Pulau Rote : Ndana, Mimpi Yang Tertunda

Posted: October 9, 2012 in NTT
Tags: , , ,

Saya ke Pulau Rote sebetulnya tujuannya adalah agar bisa menyebrang ke Pulau Ndana, pulau paling selatan Nusantara, untuk melihat-mendengar-dan-merasakan sedikit kehidupan keseharian para penjaga perbatasan negri ini.

============================

01Sept2011

Tapi apa daya, mimpi saya itu masih harus tertunda karena kendala biaya dan waktu.  Suatu hari nanti saya akan kembali untuk mewujudkan mimpi ini.  HOWGH..!!!!  (itu adalah kata penutup yang dipakai suku Indian Apache untuk menegaskan maksud dari suatu phrase atau kalimat panjang, seperti yang saya baca dalam buku-bukunya Dr. Karl May seri Winnetou).

Mengejar matahari terbenam di Nembrala

Hari sudah gelap ketika saya tiba di Nemberala dengan menyewa ojek (Rp.75rb, 2 jam).  Desa Nemberala, menurut beberapa informasi, adalah starting point untuk ke pulau impian saya, Pulau Ndana.

Ada 3 penginapan milik penduduk lokal yang budget harganya terjangkau, kami memilih Tirosa Homestay  yang berada di tepi pantai (Rp. 150rb per orang, sudah termasuk makan 2 kali dan makanan kecil untu sarapan, listrik hanya menyala malam hari, air bersih pun di jatah).  Hampir semua tamunya adalah bule, hanya saya, teman saya, dan 1 orang tamu lain asal Bandung, wisatawan lokalnya.  Gaya makannya, ala prasmanan, tamu lokal dan bule sama menunya dan di meja yang sama pula.  Suasanan makan bersama ini cukup akrab.  Rupanya, bule-bule itu rata-rata sudah tinggal lebih dari 2 minggu di sini.  Mereka adalah para penunggang ombak besar alias surfer.

Malam hari dilewatkan dengan duduk duduk di tepi pantai memandang jutaan bintang diatas kepala dan mendengarkan suara ombak.  Jika bosan di tepi pantai, ada 2 bar yang bisa dikunjungi.  Membaca buku juga menjadi pilihan pengisi malam, atau….. tidur cepat seperti saya.  Jendela kamar yang tidak bisa ditutup, menyebabkan angin malam leluasa memasuki kamar, hebatnya tidak ada nyamuk seekorpun seperti umumnya di area pantai.  Saya bergelung dalam kantung tidur karena semakin malam, angin lautnya terasa semakin dingin.

Pantai Nemberala pagi dan sore hari ternyata selalu ditinggalkan air laut, alias surut.  Kubangan-kubangan air laut diantara karang dan pasir memerangkap beberapa makhluk laut yang telat pulang.  Bintang laut berwarna kuning, orange, merah, dan coklat banyak bertaburan di pantai yang surut, beberapa diantaranya mati kekeringan dan kepanasan.  Saya sempat menemukan seekor ikan scorpion kecil dan seekor nudie brances yang terperangkap dalam kubangan.

Laut surut di pagi hari, meninggalkan mahluk-mahluk cantik di kubangan-kubangan karang

petani rumput laut

Saking asyiknya menengok ke dalam setiap kubangan dan mengobrol dengan para petani rumput laut, saya hampir lupa mencari tumpangan perahu nelayan yang akan pergi ke pulau impian saya itu.   Ternyata mahal sekali sewa perahu untuk pergi ke Pulau Ndana, walaupun sudah menawar sambil memelas, biayanya masih saja tinggi, Rp.600rb untuk 2 orang.  Saya berusaha mencari turis-turis lain yang kira-kira bertujuan pergi ke Ndana juga, tapi tak membuahkan hasil.  Jadi…., saya harus merelakan mimpi saya tertunda saat ini.

Untuk mengobati kekecewaan, kami memutuskan untuk pergi ke pulau lain yang lebih dekat, Pulau Do’o, sebuah pulau kecil tak berpenghuni yang bisa dicapai dalam waktu 1 jam.

Pulau Do’o yang sepi

Pulau Do’o memiliki pasir pantai yang berwarna putih dan halus, terasa tetap adem di telapak kaki walaupun ditengah hari yang sangat terik.  Pulau ini sangat cocok untuk menyepi.  Anda bisa menggunakan salah satu gubuk sementara terbuat dari daun-daun yang dibuat oleh para nelayan sebagai tempat beristirahat sekedarnya.  Atau Anda bisa membangun gubuk Anda sendiri, tapi harus bawa air tawar bersih yang banyaaaakkkkk…. karena tidak ada sumber tawar di sini, ada 1 sumur agak di tengah pulau, tapi airnya payau.

Gubuk singgah para nelayan

Jadi, suatu hari saya mau ke Rote lagi, lalu ke Desa Eoselli di Boa, katanya dari situ lebih dekat ke Pulau Ndana, pulau impian saya yang tertunda.

==========================================

Salah satu kontestan pemenang lomba : http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/pulau-rote-ndana-mimpi-yang-tertunda/  Oleh : Dian Sundari

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s