Desa Tepal – desa di atap Sumbawa

Posted: September 5, 2012 in Bali-Lombok-Sumbawa
Tags:

Catatan Pengembaraan Sumbawa – Sumba Check Point 2

Nepal sering disebut-sebut sebagai negri atap dunia, maka Desa Tepal ini saya sebut sebagai desa di atapnya Pulau Sumbawa. 

Dari Pantai Maluk yang  setenang kolam renang Senayan , saya kembali ke Kota Sumbawa Besar.  Harus bermalam 1 malam lagi di kota ini, sebelum besok pagi-pagi melanjutkan perjalanan ke Desa Tepal yang disebut-sebut sebagai desa yang masih memegang teguh budaya Samawa, budaya tradisional Sumbawa.

Desa Tepal merupakan penghasil kopi terbesar di Sumbawa.  Secara administratif termasuk dalam Kecamatan Batu Lante, terletak di puncak Gunung Batu Lanteh, puncak gunung  tertinggi di Pulau Sumbawa (1.730 MDPL). Gunung ini berdiri tegak di antara lima pegunungan lainnya yang berada di bagian tengah dan selatan pulau. Mengarah ke gunung ini terdapat sebuah sungai terbesar bernama Brang Beh yang juga mengalir menuju Teluk Lampui.

peta-lombok-DesaTepal

Perlu perjuangan yang sangat keras untu mencapai desa ini.  Dimulai dari mencari-cari tempat ngetem angkutan umum yang akan menuju kesana.  Informasi tentang hal ini masih sangat tidak jelas.  Katanya sampai suatu titik masih bisa pakai mobil, tapi ke sana nya harus ngojek , bahkan ada yang bilang harus naik kuda segala.  Berbekal informasi yang serba minim ini, pagi-pagi saya sudah naik ojek ke Terminal Lawang Gali, sebab katanya ada kendaraan ke Tepal dari situ.

Tapi ternyata tidak ada kendaraan ke Tepal, katanya saya harus ngojek dulu ke Sering, disitu biasanya ada hardtop yang ngetem menunggu penumpang pagi-pagi, tapi tidak setiap hari.  Sesampainya di daerah Sering, saya melihat beberapa penumpang sedang ngopi-ngopi di warung dan ada hardtop terparkir di situ.  Dari keterangan beberapa penumpang, mereka memang akan menuju Desa Tepal dsk, tapi…. rupanya hardtop itu adalah hardtop mogok.  Penumpang-penumpang tersebut juga tidak tahu apakah ada hardtop yang akan berangkat ke Tepal hari itu.

Wahhh… Saya semakin penasaran dengan keberadaan Desa di Puncak Gunung ini, apalagi setelah mendengarkan cerita-cerita dari penumpang-penumpang lain dan dari ibu warung tentang betapa sulitnya akses menuju ke sana.  Katanya sudah 3 hari ini akses jalan ke sana terputus, karena ada alat berat pengeruk jalan yang mogok melintang di jalanan.  Selain itu, curah hujan yang tinggi menyebabkan kendaraan hampir bisa dikatakan berenang di lumpur, dan banyak yang mogok.

Saat sedang asyik ngopi di warung sambil mendengarkan keluh kesah penduduk tentang jalan, tiba-tiba datang 1 hardtop yang ternyata akan menuju Desa Tepal.

Ahh…betapa leganya kami semua.  Satu per satu muatan barang yang kebanyakan adalah belanjaan warga, dimuat ke bagian belakang.  Backpack besar saya dinaikan ke atap, diikat erat-erat dengan tali tambang supaya tidak terlempar, lalu ditutup dengan plastik terpal untuk jaga-jaga bila hujan turun.

Setelah menjemput beberapa muatan barang yang dititipkan penduduk, sekitar jam 9:30 kami berangkat.  Saya duduk di depan, disamping supir, mungkin karena saya satu-satunya penumpang perempuan plus satu-satunya pelancong nekat yang ada disitu.

Pak Dedi, penumpang lainnya yang duduk di kabin supir, terheran-heran dengan saya yang melancong sendiri hingga jauh ke pelosok Tepal.  Pak Dedi ini rupanya adalah Pegawai Dinas PU yang ditugaskan untuk menangani alat berat yang rusak dan menghalangi jalan itu.  “Kalau tidak karena tugas, saya malas pergi ke Tepal, jalanannya bikin sengsara….  Buat apa Mbaknya pergi ke sana??  Di sana itu tidak ada apa-apa….” demikian katanya.

Pak sopir yang rumahnya di Dusun Batu Rotok , dusun yang paling terpencil dari semua dusun-dusun di wilayah Desa Tepal, juga mengamini hal kondisi jalan yang parah tersebut.  Beliau ini sudah 5 tahun lebih menjalani profesi supir hardtop jalur Sumbawa-Tepal.  Katanya, kalau musim hujan, bisa-bisa hanya 2 minggu sekali pergi ke Sumbawa.   “Wah…pokoknya Mbak nanti liat sendiri deh jalanannya..!!” katanya memperingatkan saya.

