Pulau Sabu 4: Ada Deo di Setiap Langkah

Posted: October 9, 2012 in NTT
Tags: , ,

Setiap aspek kehidupan masyarakat Sabu selalu melibatkan kuasa Tuhan Yang Maha Kuasa (Deo Mone Ae), setiap kegiatan-kegiatan selalu diawali dengan ritual-ritual dengan maksud memohon bimbingan, petunjuk, berkat serta penjagaan dari Deo, misalnya untuk memulai proses menyadap nira lontar sekalipun harus meminta ijin dari Deo Mayang, mewadahi nira kepada Deo Haik, memasak gula lontar kepada Deo Haba Hawu dan Jiwa Hode yang bertugas menjaga kayu bakar. Itu adalah bukti betapa besarnya penghormatan orang Sabu terhadap kuasa Pencipta Alam Semesta (Deo Mone Ae).

Persinggahan kedua dengan budaya Sabu saya alami di Kampung Pedero dan Kampung Mehara.

================================

Kampung Pedero

Seperti halnya Kampung Namata, Kampung Pedero juga terletak di atas bukit.  Pemandangan membentang ke arah selatan hingga ke samudera biru.  Satu dua rumah beratap ilalang terlihat disana-sini didataran rendah antara Kampung Padero dan samudra biru.

Kampung Padero memiliki situs arena upacara adat yang tidak kalah menarik dengan yang ada di Kampung Namata.  Sebuah pohon yang sangat besar dan rindang, usianya mungkin sudah ratusan tahun, menjadi pusat arena tersebut.  Daunnya yang lebat dan rindang walaupun di musim kemarau yang sangat kering seperti saat ini, menaungi “kursi-kursi” berupa sandaran dari batu yang ditata melingkari sang pohon.

Arena upacara adat Kampung Padero

Seorang Mama Tua sedang duduk di salah satu sandaran batu, beliau sedang khusu “mendandani” selembar kain tenun ikat yang sangat cantik.  Dua orang anak laki-laki kecil, mungkin cucunya, sedang asyik bermain di sekitarnya.  Seekor anjing berwarna hitam sedang asyik tiduran disampingnya.  Semua kedamaian dibawah keteduhan pohon rindang itu buyar seketika akibat kedatangan saya.  Si anjing hitam seketika terbangun dan menggonggong-gonggong.  Kedua anak laki-laki itu menghentikan permainan mereka, lalu mendekat dengan ragu-ragu tapi matanya memancarkan binar keingintahuan.  Hanya Mama Tua yang tetap tenang, hanya mengangkat kepala dan tersenyum lembut, sambil tetap meneruskan pekerjaannya.

Sayangnya Mama Tua tidak bisa berbahasa Indonesia, dan tidak ada orang lain di situ untuk tempat bertanya.  Om Riki yang menjembatani kami, agak kesulitan menterjemahkan bahasa saya dan bahasa Mama Tua.

Tenun asli Kampung Padero

Kampung Mehara

Dari Kampung Padero, kami berpindah ke Kampung Mehara.  Akses jalan ke sini berupa jalan tanah berbatu, perlu keahlian dan kelincahan bermanufer diatas sepeda motor untuk bisa melaluinya.

Kampung Mehara juga terletak diatas bukit, merupakan kompleks rumah adat yang dihuni oleh keluarga Deo Rai Mehara.  Di tempat ini sudah dibangun sebuah “workshop” sekaligus “galeri” seni yang sederhana.  Didalamnya terdapat alat tenun, kain tenun, dan peralatan rumah tangga terbuat dari berbagai bagian dari pohon lontar.  Di sini, ibu-ibu membentuk sebuah Kelompok Tenun bernama “Tewu Nirai” yang beranggotakan 30 orang.  Mereka sangat produktif menghasilkan kain tenun Sabu yang menggunakan pewarna alam dari tumbuh-tumbuhan, seperti para perajin di Desa Kaliuda (Sumba Timur).  Kain tenun mereka kemudian secara berkala diambil oleh pedagang tenun dari Bali, dan kadang-kadang dari luar negeri, seperti Perancis.

Mama Beni Godi dari Kelompok Tenun “Tewu Nirai” yang sempat tampil di Museum Horniman (London)

Kampung Mehara memang sudah merupakan tujuan wisata budaya di Sabu, terutama bagi para wisatawan dari luar negri.  Bahkan ada yang tinggal lama di sini untuk mempelajari tenun Sabu yang indah.  Dialah Nyonya Genevieve Dugan (asal Perancis).  Beliau juga lah yang telah memprakarsai penampilan para wanita penenun dari Sabu untuk tampil di Museum Horniman (London).  Saya beruntung bertemu dengan Mama Beni Godi, salah satu penenun yang sempat pergi ke London saat itu.

