Malang : Little Missy dari Pulau Sempu

Posted: September 23, 2012 in jawa, Jawa Timur
Tags: , , , ,
26/12/2011

Menyebrang ke Pulau Sempu dari Pantai Sendang Biru sebenarnya cuma memakan waktu 10 menit saja dengan perahu kecil bermotor tunggal yang banyak berjejer di tepi pantai rebutan penumpang. Tapi kami malah memilih naik perahu dayung kecil, pulang pergi. Berasa seakan-akan jadi Little Missy tipuan yang ada di film “Pirates of the Carribean 1” itu ketika teman saya membuka payung untuk melindungi diri dari sengatan matahari…, tapi malangnya angin besar malah membalik payung hingga menjadi cekung bukannya cembung seperti seharusnya, untung perahunya tidak ikut terbalik….:D

Mei-2007

Lokasi Pulau Sempu

===================

Mendayung Ke Sempu

Terpikat oleh foto-foto Segara Anak yang indah-indah dan oleh cerita-cerita perjalanan trekking penuh tantangan di Pulau Sempu, pergilah saya dan 3 teman lainnya ke Malang.  Perjalanan darat yang panjang dari Jakarta, mulai dengan naik kereta malam ke Surabaya, lanjut dengan bis ke Terminal Arjosari (Malang), setelah sebelumnya “dibodohi lagi” oleh mamang becak kesana kemari di Surabaya.  Lanjut lagi dengan bis kecil menuju Terminal Gadang, lalu ke  Turen, dari sana masih harus naik angkot lagi yang sangat “over capacity” ke Sendang Biru.

Rangkaian perjalanan itu kira-kira hampir 24 jam lamanya, naik turun gonta-ganti kendaraan sambil bawa gembolan masing-masing, termasuk tenda beserta peralatan memasak, yang sayangnya tidak jadi kami pakai gara-gara sampai Sendang Biru nya kesorean plus hujan lebat sekali, sehingga kami lebih memilih Pondok Wisata dibandingkan nenda :p

Pantai Sendang Biru

Barulah keesokan harinya, pagi-pagi sekali kami sudah kelantang-kelinting di sekitar Pantai Sendang Biru, mencoba menikmati sunrise yang mendung sambil mencari-cari informasi sewaan perahu termurah untuk menyebrangkan kami ke Pulau Sempu.

Perahu-perahu sewaan itu rupanya sudah lumayan terorganisir, tarifnya sama, dan ada semacam sistem antrian untuk mencegah rebutan penumpang.  Kami yang malas dengan “rayuan” para calo perahu, diam-diam bersepakat dengan seorang nelayan yang bersedia memberikan tarif lebih murah.  Awalnya lumayan keder juga begitu tau bahwa perahunya adalah sampan kecil tanpa motor, alias harus di dayung, takut perahunya terbalik dan kami tercebur ditengah-tengah.  Tapi, Mamang Perahu nya berhasil meyakinkan kami semua, lagipula kilatan jail dimata kami akan suatu petualangan tak terlupakan berdayung ke Pulau Sempu, membulatkan tekad kami…!!!

Satu per satu kami menaiki perahu, duduk berbanjar satu-satu diatas palang kayu, saya duduk paling depan, mamang perahu di paling belakang.  Awalnya hanya Mamang Perahu saja yang mendayung, tapi lalu kami kasihan karena sepertinya berat sekali mendayung perahu bermuatan 5 orang, jadi kami bergantian ikut-ikutan mendayung dengan dayung cadangan, membuat arah perahu mencong ke sana ke sini karena gerakan kami yang kaku dan tidak tahu teknik mendayung dan mengarahkan perahu dengan benar.  Mamang perahu menjadi guru kami yang sabar dan menyenangkan serta sangat ahli dalam hal itu.  Kami…., kami menjadi muridnya yang pemalas dan bodoh serta cepat menyerah, mendanyung sebentar saja sudah mengeluh tangan lecet merah-merah dan pundak pegal :p

Menakutkan juga tiap kali papasan dengan perahu bermotor yang lebih besar, riak ombaknya membuat perahu kami oleng.  Demi melihat kami, perempuan-perempuan kota, duduk berpegangan erat-erat ke tepi perahu sambil berteriak dan mengomel ngeri, awak-awak perahu nelayan itu malah nyengir dan melambai lambaikan tangan.  Mau tak mau kami jadi ikut tertawa nyengir dan melambai-lambai walaupun masih diselingi ngomel-ngomel.

