UUPSS….TERNYATA SALAH JALUR

Posted: October 7, 2014 in NTT
Tags: , , , , ,

“Oiiiiii…. LEWAT MANAAAA…???” teriakku menyahuti teriakan-teriakan yang kudengar dari balik rimbunnya kebun pisang yang tiba-tiba saja hadir dihadapan jalur jalan setapak rute turun gunung yang sejak tadi aku ikuti.

Kebun pisang inilah yang akhirnya menyadarkanku bahwa aku telah salah ambil rute turun Gunung Api Lewotolok (1450 MDPL, gunung api tertinggi di Pulau Lembata, NTT). Seingatku waktu nanjak semalam dari Desa Lewotolok, tidak melewati kebun pisang super rapat seperti ini (baca kembali kisah nanjakku di sini : https://dians999.wordpress.com/2014/10/03/terkoyaknya-kesunyian-surgawi-ile-ape-lewotolok/ ).

“LEWAT SINI…!!!” jawab sebuah suara dari sebelah kanan rerimbunan pohon pisang, disusul teriakan-teriakan lainnya.

Dan diantara rapatnya pohon pisang, aku bertemu lagi dengan Bapak pendaki lokal yang tadi mendahului, juga temanku, juga si anak kecil, juga pendaki-pendaki lainnya yang tadi mendahuluiku.

Total kami jadi ber-11 orang, terdiri dari 9 orang laki-laki (7 orang penduduk lokal dan 2 orang pendatang / peserta Festival Adventure), dan 2 orang perempuan (pendatang / peserta Festival Adventure Indonesia 2014 di Lembata).

Ternyata mereka telah sadar bahwa telah salah jalur turun dan memutuskan untuk menungguku disitu. Wahhh…terimakasih banyak kawan telah menungguku.., pasti lama sekali ya karena jalanku selambat siput…
Cerita punya cerita sepertinya kami salah mengambil rute ke arah kiri sewaktu di POS 2 tadi di padang savana. Aku bahkan tidak melihat bahwa di situ ada percabangan.

View dari Puncak Ile Lewotolok ke arah Ile Boleng di Pulau Adonara. Tenda kecil di padang savana itu adalah POS 2. Di dekat situ katanya adanya percabangan jalur.

View dari Puncak Ile Lewotolok ke arah Ile Boleng di Pulau Adonara.
Tenda kecil di padang savana itu adalah POS 2. Di dekat situ katanya adanya percabangan jalur.

Dan, rata-rata dari kami baru menyadari diri sudah tersesat ketika sudah sampai di kebun pisang. Katanya, tadi sebelum aku datang bergabung, ada yang punya usulan untuk kembali naik menyusuri rute yang sudah kami lewati tadi…. “Ohhh…tidak kakak…..kami sudah tidak sanggup untuk mendaki lagi..!!!” Jadi diputuskan untuk terus turun mencari jalan keluar. Menurut Bapak-bapak penduduk lokal, lokasi kami ini katanya ada disekitar Desa Kolontobo.

Posisi Desa Lewotolok (start pendakian) vs Desa Kolontobo (lokasi tersesat).

Posisi Desa Lewotolok (start pendakian) vs Desa Kolontobo (lokasi tersesat). Foto insert kiri : kawah lama Ile Lewotolok.  Foto insert kanan : puncak sejati Ile Lewotolok.

Rute yang semula jelas untuk dikuti, kini hilang sama sekali diantara rapatnya pohon-pohon pisang. Kami bergerosakan mencari jalan keluar, mentok lagi di belukar bambu liar. Mata jeli pendaki lokal berulang kali memberi peringatan adanya bahaya jebakan babi hutan yang dipasang penduduk setempat. Jika terinjak maka kami bisa terperosok dalam lubang perangkap, atau terikat tergantung diatas pepohonan dengan kepala menghadap tanah..

Rombongan sempat terpencar karena mencari jalan keluar berbeda, tapi lalu bisa berkumpul kembali di rute jalan setapak yang tembus di kebun kelapa.

Masih sangat beruntung bahwa diantara kami ada penduduk setempat , dan membawa parang pula, bisa digunakan untuk menebas belukar dan untuk menebas kelapa muda yang sangat lumayan untuk menghilangkan dahaga dan sedikit mengganjal perut.

Nah, jika yang tersesat adalah si orang kota pendaki hora-hore… yang hanya bersenjatakan handphone dan kamera…, apalah jadinya kami nanti…?? Ehh…tapi beruntung juga…di lokasi ini sinyal Telkomsel lumayan kencang, sehingga senjata HP canggih ber-GPS milik si orang kota pendaki hora-hore bisa digunakan untuk melihat posisi kami dan mengabarkannya pada kawan-kawan Panitia Festival Adventure Indonesia 2014 dan Dinas Budaya & Pariwisata Lembata.

