Calabai : Gerbangnya Tambora dan Satonda

Posted: June 6, 2011 in Bali-Lombok-Sumbawa
Tags: , , ,

Check Pint (5) Pengembaraan Sumbawa Sumba

 

Selepas Pulau Moyo, saya melanjutkan perjalanan ke Kota Dompu, di belahan timur Sumbawa.  Bis kecil jurusan Sumbawa – Dompu yang saya tumpangi sudah sarat muatan, bahkan hingga ke atapnya.  Padahal hari ini, seperti juga hari-hari lainnya di Sumbawa, terasa begitu terik.  Saya tidak tahu bagaimana mereka bisa tahan duduk berjam-jam lamanya di atap bus seperti itu.  Mungkin kalau dianggap wajar, penumpang manusia juga akan diikat rekat-rekat di bagian belakang bus, seperti halnya sepeda motor yang terikat erat dibelakang sana itu.

Bis trayek Sumbawa Besar ke Dompu, penuh sampai ke atap di samping dan di belakang

Dan seperti biasa, speaker tua yang sudah serombeng bisnya menguarkan nyanyian dangdut koplo memekakan kuping.  Lama-lama kuping saya bisa jadi serombeng speaker dan bis ini juga….

Jarak 155 km Sumbawa Besar – Dompu ditempuh selama hampir 10 jam,  bis rombeng ini seharusnya memang sudah dicemplungkan ke Laut Flores, dijadikan rumpon untuk bertenggernya annemon-annemon cantik, rumah para clown fish yang lucu-lucu.
Saya hanya semalam saja di Kota Dompu, menumpang di rumah seorang kawan.   Ternyata kota ini berhawa sejuk.   Pagi-pagi sekali saya sudah berada di Terminal Ginte (Kota Dompu), saya harus mengejar bis yang akan ke Calabai yang katanya cuma ada 2 kali sehari saja.

Calabai adalah sebuah kecamatan di Wilayah Kabupaten Dompu.  Di sana ada tujuan para pelancong, petualang, ahli konservasi dan arkeolog, yaitu Gunung Tambora (dengan kerajaan Tamboranya yang sudah musnah ketika gunung tersebut meletus) dan Pulau Satonda (yang konon kabarnya juga adalah gunung api ditengah laut yang juga sudah meletus, kawahnya sekarang membentuk danau ditengah pulau).

Jalur Dompu – Calabai sejauh 100 km lebih, kondisinya juga sangat buruk.  Tapi karena bersisian dengan laut, maka cenderung lurus, jadi tidak se-exstrim jalur Sumbawa-Tepal.  Hanya diawal-awal perjalanan saja yang masih naik turun bukit.  Hampir 7 jam waktu tempuh yang dibutuhkan untuk mencapai Desa Kedindi, salah satu desa di Kecamatan Calabai yang merupakan perhentian akhir dari bis ini.

Seperti halnya bis jurusan Sumbawa Besar – Dompu, bis jurusan Dompu – Calabai ini pun hobby menaikan penumpang manusia dan
barang yang berlebihan.  Atap bis, penuh dengan rupa-rupa barang dan manusia.

Trayek ini memiliki tempat perhentian untuk beristirahat dan makan, yang cukup sejuk.  Nama daerahnya adalah Pantai Hodo.
Tepat ditepi Pantai Hodo ini ada mata air tawar yang jernih dan sejuk.  Tempatnya juga rindang dengan pepohonan, jadi
cukup menyejukan bagi penumpang-penumpang yang sudah kepanasan dan kelelahan.  Warung-warung makannya menawarkan menu
standard.  Sayangnya tak ada minuman dingin yang sangat diidamkan kami-kami yang kepanasan di bis, karena memang di sini tidak ada listrik.  Salah satu warung makan itu rupanya sedang membuat sambal goreng, asapnya yang memerihkan mata dan membikin batuk menyerang seisi bis yang saat itu baru akan beranjak.  Alhasil kami semua penumpang batuk bersahutan dan berurai air mata karenanya.  Pak supir yang menyadari hal ini, tertawa terkikik-kikik tiada henti sepanjang sisa perjalanan, padahal sejak berangkat dari Dompu tadi kerjanya cuma bersungut-sungut sambil cemberut.

