Malaikat Kecil dari Kampung Tarung

Posted: September 9, 2011 in NTT
Tags: , , , , , , ,

Check Point 8 : Pengembaraan Sumbawa – Sumba

 

Selepas menapaki desa-desa tradisional di Sumba Barat Daya, saya melanjutkan perjalanan ke Sumba Barat.  Bis kecil berhidung angkuh membawa saya dari Kota Waitabula ke Kota Waikabubak, ibukota Kabupaten Sumba Barat.

Rupanya, saya pun harus merasakan ke-“wild wild west”-an Kodi, atau mungkin karena terkena faktor “apes” hari itu.  Sewaktu akan registrasi dan membayar sewa kamar di Kota Waikabubak, baru disadari bahwa saya telah kehilangan dompet berisi KTP dan uang untuk keperluan hari itu.  Saya teringat kepada anak muda yang duduknya mepet-mepet di bis tadi, dia turun sesaat sebelum bis meninggalkan Pasar Waitabula, mungkin dia biang keladi kesusahan ini.   Akibatnya, mau tak mau harus mengurus surat kehilangan di Kantor Kepolisian setempat, karena akan dibutuhkan saat chek-in pesawat di bandara pada saat pulang nanti.

Tak berlama-lama mengijinkan diri untuk bermurung-murung akibat kesusahan ini, saya harus segera menyesuaikan dengan kondisi yang ada, menata ulang rencana perjalanan yang ada dikepala.  Tapi lagi-lagi, hujan teramat lebat kembali membatalkan rencana sore itu.  Yah tak apa lah, setidaknya, hujan lebat telah mengenalkan saya kepada Kang Dedy, penjual roti bakar asal Cimahi – Bandung yang mangkal di depan penginapan Aloha.

Kodi mungkin memperkenalkan saya pada “The Demon for Traveller”, si pencopet dompet, tapi Kampung Tarung dai Kota Waikabubak mempertemukan saya pada “The Cute Angle”, malaikat-malaikat kecil dengan senyum memikat dan kebaikan hati yang polos.  Mereka adalah sekelompok anak kecil yang menemani saya berkeliling kampung, sambil berbagi kwaci, makanan kecil dari biji bunga matahari yang saya beli di Desa Kedindi (Sumbawa), sebuah desa terpencil di seberang lautan.

Malaikat kecil dari Kampung Tarung

Kampung Tarung merupakan salah satu dari 3 kampung adat yang ada di Kota Waikabubak, yang lainnya lainnya adalah Kampung Bodo Ede dan Kampung Praikalembong.  Lokasi kampung-kampung ini benar-benar berada di tengah kota, di belakang pasar – dekat terminal.  Uniknya, meskipun berada di jantung kota, tapi adat istiadat nya masih terpelihara dengan baik, walaupun memang sudah banyak pengaruh kehidupan “modern” yang diadopsi, misalnya listrik dan antena parabola.

Parabola vs rumah adat Kampung Tarung

Bapak M.S. Nonosairo dari Kampung Praikalembong yang baik hati, bercerita banyak tentang adat perkawinan, adat mendirikan rumah, dan adat kematian, termasuk cara merekatkan batu kubur penutup supaya bau pembusukan mayat yang berlangsung didalamnya tidak menguar keluar.  Ternyata, adukan tai kebo lah yang dipakai sebagai bahan perekat tersebut.  Kuburan batu merupakan salah satu peninggalan Agama Marapu yang merupakan agama nenek moyang Sumba. Cara pemakaman nya juga unik, mayat pantang bersentuhan dengan tanah, makanya dibuatkan kuburan-kuburan dari batu yang biasanya berbentuk segiempat, dan beratnya bisa berton-ton itu.  Kini, agama Marapu telah tergantikan dengan agama Kristiani.

Seperti halnya di Kodi, tradisi mengunyah sirih pinang juga masih biasa dilakukan di kampung-kampung sekitar Waikabubak.  Seperti Bapak M.S. Nonosairo ini, beliau tampak terharu ketika saya menyodorkan oleh-oleh berupa sirih pinang yang saya beli di emperan pasar.   Adab menerima tamu di Sumba ini, menurut beliau adalah pertama-tama menyodorkan sirih pinang, kemudian setelah mengobrolkan segala hal yang perlu diperbincangkan, akan disodorkan air minum.  Tapi, karena saya ini orang “luar” , maka Pak Nonosairo tidak menawari saya sirih pinang.

Demikian juga halnya dengan Mamanya Angle, wanita muda energik dari Kampung Tarung, untunglah beliau tidak mengajari saya mengunyah sirih pinang, melainkan “hanya” mengajari tenunan khas Kampung Tarung dan makanan khasnya yang diberi nama rowe kariwa (beras jagung yang diracik dengan pucuk labu lilin dan buah labu lilin, lombok, serta kemangi) dan kadodo kanguida (campuran antara jagung, keladi, petatas dan ubi).

berasa di rumah sendiri

Mamanya Angle menyayangkan kedatangan saya yang “terlambat” 3 minggu, karena 3 minggu yang lalu di sini diadakan upacara adat besar Marapu yang pasti sangat unik.  Yahhh….sangat disayangkan memang, tapi saat itu saya masih sedang berkelana di seberang lautan sana, di Pulau Sumbawa.  Saya juga sudah harus pergi melanjutkan perjalanan kembali, menuju ke Sumba Timur, untuk bertemu dengan malaikat-malaikat kehidupan yang lainnya, dan mudah-mudahan tidak akan ada lagi “demon – demon” yang lainnya…..

———-0000000000000——–

Comments
  1. udin bintoro says:

    kampung tarung di waikabubak memang sangat khas dengan adat yang dimilikinya yang terletak dipusat kota sumba barat waikabubak,dan tempatnya itu di atas bukit,, sungguh menakjubkan sunset waktu sore dan kondisi rumah yang khas juga tentunya apabila kita dari jauh pasti kelelahan akan terbayar dengan keramahan hati dan kondisi dikamping tarung tersebut…..

    • funedutour4u says:

      setuju Mas Udin Bintoro :))
      aduh saya jadi berdosa karena kehilangan catetan alamat rumahnya Mama Angle di Waikabubak, padahal saya sudah janji mau kirim foto-foto mereka hikss..

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s