20/12/2011
Oleh : Dian Sundari

Benar-benar tidak enak rasanya mabok laut itu😦

Puyeng dan bawaannya kaya orang yang lagi ngidam (walaupun yang ini mah belum pernah merasakan :p). Alhasil, liburan jadi tidak menyenangkan. Meski begitu, liburan ke Pulau Tunda, menjadi salah satu liburan yang momen-momennya tidak akan terlupa.

Juli-2007

Pelabuhan Karang Antu

Pulau Tunda dapat diakses dengan menggunakan perahu nelayan dari Dermaga Karang Antu, dekat Petilasan Kerajaan Banten Lama.  Jika dari Jakarta, harus keluar di pintu tol Cilegon Timur, lalu mengambil arah ke wilayah Keramat Watu, terus ke utara hingga ke tepi laut.

Dermaga Karang Antu, seperti halnya dermaga-dermaga rakyat di negri ini, terlihat kotor dan semrawut.  Perahu-perahu nelayan terangguk-angguk diayun gelombang di perairannya yang keruh kecoklatan. Tak terlihat adanya sisa kejayaan Pelabuhan Banten Lama yang menurut sejarah adalah sebuah pelabuhan besar, andalan Kerajaan Banten Lama (dan Kerajaan Sunda) yang bisa disejajarkan dengan Malaka dan Makassar.  Tome Pires, adalah penjelajah Portugis yang pernah menyebutkan tentang pelabuhan ini pada tahun 1513.   Pada awal abad ke-17 Masehi, Pelabuhan Banten merupakan salah satu pusat perniagaan penting dalam jalur perniagaan antar negara di Asia.

Kesultanan Banten sendiri didirikan oleh Maulana Hasanuddin (1527), kerajaan ini mengalami puncak kejayaan pada saat diperintah oleh anaknya, yaitu Maulana Yusuf.  Kerajaan besar ini kemudian hancur akibat penjajahan VOC, kejayaan Pelabuhan Banten Lama pun turut redup, hingga kondisinya semengenaskan seperti sekarang.  Nyaris hanya tinggal hantu, mungkin itu sebabnya pelabuhan ini sekarang dikenal pelabuhan Karang Antu :-p

Tentang Kerajaan Banten : id.wikipedia.org/wiki/Banten

 

 

Snorkling sambil Mabuk Laut

Membutuhkan waktu kira-kira 2 jam menumpangi perahu nelayan dari Pelabuhan Karang Antu ke Pulau Tunda.  Ombak dan kondisi badan saya masih bersahabat saat berangkat itu.  Masih bisa menikmati pemandangan ke arah gugusan pulau-pulau kecil yang dilewati.  Selebihnya saya hanya merem melek terkantuk-kantuk dibuai alunan gelombang dan semilir angin laut.

Tepat tengah hari kami merapat di dermaga Pulau Tunda yang terbuat dari beton.  Pulau ini hanya terdiri atas 1 desa saja yaitu Desa Wargasara, yang terbagi menjadi 2 dusun yakni Kampung Barat dan Kampung Timur.  Kami menuju rumah salah satu warga, yaitu Mas Ocid, yang kami jadikan sebagai base-camp.  Rumahnya tidak jauh dari dermaga, terbuat dari tembok seperti rumah-rumah yang umum kita jumpai dimana-mana.  Jalan kecil alias gang terbuat dari beton, menghubungkan rumah-rumah warga.  Mata pencaharian penduduknya kebanyakan nelayan kecil, atau buruh di kota.  Sektor pariwisata belum atau bahkan “tidak” menjadi salahsatu alternatif mata pencaharian.