Selepas Pantai Hodo, laut selalu menemani di sebelah kiri kami, dan Gunung Tambora setia di sebelah kanan kami.  Diantara kami dengan laut dan G Tambora, ada padang savana dengan pohon-pohon perdunya dan tentu saja kuda Sumbawa.  Pemandangan ini begitu mengagumkan, sehingga saya hampir-hampir tidak menyadari buruknya kondisi jalan yang kami lalui.  Debu jalanan beterbangan di ekor bis yang berlari melonjak-lonjak menerjang lubang jalan seperti kuda liar kegelian.  Tidak ada perkampungan penduduk, sejauh mata memandang hanya laut, savana, dan Gunung Tambora.

Sore hari, bis tiba di Desa Kedindi Atas (Kec. Calabai) dari sana saya ngojek ke Desa Pancasila, pintu gerbang pendakian Gunung Tambora.  Tapi, menurut Pak Saeful ( Ketua Perhimpunan Guide Gunung Tambora), saat ini musim sepi, hampir tidak ada pendaki yang menyambangi Tambora.  Tadinya saya berniat untuk bergabung dengan kelompok pendaki lain, jika ada. Menurut Pak Saeful lagi, musim hujan seperti sekarang ini, memang biasanya sepi pendaki karena jalurnya juga semakin sulit.  Jadi saya harus berpuas diri hanya sampai di “kelingking” kaki Gunung Tambora.

Gunung Tambora di sebrang padang savana

Pagi-pagi di Desa Kedindi, ternyata ada pasar  pagi yang cukup ramai dan menarik untuk dikunjungi.  Kebanyakan penduduk di desa ini, katanya adalah pendatang dari Mataram (Lombok).  Makanya tidaklah mengherankan kalau ternyata ada kendaraan bis Mataram-Calabai yang berangkat 1 kali sehari setiap jam 7 pagi.

Tempat lain yang ingin saya kunjungi di Calabai ini adalah Pulau Satonda.  Bang Jul, yang biasanya menjadi guide pendakian Gunung Tambora, kali ini berbaik hati menjadi guide saya berkelana di Calabai.   Memperkenalkan saya pada Pak Kades Desa Nangamiru, desa terdekat ke Pulau Satonda.  Saudaranya Pak Kades Nangamiru ini ternyata adalah Petugas Penjaga Daerah Wisata Pulau Satonda, namanya Pak Abdurahman.  Beliau sangat ramah dan baik hati, bersedia menampung saya dan mengantarkan saya ke Pulau Satonda, bahkan menunggui dengan sabar ketika saya asyik bersnorkling di pantai Pulau Satonda.

snorkling di bawah dermaga Pulau Satonda

Penuh dengan terumbu karang sehat dan ikan warna warni

Bersnorkling di Pantai Pulau Satonda ini memang sangat mengasyikan.  Tidak kalah dengan kondisi di Pulau Moyo.  Soft coral dan ikan warna-warni membuat saya betah berlama-lama wara-wiri bersnorkling ditemani Bang Hasan, salah satu saudara Bapak Abdurahman yang ikut dengan saya ke Pulau Satonda.  Katanya sudah lama dia tidak bermain di laut.  Dari obrolan dengan beberapa warga , baik di Desa Nangamiru maupun Desa Kedindi, ternyata warga sini memang belum mengerti potensi apa yang bisa diberikan oleh keelokan alam bawah laut yang ada di “belakang rumah”-nya ini.   Bahkan anak gadisnya Pak Abdurahman belum pernah menginjakan kaki di Pulau Satonda !!!

Ternyata, bagi warga sini, berkunjung ke Pulau Satonda kalah menarik, jika dibandingkan dengan bertandang ke Bendungan.  Yang disebut bendungan adalah dam atau bendungan dari tembok yang dibuat untuk menampung air dari mata air jernih, untuk kemudian diatur distribusinya ke pesawahan dan ke areal perumahan warga.  Memang sangat segar mandi-mandi dan berenang di mata air ini.  Banyak sekali warga yang berwisata.  Pedagang-pedagang dadakan selalu memadati areal ini di akhir minggu seperti sekarang.

Calabai memang memiliki potensi wisata yang luar biasa, yang sudah luar biasa terisolasi pula oleh buruknya sarana jalan.

Bersambung……………

============================

Comments
  1. oohhh pulau satonda itu bukan kadar garamnya tinggi sekali yah hehhehhe saya kira tidak ada kehidupan di dalamnya hehhe

    • funedutour4u says:

      itu snorklingannya di lautnya om, deket dermaga.
      kalau di danau nya ada juga sihhh ikannya, tapi kecil keciiilll..
      hehehee…….

  2. dians999 says:

    11-20 OKT 2013, ke Raja Ampat yuwwkksss..
    *_*

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s