Ketiadaan ferry Alor – Lembata dan pembatalan penerbangan Alor-Kupang kemarin pagi, membuat saya harus berulang kali mengubah rencana perjalanan, mencoret Desa Lamalera maupun Atambua dan Perbatasan Mota’ain, dan mencari destinasi menarik tapi dekat dengan Kupang, karena besok sore saya sudah harus kembali ke Jakarta.

Om Nope (guide asal So’e) yang kemarin kebetulan bertemu di Bandara Alor mengusulkan agar saya pergi ke Desa Fatumnasi saja di Gunung Mutis (Kab. Timor Tengah Selatan).   Katanya desa itu luar biasa indah.  Katanya lagi, saya bisa pergi bersama-sama dengannya dari Bandara Kupang ke Kota Soe (2 jam bermobil), lalu dari So’e nanti saya akan diantarkan oleh anak buahnya yang sudah biasa mengantar turis-turis ke Desa Fatumnasi, dengan ojek…!!

Baiklaaahhh…..mari kita ke Fatumnasi…!!!!!

Ketika terbang dari Alor ke Kupang tadi pagi, hati lumayan was-was juga menaiki pesawat yang baru selesai diperbaiki dan belum diuji coba.  Sepertinya semua penumpang berperasaan sama dengan saya.  Tapi 45 menit kemudian, pesawat berhasil mendarat mulus di Bandara El Tari (Kupang).

Kelompok kami berpencar dengan tujuan masing-masing, kelima kawan saya dari Jakarta berangkat tergesa-gesa mengejar kapal cepat ke Rote, kedua teman Spanyol pergi ke hotel yang sudah mereka pesan sebelumnya, saya dan Om Nope berangkat ke So’e menggunakan bis.

Tiga jam kemudian barulah kami sampai di So’e, mampir dulu ke Hotel Bahagia 2 miliknya Om Nope untuk bertemu dengan anak buahnya si om yang akan mengantar saya dengan motor ke Desa Fatumnasi.

PEMANDANGAN MEMPESONA

Sekitar jam 14 lewat, saya dan Om Hengki (ojek) memulai perjalananan menuju Desa Fatumnasi, ditemani matahari yang masih bersinar garang dan udara sejuk So’e.  Sekitar 30 menit kemudian, kami mampir sebentar di air terjun Oehala, salah satu air terjun kebanggaan Kabupaten Timor Tengah Selatan dan menjadi favorite warga untuk dikunjungi.   Terbukti dengan betapa ramainya pengunjung saat itu.

Air terjun Oehala (NTT)

Air Terjun Oehala ini unik karena berundak-undak menjadi beberapa tingkatan yang sambung menyambung.  Batuan yang dilalui air, berwarna kehijauan.

Karena takut kemalaman di jalan dan teringat kondisi jalan ke Desa Boti yang sedemikian parah, kami hanya menengok sebentar saja Air Terjun  Oehala,  kemudian melanjutkan kembali perjalanan menembus bagian tengah daratan Timor, melewati hutan jati yang jauh dari perkampungan, mendaki perbukitan gersang, dan sampai di suatu areal di suatu puncak bukit dengan pemandangan yang sangat lapang ke segala penjuru.  Angin menderu kencang dan hampir menumbangkan tubuh saya yang ceking ketika mendaki ke puncak bukit.  Sejauh mata memandang terbentang dataran Timor yang sudah lama tidak diguyur hujan.

Sekitar jam 4 sore, kami sampai di Pasar Kapan, Kota Kapan adalah Ibukota Kec. Mollo Utara.  Bemo dari Kupang bermuara di Pasar Kapan ini.  Masih ada beberapa kios yang buka karena sudah sangat sore.  Di sini kami membeli oleh-oleh berupa sirih, pinang, kapur, dan tembakau untuk Keluarga Ketua Adat Suku Mollo di Desa Fatumnasi nanti, sekalian beli sarung tangan karena di sana pasti sangat dingin sekali.   Lalu kami segera melanjutkan perjalanan kembali.

