Pulau Rote : 3 Kejutan dari Desa Kuli

Posted: October 9, 2012 in NTT
Tags: , ,

Dalam suatu perjalanan memang kita harus siap dengan segala kejutan. Dan hari pertama di Pulau Rote (NTT) ini saya mendapatkan 3 sekaligus !!!

==================================

30Agst2011

Rumah adat susah ditemui di Rote

Hari ini saya dikejutkan oleh 3 hal, yang pertama adalah bahwa rumah adat sangat susah ditemui di Pulau Rote ini.  Hari ini saya menjelajah dari Ba’a di pesisir utara Pulau Rote hingga Desa Kuli di pesisir selatan Pulau Rote, dan hanya menemukan 1 saja rumah adat, yaitu di Desa Kuli.

Istana Raja Lole (Dibangun tahun 1927)

Rumah adat tersebut dibangun pada tahun 1927 oleh Raja Lole yang bernama Ndi’i Hua . Dulunya diperuntukan sebagai sekolah, demikian cerita yang dituturkan oleh Mama Dilak, cicit dari Sang Raja. Beliau beserta keluarganya kini mendiami rumah panggung yg sangat besar itu.

Rumah itu memang besar sekali, ukurannya mungkin sekitar 14m x 14m, tinggi tiang kolong rumahnya kira2 1,5meter. Penampilannya sudah setua umurnya, sudah perlu perbaikan disana sini, yang tentu saja memerlukan biaya yang sangat besar.

Gempa menggoyang Rumah Adat Raja Lole

Ketika sedang asyik-asyiknya mendengarkan cerita Mama Dilak diteras depan, tiba-tiba rumah itu terasa bergoyang-goyang dan bunyi kerekatkrekot, ternyata ada gempa, maka kami pun tergesa-besa turun ke halaman, karena takut rumah tua ini roboh. Gempa inilah hal kedua yang mengejutkan saya hari ini. Rupanya memang sering terjadi gempa disini. Dan setiap kali ada gempa, Mama Dilak selalu lari ke halaman, karena takut rumah lapuk yang besar ini rubuh.

Mama Dilak bercerita dengan penuh semangat

Cerita masih terus di halamannya luas dan teduh. Lingkungan rumah adat ini dipagari pohon lontar dan pohon asam jawa. Lingkungan luarnya berupa hamparan sawah hijau yang luas. Sebatang pohon asam jawa yang sangat besar dan rindang yang tumbuh di halaman depan mungkin umurnya sudah setua umur sang rumah, dan sudah menyaksikan berbagai kejadian bersejarah yang berlangsung disitu. Termasuk kejadian mengenaskan di th 2000-2001 yg menjadi kejutan ketiga buat saya hari ini.

Perang Antar Suku yang sangat Brutal

Kejadian tersebut adalah perang antar warga Kecamatan Rote Barat Daya [yang merupakan keturunan dari Kerajaan Ti] dengan Kecamatan Lobalain [ yang merupakan keturunan dari Kerajaan Lole], ini adalah perang memperebutkan perbatasan yang sudah membara sejak jaman nenek moyang dahulu kala. Rumah-rumah dijarah dan dibakar. Penduduk perempuan dan anak-anak Mengungsi ke gunung kapur, bersembunyi didalam goa dan minta perlindungan gereja. Penduduk laki-laki dewasa dan dianggap sudah cukup dewasa maju berperang dengan senjata seadanya untuk mempertahankan desa dari serangan musuh yang menyerbu dari seberang sungai. Penduduk yang tewas cukup banyak, bahkan ada yang kepalanya dipenggal dan ditancapkan ditiang, sedangkan badannya dimutilasi hingga tinggal tulang belulang. Demikian tutur Jonathan, salah satu ‘pemuda veteran perang’ dan Mama Dila bergantian. Perang tersebut berlangsung selama setahun penuh. Perdamaian terjadi setelah adanya campur tangan pemerintah.

Saya terkesima mendengarkan peristiwa menyeramkan tersebut.

Hati saya terenyuh melihat sisa-sisa kuburan Sang Raja Lole yang sudah rusak dan dengan sangat menyedihkan separuhnya sudah dijadikan jalan raya. Tidak dihormati.  Seakan-akan tidak ada lahan lainnya untuk dijadikan jalanan. Hanya ornamen berbentuk mahkota nya saja yang menunjukkan bahwa itu adalah kuburan seorang raja.

