Pulau Flores : Sebuah Perjalanan Hati

Posted: September 27, 2012 in NTT
Tags: , , , , , , , ,

Aku hanya ingin pergi jauh. Menjauhi segala sesuatu yang sehari-hari kulihat, kudengar, kurasa, dan kupikirkan. Daerah yang dituju sebenarnya tak begitu penting, sampai manapun boleh, tak apa…., aku tak begitu perduli. Tapi, sudah lama aku ingin pergi ke Flores, karena komodo-nya dan karena Kelimutu-nya, juga karena Kampung Bena-nya yang unik dan asli. Maka, pergilah aku ke sana, sendirian…., tanpa booking-booking apapun, tidak tiket transportasi, tidak pula akomodasi penginapan. Kan kucari semuanya itu pada saat aku membutuhkannya, kan kuterima apapun yang kudapat karenanya….

Seringkali suatu perjalanan membuat jiwa menjadi lebih dewasa dan mawas diri, menjadi lebih berempati. Ini aku rasakan sendiri, di awal perjalanan ini..

======================

Ego vs Empati

(September 2009)

Jakarta – Denpasar aku lalui dalam bus tujuan Sumbawa yang berangkat sore hari dari Terminal Pulo Gadung,  dan dapat tempat duduk di smoking area dekat toilet, beraama dengan 2 orang penumpang lainnya, Pak Usman dan Mas Roni.  Mereka berdua begitu keheranan sewaktu mendengar jawaban ku tentang perjalananku ini. Demikian juga Sang Sopir cadangan yang sedang kebagian beristirahat di ruang sempit di belakang tempat duduk kami. Mereka menyangka aku ini orang yang kebanyakan uang dan akan membuang-buangnya dengan cara jalan-jalan. Aku cuma senyum-senyum saja mendengar tanggapan mereka. Siang malam terperangkap di tempat sempit yang sama, membuat kami sudah seperti keluarga, saling menjaga.

Perjalanan darat yang lambat ini, membuat waktuku semakin sempit. Andai punya waktu tak terbatas, mau saja aku menjalani perjalanan darat yang panjang hingga ke Sumba. Tapi aku tak punya waktu sebanyak itu. Kewajiban di kehidupan nyata menantiku 6 hari ke depan. Jadi aku memutuskan untuk turun bis di Denpasar. Merelakan uang ongkosku yang melambung tinggi itu melayang hilang. Aku mencoba peruntunganku di Bandara Ngurah Rai (Denpasar), mencari tiket yang dibatalkan disaat-saat akhir.

Seringkali suatu perjalanan membuat jiwa menjadi lebih dewasa dan mawas diri, menjadi lebih berempati.  Ini aku rasakan sewaktu bertemu dengan seorang mbak-mbak dengan koper-kopernya tampak begitu risau, sudah hampir berurai air mata.  Ternyata ia sudah terdampar di bandara ini sejak kemarin, belum juga mendapat tiket untuk pulang ke kampung halamannya di Maumere untuk menjenguk ibundanya yang sedang sakit.

Tergerak rasa kasihan, aku mengajaknya untuk sama-sama mencari tiket. Di ticket box maskapai Indonesia Air Transport, ada 1 tiket tujuan Labuan Bajo yang kosong karena penumpangnya tidak muncul hingga akhir check in time, 5 menit lagi. Aku bisa saja ngotot mengambil tiket tersebut untuk diri sendiri, karena bukankah aku yang bertanya dan berusaha untuk mendapatkannya ???  Tapi aku tak tega melihat si Mbak kawan baruku ini, jadi ku relakan tiket ini padanya dan aku akan berangkat esok harinya….hhhhhhh…..ya sudahlah, tak apa….!!!

Jadi kubawakan salah satu kopernya dan kuantar si Mbak hingga ke gerbang, kuucapkan “selamat jalan dan semoga selamat sampai tujuan, semoga pula ibundanya cepat sembuh kembali”.  Tinggallah aku sendiri ditengah hiruk-pikuknya bandara.  Aku harus mencari tempat menginap malam ini, sudah sangat perlu mandi. Seseorang yang baik hati yang kutemui di jalan keluar bandara, memberi tumpangan gratis padaku sewaktu aku yang menggendong ransel berjalan di teriknya matahari Bali. Terimakasih banyak Bli…..🙂

Celoteh dari Labuan Bajo

Siang ini aku memulai penjelajahanku di tanah Flores. Pasar ikannya di sebelah barat tampak sepi. Di dermaga barat, tampak beberapa perahu tertambat. Lautnya biru jernih dengan sedikit berombak. Beberapa bangunan warung di tepi pantai barat tampak kosong. Gazebo beratap ijuk juga kosong. Hanya ada dua anak laki-laki yang sedang bermain kelereng di dekat salah satu gazebo. Mereka mengamatiku sewaktu aku mendekat. Mata flores-nya yang kelam tapi berbinar menatap ingin tahu.  Celotehnya menemani saya berkelana di Labuan Bajo.

