Pulau Rote : Tuak – Gula Aer – Laru – Sopi

Posted: October 9, 2012 in NTT
Tags: , , , , ,

Nektar bunga lontar (Borassus flabellifer L.) atau bunga gawang (Corypha utan lamk.), itulah bahan baku pembuatan gula cair, laru, dan sopi, juga gula lempeng serta gula semut (gula bubuk). Nektar lontar yang baru disadap disebut tuak.  Tuak yang dimasak hingga kental disebut gula aer. Gula aer yang difermentasi dengan ragi yang dibawa oleh akar pohon laru disebut “laru”, laru ini mengandung sedikit alkohol dan bersoda. Laru kemudian di destilasi untuk menghasilkan embun sopi. Sopi ini mengandung alkohol > 40%.

==============================

31Agst2011

Lontar (Borassus flabellifer L.) terlihat dimana-mana di wilayah Timor.  Hal pertama yang saya ingat jika seseorang menyebutkan lontar adalah bahwa jaman dahulu kala  kitab-kitab kuno ditulis pada daun lontar. Saya pikir di jaman sekarang ini, pohon lontar sudah tidak ada lagi, sampai saya melakukan perjalanan ke Wilayah Timor, ternyata Timor bukan hanya negeri kayu cendana tapi juga negri seribu lontar, karena pohon lontar terdapat dimana-mana.

Petani lontar dengan gesit memanjat pohon lontar yang tinggi, untuk memanen nektarnya

Seluruh bagian pohon lontar bisa digunakan untuk menopang kebutuhan mendasar hidup manusia.  Bukan hanya untuk menulis kitab kuno, daun lontar ternyata bisa dibentuk menjadi berbagai macam wadah yang sangat unik, bisa dibuat menjadi semacam mangkuk atau baskom, sebagai piring, sebagai ember, bahkan sebagai topi yang disebut Tii’langga, serta sebagai bahan untuk membuat berbagai macam alat musik (seperti sasando yang sudah menggetarkan hati para juri lomba “Indonesia Mencari Bakat” di salah satu stasiun televisi).  Buah lontar juga ternyata enak dan segar, dengan daging buahnya yang agak sedikit cair jika masih muda, sedikit kenyal dan akan semakin keras jika sudah tua.  Bunga lontar, memiliki nektar yang biasanya disadap dan dijadikan berbagai jenis minuman, mulai dari tuak (nektar lontar yang baru saja disadap), gula aer, gula lempeng (gula padat), gula bubuk (gula semut), bahkan minuman beralkohol seperti laru dan sopi, serta asam cuka.  Menurut penduduk desa, bahkan getahnya pun bisa dimanfaatkan untuk menyembuhkan luka gores.

Sore dan pagi hari adalah saat bagi para lelaki pengrajin gula lontar untuk mengambil hasil sadapan nira lontar dan membersihkan penampung nektar serta memasang yang baru.  Wadah penampung itu harus selalu bersih supaya nektarnya tidak cepat menjadi asam.

Obrolan dan gurauan dalam bahasa lokal yang tidak saya pahami, serta tawa ceria, dari para lelaki yang sedang bertenggeran di puncak pohon lontar tiba-tiba memenuhi langit Desa Kole (Pulau Rote) ketika saya menjepretkan kamera saku ke arah pamannya Jona yang sedang memanjat pohon lontar.  Ditimpali suara teriakan ibu-ibu yang tiba-tiba sudah bermunculan dari dapur-dapur pembuatan gula lontar masing-masing.  Hahahaaa…lucu sekali , rupanya mereka sedang meledek pamannya Jonna yang saat itu jadi seperti selebritis karena saya foto berkali-kali dari berbagai sudut pandang :))

Dapur untuk memasak gula aer lontar. Nektar lontar alias tuak yang baru dipanen, diwadahi dengan semacam ember yang terbuat dari anyaman daun lontar, tampak digantung di tiang-tiang dapur.

Nektar bunga lontar (Borassus flabellifer L.) atau bunga gawang (Corypha utan Lamk.), itulah bahan baku pembuatan gula cair, laru, dan sopi, juga gula lempeng dan gula semut (gula bubuk).  Nektar lontar yang baru disadap disebut tuak, jika diambilnya pagi hari dan sore hari rasanya manis segar, tapi jika siang hari maka rasanya sedikit asam. Di Ba’a (Pulau Sabu), saya sempat mencicip tuak yang rasanya sedikit asam, walaupun baru saja diturunkan dari pohon lontar,  waktu itu sekitar jam 11an siang.  Sedangkan di Desa Kuli (Pulau Rote), sore hari saya mencicipi tuak yang begitu manis segar.

