Subang : Dicegat Ular Hitam Panjang di Curug Cileat

Posted: August 20, 2010 in jawa, Jawa Barat
http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/subang-dicegat-ular-hitam-panjang-di-curug-cileat/
29/12/2011

 

Air terjun atau “curug” dalam Bahasa Sunda selalu menarik untuk dikunjungi, dan di daerah Jawa Barat ini ada banyak sekali curug. Kali ini kami pergi ke Curug Cileat di Gunung Sanggah (Subang), katanya ada 3 curug disitu, tapi lokasinya terpencil dan masih banyak ular tanah hitam yang sangat berbisa..!!!

Minggu, 30 Mei 2010.

Bandung – Jalan Cagak – Desa Cibogo

Cahaya matahari menyorot terang di pagi hari yang cerah ini. Terminal Ledeng tampak masih tenang,  belum banyak calon penumpang dan angkot-angkot berseliweran semrawutan.   Tapi bus-bus pariwisata sarat penumpang sudah banyak yang melintas mengarah ke daerah wisata di Lembang, Tangkuban Perahu dan sekitarnya.

Cukup lama juga berdiri di tepi jalan menunggu bus jurusan Leuwipanjang-Indramayu yang akan kami tumpangi hingga ke daerah Jalan Cagak di Kab. Subang.  Beberapa calo elf jurusan Subang beberapa kali menghampiri dan merayu kami, tapi tetap tidak tergoda karena malas dengan jadwal ngetem mereka yang tak kenal waktu.  Akhirnya mobil  tumpangannya datang.

Mobil L-300 butut ini ngebut meliuk-liuk di jalanan Bandung-Subang yang berbukit-bukit.  Matahari pagi menyorot di sisi kanan. Hamparan perkebunan teh memagari kiri kanan jalan. Semakin mengarah ke Subang, semakin banyak kami jumpai pedagang buah-buahan di pinggir jalan. Nenas khas Subang dan manggis tampak mendominasi setiap lapak.

Satu jam kemudian kami sampai di daerah Jalan Cagak, sebuah ibukota kecamatan yang ada dipersimpangan jalan, arah kiri ke Subang dan Indramayu, lurus ke arah Sumedang. Mampir sebentar di kontrakan seorang kawan, mencari pinjaman sepeda motor. Bermodal bensin seharga sepuluh ribu rupiah, bersama motor bebek pinjaman, kami  melaju ke arah Sumedang, menuju ke daerah Kecamatan Cisalak.

Tujuan utama kami hari itu adalah Curug Cileat, yang telah membangkitkan rasa penasaran dan hobby petualangan. Tiga puluh menit bermotor, sampailah di Kecamatan Cisalak. Kira-kira 1 km setelah melewati Pasar Cisalak, kami sampai di percabangan Desa Gardu Sayang , belokan ke kanan menuju  Curug Cileat.

Kami memutuskan untuk makan siang dulu, di warung nasi khas Sunda sederhana dan satu-satunya yang ada di situ.  Menunya : nasi hangat, sayur asam, ikan mujair goreng yang masih panas dan renyah , serta sambal.

“Wah Curug Cileat mah, tebih keneh atuh Neng.  Ngalangkungan Mayang teraaassss ka ditu, tebih keneh pokonamah..!! (Wah, air terjun Cileat masih jauh sekali, Nona. Melewati Desa Mayang, terus ke sana)” kata Ibu pemilik warung tentang curug tujuan kami. Tapi waktu kami tanya apa si Ibu pernah pergi sana atau belum, jawabnya belum katanya. “Ahhh…, buat apa ke sanah sagala, curug mah geus teu aneh (ahhh…, buat apa pergi sana , air terjun bukan sesuatu yang aneh) “, begitu katanya.  Ahh ibu….

Seusai makan siang dan membeli nasi timbel untuk bekal di air terjun, kami melanjutkan perjalanan kembali. Berbelok ke arah kanan menuju Desa Mayang.  Di belokan ini terdapat penanda arah “Curug Cileat” 9 km lagi. Jika tidak membawa kendaraan sendiri, Anda harus menyewa ojek yang banyak mangkal di tempat ini.

Jalan aspal yang kami lalui semakin sempit. Melewati sawah dan kebun penduduk. Kolam-kolam pemeliharaan ikan air tawar tampak di buat di saluran air yang berair jernih. Sederhana sekali cara mereka membuat kolam ini, cukup dengan membendung aliran air irigasi dengan tembokan, pasangi penyaring di kedua lubang sebagai inlet dan outlet air. Air jernih sangat melimpah di daerah ini.