Kami dipuaskan dengan menu makan siang berupa ikan bakar besar-besar dan sambal yang bisa bikin mata melotot kembali.  Siap untuk menikmati kegiatan utama liburan di pulau yaitu snokling…

Kami berperahu kembali menuju snorkling spot yang jaraknya tidak terlalu jauh, kira-kira 10 menitan ke arah barat.  Satu persatu kami menceburkan diri ke laut, jaket-jaket pelampung berwarna orange seketika memberi warna pada birunya laut.  Kecipak kecibung sirip-sirip fin dan kayuhan tangan para pen-snorkeler amatair membuat ikan-ikan kabur semrawutan.  Arusnya lumayan kencang ternyata, menyeret-nyeret kami ke timur.

Terumbu karang warna-warni dan ikan-ikan laut beraneka bentuk dan warna yang wara-wiri di bawah kami, sering membuat kami lupa diri, tak terasa sudah terseret arus menjauhi perahu, lelah sekali rasanya melawan arus untuk kembali.  Sering kali juga arus menyeret kami ke laut yang lebih dangkal.  Terumbu-terumbu karang sepertinya hanya berjarak beberapa centimeter saja dari badan, jika menyayat kulit rasanya perih dan gatal.  Tapi air laut dangkal rasanya lebih hangat, membuat saya betah.   Sedangkan air laut yang lebih dalam, rasanya jauh lebih dingin, dan membuat saya pusing karena kedalamannya.

Ternyata rasa pusing tidak mau hilang, mungkin dipicu oleh kombinasi antara arus yang mengombang ambing badan serta suhu dingin air laut dalam.  Saya tidak tahan lagi, saya mabuk laut.., saya harus segera mengeringkan badan dan beristirahat.  Wah…sayang sekali, padahal kami baru saja mulai, masih ada lagi spot-spot snorkling yang rencananya akan kami singgahi. Tapi saya senang memperhatikan tingkah polah teman-teman bermain-main di laut.

Satu lagi yang selalu kami tunggu selagi melaut adalah fenomena sunset yang luar biasa.  Walaupun tidak sempat untuk menikmati sunset di lokasi terbaik, kami cukup puas menikmatinya di sekitar dermaga.  Yang mengganggu keasyikan itu hanyalah nyamuk yang luar biasa banyak jumlahnya.  Malam di pulau tropis selalu adalah masa berperang dengan nyamuk.

Listrik di pulau ini disediakan oleh pembangkit listrik tenaga surya, setiap rumah memiliki alat tersebut.  Tenaga listrik yg diperoleh cukup untuk menyalakan tv/radio n penerangan seadanya tapi tidak untuk jangka waktu lama.  Jadi sebagian penerangan di rumah yg kami tempati masih memakai lampu minyak alias lampu tempel.

Sunrise esok harinya, sayangnya tidak terlalu mengesankan karena langit mendung berawan, bahkan sedikit gerimis.  Ternyata di dekat dermaga, lautnya sedang surut, gundukan terumbu karang yang ditinggalkan air laut, terbentang melengkung menghiasi pantai yang ditumbuhi pohon mangrove.  Kubangan-kubangan air laut diantara karang-karang, kadang dihuni ikan mungil cantik yang lupa pulang ke laut.

Pagi inipun kami masih meneruskan kegiatan snorkling, di tempat berbeda tentu saja.  Saya yang agak baikan, turut pula mengintip-intip ikan-ikan.  Hari ini jarak pandang kurang bagus, karena mendung dan arusnya juga terasa lebih kuat.  Ternyata kondisi mabuk laut saya belum benar-benar pergi, membuat saya sekali lagi terpaksa meringkuk diatas perahu.  Hari ini saya ada temannya, 2 orang…, yang sama-sama masuk angin mabok laut..^_^

Itu adalah acara snorkling terakhir, kami sudah harus berkemas untuk balik ke daratan.  Jam 15:30 kami semua sudah diperahu kembali menyusuri gelombang untuk kembali ke daratan.  Ternyata seharian ini cuaca terus menerus mendung, matahari muncul cuma sebentar saja.