Menurut Pak Dedi dan Pak Supir , hanya kendaraan-kendaraan jenis Jeep hardtop keluaran tahun 1985 ini yang bisa melewati medan se-extrim trayek Tepal.

Jalanan yang kami lalui masih beraspal, walaupun kian ke pedalaman kian menipis, selepasnya Desa Batu Dulang, kondisi jalanan kian menyempit dan memburuk .  Di suatu turunan super curam yang disebut Turunan Brang Treng (dalam bahasa Sumbawa , Brang = sungai, Treng = Bambu), para penumpang yang ada di bagian belakang diminta turun untuk mengurangi beban kendaraan.  Saya tidak perlu turun kata Pak Sopir, jadi saya berpegangan erat-erat  merasakan sensasi “turunan gila” Brang Treng.  Betapa tidak, jalan tersebut meliuk-liuk menuruni tebing jurang yang dibawahnya mengalir sungai Brang Treng.  Kalau salah menginjak pedal rem dengan pedal gas, mobil ini akan langsung melayang jatuh tanpa penghalang.

Selepas turunan maut Brang Treng, jalanan semakin memburuk.  “Ini belum apa-apa Mbak, nanti di depan sana lebih susah lagi jalanannya” kata Pak Sopir.

Sekitar tengah hari kami sampai di Desa Punek.  Disini adalah tempat istirahat makan siang.  Sinyal ponsel masih bisa menjangkau tempat ini.

Kami melanjutkan lagi perjalanan hebat ini.  Terguncang-guncang selama hampir 6 jam diatas hardtop, mengarungi jalan becek yang kadang-kadang berbatu-batu besar, ditengah hutan lebat, naik turun gunung dan menyebrangi sungai tanpa jembatan.   Menuruni turunan tajam menukik yang harus dilalui dengan extra hati-hati. Musim hujan membuat jalanan ini hampir mustahil untuk dilalui.  Lumpunya yang teramat tebal dan licin seringkali memakan hardtop yang terperosok dan tak bisa laju lagi.

Beberapa kali, kami semua penumpang, harus turun dari kendaraan ketika melewati kubangan lumpur.  Sekam, rantai ban, dan cangkul adalah senjata andalan di saat-saat seperti ini.  Sekam digunakan untuk menaburi jalan yang akan dilalui agar tidak terlalu licin.  Rantai yang diikatkan ke roda berfungsi sebagai “penggigit” jalanan berlumpur.  Sedangkan cangkul digunakan untuk sedikit meratakan bagian tengah jalan yang posisinya sudah terlalu tinggi akibat tergerusnya bagian kiri kanan jalan oleh roda-roda hardtop yang lewat.  Jika terlalu tinggi, bisa menyentuh body kendaraan di bagian kolong mobil.

cangkul, sekam, dan rantai besi adalah senjata yang wajib dibawa

Hardtop-hardtop yang “kalah” perang akan terperangkap di lumpur, kadang-kadang bisa sampai 3 hari 3 malam, seperti yang barusan kami lewati.  Barang belanjaan milik penumpang, tampak teronggok ditepi jalan ditutupi terpal biru.   Api unggun beserta alat menanak nasi tampak terpasang tidak jauh dari saung tenda alakadarnya.  Menurut Pak Muntaka, Sang pemilik belanjaan, dirinya dan supir hardtop sudah 2 malam menginap menunggui barang dan kendaraan.  Jika sudah demikian, maka kerjasama antar supir hardtop plus penumpang-penumpangnya adalah tradisi yang otomatis terjadi. Yang ditakutkan ketika menginap seperti itu di hutan adalah serangan babi hutan.  Babi hutan memang masih banyak terdapat di hutan pegunungan Batu Lanteh ini.  Salah satunya sempat kami temui sedang asyik mengisap-hisap lumpur di jalan, dan satunya lagi lari melesat melintas jalan. Pak Muntaka yang lalu ikut menumpang di hardtop yang saya tumpangi, ternyata adalah salah satu pengurus Desa Tepal.  Beliau mengundang saya ke rumahnya, yang dengan senang hati saya terima.

Tapi perjalanan kami masih jauh, kami baru sampai di Dusun Pusu, salah satu dusun yang ada di Wilayah Desa Tepal.  Kebun kopi milik warga menandai bahwa kami telah keluar dari hutan dan telah memasuki “peradaban”.

Rumah-rumah di Dusun Pusu ini berupa rumah panggung terbuat dari bilah-bilah papan kayu.   Begitu pula gedung sekolah TK atau PAUD sederhana yang ada di sana itu.  Kuda-kuda Sumbawa tampak asyik merumput di lapangan desa.  Ada juga yang sedang “blasak-blusuk” di kebun kopi, mengagetkan babi hutan yang juga ada disana. Dari Dusun Pusu ini, masih ada 1 puncak bukit lagi yang harus kami lewati, lalu satu jurang curam, dan menanjak lagi ke atas puncak bukit di seberang,  disanalah Desa Tepal berada.   Benar-benar Desa di Atap Langit Sumbawa.

