Ke Atambua aja ahh…

Posted: October 10, 2014 in NTT
Tags: , , ,

29-30 September 2014

“Duluan yaaa….!!” teriakku pada semua teman-teman baruku peserta dan panitia Perhelatan Festival Adventure Indonesia – Lembata 2014 yang dilaksanakan tanggal 24-28 September 2014 dan baru saja usai.

Jam 4 subuh, kami baru saja mendarat di Pelabuhan Bolok (Kupang, NTT), setelah 12 jam lamanya diayun gelombang Laut Sawu diatas ferry Lewoleba-Kupang.

Awalnya aku masih bingung mau kemana untuk menghabiskan 2 hari terakhir di NTT sebelum pulang ke aktifitas rutin.  Pilihanku ada 2, yang pertama adalah Pulau Semau yang tidak begitu jauh dari Kupang, hanya kira-kira 30 menit saja naik perahu.  Yang kedua adalah Atambua dan perbatasan Timor Leste yang jaraknya lumayan jauh dari Kupang, sekitar 6-7 jam perjalanan bermobil.

Mungkin kesejukan udara Kupang subuh-subuh yang akhirnya membantu menetapkan pilihanku.  Baiklah…. aku akan ke Atambua lalu ke perbatasan Indonesia – Tomor Leste…!

Jadi….

“Duluan yaa…, sampai ketemu lagi di trip selanjutnya…  Nanti kontak-kontak di FB yaa…,” aku pun berpamitan pada teman-teman baruku itu.  Lalu bergegas menaiki ojek motor yang sejak tadi membujuk-bujuk aku.  Tujuanku adalah ke Agen Timor Travel, salah satu dari 2 biro perjalanan yang melayani trayek Kupang – Dili.

Subuh-subuh jalanan kota Kupang masih sunyi.  Kantor Agen Timor Travel ternyata masih belum buka, tapi sudah ada beberapa pelanggannya yang duduk-duduk menunggu di berandanya.  Jam 6 kurang sedikit, petugas mulai berdatangan.  Ternyata, selain melayani rute Kupang – Dili pp, juga melayani angkutan ke bandara Kupang.

Tarif Ongkos Timor Travel

Tarif Ongkos Timor Travel

Satu per satu armada Timor Travel berupa mobil minibus Isuzu Elf mulai berdatangan sehabis menjemputi penumpangnya satu-satu dirumahnya/hotel.  Ada sekitar 4 armada yang berangkat susul menyusul pagi itu, aku kebagian di nomor 4, bangku nomor1, alias disamping pak supir dan pas diatas mesin.  Alhasil, baru beberapa puluh menit perjalanan, kursi ku sudah menjadi kursi panas, dan betisku berulangkali dijilati logam panas.  Aduhh…mana tahan…., untunglah ternyata di bagian belakang ada kursi kosong, maka pindahlah aku…

Mobil ini tidak dilengkapi AC, jadii…..harus tahan panas yaa…

Jalan Raya Lintas Timor lumayan mulus, hanya dibeberapa lokasi ada jalan yang amblas, tebing longsor, dan jembatan yang ambruk.  Kondisi yang sehari-harinya memang lengang membuat mobil travel ini bisa dipacu rata-rata 80 km/jam.

Lengang

Lengang

Jalanan ini meliuk-liuk menembus Pulau Timor yang sejak tahun 2002 lalu petanya menjadi terpotong menjadi 2 bagian, dan terdapat sempalan kecil di bagian utara, Enclave Oecussi milik Timor Leste.

