Tasik : Uka-uka Kawah Galunggung dan Pantai Sindangkerta

Posted: September 24, 2012 in jawa, Jawa Barat
Tags: , , , , , ,
21/12/2011

Ini adalah salah satu weekend hebat bersama para gerombolan hebat… tanpa hujan tanpa macet, yang ada hanya udara yang bersih, kabut gunung yang sejuk, sinar matahari yang cerah, laut yang biru sebiru-birunya, ombak yang berdebur-debur, pemandangan yang supertakuler, kesenangan dan kegembiraan bersama para gerombolan, serta uka-uka……. yang bahkan ikut hingga ke Jakarta, tertangkap dalam sebuah foto…!!!

=========

16-18 Nov 2007

=========

Uka-Uka Hijau dari Kawah Galunggung

Perjalanan bis Jakarta – Singaparna dimulai sekitar jam sebelasan malam dari Terminal Kampung Rambutan dan tiba sekitar jam 4 subuh di depan Mesjid Agung Singaparna.  Sebagian meneruskan tidur diemperan mesjid, karena tidur yang tak nyenyak di bis tadi gara-gara diganggu mamang penjual buah mangga yang terus saja memaksa-maksa menawarkan mangga nya kepada semua penumpang.

Ketika hari mulai terang tanah, kami melanjutkan perjalanan dengan angkot menuju Galunggung melewati pedesaan khas Sunda yang mana hampir tiap rumahnya memiliki kolam ikan alias balong. Sawah-sawah sudah mulai menghijau kembali setelah sekian bulan kemarau. Matahari pagi tampak mengintip dari celah-celah ranting dan daun. Truk-truk besar pengangkut pasir tampak berjejer di beberapa lokasi penambangan pasir volkano.

Rupanya kami kepagian, posnya masih terkunci, petugasnya belum datang, yang ada cuma tukang ojek dan tukang warung yang baru saja membuka kembali warungnya. Tapi, tak lama kemudian sang petugas datang, memungut uang retribusi.  Rupanya dari Pos Depan ini ke Pos Pendakian, jaraknya masih lumayan jauh, bisa ditempuh dengan berjalan kaki menyusuri jalan aspal kecil berliku, naik mobil (sayangnya angkot tadi sudah pergi), atau naik ojek.  Kami pilih naik ojek karena malas trekking… :p

Pos pendakian juga masih sangat sepi, warung-warung belum ada yang buka.  Disini ada mushalla dan areal parkir yang bisa menampung beberapa motor.  Gunung Galunggung memang sudah dijadikan objek wisata, setelah letusan dahsyatnya di tahun 1982.  Untuk memudahkan wisatawan, telah dibangun tangga beton dari areal ini hingga ke tepi kawah.

Karena tidak ada angkot ataupun ojek yang bisa ditumpangi ( :p ), kami memulai trekking pagi, tidak melewati jalur bertangga beton, melainkan melewati jalan setapak yang ada di samping musholla, supaya lebih alami dan berasa sedang di gunung nya…. Awalnya menanjak cukup terjal, komposisi pasir volkano yang berwarna hitam dan sama sekali tidak mau lengket satu sama lainnya, membuatnya sukar dipijak, tetapi hujan beberapa hari sebelumnya dan embun membuat pasir itu cukup padat di beberapa tempat, hingga cukup kokoh untuk dipijak.  Jalur ini rimbun dinaungi pohon-pohon semak.  Lamat-lamat terdengar gemuruh air terjun, ternyata ada air terjun kecil nun jauh ditebing sebelah kanan. Semakin ke atas, jalurnya semakin terbuka dan pasir volkano hitam legam tampak dimana-mana.

Kira-kira 20 menit kemudian, sampailah kami di bibir kawah yang menganga lebar… katanya luasnya kira-kira 40 Ha.  Entah berapa metrik ton tanah beserta segala isinya terlempar ke udara, katanya lontaran materialnya mencapai ketinggian 25 km.  Abu vulcanik nya menyiram wilayah kabupaten tetangga seperti Ciamis, Garut, dan Majalengka.  Juga menyiram kampung saya, di Kab. Ciamis.  Saat itu semuanya penuh debu, berhari-hari debu turun dari langit, membuat siang menjadi remang-remang bahkan gelap.  Saya ingat sedikit-sedikit tentang kejadian itu, ingat ketika kaki saya terbenam hingga lutut ketika saya nekat keluar ke pekarangan rumah, niatnya untuk membantu nenek saya mencari-cari ayam-ayam peliharaan kami supaya tidak sakit dan mati terkena racun dari debu.

