20130808 Mo ngapain yaa ke Jambi ???

Posted: September 10, 2013 in Jambi, sumatra
Tags: , , , ,

Q : “Mbak sendirian aja ke sini “

A : “Iya Pak..”

Q : “Sudah pernah ke sini sebelumnya ???”

A : “Belum Pak.., baru kali ini”

Q : “Ada saudara di sini…??”

A : “Ngga ada Pak…??”

Q : “Terus..ke sini dalam rangka apa ??? Tugas kuliah..??? Penelitian..??? Wartawan ??? atau tugas kerja…??

A : “Ngga Pak.., saya mau jalan-jalan aja… Saya sering kok jalan-jalan sendirian, ke Aceh, ke Selayar, ke NTT”

Q : “Ada saudara di sana ??”

A : “Di mana Pak ??”

Q : “Yaa…di Aceh misalnya…”

A : “Ngga ada Pak…, emang harus ada saudara di suatu tempat, baru kita boleh ke sana ya Pak..??

Q : “Yaaa…biasanya kan gituu…”

A : “Wahhh…klo saya sihh…, melancong itu kalo bisa sihh ke tempat-tempat yang belum pernah saya datangi Pak… Seru kok Pak, jalan-jalan sendiri ke tempat-tempat asing, ketemu orang lokal dengan logat khas daerah itu, nyicipin makanan lokal, lihat bentuk rumah2nya, pakaiannya, lihat kehidupan sehari2nya, lihat cara memasak misalnya…, nanti juga jadi banyak saudara Pak…”

Q : ???$%#@^%%????

Begitulah sekelumit obrolan saya dengan Mamang Ojek yang mengantarkan saya dari hotel ke agen travel Sungai Penuh. Sepertinya, jawaban-jawab saya tidak “masuk akal” untuk si Mamang sampai kami berpisah kemudian.

Seperti itu pula umumnya obrolan wajib yang terjadi (hampir) setiap kali saya bercakap-cakap dengan penduduk setempat.

==================================

Jadi ceritanya libur lebaran kemarin saya pergi melancong “tiba-tiba” ke Jambi, hampir tanpa persiapan apapun.

Dan inilah ceritanya…..

Hari 1  Spooky Night at Old Jambi Raya Hotel

Tiba sore hari di bandara Kota Jambi yang kecil.  Seperti biasa, sepertinya semua orang pasti dijemput seseorang, atau paling tidak, mereka tau akan menuju kemana dari sini.  Kecuali saya.  Walaupun sudah sedikit mempersiapkan diri dengan informasi hotel , tempat wisata dll, tetap saja saya masih kelihatan seperti “anak hilang”, seperti biasanya.  Dan tentu saja menjadi incaran para tukang ojek, taxi, dan travel.

Mencoba bertanya kepada beberapa penumpang tentang lokasi hotel-hotel yang sudah saya print out, ternyata tidak menghasilkan apa-apa, malah tambah dikerubuti ojek-taxi-travel.  Jadi saya masuk lagi ke lobby bandara, bertanya lagi pada petugas DAMRI.

“Ya sudah nginap di Hotel Jambi Raya saja Mbak, klo itu saya tau pasti ada di tengah kota, dekat Matahari Supermarket, dekat Pizza Hut Novotel, gampang kemana-mana.  Ada banyak hotel-hotel melati kok di sekitar situ…” kata si Mbak penjual tiket DAMRI.

Ya oke lah, dari internet bilangnya juga di situ yang termurah.

Maka setelah ada penumpang lain selain saya sendiri,  melajulah L-300 Travel DAMRI (model nya travel bukan bis, Rp.50rb per orang, diantar sampai tujuan) menuju pusat Kota Jambi.

Waaaawww…..ramai juga ternyata yaaa Kota Jambi ini, mall ada dimana-mana.  Makanan global semuanya ada di sini.

Saya diantar sampai pintu depan Hotel Jambi Raya.   Bangunannya nyungsep di antara parkiran hotel lain, ruko-ruko gelap, Matahari DeptStore, pantat NOVOTEL Hotel, dan tidak punya halaman sama sekali.  Ragu-ragu saya masuk ke lobby yang menurut saya penerangannya kurang.  Menghadap resepsionis untuk melapor.

Well…, sewaktu googling, katanya itu adalah hotel termurah di pusat kota.  Well…, hmm…ternyata tidak semurah itu….   Untuk standard room dengan AC+TV+Hot shower+kulkas berisi minuman ringan, tarifnya Rp.190rb per kamar per malam , tambah deposit kalau-kalau kita makan ini itu cemilan dan minuman, jadi Rp.300rb.

Tidak ada pemandangan indah apapun dari jendela kamar ketika saya menyibakan gorden putih tebal, hanya sebuah rumah tua yang agak terbengkalai di area yang juga terbengkalai. Lorong-lorong kamarnya berliku-liku, bikin tersesat waktu pertama kali masuk, cat dindingnya sudah kusam, kaca-kaca rayben gelap memantulkan bayangan apapun.  Langit-langitnya kamarnya bocor,  AC nya juga bocor menetes-netes, lampunya tidak bisa dimatikan kecuali lampu toilet atau semuanya sekalian powernya dimatikan.

