Krakatau : Bolat vs Bonung

Posted: September 27, 2012 in Lampung, sumatra
Tags: , , , ,

Gunung Krakatau telah menarik minat petualangan saya sejak lama, karena riwayat sejarahnya yang luar biasa, yang telah memusnahkan suatu peradaban Atlantis (katanya), yang debu letusannya sampai ke benua Eropa, yang juga telah membuat Jawa dan Sumatra terpisah. Kesempatan pertama datang pada September 2007, nekat menyebrang dari Pantai Carita (Anyer, Banten) menggunakan speedboat fiber double engine yang melonjak-lonjak menunggangi ombak Selat Sunda yang sedang “lumayan” ganas. Kesempatan kedua datang 2 bulan kemudian, November 2007, dengan rute berebda, yaitu dari Desa Canti di Kalianda (Lampung). Kali ini lebih nekat lagi, karena saat itu sang Anak Gunung Krakatau sedang meletusss…!!!

=======================

Bolat vs Bonung

Sabtu pagi, kru kapal beserta speed boatnya sudah menunggu kami bertujuh di suatu muara sungai tempat perahu-perahu nelayan bersandar, di daerah Pantai Carita (Anyer, Banten). Semakin ke tengah, ombaknya semakin besar.  Speed boat kami terlonjak-lonjak menerjang ombak Selat Sunda.  Ombak yang terpecah menghasilkan cipratan-cipratan air yang langsung mengguyur para penumpang.  Laju speed boat yang melonjak-lonjak juga membikin perut bergolak, muka salah satu kawan saya yang memang sering mabuk laut, berubah hijau pucat.   Sementara saya duduk terkantuk-kantuk akibat minum Antimo ™, tangan saya berpegangan erat-erat ke bibir perahu.  Kami semua sudah memakai jaket pelampung.  Safety first !!!

Lagi enak-enaknya terkantuk-kantuk sambil nyender ke pegangan besi di pinggir speed boat dan sesekali terciprati pecahan ombak, tiba-tiba dibangunin teriakan teman-teman… sewaktu membuka mata, di depan sana tampak Pulau Rakata lengkap dengan anak Gunung Krakatau yang berwarna hitam dan puncaknya yang berwarna putih, sedangkan di sisi kiri dan kanan ada juga pulau-pulau lain yang rimbun ditumbuhi pepohonan tropis.

Jam 11 kami merapat di pantai pulau Rakata,  pasirnya berwarna hitam legam dan puanaaaassss…..  Membuat kami meloncat-loncat seperti anak kijang. Kami di sambut plang ucapan “Selamat Datang di Taman Wisata Gunung Anak Krakatau”, juga ada semacam display berisi sejarah letusan Krakatau beserta jenis-jenis batuan vulkanik dan flora-fauna nya, serta ada saung jagawana.

Dengan berbekal air minum, cemilan, dan kamera (tak lupa pula mengolesi lagi kulit dengan lebih banyak sun block), kami memulai trekking  mendaki Anak Gunung Krakatau.  Pasir hitam yang dulunya adalah lahar panas, sekarang juga tampak dan terasa panas membara di telapak kaki kami.

Teman-teman yang benar-benar bocah laut, kali ini benar-benar saltum (salah kostum – red).  Cowok-cowoknya rata-rata cuma  memakai kaos oblong, celana pendek, dan topi.  Alas kakinya ada yang cuma memakai sendal jepit dan ada juga yang memakai boothist yang biasa dipakai double bersama fin saat snorkling atau menyelam.  Alhasil yang pakai sendal jepit harus berkernyit-kernyit gara-gara telapak kakinya kepanasan dan tertusuk-tusuk pasir hitam krakatau yang bergerigi tajam, sampai-sampai ada yang menyerah, tidak bisa mendaki lagi.  Sendal gunung plus kaos kaki yang saya pakai cukup menghindarkan kaki saya dari derita pasir panas dan tajam itu.

Jalur yang kami lalui melulu adalah pasir hitam, semakin ke atas pepohonan pinus semakin jarang dan akhirnya tidak ada sama sekali.  Matahari memanggang dengan teriknya.  Berjalan menjadi sangat sulit, karena pasirnya selalu menelan kaki hingga mata kaki.  Berjalan mundur ternyata sangat membantu tapi harus hati-hati karena banyak bongkahan batu berwarna hitam.