Ruteku 24-30Sept2014

Ruteku 24-30Sept2014

Ketika melewati percabangan ke kiri ke arah Desa Fatumnasi sebelum memasuki kota So’e yang dingin, aku jadi teringat lagi serunya perjalanan berojek ke sana, keindahan sepanjang perjalanan, dinginnya udara malam di Lopo Mutis dan keindahan pagi di kaki Gunung Mutis itu (https://dians999.wordpress.com/2012/10/19/desa-fatumnasi-ntt-atap-pulau-timor/).  Di percabangan ke kanan di Niki-niki, aku teringat lagi perjalanan berojek ria ke Desa Boti, jalan yang sangat sulit karena banyak longsoran, nyasar sana sini karena mamang ojek nya yang masih belum berpengalaman🙂

Di Kota Kefamenanu kami rehat sejenak untuk makan siang, dengan menu nasi rendang Padang J  Warung-warung makan masakan padang, warung bakso/soto, warung sate, pecel lele, dan aneka warung makan yang biasa kita jumpai di Pulau Jawa, banyak bertebaran di sepanjang rute ini.

Tengah hari kami sampai di Atambua.

“Paspor..paspor… Minta tolong dikumpulkan paspornya..!” teriak Pak Supir.  Setumpuk paspor hijau RI dan paspor merah marun Timor Leste diserahkan kepadanya.

Rupa-rupanya paspor-paspor ini mau didata di Kantor Agen Timor Travel Cabang Atambua, guna mempermudah urusan imigrasi.

“Saya tidak ya Bapak, saya turun di Mota’ain..,” kata ku.

“O…kaka tidak pigi Dili kah..??  Sampai batas sa…” kata pak supir.

“Iya Bapak.., saya turun di batas,” jawab ku lagi.

Lapor dulu di Kantor Agen Timor Travel - Atambua

Lapor dulu di Kantor Agen Timor Travel – Atambua

Dari Atambua ke Motaain ditempuh sekitar 30 menit, jalanannya meliuk-liuk menuruni bukit, dihiasi longsor di sana sini.  Lalu sampailah di tepi batas Indonesia – Timor Leste.

Mobil-mobil Timor Travel parkir didekat kantor Imigrasi.  Dibelakangnya terdapat terminal, yang saat itu kosong melompong.  Penumpang semuanya diminta turun, untuk urusan keimigrasian.  Tak berapa lama paspor-paspor dibagikan kembali ke pemiliknya masing-masing.

Suasana di seputar portal batas Negara Republik Indonesia

Suasana di seputar portal batas Negara Republik Indonesia

Kantor-kantor sederhana untuk urusan imigrasi, karantina, dlsb berderet-deret.  Disitu juga ada Kantor Cabang Bank Mandiri untuk keperluan penukaran mata uang rupiah ke dollar dan sebaliknya.  Dididekatnya ada barak tentara penjaga perbatasan.  Diseberangnya dekat gerbang batas Indonesia ada taman kecil tapi lumayan apik, dilengkapi dengan bangku-bangku beton di bawah pohon, ada pula toko cinderamata khas Timor Leste yang bangunannya cukup apik, serta warung jajanan disebelahnya.

Dan…dari semuanya inilah dia gerbang batas akhir Wilayah Indonesia, sederhana, dengan palang kayu dicat belang hitam putih sebagai penghalang jalanan, yang digerakan secara manual oleh Tentara Loreng Hijau TNI Penjaga Perbatasan.

Disebrang gerbang batas adalah wilayah netral , bersisian dengan laut.  Dan di ujung wilayah netral sana, ada gerbang Bem vindo a Timor Leste (Welcome to Timor Leste) yang sangat megah.  Gedung Imigrasinya pun tak kalah megahnya, begitu juga portal keluar masuk kendaraannya, megah-modern-rapi.

Rupa-rupanya ada 2 jenis travel, yang terus sampai ke Dili, dan yang hanya sampai perbatasan saja, seperti mobil yang aku tumpangi.  Penumpang-penumpang yang tadi semobil denganku dan akan menuju Dili, dan urusan keimigrasiannya sudah selesai kemudian berjalan kaki dengan membawa segala barang bawaannya, melintasi portal batas Indonesia, memasuki wilayah netral, dan kemudian melapor lagi di kantor imigrasi Timor Leste, kemudian menaiki mobil lain yg juga milik Timor Travel.  Bagi warga negara lain, termasuk WNI, terlebih dahulu harus mengisi formulir aplikasi dan membayar visa sebesar 25 USD.

