Pulau Medang sang tetangga yang terpinggirkan

Posted: June 6, 2011 in Bali-Lombok-Sumbawa
Tags: , , ,

Check Point 3 :  Pengembaraan Sumbawa – Sumba

Jujur saja, Pulau Medang sebetulnya tidak termasuk ke dalam itinerary pengembaraan saya kali ini.  Yahhhh…. malah bisa dibilang kalau saya tidak tahu dengan yang namanya Pulau Medang ini.  Maklum, nama pulau ini kalah jauh oleh pulau tetangga “Pulau Moyo” yang juga menjadi salah satu tujuan utama saya.

Nahhh….sewaktu saya sedang tanya-tanya kepada penduduk sekitar tentang perahu tumpangan untuk ke Pulau Moyo di Pelabuhan Mulut Kali (Kec. Badas, Kab. Sumbawa Barat), saya bertemu dengan seorang penduduk Pulau Medang yang bernama Bahar.   Cerita punya cerita, Mas Bahar ini berasal dari Desa Bugis, salah satu dari 2 desa yang ada di Pulau Medang.  Katanya, perahu tumpangan tujuan Pulau Moyo tidak tentu hari nya, tergantung banyak tidaknya penduduk yang akan pergi berbelanja ke pasar di Sumbawa Besar.   Akhirnya, saya diundang untuk berkunjung (bahkan menginap) di rumah orang tuanya. 

Pulau Medang adalah gugusan pulau kecil yang secara administratif berada di bawah pemerintahan Kecamatan Labuan Badas Sumbawa dan berada 27  km di bagian utara Pulau Sumbawa.  Luas  wilayah Pualu Medang mencapai 27,65 Km2 terdiri dari 2  desa yakni Desa Bajo Medang (8,65 Km2) dan Bugis Medang (19,0 Km2).  Luasnya hanya kira-kira 8% dari luas Pulau  Moyo, sang tetangga sudah “tenar” hingga mancanegara.

Waktu sudah menunjukan jam 11 lebih,  matahari garang menyinari laut dan daratan Pulau Sumbawa.  Ada 2 perahu hari itu yang akan berangkat menuju P Medang.  Penumpangnya, tentu saja para penduduk P Medang yang habis berbelanja di Pasar Kota Sumbawa Besar.  Saya sudah mencari posisi ternyaman di bagian samping perahu kayu yang cukup besar ini.  Ahhh….pasti enak sekali dininabobokan ombak sambil
dikipasi semilir angin laut, pikir saya yang masih dipenuhi pengalaman ber-offroad ke Desa Tepal.  Badan saya masih berasa ringsek tergonjang ganjing dalam jeep hardtop kemarin.

Bagian depan perahu nampak sudah penuh dengan barang belanjaan, parabola baru pun ada disana.  Bagian penumpang di bagi 2, di bagian dalam dan diatas.  Saya memilih di bagian atas,  karena lebih segar dan berpemandangan luas ke segala penjuru.  Tak ada kursi-kursi untuk duduk penumpang, yang ada hanya papan kayu datar dialasi tikar.  Ada  atap kayu menaungi kami dari teriknya matahari.

Penumpang yang kebanyakan ibu-ibu, sudah memenuhi lantai kayu ini.  Mereka duduk lesehan dan tiduran sambil ramai bersenda gurau dalam bahasa setempat yang tidak saya mengerti sedikitpun.  Saat saya nimbrung obrolan, maka ketahuanlah bahwa saya adalah “orang  asing”, dan seketika jadi objek pertanyaan-pertanyaan.  Salah satu dari ibu-ibu ini ternyata adalah istri Kepala Desa Bajo, beliau baru pulang belanja untuk keperluan acara sunatan massal dan periksa kesehatan gratis esok hari.   Ibu Kumala, demikian nama sang ibu Kades  ini, mengundang saya ke desanya, “nanti menginap saja dirumah saya, lihat acara sunatan massal besok, pasti ramai” begitu katanya.  Saya pun dengan segera meng-iya kan saja ajakan tersebut, sambil berpikir bagaimana caranya memberi alasan kepada Mas Bahar yang sudah terlebihdahulu mengundang saya.

Oh.., omong-omong… dimana Mas Bahar ini ya, dari tadi tidak kelihatan ???  Mungkin duduk di bagian bawah , demikian pikir saya.  Obrolan demi obrolan masih terus berlanjut.  Ibu Kumala tak henti-hentinya membicarakan Desa Bajo.  Katanya lautnya bagus, enak buat mandi-mandi, desanya lebih ramai dibandingkan Desa Medang, ibaratnya Desa Bajo ini “Surabaya” –nya Pulau Medang.

Hari sudah semakin terik, ibu-ibu penumpang perahu sudah semakin gelisah, anak-anak balita sudah banyak yang rewel, menangis tiada henti.  Sementara belum ada tanda-tanda sang perahu ini kapan akan mulai melaut.  Ahh…ternyata alasannya adalah karena lautnya masih surut.  Sang pasang lautlah yang menentukan kapan saatnya perahu melaut, bukan lagi jarum jam di pergelangan tangan dan angka-angkanya itu, seperti yang biasa menjadi pembatas atau ancang-ancang kapan memulai dan mengakhiri sesuatu.