Setelah mandi, saya berjalan-jalan sebentar di kota, mencari makan malam.  Ternyata memang ada beberapa hotel metali di deretan Hotel Jambi Raya, tapi sepertinya kondisinya sama mencurigakannya atau bahkan lebih mencurigakan.  Saya berkeliling-keliling menyusuri kios-kios di Pasar Mayang Lama, mencari makanan tradisional yang katanya “wajib dicoba” yaitu  Pindang ( Pindang Tulang , Pindang Patin, Pindang Udang), dendeng betokok, mie celor, empek-empek dll.   Tapi, yang saya temukan cuma jajanan umum biasa : bakso. nasi padang dimana-mana, sate padang dimana-mana, mie ayam, siomay, pecel lele, soto betawi…

Capek berputar-putar, saya akhirnya memilih “Warung Pecel Lele Teh Ekka”, memesan sop iga yang rasanya lumayan enak.  Ketika membayar, iseng-iseng saya bertanya dimana bisa mencari ojek untuk mengantar saya keliling kota, ehhh….ternyata si Teteh Ekka yang punya warung adalah orang Bandung asli, ngobrollah saya dalam Bahasa Sunda berasa di Bandung….

Mamang ojek yang dicarikan suaminya Teteh Eka, mengantar saya melihat Jembatan Makalam dan Mesjid Seribu Tiang.   Panjang juga ini Jembatan Makalam, ada beberapa pedagang jagung bakar yang mangkal di trotoarnya.  Mesjid Seribu Tiang, sperti namanya, memang bertiang sangat banyak.  Saat itu sepertinya penuh diisi jemaah yang sedang shalat tarawih terakhir di bulan ramadhan tahun ini.

Mesjid Seribu Tiang (jambi)

Saya diantar kembali ke hotel, sudah lumayan malam waktu itu.  Kembali naik menyusuri lorongnya yang berliku-liku dengan kaca-kaca rayben nya yang gelap.  Sepertinya tamu yang menginap cuma saya sendiri malam ini.  Waduhhh….  Cepat-cepat saya masuk kamar.

Nahh…sewaktu menonton TV sambil FBan, tiba-tiba volume TV membesar sendiri, padahal remote nya tergeletak di meja….

Wewwww…..sepertinya ada penghuni lain selain saya di kamar ini… Jadi.., buru-buru saya minum obat flu biar bisa cepet tidur pulas, menyusup ke dalam sleeping bag liner, dengan semua lampu tetap menyala………….

Day 2.  Looong  Way to Kerinci

Sudah tak sabar pengen cepet-cepet ngabur dari hotel tua bin spooky ini.  Jadi jam 7 pagi saya sudah check-out.

Susah juga mencari ojek dijalanan kota Jambi yang masih sangat sepi.  Ojek menarik ongkos Rp.20rb untuk mengantar saya ke pool Travel jurusan Sungai Penuh (Kab. Kerinci).  Dengan Mamang ojek ini lah Frequent Question & Answer (FAQ) bagi solo traveller seperti saya diatas itu terjadi.

Mobil travel nya berupa Suzuki AVP.  Mobil berputar-putar nyasar-nyasar dulu ke seantero kota Jambi menjemput penumpang  yang rupanya  1 keluarga anggota polisi senior berpangkat.  Weww…pantesan aja wajib dijemput..!!!

Sekitar jam 9 an lebih baru akhirnya si travell melaju ke jurusan yang kami tuju, Kerinci.  Per orang dikenakan tarif 180rb, tarif lebaran.  Musik melayu mulai diputar kencang-kencang, buru-buru saya tutupi si speaker yang ada disamping kiri saya dengan tas.  Beberapa lama bengang-bengong mengamati daerah yang dilewati, saya pun mengantuk.  Langit mendung dan gerimis.  Saya tidur-bangun-tidur-bangun berkali-kali, setengah sadar setengah tidak.

Beberapa kali saya merasakan si mobil tersendat-sendat bahkan kadang berhenti.  Tapi waktu saya tanya supirnya apakah ada masalah dengan mobil, katanya tidak ada.  Baru beberapa lama berjalan sehabis istirahat, jalanannya  mobil bergoyang-goyang.

“Pak.., lebih baik berhenti aja dulu Pak, check mobilnya” seru kami semua hampir bersamaan pada Pak Supir.  Cak-cek-cak-cek, ternyata baut-baut ban kiri depan pada kendor semua, hampir saja ban depan kiri itu mendahului kami semua ke Sungai Penuh :-p

Setelah insiden itu, tidak ada insiden apapun lagi.  Cuma…, jalanan yang dari tadi mulus lurus, sekarang jadi keriting grinjal-grinjul bikin mual.  Hari hampir mendekati maghrib ketika kami meliuk-liuk grinjal-grinjul menyusuri pinggang gunung berpepohonan lebat dan berkabut.  Untung masih ada warung makan yang buka, belum pada pulang kampung semua rupanya ini orang-orang.