Aku yang memang tujuannya hanya sampai perbatasan sini, hanya celingak-celinguk disekitar taman perbatasan, lalu duduk-duduk mengobrol saja dengan para anggota TNI yang sedang berjaga di portal perbatasan.

Salah seorang anggotanya berbaik hati mengantarku ke wilayah netral dan ke wilayah batas Timor Leste untuk berfoto-foto.  Pantainya landai dan membentang cukup panjang.  Nelayan hilir mudik diatas sampan, tanpa harus melapor di portal.  Muda-mudi banyak yang duduk-duduk ditepi pantai wilayah netral, diketeduhan pohon rindang.  Petugas-petugas imigrasi Timor Leste tersenyum dengan cukup ramah dari lobby gedung megahnya.

Diseberang Portal Perbatasan

Diseberang Portal Perbatasan

Unik juga mengamati aktivitas keluar masuk orang dan kendaraan di portal batas Indonesia.

“Lapor Pak, saya permisi lewat, sebentar saja, mau ambil pisang di kebun..’” kata seorang bapak-bapak berkaos belang-belang.  “Oke…, sebentar saja tapi ya.., cepat kembali..!” kata bapak tentara.  Portal ditarik naik, dan Si bapak berkaos belang-belang pun lewat lah dengan sepeda motornya , tanpa paspor, tanpa visa.

“Permisi Pak.., mau beli minuman dingin di warung sebelah,” kata Bapak tentara Timor Leste berbaju loreng coklat yang masuk dari arah Timor Leste dalam mobil putih four-wheel drive yang gagah.  “Oke Pak, silahkan Pak..” kata Bapak Tentara Loreng Hijau, portal pun dibuka, mobil berplat Timor Leste beserta 2 tentara didalamnya pun lewat, tanpa paspor, tanpa visa.

“Permisi Pak.., mau masuk sebentar , ambil barang dagangan di sana..,” kata si Bapak WNI berkaos putih sambil menunjuk ke arah Timor Leste.  “Pakai helm.., ambil helm dulu.., pakai…, kalau tidak pakai helm, tidak boleh masuk..!” hardik tentara loreng hijau.  Sementara Si Bapak berkaos putih sudah ngeloyor masuk dengan sepeda motornya, tanpa helm, tanpa paspor, tanpa visa.

“Makasih masbro…, besok kami ke sini lagi..” seru akrab tentara loreng coklat Timor Leste yang tadi masuk katanya mau beli minuman dingin itu.  “Oke.., masbro…, kalau ada minuman enak disana, kasih kita ya..” seru tentara loreng hijau tak kalah akrabnya.   Portal kembali dibuka, mobil berplat Timor Leste beserta 2 tentara didalamnya pun kembali ke negaranya, tanpa paspor, tanpa visa.

Lain waktu, dari arah Timor Leste datang lagi sebuah Kijang Inova merah marun, supirnya turun, keturunan Chinese, “permisi Bapak, saya mau ambil barang dagangan, sebentar lagi istri saya dari Atambua antar kesini, minta ijin untuk parkir disini”

Si istri pedagang pun datang dengan mobil Avanza, barang dibongkar dari bagasinya, dipindah ke bagasi mobil suaminya, disitu, di portal batas.

Haha..seru juga mengamati kehidupan disekitar portal batas.

Aku sejak tadi memang nongkrong saja di situ bersama para tentara penjaga portal, ngobrol ngalor ngidul, jajan mie bakso malang, jajan ice cream walls conello (c), dan ketawa-ketawa.

Sebentar lagi jam 4 sore, saatnya portal ditutup.  Kalau ada pelintas batas yang kemalaman, akan disuruh menginap di mess tentara, katanya.

Tidak ada penginapan di sekitar tapal batas sini, adanya di Kota Atambua sana.  Bingung juga mau kembali ke Atambua karena sore-sore begini sudah tidak ada kendaraan umum.  Paling banter naik ojek, ongkosnya pun mahal, 50rb – 100rb katanya.

Ketika si istri pedagang etnis Chinese telah selesai memindahkan barang-barang dagangannya ke mobil suaminya, akupun iseng-iseng bertanya, “Bu, mau kembali ke Atambua ya..?”.

