Lebih Tinggi dari Puncak Ceremai

Posted: September 24, 2012 in jawa, Jawa Barat
Tags: , , , , ,
22/12/2011

Pendakian Gunung Ceremai (kata Wikipedia nama betulnya begitu, tapi jadi lebih sering disebut dengan nama Ciremai) menjadi suatu pengalaman mendaki gunung yang paling menyenangkan bagi saya. Bagaimana tidak…., gembolan dibawakan porter, badan sedang fit, cuaca cerah ceria bertabur berjuta bintang, dan bersama gerombolan pendaki sungguhan yang jempolan serta tim “hora-hore” yang “luar biasa”…… Hingga sewaktu di puncak, mau saja ketika ditawari “foto loncat” walaupun saat itu lutut masih gemetaran akibat pendakian tadi malam dan betis berasa “berkonde” alias menggempal dan linu-linu.

============

Agustus-2009

============

Ada 2 rute utama untuk mendaki Gunung Ciremai, yang pertama adalah jalur Linggarjati (start dari Desa Linggarjati – Kuningan), dan yang kedua adalah jalur Apuy (start dari Desa Apuy – Majalengka).

Gunung Ciremai memang merupakan batas wilayah 3 kabupaten : Cirebon, Kuningan, dan Majalengka.

Kami mengambil jalur Apuy, yang katanya lebih pendek, tapi lebih terjal.

Pendakian dimulai dimulai dari Pos-1 (dikenal dengan blok Arban), sekitar lewat tengah hari.  Rute awal berupa kebun-kebun sayuran beraneka ragam, kami yang iseng sempat “mengambil tanpa ijin” 2 buah kol untuk dimasak di gunung nanti :p

Hutan Ceremai nan Angker

Perasaan mencekam menyergap kami begitu memasuki hutan Gunung Ceremai yang banyak dikabarkan “angker”.  Sebelum berjalan lebih jauh lagi ke dalam hutan, kami berkumpul untuk berdoa, dan ditekankan benar-benar oleh Anto yang kami daulat sebagai PaKetu alias ketua gerombolan, agar kami tetap dalam barisan, tidak boleh mencar sendiri-sendiri, dan harus menjaga sikap serta ucap.  Jadinya…., gerombolan yang sebenarnya tidak bisa diam itu, kali ini menjadi menjadi “sedikit” pendiam.  Kami berjalan dalam senyap selama beberapa lama, menembus hutan rimbun yang remang-remang karena cahaya matahari sore tidak mampu menembus rapatnya dedaunan.  Dan rasanya tak tertahankan, sepertinya malah tambah mencekam perasaan.  Obrolan-obrolan dan canda ringan akhirnya terdengar kembali.

Empat puluh lima menit kemudian kami sampai di Pos-2, disini ada tembokan untuk duduk-duduk.  Satu jam selanjutnya tiba di POS-3, istirahat agak lama dulu di sini.  Pos-3 ke Pos-4 ditempuh selama kira-kira 45 menit, masih dalam hutan lebat.  Pos-5 dicapai menjelang maghrib, kecepatan pendakian semakin menurun karena rute yang semakin menanjak jika dibandingkan rute sebelumnya dan fisik kami yang semakin drop karena trekking setengah harian ini, ditambah lagi kurang tidur selama perjalanan Jakarta – Majalengka semalam.

Merambah Jalur Terjal  di Heningnya Malam

Tapi rute terjal “sesungguhnya” ada di hadapan. Hari sudah semakin malam, hutan sudah kami lalui, pohon-pohon tinggi sekarang sudah semakin berkurang, digantikan pohon perdu pendek. Saya tetap berjalan di kelompok depan, bersama 2 teman saya, asyik mengobrol dan bercanda bersama kedua porter yang kami sewa dari Desa Apuy. Kami bertiga berjalan berselang seling, karena ada salah seorang porter yang tidak membawa lampu senter. Jalur terjal menanjak semakin membuat dada sesak, tapi obrolan dan candaan bersama kedua porter membuat pendakian menjadi “terasa” lebih ringan.  Bintang-bintang diatas kepala yang entah berapa juta banyaknya itu, berkerlap kerlip di gelapnya langit malam. Dibalik punggung kami, terhampar pemandangan kerlap kerlip lampu-lampu Kota Majalengka.

Seringkali kami beristirahat duduk dalam hening menghadap jalur yang baru saja kami lalui, menikmati keindahan malam dalam diam, sambil saling berbagi cemilan dan minuman. Sepertinya kami ber-5 cukup jauh meninggalkan teman-teman lainnya di bawah sana. Salah satu Mamang Porter memutuskan untuk menunggu teman-teman yang masih dibelakang. Kadang-kadang sinar senternya terlihat samar-samar dan seruannya terdengar sayup-sayup.