Sewaktu mendaki dengan cara berjalan mundur, tampaklah pemandangan luar biasa ke laut lepas.  Di depan sana terlihat pulau yang hijau ditumbuhi tanaman tropis, di sebelah kanan juga ada pulau serupa, sedangkan nun jauh di sebelah kiri samar-samar  tampak pulau Sebesi.  Dan ketika membalik badan lagi, anak gunung krakatau yang gersang dan berwarna hitam tampak menjulang menghadang kami.  Saking panasnya, dari atas pasir hitam ini tampak seperti ada asap membentuk kaca fatamorgana.

Satu per satu kami sampai di pos 1 yang landai.  Di sini ada semacam alat pemancar satelit, katanya untuk penelitian vulcanology, pembangkit energy-nya memakai solar system, tampak berkilauan di terangi teriknya cahaya matahari.  Pemandangan ke laut lepas sangat luar biasa, kalau sore dan pagi hari pasti pemandangannya lebih luar biasa lagi.  Tak ada satu pun pepohonan tumbuh di sini.

Mengingat kami benar-benar saltum, akhirnya diputuskan pendakian hanya sampai di sini saja.  Saya yang sangat penasaran ingin mendaki sampai puncak memang merasa kecewa, tapi sadar dengan resiko jika memaksakan diri.  Kata Pak Saeful, orang yang biasa menjadi guide bagi wisatawan, dari sini  ke puncak cuma sekitar 700 meter lagi, tapi medannya sangatlah berat, bahkan kadang-kadang harus merangkak segala saking terjalnya…..

Seperti biasa kalau sehabis jalan menanjak, maka jalan menurun adalah surga.  Dan memang tidak terlalu berat.  Dengan menumpukkan berat badan di tumit yang langsung melesek dalam pasir, perjalanan turun menjadi lebih cepat dan lebih nyaman.  Cumaaa…..debunya yang ditinggalkan langkah teman yang berada di depan membuat mata pedas dan nafas sesak, apalagi kalau arah angin sedang naik.

Teman-teman yang cuma memakai sendal jepit, begitu kepayahan dengan sengatan panas dan tajamnya pasir, berjingkrang-jingkrak terburu-buru menuruni lereng menuju keteduhan pohon pinus.  Ingin rasanya langung rebahan di atas tumpukan tebal dan empuknya daun-daun pinus yang berguguran dan terhampar di bawah batang pohon.

Playing with Danger..!!!

“Yaaa…kok meletusnya kecil..:(

Itu komentar konyol, sangat konyol, dari saya yang sejak tadi siap dengan si Olly (kamera poket Ollympus milik saya), bertengger diujung perahu, menunggu-nunggu “letusan spektakuler” dari kawah Anak Gunung Krakatau yang memang sedang aktif.

Saya sadar bahwa saya sedang bermain-main dengan bahaya.  Saya juga tahu kalau saya saat ini tidak sedang melihat acara TV tentang letusan Krakatau, melainkan sedang ada disana, di zona bahaya letusan.  Tapi, anehnya rasa takut seperti hilang entah kemana, yang ada hanyalah kagum dan takjub dengan fenomena yang ada dihadapan.  Saya tidak sendiri, selusin orang teman lainnya pun terdiam takjub mengagumi fenomena dahsyat itu.

Pemandangan menakjubkan dari sang Anak Gunung Krakatau yang sedang mengepul-ngepul langsung menghilangkan semua penat dan puyeng,,, Asapnya yang berwarna putih coklat kehitaman membumbung tinggi ke langit biru…, membentuk jamur raksasa yang terus membumbung tinggi dan membesar…seperti asap hasil letusan bom atom yang ada di buku-buku… lalu angin membelokkan arah asap itu.  Sinar matahari agak terhalangi, dan butiran debunya terasa menimpa kami , untungnya cuma sedikit.  Di permukaan laut banyak terhampar debu putih yang mengalir terayun-ayun gelombang. Semakin tinggi asap itu pun bercampur dengan awan putih… Tidak tercium bau belerang…yang tercium adalah bau seperti aspal terbakar.

