Ujung Kulon : Trip Dua Musim

Posted: September 23, 2012 in Banten, jawa
Tags: , , ,
29/12/2011

Taman Nasional Ujung Kulon, namanya menguarkan aroma petualangan alam liar yang hebat…, bertemu badak bercula satu, harimau sunda, banteng, ular sanca, buaya, hwaaaa….pasti seru !!!!

Sudah dua kali ke Ujung Kulon, tapiiiii… tak pernah bertemu badak atau buaya, adanya banteng yang mirip banget sapi, burung merak yang pesolek, plankton-plankton yang bikin badan gatal-gatal waktu snorkling, dan monyet-monyet super nakal yang mengacak-acak seisi kamar penginapan bahkan mencuri dadar telor menu sarapan tepat dihadapan kami semua L

Kemarau lebih asyik (Okt 2007)

Hal-hal itulah yang ada di kepala saya, sewaktu mendaftar untuk ikut trip Explore Taman Nasional Ujung Kulon.  Saya sudah siap-siap minum obat anti malaria karena disana itu adalah daerah endemik malaria.   Jumat malam ketika akan berangkat.., hmmm…. pesertanya  ada 11 cewek “kota” dan 2 cowok.  Mmmm… sepertinya cewek-cewek itu bukan penjelajah alam liar…  Saya cuma kenal 1 orang saja, plus Pak Ketua Trip.  Hmmm…. saya jadi bingung.., tapi ya sudahlah…, liat aja nanti…!!!

Rute yang kami tempuh : Jakarta – Tol Jkt-Merak exit di Serang – Pandeglang – Labuan – Panimbang – Cibaliung – Sumur – Taman Jaya (Ujung Kulon) dengan jarak tempuh sekitar 240 Km. Perjalanan dari Jakarta menuju Ujung Kulon bisa ditempuh dalam waktu kira-kira 7 jam.  Kondisi jalan selepas Desa Sumur menuju Desa Taman Jaya luar biasa rusak.

Pagi-pagi sekali kami sudah sampai di rumahnya Pak Komar (Desa Taman Jaya), pemilik perahu yang nanti akan kami sewa.   Istirahat sejenak, dan mempersiapkan segala macam perlengkapan serta logistik yang akan dibawa.

Pulau Peucang

Waktu berangkat, laut cukup tenang, kami berperahu selama kurang lebih 2,5 jam dan mendarat di dermaga Pulau Peucang.  Pantai Pulau Peucang luar biasa putih pasirnya, lembut seperti bedak tabur…., lautnya hijau dan biru jernih… , kumpulan ikan-ikan sewarna pasir banyak bergerombol di bawah dermaga.

Di Pulau Peucang ini terdapat wisma wisata milik Perhutani, lengkap dengan toilet, dan listrik dari generator diesel.  Pondok-pondok panggung itu dibangun disekitar dermaga, mengelilingi halaman rumput tempat peucang alias kijang bermain. Sekelilingnya adalah hutan lebat yang menakutkan bagi kami semua, terutama malam hari.

Penduduk asli Pulau Peucang, yaitu si peucang alias kijang itu jinak-jinak, pagi-pagi sudah pada datang minta jatah sarapan… Lain halnya dengan tetangga si peucang yaitu si monyet, huhhh..nakal-nakal banget, mencuri telor dadar menu sarapan tepat dihadapan kami semua, gesit sekali dia…!!!  Ada lagi tetangga si peucang lainnya, yaitu si biyawak jaim…, malu-malu dan takut-takut bertemu manusia…., kalo disangkanya kita lagi tidak ada disekitar pantai, si biawak jaim akan turun minum ke pantai atau berkeliaran dekat sumur di belakang penginapan.  Tetangga si peucang yang ada di laut dekat dermaga adalah gerombolan ikan-ikan sewarna pasir yang rupanya bergerombol disitu karena sedang berburu plankton-plankton.

Rasanya geli dan gatal-gatal, seperti digigiti semut-semut kecil merah, ketika plankton-plankton iseng itu mengigiti kulit saya yang sedang asyik snorkling kesana kemari dekat dermaga.