Anak laki-laki yang lebih besar, Ata namanya, baru kelas 4 SD, dan yang satunya bernama Acu, kelas 3 SD. Sekolah mereka berbeda. Kami cepat menjadi akrab, mengobrol tentang apa saja dengan logat masing-masing. Kadang-kadang sulit menangkap kata-kata yang diucapkan mereka dalam logat flores-nya yang kental. Ata senang bercerita, tentang ia yang juara lari di sekolahnya, tentang ia yang harus membantu kedua orang tuanya mencari nafkah dimasa-masa sulit, yaitu masa dimana angin barat bertiup dan ayahnya tidak bisa melaut berbulan-bulan. Ia dan ayahnya mengumpulan sampah botol yang terdampar di pantai Binongko dan pantai-pantai lainnya, botol-botol bekas itu mereka jual, uangnya dipakai untuk membeli beras. Ia juga bercerita, katanya uang yang diperoleh akan lebih banyak jika ia dan ayahnya berhasil mengumpulkan besi-besi bekas dari dermaga tua di dekat Pantai Waicucu. Tetapi besi-besi bekas itu harus dengan susah payah diangkut / dipanggul dengan berjalan kaki turun naik bukit dari Pantai Waicucu yang jaraknya lumayan jauh hingga ke kota ini.

Dia bercerita dengan riang, sesekali ditimpali oleh Acu. Aku terenyuh mendengarnya. Hatiku miris membayangkan anak kecil ini memanggul batang-batang besi naik turun bukit di siang yang terik. Kami terus bertukar cerita, aku tentang tanah jawa dan kota Jakarta yang hiruk pikuk, mereka tentang kehidupan keseharian yang bersahaja. Kami bercanda dan tertawa bersama.

Mereka sangat antusias ingin menunjukkan kepadaku Pantai Binongko yang sangat indah katanya. Jadi aku mengajak mereka untuk mengantarkanku ke sana. Berbekal 1 botol air minum untuk masing-masing dan beberapa bungkus biskuit, kami memulai ekspedisi kecil kami menuju Pantai Binongko. Bertiga kami beriringan berjalan mendaki bukit. Lalu meloncat gembira ke atas otto yang kebetulan melintas ke arah yang kami tuju. Dan berhenti di ujung jalan tanah, tidak ada siapapun di situ. Belukar tampak dimana-mana. Urukan tanah untuk membuat jalan baru tampak di sebelah kanan. Dan disebelah kiri adalah Pantai Binongko yang mereka janjikan indah itu. Hmmmm….pasir pantainya memang putih, tapi banyak sampah yang terbawa arus laut dan terdampar di situ.

Ada satu dermaga kayu yang terbentang ke tengah laut. Diujung dermaga tampak 2 kapal nelayan sedang tertambat. Ata dan Acu menunjukan bagaimana caranya menangkap ikan-ikan kecil dari sungai kecil berair jernih yang bermuara ke pantai ini. Kami pun sibuk menggiring ikan-ikan itu agar bisa terperangkap dalam karung butut yang kami temukan. Bersorak gembira ketika berhasil menangkap beberapa ekor ikan kecil. Acu memasukannya ke dalam botol bekas. Katanya kalau sedang beruntung mereka biasanya mendapatkan banyak sekali ikan-ikan seperti ini. Ikan-ikan ini lalu mereka bakar dan mereka santap dengan nasi jagung atau ubi rebus yang mereka bawa dari rumah.