 

Kejadian Mendebarkan Di Akhir Perjalanan 

Suatu kejadian yang sangat mendebarkan tiba-tiba menimpa perahu kami di tengah laut, kira-kira di posisi ¾ perjalanan pulang.  Magrib-magrib tiba-tiba mesin perahu tersedak-sedak dan akhirnya berhenti total.  Padahal tujuan kami hanya sebentar lagi, kerlap kerlip lampu di Pelabuhan Karang Antu bahkan sudah kelihatan.  Hening seketika, membuat kami semua langsung terbangun, saling menatap kebungungan dan bertanya-tanya satu sama lain.  Salah satu teman, bahkan langsung memakai jaket pelampung karena takut perahunya tenggelam.  Juru mudi minta salah satu ABK untuk turun ke laut guna memeriksa kapal, hasil pemeriksaan itu cukup fatal, yaitu ternyata baling-baling perahu copot dan hilang, tidak bisa dicari ditengah gelapnya laut yang semakin gulita.

Jangkar segera dilepas untuk mencegah perahu agar tidak terbawa arus.  Untungnya sudah ada sinyal handphone yang sudah bisa tertangkap, jadi Bapak perahu berhasil menghubungi rekannya untuk meminta pertolongan.

Selama kurang lebih 1 jam, kami terombang ambing tanpa daya di lautan, lampu petromak sudah dinyalakan di tengah perahu.   Posisi kami kata Bapak Perahu dekat dengan Pulo Pamujan Kecil dan Pamujan Besar yang ada di bagian barat.  Katanya lagi, kedua pulau itu adalah tempat orang “muja-muja” (semacam pemujaan terhadap kekuatan supra natural seperti itu), dan lumayan angker katanya hiyyyy…. Banyak kecelakaan-kecelakaan perahu yang tidak jelas penyebabnya di sekitar sini.  Membuat kami semakin takut saja, mana hari sudah semakin gelap lagi, memasuki waktu maghrib…., saat-saat yang konon kabarnya disukai para dedemit hiyyyy….amit-amit….

Untuk meredakan dagdigdug jantung dan panik, teman-teman berinisiatif untuk menyalakan mp3 player dengan speaker dock, hingga musiknya mengusir kesunyian lautan, sementara teman lainnya mengeluarkan kartu remi.  Tawa candapun kembali mengisi perahu, kadang-kadang candaan  kami sudah nyerempet-nyerempet hal-hal gaib yang “tabu” untuk disebut-sebut, terutama disaat-saat genting kaya sekarang.  Berulang kali Bapak Perahu harus mengingatkan dengan ber- husss…husss…

Kami juga dikejutkan dengan ikan yang tiba-tiba meloncat keatas perahu…, mungkin itu tanda keberuntungan…  Tidak lama kemudian  dari arah belakang terdengar derungan suara kapal dan benarlah rescue boat datang ….syukur…syukuurr….  Dengan diikat tali tambang, perahu kami diderek hingga Pelabuhan Karang Antu.

Terimakasih Tuhan karena kami semua telah selamat.  Tapi sungguh kasihan Bapak Perahu karena harus membeli baling-baling baru yang harganya jutaan.  Untuk meringankan bebannya, kami semua bersepakat untuk patungan, semoga bisa sebagai penambah biaya.

—-ooooooo—-

Thanks to : Ridwan, mas Ocid n family, mas Indra, Bapak si empunya perahu n kru,  Pak Huda, Alida, Darwin, Dewi, Dini, Endro, Erni, Lili, Riko,  Rika, Riri, Risda, papa+mamanya+Sekar+AG

Comments
  1. bisa minta contact orang pulau tunda nya kah ?

  2. joe (@kojimashou) :
    ini ada link asli orang pulau tunda
    wisatabaharipulautunda.com
    Nama kontaknya firman. di website itu ada facebooknya juga.
    Terima Kasih.

  3. Ocit says:

    ini Ocit dari Pulo Tunda. ocit.tico1@gmail.com
    ocit UMM fb.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s