Sawarna : Trip ala “Srimulat”

Posted: September 23, 2012 in Banten, jawa
Tags: , , , , ,
28/12/2011

Ini dia trip 3 hari ala srimulat (pinjam istilahnya Emyl), full ceria…full canda…full ketawa…!!!

Menyusuri pantai-pantai di sekitar Desa Sawarna hingga Bayah.  Mengamati kegiatan acara tujuhbelasan penduduk desa dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

=====================

16-18 Agustus 2007

Cerita keberangkatan saja sudah lucu. Berhubung kami yang para kuli ini tidak seragam jam pulang ngulinya, maka kami terbagi jadi 2 kloter. Kloter 1 terdiri dari : Erni, Fitri, Anis, Rika, dan saya, berangkat duluan, sedangkan kloter 2 terdiri dari Emyl, Esma, dan Risda, berangkat agak lebih malam.

Cerita dari Kloter 1  

Cerita dari Kloter 1 dihiasi dengan acara bis mogok tengah malam ketika sudah sedikit lagi sampai di tujuan yaitu TPI Pelabuhan Ratu.  Berhasil menolak rayuan semua ojek-ojek yang merubung, dan memilih berjalan kaki di tengah malam. Lalu dilanjut dengan nebeng mobil pick-up Pak Djay, seorang pengusaha arang batok kelapa asal Bogor, yang biasa mengambil arang-arang dari para penduduk Desa Sawarna.  Kebetulan malam ini beliau akan ke Desa Sawarna dengan mobil pick up, kami diperbolehkan nebeng.

Angin dingin menampar-nampar wajah kami selama perjalanan berguncang-guncang di bak belakang pick up Pak Djay.  Saya memilih tidur dalam sleeping bag, terbangun tiba-tiba karena mobil berhenti gara-gara ada orang yang mau menumpang. Katanya mereka biasanya memang begitu. Hampir saja saya terinjak, karena suasana lumayan gelap dan biasanya pick-up ini kosong.

Entah dimana Bapak Penumpang itu turun, karena ketika saya diibangunkan tiba-tiba, hanya tinggal kami saja.  Kami rupanya sudah sampai di Desa Sawarna.  Hmmm…masih ngantuk sekali, baru jam 2:30 dini hari.  Kata Pak Djay, kita harus menyebrang sungai, karena jembatan gantungnya ambruk diterjang banjir bandang.  Headlamp dan senter pun dikeluarkan, celana digulung, kaos kaki dilepas, dan byurrr…kecuprakan….kami menyebrang sungai di bagian yang dangkal, cuma selutut.  Sungainya lumayan lebar, tapi airnya sedang sedikit karena kemarau.

Rasa kantuk hilang seketika oleh dinginnya air sungai dan udara dini hari pedesaan. Sehabis menyebrang sungai, kami masih harus berjalan di pematang sawah.  Bulan sabit dan bintang-bintang mengintip dari langit yang berawan. Cahaya senter tangan dan head-lamp berkelebatan menerangi pematang.  Kami sampai di rumahnya Pak Puloh, salah seorang rekanan usaha nya Pak Djay.  Rupanya Pak Djay sudah mempersiapkan segalanya untuk kami.  Terimakasih banyak Pak, maaf merepotkan…!!!

Rumah Pak Puloh di tengah sawah Kampung Leles ini menjadi base-camp kami selama di Desa Sawarna.

Cerita dari Kloter 2  

Sekitar jam 8 pagi, teman-teman dari Kloter 2 akhirnya tiba.  Kami begitu senang ketika melihat mereka bertiga sedang berjalan beriringan di pematang sawah.  Cerita dari Kloter 2 ternyata tidak kalah seru.   Teras rumah Pak Puloh tiba-tiba menjadi sangat ramai ketika kami saling bertukar cerita. Ibu-ibu penduduk setempat yang tengah sibuk dengan ritual pagi harinya masing-masing di sepanjang aliran saluran irigasi yang mengalir di depan rumah, ikut tersenyum-senyum sambil sesekali melirik kami dan berbisik-bisik dengan sesamany.

Cerita dari Kloter 2 dihiasi dengan acara dibohongi supir angkot yang awalnya katanya bersedia mengantar mereka hingga Pelabuhan Ratu.  Mereka diturunkan di tengah jalan tanpa tahu ada di daerah mana, di pagi buta pula…  Mereka akhirnya mencegat truk pasir dan nebeng truk tersebut  sampai Pel. Ratu.  Untungnya dari Pel. Ratu sudah ada angkot sampai pertigaan Ciawi-Sawarna, dilanjut dengan naik ojek sampai ke Desa Sawarna, menyebrang sungai dan sampailah di sini.

