21Mar2009 Curug Dago yang takkan kulupakan

Posted: March 30, 2009 in jawa, Jawa Barat
Tags: , , , ,

Hari minggu kemarin (21Mar2009) kami akhirnya sampai juga di Curug Dago.

First attempt : failed😦

Cerita pencarian kami akan si Curug Dago ini lucu dan menjengkelkan.Sebenarnya hari minggu weekend yang lalu kami sudah keluyuran berpanas-panas di Dago, sudah berbelok ke jalan yang benar yang tidak jauh dari terminal Dago, sayangnya kami bertanya kepada orang yang salah, si mamang pencari rumput mengatakan bahwa “curug dago itu masih jauuuuuuuhhhh…. sekali dari sini, mungkin 4 km lebih mah ada lah Neng”, begitu katanya.  Keterangan ini membuat nyali kami ciut karena harus trekking di jalan aspal nan panas sejauh itu. Akhirnya kami pun mengurungkan niat dan balik arah, lalu terdampar di mall Ciwalk…

Lagi, hari sabtu sebelum kami menemukan curug Dago, kami juga mencari si curug itu yang katanya adanya di daerah Punclut, yang bisa di akses melalui Ciumbuleuit.Maka pergilah kami ke Ciumbuleuit.Si sopir angkot menurunkan kami di pertigaan depan sebuah rumah sakit.Lagi, kami bertanya, kali ini ke Tukang Rujak, lhaaa…katanya di Punclut mah tidak ada Curug Dago Neng, kalau mau ke Curug Dago mah si Eneng harus balik lagi naek angkot yang tadi, turun di simpang lalu naek angkot nomor sekian, dan bla…bla…bla….Halahhh….cape dehhh…!! Salah lagi…!! Dan lagi, kami berbalik arah lalu terdampar di warnet….

Mutung bertanya kepada manusia berwujud, kami pun bertanya kepada yang tidak berwujud, internet….!!!Betapa anehnya dunia ini…untuk mencari tempat yang ada di RT sebelah saja harus minta tolong sama Om Google yang weruh sedurung winara itu!!!

Dari Si Internet ini, ada beberapa info yang lagi-lagi bikin pusing , ada yang menyebutkan bahwa si Curug Dago ini bisa diakses dari Hutan Raya Djuanda yang berada kurang lebih 2 km setelah Terminal Dago, tapi info lainnya menyebutkan bahwa si Curug Dago (yang disebut penulisnya sebagai curug yang terlupakan) ini bisa di akses melalui jalan yang ada di depan Hotel Sheraton Dago yang nyata-nyata berada sebelum Terminal Dago.Bahhh…!!!Pusing lagi…!!!

Penasaran dengan Si Curug Dago Yang Terlupakan ini, kami pun memutuskan untuk pergi ke Taman Hutan Raya Djuanda (Tahura) esok pagi.

2nd attempt : succeed🙂

Maka keesokannya pergilah kami berdua ke Taman Hutan Raya Djuanda (Tahura).Naik angkot jurusan Ciburial (Ciroyom-Ciburial) dari Simpang Dago, dan turun di pertigaan jalan yang ada plang tulisan Hutan Raya Djuandanya.Dari sana kami berjalan kaki di jalan aspal sempit yang menanjak sejauh kira-kira 600m, dan sampailah kami di pelataran parkir Kompleks Taman Hutan Raya Djuanda.

Sewaktu melihat peta yang ada di parkiran, tahulah kami bahwa kali ini pun kami sudah salah tempat lagi.Di situ tertera jelas kalau Curug Dago tidak terletak di kompleks ini walaupun masih termasuk dalam Wilayah Konservasi Hutan Djuanda.Yaaahhhh….salah lagi deh..!!!Tapi karena kami sudah terlanjur berada di sini, kami memutuskan untuk menjelajahinya.

Tempat wisata alam ini sangat sejuk karena rimbunnya pepohonan.Jalan-jalan nya tertata rapih dan bersih.Tiket retribusinya Rp8000 per orang. Terdapat banyak bangku-bangku taman untuk duduk-duduk santai.Taman bermain anak juga tersedia di sini.Sarana dasar seperti toilet dan musholla juga tersedia.Penjaja makanan juga ada beberapa yang diijinkan berjualan di kawasan ini.

Objek wisata andalan Tahura antara lain Musium Tahura, Monumen Ir. H. Djuanda, Kolam Pakar, Goa Jepang, dan Goa Belanda.Untuk masuk ke Goa Jepang dan Goa Belanda, Anda harus membawa senter atau Anda bisa menyewanya seharga Rp3000.Di hutan ini, masih banyak terdapat monyet-monyet kecil, tapi tidak mengganggu pengunjung. Bila Anda ingin menjelajah lebih jauh lagi, Anda bisa trekking atau biking hingga ke Maribaya.