Di dasar kawah tampak danau berwarna hijau muda, hanya separuh areal dasar kawah yang membentuk danau.  Konon kabarnya air danau ini selalu dipantau supaya bebannya tidak melebihi kekuatan dinding kawah, airnya dialirkan ke sungai Cibanjaran dan Cikunir.   Nun jauh diujung sana terlihat saluran pipa air yang merambati dinding terjal terus ke atas, ke arah sumber air yg berupa air terjun kecil.  Di sisi lain dasar kawah yang masih berupa daratan, terdapat bangunan mushalla dan 1 buah rumah penjaga.  Tepat di tepi danau terdapat bangunan warung seperti yang ada di pinggiran atas sini.

Penasaran dengan danau di dasar kawah, kami memutuskan untuk turun. Jalurnya terjal dan cukup sulit dilalui.  Danaunya tampak cukup dalam, dan airnya tidak hangat. Dari dasar sini, dapat terlihat jelas saat-saat kabut turun dan menghilangkan danau dari pandangan. Tapi kabut tidak bertahan lama, karena tak lama kemudian matahari muncul dengan sinar hangat keemasannya…. memberikan efek cermin sempurna untuk sang bukit kembar yang ada di tengah danau, menjadikannya sangat cantik untuk di foto.

Sewaktu sedang mengagumi hasil jepretan kamera yang diambil secara horizontal (landscape) dan iseng-iseng dilihat vertical…., ternyata WALLA…ditemukan fenomena menakjubkan dan sedikit membuat merinding dari si bukit kembar beserta bayangannya masing2…., yaitu membentuk sosok pocong hijau yg menyeringai..hiiiii…..  Ini dia sang uka-uka dari Kawah Gunung Galunggung…!!!

Uka-uka hijau dari Kawah Galunggung ^_^

Uka-uka dari Pantai Sindangkerta

Dari Gunung Galunggung, kami meneruskan perjalanan ke tepi selatan Tasik.  Penasaran dengan Pantai Sindang Kerta, Pantai Cipatujah, dan Pantai Karang Towulan. Perjalanan kesana dari Terminal Indihiang (Tasik) memakan waktu kurang lebih 2 jam.  Semakin ke luar Kota Tasik, jalanan semakin berliku-liku, melewati perkebunan karet , kebun salak, juga melewati beberapa situs bersejarah yg dikeramatkan, seperti Makam Waliyulloh Syech Abdul Muchyi.

Sekitar jam 3 sore kami telah sampai di Wisma Mutiara Sari (milik Pemda Kab. Tasik) di daerah Sindangkerta tepat dibibir pantai, disambut dengan masalah…  Rupanya, Pak Iskak, pengelola wisma, lupa bahwa semua semua kamar telah dipesan oleh Pemda Tasik untuk pelatihan selama 2 pekan, kami pun dialihkan ke Wisma APL yg letaknya tidak jauh dari Wisma Mutiara Sari dan sangat dekat dengan bibir pantai.

Pantai di depan penginapan merupakan pantai berkarang-karang dan sedang sedikit surut. Karang-karangnya ditutupi rumput agar-agar laut berwarna hijau cerah.   Kubangan-kubangan air laut yang terperangkap diantara karang menjadi aquarium alam berisi ikan-ikan kecil, rumput laut, si kaki lima, siput, kerang dan kamiiii… yg tidak tahan lagi untuk menceburkan diri di airnya yang hijau jernih…, membuat ikan-ikan langsung kabur, ngumpet di lubang-lubang karang😀

Tapi sayang, sunset nya tidak terlalu spektakuler karena agak terhalang awan-awan. Malamnya kami berkumpul di serambi, menunggu makan malam yang sore tadi kami pesan. Lama juga kami menunggu, semua snack sudah habis saking kelaperannya. Setelah 2 kali ditelepon, makan malam kami pun tiba, menunya nasi putih + ikan bakar + bumbu kecap + tumis kangkung + lalapan + sambel. Wuaaahhhh…. ikan bakarnya muantaaappp… !!!