Bertemu Gerombolan Si Merah di Goa Lalay  

Tim Trip Srimulat telah lengkap, dengan diantar Pak Puloh yang baik hati, kami siap menjelajahi setap sudut Desa Sawarna, sementara Pak Djay sudah pulang kembali ke Bogor dengan membawa barang dagangannya.

Goa Lalay yang jaraknya paling dekat ke rumah Pak Puloh menjadi sasaran pertama. Dengan menyusuri sepanjang jalur irigasi yang katanya memang sumbernya dari Goa Lalay tersebut, kami berjalan beriringan, melewati kebun dan sawah penduduk yang tampak kering dan kosong karena sudah lewat musim panen dan belum tiba musim tanam berikutnya. Ternyata Pak Puloh tidak begitu tahu tentang Goa Lauk dan Goa Lalay, hingga kami tiba dilokasi yang salah.  Kami memutuskan kembali ke desa dan bertanya pada sesorang yang lebih tahu.

“Kalo mo ke desa, lewat sini Neng” kata Mang Puloh. Rutenya ternyata berbeda dengan rute waktu berangkat. Tidak seberapa jauh dari situ…di sebelah kanan ada pintu goa besar menganga….. Di dalamnya ada sungai bawah tanah yang mengalir di bagian tengah goa, stalaktit-stalaktit bergelantungan di atap goa yang sangat tinggi.  Di mulut goa, ada semacam bak air dari tembok, sungai bawah tanahnya pun di bendung dengan tembokan dan airnya di alirkan ke saluran irigasi…

Kami tidak berani masuk terlalu dalam karena Pak Puloh sendiri belum pernah ke sini…!!!

Selagi bertanya-tanya dan berdebat kusir sambil berfoto-foto di depan mulut goa, tiba-tiba ada serombongan cewek berkaos merah merah membawa headlamp dan senter, dipimpin oleh seorang bapak-bapak yang membawa lampu petromax…. Ternyata mereka ber-8 adalah rombongan dari Jakarta juga, baru tiba tadi pagi, dan berniat menyusuri goa Lalay ini. Waaaa….kebetulan….. Goa di cinta guide pun tiba…. boleh nebeng ngga???

Dengan dipandu oleh si Bapak yang bawa petromax kami beriringan di sungai bawah tanah yang membelah goa, yang ternyata dalamnya cuma selutut, dan dasarnya adalah lumpur halus yang tidak nyaman jika disusuri sambil memakai sendal. Di beberapa spot kami naik ke tepi sungai. Harus extra hati-hati karena di lantai goa ini lumpur yang basah menjadi sangat licin.

Tinggi banget langit-langit goa-nya… stalaktit-stalaktitnya yang tajam bertonjolan dimana-mana, airnya menetes-netes dari beberapa stalaktit. Tak lupa kami berfoto-foto lagi…, grup merah bercampur dengan grup backpacker srimulat, Goa Lalay jadi ramamai seperti di bioskop Keong Mas. Karena peralatan yang tidak memadai dan skill yang jelas tak kami miliki akhirnya setelah agak dalam kami menghentikan perjalanan susur goa kali ini dan kembali ke tempat semula kami masuk.

Di mulut goa ini kami berpisah dengan grup merah…, mereka kembali ke desa, sedangkan kami menyusuri rute semula kembali ke Kampung Leles untuk makan siang tentunya….

Terimakasih ya teman-teman dari Gerombolan Si Merah…..

Pantai Aquarium Lagun Pari

Selewat tengah hari kami berangkat untuk kegiatan susur pantai. Rutenya melewati kebun kelapa, kandang-kandang sapi dan kambing, sawah yang kering, bukit gersang dengan rumput liarnya, kebun kelapa lagi, dan setelah melewati salah satu puncak bukit, tampaklah lengkungan pantai berpasir putih “Lagun Pari” di bawah sana.

Pasirnya putih berkilauan terkena cahaya matahari, ombak laut selatannya yang bikin gentar berdebur-debur menghantam karang hitam di sebelah timur. Lautnya yang biru membentang sampai batas pandang. Di sebelah barat tampak hamparan batu karang yang menghijau karena ditumbuhi lumut dan rumput laut.

