Tekad Warga Desa Kaliuda

Posted: September 13, 2011 in NTT
Tags: , , , , ,

Check Point 9:  Pengembaraan Sumbawa – Sumba

 

Ibu-ibu Desa Kaliuda memulai proyek pembuatan tenun ikat terpanjang (100 meter)

 

Perbedaan alam saya rasakan antara wilayah Sumba Tengah dan Sumba Timur.  Semakin memasuki wilayah Sumba Timur, pohon-pohon tinggi menjulang tidak lagi saya temui, digantikan oleh bukit-bukit padang rumput hijau yang diselingi pohon perdu.  Sinar matahari senja menyinari bukit-bukit padang rumput itu hingga berpendar cahaya kuning keemasan.  Saya termangu-mangu terpesona dari balik kaca jendela bis yang melaju meliuk-liuk naik turun bukit.

Saya tiba di Kota Waingapu malam hari dengan badan yang sudah teramat lelah.  Hotel Surabaya yang murah dan “agak sedikit mencurigakan” ( if you know what I mean… ^_^ ) terpaksa saya pilih untuk menekan biaya perjalanan, tohh…besok pagi-pagi saya sudah harus berangkat lagi ke tempat lain, ke Desa Kaliuda.

Desa Kaliuda telah menyedot perhatian saya karena dari beberapa website menyebutkan bahwa desa tersebut menghasilkan kain tenun asli berkualitas terbaik.  Jadi, subuh-subuh saya segera berkemas untuk mengejar bis paling pagi.  Perjalanan ditempuh dalam 2,5 jam melalui jalan aspal mulus dan lurus.  Area yang dilalui sepertinya adalah area padang rumput “kosong”.  Jauh disebelah kiri sana, tampak laut biru, laut Sawu yang terkenal berombak ganas.  Desa Kaliuda sendiri berada sejauh 2,5 km dari tepi pantai.

Jam 10:20, saya sudah sampai di jalan berdebu Desa Kaliuda.  Untungnya Bapak dan Ibu Kepala Desa Kaliuda bersedia menampung seorang “tukang jalan-jalan ga jelas” seperti saya di rumahnya yang ramai. Binatang peliharaan , seperti babi, ayam dan kambing hilir mudik di halaman, di dapur, bahkan hingga di ruang makan.  Menurut cerita Bapak Sekretaris Desa yang menemani saya mengobrol di saung samping rumah Bu Kades, katanya Bu Kades adalah masih keturunan langsung dari Raja Kaliuda.  Raja Kaliuda terakhir adalah termasuk orang terakhir disini yang berpindah agama dari Marapu ke Kristiani. Di tengah desa terdapat kuburan Sang Raja dan keluarganya, besar sekali dan megah, tapi sudah terbuat dari tembok, bukan lagi kuburan batu.

Kuburan Raja Kaliuda

Oh ..dan kali ini saya sungguh beruntung, karena besok akan diadakan upacara “tenunan perdana” dalam rangka pembuatan kain tenun terpanjang guna memecahkan rekor MURI yang sekarang di pegang desa tetangga, sepanjang 75 meter.  Warga Kaliuda dengan dana swadaya dan sedikit bantuan dari Pemda, bertekad untuk membuat kain tenun sepanjang 100 meter dan akan melibatkan kira-kira 50 orang penenun.

Disela-sela kesibukannya dalam rangka mempersiapkan acara besar itu, Ibu Kades masih bersedia juga direpotkan oleh saya yang minta diajari tentang tenun ikat Kaliuda.  Beliau tertawa terkekeh-kekeh ketika saya baru bisa menyelesaikan menggulung benang selama hampir 2,5 jam kemudian.

Bu Kades Kaliuda mengajari saya menggulung benang

Kegiatan menggulung benang, merupakan kegiatan paling awal dan paling sederhana dari serangkaian tahap pembuatan tenun ikat.  Selanjutnya adalah tahap membentangkan satu demi satu benang diantara 2 bilah kayu/bambu dengan cara tertentu. Satu ruas yang terdiri dari 6 helai benang (disebut dengan istilah 6 urat) nantinya akan diikat kuat-kuat menggunakan tali rapia untuk membentuk suatu motif tertentu.  Ikatan tali rapia itu dimaksudkan untuk melindungi benang dari pewarna yang tidak diinginkan pada saat pencelupan di dalam bahan pewarna.  Bahan pewarna yang digunakan seluruhnya adalah bahan pewarna alami, seperti daun nila untuk warna hitam dan biru, akar mengkudu (kombo) untuk pewarna merah, kunyit untuk warna kuning.  Pencelupan dalam pewarna dilakukan berkali-kali untuk menghasilkan warna yang terbaik.  Kain yang dihasilkan memang jadinya sangat istimewa.  Jadi tidak heran kalau harganya mahal, paling murah Rp 1 juta untuk kain lebar,  ada juga yang harganya mencapai Rp 15jt dan Rp30jt.

Hari H pun tiba.  Ibu -ibusudah duduk berderet di saung panjang beratap terpal biru yang dibangun di kebun samping rumah Pak Kades.  Jarak tempat duduk ibu yang satu dengan yang lainnya 0.8 m, masing-masing mengerjakan 1.2 meter kain tenun. Terik matahari yang seakan bertambah panasnya akibat terpal plastik, membuat ibu-ibu itu “misah-misuh” kegerahan, bedaknya luntur berleleran karena keringat.

Sekitar jam 10 pagi, rombongan dari Kantor Bupati Sumba Timur dan dari Kantor Dinas Budaya dan Pariwisata Sumba Timur akhirnya tiba.  50 orang ibu-ibu warga Kaliuda yang terpilih untuk menenun segera menempati “pos”nya masing-masing.  Setelah sambutan dan lain-lain, proses pembuatan “tenun ikat terpanjang” pun dimulailah.  Gulungan benang pertama diedarkan dalam batok kelapa (kaba), dari penenun pertama estafet terus hingga yang ke-50, begitu seterusnya hingga terbentang kain tenun sepanjang 100 meter (kira-kira 2 minggu kemudian, menurut informasi via telepon dari Ibu Kades).   Kain tenun ditargetkan selesai 1 tahun yang akan datang.

Baiklah Ibu-ibu penenun Desa Kaliuda, teruslah semangat untuk menyelesaikan pekerjaan besar ini.  Tapi maaf, saya harus pulang dulu [mumpung ada tebengan mobil ke Waingapu bersama rombongan Dinas Budaya & Pariwisata]….

—-00000O00000—-

Comments
  1. david says:

    Hello, nama saya David berasal dari Malaysia. Pembantu kami berasal dari sumba, waingamura. saya merancang untuk ke waingapu pada tahun hadapan. siapa yang saya boleh hubungi untuk supaya saya senang ke sana nanti? boleh rekomen kawan atau orang2 di sana (waingapu) yang anda kenal. Terima kasih. boleh email saya di dmagintan@gmail.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s