Puas bermain-main , kami menuju dermaga, mendekati beberapa orang yang tengah asik memancing. Rupanya para pemuda ini adalah ABK kedua kapal nelayan diujung sana. Katanya mereka berasal dari Sulawesi dan sudah 2 bulan terdampar di Labuan Bajo , tidak bisa melaut karena pabrik es batu yang ada di sebelah sana itu tidak beroperasi akibat kekurangan biaya. Jadi mereka memanfaatkan hari-hari dengan memperbaiki kapal. Memancing ikan untuk lauk adalah kegiatan harian mereka lainnya. Mudah sekali mereka mendapatkan ikan. Umpannya daging ikan cumi. Ikan yang didapt lumayan besar-besar. Seperti orang-orang lainnya yang mengobrol denganku, mereka juga terheran-heran dengan perjalananku ini. Mereka bahkan menganggapku salah satu crew acara televisi program jalan-jalan/petualangan yang terkenal itu. Aku cuma mesem-mesem saja mendengar komentar ini. Bapak tua pemilik sekaligus nakhoda kapal pun ikut nimbrung obrolan kami. Beliau bahkan mengundangku untuk datang ke rumahnya di Bira (Sulawesi).

Hari sudah semakin sore, aku khawatir dengan kedua sobat kecilku ini, mungkin kedua orang tua mereka mencari-cari. Jadi bergegas kami sudahi exspedisi kecil kami hari ini. Kembali berjalan beriringan mendaki bukit yang cuku terjal ini. Kali ini tidak ada otto yang lewat. Perjalanan pulang tetap ceria dengan cerita-cerita Ata tentang bermain balap sepeda menuruni bukit ini dan waktu itu salah satu teman mereka rem sepedanya blong hingga ia menabrak pagar kayu di kiri jalan. Permainan khas anak laki-laki. Kami berpisah dekat rumah Ata karena betul saja ia sudah dicari-cari ibunya sejak tadi. Kami berjanji untuk bertemu lagi selepas maghrib untuk makan ikan bakar bersama-sama di warung tenda dekat dermaga.

Rinca Rumah Kedua Sang Komodo

Pagi-pagi sekali aku dan kawan turis Prancis yang aku temui di otto dari bandara Labuan Bajo, telah bersiap di dermaga Labuan Bajo, memilih-milih perahu yang akan kami sewa untuk mengantarkan kami ke Pulau Rinca. Mataku tertuju pada perahu ramping bertuliskan SENOPATI di lambungnya. Ukurannya lebih kecil dibandingkan perahu-perahu lainnya. Catnya masih mulus dan bersih, seperti perahu baru. Karena aku satu-satunya orang Indonesia diantara kami, jadi akulah yang berurusan dengan si empunya perahu yang bernama Seno untuk menegosiasikan harga. Kami sepakat dengan harga Rp400rb untuk rute Lab. Bajo – P. Rinca – P. Bidadari – L. Bajo.

Angin laut pagi terasa sejuk menampar wajah. Di kiri, bukit-bukit berwarna coklat memagari laut Flores. Di kanan, beberapa pulau berbukit yang sama coklatnya tampak berserakan. Warna hijau hanya menghiasi bagian bawah bukit-bukit itu, hanya dibagiannya yang terkena air. Perkampungan nelayan dengan rumah-rumah kayunya yang bertiang tinggi tampak berkelompok di beberapa tepi pantai. Tiba-tiba lompatan seekor lumba-lumba mengejutkan saya yang sudah hampir terkantuk-kantuk.  Suatu bonus atraksi yang sangat menyenangkan setelah berperahu selama kurang lebih 1 jam.

Di dermaga Pulau Rinca ( Loh Buaya), sudah banyak perahu-perahu turis yang tertambat didermaga.  Komodo-komodo menyambut kami dengan waspada, bersembunyi diantara rumpun bakau.  Di sekitar kantor balai konservasi, komodo-komodo tampak asyik berleha-leha. Ada yang di kolong bangunan kantor, di bawah pohon, dan yang terbanyak adalah di bawah kolong bangunan dapur, menunggu jatah makanan gratisan,

Seorang pemandu kami yang masih belia (seorang murid Sekolah Menengah Pariwisata Labuan Bajo yang tengah magang), berbekal tongkat kayu yang ujungnya bercabang, memandu kami menjelajahi tanah kelahiran sang komodo.  Di awal penjelajahan, banyak dijumpai komodo berukuran besar-besar, dan induk komodo yang tengah menjagai sarang bagi telur-telurnya. Menurut pemandu kami, induk komodo ini akan membuat beberapa lubang palsu untuk mengelabui para pemangsa yang mengincar telur-telurnya.