Seruan balasan malah terdengar dari arah kanan jalur pendakian (ketika menghadap puncak), kelebatan sinar senter juga beberapa kali terlihat.  Kata Mamang Porter, itu adalah jalur Linggarjati,  sebentar lagi didepan sana kedua jalur ini akan bertemu.

Jalur menanjak semakin terjal. Rumpun-rumpun pohon Bunga Edelwis sudah sejak tadi menghiasi sisi kiri-kanan jalur. Udara semakin dingin menggigit tulang, kadang-kadang tercium bau belerang samar-samar, dihembuskan angin gunung. Disuatu titik, kami melewati tugu peringatan seorang pendaki yang tewas bertahun-tahun lalu. Ini mengingatkan kami untuk lebih berwaspada.

Sekitar jam 9 malam, kami ber-5 sampai di Pos-6, Goa Wallet, di ketinggian 2950 MDPL. Di sana sudah terdapat beberapa tenda, tapi masih ada lahan lumayan datar untuk kedua tenda yang akan kami dirikan. Api unggun berkobar-kobar menarik saya mendekat untuk mengusir dingin yang semakin menggila. Pendaki-pendaki senior dan porter-porter yang mereka sewa yang sedang minum kopi diseputar api unggun, langsung menawarkan kopi hangatnya yang tentu saja tanpa sungkan saya terima. Rupanya mereka dari Jakarta juga, dan sudah disini sejak kemarin.

Sambil menahan dingin dan lelah, teman-teman mulai mendirikan salah satu tenda, karena yang satunya ternyata di bawa entah oleh siapa yang masih tertinggal di jalur belakang sana. Saya membersihkan area untuk tenda satunya dari batu-batu yang banyak berserakan. Tak berapa lama seorang teman lagi berhasil sampai dilokasi, megap-megap kehabisan napas dan kelelahan. Perempuan hebat…, saya pasti tidak akan sanggup mendaki sambil membopong keril seberat itu. Teman-teman lainnya satu per satu berdatangan, dalam jarak waktu yang terpaut lumayan jauh satu sama lainnya, masing-masing dengan cerita pengalaman berbeda-beda.

Kedua tenda sudah didirikan. Kami tidur berdesakan seperti ikan asin siap expor :p

Horeee…sampai puncak…!!!

Esok paginya, niat hunting sunrise di puncak Gunung Ceremai masih sebatas niat, kami semua masih asik bergelung dalam kantung tidur. Baru sekitar jam 7an satu per satu berhasil memaksa diri sendiri keluar dari dalam kepompong hangat. Karena lapar tentu saja…:D

Sarapan sederhana di gunung selalu lebih nikmat dibandingkan dimanapun….  Para pemalas seperti kami, dengan senang hati menyerbu sarapan enak nan hangat buatan Anto, Riris, dan Mbak Rahmi😀

Panasaran dengan kondisi puncak Gunung Ciremai yang hanya tinggal “naik sedikit” lagi dari sini, saya mengajak sedikit memaksa salah satu teman, Obby, untuk naik bersama-sama. Merayap perlahan-lahan mendaki jalur terjal berbatu-batu. Pilih sana.., pilih sini…, tapi tak banyak yang bisa jadi pilihan untuk dipijak.  Pegangan sana…, pegangan sini… sambil sesekali tengadah, mengecek masih berapa jauh lagi kami dari puncak. Pendaki-pendaki lain terlihat bertenggeran di tepian kawah, terlihat sebagai siluet-siluet karena timur ternyata ada di bagian gunung seberang sana, padahal semalam saya pikir kami naik memunggungi arah timur.

Lama-lama akhirnya kami berdua sampai juga ditepi kawah, bergabung dengan banyaaakkk sekali pendaki yang rupanya akan melaksanakan upacara peringatan tujuhbelasan besok disini. Dan, masih banyak lagi yang akan berdatangan nantinya. Sepertinya banyak pendaki dari Jabodetabek, mereka-mereka yang menyukai alam bebas dan bosan dengan kota…

Kawahnya sangat dalam ternyata, seperti mulut raksasa yang menganga lebar ke langit. Bayang-bayang gunung Ceremai seperti kerucut raksasa hitam. Dari atap Majalengka-Kuningan-Cirebon ini bisa terlihat puncak-puncak gunung lainnya seperti Gunung Gede Pangrango di Cianjur-Bogor, Gunung Slamet di Jateng, dan Gunung Papandayan serta Cikuray di Garut.  Dibagian kawah sisi timur, ada sisi kawah yang lebih tinggi posisinya, dan katanya itulah puncak sebenarnya dari gunung ini.

Thanks Obby for the photo [ http://www.facebook.com/sobihan ]

Saya tidak kesana, disini pun sudah lebih dari cukup, sudah merupakan pencapaian tersendiri yang memerlukan perjuangan dan keteguhan hati yang luar biasa.