Kira-kira 3 jam  dari sana, akhirnya kami memasuki Kota Sungai Penuh.

Kota kecil ini macet riuh rendah oleh aktifitas warga yang konvoi malam keliling kota menyambut lebaran, sepeda motor memenuhi jalanan, mobil bak terbuka penuh diisi warga tua muda anak-anak ABG pria dan wanita, ada juga yang jalan kaki sambil membawa obor dari batang bambu, ada yang mengarak bedug, ada yang menabuh rebana, darderdor petasan dan kembang api dimana-mana.  Waduhhh…heboh nyaaaa….

Sulit sekali bergerak mengantarkan masing-masing penumpang ke alamat dan mengantarkan saya mencari hotel di pusat kota disuasana macet kacau balau seperti ini.  Tapi akhirnya dapat juga, Hotel Masgo yang sederhana (Rp100rb per kamar per malam, 2 single bed, kamar mandi dalam).  Hotel ini tanpa hot shower, padahal di sini dingin seperti di Puncak Bogor-Cianjur, akhirnya saya minta dimasakin air panas setengah ember setiap kali mau mandi.

Penat akibat perjalanan seharian, membuat saya langsung terlelap di bawah selimut tebal.

Day 3.  Kemcer Lebaran di Tepi Danau Gunung Tujuh

Lebaraaaannnn….!!!

Pagi-pagi buta lorong tengah hotel sudah berisik dengan aktifitas.  Sepertinya tamu-tamu lain pada check-out terburu-buru guna melanjutkan perjalanan ke kampung halamannya masing-masing supaya masih sempat Sholat Ied di kampung bersama seluruh keluarga.

Hari ini saya berencana untuk pergi ke Kayu Aro, kaki Gunung Kerinci, itu pun kalau ada angkutan yang ke sana.  Kemaren saya sudah browsing untuk mencari guide yang mungkin bisa mengantar saya, paling tidak ke Danau Gunung Tujuh.  Dan menemukan 1 di facebook, melalui page Kerinci Travelling, sudah sms an beberapa kali, tapi rencana belum fix mau kemana-kemana nya karena saya keburu kehabisan batere hp.

Untungnya si Fredi (guide Kerinci) ini orangnya baik dan bisa diajak nekat, mendaki tanpa persiapan matang, hehee…  Setelah dia berhasil mendapat pinjaman motor , lalu packing buru-buru segala keperluan camping, berangkatlah kami menembus gerimis menuju Kayu Aro.

Jalanannya kecil berliku-liku menanjak.  Kira-kira 1 jam kemudian kami sampai di Perkebunan Teh Kayu Aro yang sangat luas.  Di suatu titik pandang, kita bisa melihat Kota Sungai Penuh di ujung cakrawala.  Gunung Kerinci ada di sebelah kiri, menjulang dengan puncak berselimutkan awan putih.  Suatu saat, awan-awan menyibak, dan wooowwww….puncaknya yang berlereng terjal dan gundul tanpa pepohonan terlihat jelas, galur-galur tanah terpahat seperti ukiran.

Di sebuah toko dekat patung harimau Kerinci, kami berhenti untuk membeli sarung tangan, kupluk, dan kaus kaki tebal, maklum tadinya tidak berniat untuk benar-benar mendaki gunung dan camping.  Tadinya saya hanya sekedar ingin menginap di salah satu homestay di Desa Kersik Tuo, dekat pintu rimba, pos awal pendakian Gunung Kerinci.

Gunung Kerinci dan Kebun teh Kayu Aro

Gunung Kerinci dan Kebun teh Kayu Aro

Dari sana, kami masih melanjutkan perjalanan kira-kira 15 menit lagi ke pintu pendakian Gunung Tujuh, menitipkan motor sekalian melapor kepada tetua setempat.

Sekitar jam 4:30 sore, kami melangkah melewati  gerbang pendakian, menyusuri jalanan berbatu ditengah areal ladang penduduk, lalu melalui hutan dan mulai menanjak-menanjak-dan-menanjak.

Saya yang dalam setahun paling cuma mendaki satu gunung, tentu saja langsung ngos-ngosan didera tanjakan dan udara dingin, sebentar-sebentar berhenti, sebentar-sebentar berhenti…  Day pack yang saya gendong sejak tadi akhirnya saya serahkan ke Ferdi, karena sepertinya saya bertambah lambat, sedangkan hari sudah semakin gelap dan dingin.