Di area bekas aliran sungai yang mengering tampak beberapa ekor kerbau liar tengah asyik berkubang di kolam lumpur. Kerbau itu tampak santai padahal ia berada di sarang sang pemangsa. Rupanya si kerbau telah hapal dengan kebiasaan sehari-hari pemangsanya. Pagi menuju siang seperti sekarang biasanya komodo sudah mulai bermalas-malasan, menghindari panasnya matahari yang mulai menyengat. Komodo biasanya mencari mangsa di pagi dan sore hari. Kerbau sebesar yang tadi itu biasanya dikeroyok beberapa ekor komodo hingga dagingnya habis tidak bersisa.

Di puncak bukit Pulau Rinca, pemandangan luar biasa indah kearah laut terpampang memukau mata. Perahu-perahu tampak kecil dikejauhan sana. Bukit-bukit coklat berbatasan asri dengan birunya laut. Langit biru cerah dan awan-awan tipis yang menghiasinya memayungi segenap tanah Flores. Tidak banyak komodo berkeliaran di sini karena panasnya matahari.  Kami memang bertamu agak terlalu siang, sang komodo rupanya sedang pada tidur siang ^_^

Dua Hal Tak Terduga di Bajawa

Sore ini, hujan deras tiba-tiba mengguyur Labuan Bajo, seperti menyambut para penumpang kapal Pelni dari Sape yang baru saja merapat di dermaga. Para penumpangnya bergegas berlarian mencari tempat berteduh seturunnya mereka dari kapal. Mobil elf jurusan Kota Ende yang aku tumpangi , dalam sekejap sudah penuh dengan penumpang. Jam 5 mobilpun berangkat.

Jalan trans-Flores yang meliuk-liuk menjadi licin karena hujan. Jalan aspalnya mulus, disebelah kiri adalah tebing dengan pemandangan daratan hijau kecoklatan dan lautan dikejauhan. Tubuhku yang lelah akibat kegiatan trekking dan snorkeling siang tadi segera terlelap, terbangun sekali-kali karena mencari posisi duduk yang lebih nyaman.

Kira-kira jam 10 malam kami sudah hampir sampai di Ruteng. Udara dingin menggigit tulang. Di sebuah tikungan tiba-tiba mobil kami mogok. Usaha sang supir dan keneknya untuk memperbaiki kerusakan, ternyata tidak membawa hasil. Mobil tetap tidak mau hidup. Akhirnya, kami para penumpang akan dicarikan mobil lain untuk di drop hingga ke Ruteng. Sebagian uang ongkos dikembalikan, tapi jumlahnya tidak memadai. Saya yang sudah membayar untuk tujuan Bajawa di satukan dengan penumpang lain yang bertujuan ke Ende. Si sopir mobil pengganti melihat peluang bisnis dari kejadian ini dan menawarkan kami untuk mencarter mobilnya hingga ke Ende. Saya yang hanya akan ke Bajawa diminta membayar setengah dari mereka yang akan ke Ende. Ya sudah, apa boleh buat, saya tidak mau menginap di Ruteng, saya ingin sampai di Bajawa pagi-pagi untuk menghemat biaya akomodasi.

Tapi apa mau dikata, ternyata saya sampai di Bajawa jam 2 pagi. Kebingungan sendiri mencari penginapan yang semuanya tutup walaupun sudah berkali-kali kuketuk pintunya. Ditengah kebingungan ini, tiba-tiba seorang pengendara motor menghentikan motornya dan terdengarlah pertanyaan dalam bahasa Inggris ditujukan kepada saya “Are you just arrived ??” tanyanya. Spontan aku menjawab dalam bahasa Inggris pula “Yes I’m just arrived…” Lalu tersadar kenapa pula aku berbahasa Inggris ?? Aku orang Indonesia, dia juga.  Jadi selanjutnya aku menerangkan keadaanku dalam Bahasa Indonesia. Rupanya Pak Arnold, demikian nama pengendara motor itu, menyangka aku adalah turis dari Jepang  ^_^

Dengan baik hati Pak Arnold menemani saya mencari penginapan, mengetuk setiap pintu penginapan yang tertutup rapat.  Pak Arnold bahkan menawarkan diri untuk mengantarku berkunjung ke Kampung Bena esok harinya.

Udara kota Bajawa ini dingin mengigilkan tulang, air mandinya apalagi.  Inginnya masih bergelung di dalam selimut tebal, tapi jam 7 pagi saya sudah harus bersiap untuk berangkat ke Kampung Bena.