Jika sebuah kapal mulai melaut dengan mendahului sang pasang laut, maka akan terdamparlah dia, seperti perahu kami ini.  Rupanya, karena terpropokasi ibu-ibu penumpang yang sudah gelisah, sang kapten kapal memutuskan untuk mulai melaut padahal laut masih surut,  akibatnya tak berapa jauh dari mulut muara, perahu pun kandas.  Baling-baling perahu menggerus lumpur laut dan menyemburkannya ke perairan sekitar hingga menjadi keruh penuh lumpur.  Awak perahu pun harus berjibaku meloncat ke laut dan mendorong sang perahu hingga arahnya berputar 180 derajat.  Jadi melautnya mundur…

Semakin ke tengah, laut semakin dalam tentu saja.  Perahu sudah melaut dengan normal kembali.  Ombak hampir tidak ada, membuat kantuk kami semua tak tertahankan lagi, para penumpang bergeletakan sekenanya di atas tikar.  Dari balik kelopak mata yang semakin menurun menahan kantuk, saya masih sempat melihat Tanjung Menangis yang merupakan salahsatu lokasi legenda Sumbawa.

Cerita tradisional Sumbawa “Tanjung Menangis”   merupakan cerita tentang seorang Sultan di Sumbawa yang menggelar sayembara  untuk menyembuhkan putrinya yang sakit akut. Sandro atau dukun dari berbagai  penjuru Tana Samawa berlomba, Eh, Sang Putri sembuh oleh sandro yang belakangan ditolak oleh si Sultan. Sang Sultan mangkir dari janjinya untuk  menikahkan putrinya dengan si penyembuh anaknya.

Pelabuhan Pulau Medang di Desa Bajo

Hampir 4 jam acara melaut dari Labuhan Mulut Kali ( Kec. Badas ) di pulau induk Sumbawa menuju Pulau Medang.  Yang pertama menarik perhatian adalah “kebun” rumput laut yang ditandai dengan bekas botol-botol air minum yang bertebaran di “halaman” laut sekitar pulau.  Sekilas tampak seperti sampah bertebaran.  Rupanya botol-botol bekas tersebut adalah berfungsi sebagai pelampung penanda “kebun” rumput laut yang ada di dasar laut dangkal.  Botol-botol itu terikat diatas tali tambang berpemberat.

Kira-kira jam 3 sore, perahu kami merapat di pelabuhan Desa Bugis untuk menurunkan penumpang beserta barang bawaanya masing-masing.   Saya celingukan mencari Mas Bahar tapi tidak menemukannya, mungkin dia tidak jadi pulang kampung, demikian pikir saya.  Di dermaga kayu Desa Bugis ini tampak beberapa penduduk yang rupanya datang untuk menjemput masing-masing kerabatnya.  Ada pula anak-anak yang sedang mandi-mandi bermain air di laut yang jernih, atau sedang bersampan-sampan ria menikmati sore yang cerah.

Dari dermaga Desa Bugis, perahu berlayar kembali menuju dermaga Desa Bajo.  Ahh..dan benar saja, Desa Bajo ini layak disebut sebagai “Surabaya”-nya Pulau Medang.   Rumah-rumah penduduk berderet cukup padat.  Kebanyakan masih berupa rumah panggung
bertiang tinggi.  Kolong rumah menjadi tempat terfavorit untuk ngadem disiang hari yang hampir selalu terik.  Tapi yang sudah rumah tembok tanpa kolong juga ada, seperti rumah Bapak Kepala Desa Bajo tempat saya menginap selama 2 malam ini.

Sebagaimana umumnya di pemukiman yang ada di sebuah pulau kecil, di Pulau Medang ini pun listrik  tidak menyala pada siang hari.   Sumber air untuk minum & MCK diperoleh dari air sumur, tapi hanya sumur-sumur tertentu saja yang airnya layak untuk dijadikan sebagai bahan pembuat air minum, yang lainnya berupa air payau yang hanya digunakan untuk MCK.  Ada beberapa tempat pemandian umum di Desa Bajo ini, terbuat dari tembok cukup tinggi tapi biasanya tanpa atap.  Beberapa diantaranya dibangun dengan bantuan dana Program PNPM Mandiri Perdesaan.

Jalan-jalan kecil alias gang terbuat dari tembok sudah dibangun melintasi kampung, tembus hingga ke Desa Bugis di bagian barat pulau.
Saya sempat tersesat di gang-gang ini sewaktu mencoba berjalan-jalan sendiri menelusuri kampung hingga ke pantai timur yang jaraknya bersebrangan dengan dermaga.  Pantai timur ini lebih landai dan lautnya pun jauh lebih teduh.  Disekitar pantai hampir tidak ada rumah, hanya saung-saung kecil tempat nelayan-nelayan menyimpan peralatan melautnya.