Mencicipi tuak nektar lontar yang manis segar

Gula aer

Tuak itu kemudian dimasak dalam belanga-belanga besar diatas tungku kayu bakar selama beberapa lama hingga mengental dan berwarna coklat muda, disebut sebagai gula aer, dan biasanya dijual dalam jerigen-jerigen 20 literan (Rp.25000) atau dalam botol-botol bekas air minum dalam kemasan 1,5 liter.

Mama Elizabeth dari Pulau Sabu menyuruh saya untuk meminum banyak-banyak gula aer ini, katanya biar cepat gemuk dan agar penyakit tukak lambung saya cepat sembuh.  Beliau prihatin melihat tubuh saya yang kurus kerempeng.  Akhirnya di Pulau Rote, saya membeli 1 jerigen (20 liter) gula aer untuk oleh-oleh , walaupun saya bingung bagaimana membawa-bawa jerigen tersebut beserta backpack saya yang sudah berat itu kemana-mana (tempat yang ingin saya tuju masih banyak setelah dari Pulau Sabu & Pulau Rote ini)

Memasak tuak menjadi gula aer

Gula aer yang dimasak agak lama hingga sangat kental biasanya dibuat menjadi gula lempeng (gula padat), yang dibentuk kecil-kecil bulat.  Bentuk gula yang lainnya adalah gula semut yang berbentuk bubuk.   Gula aer juga menjadi teman yang sangat cocok untuk menikmati air kelapa muda, apalagi kalau ditambahkan es batu… hmmmmm… segarrrrrrr…

LARU

Gula aer  dapat pula dijadikan bahan baku pembuatan laru, minuman fermentasi beralkohol rendah yang difermentasi dengan ragi yang ada pada akar pohon laru.

Fermentasi tuak lontar menggunakan akar pohon laru, dalam beberapa jam akan timbul busa-busa di permukaan. Rasa tuak yang manis akan berubah menjadi sedikit asam, mengandung sedikit soda, dan sedikit alkohol.

Laru merupakan hasil fermentasi gula aer dengan menggunakan akar pohon laru (Alstonia acuminata Miq.).  Akar pohon laru ini rupanya adalah agen pembawa mikroba yang nantinya akan menguraikan kandungan gula (sakarosa, fruktosa dan glukosa) dalam gula aer menjadi ethanol, CO2 dan beberapa asam organik (biodiversitas.mipa.uns.ac.id/D/D0903/D090302.pdf).  Salah satu jenis mikroba yang berhasil diisolasi dari akar laru adalah Pichia anomala, sejenis yeast atau ragi.

Akar laru direndam dalam gula aer , setelah beberapa lama akan timbul gelembung-gelembung gas.  Gelembung-gelembung gas tersebut lama-lama akan hilang, hal ini adalah tanda bahwa proses fermentasi telah selesai, artinya hampir seluruh kandungan gula telah dikonversi oleh yeast Pichia anomala menjadi ethanol, gas CO2 dan asam-asam organik. Kandungan alkohol dalam laru lebih dari 10%  (www.forda-mof.org/files/Lontar.pdf).

asyik mencicip laru langsung ciduk dari drum yang berbusa-busa.

Laru warnanya kuning kecoklatan, cair, rasanya manis asam segar dan sedikit berasa seperti bersoda.  Aromanya juga manis dan segar.  Semakin lama, rasanya akan semakin asam.  Jika gelembung-gelembung gas di permukaan laru sudah menghilang, artinya laru sudah siap untuk dijadikan sebagai bahan baku pembuatan sopi, demikian kata Bapak Sadrek Daepanie, pengrajin sopi skala rumah tangga, dari Desa Tuanatu (Kec. Lobalain, Kab. Rote-Ndao), yang bersedia mengajari saya “ilmu luhung” turun temurun dari nenek moyang pembuat sopi.  Drum-drum berisi laru yang masih dalam tahap fermentasi, permukaannya tampak penuh dengan busa-busa putih, ketika dicicipi, rasanya begitu segar, harum, manis, sedikit asam, dan bersoda.  Disampingnya, tampak drum berisi laru yang tengah dimasak dalam rangka membuat sopi.