Karena sedang surut, banyak sekali hewan-hewan laut yang terperangkap di dalam kubangan air diantara karang-karang. Seperti melihat ke dalam aquarium saja. Kami menjumpai berbagai-bagai hewan laut yang tak kami tahu namanya. Ikan-ikan kecil beraneka warna yang sangat susah di foto, selalu ngumpet ke dalam lubang karang setiap kali saya bergerak mendekat, walaupun dengan sangat pelan. Gesit benar mereka menghindar. Saya mengganti siasat, diam menunggu dengan kamera siap jepret, dan berhasil..!!!

Karang TwentyOne & Tragedi Karang Heulang

Wilayah pantai berkarang yang muncul hanya kalo laut sedang surut ini, luas sekali. Ada batu-batu karang yang akibat hempasan ombak laut selatan yang kencang selama bermilyar-milyar tahun lamanya, jadi membentuk seperti deretan sandaran kursi berjajar-jajar, berjalur-jalur seperti di bioskop 21, semuanya menghadap ke laut selatan. Maka kamipun menjulukinya pantai 21.

Jauh didepannya, batu karang hitam berdiri tegar menahan deburan ombak laut supaya tidak naik ke dalam bioskop. Jika ada ombak tinggi datang, pemandangannya menjadi sangat spektakuler. Karena penasaran dengan pemandangan apakah yang tersji di balik batu karang, salah satu teman naik ke atas karang, dan saya menyusul kemudian.

Dan….wow, ombak ganas berdebur-debur menghantam batu karang tiada henti.  Deburan ombak yang cukup besar menyemburatkan air laut menghujani kami, takjub dan ngeri dengan kekuatan alam, saya buru-buru turun, takut ada ombak super besar, bisa-bisa nanti kita terlempar menghantam batu-batu karang… Apa yang ditakutkan akhirnya terjadi menimpa temen teman saya yang turun belakangan, padahal dia sudah turun dari tebing tapi masih bisa terhantam ombak saking kuatnya, akibatnya dia limbung dan terjatuh, lututnya terluka dan terkilir gara-gara terperosok diantara celah karang.

Karang Jalan Tol & Batu Layar

Selain karang terjal pembawa celaka orang-orang yang penasaran, nekat, dan ceroboh itu, ada pula dataran batu karang yang menghampar datar, lurus membujur dari timur ke barat seperti jalan tol sehabis hujan sore-sore, basah bersinar keemasan akibat pantulan matahari sore. Garis-garis berjajar seperti marka jalan, memisahkan jalur tol yang satu dengan yang lainnya. Indah sekali.

Di pinggir selatan jalan tol, karang-karang megah bergerombol-gerombol lengkap dengan deburan ombak-ombak nya yang menghantam terus menerus. Mengundang orang penasaran dan nekat seperti kami. Semua basah kuyup terguyur semburat pecahan ombak besar.

Di sisi utara jalan tol, menjulang 2 buah batu karang seperti layar yang tertancap di perahu nelayan. Oleh karena itu tempat ini dinamakan Tanjung Layar.

Menatap matahari sore yang mengintip dari celah-celah awan tepat di atas puncak Batu Layar, benar-benar pemandangan indah.  Saking asyiknya menikmati senja, tanpa terasa hari mulai gelap, dan kami harus segera kembali, padahal hanya saya yang membawa headlamp.

Hari yang Luar Biasa

Peristiwa terkilirnya kaki salah satu teman saya sewaktu di Karang Heulang, ternyata bukan masalah sepele.  Perjalanan kembali ke rumah nya Pak Puloh, menjadi amat sangat lambat, karena teman saya itu sudah amat-sangat kesakitan, padahal hari sudah benar-benar gelap, dan head-lamp hanya ada 1 saja.  Yang lainnya mengandalkan sinar layar HP masing-masing.

Pak Puloh sudah berusaha mengurut kaki teman saya, tapi tidak kunjung membaik.  Jadi kami paksa teman saya itu agar mau digendong Pak Puloh saja daripada nanti bertambah parah lagi.  Kasihan sekali Pak Puloh, tapi itulah jalan terbaik untuk mengatasi tragedi ini.

Jadi kami berjalan lagi dengan agak lebih cepat dalam gelap, menyusuri kebun kelapa, dan pematang sawah yang licin diterangi cahaya bulan sabit.  Kami semua lelah dan lapar sekali.