Kuburan Raja Lole yang tergerus proyek pembangunan jalan desa

??????????????????????

Saksi sejarah Rote lainnya adalah Bukit Mandao, sebuah bukit kapur ditepi pantai selatan Rote yang sudah menjadi sejarah sejak jaman raja-raja di Rote [ada 19 kerajaan], tempat mencari “ilmu halus” bagi dukun-dukun, tempat bersemedi mencari wangsit, dan tempat pertemuan raja-raja Rote dalam menyelesaikan masalah-masalah pelik seperti perang memperebutkan perbatasan. Dan disana pula dikuburkan 3 kepala yang dipenggal pada perang perbatasan di tahun 2000-2001 lalu, serta dibuat suatu monumen yang sekarang dijadikan sebagai sarana wisata, sehingga hilang sudah aura magisnya.

Pemandangan dari atas Bukit Mandao

Orang sana menyebut Bukit Mandao sebagai “bukit tangga 300”.  Kini tempat tersebut tampak sangat tak terurus, pagar besi pengaman di sepanjang kurang lebih 365 anak tangga beton yg dibuat untuk kemudahan pengunjung, telah patah dan roboh di sana-sini. Gazebo-gazebo untuk beristirahat sejenak di beberapa titik pendakian, juga telah rusak, atapnya patah. Serta taman yang sedianya cukup asri dipuncaknya, kini juga sudah sangat menyedihkan keadaannya.

Bukit Mandao dilihat dari pantai kebun rumput laut

Jonathan "Jona" Hendrik, pemuda setempat yang mengantar-antar saya kesana kemari (https://www.facebook.com/jonatan.hendrik?fref=ts)

Jonathan “Jona” Hendrik, pemuda setempat yang mengantar-antar saya kesana kemari  (https://www.facebook.com/jonatan.hendrik?fref=ts)

Namun, pemandangan dari puncak masih menyajikan suatu keindahan alam yang sungguh spektakuler. Laut selatan biru membentang sejauh mata memandang. Beberapa gugusan pulau karang tampak berserakan di lepas pantai, yang terbesar bernama Pulau Lai atau Nusa Lai. Nelayan petani rumput laut dan pencari kerang & teripang tampak sekecil semut dibawah sana. Sedangkan bukit batu tampak seperti benteng kokoh di sebelah utara. Di timur, jajaran pepohonan hijau membentang menghiasi lekuk pantai. Dan di barat sana matahari merah sedang akan tenggelam ke balik bumi. Langit, laut, dan pepohonan dibanjiri warna kuning keemasan.

Matahari tenggelam di hadapan Bukit Mandao

Walaupun katanya telah hilang “kekuatan magis” nya, tapi saya tidak bersedia kalau kemalaman di atas sana, siapa tahu masih ada yang tersisa hiiiiiiiii……

==========================================

Salah satu kontestan pemenang dalam lomba adventure journal http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/pulau-rote-3-kejutan-dari-desa-kuli/  Oleh : Dian Sundari

Comments
  1. Oppi Ningrum says:

    menurut ibu dian sundari.. apa ada permasalahan abrasi atau sedimentasi di pulau ini?

  2. Sekedar Share sekaligus “klarifikasi” tentang informasi yang Ibu Dian Sundari dapatkan, bahwa bahwa sejarah kerajaan di Rote umumnya dan Kerajaan Lole khusunya, tidak ada dan belum pernah ada Raja Lole yg namanya “Noi’i Hua” …apalagi dari marga Dillak…Karena sejarah di Rote hanya mencatat Nama “Ndi’i Hu’a sebagai Raja Lole yang kemudian dalam expedisi rohani pada abad 16 M ke Batavia bersama Iparnya, yakni Raja Thie “Foe Mbura”. Di Batavia selanjutnya kedua Raja ini dibabtis dengan nama Foe Mbura bernama Benyamin Messakh (Raja Thie)dan Ndi’i Hu’a bernama Balsasar Zacharias (Raja Lole). Saya berharap informasi ini semakin memotivasi niat baik dari Ibu Dian untuk lebih menggali informasi dari sumber-sumber yang lebih lengkap dan aktual.

    • dians999 says:

      Makasih Pak Daniel untuk koreksi nya..🙂
      Saya menceritakan kembali apa yang diceritakan Mama Dilak , seru banget cara berceritanya 😀

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s