.  Seperti itulah, perumpamaannya.  Jadilah waktu tempuhnya melar hingga 8 jam.   Bingung jadinya pilih tipe supir yang mana, yang sembrono tapi cepat sampai walaupun kita remuk redam jiwa dan raga…..,  atau yang hati-hati tapi lambat dan kitanya mati karena bosan ????

Haduhhh….mendingan perbaiki saja jalanannya hingga mulus, jadinya bisa cepat sampai dengan aman tentram !!!   Semoga…….

==================================

Rute ke Cianjur :

Jakarta : dari Terminal Kampung Rambutan naik bis 3/4 turun di Terminal Pasir Hayam (Jebrod,  Cianjur), Rp.20.000.

Bandung : dari Terminal Leuwi Panjang naik bis jurusan Sukabumi atau Bogor turun di Terminal Pasir Hayam (Jebrod,  Cianjur), ongkos Rp.15.000 (AC), Rp.10.000 (Non-AC).

Rute ke Jayanti :

dari Terminal Pasir Hayam (Jebrod,  Cianjur) naik elf ke Cidaun  (5-6 jam, Rp.40.000), lanjut ojek 10-15  menit (ongkos malam hari Rp.15.000,  ongkos di siang hari Rp7.000)

Retribusi ke Pantai Jayanti Rp.2000 per orang, Rp10.000 per mobil

Penginapan : 3 penginapan/motel, rate Rp.80.000 – Rp.300.000, tergantung fasilitas yang diperoleh

==================================

Thanks to Dee for the foto

Dee & Dewi for the great time :))

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s