Pedagang Sirih Pinang di Pasar Kapan

Pemandangan sepanjang jalan makin indah saja, daratan dan perbukitan Timor bagian Tengah ini berpendar dalam cahaya keemasan matahari sore.  Semuanya tampak begitu hening dan tenang.  Sapi-sapi dan kuda merumput di padang-padang gembala, mencari sejumput rumput hijau diantara yang sudah menguning kekeringan.

Pemandangan sepanjang jalan menuju Desa Fatumnasi

Kondisi jalan semakin menanjak dan semakin buruk .  Hampir saja saya terpelanting jatuh dari ojek akibat tidak konsentrasi karena mata jelalatan memandangi alam sekitar yang sangat cantik.   Selepas Desa Ajobaki, terdapat utan cemara dengan bukit menguning disebrangnya, wilayah ini disebut sebagai Bola Palelo.  Bukitnya yang dihiasi rumput kering kuning kecoklatan, mengundang rasa penasaran saya dengan pemandangan apa yang ditawarkan dari atas bukit sana.

Entah bagaimana saya harus menggambarkan bentangan keindahan alam yang saya lihat di sini,  tak bisa disampaikan dengan kata-kata, bahkan kamera hanya mampu menangkap sekilas-sekilas, terpotong-potong seperti mainan puzzle.  Anda harus berada di sana untuk bisa menikmati dan merasakan seutuhnya.

Dari sebuah bukit juga bisa tampak tempat penambangan marmer yang telah menjadi sengketa antara warga, perusahaan penambangan, dan pemerintah daerah yang pro-perusahaan penambangan.

DINGINNYA MALAM DI FATUMNASI

Senja sudah akan berakhir ketika saya tiba di Desa Fatumnasi, disambut dengan udara dingin menusuk tulang.  Saya disambut Keluarga Bapak Mateos Anin (Kepala Adat Fatumnasi), rumah beliau memang sudah dijadikan sebagai Homestay untuk para tourist yang kebanyakan adalah WNA.  Semua penghuni rumah, termasuk anak-anak dan balita paling kecil di rumah ini, datang keluar untuk menyambut saya di semacam pendopo terbuka berbentuk bulat untuk menerima tamu.  Keramahan bersahaja murni yang selalu saya rindukan.    Minuman kopi panas, kue bolu, dan “pop-corn” asli Desa Fatumnasi dihidangkan untuk saya, sementara tuan rumah yang tampak malu-malu menerima oleh-oleh berupa sirih-pinang-kapur-tembakau, sebab adab mereka sebetulnya tuan rumahlah yang menawarkan itu semua kepada tamunya.

Suasana di Loppo Mutis (Homestay di Desa Fatumnasi)

Di kanan kiri pendopo tamu, terdapat kamar tamu sederhana, masing-masing terdiri dari 4 tempat tidur berkelambu dan dilengkapi selimut tebal.   Juga sudah ada semacam “kamar mandi” dan WC sederhana dan agak sedikit terbuka, dan airnya itu…….. dingiiiiiiiiinnnn… brrrrr…..   Menyikat gigi malam-malam sebelum tidur itu sesuatu perjuangan yang perlu kekuatan tekad…. J

Duduk berlama-lama di pendopo tamu malam-malam itu juga perlu kekuatan, akhirnya tuan rumah menyilahkan saya masuk ke dapur bulat (loppo) yang hangat dengan adanya api di tungku.  Biasanya, tuan rumah merasa malu jika tamunya berkunjung ke dapur.  Seisi rumah berkumpul di seputar tungku, menonton aksi-aksi kocak anak-anak dan saling bertukar bercerita apa saja dengan logat dan dialek masing-masing.  Sepertinya dapur bulat ini menjadi pusat kegiatan, memasak, makan, bahkan tidur.  Bahkan 2 burung nuri hijau, 2 ekor kuskus, dan 4 ekor anjing juga ikut berkumpul meramaikan suasan.  Terrenyuh hati saya melihat anak-anak itu tidur diatas selembar tikar yang dihamparkan diatas lantai tanah dapur, berselimut selembar kain sarung atau selimut sedikit tebal yang mereka sebut sebagai “kain panas”.