Senter-senter pun dinyalakan.  Selepas maghrib kami akhirnya sampai di area bekas menara pengamatan satwa yang sekarang cuma tinggal 1 tiang besi patah saja.  Ketinggian sekitar 2300 MDPL.  Dari sana, kami berbelok kekiri, menuruni turunan terjal nan licin.  Suara gemuruh air terjun ada di sebelah kiri.  Itu kata Ferdi adalah air yang berasal dari Danau Gunung Tujuh.  Sekitar 7 lebih kami sampai ditepian danau, walaupun yang terlihat cuma sedikit saja yang dekat ke tepian.  Ujungnya tidak terlihat.  Semuanya gelap gulita, dilangit tidak ada bintang, dan gerimis akhirnya datang menyembut kami.

Dengan cekatan Ferdi mendirikan tenda, saya membantu sebisanya.  Gerimis semakin menderas.  Untungnya tenda sudah berhasil didirikan.  Matras-matras pun di gelar, backpack dan daypack segera diamankan ke dalam tenda.  Saya juga buru-buru masuk ke tenda, membereskan letak barang-barang, mengamankan kamera dan handphone.  Ferdi masih mondar-mandir di luar, memasang raincoat sebagai flysheet, memasang patok, mengambil air untuk dimasak dll.  Bajunya sudah basah diguyur gerimis, tapi spertinya dia tenang-tenang saja, tidak menggigil kedinginan.  Bendar-benar pendaki sejati.

Kami memasak nasi dan mie goreng serta menyeduh kopi.  Lalu ngobrol ngalor ngidul sampai larut malam, mengobrolkan tentang pendakian-pendakian Ferdi ke Kerinci (tahun ini saja dia sudah 5 kali mendaki Kerinci, meng-Guide pendaki-pendaki dari luar daerah bahkan luar negri).  Saya menceritakan pengalaman saya mendaki gunung-gunung di Jawa Barat (G Gede, G.Tampomas, G.Papandayan, G.Galungggung, G.Ciremai) dan G.Semeru di Jawa Timur.  Juga perjalanan-perjalanan saya ke pulau-pulau.  Asyik sekali kami bertukar cerita, sampai-sampai tidak tahu sejak kapan gerimis mereda.

Udara semakin dingin, dan kami segera menyusup ke dalam sleeping bag dan sleeping bag liner (yang lebih tipis).

Day 4.   Kemcer Lebaran di Tepi Danau Gunung Tujuh (the sequel)

Teringat cerita Ferdi bahwa katanya matahari terbit tepat dari seberang danau di depan tenda, bangun-bangun saya langsung mengintip ke luar, berharap mudah-mudahan hari ini cerah, dan saya akan dapat pemandangan sunrise spectaculer seperti ketika di Ranu Kumbolo (Semeru).

Fajar baru saja akan merekah, semburat warna merah mulai menghiasi awan-awan, tapi hanya itu saja cahaya di luar sana, suasana masih gelap dan dingin, batasan luas nya si danau belum kelihatan.

Perlahan-lahan semuanya semakin tersingkap, kabut tipis mulai terlihat mengambang diatas permukaan air danau yang tenang, siluet si gunung kotak di seberang danau mulai jelas terbentuk.  Dua ekor elang besar baru saja keluar dari sarangnya untuk mencari sarapan pagi, kami sempat mendengar suaranya berkaok-kaok kemarin sore, tapi wujudnya tersembunyi dedaunan.  Hanya sekilas mereka melintas tepian hutan di pinggir danau, tidak sempat saya foto…. L

Air danau serasa sedingin air kulkas ketika saya membasuh muka dan gosok gigi.

Sunrise spectaculer menjadi hadiah lebaran yang amat sangat indah..!!!

Dinginnya Pagi di Danau Gunung Tujuh

Dinginnya Pagi di Danau Gunung Tujuh

Thanks a lot for the super Sunrise

Thanks a lot for the super Sunrise

Hangat cahaya matahari pelan-pelan mengusir hawa dingin.  Kemah kami tersorot sepenuhnya oleh sang raja siang…

Usai sarapan pagi , kami langsung membongkar tenda dan bersiap turun gunung.  Tapi rutenya dimulai dengan tanjakan aduhai kurang lebih 200 meter hingga ke lokasi puncak bekas menara pengawas satwa, baru kemudian menurun dan terus menurun.

Kali ini jempol dan jari kaki serta lutut harus extra bekerja keras menahan tubuh.  Rasanya tidak habis-habis turunannya…..

Kami berpapasan dengan 1 orang pemancing lokal, 1 orang pendaki lokal, dan 1 keluarga turis asing yang bisa sedikit berbahasa Indonesia.

Tengah hari barulah kami sampai di pos pintu masuk, tempat kami menitipkan motor kemarin sore.  Rencananya kami akan mampir ke Air Terjun Kayu Aro, tapi ketika sampai di pintu masuk lokasi air terjun….,  alamaaaaakkkkk…..alangkah ramainya !!!   Rupanya masyarakat Sungai Penuh tumpah ruah di kawasan Kayu Aro ini, yang memang merupakan pusat wisata pegunungan…… setara dengan Puncak nya Bogor-Cianjur.  Mobil-mobil dan sepeda motor memenuhi parkiran dan pinggir jalan, pedagang dadakan menggelar lapak dadakannya dimana-mana.

