Kodi – The wild wild west of Sumba

Posted: June 14, 2011 in NTT
Tags: , , , , , , , ,

Check Point 7 : Pengembaraan Sumbawa – Sumba

Tak saya sangka, ternyata berlayar dari Sumbawa (Sape) ke Sumba (Waikelo) memerlukan waktu semalaman.  Ongkosnya Rp. 38.500 , untuk kelas VIP-AC harus menambah Rp.15.000 lagi.   Jam 8 malam kami berlayar mengarungi Selat Sumba, dan merapat jam 6 pagi di dermaga Waikelo (Kab. Sumba Barat Daya).  Untung saja malam ini ada kapal , katanya jadwalnya tidak tentu.

Dari kota pelabuhan Waikelo, saya ngojek (Rp.10.000) ke Waitabula yang merupakan ibukota Kabupaten Sumba Barat Daya.  Di sini terdapat Bandar Udara Tambolaka.  Ada Batavia Air dan Sriwijaya Air yang mampir ke sini.  Tambolaka menjadi terkenal, karena peristiwa mendaratnya pesawat Adam Air yang salah navigasi,  kesalahan pilot dan pengatur lalulintas penerbangan yang kurang cermat memantau rute penerbangan .

Saya ke Sumba Barat Daya ini karena ingin bertualang ke desa-desa tradisionalnya.  Tujuan pertama saya adalah Kampung Pero di Kecamatan Kodi.  Dari Kota Waitabula, angkutan umum (elf dan bis kecil) jurusan Bondokodi (ibukota Kecamatan Kodi) terbilang banyak serta murah (Rp. 8000, 2 jam).  Suasana tradisional memang sudah terasa  disepanjang jalan, bangunan-bangunan rumah tradisional yang masih beratap daun rumbia/alang-alang banyak terlihat disana sini, lengkap dengan kudanya yang sedang merumput.  Dihalaman depannya selalu terdapat suatu bangunan segiempat terbuat dari tembok, kadang berukuran kecil kadang besar.  Tadinya saya pikir itu adalah tempat sampah, tapi ternyata saya salah besar.  Setelah mengunjungi kampung-kampung tradisionalnya, barulah saya tahu bahwa bangunan tersebut adalah kuburan !!!

Bangunan tembok segi empat di sebelah kiri itu adalah kuburan model baru, pada zaman dulu dibuat dari batu besar yang dipahat / dilubangi dan ditutup batu lainnya lagi

Untuk dapat menjelajahi kampung-kampung tradisional di sekitar Kodi ini, saya memilih Desa Pero sebagai “homebase” karena lokasinya
dekat dengan kampung-kampung yang ingin saya tuju, dan kampung ini adalah satu-satunya kampung muslim di Kecamatan Kodi serta memiliki satu-satunya homestay/penginapan di Kecamatan Kodi.

Letak Kampung Pero ini persis di tepi Samudra Hindia yang menggelora.  Pantainya yang berpasir putih membentang tiada ujung.  Penduduk
kampung kebanyakan berprofesi sebagai nelayan.  Mayoritas dari mereka adalah pendatang dari Ende (Flores) dan beragama Islam.   Bentuk rumah-rumah yang ada disini umum dan beratap seng berbeda dengan “rumah-rumah tradisional Sumba”.  Bentuk kuburan juga seperti kuburan-kuburan muslim lainnya.

Permainan sore hari anak-anak di Desa Pero

Homestay Story merupakan satu-satunya penginapan yang ada di kampung ini juga milik seorang muslim, Bapak Mega demikian panggilannya, disesuaikan dengan nama anak tertuanya, Mega.  Pada musim upacara adat Perang Pasola di bulan Februari-Maret, penginapan sederhana ini penuh dengan turis asing, kebanyakan dari Jepang, Eropa dan Amerika, seperti dapat dibaca pada buku tamunya.  Turis lokalnya hanya beberapa saja.  Pada musim sepi turis seperti sekarang, penginapan ini kosong melompong.  Sewa kamarnya Rp. 125rb per kamar per malam, sudah termasuk sarapan, makan siang, dan makan malam.

Saya beruntung karena Bapak Mega juga bersedia menjadi guide, mengantar-antar saya mengunjungi kampung-kampung adat yang tersebar di area Kodi ini, seperti Kampung Tosi, Kampung Ratenggaro, Paronbaroro, dan kampung-kampung kecil lainnya yang ada di rute perjalanan kami.  Setiap akan ke suatu kampung, saya tidak lupa membawa sirih pinang yang sepaketnya cuma seharga Rp.1000 , sebagai oleh-oleh
bagi penduduk setempat yang saya kunjungi rumahnya – terutama bagi ibu-ibunya, sedangkan rokok murah meriah saya bawa bagi kaum laki-lakinya, dan tak lupa permen, makanan kecil, pinsil untuk anak-anak.