Sesampainya di Kampung Leles, teman saya segera dibawa ke tukang urut, ratap tangis nya ketika diurut menggegerkan para tetangga yang segera berkerumun.  Sebagian dari kami bergegas ke rumahnya Pak Puloh untuk mengambilkan baju ganti untuk teman saya yang kecelakaan itu, yang sejak tadi menggigil kedinginan karena bajunya basah kuyup diguyur ombak.

Hari yang luar biasa sekali..!!!

Hiburan Malam yang Seronok

Malamnya kami (tanpa teman yang kecelakaan itu) menyebrang kali menuju ke alun-alun desa, katanya hari ini ada acara wayang golek dengan dalang Asep Sunandar Sunarya dari Bandung yang terkenal itu.  Ramai banget suasana di alun-alun ini, sepertinya semua penduduk Sawarna tumpah ruah di sini. Mereka menggelar tikar dan membawa perbekalan, dari balita sampai kakek nenek ada di sini. Berbagai makanan jajanan bisa dijumpai di seantero alun-alun. Beberapa wisatawan asing juga tampak diantara para penduduk desa.

Di panggung sedang berlangsung acara hiburan ngibing alias joget bermusik jaipong atau dangdut. Para pemuda dan bapak-bapak yang mau ngibing (menari) terlihat antri di pintu samping panggung. Yang kebagian langsung naik ke panggung dan langsung mengajak pengibing wanita berbaju warna-warni untuk ngibing sama-sama. Uang saweran pun terlihat di sebar-sebarkan para lelaki pengibing ke arah para nayaga (pemain musik) dan para pengibing wanita. Gaya seruduk banteng ala pemain sepak bola Prancis Zidane Zidane acap kali dipakai oleh pengibing laki-laki ke bagian d#d# pengibing wanita.  Cukup seronok juga…

Sudah jam setengah sepuluh tapi wayang golek belum juga dimulai. Sudah cape dan mengantuk, kami pun memutuskan untuk pulang.

Lobster

Esoknya, pagi-pagi kami sudah keluyuran di atas pematang sawah menuju TPI di Pantai Ciantir yang semalam sempat kami lewati.  Kami mau berburu ikan laut segar tangkapan nelayan, tapi TPI-nya sepi sekali, tidak ada nelayan-nelayan yang baru pulang melaut, cuma ada beberapa orang nelayan sedang membetulkan jaring, dan seseorang jauh di sana sedang mengumpulkan sesuatu di antara karang-karang.  Ternyata tadi pagi cuma ada 3 perahu yang melaut karena sebagian nelayan masih dalam suasana agustusan!!!

Ombak pagi sama dahsyatnya dengan ombak sore kemarin.  Karang nya ada yang berwarna hijau seperti puding, hijau sampai ke dalam-dalam. Rumput laut dan hewan-hewan laut yang terdampar di genangan air disela-sela karang juga banyak. Orang yang sedang di terbungkuk-bungkuk di karang itu ternyata sedang mengumpulkan rumput laut untuk dimakan, katanya kalo sudah direbus rasanya enak.

Di lantai berpasir TPI, temen-temen menemukan 2 ekor lobster, setelah tawar menawar sebisanya, akhirnya kami membeli ke-2 lobster itu seharga Rp.20.000 asyiikkkk…. mana ada lobster semurah itu…..  Lobster adalah menu hidangan laut bagi raja-raja, saking mahalnya…

Pantai Cimanuk & Pantai Cibayawak di Bayah

Dengan bantuan Mang Puloh, kami berhasil memperoleh sewaan pick up pengangkut kopra untuk mengantarkan kami ke Pantai Cimanuk di Bayah, daerah tetangga terdekat Desa Sawarna.

Kami menyebrang sungai lagi ke desa, dari sana baru kami naik pick up. Melewati jalan utama desa di tepi pantai Sawarna yang panjaaaaaaaannng.  Pantai tersebut tampak jelas terlihat dari atas bukit. Setelah melewati bukit dan hutan, kami sampai di Pantai Cibayawak. Di sini sudah lebih komersil, ada banyak warung-warung, pengunjungnya agak banyak. Pantainya landai jadi aman untuk berenang dan aksesnya mudah.

Disebut pantai Cimanuk karena dulu di karang yang menjulang jauh di sana itu banyak burung walet laut bersarang. Tapi sekarang ga ada satupun. Kalau siang menjelang sore, pengunjung bisa mencapai karang tersebut dengan cara berjalan di atas hamparan karang yang terlihat kalo laut sedang surut. Mulai jam 6 sore laut akan pasang dan hamparan batu karang ini akan tertutup air laut. Ikan laut yang terperangkap diantara karang-karang nya lebih banyak dan lebih beragam. Yang agak besar ukurannya juga ada.