Ramainya suasana membuat saya malas mampir ke air terjun.  Saya malah asyik jajan beraneka gorengan.  Ada goreng jagung utuh yang membuat saya takjub karena baru kali itu melihat dan mencicipnya, biasanya yang saya tahu cuma sebatas jagung bakar atau jagung rebus saja.  Saking takjubnya, saya dengan norak meminta si Mbak penjual gorengan untuk memperagakan cara menggorengnya…!!!

Jajanan di Kayu aro  KiKa : Tahu isi, perkedel jagung, goreng jagung, goreng tempe

Jajanan di Kayu aro
KiKa : Tahu isi, perkedel jagung, goreng jagung, goreng pisang, goreng tempe

Setelah puas memfoto-foto si Mbak penjual gorengan, kami melanjutkan perjalanan pulang ke Sungai Penuh, mampir lagi ke sumber air panas di dekat kota.  Nahh…yang terbayang di otak saya ketika membaca tentang sumber air panas ini adalah semacam kolam renang air panas / pemandian seperti di Cipanas (Garut), Ciater (Subang), yang di Galunggung (Tasikmalaya), yang di Sumedang , atau yang di dekat Serang (Banten).   Sudah terbayang betapa nikmatnya merendam badan yang penat akibat perjalanan turun gunung.

Tapiiiiii……olalalaaaaaa……lain lubuk lain belalang memang….., tidak seyogyanya kita menyama-nyamakan memang….  Salah sendiri saya sudah menanam image seperti itu….!!!!  Tidak sepantasnya saya sekecewa itu..!!!

Tapi..yahhhh….sayang seribu sayang memang kalau potensi suatu daerah tidak di “utak-atik” , sehingga begituuuuuu…….rrrrr…… “seadanya”…

Yasudah….akhirnya saya tidak jadi mandi hari itu…baik air panas maupun air biasa…  Malamnya saya ikut travel yang untungnya sudah ada yg beroperasi di H+2 lebaran, kembali ke Kota Jambi.  Sepanjang malam tidur meringkuk bersama 2 penumpang lainnya di bangku belakang Suzuki AVP.

Day 4.   Bersampan ke SEKOJA demi Batik Jambi

Sekitar jam 4 dini hari saya sudah sampai kembali di Kota Jambi.  Badan remuk redam akibat naik turun gunung, kurang istirahat, kepala cekot-cekot, tenggorokan sakit bukan main.  Sepertinya saya mulai terserang flu….

Sambil menunggu jam 6 pagi, saya nongkrong sambil ngopi-ngopi dan ngobrol ngalor ngidul tentang Jambi sama si Bapak yang punya warung makan masakan Padang di lokasi Pasar Mayang lama di tengah Kota Jambi.

Hari ini rencananya saya mau pergi ke Kuala Tungkal, suatu kota pelabuhan yang menghubungkan Jambi dengan Batam.  Konon kabarnya, disana ada pasar loak barang-barang second murah ex Singapura/Malaysia.  Saya mau berburu barang elektronik…

Tapi ternyata, susah juga mencari travel yang beroperasi ke arah sana di hari ke-3 lebaran ini… L

Akhirnya saya hanya sempat ke SEKOJA alias Seberang Kota Jambi, sebutan untuk wilayah yang ada di seberang Sungai Hari alias Batang Hari yang super lebar itu.  Saya naik getek alias sampan dari dekat Kawasan Mall WTC Jambi.  Tarifnya Rp.3000 per orang.  Sampannya bermotor tunggal.  Tempat duduknya berupa palang-palang kayu melintang.  Satu palang untuk 3 orang.  Ada sekitar 5 palang kayu per sampan.  Sampan yang saya tumpangi ini penuh penumpang.  Payung-payung mulai dibuka ketika gerimis turun dari langit mendung.  Sampan bergoyang-goyang ditengah alunan air sungai berwarna coklat, bikin hati saya ketar-ketir…

Yuhuuu....ke SEKOJA yuukkk

Yuhuuu….ke SEKOJA yuukkk

Di seberang, ada beberapa dermaga.  Penumpang-penumpang turun di dermaga yang terdekat ke tujuannya, layaknya halte bis.  Saya turun di dermaga Desa Medang Laut, karena menurut ibu-ibu yang saya ajak mengobrol di sampan tadi, di sini lah letak Balai Kerajinan Rakyat Jambi “Selaras Pinang Masak”.

Hujan mengguyur semakin deras.  Sayangnya balai kerajinan ini tutup karena libur lebaran.  Hanya ada 2 orang pemuda yang sedang berteduh sambil ngobrol-ngobrol di terasnya.  Dari mereka, saya dapat informasi bahwa salah satu pengrajin batik Jambi yang saya cari itu, berada di belakang bangunan Balai Kerajinan Rakyat ini.

