Pulau Moyo sang Primadona Sumbawa

Posted: June 6, 2011 in Bali-Lombok-Sumbawa
Tags: , , ,

Check Point (4) Pengembaraan Sumbawa – Sumba

Saya meninggalkan Pulau Medang menuju Pulau Moyo.  Saya beruntung bisa “nebeng” perahunya Pak Haji Syukur yang sehari-harinya
berdagang keliling kampung di Pulau Moyo.  Perahunya Pak Haji ini kecil saja, penumpangnya ada Bu Haji, Harun anaknya Bapak & Ibu Haji, dan saya, sang penumpang tak diundang.  Sang kapten tentu saja Bapak Haji.

Cuaca pagi ini cerah sekali seperti kemarin-kemarin.  Ombak laut pagi ini lumayan mengguncang perahu kecil ini.  Tidak banyak percakapan diantara kami karena suara kami tenggelam oleh mesin perahu.  Kira-kira 1 jam kemudian kami sampai di dermaga Kampung Labuan Aji yang
sepi.  Labuan Aji ini merupakan kampung yang berada di bagian barat Pulau Moyo.  Kampung-kampung lainnya ada di bagian timur.  Di bagian timur sana, katanya lebih ramai, tapi jaraknya lumayan jauh.  Jika ditempuh melalui jalur darat memotong pulau, memakan waktu kira-kira 3 jam menggunakan sepeda motor.  Jalannya berupa jalan tanah, menembus hutan lindung dan kebun jambu mete.

Ya, banyak sekali perkebunan jambu mete disini, bisa dikatakan sebagai komoditi andalan warga sini.  Musim ini, katanya panennya tidak terlalu baik, karena curah hujan terlalu tinggi, hingga banyak mete yang membusuk.  Demikian keterangan dari Bapak Haji Syukri, penduduk setempat yang bersedia menampung saya di rumahnya.  Kristina, anak perempuan Pak H. Syukri merelakan berbagi kasur dengan saya.

Air Terjun Mata Jitu di tengah hutan Pulau Moyo

Wisatawan yang datang ke Pulau Moyo ini biasanya datang dari arah Pantai Ai Bari yang berjarak kira-kira perjalanan 10-20 menit kearah utara Sumbawa Besar.  Mobil angkutan pedesaaan tujuan Ai Bari ini, biasanya ngetem di belakang pasar Sumbawa Besar, paling telat jam 12 siang.  Dari pantai Ai Bari, perjalanan dilanjutkan dengan menyebrang menggunakan speedboat kira-kira 15 menit.

Sewaktu di Sumbawa Besar saya bertanya-tanya tentang Pulau Moyo, seringkali orang yang ditanya balik bertanya “Moyo Hilir atau Moyo Hulu ??? “ .  Nahh…ternyata ada yang namanya Desa Moyo Hilir dan Desa Moyo Hulu, letaknya bukan di Pulau Moyo tapi masih di daratan
Sumbawa Besar.

Salah satu tujuan wisata di Pulau Moyo ini adalah Air Terjun Matajitu, jaraknya kira-kira 4 km dari Dermaga Labuan Aji, bisa ditempuh dengan berjalan kaki, atau memakai sepeda motor atau mobil 4-wheel-drive.  Kendaraan yang terakhir disebut biasanya dipakai oleh tamu-tamu dari Amanwana Resort, suatu resort bintang 5 yang super mewah di pulau ini.  Area yang boleh dikunjungi wisatawan selain tamu-tamu dari resort tersebut (terutama wisatawan lokal) terbatas hanya sampai air terjun terdekat, tidak boleh hingga ke hulu aliran sungai Matajitu, karena biasanya pengunjung lokal tidak disiplin dalam hal membuang sampah.  Pembatasan ini sudah merupakan kesepakatan antara penduduk lokal Pulau Moyo dengan pengelola Amanwana Resort.

Sekali lagi saya beruntung, karena bisa mencapai bagian hulu Sungai Matajitu yang airnya super jernih berwarna kehijauan.  Itupun karena menurut Pak Ismail yang mengantar saya, musim ini tidak terlalu banyak turis asing yang datang.  Tapi, kami juga tidak bisa berlama-lama
disini, tidak tenang rasanya, seperti numpang mandi di kamar mandi milik tetangga kaya, tanpa permisi dulu.

