Luar biasa memang perjuangan manusia untuk tetap bertahan hidup. Berdagang nasi uduk dan gorengan hingga hingga ke Puncak Gunung Gede pun dilakoni. Mendaki gunung untuk mereka bukan hanya sekedar bertualang di alam bebas, melainkan untuk HIDUP.

Para pejuang kehidupan itu tidak gentar dengan terjalnya jalur pendakian Gunung Putri.  Saya yakin sekali, mereka itu bisa mengalahkan pendaki-pendaki kawakan.  Para pejuang kehidupan itu juga sekaligus menjadi seseorang yang menampar “kecemenan” pendaki gadungan, yang setiap 5 langkah harus berhenti dan beristirahat sambil terus bertanya “masih jauh kah ???”.  Para pejuang kehidupan itu juga menjadi dewa penolong pendaki-pendaki cemen seperti kami, yang hampir saban weekend mencoba kekuatan diri merambah sang gunung.

=========

Mei-2009

Jalur Mendaki Tiada Henti di Gunung Putri

Coba saja, setiap weekend (misalnya Jumat malam) kalau Anda kebetulan sedang berada di Terminal Kampung Rambutan, lalu melihat segerombolan atau beberapa gerombolan anak-anak muda (cewek-cowok) dengan backpack besar di punggung, kebanyakan dari mereka pasti akan mendaki Gunung Gede Pangrango, atau tetangganya, Gunung Salak.  Dandananan mereka serupa : kaos oblong, celana kargo (pendek ataupun panjang), bandana atau topi atau kupluk, sepatu atau sendal gunung.  Langkah mereka santai tapi pasti (entah cuma gaya atau memang benar-benar tau pasti arah hidupnya).  Biasanya ramai sendiri dengan kelompoknya, seakan-akan Terminal Kampung Rambutan itu, dan dunia disekitarnya, adalah miliknya.  Kalau kebetulan sedang sepi penumpang, mereka akan jadi rebutan para kernet-sopir bis-bis yang akan melewati Puncak (Cipanas-Cianjur), kalau sedang ramai penumpang, mereka tidak akan dilirik, karena bawaannya yang besar-besar memenuhi bagasi, dan karena tujuan jarak dekat, yang artinya ongkosnya cekak….!!!!

Saya setiap kali melihat mereka dan sedang tidak memiliki rencana naik gunung manapun, selalu merasa iri…., sekaligus teringat dengan pengalaman serupa beberapa tahun yang lalu, ketika bersama 16 orang lainnya bertujuan sama dengan mereka, yaitu mendaki Gunung Gede.  Bis yang kami naiki seketika penuh ketika kami naik dan seketika pula kosong ketika kami semua turun di pertigaan Cibodas-Cimacan (Kab. Cianjur).  Hujan rintik-rintik dan udara dingin pegunungan  menyambut kami.  Dari sana kami mencarter angkot menuju ke Gunung Putri.  Malam sudah sangat larut, sudah hampir jam 12 malam.

Kami memulai pendakian sekitar jam 2 dini hari.  Saya tentu saja menyewa porter untuk membawa barang bawaan saya yang untuk pendaki laki-laki sihh.. tidak seberapa.  Yahhh…hitung-hitung berbagi rejeki dengan orang lain tohhh..???  Mereka mendapat tambahan pendapatan, dan saya bisa melenggang bersama daypack kecil.

Hujan rintik-rintik menemani awal pendakian kami.  Siluet sinar head-lamp dan lampu senter genggam, berkelebatan menyapu jalur pendakian dan ladang sayuran milik penduduk setempat.  Selepas itu, kami memasuki jalur menanjak dalam hutan hujan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang lebat.  Bebatuan dan akar pepohonan bertaburan dimana-mana. Uap-uap napas yang ngos-ngosan tersapu angin gunung yang dingin.

Jalur menanjak terus menghajar kami tanpa ampun.  Gerombolan menjadi terpisah-pisah sesuai dengan kecepatan langkahnya masing-masing, tapi tidak pernah sendirian, TIDAK BOLEH SENDIRIAN.  Badan saya yang lagi “enak” dan sudah ketemu ritme langkah yang juga “enak”, dan yang digembol juga yang enak-enak, menjadikan saya ada di kelompok depan.

Semburat cahaya fajar tidak mampu menembus pekatnya kabut.  Hanya bayang-bayang pohon samar-samar mulai jelas dilatari putihnya kabut pagi.  Kira-kira jam 7 pagi kami baru sampai di POS-4, beristirahat sejenak disana, masih ada 1 POS terakhir yang harus kami capai.

Huhhh….pendakian panjang dengan rute yang semakin terjal dan rumit dari POS-4 ke POS-5 seakan tiada akhir.   Pertanyaan keramat seperti : “Masih jauh kahh ???”, “Berapa lama lagi ???” sudah semakin sering keluar dari mulut kami, dan dijawab dengan pernyataan “kamuflase” berupa : “Udah deket kok…”, “Sebentar lagi…”   Huhhh….kami cuma saling menyeringai menyadarai kekonyolan pertanyaan dan jawaban-jawaban itu, disela-sela napas megap-megap kelelahan.

Kami merasa lebih konyol lagi ketika berpapasan dengan para penjual nasi uduk yang SUDAH turun lagi dari Alun-alun Surya Kencana, spot perkemahan sebelum puncak Gede.  Ya, rupanya memang begitulah kondisinya kalau week-end tiba dan para pendaki berdatangan meramaikan Surya Kencana.  Penduduk penjual nasi uduk dan gorengan akan mendaki DENGAN SANGAT CEPAT sejak dini hari untuk menjajakan barang dagangannya di puncak gunung, membangunkan para pendaki dari satu tenda ke tenda lainnya.  Hampir selalu seperti itu setiap weekend.  Kami yang sudah kelaparan lagi, menyikat semua sisa nasi uduk dingin yang tidak terjual di puncak tadi.