Tepat di belakang bangunan balai kerajinan, terdapat sebuah rumah panggung bertuliskan “Sanggar Batik Al Hadad – Jambi.   Bang Hadad yang rupanya adalah anak bungsu dari Ibu Hj. Maryam sang pemilik sanggar, mempersilahkan saya naik dan masuk ke rumahnya.  Dengan ragu-ragu saya melangkah masuk, takut mengganggu acara lebaran sang mpunya rumah.  Dan benar saja, didalam ada besan, mantu, dan anak-anak Bu Hj. Maryam yang sedang bersilaturahmi.  Waduhhh….mengganggu dong saya….??  Walaupun demikian saya tetap disambut dengan ramah.

Mata saya langsung melirik ke arah kue-kue panganan lebaran khas Jambi tampak berderet rapi di atas tikar bertaplak plastik cantik.   Juga tentu saja ke arah kain-kain batik tulis dan batik cap yang cantik-cantik .  Rupanya sang Ibu Besan sedang bersilaturahmi sekaligus berbelanja.  Suasana begitu hangat dan akrab. Obrolan dan selorohan dalam bahasa Jambi-Padang campur bahasa Indonesia berlogat Jambi-Padang memenuhi seisi ruangan.  Kadang-kadang saya bisa menangkap artinya, tapi seringnya sih tidak…

Sanggar Batik Al-Hadad - Ibu Hj. Maryam (Kp. Mudung Laut, Sekoja, Jambi)

Sanggar Batik Al-Hadad – Ibu Hj. Maryam (Kp. Mudung Laut, Sekoja, Jambi)

Aduh…pusing sekali menentukan pilihan kain batik mana yang akan dibeli dengan dana terbatas seperti saya.  Semuanya cantik-cantik dan bagus-bagus.  Ibu Hj. Maryam dengan bersemangat menjelaskan berbagai-bagai macam motif batik, antara lain: Flap Rilis, Truffles, Batang Hari, Gong, Ayam, Matohari, Anggur, Patah Duren, Kaco Dish, Kupu-kupu, Pauh, Bunga Duren, Taro, Angsoduo, Bayam Ginseng, Kapal sanggat, Atlas,  Buah Anggur, Kaca Piring, Kampung Manggis, Tampuk Manggis, Riang -Riang, Pauh, Melati, Merak Ngerem, Kepiting, Kapal Sangat, Durian Pecah,  Bungo Matahari, Bungo Kopi, Bungo Keladi,  Bungo Cendawan, Biji Timun, dan yang terkini adalah motif SBY.

Motif batik SBY ini disebut demikian karena merupakan motif yang khusus diciptakan untuk Bapak Presiden Republik Indonesia yang sekarang , Bapak Susilo Bambang Yudhoyono alias Pak SBY alias lagi Pak Beye.  Sewaktu beliau melakukan kunjungan kerja ke Jambi, Pak Beye ini mengenakan baju batik motif khusus tersebut.  Sekarang ini motif  SBY menjadi incaran pembeli, selalu laris manis, kata Ibu Hj. Maryam.

Jenis batik yang dijual Ibu Hj. Maryam ada batik cap yang harganya lebih murah dan batik tulis yang harganya lumayan mahal karena pengerjaan nya yang rumit dan memerlukan waktu panjang dalam penyelesaiannya.  Yang termahal adalah batik tulis diatas kain sutra, ada yang harganya 1,5jt per lembar.  Kain batik tulis bukan sutra rata-rata dijual diatas Rp.600.000 per lembar, batik cap ada yang seharga hanya 250rb saja.

Setelah lama menimbang-nimbang, menawar-nawar, tang-ting-tung isi dompet, mebanding-bandingkan antara satu motif dengan lainnya yang semuanya cantik, akhirnya saya membeli selembar batik tulis non sutra seharga 550rb , oleh-oleh untuk si Mak nya di kampung….., hadiah pasca lebaran hehe….

Hari sudah sangat sore menjelang maghrib ketika saya pulang menyebrang kembali ke Kota Jambi.  Lumayan susah juga mencari ojek sampan maghrib-maghrib begini.

Day-5  Penyebrangan Super AdrenalineVenture menuju Candi Muaro Jambi

Hari ini adalah hari terakhir saya di jambi.  Rencananya saya akan pergi ke Candi Muaro Jambi.  Kemarin siang, saya sudah janjian sama mamang ojek untuk dijemput di hotel sekitar jam 7:30 pagi dengan biaya 100rb.  Dia adalah mamang ojek ke 4 yang saya sewa selama di Kota Jambi.  Ojek memang andalan transportasi di Jambi sepertinya, cari angkot susah dan jalurnya putar-putar.

