Aceh : Tsunami, Cafe Ber-free-wifi, dan kopi

Posted: September 27, 2012 in Aceh, sumatra
Tags: , , , , ,

Saya senang menyebut kata Nusantara untuk negara kepulauan ini. Dan saya bangga karena sudah berhasil ke batas terbaratnya di Pulau Weh.

=========================

04-11 Feb 2011

Kuteraja

Tidak seperti ketika akan berangkat bertualang ke tempat-tempat lain, terutama tentang pakaian, yang biasanya cukup dengan kaos oblong, celana pendek, dan celana kargo panjang, ketika akan ke Aceh ini saya berasa akan pergi menginap di pesantren (walaupun belum pernah merasakannya).  Itu karena informasi mengenai ketatnya pelaksanaan Hukum Syariat Islam di sana.  Jadi untuk menghormatinya, maka walaupun saya bukan seorang muslim yang taat, minimal saya harus menghormati hukum adat tuan rumah.  Mudah-mudahan bisa ketularan taat  ^_^

Saya merasa sangat beruntung selama di Kuteraja Banda Aceh karena bertemu dengan banyak dewa penolong yang memanjakan saya.  Mengantar-antar saya berkeliling Kuteraja yang ternyata membuat saya tercengang-cengang dengan “kemodernan” dan keteraturannya.

Kota ini bersih dan teratur, sungainya yang membelah kota juga bersih, lengkap dengan taman bunga di pinggiran kali.  Toko-toko berjejer rapi.  Supermarket dan mall juga ada disana-sini.  Terminal labi-labi nya (angkot) juga cukup bersih dan tertib.  Labi-labi nya lucu, seperti angkutan pedesaan jaman dulu di Jawa, kalau mau turun, kita harus memencet bel.

Ada banyak sekali becak bermotor, yang tempat duduk penumpangnya ada di pinggir pengemudi.  Tidak ada ojek sepeda motor, mungkin karena Hukum Syariat Islam nya melarang wanita berboncengan dengan yang bukan muhrimnya (suami atau saudara/famili laki-laki).

Kota ini sudah bangkit sepenuhnya dari bencana tsunami yang dahsyat di tahun 2004 lalu itu sepertinya.  Bencana itu sekarang sudah jadi komoditas wisata andalan Kuteraja.  Wisata Tsunami, dengan beberapa obyek wisata seperti Kapal PLTU Apung yang terdampar di tengah pemukiman, kapal nelayan yang bertengger di atap rumah, musium tsunami, serta kuburan-kuburan massal untuk ribuan korban tsunami  Foto-foto mayat korban tsunami yang sudah tidak utuh dan sudah menggembung busuk di pinggiran pantai, terpajang begitu saja di musium yang ada di dekat tempat terdamparnya kapal PLTU Apung.  Terpampang begitu saja untuk semua pengunjung, termasuk anak-anak kecil.  Warung-warung seafood dan jagung bakar berjejer diseberang kuburan massal.  Obrolan-obrolan tentang kedahsyatan bencana tsunami diperbincangkan dengan “ringan” sekarang, sambil menikmati jagung bakar dikala sunset di tepi pantai, atau dikala ngopi-ngopi di cafe-cafe ber-wifi.

Nah, itu dia, cafe-cafe ber-wifi, satu lagi hal yang membuat saya tercengang-cengang.  Cafe-cafe itu menjamur diseantero Kuteraja.  Dan pagi-siang-malam, cafe-cafe itu penuh dengan pengunjung, laki-laki dan perempuan, dari mulai remaja ABG pelajar, mahasiswa, pekerja kantoran, PNS, pekerja LSM, bos-bos, semuanya bersosialisasi di cafe-cafe.  Bukan cuma sekedar untuk ngopi-ngopi, tapi juga sebagai tempat untuk mengerjakan PR misalnya, belajar bersama lah, pacaran, pertemuan bisnis, diskusi, sekedar ngobrol-ngobrol, berdiskusi, nonton bareng pertandingan sepak bola, atau sekedar chating-chatinng YM-an, Fban, Tweeter-an memanfaatkan fasilitas free-wifi nya.

Sedikitnya saya sempat diajak mampir di 5 cafe berbeda selama disana, termasuk ke Kedai Kopi Solong yang tertua dan paling terkenal dikalangan wisatawan.  Mencoba kopi tariknya yang benar-benar pahit, mencicipi “sanger” (kopi dengan susu sedikit), dan kopi susu (kopi dengan susu banyak).  Mencoba kue-kue nya, dan tidak lupa pula mencicipi mie Razalie dengan kepiting yang sangat enak itu.

Saya tidak merasakan ketatnya pelaksanaan Hukum Syariat Islam selama disana.  Perempuan-perempuan muslim di sana memang hampir semuanya berjilbab, tapi sekarang sudah lazim dijumpai perempuan-perempuan di tempat umum seperti cafe bahkan hingga larut malam.  Tidak ada jam malam, seperti yang saya baca dibeberapa website.  Pelaksanaan Hukum Syariat Islam masih terasa di sekitar Mesjid Agung Baitul Rahman.  Dengan corong pengeras suara portable nya, satpam mesjid akan menyuruh siapapun yang berkeliaran di halaman dan sekitar mesjid untuk shalat jika kedapatan terdapat disana pada jam-jam shalat.

Polisi Syariat juga akan berpatroli di sepanjang pantai-pantai Kuteraja, men-sweeping pasangan-pasangan bukan muhrim yang kadang-kadang berpacaran disana.  Mereka akan berkeliling diatas mobil bak terbuka seperti Petugas Tantrib di Jakarta yang mengusiri pedagang kaki lima dan pengemis dari jalanan.