Lari Sprint Express Menembus Hutan Ceremai

Saatnya turun gunung, ini sama sekali bukan perkara gampang..  Lutut rasanya gemetar… Cuma turun dari puncak menuju kawasan tenda saja, bingung pilih jalannya… mana yang kokoh dan aman… mana yang tidak. Apalagi menempuh jalur panjang dari POS-6 hingga POS-1 nanti.

Tapi ternyata, setelah menemukan ritme langkah yang enak dan cocok, saya jadi sulit berhenti. Pos-6 ke Pos-5 kami masih iring-iringan bersama, tapi selepas Pos-5 hingga Pos-1 saya tidak bisa dihentikan. Ketika tersadar bahwa saya sudah terlalu cepat turun dan akhirnya celingukan sendirian di dalam hutan Ceremai, mau tak mau saya harus tetap lanjut berlari…, “ogah banget” kalau harus berhenti lama menunggu yang lain di dalam hutan lebat gelap dan angker ini. Bisa-bisa saya nanti disapa “para penunggu” hutan Ceremai hiyyy…..

Saat saya berlari menembus hutan Ceremai dan tidak tahu akan bertemu apa dikelokan dibalik pohon-pohon besar itu, saya jadi mengerti untuk apa para pendaki lain ada yang memakai “genta” berklonengan bunyinya ketika sedang bergerak.  Seperti sapi atau kerbau saja, pertamanya saya pikir. Padahal, “klonengan” itu ternyata sangat penting, untuk menandakan lokasi kita pada pendaki lain. Sebab kalau bunyi “grosakan” daun-daunan yang terinjak kan, bisa saja mungkin ada binatang buas…

Sesekali saya berpapasan dengan para pendaki yang baru naik, dan selalu saya tanyakan pertanyaan yang sama “ada orang yang sedang turun juga ngga didepan saya??? Jaraknya jauh ngga dari saya ???”. Saya berusaha mengejar pendaki dari kelompok lain yang turun duluan…, yang penting saya TIDAK SENDIRI..!!!  Tapi ternyata saya tidak berhasil mengejar seorangpun….  Sempat beristirahat sejenak di POS-2 karena disitu ada 2 orang pendaki lain yang baru saja naik sedang beristirahat. Dan saya langsung ngibrit lari lagi sendirian, begitu mereka melanjutkan pendakian.

Dititik itulah saya serasa mendengar sesorang memanggil nama saya dari arah belakang, suaranya seperti suara Erin teman saya, jadi dengan gembira saya balas menyahut dan menengok ke belakang, tapi tidak ada siapa-siapa disana….. Sepersekian detik saya bengong menengok kearah belakang yang sepi dan gelap tanpa seorangpun disitu, sepersekian detik itupula kaki saya terpeleset menginjak batang bulat menggelinding, dan gedubraakkkk….. saya hilang keseimbangan dan jatuh dengan pantat lebih dulu.

Tanpa sempat merasakan sakit apa-apa, saya langsung bangun dan berlari ngibrit menuruni rute hutan terakhir…. Tak sudi saya berlama-lama sendirian di hutan….

Lega rasanya ketika akhirnya berhasil mencapai Pos-1 lagi. Banyak sekali orang disini sekarang… Bahkan ada warung gorengan dan kopi serta minuman yang buka lapak. Petugas-petugas jagawana sedang sibuk memeriksa pendaki-pendaki remaja yang baru turun gunung, pendaki yang kedapatan membawa bunga edelweis dimarahi habis-habisan, dan dihukum push-up seratus kali.

Saya menonton semuanya itu sambil duduk selonjoran di rumput…, maunya sihh sambil tiduran :p

Lama juga saya menunggu kemunculan teman-teman, sudah habis gorengan beberapa biji, tehh botol 2 botol, dah ngobrol ngalor ngidul dengan si Bapak warung dan salah satu Petugas Jagawana yang heran kenapa saya tiba-tiba muncul sendirian dari dalam hutan.

Rombongan mereka akhirnya sampai juga disini, memperamai situasi.  Dari sini kami masih harus naik pick-up turun gunung hingga desa Apuy, melalui jalur kemarin yang “rinjul” bukan main.  Masih sangat panjang jalan pulang…., tapi hati kami benar-benar senang dengan segala pengalaman manis-pahit-konyol Pendakian Ceremai.

============

Thanks to tim pendaki jempolan : Anto “Koboi Insap”, Riris, Mbak Rahmi, Fita

Thanks to tim hora-hore : Mak Risda, Erin, Obby

Special thanks to : Obby buat foto loncatnya dan foto nangkring di tebing kawahnya ^_^

===============

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s