Waisak Trip: Dari Candi ke Candi, dari Merapi ke Merapi

Posted: September 27, 2012 in jawa, Yogyakarta
Tags: , , , , ,

Tak ada satupun dari kami berlima yang beragama Budha, tapi kami tertarik untuk menyaksikan Prosesi Peringatan Hari Raya Waisak tahun itu, di Kawasan Candi Borobudur (Magelang, Jawa Tengah). Ketertarikan kami karena hobby fotograpi dan tentu saja budaya. Geli juga sewaktu ingat expresi Panitia Waisak saat teman saya yang berjilbab mendatanginya untuk meminta pass-card agar bisa memasuki area Peringatan Waisak yang dijaga superketat karena akan kedatangan Presiden RI. Si Mbak-mbak Panitia mengamati teman saya itu dari bawah ke atas, menatap jilbabnya agak lama lalu membaca ulang “Agama” yang tercantum pada KTP nya, tidak yakin dengan alasan-alasan yang kami ajukan tapi akhirnya bersedia memberikan 5 pass-card (undangan) untuk kami semua.

====================

Ehh Mendut lagi Mendut lagi

Kereta-bis-angkot-andong, semua alat transportasi darat itu kami gunakan hingga sampai di Kawasan Borodudur (Magelang).  Bahkan bajay dan ojek juga sewaktu kami, terburu-buru berangkat dari kantor masing-masing agar bisa sampai di Stasiun Senen sebelum keberangkatan kereta malam Sawung Galih Executive, yang dijadwalkan  berangkat jam 7 malam dan tiba di Stasiun Kutoarjo (Magelang) sekitar jam 4 subuh keesokan harinya.

Kehebohan perjalanan sebenarnya sudah terjadi sejak kira-kira sebulan sebelum keberangkatan.  Seperti biasa ketika akan jalan-jalan bareng, kami sudah heboh dengan berbagai macam urusan tetek bengek perjalanan, misalnya mau naik apa, siapa yang akan beli tiketnya secara kolektif, mau kemana saja selama disana, mau menginap dimana, dan tentunya jurus-jurus mengurus pengajuan cuti supaya disetujui ^_^

Perjalanan darat yang panjang dan melelahkan tapi tidak menurunkan semangat kami, sehingga setelah mendapatkan penginapan, kami langsung berangkat ke Borobudur untuk mencari Panitia Waisak guna meminta pass-card (undangan), karena tanpa itu, kami dan siapapun tidak akan diperbolehkan masuk ke area utama Prosesi Waisak.

Gara-gara kejadian naik andong disini, saya selalu geli setiap kali melihat andong.

Kami yang sama sekali buta dengan jarak dan lokasi area seputar Borobudur (terakhir saya ke Borobudur adalah waktu di SD, sudah sangat lama sekali), mau saja beberapa kali dibodohi oleh Mamang Andong, hingga harus duduk berdesakan di atas andong yang sangat sempit, hingga kaki kram, pantat pegal, punggung linu, padahal ternyata jarak dari penginapan ke Borobudur tidak sejauh seperti yang digambarkan Mamang Andong, hanya kira-kira 500 m.

Sekali dibodohi, ternyata belum mampu membuat kami jadi lebih pintar..!!!  Karena sekali lagi kami kembali harus merasakan kaki kram – pantat pegal – punggung linu, gara-gara duduk berdesakan dalam andong dari Borobudur ke Mendut yang ternyata jaraknya sangat jauh, tidak sedekat seperti yang dijelaskan orang-orang, kurang lebih 2,5 km.

Kami merasa lebih bodoh lagi karena ternyata, Candi Mendut itu lokasinya sangat strategis, dan dilewati oleh bis-bis hampir semua jurusan.  Dongkol karena merasa dibodohi waktu itu, sekarang menjadi memory aneh ajaib bin menggelikan buat kami berlima.

Kami bolak-balik Borobudur-Mendut ini karena urusan si pass-card itu, yang ternyata panitianya bermarkas bukan di Borobudur melainkan di Mendut.