Malam ini rencananya kami, akan mengunjungi pantai penangkaran penyu. Dengan dipandu oleh Bapak Petugas Penangkaran Penyu, kami berduyun-duyun menyusuri bibir pantai berbekalkan lampu senter.  Di langit malam yang gulita, tampak bulan sabit dan beberapa bintang.  Sinar bulan sabit lumayan untuk menerangi pantai yang akan kami lalui,  walaupun tidak begitu jelas dan harus berhati-hati dengan karang-karangnya yang tajam.

Laut sedang surut, deburan ombaknya yang tiada henti menemani langkah kami yang berjalan terseok-seok di pasir.  Rasanya lama sekali kami berjalan, kaki masih pegal akibat trekking di Galunggung terasa semakin pegal saja dan sakit terkena karang tajam.  Beberapa kali harus menyebrangi aliran sungai kecil yang bermuara ke laut. Tapi tampaknya belum ada tanda-tanda daerah berpasir halus kesukaan para penyu, yang kami lewati adalah melulu pantai berkarang.

Pertanyaan keramat pun tak tahan lagi dilontarkan “Pak, berapa lama lagi Pak?? Masih jauh ya Pak…???? Berapa kilo lagi sih Pak..???? Tadi kita sudah berjalan berapa kilometer Pak..???” He..he… pertanyaan-pertanyaan keramat itu bertubi-tubi diluncurkan oleh 12 mulut orang kota kecapean yang sudah hampir mogok ditepi pantai.  Jauh memang ternyata jarak yang sudah kami tempuh, ternyata kami sudah berjalan hampir sejauh 2 km, kata Pak Petugas, dan sudah hampir sampai di daerah konservasi penyu.

Tidak berapa lama kami bertemu dengan pemancing ikan yang sedang duduk sendirian di tepi pantai dan tidak sedang memegang gagang kail.  Rupanya, memang tidak bergagang, kailnya cuma berupa tali kenur sangat panjang yang menjulur dari tempatnya duduk hingga ke lautan. Lucunya tali kailnya di lewatkan ke sebuah tiang kayu setinggi kepala dan pangkal tali pancingnya ditindihi bilah pelepah daun kelapa. Katanya kalau dapat ikan besar, tiangnya akan roboh karena talinya tertarik ikan dan pelepah daun kelapanya akan terlempar, sehingga akan membangunkan si pemancing bila dia ketiduran, hmmm…unik dan cerdas !!!

Rupanya lokasi ini sudah berada di daerah penangkaran penyu. Kata petugasnya mungkin kami harus menunggu hingga jam 2 malam, sebab biasanya di jam-jam tersebutlah sang ibu penyu muncul. Hmmmm….malas sekali rasanya kalau harus menunggu hingga jam 2 pagi dan belum tentu pula ada ibu penyu yang akan bertelur !!!

Kami duduk-duduk cukup lama sambil mengobrol dan berfoto-foto, tapi belum ada tanda-tanda adanya penyu yang mendekat.  Dan di situlah sang uka-uka pantai Sindang Kerta muncul, tertangkap di salah satu foto, berkelebat putih tepat diatas kepala-kepala kami yang sedang seru-serunya foto bersama…!!!  Demi melihat itu, kami semua merinding ketakutan, tidak lagi kepingin melihat hasil foto, taupun berfoto-foto lagi.  Bahkan tak lagi berminat menunggu ibu penyu naik ke pantai untuk bertelur.  Kami hanya ingin pergi secepatnya meninggalkan lokasi ini….!!!

Tergesa-gesa kami kembali ke penginapan. Kali ini tidak melewati pantai yang sepi karena takut, melainkan melewati jalan desa yang beraspal.

Oh ya, maaf tak ada foto uka-uka nya, karena tiap kali teman saya mencoba membuka foldernya, pasti selalu terjadi “sesuatu”, sehingga teman saya itu tidak berani lagi mencobanya……

Taman Eden Terpencil di Pantai Karangtawulan

Dengan masih memperbincangkan soal uka-uka semalam, kami berkemas untuk pulang.  Tapi sebelumnya akan mampir dulu di  Pantai Cipatujah dan Pantai Karangtawulan.  Semua barang bawaan kami telah dikumpulkan di serambi bawah, siap menunggu dijemput oleh mobil elf yang kemarin mengantarkan kami.  Sudah jam 8, tapi elf kami belum datang juga, sementara kami sudah kehabisan gaya.