Desa Fatumnasi ini secara administratif masuk kedalam wilayah Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur.  Bertetangga dengan  Desa Nenas , Desa Nuapin, dan Desa Kuanoel.  Lokasinya berada di ketinggian 1150 MDPL, di kaki Gunung Mutis yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Timor (2247 MDPL).  Mata pencaharian penduduknya adalah bertani (aneka sayuran, padi gogo, jagung, umbi-umbian, kopi) dan berternak (kambing, sapi, kuda, kerbau).  Mereka juga pencari madu hutan, sementara ibu-ibunya penghasil tenun berkualitas.

Seru juga mendengar cerita dari Om Stephan (anak laki-lakinya Bapak Mateos Anin) tentang panen madu hutan, ternyata ada ritual-ritual khusus yang harus dijalankan, misalnya ritual memanggil lebah agar lebah-lebah madu dari berbagai penjuru datang ke hutan Gunung Mutis lalu bersarang dan menghasilkan madu, katanya lebah-lebah yang datang itu jumlahnya jutaan ekor, langit desa bisa menjadi hitam tertutup jutaan lebah madu yang bermigrasi.  Juga ada semacam pembagian wilayah hutan, yang mengatur masyarakat pencari madu agar tidak saling serobot.  Dan rupanya, tabu untuk memanen madu di siang hari, sebab kata Om Stephan lebah-lebah madu yang sudah berhasil disingkirkan dari sarangnya dan bertebaran diatas tanah jika disiang hari bisa dengan cepat naik kembali ke sarangnya dan menyerang si pemanen, sedangkan di malam hari, lebah-lebah itu akan tetap dibawah.

Asyik mendengarkan cerita-cerita, tidak terasa hari sudah semakin malam, dan angin dingin semakin santer saja berseoran di udara.  Malas rasanya harus pergi tidur di tempat tidur tamu yang sudah pasti sangat dingin, ingin rasanya ikut bergelung bersama anak-anak itu diatas tikar didekat tungku yang menyala.

Dan benar saja, jaket, sleeping bag, plus selimut tidak mampu membendung hawa dingin yang mengalir masuk dari celah-celah dinding kayu.  Brrrrrr……

Menghangatkan diri di sekitar tungku perapian di dalam dapur bulat (ume kbubu) adalah obat mujarab setelah semalaman tidur kedinginan di Homestay Lopo Mutis milik Keluarga Bapak Mateos Anin (Desa Fatumnasi, Kec. Fatumnasi, Kab. Timor Tengah Selatan).   Segelas kopi pahit yang harumnya semerbak serta sepiring goreng ubi,  serta senyum dan tawa tulus dari seluruh penghuni rumah, membuat saya seperti di rumah sendiri.

Berkumpul dalam Ume Kebubu (Dapur Bulat) yang hangat

Ditemani Mali, Wandri, Imel, Rinto, dan Ado, anak-anak Keluarga Besar Bapak Mateos Anin, saya berjalan-jalan pagi menyusuri jalanan desa.  Langit begitu cerahnya, udara begitu dinginnya, matahari pagi menyorot dari sisi kanan jalan.  Kami menuju ke utara, ke arah hutan Gunung Mutis.  Gunung Mutis di utara seperti dinding biru-hijau, bagian selatan dan barat desa dibentengi hutan hijau.  Jauh di timur terlihat sebuah gunung batu menjulang.