Tunggu punya tunggu sang ojek tidak datang datang….  Akhirnya datang kabar via sms katanya ban motornya kempes dan harus ditambal dulu.  Alamaaakkk…..padahal saya tidak punya waktu banyak hari ini, jam 2 siang saya sudah harus check-out dari hotel.  Sekitar jam 9 si Mamang Ojek akhirnya muncul, kami langsung melaju ke arah utara Jambi.  Menjelang batas luar kota Jambi, tiba-tiba ban nya kempes lagi, nah…lhoo….  Sedangkan waktu saya semakin mepet, tidak mungkin menunggu acara tambal menambal ban segala….  Akhirnya saya mencegat ojek lainnya, dan minta diantarkan ke Candi Muara Jambi.

Di pertigaan lampu merah yang ada penanda arah belok kiri menuju Candi Muara Jambi, si Mamang Ojek tanya, “Mau lewat mana Mbak..???” tanyanya.

“Lewat mana aja deh Pak, yang penting cepet…, saya ngga punya banyak waktu.., jam 11 sudah harus kembali ke Jambi,” kata saya.  Lhaaa…mana saya tahu harus lewat mana, ya kan..???

“Ya udah…, lurus aja ya Mbak…, sebenernya sama aja sihh jaraknya mau belok kiri maupun lurus,” kata si Mamang Ojek.

Saya nurut aja dehh…

Semakin lama, jalanan semakin sempit dan kondisinya semakin rusak.  Banyak bagian pinggir jalan yang amblas seperti keberatan muatan.  Oh rupanya di arah sini banyak terdapat industri, seperti industri pengolahan kelapa sawit, industri karet, industri tepung, industri kayu, industri kopi, bahkan ada kilang minyak stock nya Pertamina.  Berderet-deret di sepanjang tepi Batang Hari.

Nah…lama-lama jalan aspalnya habis, buntu… bersambung ke jalan tanah becek yang mengarah ke Batang Hari yang sangat lebar itu.  Di ujung tanah becek ada sebuah dermaga kayu, dan diujung dermaga kayu itu ada sebuah perahu kayu.  Ukurannya lebih besar dibandingkan sampan yang saya naiki kemarin sore, kira-kira ukurannya 3 kali lipat lebih besar.  Dua orang awak perahu tengah mengarahkan beberapa laki-laki yang sedang mendorong sepeda motor nya masing-masing naik ke atas perahu.  Beberapa perempuan telah naik duluan dan berdiri di bagian tengah, berpegangan pada atap kabin supir perahu.

Lagi-lagi menyebrang Batang Hari

Lagi-lagi menyebrang Batang Hari

Di ujung jalan aspal, di bawah sebatang pohon, si Mamang Ojek berhenti, lalu meminta saya untuk turun dari sepeda motor.

“Lhoo….kita mau kemana Pak…??” tanya saya kebingungan.

“Mau ke sana, nyebrang…” kata si Mamang sambil menunjuk arah perahu dengan dagunya, karena tangannya sibuk menyeimbangkan motor yang tengah didorong nya di atas tanah becek dan licin.

“HAAHHHH…???  SERIUSAN PAK…KITA MAU NYEBRANG…??? NAIK PERAHU ITU…???” tanya saya terkaget-kaget dan panik.  Haduhhh….masih terbayang ngeri nya kemarin nyebrang naik sampan membelah Batang Hari yang super lebar itu…., pasti dalamnya seperti lautan itu…, perahu-perahu tongkang besar-besar pengangkut minyak bumi, minyak sawit, kelapa sawit , batu bara, dlsb saja bisa lewat kok…

“Memang candi nya dimana Pak…??” tanya saya yang masih tetap belum beranjak dari tempat tadi turun sepeda motor.

Seingat saya, tidak ada blog atau cerita perjalanan ke Candi Muaro Jambi di internet yang melibatkan penyebrangan dengan perahu.

“ Iya.., kita menyebrang, dengan perahu itu.  Candi nya ada di sebrang, di belakang kampung sana itu…”  kata si Mamang dengan kalem.  “Ayoo…naik…. ngga apa-apa kok Mbak…. saya biasa nyebrang seperti ini, rumah saya kan di kampung sebrang itu..” kata si Mamang lagi sambil mesem-mesem demi dilihatnya saya yang masih ragu bin takut dan belum beranjak dari bawah pohon.

Waduhhh….ya sudah laahhh….  Dengan ragu-ragu saya melangkah ke tanah becek, meniti titian bilah-bilah papan kayu, meniti ke dermaga, lalu dengan was-was melangkah ke papan buritan lantai perahu, berjalan diantara sepeda motor, dan berdiri di bagian tengah perahu, di dekat ibu-ibu yang membawa anaknya dan 3 gadis ABG.   Kami semua para perempuan berpegangan pada atap kabin supir perahu.  Para lelaki berdiri di ujung lantai buritan perahu, memegangi sepeda motor masing-masing.

Jadi totalnya ada 5 perempuan, 1 anak, 3 lelaki, 2 awak perahu, dan 3 sepeda motor dalam perahu ini.   Salah satu awak perahu sedang sibuk menyeroki air yang menggenang di dasar perahu.  Waduhhh….jangan-jangan bocor…, pikir saya dengan tambah was-was.