Kampung Bena ini terletak di Desa Tiworiu, Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada. Berada tepat di tengah Pulau Flores, dikaki Gunung Iinire, kira-kira 13 km kearah selatan dari Kota Bajawa (ibukota Kabupaten Ngada).  Jalan menuju ke sana kondisinya bagus tapi sempit,  melewati perkampungan penduduk Flores. Beberapa penduduknya tampak berkerudung kain sarung khas Flores yang tebal untuk menahan hawa dingin. Kadang-kadang kami melewati perkebunan kopi Flores yang sayangnya sedang tidak berbuah.

Perjalanan selama satu jam ini sangat menyenangkan. Gunung Iineire tampak semakin menjulang. Puncaknya yang gundul tampak gersang. Dan dibalik tikungan dari atas bukit tampaklah Kampung Bena dengan rumah-rumah tradisionalnya yang unik, berupa rumah panggung terbuat kayu beratapkan alang-alang, yang berdiri berjejer berhadap-hadapan mengapit suatu area terbuka yang disebut “kisanatha”.

Kampung itu bentuknya seperti perahu. Konon menurut hikayat cerita turun temurun, bahwa nenek moyang penduduk Kampung Bena ini datang dengan kapal dan terdampar di tempat ini. Lama kelamaan air lautnya surut, dan bangkai perahunya menjadi batu. Dan diatas area bangkai perahu inilah kampung ini didirikan. Di halaman yang diapit deretan rumah-rumah adat terdapat bangunan adat berbentuk seperti payung yang disebut “ngadhu” sebagai perlambang laki-laki dan “bagha” yang berupa bangunan miniatur rumah sebagai perlambang perempuan. Dan terdapat batu-batu megalit. Menurut legenda, batu-batu megalit itu di ambil dari pantai Aimere oleh seorang penduduk Bena yang istimewa bernama Dhake, bekas telapak tangannya sewaktu memikul batu-batu tersebut masih membekas di permukaan batu. Sepuluh undakan batu sebagai pintu masuk ke kampung melambangkan sepuluh klan keluarga asli yang menghuni Kampung ini ketika didirikan pertama kalinya, sekitar 450 tahun yang lalu.

Kampung Bena

Sekarang ada sekitar 45 buah rumah adat, dan saat ini sudah tidak memungkinkan lagi untuk dibangun rumah baru di kawasan ini. Hingga terpaksa rumah-rumah baru itu harus di bangun di luar area guna menjaga keaslian Kampung Bena. Beberapa perempuan Bena tampak di teras rumah, berusaha menjajakan kain tenun ikat buatan sendiri kepada para turis. Kain tenun ikat tersebut terasa tebal dan berat, rata-rata berwarna dasar hitam bercorak tradisional khas Bena. Sempat pula aku membantu menjembatani komunikasi 2 turis Perancis yang berusaha menawar harga kain tenun.  Aku sendiri membeli selembar kain sarung tenun ikat sebagai oleh-oleh untuk ibuku. Ada juga yang menjajakan vanili kering yang juga dipetik dari kebun sendiri. Mata pencaharian utama warga Kampung Bena ini memang bertani, diantaranya komoditas vanili dan kopi.

Penduduk Bena ini sangat bersahaja dan sangat ramah. Dengan logatnya yang khas mereka bercerita tentang kampungnya, tentang antenna parabola yang terpasang di rumah Misionaris yang ada di belakang kampung, tentang betapa susahnya mendaki hingga ke puncak Gunung Iineire yang tinggi menjulang itu guna menghadiri acara misa, tentang tanaman vanili mereka yang rusak terkena hama, dan tentang acara pesta adat tahunan berbiaya besar yang rutin diselenggarakan setiap akhir bulan Desember hingga awal Januari. Anak-anaknya tampak malu-malu ketika menerima “cemilan kota” yang aku sodorkan kepada mereka dan aku merasa sangat bersalah karena telah membuat salah satu anak menangis tak kebagian L

Menikmati Kopi Kelimutu

Taman Nasional Gunung Kelimutu di Ende adalah tujuanku selanjutnya.  Desa Moni di kaki Gunung Kelimutu menjadi titik awal perjalanan ke danau tiga warna istimewa yang telah mengundang rasa penasaran para peneliti.

Subuh-subuh aku sudah bersiap berangkat menuju Gunung Kelimutu dengan menumpang ojek yang telah dipesan tadi malam, tarifnya Rp.70.000 pp.  Beberapa turis asing juga tampak sedang bersiap-siap berangkat menggunakan mobil carteran. Dinginnya udara pegunungan menembus lapisan jaket yang aku pakai. Hidung dan pipiku terasa beku. Jalan yang dilalui meliuk-liuk menaiki pinggang gunung. Bintang-bintang tampak indah menghiasi langit subuh yang cerah tanpa awan. Dari ketinggian tampak kerlap-kerlip lampu di Desa Moni dan Desa Kanohara.