Sebagian besar penduduk daerah ini bermata pencaharian sebagai petani padi sawah. Beberapa ibu-ibu tampak sedang menjemur padi hasil panen musim ini. Padi-padi itu di hamparkan dihalaman rumah yang telah di tembok khusu untuk menjemur padi, atau di hamparkan di atas “bilik” (anyaman bambu seperti tikar) dan dijemur dipinggir-pinggir jalan desa yang sempit ini.

Anak-anak kecil tampak asyik bermain sepeda atau bermain air di saluran air yang mengalir di depan rumahnya. Jaringan listrik sudah masuk ke desa ini. Rumah-rumahnya sudah terbuat dari tembok. Kolam-kolam ikan menghiasi halaman hampir setiap rumah. Beberapa tempat peristirahatan (villa) juga terdapat di sini.

Setengah jam bermotor dari belokan Desa Gardu Sayang, kami sampai di belokan berikutnya, tepat di depan Balai Desa Mayang. Ada 2 jalan kecil di kanan jalan, jalan kecil yang ke 2 lah yang harus kami ambil untuk pergi ke Curug Cileat , demikian kata penduduk setempat yang kami tanyai, tidak ada penunjuk arah sama sekali.

Jalannya kecil dan aspalnya nyaris sudah tidak ada. Sawah-sawah mengapit kiri kanan jalan. Jauh di sebelah kiri terdapat sungai cukup besar, aliran airnya deras dan jernih. Di beberapa titik, terdapat longsor, yang membuat jalan semakin sempit. Jalan ini berakhir di suatu pelataran cukup luas tempat pengerukan tanah. Rupanya kami telah sampai di Desa Cibago, desa terakhir sebelum curug. Waktu tempuh dari Desa Gardu Sayang kira-kira 30 menit.

Di tempat inilah para pengunjung curug biasa menitipkan kendaraan mereka. Saat itu terdapat beberapa buah sepeda motor pengunjung curug yang terparkir di tempat penitipan motor. Pengunjung curug harus membayar biaya retribusi sebesar Rp.4000 per orang. Dari Desa Cibago ini, pengunjung harus berjalan kaki alias hiking.

Trekking Melipir Gunung Sanggah

Maka mulailah acara trekking kami siang itu. Waktu sudah menunjukkan jam 12 siang. Awan-awan pembawa hujan sudah tampak di atas gunung. Kami berjalan kaki menyusuri jalan setapak di tengah kampung, melewati rumah-rumah penduduk yang sederhana walaupun rata-rata sudah terbuat dari tembok. Bertanya disetiap belokan jalan karena tidak ada penanda sama sekali. Sehabis perkampungan yang cuma terdiri dari beberapa rumah ini, kami harus berjalan melewati pematang sawah yang becekdan terus menanjak, menyusuri saluran air, melipir pinggang gunung Sanggah.

Kebingungan melanda manakala sampai di percabangan jalan dan tak ada siapapun untuk ditanyai. Ragu-ragu kami mengambil arah kanan, terus naik menjauhi suara gemuruh air sungai. Rasa lega timbul begitu bertemu dengan penduduk setempat yang tengah mencari bambu, ternyata kami tidak salah jalan. Areal ini cukup terbuka, sinar matahari berlimpah di sini. Menengok ke arah kiri depan, kami berseru gembira manakala melihat 3 air terjun dikejauhan sana. Lokasinya sedikit berjauhan, terutama yang ketiga, yang paling besar.

Dengan semakin bersemangat kami melanjutkan kembali perjalanan. Jalan setapak ini semakin terjal, sempit dan rimbun. Di kiri kami adalah tebing curam yang dibawahnya mengalir sungai, sedangkan di kanan adalah dinding gunung yang rimbun ditumbuhi berbagai pepohonan liar. Tumbuhan kopi yang buahnya sedang merah ranum tampak disana sini. Seorang penduduk tengah asik memanen kopi-kopi tersebut, tampak bersusah payah menundukkan cabang pohon kopi yang mengarah ke jurang.