Jalan desa yang berbatu dan berdebu, membelah wilayah desa.  Sebuah truk yang biasa ditumpangi penduduk desa, bergerak ke arah hutan, mungkin menuju ke Desa Nenas,

Anak-anak desa yang saat itu masih dalam suasana liburan, sedang asyik bermain bola voli di pekarangan, net-nya dari seutas tali rapia yang diikatkan ke-2 pohon buah apel.  Tanaman buah-buahan (apel, jeruk, mangga, alppukat) dan beragam sayur mayur (jagung, wortel, bawang putih, bawang merah, bawang daun, cabe, kentang, ubi jalar, keladi, dll)  serta bunga-bunga cantik menghiasi pekarangan-pekarangan rumah.

Dapur bulat atau ume kbubu tampak mengepulkan asap pertanda sang mama sedang sibuk memasak.  Ume kbubu seyogyanya adalah dapur, beralaskan tanah padat, beratap daun rumbia kering berbentuk bulat, merupakan tempat favorite untuk berkumpulnya seluruh keluarga, karena hangat dengan adanya perapian, walaupun jadi tidak sehat untuk pernafasan akibat asap pembakaran yang terperangkap.  Sebetulnya warga memiliki rumah-rumah “biasa” (disebut sebagai ume kase ) , bentuknya seperti umumnya rumah yang bisa dijumpai dimanapun di Indonesia, berdinding tembok batako atau berdinding kayu, berjendela kaca, dan beratapkan seng.   Tapi tempat favorit tetaplah ume kbubu yang hangat.

Sumber air dari gunung, dialirkan ke desa-desa, ditampung di beberapa tangki penampungan air, sepertinya sumbangan dari pemerintah.  Anak-anak dan ibu-ibu mengangkuti air dalam jerigen-jerigen dan ember-ember untuk persediaan di rumah masing-masing.  Untuk penerangan, listrik telah masuk ke desa ini sejak beberapa tahun lalu.

Di ujung desa terdapat hutan dengan pohon-pohon nya yang tinggi menjulang dan besar-besar,  ini adalah awal dari Wilayah Konservasi Alam Gunung Mutis.  Hamparan rumput membentang seperti permadani.  Kuda, sapi dan kerbau sedang asyik merumput.  Suara kicauan burung bersahutan.  Harmoni keindahan alam seakan-akan tumpah ruah di sini.

Suasana Desa Fatumnasi

Makin ke atas, pohon-pohon makin besar dan makin tinggi.  Konon kabarnya pohon amanuban tertinggi di dunia ada di sini.  Sayang sekali waktu saya yang amat sangat sempit membatasi keinginan bertualang  di Gunung Mutis, mendaki hingga ke puncaknya pastilah akan memberikan pengalaman yang tak terlupakan.

“But I have a plane to catch…”

Ya.., sore nanti saya harus kembali ke Jakarta, kembali ke rutinitas biasa.   Oleh-oleh berupa kain ikat cantik, kopi, dan madu hutan (serta moke…psssttttt….), kini menambah beratnya backpack orange yang selalu menemani perjalanan.  Foto-foto cantik memenuhi kartu memori kamera-kamera , pengalaman suka duka perjalanan memenuhi benak saya, keramah tamahan penduduk setempat memperkaya hati saya.

Ini adalah kali ke 4 saya datang ke FLOBAMORA (Flores, Sumba, Timor, Alor), tapi masih saja keindahan alamnya dan keunikan budayanya memberikan kejutan-kejutan istimewa.  I love Nusantara….