Saya juga sangat beruntung karena Bapak Raja bersedia mengijinkan saya masuk ke istana Keluarga Deo Rai Mesara. Melihat altar untuk upacara kematian dan berbagai senja pusaka bertuah milik nenek moyang Keluarga Deo Rai Mesara yang masing-masing memiliki cerita magis.

Rumah Raja Mehara

Dan terjawablah sudah pertanyaan yang memenuhi benak saya berkaitan dengan adat pemakaman, karena selama di Sabu, baik di Kampung Namata maupun di Kampung Padore tidak menemukan satupun kuburan.  Mungkin kepala saya telah terlalu dipenuhi gambaran bahwa di Sabu akan menemukan hal yang relatif sama seperti di Sumba.  Jadi saya bingung dan heran ketika tidak menemukan satupun kuburan.

Rupanya memang budaya Sabu dalam hal penguburan amat sangat berbeda dengan di Sumba.  Di Sumba, ukuran serta ornamen-ornamen penghias sebuah kuburan menjadi penanda status sosial si mati beserta keluarganya.  Semakin “wah” maka artinya semakin tinggi pula status sosialnya di masyarakat, dan semakin banyak ternak dan tenun yang dipersembahkan kepada si mati adalah semata-mata untuk bekalnya di dunia arwah.  Sedangkan di Sabu sini, lokasi tempat sesorang dikuburkan tidak boleh terlihat dan diketahui orang lain.  Orang yang meninggal akan dikuburkan di kolong rumah tempat kelahirannya, sesuai dengan budaya rambut atau “Ruketu” yaitu tradisi mengembalikan arwah ke tanah leluhur.  Karena menurut kepercayaan leluhur, setelah sesorang meninggal, maka pertama-tama arwahnya akan singgah di alam “Rai Ehu Nga Tewuni” yaitu tanah tempat tersimpannya tali ari-ari.

Kuburan di kolong rumah

Seperti salah satu keluarga Deo Rai Mehara yang baru meninggal dunia 20 hari yang lalu.  Mayatnya dikuburkan dibawah beranda rumah keluarga, tidak diberi penanda apapun, hanya selembar tikar daun lontar dihamparkan menutupi gundukan rendah tanah kuburannya.  Kalau saja tidak diceritakan oleh Bapa Deo Rai, maka saya tidak akan menyangka bahwa itu adalah kuburan.

Rumah adat Sabu (emmu hawu) juga berbeda dengan di Sumba.  Di Sabu rumah adatnya memanjang horizontal, seperti perahu terbalik, sedangkan di Sumba memanjang vertikal dan ada juga yang bulat atapnya.  Bagian dalam rumah adat Sabu  juga tidak dibagi-bagi berdasarkan gender seperti di Sumba, tidak ada pintu masuk dan area khusus bagi perempuan ataupun pintu serta area khusus untuk laki-laki.  Memang ada 2 pintu, satu dekat dapur, dan satunya lagi dekat tiang pemujaan pada Deo.  Di bagian tengah rumah adalah altar untuk upacara kematian.

Walaupun sebagian besar warga Sabu sudah memeluk agama Kristen Protestan, akan tetapi mereka masih mempertahankan kepercayaan dan tradisi nenek moyang hingga sekarang, termasuk kepercayaan tehadap para dewa atau Deo dan kepada tokoh gaib yang masih memiliki kekuatan supra-natural.  Berbagai ritual  untuk menghormati Deo masih setia dilaksanakan.

Konon kabarnya, bagi para penginjil Kristen-Protestan Potugis yang datang ke Sabu pada Tahun 1625, kepercayaan nenek moyang orang Sabu itu adalah kafir atau tidak mengenal Tuhan atau Gentios (dalam bahasa Portugis).  Oleh orang Sabu kata gentios itu dilafalkan menjadi  jingi-tiu, maka jadilah kepercayaan orang Sabu terkenal dengan nama  jingi-tiu tersebut.

Pencipta Alam Semesta itu memang ESA, kita lah manusia yang berbeda dan yang selalu membesar-besarkan perbedaan itu !!

==========================================

Pembelajaran sejarah Pulau Sabu, bisa dibaca di sini : http://derosaryebed.blogspot.com/2012/01/sejarah-orang-sabu-dan-rote.html

Salah satu kontestan pemenang dalam lomba adventure journal  http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/pulau-sabu-4-ada-deo-di-setiap-langkah/   Oleh : Dian Sundari

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s