Seorang penduduk lainnya sedang asik bertengger di atas pohon nira sambil memukul mukuli batang buah nira muda. “Kok, dipukul-pukuli Pak” saya bertanya keheranan. “Iya, Neng, supaya hasilnya nantinya banyak”. Niranya nanti baru bisa disadap 2 minggu kemudian. Ohh begitu ???? Rupanya menyadap nira tidak asal tebas dan tamping, harus dihitung / diperkirakan benar-benar kapan sari nectar nira yang manis mulai mengalliri buluh-buluh menuju buah nira. Saat itulah si batang buah nira tersebut dipotong dan nektarnya ditampung di dalam batang-batang bambu yang disebut “Lodong” dalam bahasa Sunda. Kegiatan menyadap nira biasanya disebut sebagai “ngalodong”. Bila buah-buah nira ini dibiarkan tumbuh membesar, biasanya setelah tua dan matang akan dipanen, dibakar untuk menghilangkan getahnya yang amat sangat gatal itu, kemudian direndam berkali-kali untuk menghilangkan rasa pahit dan gatal yang tersisa. Jika sudah siap, maka daging buahnya yang berwarna putih itu akan dijual sebagai “kolang-kaling” yang biasa digunakan untuk membuat es campur, es kolang-kaling, ataupun kolak kolang-kaling.

Sempat juga berpapasan dengan beberapa orang penyadap nira lainnya yang tengah mengangkut hasil sadapannya. Dan dengan para petani yang baru pulang dari sawah atau dari hutan mencari kayu bakar. Kami harus berhenti dan menepi hingga mepet ke dinding gunung supaya mereka bisa lewat. Mereka semuanya sangat ramah dan murah senyum.

Lalu kami sampai di sebuah tempat yang sangat rimbun, sinar matahari hanya berupa larik-larik cahaya kecil yang berhasil menembus rimbunnya dedaunan. Jalan yang kami injak tampak seperti bekas jalan air, batu-batunya bersih karena tanahnya sudah terkikis air. Di ujung yang terang sebelah sana, tampak seorang anak laki-laki penduduk setempat yang sedang beristirahat , di seberangnya terlihat kakak laki-lakinya sedang merokok. Begitu keluar dari gerumbulan pohon itu, kami langsung disambut gemuruhnya air terjun. Aaahhhh….rupanya kami telah sampai ke air terjun ke 1, tampak menjulang jauh disebelah kanan atas.

Air terjun ini begitu tinggi, ujung atasnya tidak terlihat, tersembunyi dibalik pepohonan, ujung bawahnya juga tidak terlihat, seperti tenggelam diantara pohon-pohon liar. Tidak ada “kolam” di bawah air terjun yang biasanya bisa kita jumpai dan biasanya dipakai untuk arena bermain air. Tidak ada akses jalan untuk bisa melihat area tempat jatuhnya air. Yang bisa kita jangkau cuma aliran sungai kecil berair jernih dan sejuk.

Kami beristirahat sejenak di sini, sambil ngobrol dengan kakak beradik tadi. Lalu kembali melanjutkan perjalanan, menyebrangi sungai kecil berair jernih. Berhati-hati agar tidak terpeleset ketika menginjak batu-batunya yang berwarna hitam. Kira-kira sepuluh menit kemudian, kami yang senang karena sudah melihat aliran air terjun yang ke 2, tiba-tiba dikagetkan oleh seekor ular hitam kelam berukuran lumayan besar yang melintas dari balik sebongkah batu besar menuju semak-semak. Kami teringat cerita bapak-bapak di sebuah warung di Jalan Cagak tadi yang mengatakan bahwa di daerah ini memang masih banyak dijumpai ular tanah berwarna hitam yang sangat berbisa, oleh karena itu di sini dilarang berkemah. Wahh…dengan pengalaman tadi, kami percaya 100% pada cerita si Bapak tersebut, tapi kami jadi agak sedikit paranoid, mencurigai setiap bongkah batu yang banyak berserakan di sini.

Curug ke 2 tidak setinggi dan sebesar curug ke 1, pangkal dan ujung nya dapat terlihat. Bias-bias airnya yang terbawa angin membasahi dedaunan dan tanah disekitarnya. Tapi tidak terdapat kolam di bawah kucuran air, mungkin karena tidak cukup besar. Tiba-tiba dari ujung jalan setapak sebelah sana, dari balik semak-semak muncul suara-suara percakapan disusul dengan kemunculan beberapa orang cowok, sepertinya mereka bukan penduduk setempat melainkan pengunjung seperti kami.  Mereka kemudian asyik mandi-mandi dibawah guyuran air terjun yang dingin itu sambil berfoto-foto.

Rupanya mereka baru saja kembali dari air terjun yang ke 3 dan terbesar. Jaraknya kurang lebih 1 jam perjalanan lagi dari sini. Menimbang-nimbang waktu yang kami miliki dan keadaan alam yang sepertinya sebentar lagi akan hujan dan seriusnya kondisi medan yang harus dilalui, akhirnya kami memutuskan untuk balik arah, menyudahi petualangan kami hari itu.

———ooooOOooo———–

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s