Saya pikir, titik pendaratan di Pulau Sempu nya itu adalah titik terdekat yang tepat berhadapan dengan Pantai Sendang Biru, yang kelihatannya “sangat dekat”, ternyata bukan….., titik pendaratannya menyerong jauh ke kanan.  Hingga rasanya lama sekali, ngga sampai-sampai, tapi lalu perahu berbelok memasuki suatu “ceruk “ pantai yang cukup landai diantara pohon-pohon bakau, dan mendarat disana.  Janjian lagi sama si Mamang Perahu untuk menjemput kami lagi nanti di sini.

Trekking Licin Menembus Hutan Pulau Sempu

Jalur trekkingnya jelas terlihat dan mudah diikuti, berkelok-kelok menembus Hutan Cagar Alam Sempu yang masih sangat rimbun.   Tapi, hujan besar semalam, membuat jalur tanah ini menjadi licin bukan main.  Kami bergulat dengan lumpur selama kira-kira 2 jam, berkali-kali terpeleset dan hampir jatuh.  Untung saya memakai sepatu trekking, padahal tadinya malas sekali karena beratnya.

Sewaktu sampai di suatu danau berair hijau, saya pikir kami sudah tersesat ke danau satunya (katanya selain Danau Segara Anak berair asin, ada juga 1 danau air tawar).   Tapi ternyata kami memang sudah sampai di Danau Segara Anak, tapi ditepiannya yang jauh dari laut.  Setelah berjalan terseok-seok beberapa lama menyusuri tepian tebing danau, airnya tampak semakin berwarna biru, lalu tampaklah batu karang berlubang tempat air samudra Hindia masuk “mengisi kolam” dan pantai melengkung berpasir putih menyilaukan dihiasi beberapa tenda.  Membuat saya berteriak kegirangan, ke arah teman-teman yang masih tertinggal di belakang.

Wahhh…ternyata banyak yang nenda, katanya kemarin lebih banyak lagi malahan.  Mereka rata-rata dari Surabaya, sepertinya anak kuliahan.

Air laut jernih kebiruan Danau Segara Anakan yang tenang, yang hanya sesekali agak bergelombang ketika air laut tumbah dari bolongan tembok karang pemisah dengan samudra, sepertinya sangat tidak mudah untuk diabaikan.  Kami sudah asyik bermain air, cibang cibung berenang kesana kemari, tapi terlalu takut untuk berenang terlalu ke tengah.  Wahhh…kalau saja danau seperti ini berada di arena wisata komersil, pastilah menjadi favorit wisata keluarga dan menjadi ladang pemasukan yang sangat memuaskan bagi pengelola tempat wisata tersebut.

Mudah-mudahan issu mengenai akan dibangunnya resort di sini tidak pernah terwujud, biarlah yang indah alamiah tetap seperti adanya.  Mudah-mudahan undang-undang atau peraturan pemerintah lainnya mengenai Cagar Alam, mampu menjadi penjaganya dari sisi hukum, dan kita para penikmat alam, mampu menjadi penjaga nyata akan kelestariannya.  Minimal, bawa kembali semua sampah yang kita hasilkan selama disini…!!!

Pemandangan dari arah puncak tebing karang ke samudra nan luas juga sangat menakjubkan.  Ombak selatan berdebur-debur pecah menghantam karang.  Tapi harus extra hati-hati memilih pijakan karang yang tajam-tajam, yang terasa ketajamannya walaupun telah memakai sendal.

Little Missy dari Pulau Sempu

Teringat dengan janjian jemput menjemput dengan Mamang Perahu tadi pagi, kami berkemas-kemas untuk kembali.  Tidak bisa berbilas dengan air tawar, karena dekat-dekat sini memang tidak ada sumber air tawar.  Semua sampah sudah kami kumpulkan untuk kami bawa kembali ke Sendang Biru.  Mudah-mudahan lumpurnya sudah agak mengering karena panas matahari sehingga jalannya tidak selicin tadi lagi.