Mengisengi Banteng

Kami berperahu lagi menuju Pantai Cibom, pantainya sempit, disini terdapat semacam display Sejarah Ujung Kulon dan peta.

Sewaktu trekking menembus hutan Ujung Kulon saya sudah menanti-nanti hal-hal yang sudah mengisi kepala saya setiap mendengar tentang Ujung Kulon : badak bercula satu, harimau sunda, banteng, ular sanca, buaya, dll.   Hmmm…tapi tidak ada satupun dari mereka yang muncul.., hanya ada seekor ayam hutan yang kaget dan lari pontang-panting menembus semak belukar.

Hmmm…sepertinya cocok juga pilihan pakaian (celana pendek) dan alas kaki (sendal jepit cantik) yang dipakai teman-teman cewek saya itu, cuma saya saja yang berlebihan : memakai sepatu trekking+celana hutan + jaket + topi hutan..!!!  Trayek yang dipilih ternyata trayek hutan wisata…, pinggiran “hutan sesungguhnya” .

Kami menuju mercusuar diatas bukit batu karang, dijaga oleh 2 orang petugas.  Tangga besinya berkrekat-krekot ketika kami menaikinya dan menaranya bergoyang-goyong tertiup angin laut yang kencang.  Pemandangannya hebat sekali dari atas sana, tapi saya tidak berani sampai puncak, takut tangga besinya rontok… (padahal takut karena terlalu tinggi).

Di ujung terbaratnya Ujung Kulon, yaitu di Tanjung Layar, terdapat tugu Nol Kilometernya Pulau Jawa.  Dulu mercusuarnya didirikan di sini, diatas tebing karang itu.  Kini, yang tertinggal hanya puing-puing bangunan penjaga dan tangga rusak.

Ombak laut selatan terdengar berdebar-debur menghantam karang-karang hitam, mengerikan sekali…

Kami berperahu lagi menuju Pos Pengamatan Satwa Liar di Cidaun.  Pos ini didirikan ditepian lapangan rumput  luas, tempat hewan-hewan merumput.  Ditepian terjauh lapangan rumput, terlihat beberapa ekor burung merak dan banteng-banteng yang sedamg merumput.  Merak-merak itu langsung kabur begitu menyadari kehadiran kami.  Sedangkan gerombolan banteng-banteng yang dari kejauhan benar-benar terlihat mirip sapi biasa, mendongak waspada tapi masih tetap meneruskan kegiatannya.

Saya yang berjaket orange dan salah satu teman , Yuni yang berkaos merah, iseng dan nekat sambil takut-takut, berjalan pelan-pelan memasuki lapangan rumput,  mendekati area gerombolan banteng-banteng…., mumpung si banteng terbesar lagi merumput…   Kira-kira kami akan dikejar tidak yaa…????   Banteng-banteng itu tetap asyik merumput, tapi telinganya sudah tegak lurus waspada, matany sesekali melirik ke arah kami berdua.  Kami semakin berani mendekat, eeee…. tiba-tiba banteng terbesar mengangkat kepala, matanya melotot memperhatikan kami dengan waspada….  Hwaaa….takut, kami berdua saling berpandangan…, ingin segera berbalik lari tapi takut mengagetkan sang banteng yang nanti malahan mengejar kami…!!!

Sunset di Pantai Cidaun hari itu sungguh mempesona…, menutup petualangan kecil kami hari ini.

Besoknya kami puas-puas snorkling di beberapa spot yang penuh dengan terumbu-terumbu hidup, tapi sayangnya arus sangat kencang hari ini, tidak setenang kemarin, jadi tidak bisa menikmati keindahan terumbu karang di Pulau Badul, sebuah pulau gosong karang kecil.