Selain kopi, kain tenun songket Aceh juga menjadi komoditi yang dicari.  Saya beruntung karena sempat mengunjungi kampung sentra pengrajin tenun songket khas Aceh, yang jumlahnya kian hari kian menurun.  Di daerah pinggiran Kuteraja, masih bisa dijumpai rumah adat Aceh yang berupa rumah panggung kayu dengan ornamen-ornamen khasnya itu.  Yang paling gampang, Anda bisa menjumpainya di daerah Lamno, rumahnya Tjut Nya Dien (Sang Pahlawan Wanita dari Aceh), dan sekarang sudah dijadikan musium.

Di Pantai Lhok Ngaa, saya mendapatkan pemandangan sunset yang spektakuler, disela-sela cerita tentang bencana tsunami yang meluluh-lantakan bangunan pabrik semen Andalas yang ada di seberang jalan di tepi pantai itu.  Katanya, 2 kapal super besar besar pengangkut batubara dan bahan baku pembuatan semen, terangkat ombak tsunami dan jatuh menimpa bangunan pabrik.  Di Lamno, juga ada resort wisata cantik dibibir tebing.

Lebih ke timur dari Lamno, ada Puncak Gerute, dengan jalannya yang meliuk-liuk di pinggang bukit yang berbatasan dengan samudra luas.  Di sana juga ada bukti kedahsyatan bencana tsunami berupa terpisahnya sebuah daratan menjadi pulau tersendiri, lepas dari induknya, Pulau Sumatra.  Kampung-kampung yang dulunya ada di area itu, tersapu bersih ke lautan.

Lebih ke timur lagi dari Puncak Gerute, ada Lampuuk yang juga menyisakan bukti tsunami berupa sisa-sisa bangunan jembatan.  Rumah-rumah bantuan pasca tsunami dari berbagai pihak, dibangun di sana-sini.

Pulau Weh

Perjalanan dengan kapal ferry lambat memakan waktu kira-kira 1,5 jam dari Pelabuhan Ulee Leu di Banda Aceh ke Pelabuhan Sabang di Pulau Weh.

Pulau ini menjadi sangat penting bagi Nusantara.  Di sana terdapat titik nol kilometernya negri ini.  Walau penting dan dibanggakan, tapi seperti biasanya, monumen ini tampak tidak terurus.  Kejahilan pengunjung terlihat disana-sini berupa coretan-coretan di dinding, bahkan di prasasti Nol Kilometer, juga sampah-sampah yang berserakan.  Waktu saya kesana, tidak ada penjaga bahkan warungpun kosong melompong.  Hanya ada sekelompok monyet-monyet yang menunggu makanan gratisan.  Sangar-sangar juga ternyata monyet-monyet itu.  Saya yang sedang asyik memotret-motret mereka hampir diserang monyet paling besar diantara gerombolan itu.

Memang lokasi monumen itu terdapat di area hutan lindung yang cukup rimbun dan gelap.  Kadang-kadang babi hutan lari memotong jalan.  Cukup jauh juga jaraknya dari Kota Sabang, kira-kira 2,5 jam.

Saya menginap 2 malam di Pantai Iboih, sebuah lokasi wisata di dekat Pulau Rubiah.  Lokasi wisata snorkling dan diving favorit di Aceh. Iboih ini penuh dengan wisatawan asing.  Mereka menginap berminggu-minggu disana, menikmati wisata diving.

Saya menemukan dua orang teman baru disana, lumayan untuk patungan biaya sewa perahu keliling Pulau Rubiah.  Perahunya dilengkapi kaca untuk mengintip ke bawah laut.  Anemon-anemon cantik dan penghuninya, si clown fish, terlihat di beberapa tempat.  Snorkling di spot yang ditunjukan tukang perahu tidak terlalu memuaskan.  Koral-koralnya sudah mati dan terkena dampak “coral bleaching” akibat tingginya suhu air laut, tapi ikan-ikannya lumayan banyak.

Dibawah dermaga Iboih, koral-koral muda yang sedang berjuang tumbuh terlihat disana-sini.  Warga dan penggiat wisata bahari serta pencinta konservasi laut, sedang bahu membahu mengembalikan keindahan koral-koral terumbu karang di Pulau Rubiah yang hancur akibat tsunami dan pemanasan global.

=========0000=========

Terimakasih kepada teman-teman di Aceh : Chusnul Chotimah, Bang Hasbi Azhar, Bang Udi Djamil, Anen, Yanti, Kak Nur, Kang Rudi, Bang Jul, Bang Zacky, dll yang sudah memanjakan saya selama di sana.

Dan juga kepada teman-teman baru yang bertemu di Pulau Weh : Bang Ami, Tika dan  Abdan

 ============

Salah satu kontestan pemenang dalam lomba adventure journal   http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/aceh-tsunami-cafe-ber-free-wifi-dan-kopi/   Oleh : Dian Sundari

Comments
  1. buzzerbeezz says:

    Btw, sentra pengrajin tenun songket di mana ya?

  2. dians999 says:

    Waktu itu aku ke sini :
    Sanggar Tenun Ibu Maryamu Ali (Nyak Mu , Alm)
    Dusun Adat, Kelurahan Siem, Kecamatan Darussalam, Kab. Aceh Besar, Kode Pos 23373.

    Masuknya dari area deket Unsyah , ngelewatin pesawahan, nyasar2 :p
    Happy hunting deehhh..
    ^_^

  3. Bagi penikmat kopi dapat melihat penyajian kopi khas Aceh di Cafe Ajeh Kopi ini.

    “Cafe Ajeh Kopi”
    Boulevard Apatement
    (Parkiran Belakang Apartement)
    Tanah Abang, Jakarta Pusat

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s