[Pulau Timor Barat] Edisi Desa Boti : menemukan Genset, Soeharto dan Golkar

Posted: October 18, 2014 in NTT
Tags: , , , ,

03Sept2011

Seusai berkelana sedikit di Pulau Rote, sorenya saya melanjutkan perjalanan ke Soe, Ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Sebenarnya ada banyak sekali yang ingin saya datangi di Kab. TTS ini, seperti Desa Mollo, Gunung Mutis, Pantai Kolbano, tapi  tujuan utama saya memang pergi ke Desa Boti yang katanya seperti Suku Baduy-nya NTT.

Peta Lokasi Desa Boti

Peta Lokasi Desa Boti

Dari Pelabuhan Tenau (Kupang) saya ngojek ke tempat ngetemnya bis-bis Soe. Ongkos bis Kupang-Soe 20rb. Dapat bis jam 4 sore, sampei di So’e jam 6 sore.  Minta diturunkan di hotel, diturunkanlah daku di Hotel Sejati. Besoknya pagi-pagi baru berangkat ke Desa Boti.

Kota So’e memang dingin, apalagi pagi-pagi dan ngebut diatas motor ojek yang menderu pada kecepatan 80 km/jam (diam-diam saya mengintip speedometer dari balik bahu mamang ojek yang masih muda ).  Yahhh…maklum masih pagi, masih belum banyak saingan bis-bis lintas Timor di Jalan Raya Lintas Timor yang mulus dan lebar ini.  Sepanjang jalan, masih banyak dijumpai rumah bulat beratap ilalang dan berpintu rendah, asap mengepul dari puncak atap bulatnya.  Karena penasaran, saya sempat minta berhenti dan mampir disalah satu rumah warga yang memiliki rumah bulat di pekarangan belakang rumahnya.  Ibu tuan rumah yang baik hati, untungnya bersedia mengijinkan saya masuk ke dalam rumah bulat yang kini hanya digunakan sebagai dapur saja itu.

Ume Kbubu

Ume Kbubu

Di Kota Niki-niki, kami belok kanan (serong kanan, kalau kata orang NTT), memasuki jalan aspal yang rusak dan rusak parah kondisinya.  Di Pasar Desa Oinlasi (Kecamatan Kie), kami ambil jalan kanan lagi, tapi sebelumnya berhenti di warung untuk beli oleh-oleh pinang sirih, tembakau, dan kue-kue, serta bekal minum untuk kami.  Pasar Oinlasi ini ramainya setiap hari Selasa, dan sangat menarik untuk dikunjungi dan untuk berburu kain tenun khas Timor.

Jalanan semakin bertambah buruk, dan kami berulangkali tersesat salah jalan karena tukang ojeknya belum pernah ke daerah ini.  Bahkan kami dihadapkan pada tebing yang longsor, tapi masih bisa dilewati dengan motor walaupun harus extra hati-hati.

Bis trayek Kupang-Oinlasi

Bis trayek Kupang-Oinlasi

Di bawah tebing, terlihat banyak orang berkumpul, saya pun turun untuk sekedar melepas penat sambil mengobrol dengan mereka.  Rupanya mereka tengah menanam bibit pohon ke dalam poly bag untuk kemudian hari ditanam di tebing yang longsor tadi.  Semuanya murni dari prakarsa masyarakat setempat, tidak ada campur tangan pemerintah maupun LSM.

Penghijauan

Penghijauan

Rupanya dari longsoran tebing ini, Desa Boti Dalam tidak jauh lagi, tapi tetap saja kami nyasar lagi dan ketemu gerbang pagar kayu yang salah !!  Tapi akhirnya sampai juga kami di depan pagar kayu yang benar, masuk ke pelataran luar, lalu ada pagar lagi ke halaman dalam.