Puas menjelajahi Tahura, kami turun ke Terminal Dago lagi, tentu saja dengan niat untuk mencari si Curug Dago.Di sebrang terminal, kami bertanya kepada seorang penjaga warnet , katanya kami harus mengikuti jalan menurun ini (yang seminggu lalu pernah kami lalui), setelah belokan ada warung, lalu menurun sedikit lagi, nah tidak jauh dari situ ada jalan kecil ke arah kiri, ikuti terus jalan itu, nanti juga akan bertemu dengan Curug Dago.Ternyata benar, tidak jauh berjalan, kami menemukan jalan kecil di sebelah kiri itu, posisinya persis di dekat tempat kami seminggu yang lalu bertemu dengan si pencari rumput yang memberi informasi yang salah…

Tidak ada seorangpun di sana kali ini.Tidak ada penunjuk jalan apapun.Hanya ada bangunan bekas warung yang sudah dilupakan siempunya, seperti si curug Dago yang dilupakan penduduk sekitarnya.Sebenarnya ada 2 jalan kecil di sebelah kiri ini, satunya yang kami lewati ini dan lainnya yang berada di balik tembok beton itu tepat sebelum jembatan sungai Cikapundung.Kamipun bingung, yang ini atau yang itu ya??Untungnya ada ibu-ibu yang lewat, ahhh ternyata ini jalan yang benar, curugnya tidak jauh lagi dari sini, tinggal belok kanan….., tapi koq sepi sekali ya..tidak ada suara gemuruh sebuah curug atau gemericik suara aliran sungai…???

Tidak berapa lama, kami sampai di perempatan jalan setapak ini.Yang ke arah kiri kemungkinan akan muncul di dekat terminal tadi, yang ke depan entah akan menuju ke mana, sedangkan yang ke kanan , tentu saja ke Curug Dago..

Lho..ternyata jalan setapak di balik tembok itu juga menuju ke sini, lengkap dengan tembok-temboknya memanjang terus entah samapi ke mana.Ahhh…senangnya ketika akhirnya kami menemukan Curug Dago ini…

biasa banget deeehhh

Kawasan Wisata Curug Dago ini kecil saja.  Tidak ada pos retribusi.  Hanya ada 2 gazebo kecil untuk duduk-duduk, beberapa bangku taman, dan 1 warung makanan.  Curugnya ada di sebelah kiri.  Kita harus menuruni jalan setapak berbatu berliku-liku yang cukup terjal untuk bisa sampai ke ceruk, tempat si air curug jatuh. Di ceruk ini ada 2 bangunan kecil terkunci rapat, bercat merah dan kuning keemasan yang berfungsi untuk melindungi 2 buah prasasti alias batu bertulis yang katanya di buat oleh 2 Raja dari Thailand.Prasasti yang satu di buat oleh ayah dari Raja Thailand Chulalongkan II dan yang satunya lagi dibuat oleh Si Raja Chulalongkan II sendiri sewaktu di tahun 1896 ia berkunjung untuk melihat prasasti tulisan tangan Sang Ayah.Semua prasasti di tulis dalam huruf dan bahasa Thailand.

Rumah prasasti Raja Thailand

apa coba ituu bacaanya ??

Walahhh.. untuk apa raja-raja itu datang jauh-jauh dari Thailand ke tempat ini ya???  Hmmm…curugnya sendiri bukan sebuah curug yang membuat kita tercengang kagum akan ketinggiannya. Curugnya pendek saja, mungkin 4 meteran tingginya.  Di siang menuju sore hari seperti ini, tempat ini agak sedikit menyeramkan, mungkin karena rimbun dengan pepohonan besar dan tua. Untungnya ada 2 orang pemancing lokal di seberang sungai.  Karena musim hujan, air sungainya berwarna cokelat. Dan karena dekat dengan pemukiman, maka sampah berserakan di ceruknya.

Ketika kami ke atas lagi, sudah ada beberapa rombongan kecil anak muda dan 1 keluarga kecil yang juga mengunjungi tempat ini.  Menurut seorang penduduk lokal yang kami temui, di hari minggu biasanya banyak anak-anak muda yang bermain-main di kawasan ini. Bahkan ada juga yang camping.

Ending : satisfaction

Puas sudah pencarian kami akan si Curug Dago ini.Kami pulang ke arah yang berlawanan dari arah datang tadi. Alasannya simple saja, karena kami ingin tahu ke arah mana jalan ini sebenarnya.  Ternyata jalan setapak ini berakhir di kampung Dago Pojok, lalu tembus ke jalan beraspal kecil yang bermuara di depan Hotel Sheraton Dago. Jadi ternyata si internet itu benar juga, cuma kami saja yang bingung sendiri saking banyaknya informasi :p

==========================

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s