Perahu memutari sang Anak Gunung Krakatau hingga berada persis di depan lubang kawah, yang ternyata tidak berada persisi di puncaknya, melainkan agak melipir di punggungan gunung.  Lokasi ini dinilai aman karena tidak berada dalam arah angin asap…  Dari lokasi ini, kami bisa melihat dengan jelas sewaktu suatu letusan dimulai…, lalu batu-batu terlontar ke udara dan mendarat di lereng gunung yang gundul gersang dan hitam legam…  Batu-batu itu pecah selama menggelinding menuruni lereng…, sewaktu pecah jelas terlihat warna merah membara dari bagian dalam batu…. dan batu-batu pijar itu akan tiba dilaut…. cessss…..pijarnya musnah didinginnya air laut.

Perahu memutari Pulau Rakata lagi, kami mendarat di pantainya yang dulu sempat saya datangi itu.  Lokasi ini juga dinilai aman, karena bersebrangan dengan lokasi lereng berkawah, walaupun arah angin seringkali membawa awan panas berwarna kecoklatan tepat diatas lokasi kami, tapi tidak membahayakan.

Kami asyik memasak makan siang dan bersnorkling di situ, seolah-olah kondisi Gunung Krakatau masih dalam keadaan normal saja.  Salah satu teman yang bisa disebut sebagai perintis wisata volcano, Mas Andi Azimuth, ditemani salah seorang awak perahu, setelah memperlengkapi diri dengan safety yang memadai, memulai expedisi mendaki Sang Anak Gunung Krakatau yang sedang terbatuk-batuk, menantang bahaya demi pengalaman tak terkira….  Saya juga penasaran, tapi saya tidak seberani dia dan tidak memiliki perlengkapan safety apa-apa, serta tidak berpengalaman.

Saya bergidik ngeri sewaktu ingat cerita dari Pak Saeful waktu itu, tentang korban-korban yang terkena hamburan batu-batu pijar.

O ya, di kali kedua menyambangi Krakatau ini, kami mengambil rute penyebrangan dari Pelabuhan Canti (Kalianda, Lampung), karena lebih murah sewanya.  Perahu kayu yang kami sewa tidak dilengkapi kursi-kursi untuk penumpang, kami duduk-duduk dan tiduran di atas lantai kayu dalam lambung perahu, beralaskan tikar.  Begitu memasuki perairan dalam, ombak mulai membuat perahu oleng ke kiri ke kanan ke depan dan ke belakang… walahhh… gawat… bisa-bisa ….. Goyangan perahu semakin menggila… benar-benar seperti permainan kora-kora goyang bebasss….seperti di Dufan.. Suatu kali, perahu terangkat tinggi akibat ombak besar, dan begitu turun lagi sudah dihadang ombak besar lainnya dan seketika air laut mengguyur masuk dari arah depan mengguyur kami yang sedang tidur di lantai lambung kapal…waaaaa…..semua pun menjerit karena kaget… Lantai perahu dan tikar serta sebagian backpack teman-teman menjadi basah…

Pulangnya kami memakai rute yang sama, bermalam semalam di Pulau Sebesi.  Dan menghabiskan waktu dengan bersnorkling disana sini, walaupun tidak begitu nyaman karena arusnya yang sedang tidak tenang.

Krakatau memang menyuguhkan pengalaman petualangan yang sangat lengkap, baik bocah gunung (bonung) yang suka naik-naik ke puncak gunung, maupun bagi bocah laut (bolat) yang suka bermain-main dengan lautan untuk bersnorkling ataupun diving.

Jadi siapkan sepatu trekking terbaik Anda, juga fin, snorkling gear, diving gear juga, serta kamera pada saat akan mengunjungi Krakatau ^_^

==========

Thanks to bolat n bonung : Ridwan, Mamats, Darwin, Dee, Endro, DewiSt, Mas Andy Azimuth, Charlie, the 3 musketeer bule, Mbak Aya, Pak Saeful dan Kru perahu

Salah satu kontestan pemenang dalam lomba adventure journal   http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/krakatau-bolat-vs-bonung/   Oleh : Dian Sundari

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s