Perahu didorong menggunakan galah menjauhi dermaga, mesin dihidupkan.  Lalu mulailah penyebrangan mendebarkan selama 15 menit membelah lebarnya sungai Hari yang airnya keruh kecoklatan.  Gelombang sungainya mengombang-ambingkan perahu, membuat si Ibu-ibu beberapa kali berteriak dan berdoa terus menerus, ketiga gadis ABG sudah sejak tadi merengek ketakutan, saya ketar-ketir dan berpegangan erat serta memancang kaki dalam posisi kuda-kuda yang kukuh untuk menahan goyangan.  Saya cuma balas nyengir ketakutan sewaktu si Mamang Ojek dan para lelaki menertawai saya.  Jelas ketahuan bahwa saya “bukan orang sini”.

Rasanya lamaaaaaa…sekali baru perahu akhirnya merapat di dermaga sebrang.  Huhhh…..ampun dehhh….. sepertinya saya baru bisa bernafas lagi setelah kaki menginjak dermaga.  Saya membayar Rp 10rb untuk saya + Mamang Ojek + Sepeda motor.

Daratan, posisinya lumayan tinggi.  Jadi sepeda motor harus didorong naik melalui bilah-bilah kayu, dan baru bisa dinaiki ketika sudah sampai di gang. Kami pun menderu di gang bertembok beton menuju areal Kompleks Percandian Muaro Jambi.

Ramainyaaaaa

Ramainyaaaaa

Alamaaaakkkkk…..ramai sekaliiii….   Sepertinya seisi Kota Jambi sedang berpiknik di areal ini.  Jalan masuknya padat dengan pengunjung yang berjalan kaki , bersepeda motor, maupun bermobil.  Karcis masuk yang dijajakan oleh beberapa petugas di tengah jalanan, makin menambah kemacetan.  Belum lagi pedagang asongan kagetan dan persewaan sepeda.

Di area dalam kompleks, pengunjung ada dimana-mana.  Menaiki bangunan-bangunan candi, menggelar tikar dibawah pohon, di warung-warung, di area depan panggung hiburan, dan bersepeda di jalan-jalan batu di sekeliling kompleks.

Bangunan candinya tersebar di areal seluas 155.269,58 hektar, sepuluh kali lebih luas dari situs Candi Borobudur, dibangun menggunakan batu merah sekitar abad 4-5 Masehi pada masa Kerajaan Malayu (Melayu Tua yang bercorak Budha). Peninggalan ini terbentang dari desa Muaro Jambi dan desa Danau Lamo di bagian barat hingga desa Kemingking Dalam, Kecamatan Muaro Sebo di bagian Timur, Kabupaten Muara Jambi (dikutip dari berbagai sumber).

Belum banyak bangunan candi yang berhasil di pugar dan direstorasi.

Di kawasan ini juga terdapat kanal kuno menuju Batang Hari, sekarang dijadikan objek wisata air, seperti main rakit & restoran apung.

Saya hanya sempat sedikit berkeliling.  Lagipula saya sedang diburu waktu.  Jadi tidak lama disana, sayapun pulang ke Kota Jambi.  Kali ini si Mamang Ojek mengambil rute “resmi”, yang tenyata walaupun jalanannya kecil tapi kondisi nya lumayan bagus, tapi maceeeeeettttt…….karena pengunjung yang masih pada berdatangan.

Nahh usai lah sudah waktu petualangan saya di Jambi…, saatnya pulang kandang…  See you in next journey

Biaya-biaya :

Tiket Jakarta-Jambi-Jakarta Rp.1.2jt

Damri Bandara – Hotel Rp.50rb

Hotel Jambi Raya (1 malam, 1 orang, AC, TV, Hot shower, Makan Sahur) Rp.190rb

Ojek ke Mesjid 1000 Tiang Rp.15rb

Ojek ke pool travel-travel Sungai Penuh Rp.20rb

Travel Jambi-SungaiPenuh Rp.180rb

Hotel Masgo (2 single bed, kamar mandi dalam, no hot water) Rp.100rb

Guide mendaki Gunung Tujuh plus perbekalan Rp.300rb

Travel SungaiPenuh- Jambi Rp.180rb

Hotel Pandu Rezeki – Jambi  (1 malam, 1 orang, AC, TV, Hot shower) Rp.170rb

Ojek ke Empek-empek Selamat (Sipin) Rp.10rb

Ojek ke WTC Rp.5rb

Sampan Ke SEKOJA pp Rp.6rb

Nyebrang perahu ke Candi Rp.10rb

Ojek ke Candi Muaro Jambi pp Rp.70rb

Ojek ke Bandara Rp.20rb

Total biaya diluar makan & oleh-oleh : Rp. 2 526.000

Comments
  1. Yoriko Liem says:

    wahhh ceritanya mantap….. bisa bikin saya ketawa…. ini saya juga sedang jalan kejambi. ingin lihat2 kota jambi.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s