Tak lama elf datang menderu-deru memasuki pekarangan penginapan dengan terburu-buru, seperti banteng hijau yang lari mengejar sang matador, dan langsung disambut sorakan “HUUUUUUU……” dari kami semua.

Sekitar 10 menit bermobil ke arah barat, kami tiba di Pantai Cipatujah.  Pantainya biasa-biasa saja, ombaknya keras menyapu pasir pantai berwarna kecoklatan.  Rupanya Pantai Cipatujah ini masih dalam tahap perbaikan seusai terhantam tsunami.

Kami tidak lama-lama di sini, cuma numpang sarapan, sekaligus membeli nasi bungkus untuk makan siang karena katanya di Pantai Karangtawulan tidak ada warung makan.  Perjalanan dilanjutkan ke arah timur,  melewati tempat penangkaran penyu yang semalam kami kunjungi tanpa hasil, melewati Pantai Pamayangsari tempat para nelayan menambatkan perahu mereka dan ada TPI-nya (tempat pelelangan ikan), kemudian juga melewati pelabuhan alias dermaga baru yang sedang di bangun.

Jalan aspalnya kecil tapi cukup baik kondisinya. Sesekali berpapasan dengan bis kecil jurusan Tasik-Cikalong atau dengan sesama elf.  Melewati 2 jembatan besi yang cukup panjang, salah satunya yang membentang di atas sungai lebar berair hijau yaitu sungai Cimedang, ditepiannya tertambat beberapa perahu kecil, persis seperti di Green Canyon – Cijulang – Ciamis.

Memasuki Kecamatan Cikalong, banyak dijumpai penjual opak bakar, rupanya di sini adalah sentra pengrajin opak bakar. Jadi ingat di daerah Parigi – Cijulang, opaknya enak dan renyah, kalo sudah mencoba 1 tidak akan bisa berhenti sampai 1 kaleng biskuit KhongGuan  yang persegi itu habis. Mungkin opak sini juga sama enaknya…, tapi sayangnya saya tidak sempat mencobanya.

Pantai Karangtawulan sekilas suasananya seperti di Pantai Batu Hiu – Pangandaran. Warung-warung (tutup semua tapinya), mushola, tempat parkir, toilet, gazebo tempat duduk-duduk sambil memandang ke lautan biru di bawah sana, dan menara pandang, semuanya tersedia di sini dan tampak cukup terawat baik, tapi tidak ada pengunjung lain selain kami.  Hanya ada beberapa bagian tangga beton yang hancur, mungkin abrasi atau longsor atau terkena tsunami waktu itu. Pemandangan ke laut lepas yang biru membentang adalah andalan pantai ini.

Karang karangnya yang tajam dan terjal setiap saat dihempas hantaman gelombang laut selatan yang terkenal ganas. Nun jauh di sana ada pulau kecil dan di sebelah timur juga ada pulau kecil lainnya yang disebut Pulau Manuk, dinamakan demikian karena sering dipakai sebagai tempat persinggahan berbagai jenis burung (burung = manuk dalam bahasa Sunda).

Ketika menjelajahi karang-karang yang bertebaran dimana-mana, saya bergidik ngeri setiap kali melihat ombak besar menghantam karang di bawah tebing sana sampai buihnya muncrat tinggi.  Indah tapi mengerikan.

Matahari yang cerah di langit biru sana, memanggang kulit, tapi begitu sampai ditempat teduh dan angin laut yang sejuk berhembus dari sela-sela pohon pandan duri, ahhhh….. nikmatnyaaa…. tak bisa diuraikan dengan kata-kata…, jadi ingin membuka semua pakaian yang terasa panas dan lengket, dan kalau bisa mencopot rambut biar kulit kepala juga….

Kalo melihat sunset di sini, pasti akan sangat luar biasa. Tapi sayang, kami tidak bisa menunggu hingga senja, harus segera pulang .

—–oooooOOOooooo—–

Terima kasih kepada para gerombolan  : Erni, Syifa, Indah, Anis, Dee, Emyl, Risda, Alida, Merry, Endro, dan Obby

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s