“Iya..,” jawab si Ibu.

“Wahh…, saya mau ikut, bolehkah..?  Saya bingung mau ke Atambua, katanya sudah tidak ada mobil angkutan jam segini, cari-cari ojek juga belum dapet-dapet,” kata saya dengan sedikit memelas.

“O iya…kamu ikut Ibu ini aja, biar aman, ke Atambua nya,” kata si Bapak Tentara penjaga portal.

“Iya.., kamu ikut saja….  Naik ojek bahaya sore-sore begini…,” kata Bapak Tentara yang satunya lagi.

“Ya udah, Mbak nya naik aja.., barang bawaanya banyak ngga…?” kata si Ibu , takut juga mungkin sama tentara-tentara itu kalau menolak.  Tapi, kelihatannya si Ibu agak mangkel juga ditebengi cewek dekil bawa keril, sedangkan beliau itu menyupir sendiri.  Pembantunya, ABG perempuan, duduk manis saja di kursi penumpang depan.

Alhamdulillah….akhirnya aku pun bisa kembali ke Atambua dengan sangat nyaman.  Aku turun di depan ruko besaaarrr…. milik si Ibu di kawasan Pasar Baru Atambua.  Si Ibu ini ternyata kelahiran Atambua, dan sepertinya usaha dagangnya cukup sukses, di Atambua, Dili dan Surabaya.

“Terimakasih banyak ya Buu…, maaf merepotkan, “ kata saya berpamitan.

Dari sana, saya lanjut ngojek mencari penginapan.  Penginapan Nusantara II yang berada di area Pasar Baru memang lokasi nya cukup strategis, tapi harganya lumayan mahal untuk ukuran budget ku, yang termurah 150rb per malam.  Saya lanjut lagi ke arah simpang lima, tadi waktu masih di travel sempat lihat ada Hotel Liurai dekat alun-alun simpang lima.

Lumayan harganya, 100rb per malam, kamar dengan 2 tempat tidur kecil, kipas angin kecil dan kamar mandi dalam.  Begitu kamarnya dibuka.., nyamuknya banyaaaakkk sehingga harus dikasih semprotan obat nyamuk dulu.  Bentuk kamar-kamarnya seperti kost-kostan mahasiswa.  Lokasinya persis di samping alun-alun simpang lima.  Disekitar situ ada banyak warung-warung makan, makanan Jawa pastinyaaa…  Harganya pun sama seperti di Jawa.

Esoknya pagi-pagi buta, aku sudah ngacir lagi di ojek untuk mengejar bus paling pagi ke Kupang, karena nanti sore aku harus terbang pulang ke Jakarta.

Udara Atambua malam dan pagi-pagi begini, dingiiiinnn….sekali.  Aplikasi weather di HP menunjukkan suhu 19 derajat celcius.  Brrrr…..dinginnyaaa…..  Bis-bis pagi sudah pada ngetem di terminal bayangan, orang sini menyebutnya.  Aku naik ke bis yang mesinnya sudah dihidupkan, tanda sudah mau berangkat.  Ternyata si bis, putar-putar dulu jemput penumpang.  Jam 6 lebih, bis berangkat menuju Kupang.  Cukup nyaman juga tempat duduknya. Ongkosnya 65rb. Istirahat makan siang 1 kali di Kota Kefamenanu, nasi padang lagi :-p

Bis tiba di Terminal Oebobo di Kota Kupang sekitar jam 1 siang.

Nahhh…. rasa penasaranku tentang seperti apa rasanya kehidupan di perbatasan 2 negara yang dulunya merupakan satu kesatuan, sudah sedikit terjawabkan….walaupun cuma sebentar saja.  Dan, kurasa “kami” seharusnya tidak berpisah hikss…..😥

=======================================

Comments
  1. yeveye21 says:

    Waaah…serruu. pingin nyobain kesini juga. Pd hal kmaren dh nyampe Kupang,,waktu mepet utk ke perbatasan so bataal

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s