Karena kebanyakan berhenti disana sini, kami sampai di Alun-alun Surya Kencana kira-kira jam 10 pagi.  Terlalu lama untuk ukuran standard pendakian.  Tak apalah… yang penting heppy ^_^

Nasi Uduk Surya Kencana

Dataran alun-alun Surya Kencana membentang dari Timur ke Barat, dipenuhi rumput-rumput kecoklatan dan rumpun-rumpun bunga edelwies berwarna putih.  Konon menurut sejarah Kerajaan Pajajaran, ini adalah tempat pelarian Prabu Siliwangi ketika melarikan diri dari istananya akibat serbuan dari anak sulungnya sendiri yang bertujuan untuk meng-Islamkan seluruh Kerajaan Pajajaran.  Prabu Siliwangi beserta sekelompok tentara kerajaan yang menolak masuk Islam dan tetap dengan kepercayaan nenek moyang “Sunda Wiwitan”, kemudian mengungsi ke gunung ini.  Dan di sini, di alun-alun Surya Kencana ini, Prabu Siliwangi yang bijaksana memberikan 4 pilihan kepada para tentara pengikutnya.  Pilihan ke Barat akan memberikan konsekwensi berupa keterkucilan dari masyarakat karena mempertahankan kepercayaan Sunda Wiwitan, menjadi cikal bakal Suku Baduy di Banten.  Pilihan ke Utara, akan memberikan kejayaan dan kemakmuran, seperti Kerajaan Cirebon dan Jayakarta.  Pilihan ke selatan akan memberikan kerajaan baru di Sunda.  Sedangkan ke Timur akan tergilas kerajaan-kerajaan dari Timur, saat itu ada kekuatan Majapahit.

Kira-kira itu yang saya masih ingat dari sebuah buku fiksi sejarah Kerajaan Pajajaran.  Saya memandang sekeliling alun-alun yang panjang ini.  Katanya, disaat-saat tertentu, pendaki-pendaki tertentu sering melihat penampakan serupa prajurit-prajurit kerajaan….mmmm….entahlahh..

Kami mendirikan tenda di ceruk memanjang yang ada di tengah alun-alun Surya Kencana.  Mata air jernih segar, mengalir di depan tenda-tenda kami.  Sudah banyak tenda-tenda pendaki lain yang didirikan disana-sini.  Acara memasak sore-sore dan acara menanti sunset di ujung barat alun-alun, ditengah padang edelweis mengisi akhir hari yang melelahkan, sebelum memasuki malam yang sangat dingin.  Berlapis-lapis baju dan jacket serta sleeping bag, masih kuranng ampuh untuk mengusir hawa dingin menusuk tulang.  Kami bangun tertidur dan terbangun lagi berulang-ulang dengan gigi bergemeletuk kedinginan.

Ketika rasanya baru sesaat bisa tidur lelap di penghujung malam, sayup-sayup teriakan tukang nasi uduk dan gorengan seperti datang sayup-sayup dari dalam mimpi.   “Mbak…mbak…banguuun…sudah pagi.., sarapan dulu Mbak…, nasi udukk.. gorengan…., masih hangat”.. begitu katanya berulang-ulang.  Oalaaahhhh…. :p

Beberapa dari kami bangun dengan giat untuk mengejar sunrise, yang sayangnya agak sedikit tertutup kabut tebal.  Pagi yang cerah, langit biru terang.  Puncak Gunung Gede menunggu kami di sebelah kanan.  Berpendar kekuningan dihujani cahaya matahari pagi.

Menurut teman-teman yang sudah sering mendaki Gunung Gede dan berkemah disini, katanya tadi malam adalah malam paling dingin yang pernah mereka rasakan selama ini.

Rame sekaleee

Jarak dari Surya Kencana memang sudah tidak terlalu jauh.  Tapi…ya ampuunnn…ramai sekali yang mendaki, serasa di Gunung Tangkuban Perahu Saja jadinya.  View di bibir tebing kawah Gunung Gede sedang tidak terlalu bagus, kabut tebal meghalangi pemandangan.  Katanya seharusnya dari sini dapat melihat jelas Puncak Pangrango.  Tapi saat itu, sama sekali tidak tampak apa-apa.  Semuanya putih karena kabut.

Saat turun gunung, kami mengambil jalur berbeda, yaitu turun lewat jalur Cipanas.  Berbaris satu-satu meniti jalur tepian tebing kawah yang diberi  pengaman.  Huhh…ramai sekali jalur ini.  Medannya yang tidak terlalu terjal, menjadikan jalur Cibodas sebagai jalur favorit pendakian Gunung Gede.  Dan unik, karena harus melewati sungai air panas dan tebing vertikal yang sangat menantang, yang disebut “tebing setan”.

Saya yang tidak tahu bahwa ada jalur pilihan yang lebih landai tapi memutar, sambil dengan lutut dan tangan gemetar tertatih-tatih menuruni tebing setan sambil berpegang-erat-erat pada tali tambang pengaman.  Untunglah selamat sampai dibawah.

============================

Thanks to seluruh anggota gerombolan : Danang (Mr. TL), Mas Bayu, Kang Dhani, Mas Edo, Mas Eko, Tasnim, Sulis, Andreas, Endi, Dwi, Memed, Ares, (siapa lagi yaa ??).

And to ladies trekker : Yani, Fitri, Suci, Dhyan

Salah satu kontestan pemenang dalam lomba adventure journal   http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/gunung-gede-nasi-uduk-surken/  Oleh : Dian Sundari

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s