Thanks to :  Mas Aris Yanto, Arita, Atik Khoi, Emyl, Erin, Harti, Indah, Jeanny, Lily, Tia, Yuni

=========================================

Hujan, Tidur Melulu Jadinya (Des 2008)

Desember yang penuh hujan, memang benar-benar bukan saat ideal untuk berwisata ke Ujung Kulon, tapi saya tetap berangkat juga walaupun tahu musimnya sedang “tidak bagus” dan spot-spot kunjungannya pasti itu-itu juga.  Yang menarik saya untuk ikut kali ini adalah Pulau Panaitan, yang ada di belakang Pulau Peucang, yang katanya akan dikunjungi juga, tapi sayangnya tidak bisa dikunjungi karena cuaca buruk sekali ditambah ada insiden dengan perahu sewaan kami.

Kali ini pesertanya, ada cowok-cowoknya…, tidak terlalu seperti rombongan arisan seperti yang lalu.  Kali ini, kami menaiki bus umum, bukan mobil sewaan seperti waktu itu.  Suka-duka perjalanan dengan memakai angkutan umum memang banyak sekali, dari mulai kena macetnya lalulintas ibukota ketika menuju meeting point di Terminal Kalideres, hingga bis trayek Labuan yang super ngebut, kehujanan tengah malam di POM Bensin Labuan ketika sedang menunggu jemputan sambil dikerubuti ojek-ojek, hingga elf butut yang ngacir naik turun meliuk-liuk di jalanan aspal yang grunjal grinjul, belum lagi backpack yang basah kuyup kehujanan di atap mobil…!!!

Di depan balai desa Sumber – kec Sumur, kami turun, masih dini hari sekali, hujannya belum juga berhenti.   Kami ngaso dulu di rumahnya Pak Matang si empunya perahu yg akan kami sewa.   Sewaktu akan berangkat berperahu menuju Ujung Kulon, hujan belum juga reda, tapi tetap kami harus berangkat.  Berhujan-hujan menuju pantai dekat pasar Sumur tempat perahunya tertambat, tidak ada dermaga, jadi perahunya jauh dari pantai.  Kami memakai sampan kecil untuk menuju perahu ditengah hujan yang masih terus saja mengguyur dan ditengah tatapan warga setempat yang sedang berbelanja di pasar, yang mungkin menganggap kami ini wisatawan nekat banget.

Hujan terus menemani kami selama di Ujung Kulon…, di Pulau Peucang, saya lebih memilih tidur daripada keluyuran hujan-hujanan, tohh saya sudah pernah ke sini sebelumnya.  Waktu mau mendarat di Cibom, hari sudah sore, ombaknya besar sekali, perahu kesulitan mendekati pantai yang berkarang-karang, jadi kami menyebrang dari perahu memakai sampan dayung isi max 3 orang…, wihiiii…..serem juga…, takut sampannya terbanting gelombang.  Kasihan sekali mamang awak perahu yang harus bolak-balik mendayung 7 kali untuk menyebrangkan kami semua ke pantai.

Trekking Cibom – Tj. Layar yang dulu seaman berjalan di Kebun Raya Bogor, sekarang harus extra hati-hati karena jalurnya terendam air hujan.  Mercusuar pun jadi tidak aman untuk dinaiki.  Jalur selepas mercusuar menuju Tj Layar licin bukan main.   Tapi pemandangan di Tj Layar tetap TOP…luar biasa!!!

The show must go on…, acara mengintip banteng juga sambil hujan-hujanan.  Tapi banteng-bantengnya tidak muncul satupun, ogah merumput hujan-hujan begini..!!!  Waktu snorkling juga sambil hujan-hujanan, bikin capek karena arusnya kencang kesana kemari.

Sudah kondisi laut tidak bersahabat seperti itu, ada insiden pula dengan perahu sewaan kami yang membuat kami batal ke Pulau Panaitan, yaitu jangkar kapal lepas dan hilang ditelan lautan yang menggelora, sehingga kami tidak berani lagi berhenti di spot-spot snorkling yang tadinya akan didatangi.  Kami segera kembali ke Desa Sumur, menyudahi acara hujan-hujanan di Ujung Kulon…

=============

Thanks to : Wied, Syifa, Mona, Devy, JJ, Anne, Fita, Rina, DhYan, Mbak Dini, Mbak Wati, Dida, Danang, Tasnim, Azhari

=============

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s