Foto-foto ada di sini : http://www.facebook.com/media/set/?set=a.10152061036928538.449532.817203537&type=3

====================================

Menuju Desa Fatumnasi :

– Dari Bandara Kupang naik ojek (rp20rb, 20 menit) ke tempat ngetemnya bis-bis ke So’e

– Naik bis jurusan So’e (2 jam, Rp.20rb), minta di turunkan di tempat ojek ke Desa Fatumnasi atau angkot/bemo ke Kapan  , baru dari Pasar Kapan lanjut lagi ke Desa Fatumnasi

– Ngojek ke Desa Fatumnasi (2-3 jam, Rp100rb sekali jalan) atau angkot/bemo ke Kapan (1 jam, ongkos mungkin Rp10rb) , baru dari Pasar Kapan lanjut lagi ke Desa Fatumnasi dengan ojek (1-1,5 jam ; ongkos mungkin Rp75rb sekali jalan)

– Penginapan di Desa Fatumnasi : Rp.100rb per orang per malam, sudah sama makan

– Hindari perjalanan malam dan musim hujan

============================

Ditulis untuk : http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/

Comments
  1. winnymarch says:

    is keren bgt blognya gan,, ane belum pernah kesini,
    follow balik yah hehehe,,, salam kenal🙂

  2. dians999 says:

    keren apanya nih gan hehe…
    I follow u back

  3. reareoibaz says:

    semoga bisa kesini…hehe,..polbek kaka,

  4. Keren Gan, jadi kepengen kesana Ane..🙂

  5. dians999 says:

    Fatumnasi dijamin keren gan..!! spare waktu 2-3 hari di sono biar bisa naek ke gunung sampe puncak…
    Siapin kamera teryahud buat nangkep landscape-landscape spectaculer..

    and yang penting.., siapi sleeping bag yg tebeellllll…..wuiiiii…dingiiiinnn….

    #thanks dah mampir gan #

  6. Jadi , mupeng -_-” pingin kesana

  7. Reblogged this on "Mochas" and commented:
    Gunung Mutis

  8. Ani Suyono says:

    tempat kkn aku…2 bulan berada di fatumnasi serasa berad adi dunia lain..hahahhaa…
    sumpah, kangen banget ma fatumnasi..eropa aja mungkin kalah dingin…
    sekali2 tunggu matahari terbit di padang dua sebelum pintu masuk gnung mutis pas pendakian….mataharinya sulit banget diungkapkan dengan kata2,,,amazing😀
    jam2 terdingin pas jam 5-6 pagi, coba aja bangun pagi langsung cuci piring..asli airnya kayak kluar dari freezer…😀

  9. Karmand Khan says:

    saya pingin sekali datang ke fatumnasi,,,,dari kupang transportasi nya bagaimana

    • dians999 says:

      Seperti di tulis di atas Mas @Karmand :
      ====================================

      Menuju Desa Fatumnasi :

      – Dari Bandara Kupang naik ojek (rp20rb, 20 menit) ke tempat ngetemnya bis-bis ke So’e

      – Naik bis jurusan So’e (2 jam, Rp.20rb), minta di turunkan di tempat ojek ke Desa Fatumnasi atau angkot/bemo ke Pasar Kapan , baru dari Pasar Kapan lanjut lagi ke Desa Fatumnasi

      – Ngojek ke Desa Fatumnasi (2-3 jam, Rp100rb sekali jalan) atau angkot/bemo ke Kapan (1 jam, ongkos mungkin Rp10rb) , baru dari Pasar Kapan lanjut lagi ke Desa Fatumnasi dengan ojek (1-1,5 jam ; ongkos mungkin Rp75rb sekali jalan)

      – Penginapan di Desa Fatumnasi : Rp.100rb per orang per malam, sudah sama makan

      – Hindari perjalanan malam dan musim hujan

      ============================

  10. theonatumnea says:

    semoga NTT semakin maju dan air terjunnya dapat menjadi daya tarik parawisata, gbu amen

  11. theonatumnea says:

    aAgar dibudidayakan apel dan cendana, : semakin mudah dan semakin banyak bibitnya, supaya setiap rakyat menanam cendana dan jika mungkin udaranya apel timor di tanam kembali bagi daerah yang dingin

  12. theonatumnea says:

    Berjuang terus untuk kemajuan timor NTT

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s