Pagar yang salah

Pagar yang salah

Saya ragu-ragu untuk masuk karena sepi sekali, tidak ada siapapun.  “Permisiii…..” teriak saya berkali-kali, akhirnya ada seorang ibu tua muncul sambil membawa sapu lidi, tersenyum, dan membukakan pintu pagar, lalu bicara dalam bahasa Boti (bahasa Dawan) yang tidak saya mengerti, mungkin mempersilahkan saya masuk.  Rupanya beliau tidak bisa berbahasa Indonesia, untungnya lalu muncul perempuan belia yang bisa berbahasa Indonesia.  Nona Klui namanya, rupanya pernah sekolah hingga tamat SMP, tapi tidak melanjutkan sekolahnya karena “Mau menenun saja di sini…” begitu jelasnya dengan suara lirih dan senyum malu-malu.

Suasana area depan Wilayah Boti Dalam

Suasana area depan Wilayah Boti Dalam

Saya dibawa masuk melalui 1 pintu pagar lagi ke area halaman dalam Sonaf Raja Boti (Sonaf = istana), menuruni undakan-undakan dari batu.  Teduh sekali suasana disini.  Saya diterima di teras depan.  Ada bangku kayu kelapa untuk duduk-duduk, dan kursi kayu kusam buatan sendiri, juga kursi plastik dari toko yang juga sudah usang.  Yang menarik, disekitar tempat duduk ada beberapa potongan bambu besar untuk membuang ludah selama mengunyah sirih pinang.

Suasana di Sonaf Raja Boti

Suasana di Sonaf Raja Boti

Ahh ya… saya teringat dengan sirih pinang dan kue-kue yang saya beli di Oenlasi tadi.  Ibu tua, Nona Klui, dan anak perempuannya Ibu Tua, segera mengambil pinang sirih dan mulai mengunyahnya.  Untung saya tidak ditawari untuk mengunyah juga.  Ada goreng pisang hangat dan ubi jalar rebus, serta teh manis hangat yang disodorkan kepada saya.  Enak sekali rasanya, karena semuanya hasil kebun sendiri, bahkan minyak gorengnya pun buat sendiri dari kelapa yang banyak tumbuh di sini.  Jadi harumnya beda sekali dengan “pisgor kota” .

Jamuan untuk saya, tamu tak diundang :-p

Jamuan untuk saya, tamu tak diundang :-p

Sambil makan pisang goreng, saya banyak bertanya tentang adat keseharian Boti, tapi selalu di jawab dengan “Nanti Mama Raja kasih jelaskan.  Saya tidak boleh kasih jelaskan sebelum Mama Boti kasih jelaskan.”  Ketika saya tanya kenapa, jawabnya adalah “Nanti kalau semua orang boleh kasih jelaskan, maka semua orang adalah Raja.  Raja Boti su tidak ada lai, itu tidak boleh”.  Begitupun ketika saya minta izin untuk foto-foto, baru boleh jika Mama Raja sudah memberi penjelasan.  Ahh…sungguh adab sopan santun yang sangat luhung.  Tapi jadinya sukar sekali untuk mencari topik pembicaraan umum yang bisa sama-sama kami obrolkan.

Saat pisang goreng saya sudah hampir habis, Mama Raja yang ternyata adik bungsunya Bapa Raja Usif Nama Benu, bersedia datang dan mengobrol dengan saya.  Berkebaya putih dan berkain tenun khas Boti dengan warna merah pudarnya yang sangat khas itu.  Yang menarik perhatian saya adalah tenunan motif lambang Partai Golkar yang berderet menghiasi kancingan kebayanya.  Ketika dengan berkelakar saya bertanya tentang hal itu, dengan senyum lembut beliau berujar “Partai Golkar-nya itu baik, yang buat jadi tidak baik itu adalah orang-orangnya”.  Lagi-lagi saya tertohok oleh kebijaksanaan adi luhung Suku Boti.