Candi Mendut bentuknya mengkerucut, seperti candi Prambanan, merupakan salahsatu candi yang disucikan umat Budha.  Disana terdapat 3 arca besar-besar, yang “menghuni” bilik-bilik batu didalam candi, Arca Dyani Budha Cakyamuni atau Vairocana, Arca Budha Avalokitesvara atau Lokesvara, dan Arca Bodhisatva Vajrapani.  Relief-relief yang ada disini katanya menggambarkan ajaran hukum sebab akibat berupa cerita fabel (cerita yang diperankan oleh binatang-binatang), misalnya cerita si kera yang ditipu burung bangau dengan cara berpura-pura menyelamatkannya dari bahaya, lalu cerita tentang si buaya yang pura-pura berbaik hati menolong si kera menyebrang sungai tapi si kera berhasil menipu si buaya, dll.

Sebagian Upacara Prosesi Waisak juga diselenggarakan di sini, seperti acara malam itu yang dihadiri oleh banyak sekali biksu berbalut kain warna warni yang membuat saya melongo keheranan.  Saya tadinya berpikir bahwa warna baju para biksu di dunia ini sama, yaitu oranye, seperti yang sering saya lihat di film-film dan di foto-foto, ternyata warnanya bermacam-macam.  Kata ibu-ibu di samping saya yang tiba-tiba menjawab pertanyaan keheranan saya, katanya itu sesuai dengan “aliran” nya.  Yahh…pokonya seperti itulah… Yang jelas semua biksu dan biksuni itu kepalanya gundul plontos.  Dan ya, mereka mengikuti perkembangan jaman dan teknologi, banyak dari mereka yang memakai ponsel canggih dan kacamata hitam bermerek.

Sebuah arca Budha besar berwarna kuning berkilauan menjadi pusat acara malam itu, dikelilingi oleh hiasan janur-janur kuning beraneka bentuk dan lilin-lilin dimana-mana.  Katanya itu adalah upacara pensakralan api suci, atau entah apa karena saya tidak begitu memperhatikan.  Saya malah takjub melihat tingkah polah biksu-biksu dan biksuni-biksuni, kain jubahnya, tasnya, sepatunya yang seperti sepatu pendekar bertali temali.  Warna-warni keemasan dimana-mana.

Sayangnya saya tidak ikut menyaksikan acara Larung Api Suci di Kali Progo, gara-gara masuk angin parah L

Merapi dari Ketep

Sebagai selingan sambil menunggu acara Waisak, kami mengagendakan untuk pergi ke gardu pandang Gunung Merapi di Ketep.  Kembali merasa sebagai turis bodoh, karena dari Mendut tadi  kami memutuskan untuk kembali ke terminal dulu, sebelum naik jurusan Muntilan yang ternyata juga melewati Mendut.  Dari Terminal Muntilan lanjut lagi dengan bis ke Telatar, dan masih harus naik angkot lagi hingga ke Ketep Pas.

Kami semua (kecuali saya) yang bekerja di Jakarta yang hiruk pikuk dan tergesa-gesa untuk hal apapun, merasa geli dan sekaligus kesal dengan sikap santai para penumpang yang akan turun dan naik ke dalam kendaraan yang sama sekali tidak terburu-buru.  Tidak seperti kebiasaan kami di Ibukota yang bahkan akan berlari-lari mengejar bis kota penuh sesak dan melompat tanpa menunggu si bis berhenti dulu, karena kalau tidak begitu kami akan dimaki-maki kernet dan supir bis beserta seluruh penumpang yang berdesakan seperti ikan asin itu.

Lama-lama kami akan hanya saling melirik dan menyeringai geli tiap kali ada penumpang yang sudah berteriak “kiriii…” tapi dia masih tetap saja duduk manis di dalam bis tanpa tanda-tanda akan turun segera, atau ketika melihat seorang bapak-bapak menyetop bis sambil tetap duduk nyaman di pinggir jalan lalu dengan santai berdiri membenahi barang bawaannya kemudian masih sempat mengobrol dengan sejawatnya sebelum akhirnya naik ke dalam bis yang sudah menunggu cukup lama.

Kami kurang beruntung di Ketep, tidak bisa melihat pemandangan indah menakjubkan ke arah Merapi karena hujan rintik dan kabut, jadi kami hanya menikmati udara dingin sambil mencicipi mendoan hangat dan wedang jahe.

Expresi Derita Sang Biksuni

Seharian itu, sedari pagi, kami di Kawasan Candi Borobudur, tidak berani keluar-keluar karena takut kelewatan suatu acara dan takut tidak diperbolehkan masuk lagi saking ketatnya penjagaan di wailayah acara Prosesi utama yang akan dihadiri Presiden.