Jam 4 sore kami bergegas kembali ke Desa Sawarna, karena rupanya mobilnya mau dipakai si empunya mobil untuk mengangkut kelapa. Jadilah pak supir melarikan mobilnya seperti kesetanan ngebut naik turun kaya naik roller coaster di Dufan. Kami penumpangnya cuma bisa menjerit-jerit sambil berpegangan ke pinggir pick up.

Pantai Ciantir serasa milik pribadi

Kami di drop di depan jalan setapak yang berjudul “Selamat Datang di TPI Sawarna” , melewati jembatan gantung yang tidak rontok gara-gara banjir bandang, melewati rumah-rumah penduduk (salah satunya berjudul “HOMESTAY WIDI”) dan menuju kebun penggembalaan kerbau yang banyak penghuninya, kerbau besar kecil. Kerbau yang besar pada melotot melihat saya dan satu teman lainnya yang berkaos merah. Kami berdua lari pontang panting akibat kerbaunya di hela si penggembala iseng tepat ke arah kami…ha….ha….

Kebun gembala kerbau ini berada tepat ditepi Pantai Ciantir.  Pantainya panjang landai membentang dan lengang.  Hanya ada kami dan beberapa orang warga desa yang sedang memancing.  Dengan mengikuti 3 orang warga desa yang sedang memancing di tengah ombak yang bergulung-gulung, kami bermain ombak dan bermain air, menakjubkan ternyata di sini adalah pertemuan 2 arus laut, akibatnya ombak datang dari mana-mana, bukan cuma datang dari arah depan tapi dari samping kiri kanan, bahkan ombak yang sudah sampai pantai kembali ke laut lagi dalam bentuk ombak juga…waaa…..luar biasa….

Sebenarnya bisa berjalan terus sampai agak tengah, seperti nelayan-nelayan itu, tapi takut melihat ombak yang bergulung-gulung. Kadang-kadang kami berada tepat di titik pertemuan ombak dari 4 penjuru mata angin. Seringkali terlihat kepala ombaknya bukan berjalan ke arah pantai seperti ombak-ombak pada umumnya, tapi menyamping merepet terus sepanjang badan ombak itu sendiri ke arah samping sampai bertemu dengan kepala ombak dari arah berlawanan dan byurrrrr…..ombak pecah menjadi buih-buih air laut berwarna putih.

Matahari senja yang kuning keemasan memantul dari permukaan air laut dan memandikan kami semua dengan sinarnya. Pasirnya halus dan putih. Tak ada sampah. Tak ada pengunjung lain kecuali kami. Bebas bergaya narsis apa saja. Bebas tiduran di pasir yang lembut dan hangat tanpa takut terganggu siapa-siapa.

Makin sore ombaknya makin besar. Nelayan yang sedang memancing pun sudah kembali ke darat, entah dapat ikan entah tidak, kami lupa menanyakannya karena sibuk bermain ombak dan menikmati sunset dalam gaya masing-masing.

Asyik banget serasa pantai milik sendiri…

Terimaksih Banyak Pak Puloh

Esoknya, pagi-pagi sekali kami berpamitan kepada keluarga Pak Puloh. Hari ini kami akan pulang ke habitatnya masing-masing.

Tadi malam kami sudah memesan kursi di elf satu-satunya jurusan Sarwarna-Pel. Ratu.  Walaupun kami sudah pesan tempat duduk dan ongkosnya pun sudah dibayar full tadi malam, tetap saja harus berebut tempat duduk dengan penumpang lain.

Dan busyet!!! Penumpangnya banyak benerrrr… Orang-orang dan barang bawaan penuh sampai di atap mobil. Ibu-ibu kegencet oleh bapak-bapak yang berdiri berdesakan di pintu, cuma kepalanya saja yang masuk ke dalam mobil, pantatnya nungging kemana-mana.

Parahnya lagi, mobil ini ternyata knalpotnya rusak. Jadi asap knalpot nya yang bau dan hitam pekat itu masuk ke dalam mobil, membuat kami seperti tercekik. Untung duduk dekat jendela…. jadi tidak terlalu parah baunya. Di Cikotok sebagian penumpang turun, dan semua penumpang yang duduk diatas mobil harus masuk, karena memasuki wilayah Pel. Ratu banyak patroli Polisi, nanti bisa ditilang.

Indonesia bangeeettttss…..

———–000000000———-

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s