Mamang perahu ternyata belum datang…mudah-mudahan dia tidak lupa dengan janjiny untuk menjemput kami kembali.  Oh..itu dia datang, katanya dia terlambat karena baru saja datang dari mencari ikan….

Satu per satu kami kembali menaiki sampan.  Matahari terasa sangat terik.  Sebuah perahu cepat yang disewa dua orang bule tampak tidak jauh dari pulau.  Bule-bulenya sedang foto sana sini, membuat kami kege-eran karena merasa jadi objek fotonya, padahal mungkin tidak…:-p

Karena tidak tahan dengan teriknya matahari, salah seorang teman saya membuka payung, dan bergaya seperti Little Missy tipuan bajak laut di film “Pirates of the Carribean”…ketika para bajak laut pimpinan Kapten Borbosa akan menyerbu kapal tentara Kerajaan Inggris.  Malangnya, payungnya condong ke sana kemari karena ditiup angin lumayan kencang, membuat panik kami semua karena takut perahunya terbalik gara-gara angin yang tertahan payung.  Kerangka logam pembentuk payung yang “kalah” oleh kekuatan tiupan angin, malah kemudian melengkung ke atas, seperti mangkuk tukang sulap yang berdiri diatas sebatang gagang besi kecil….  Kami tertawa-tawa tapi juga panik menjinakan sang payung.  Bule-bule itu bahkan ikut tertawa-tawa melihat kekonyolan itu, sambil membidikan kameranya ke arah kami lalu melambaikan tangan ke arah kami yang semakin menjauh.

Kejadian konyol tadi terus saja membuat kami dan Mamang Perahu tertawa-tawa.  Ketika berpapasan kembali dengan perahu nelayan yang baru saja pulang menangkap ikan, kami kembali saling melambaikan tangan.  Rupanya para nelayan itu teman-temannya Mamang Perahu, mereka berbalas pantun teriakan-teriakan dalam bahasa Jawa yang tidak kami mengerti, sepertinya nelayan-nelayan itu menggoda Mamang Perahu yang “begitu beruntung” mengangkut cewek-cewek kota :p

Kejutan lainnya menunggu kami di Sendang Biru, ternyata para nelayan itu dengan murah hati memberikan beberapa ekor ikan besar-besar hasil tangkapannya hari ini kepada kami.  Wahhh…rezeki tak terduga…  Ikan-ikan itu kemudian kami bawa ke salah satu warung yang bersedia mengolahnya menjadi ikan bakar lezat, menu makan sore yang nikmat.

Gara-gara keasyikan makan ikan bakar dan kelamaan mandi, kami ketinggalan angkot terakhir ke Turen.  Terpaksa menyewa ojek, untuk mengejar angkot terakhir di tempat lain yang biasa digunakan untuk ngetem.  Kami pikir rute ngojeknya tidak terlalu jauh, hingga tidak melengkapi diri dengan jaket, ternyata lumayan jauh  juga, jalanannya sepi tapi aspalnya lumayan bagus, melewati perkebunan tebu dan sawah ladang, angin dingin disertai gerimis membuat badan menggigil.

Untunglah angkot yang kami kejar masih ngetem disana.  Penumpangnya tidak sebanyak seperti kemarin, kaki kami tidak kram akibat tertekuk cukup lama.

Dari Pulau Sempu, kami akan melanjutkan ke Bromo, saya akan ceritakan lain kali….

=====000=====

Situs informasi Pulau Sempu yang lumayan lengkap : apvalentine.students.uii.ac.id/pulau-sempu-alternatif-wisata-pantai-di-kala-liburan-akses-pulau-sempu-pantai-sendang-biru/

=====000=====

Thanks to : Erni, Wiwied, Evi

Comments
  1. subhanallah… liburan kemarin stelah turun dari bromo, pngen bgt mampir ke sempu, tapi tak tercapai. postan ny bkin tambah bulet mimpi!😀

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s