Jadi sejak pagi kami sudah wara-wiri di sekitar candi, naik-naik ke atas candi, mengekor rombongan penganut Budha yang sedang beribadah mengelilingi candi dari atas kebawah sambil membawa segala macam atribut keagamaan seperti lonceng yang berdentang-dentang, hio yang mengepulkan asap dupa, taburan bunga-bunga, tasbih besar-besar, dan lantunan doa-doa.  Keringat bercucuran di kening dan leher sang Biksu pemimpin do’a,  batu-batu candi seperti memancarkan halogen serupa kaca karena teriknya matahari.  Panas sekali….

Di bawah sana, di halaman candi sudah disiapkan area untuk prossesi selanjutnya.  Saya yang kecapean dan kepanasan di atas candi tadi, duduk menggelosor di bawah pohon kelapa, menonton berbagai persiapan di arena itu.  Sementara kedua teman saya masih bersemangat mengejar-ngejar rombongan iring-iringan pawai yang kabarnya baru memasuki Area Borobudur dari Mendut sana.  Dua teman lainnya masih diluar Magelang, karena mereka memutuskan untuk berkunjung ke Dieng (Wonosobo) yang cukup jauh jaraknya dari sini.

Seperti biasa, sebuah arca Budha besar berwarna kuning keemasan berada di pusat altar, di bagian depan arena.  Dihiasi dengan berbagai hiasan janur, bunga-bunga, buah-buahan, lilin-lilin dan dupa.  Dilapangan didepannya terhampar terpal plastik.  Alas duduk berbentuk segiempat berukuran sekitar 40 cm x 40 cm , terbuat dari busa dilapisi karet, di letakan berderet-deret.  Ada gang di tengah arena, yang membagi dua arena, membentang dari pintu masuknya di bagian timur hingga ke altar Sang Budha di bagian barat.

Orang-orang mulai berkerumun, para fotograper mulai mencari lokasi strategis untuk dapat mengambil momen-momen istimewa.  Saya duduk mendeplok dirumput, tepat ditepi arena yang dibatasi tali rapia, berlindung dari teriknya matahari dibawah bayang-bayang seorang fotograper (sepertinya sesorang yang kawakan kalau melihat peralatannya).

Rombongan para biksu dan biksuni datang, berbaris rapi, kepanasan bercucuran keringat.  Satu per satu mereka menempati alas-alas duduk yang tadi telah disiapkan.  Biksuni-biksuni berbalut kain warna coklat tua,  duduk berderet-deret di depan saya.  Saya menghadap mereka, mereka menghadap altar Sang Budha.

Fotograper-fotograper berseliweran kesana kemari.  Risi juga melihat mereka, yang sepertinya tanpa sungkan bergerombol depan altar sang Budha yang bagi umatnya adalah suci.

Upacara dimulai dengan serangkaian lantunan do’a-do’a dan ritual-ritual.  Terik matahari jam 2 siang menyorot langsung pada arena, pada muka-muka para biksu dan biksuni.  Tiba-tiba seorang biksuni yang tepat berdiri dihadapan saya terkulai jatuh…, dia pingsan !!!  Mengagetkna kami semua..!!!  Tapi yang lebih mengagetkan lagi adalah tingkah para fotograper yang berkerumun berdesakan disekitarnya guna mendapatkan foto istimewa berupa : EXPRESI DERITA SANG BIKSUNI.  Untunglah mereka berhasil diusir oleh beberapa biksu yang berusaha menolong.

Cepat-cepat saya mengeluarkan minyak Kayu Putih untuk di berikan pada temannya si biksuni yang pingsan itu.  Tidak lama kemudian sang biksuni sadar lagi dah dipapah ke tempat yang lebih teduh.  Matahari memang sangat terik, membuat kepala nyut-nyutan dan berkunang-kunang.

Acara puncak Peringatan Hari Raya Waisak dimulai kira-kira jam 7 malam.  Sedan mercy hitam RI-1 terparkir angkuh dijaga 2 orang Paspampres bersenjata laras panjang.  Yang mengusir semua orang dari area radius 2 meter dari mobil.  Saya bercuek-cuek mengobrol dengan salah satu pasukan Paspampres lain yang sedang agak rileks tepat didepan hidung mobil sedan.  Makan jajanan ini itu yang berhasil dibeli melalui celah pagar area Candi Borobudur karena tidak bisa lagi keluar masuk area sesuka hati.