Insert foto adalah lokasi GPS real kami pada saat tersesat dan mencapai kebun kelapa (Screen shot oleh Dee Je).

Jadi…., seharusnya kami naik dan turun gunung dari dan ke Desa Lewotolok lagi, karena salah ambil rute turun, kami malah menuju ke arah Desa Kolontobo. Dan ternyata lagi…, lokasi kebun pisang dan kebun kelapa itu masih sangat jauuuuhhhhh….dari perkampungan.

Selepas dari kebun kelapa sampailah kami ke jalan tanah buntu yang baru dibuka. Jalannya cukup lebar, cukup untuk dilewati 2 mobil bersisian. Jalan tani, demikian penduduk setempat menamakannya. Tanah nya gembur dan kering diterpa sinar garang matahari Lembata menjelang tengah hari. Setiap jejakan kaki menimbulkan kepulan debu yang langsung tertiup angin. Pepohonan di kiri kanan jalan , semuanya kering meranggas berwarna putih, katanya itu adalah pohon minyak kayu putih. Dibawah pepohonan, terhampar ilalang dan tanah bebatuan berwarna hitam habis terbakar. Tidak ada lagi pohon kelapa dan pohon pisang.

Panas…, debu…, letih…, haus.., lapar.., dan jari-jari kakiku sakit bukan alang kepalang, tergencet sepatu hiking yang kurang nyaman. Untungnya sakit perut masuk angin ku sudah reda. Sakit perut gara-gara masuk angin akibat angin dingin di Puncak Gunung Lewotolok itu pula lah yang menyebabkan aku buru-buru turun gunung sendirian, walaupun kemudian tersusul beberapa pendaki yang saat ini menjadi Tim Sebelas yang Sesat.

Teman-temanku berderap menuruni jalan tanah kering berdebu yang panas membara dan entah berujung dimana. Aku kembali menjadi juru kunci paling belakang, melangkah setapak demi setapak sambil meringis-ringis kesakitan, ditemani Bapak Dominic bersaudara. Lama-lama teman-temanku menghilang di kelokan jalan. Bapak Dominic bersaudara yang kasihan melihatku akhirnya menawarkan diri untuk menggendongku…. Aduhh aku sebenarnya tidak tega mengiyakan.., dan risi juga digendong laki-laki, tapi apa boleh buat daripada semakin menghambat laju tim, maka akhirnya aku iya kan saja dan pasrah digendong bergantian beberapa puluh meter jauhnya. Karena benar-benar tidak tega, aku minta diturunkan lagi, kakiku diurut-urut.., kemudian aku jalan lagi pelan-pelan sebisanya.

Tersesat di Ile Ape Lewotolok

Tersesat di Ile Ape Lewotolok

Teman-temanku yang lain ternyata memutuskan untuk beristirahat di bawah sebatang pohon yang ajaibnya masih punya daun cukup rindang. Duduk-duduk dan tiduran di atas hamparan daun kering. Percakapan via telepon untuk meminta bantuan terus dilakukan dengan intensif. Awalnya kami sempat stress berat karena diminta untuk terus berjalan turun ke kampung / jalanan di tepi pantai. Sementara kami tidak tahu pasti berapa kilometer lagi jaraknya (menurut GPS itu sekitar 4-5 km ). Aduhhh…..aku jelas-jelas tidak sanggup…. Aku pilih menunggu saja di sini.

Negosiasi terus dilakukan, dan kabar terbaik pun datang, kami diminta untuk tidak kemana-mana, jemputan akan segera diberangkatkan menuju lokasi. Tapi karena khawatir mobil Tim Penolong tidak mampu merambah jalan tanah kering berbatu, akhirnya kami memutuskan untuk bergerak lagi, mencari lokasi yang memudahkan bagi Tim Pencari. Dan menemukan lokasi sempurna dekat gubuk ladang kosong dan rindang, jalan tanahnya pun cukup lebar dan rata.

Sementara menunggu bantuan datang, kami terlelap diatas hamparan daun-daun kering. Deru mobil seperti datang dari alam mimpi.

Horeeeee….bantuan sudah dataaang….!! Bapak Kepala Dinas Pariwisata Lembata beserta 2 stafnya datang dengan dua unit mobil Toyota Hullux 4×4 yang tangguh.