Saya ke sini setiap pagi untuk mengejar “sunrise”.  Tapi sayangnya, pantai ini juga biasa dijadikan orang kampung sebagai WC umum , terutama di pagi hari.  Yahhh….agak-agak tidak enak juga saya kepada orang-orang kampung yang akan buang hajat tapi terganggu oleh saya yang asyik foto sana foto sini :-p

Sunrise di pantai timur Pulau Medang

Kegiatan wisata, rupanya sama sekali bukan prioritas warga pulau ini.  Tidak ada satupun sarana wisata, seperti penginapan dan restoran.   Warung makan hanya ada satu saja, itupun sebatas nasi uduk untuk sarapan.  Warung-warung jajanan sihh banyak, begitupun toko-toko penyedia peralatan dasar rumah tangga.

Malam hari menjadi bagian hari yang disibukkan dengan : men-charge HP, MP3 player, laptop, memompa air, membuat es batu, menyetel vcd/dvd player, radio dan menonton sinetron di televisi.  Karena seperti halnya di pulau-pulau kecil pada umumnya, lisstrik hanya menyala pada malam hari.

Malam ini, di rumah Bapak Kepala Desa Bajo ada banyak kegiatan untuk menyambut acara Sabtu besok.  Saya pun turut membantu sebisanya.
Begitupun pagi esoknya.  Ibu-ibu mulai berkumpul di pekarangan belakang rumah Bu Kades, yang dijadikan sebagai dapur umum.  Menunya tentu saja sea food, yang paling saya nantikan adalah ikan bakar bumbu sepat.  Saya sudah tak sabar untuk ikut belajar membuatnya dan tentu saja mencicipinya.  Ada banyak sekali ikan yang dibakar, harumnya memenuhi seantero kampung.

Bu Kades dkk yang sedang menikmati ikan bakar bumbu sepat yang asam sepat segar

Ikan bakar bumbu sepat merupakan olahan ikan yang dibakar kemudian diberi kuah bercita rasa pedas, asam dan sedikit sepet. Ciri khas dari kuah sepat adalah membakar semua bumbunya yang terdiri dari kemiri, cabe rawit, bawang, dan terung.  Bahan khas lainnya adalah daun aru yang berbentuk kecil-kecil dan rasanya sepat.  Rasa asam bisa diperoleh dengan menambahkan asam sumbawa dan jeruk nipis yang kasar, atau bisa menggunakan cacahan mangga mengkal dan daging jambu mete.  Setelah semua bumbu dibakar kemudian dihaluskan dan diberi air, ikan yang sudah dibakar dicampurkan dalam kuah. Rasa asam dan pedas yang kuat menggoyang lidah.   Hmmm….. segar sekali.  Tamu-tamu
dari Dinas Kesehatan Kecamatan Badas penyelenggara event ini , sangat antusias menghabiskan semua hidangan makan siang yang lezat ini.

Para pengantin sunat di acara khitanan massal (Pulau Medang)

Saya bersyukur sekali karena diberi kesempatan menyaksikan ritual budaya keagamaan berupa khitanan ini.  Para anak lelaki yang menjadi pengantin khitan ini didandani kostum ala padang pasir Arab Saudi.  Nuansa Islami memang terasa sangat kental.  Acara diawali dengan pengajian oleh bapak-bapak, dilanjutkan dengan pemberian “amplop”.  Setiap orang yang memberikan amplop, harus mengoleskan “pacar” arab ke telapak tangan para pengantin khitan.  Acara kemudian dilanjutkan dengan makan bersama.  Malamnya ada hiburan dangdut di halaman bale desa.  Orang-orang sini menyebutnya hiburan “Electon” sesuai merek alat musik organ yang mengiringi lagu-lagu dangdut.  Kalau di tanah Jawa biasanya disebut sebagai hiburan organ tunggal.

Saya penasaran dengan pemandangan bawah laut di sekitar Pulau Medang ini.  Untunglah ada Mas Bahar (yang ternyata berangkat dengan perahu yang kedua) yang mau menemani saya keliling pulau hingga ke bagian terbarat dan snorkling di sekitar pulau.  Tidak ada orang selain saya yang bermain di laut sore itu, orang sini mungkin sudah bosan dengan laut.  Pemandangan bawah lautnya tidak terlalu menarik.  Mungkin karena berada di spot yang kurang tepat.  Masyarakat Pulau Medang ini memang belum menggarap potensi wisata bahari yang mereka miliki,
hampir setiap orang yang saya tanyai tidak paham dimana spot snorkling terbaik di sini.  Sayang sekali…:(

Esok hari saya sudah akan meninggalkan Pulau Medang ini, saya akan ke Pulau Moyo.  Rencananya saya akan ikut menumpang di perahunya Pak H. Syukur yang biasa pulang pergi dari dan ke Pulau Moyo untuk berdagang.

Bersambung………………..

==================================================================================================

Comments
  1. hhhmmm jangan-jangan kalau kamu menjelajah spot diving/snorkeling di tepian pantai kamu bisa bertemu ikan-ikan artifisial hasil keluaran manusia..

    lanjut baca chapter 4 >

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s