Mereka semua sangat ramah dan bersahaja.  Bercerita tentang kehidupan sehari-hari, tentang malaria yang sudah menjadi penyakit tetap di daerah ini, tentang kebakaran yang telah menghanguskan hampir 5 rumah, dan tentang anak-anak mereka yang kebanyakan hanya tamat SD.  Juga tentang tata cara “penguburan jenazah” yang sangat unik.  Dan tak lupa pula tentang tata cara adat perkawinan dan kelahiran.

Pasar Kodi

Kuburan batu di Desa Ratenggaro

Di Sumba sendiri, wilayah Kodi ini terkenal sebagai wilayah “keras”, bahkan salah satu situs travelling asing yang cukup terkenal menyebutnya
sebagai “The wild-wild west of Sumba” dan ada “travel warning” untuk wilayah ini.  Bapak Mega bahkan menyebutkan bahwa semua isi penjara yang ada di Sumba ini, pastilah orang Kodi.  Mungkin Bapak Mega ini, walaupun sudah menetap hampir 16 tahun di Kodi tapi masih merasa sebagai “orang luar”  dan pendatang dari Ende.

Kuburan Raja Tosi (terbuat dari tembokan)

Saya sebagai pelintas yang cuma sempat singgah selama 2 hari 1 malam di sini, hanya merasakan keramahan dari seluruh penduduk.  Setiap anak-anak kecil yang kebetulan melihat saya atau berpapasan dengan saya selalu menyapa “Haloooo….” sambil tersenyum lebar dan mata yang berbinar-binar penuh keinginan tahuan yang polos.  Demikian juga halnya dengan orang-orang dewasanya.   Yahh…tapi, saya juga sempat “mencicipi” ke-wild-wild west-an Kodi ini di hari terakhir kunjungan saya.  Saya kehilangan dompet berisi sedikit uang dan KTP yang sangat penting untuk check-in pesawat pulang.  Cukup repot juga saya mengurus surat keterangan kehilangan di Kantor Kepolisian di Kota Waikabubak , kota tujuan saya berikutnya setelah Kodi.

===================================================================================

Cerita mengenai adat Sumba, dapat dibaca di : http://www.indonesiaphoto.com/facts/life/item/207-the-monumental-stone-tombs-of-sumba

Comments
  1. kubinkefir says:

    Mba Dian boleh info dong,

    Kebetulan tanggal 19-22 mei 2016 nanti saya akan ke Sumba barat daya karena ada pekerjaan, tapi akan lanjut ke labuan bajo menggunakan jalur laut yang ternyata adanya jadwal pada tanggal 24 Mei dengan jalur Waikelo – sape – Labuan bajo.

    Untuk nginep di sekitaran waikelo dimana ya? penginapan yang low budget.
    (sukur-sukur dapet gratis hehehe).
    krn harus menunggu penyembrangan ke sape pada tanggal 24 Mei 2016. rencana menginap dari tanggal 22 Mei 2016.

    Terima kasih Mba Dian

    • dians999 says:

      Halo Mas/Mba #kubinkefir🙂
      Makasih dah mampir ke blog ini🙂

      Tapi saya main2 ke Sumba nya dah lama banget, thn 2010, jadi infonya dah ngga update.

      Tapi tadi saya tanya temen yg baru abis dari sono, katanya klo di Waikelo ngga ada penginepan, adanya di Waitabula , deeket pom bensin ada , trus di pertigaan yang mau ke Kodi juga ada Hotel Melati.

      Coba di add or inbox Kak Simon Nany (FB) atau Kak Andi Patarai (FB) mereka ini dari Sumba Adventure Club, jadi khatam all about Sumba🙂

      Saya juga lagi nanya mereka sihh…, tp lom ada jawab…, ntar klo dah dapat infonya , beta kabari ya Kaka..🙂

    • dians999 says:

      Baru dapet info dari Kak Simon Nany :
      “di skitar Waitabula -Tambolaka.. dan ada semacam homestay, Rumah Budaya SUmba.. tarif skitar 250-350/malam.. skalian bisa liat koleksi benda2 budaya sumba..”

      Kayanya asyik tuhh tempatnya….🙂

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s