Air terjun lain yang biasa dipakai orang lokal untuk berekreasi adalah air terjun Brang Rea.  Letaknya tidak jauh dari dermaga Labuan Aji.
Disini ada permainan asyik yaitu atraksi bergelantungan di ujung tambang besar yang diikatkan ke cabang pohon besar diatas air terjun, lalu menceburkan diri seiring curahan air terjun.

Air terjun Brang Rea

Sumber air tawar di Pulau Moyo ini cukup melimpah, karena hutan-hutannya masih terawat, belum tergunduli keserakahan manusia.  Sumur di dekat dermaga saja, rasanya masih setawar yang dibagian tengah pulau.  Selain biji mete, penduduk juga biasanya menjual madu hutan, hasil
perburuan di dalam hutan lindung.  Pada musim-musim tertentu, penduduk biasanya berburu telur burung bertong yang ukurannya lebih besar dari burung itu sendiri.  Anehnya walaupun dikelilingi lautan, tapi penduduk yang bermata pencaharian sebagai nelayan tidaklah banyak, tidak seperti di tetangganya, Pulau Medang.  Jadi di Pulau Moyo ini, ikan laut lebih mahal dan susah dicari, biasanya diperdagangkan oleh penduduk Pulau Medang, seperti oleh Pak Haji Syukur yang perahunya saya tumpangi kemarin pagi.

Di Pulau Moyo ternyata terdapat pondok wisata milik Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).   Tapi kondisinya kurang terawat dan kosong melompong.  Letaknya tidak jauh dari Dermaga Labuan Aji, ditepi pantai menghadap matahari terbenam.

Atraksi utama Pulau Moyo tentu saja wisata bawah lautnya.  Saya dengan bermodalkan 7 liter bensin, dengan bantuan Pak Ismail dan Pak Syukri, berhasil meminjam perahu ketinting kecil untuk dipakai menyebrang ke Pulau Gosong yang saat itu terlihat samar-samar putih berkilauan di kejauhan.  Kalau laut sedang pasang, pulau ini tenggelam.   Saya dan Pak Ismail mulai melaut di siang hari yang terik ini.  Perahu kecil ini terangguk-angguk menerjang riak gelombang.   Satu jam kemudian kami sampai dipulau Gosong karang, yang merupakan
timbunan coral-coral yang telah mati.

Snorklingan di gosong karang sekitar Pulau Moyo

Pemandangan bawah lautnya memang jauh lebih mempesona dibandingkan dengan di Pulau Medang.  Saya sibuk snorkling ke sana ke mari di sekitar pulau.  Pak Slamet juga akhirnya terjun ke laut menemani saya, menjadi foto model bawah laut, bersaing dengan ikan-ikan dan terumbu karang yang cantik-cantik.  Apalagi kalau diving yaa…. pasti keindahannya tak terperikan .

Sore hari, saya ikut nimbrung bersama wanita-wanita kampung Labuan Aji bermain bola volley.  Awalnya tidak ada yang memperhatikan pendatang kecil seperti saya, tapi ketika saya berbicara , akhirnya ketahuan kalau saya adalah pendatang asing di kampung mereka.  Tapi mereka tetap ramah dan membaur tanpa membeda-bedakan, mungkin disangkanya saya adalah kerabatanya Pak Syukri karena saya datang bersama Kristina.  Obrol punya obrol, ternyata besok ada perahu yang akan menyebrang ke Badas (Sumbawa) karena banyak penduduk pulau yang akan berbelanja ke pasar Sumbawa Besar untuk persiapan Hari Raya Idul Adha lusa.  Jadi keesokan harinya, jam 7 pagi saya sudah duduk manis diatas perahu kayu berbekal goreng pisang hangat buatan Bu Syukri.

Rencananya, dari Sumbawa Besar nanti, saya akan menuju Kota Dompu.

Bersambung……………..

==============================

Comments
  1. membaca tulisan-tulisanmu seperti sedang membaca buku harian mahasiswa KKN… banyak pengalaman bersentuhan dengan warga

    • dians999 says:

      daku sukanya begitu memang klo lagi ngebolang…, mending ngobrol ama mamang perahu daripada ngerumpi ama temen segerombolan…hihii…
      jadi suka diprotes temen segerombolan klo lagi travelling rame-rame :-p

  2. Mydaypack says:

    selalu punya keinginan suatu hari nanti mau ke sumbawa, amiiiin

    http://www.mydaypack.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s