Rumah-rumah di Desa Tepal

Rumah-rumah di Desa Tepal

Rumah-rumah kayu berjejer memagari jalan tanah.  Hardtop, motor trail,  dan kuda, adalah transportasi utama disini.  Penduduknya bertanam kopi.  Semua kebutuhan warga desa di datangkan dari Sumbawa.  Jaman dulu, dibutuhkan 2 hari 1 malam berkuda melintasi gunung untuk bisa sampai ke Sumbawa.

Saya numpang menginap di kediaman Kepala Desa Tepal, Bapak Sudirman.  Kebetulan Bu Bidan Desa yang bertugas di desa ini sedang pulang kampung ke Dompu, jadi kamarnya kosong dan bisa saya pinjam untuk bermalam. Sebagaimana umumnya rumah-rumah di desa ini, rumah Bapak Sudirman juga berupa rumah panggung terbuat dari bilah-bilah papan kayu.  Bagian kolong rumah biasanya digunakan untuk kandang kambing dan ayam, atau untuk menyimpan kayu bakar. Fasilitas listrik dipasok sendiri dari pembangkit listrik tenaga turbin (air) yang dibangun dengan bantuan salah satu LSM luar negri.  Pembangkit listrik tenaga surya juga sudah terpasang di beberapa rumah warga.  Fasilitas tersebut juga merupakan bantuan dari LSM.  Fasilitas air bersih dan MCK juga sudah ditertibkan disini.  Rumah-rumah sudah memiliki fasilitas MCK sendiri-sendiri.  Airnya diambil dari sumber air di Gunung Batu Lanteh, kemudian dialirkan ke desa dan di tampung di penampungan air bersama milik warga, lalu dialirkan ke masing-masing rumah warga.  Airnya jernih dan sejuk luarbiasa. Untuk fasilitas memasak, masih menggunakan kayu bakar.  Tungkunya seperti tungku warga Baduy (Banten) dan warga Ciptagelar (Sukabumi), dipasang diatas lantai kayu yang lalu dilapisi lumpur kira-kira 10 cm tingginya, baru tungkunya dibuat / dicetak diatasnya.

Menurut keterangan dari Bapak Muntaka, sebagaimana tertulis dalam buku besar catatan sejarah asal usul Desa Tepal, bahwa dahulu kala ada 4 kelompok (disebut sebagai “mule kamuya”) yang mendiami wilayah Desa Tepal sekarang, yaitu Malengke, Malempe, Padesa dan Tebas.  Peninggalan bersejarah yang masih bisa ditemua hingga sekarang adalah berupa batu bertulis dan makam keramat, serta mata air keramat yang disebut sebagai Ai Rongka Mali. Nama daerah ini dulunya adalah Kepal, dikepalai oleh seorang dukun yang disebut sebagai Pasung Kepal yang bijaksana, sehingga sering dijadikan sebagai penasihat Raja Sumbawa kala itu.  Sehingga Tu Kepal atau Tau Kepal (orang Kepal) sangat dihormati oleh masyarakat kerajaan Sumbawa.  Lama kelamaan sebutan Tu Kepal atau Tau Kepal ini dilafalkan sebagai Tepal, hingga saat ini.

Desa ini seperti umumnya desa-desa jaman dulu, juga memiliki area lumbung padi.  Tapi sayangnya jaman sekarang, lumbung-lumbung tadi sudah tidak difungsikan lagi.  Jaman sekarang, jeep hardtop dan motor trail sudah menggantikan pedati dan kuda.  Terutama hardtop, kendaraan ini benar-benar menjadi andalan di sini, untuk mengangkut bahan bangunan seperti batu dan kayu-kayu dari hutan.  Tapi kuda dan pedati juga sampai sekarang masih dijumpai,  misalnya untuk mengangkut hasil panen kopi ke pasar desa.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Malam minggu ini, Pak Kades dan Pak Babinsa beserta bapak-bapak yang lainnya mau pergi berburu rusa di gunung, dan saya pun diajak serta.

Paginya, setelah keluyuran disepanjang jalan desa menikmati udara pagi dan mentari yang baru menyembul,  saya sudah asyik lagi mengobrol dengan nenek, kakek dan Bu Kades disekitar tungku, sambil mempersiapkan makanan untuk makan pagi sekeluarga.  Tak ketinggalan pula sambil menyeruput kopi Sumbawa dan ngemil kuping rusa bakar yang dicocolkan ke garam pedas “sirawer”.  Perpaduan sarapan yang aneh hehe… Obrolan diantara kami juga tidak kalah anehnya, nenek sama sekali tidak bisa bahasa Indonesia dan saya sama sekali tidak bisa bahasa Sumbawa.  Untung ada Bu Kades yang menjadi penterjemah diantara kami.   Selain itu, juga ada pertukaran minum kopi yang aneh, nenek dan seorang tetangga nenek yang saat itu datang ke dapur, yang notabene adalah para petani kopi sejati, terkagum-kagum dengan enaknya  kopi instant 3 in one yang kebetulan saya temukan di dalam backpack saya.  “Nyaman….” kata beliau-beliau sambil mengacungkan jempol dan tersenyum lebar.  Nyaman artinya enak sekali. ===========

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s