Ada pementasan macam-macam drama musical tentang Sang Budha, tidak hanya dari Indonesia, tetapi juga dari negara-negara ASEAN lainnya.  Saya mengintip layar lebar yang menampilkan setiap acara, memanjang-manjangkan leher berusaha melihat lebih jelas, bersama ratusan rakyat jelata lainnya yang tidak termasuk dalam daftar undangan tamu yang duduk-duduk disana itu.

Merasa bosan dengan acara-acara tersebut, kami keluyuran di halaman sekitar Candi Borobudur.  Stupa teratas candi berpendar disoroti lampu berwarna putih.  Kok mirip es krim ya..???, pikir saya.

Candi dan Merapi

Saya rasa kedua hal itu yang akan selalu menjadi “benang merah” untuk Yogyakarta.

Entah berapa banyak candi-candi yang ada di seputar Yogyakarta.  Peradaban Nusantara Kuno sepertinya memang berpusat di sini.  Candi-candi, mereka adalah perpustakaan raksasa untuk budaya dan peradaban manusia Nusantara.

Jadi, seperti lajimnya wisatawan yang datang ke Yogyakarta, kami mengunjungi candi demi candi, Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Prambanan, Candi Ratu Boko, dan candi-candi lainnya dalam kompleks percandian yang lebih kecil.

Luar biasa sekali nenek moyang orang-orang Nusantara ini.  Andai saja ada sesuatu “kekuatan”, seperti di film-film dan buku-buku fiksi, yang bisa membawa saya kembali ke masa-masa kejayaan kerajaan-kerajaan besar Nusantara seperti Kerajaan Majapahit misalnya….

Lalu ada Gunung Merapi yang selalu aktif dan Mbah Maridjan (waktu itu beliau masih hidup), sang kuncen yang teguh menjaga Sang Gunung, apapun yang terjadi.  Saya rasa, kita semua kagum dengan keteguhan hati Sang Kuncen bersahaja itu.  Maka dari itu, kami memutuskan untuk “sowan” ke rumah Mbah Terkenal itu juga, mumpung kami ada di Yogya.

Kami mendaki Bukit Kali Urang hingga tembus ke Kali Kuning, sungai yang batu-batuannya berupa batu-batu lava berwarna kuning yang terbawa arus lahar panas sewaktu erupsi beberapa tahun lalu.  Cukup menguras tenaga juga acara trekking rute Kaliurang-Kalikuning ini.  Mengundang keluhan dan umpatan dari teman-teman saya yang tidak terlalu trekking-trekking blasak-blusuk seperti saya, apalagi ketika kami bertemu dengan jalan aspal mulus setelah Kali kuning.

Tujuan kami sebenarnya adalah Kaliadem, suatu kawasan yang dulunya adalah kawasan wisata, tapi kemudian hancur lebur diterjang lahar dan awan panas, memporak-porandakan segalanya, memakan korban harta benda dan nyawa.

Kami melewati rumahnya si Mbah yang sepertinya sedang sibuk menerima tamu-tamu kalau dilihat dengan banyaknya mobil yang diparkir di pinggir jalan tadi.  Lalu melewati padang rumput, dan sampailah ke kawasan Kaliadem yang sudah porak poranda diterjang lahar dan awan panas, yang tersisa hanya berupa puing-puing bangunan yang terkubur dalam lahar yang kini sudah mendingin dan mengeras.  Dan ada bungker maut yang telah memerangkap dua orang relawan Tim SAR ketika awan panas “wedus gembel” bersuhu hampir 100 derajat celcius datang melintas.

Dalam kengerian puing-puing kehancuran bencana Merapi, ternyata kami memperoleh pemandangan matahari sore di balik Gunung Merapi yang spektakuler.  Siluet remaja-remaja yang sedang menghabiskan sore disana menjadi objek menarik untuk difoto.

Wisata religi, budaya, kuliner, petualangan, hingga wisata bencana sudah mewarnai 5 hari kami wara-wiri di Yogya.  Tiba saatnya kami pamit dan kembali ke kehidupan rutin masing-masing.

====================================

Thanks to: Rey, Wied, Devi n Dini for our wonderfull time together

Salah satu kontestan pemenang dalam lomba adventure journal   http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/waisak-trip-dari-candi-ke-candi-dari-merapi-ke-merapi/   Oleh : Dian Sundari

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s