Terimakasih banyak kepada teman-teman tim sebelas, perpaduan antara pengetahuan real dari penduduk lokal dan teknologi digital si orang kota pendaki hora-hore, mempermudah proses pemanduan Tim Penolong untuk sampai di lokasi kami. Terimakasih banyak kepada Panitia FAI-Lembata 2014, Bapak Kepala Dinas Pariwisata Lembata beserta staf, dan Kementrian Pariwisata yang diwakili oleh Ibu Ratna beserta staf nya.

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Penolong, untuk segala kemudahan yang diberikan diatas segala kesulitan yang kami rasakan.

Terimakasih semesta untuk pengalaman tak terlupakan di Lembata.

===============================

Pendakian Ile Ape Lewotolok ini merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan acara Festival Adventure Indonesia – Lembata 2014 tanggal 24-28 September 2014 yang diselenggarakan oleh Way2East didukung oleh Pemda Kab Lembata dan Kementrian Pariwisata & Ekonomi Kreatif Indonesia.

===============================
Cara untuk mencapai Pulau Lembata yang cantik ini :

Via Kupang :
• Naik pesawat Susi Air (telp. 0383-41077, Kupang :+62 811 381 3801 / +62 811 381 3802, Bandara Wunopito Lewoleba +62 812 3602 5244, booking online : http://fly.susiair.com/ ).
• naik Kapal Cepat Cantika , 3-4 jam (berangkat jam 9 pagi dari Pelabuhan Tanjung Lontar, Tenau, Kupang, sampai di Pelabuhan Lewoleba sekitar jam 1 siang), jadwal Rabu (Kupang-Lewoleba-Larantuka), Kamis ( Larantuka-Lewoleba-Kupang), tarif tiket : Rp 260 ribu untuk kelas ekonomi dan bisnis, sedangkan kelas VIP, Rp 360 ribu).
• Naik kapal lambat :
• KM Bukit Siguntang : kapal PELNI Kupang-Lewoleba-Maumere-Makassar , phone 0383-41521 / 41031
• KMP Fery Ile Boleng : ferry Kupang-Lewoleba setiap Selasa , Lewoleba-Kupang setiap Sabtu, phone 0383-41521 / 41031

Via Larantuka
• Kapal Cepat Ina Maria 29 :
o Larantuka-Lewoleba : Selasa, Rabu & Kamis, berangkat pukul 09.30 wita
o Lewoleba-Larantuka : Jumat, Sabtu, Minggu, Senin, berangkat pukul 09.00 wita.
• Kapal Cepat Fantasi Express 1 (tarif : Rp 75 ribu), pp setiap hari jam 09.00 wita, phone 0383-41007 / 410008
• KM Lewoleba Karya , Larantuka-Weiwerang-Lewoleba, pp setiap hari
• KM Sinar Mutiara , Larantuka-Weiwerang-Lewoleba, pp setiap hari
• KM Alfian Lembata, Larantuka-Lewoleba, pp setiap hari jam 10 malam
• KMP Namparnos , Larantuka-Lewoleba- Baranusa-Kalabahi, setiap Senin dari Larantuka, setiap Minggu & Senin dari Kalabahi (Alor)

Kendaraan selama di Lewoleba :
Labomi atau bus truck, bus kecil, angkutan pedesaan, dan ojek

PENGINAPAN :
Hotel banyak terdapat di Lewoleba :
o Hotel Palm Indah (3 star), 0813 371 81220 / 0815 196 06853
o Hotel Lewoleba, Jl.Awolong-Walakeam-Lewoleba
o Lile Ile Backpackers Homestay, Jl. Trans Lembata
o Hotel An’nisa , dekat Pelabuhan Lewoleba (Pantai SGB Bungsu), Phone 0383-41012
o Hotel Rezeki, Jl. Trans Lembata (depan Taman Swaolsa Titen), Phone 0383-41128
o Hotel Lembata Indah, Jl. Berdikari – Lewoleba
Di Desa Lamalera :
o Falmina homestay
o Ben Homestay
o Maria Homestay
Atau bisa menginap di rumah penduduk di Jontona (apabila mengambil rute trekking via Jontona), dan di desa Lewotolok (apabila mengambil rute trekking via Jontona.

Guide trekking Ile Ape : Bapak Elias di Jontona (0812 3785 4464).
Bank di Lewoleba : BRI dan Bank NTT
Sinyal HP : Telkomsel

Where to eat :
o Restoran Berkat Lomblen, Jl. Trans Lembata – Lamahora – Lewoleba
o Restoran Bandung , Jl. Trans Lembata (dekat Hotel Rejeki)
o Restoran Ayu Nisa, Jl. Trans Lembata – Lamahora – Lewoleba
dekat pelabuhan Lewoleba banyak warung-warung makanan Jawa

Comments
  1. Waaah itu tersesat yang beneran tersesat ya? Untung ada yang nolongin hehehe😀

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s