Sepeda motor harus extra hati-hati ketika melintasi salah satu bagian jalan yang dibanjiri air sungai. Pos retribusi Kawasan Wisata Gunung Kelimutu tampak masih tutup, petugasnya tergopoh-gopoh membuka kunci pos dan menarik biaya retribusi sebesar Rp.11.000.

Dengan ditemani seorang penjaja minuman hangat (kopi dan teh) aku memulai perjalanan trekking subuh-subuh, menyusuri jalan setapak terbuat dari tembok beton. Sepanjang jalan saya mengobrol dengan Bapak Penjaja Kopi, Bapak Ahmad namanya. Temannya Bapak Ahmad, sesama penjaja kopi juga ternyata adalah salahsatu tetua adat di Desa Konohara. Beliau berserita tentang desanya yang miskin, juga tentang penyelenggaraan ritual upacara adat yang akan dilaksanakan di sekitar pertengahan bulan Oktober nanti. Penentuan tanggalnya tidak mudah, harus melalui suatu prosesi.

Ketika ditanya tentang makanan khas di desanya, dengan tersipu beliau menyebutkan ubi rebus dan jagung rebus sebagai makanan sehari-hari mereka. Selain menjajakan minuman hangat, beliau juga menjual kain tenun ikat khas Ende yang coraknya berbeda dengan kain tenun ikat di Kampung Bena. Dengan berat hati saya menolak membeli kain tenunnya, alasannya tentu saja karena budget yang semakin menipis L

Sekitar 20 menit kemudian kami sampai di danau pertama yang berwarna hijau muda. Bau belerang tidak terasa begitu menyengat, tidak seperti di kawah gunung-gunung berapi yang ada di Pulau Jawa. Pagar pengaman melingkari bibir danau kawah untuk menjaga keselamatan para pengunjung. Di sini juga terdapat hamparan perkebunan tehh. Kami terus melanjutkan perjalanan menaiki tangga beton hingga ke gardu pandang.

Danau Kawah Gunung Kelimutu

Pemandangan dari gardu pandang ini sangat leluasa. Bisa melihat ketiga danau yang warnanya saat itu adalah hijau muda, hijau tua dan hitam. Hamparan perkebunan teh yang luas dan bukit-bukit yang terlihat samar-samar di kejauhan sana. Matahari yang baru saja terbit menyemburatkan warna gading keemasan. Cuaca sangat cerah pagi itu, tidak ada kabut yang menghalangi pandangan. Di saat-saat tertentu, kabut bisa membungkus rapat area ini hingga pemandangan indah ini tidak bisa dinikmati dengan sempurna.

Jalan setapak tertata apik dari mulai pintu gerbang hingga gardu pandang

Pengunjung yang kebanyakan adalah wisatawan mancanegara semakin ramai berdatangan. Aku adalah satu-satunya wisatawan domestic saat itu. Lalu ada pemandu local yang datang dari Bali dan dari Maumere, yang mendampingi turis-turis asing ini. Mereka begitu takjub terhadapku , seorang perempuan Sunda yang ber-travelling sendiri di daratan Flores ini J

Petualanganku menjelajah daratan Flores sudah harus diselesaikan, untuk saat ini.  Akan kulanjutkan lagi lain hari, untuk membaca bab lainnya tentang Nusantara.

===================end for now==================

NB : Maaf fotonya jelek-jelek karena kamera saya rusak :((

Salah satu kontestan pemenang dalam lomba adventure journal   http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/pulau-flores-sebuah-perjalanan-hati/   Oleh : Dian Sundari

Comments
  1. pengen euyy… awal maret mudah2an lancarr….

  2. dians999 says:

    ngomong soal refund tiket, gw cuma dapet 1jt dari total 1,6jt pp jkt-pangkalan bun trigana , uang DP hangus pula hikss… :((

  3. rotyyu says:

    Kampung Bena itu sesuatu sekali ya…
    Dan salut sekali utk perjalanannya, sungguh pengalaman yang luar biasa..

    • dians999 says:

      Hai @Rotyyu ^_^
      Se7… Kampung Bena emang “sesuatu” yang luar biasa… Nginep disitu seru tuhh pastinya. Apalagi klo akhir -awal tahun, ada pesta adat besar-besaran…

      Thanks for the salution🙂
      Love travelling

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s