Sopi

Saya yang penasaran dengan cara pembuatan sopi merasa sangat beruntung sewaktu diijinkan untuk melihat sendiri unit pengolahan sopi milik Bapak Sadrek Daepanie.  Lokasinya di area sawah karena membutuhkan air mengalir yang cukup banyak.  Ya, ternyata di Pulau Rote yang sebagian besar adalah wilayah kering, masih terdapat cukup banyak areal pesawahan yang hijau subur walaupun tanahnya berwarna sedikit putih karena tingginya kandungan kapur.

Bapak Bapak Sadrek Daepanie, pengrajin sopi tradisional

Sopi merupakan hasil pemurnian dari laru melalui cara destilasi.  Darimana awal mula nenek moyang orang Timor ini mempelajari teknik destilasi ????   Hmmmm…entahlah….  karena sewaktu si Kapten Cook, pengelana dari Inggris mampir di pulau-pulau ini, sudah disuguhi sopi, bahkan membawa berdrum-drum sopi ke dalam kapalnya.

Saya terpana melihat properti pembuatan sopi, sangat sederhana : sebuah drum yang dilengkapi 2 lubang berpipa tempat untuk laru yang akan dimasak, sepotong batang pohon kelapa yang bagian tengahnya dilubangi sebagai tempat penampung air pendingin , sepotong pipa tembaga yang disambungkan dengan drum lalu melewati bagian dalam si batang pohon kelapa dan harus terendam air, kemudian jerigen penampung hasil destilasi.

Dua lubang yang terdapat pada drum untuk memasak gula aer itu, yang lubang pertama adalah untuk memasukan laru, jika laru sudah selesai dimasukkan, maka lubang ini ditutup rapat dengan sumpal kayu.  Lubang kedua adalah untuk mengalirkan uap laru yang mendidih ke dalam pipa tembaga sepanjang kurang lebih 1,5 meter.  Pipa tembaga tersebut direndam dalam air untuk mempercepat pengembunan uap sopi, pemakaian air mengalir akan lebih mempercepat proses pendinginan dan pengembunan uap sopi menjadi tetesan-tetesan sopi yang kemudian akan di tampung ke dalam jerigen-jerigen 20 literan.

unit destilasi sopi secara tradisional

Cairan sopi yang pertama keluar disebut sopi kepala dan bermutu paling tinggi sehingga paling dicari oleh para penikmat sopi.  Harganya pun paling mahal.  Bapak Sadrek biasanya menjual sopi kepala seharga Rp20.000 per botol air mineral volume 600 ml.  Semakin lama, mutu sopi semakin menurun . 2 liter laru akan menghasilkan 2 liter sopi bermutu baik, jika lebih dari itu maka sopi yang dihasilkannya akan bermutu kurang baik dan sifatnya cepat memabukan.  Sopi bermutu baik bermanfaat bagi kesehatan tubuh jika dikonsumsi secara tidak berlebihan, cukup 1 sloki sebelum tidur.    Kadar alkohol dalam sopi berkisar antara 36 – 43% %, 2 kali penyulingan sopi akan menghasilkan alkohol murni 98%  (www.forda-mof.org/files/Lontar.pdf).

Sopi yang saya beli dari Bapak Sadrek berkadar alkohol 47% ketika saya cek sendiri di laboratorium tempat saya bekerja.  Pantas saja mulut , tenggorokan dan perut saya terasa terbakar ketika saya mencicipinya walau cuma setutup botol air minum.

Rasanya….????  Hmmm…. pahit seperti minum spirtus, tenggorokan dan dada terasa panas.  Tapi rasanya itu cepat hilang.  Bagi saya yang tidak pernah minum minuman beralkohol sebelumnya, masih belum bisa merasakan manfaatnya bagi tubuh, selain jadi sedikit mengantuk.  Mungkin saya harus mencobanya lebih sering ^_^

Jadi… selamat menikmati panasnya sopi !!!

Tapi harus dijaga takarannya… nanti mabok kalau terlalu banyak :-p

==============================

Salah satu kontestan pemenang dalam lomba adventure journal http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/pulau-rote-tuak-gula-aer-laru-sopi/  Oleh : Dian Sundari

Comments
  1. ghozaliq says:

    waaa….pulau rote…. salah satu pulau yang ingin saya kunjungi,,,😀
    baru tau juga kalau cara membuat sopi seperti itu…
    .
    salam celoteh backpacker😀

  2. Erasmus says:

    Halo mbak, perkenalkan saya warga Rote. Saya sangat senang mbak memperkenalkan Sopi Rote ke publik.
    Mohon ijin, data 47% alkoholnya saya pakai dalam artikel saya. Juga ada beberapa gambar yang saya ambil dari artikel ini.
    Terima kasih

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s