Sewaktu saya melongok ke dalam Sonaf (istana Raja Boti), didinding belakang kusi kebesaran Raja Boti masih tergantung foto hitam putih alamarhum mantan Presiden Soeharto di sebelah kanan foto almarhum Raja Boti terdahulu.  Ya Tuhan…., sepertinya waktu memang terhenti di sini.  Semuanya seperti datang dari masa lalu.  Yang sedikit merusak suasana masa lalu itu hanyalah lambang partai itu, lalu genset merah disamping sonaf beserta kabel-kabel listrik.  Genset itu ternyata sumbangan dari Dinas Budaya dan Pariwisata .

boti6

Sayangnya saya tidak bisa bertemu dengan Bapak Raja, bahkan tak seorang lelaki Suku Boti pun saat itu, karena mereka semuanya sedang pergi ke ladang.  Sebenarnya saya penasaran ingin melihat adat “gelungan rambut” pria Boti, yang kata teman saya seperti gambar-gambar orang jaman Majapahit.  Saya juga tidak menemukan anak-anak kecil di sini, hanya wanita remaja dan dewasa saja, termasuk Nenek Raja, istri mendiang Raja Boti terdahulu yaitu Usif Nune Benu (wafat pada bulan Maret 2005).

Desa Boti Dalam ini sepertinya memang sudah “sedikit dipoles” untuk kepentingan wisata.  Sehingga di halaman depan telah dibangun semacam “penginapan” untuk wisatawan dan sudah dibangun pula MCK “normal” seperti yang biasa kita “warga m1/2 modern” gunakan sehari-hari.  Di sana juga sudah dibangun semacam “showroom” yang berisi kain tenun dan berbagai kerajinan tangan untuk dijual.  Bahkan tersedia pula showroom untuk demonstrasi pemintalan benang kapas dan proses menenun,  para perempuan Boti yang ditugaskan untuk memperagakan proses memintal benang kapas dan menenun juga sudah siap sedia memperagakan keahliannya kepada setiap tamu yang datang.  Sesuatu yang kurang hanyalah proses pewarnaan yang memang “sangat rumit” bagi kita-kita yang tidak terbiasa melakukannya dan prosesnya sendiri memang memakan waktu yang sangat panjang pula.  Seperti yang pernah saya lihat di Desa Kaliuda (Sumba Timur).

Aneka tenun Boti yang indah.  Woowww...... bingung sendiri pilihnya

Aneka tenun Boti yang indah. Woowww…… bingung sendiri pilihnya

Lagi-lagi adat Boti yang “melarang tuan rumah makan sebelum tamunya selesai makan” membuat saya harus makan siang sendirian disaksikan oleh Tuan Rumah yang duduk “ngedeprok” bersandar di tiang pintu.  Awalnya agak risi, makan ditonton seperti itu, tapi saya harus “menguatkan diri” dan terus makan sebanyak yang saya mampu, guna menghormati sang tuan rumah yang begitu baik hati dan penuh adab sopan santun. Semua bahan makanan yang disajikan merupakan hasil kebun dan ternak sendiri, mungkin hanya garam saja yang dibeli.  Makanannya disajikan dalam wadah-wadah yang terbuat dari batok kelapa, tembikar, dan anyaman daun lontar.  Ukuran sendok makan dari batok kelapa yang cukup besar, sedikit menyulitkan untuk mulut kecil saya.  Adat Boti memang mengharuskan untuk menjamu tamunya makan sebelum pulang.

Saya memang SMP, Sudah Makan Pulang dehhh….

Kira-kira jam 12 siang saya membangunkan tukang ojek yang sedang tidur lelap dibawah pohon rindang.  Lalu kami memulai perjalanan pulang yang sama beratnya seperti tadi waktu berangkat.  Kali ini kami mengambil jalan lain, tidak melewati sungai super lebar itu, tetapi melewati jalanan yang biasa dilalui oleh truk-truk pengangkut pasir, batu dan kayu, serta yang biasa dilalui oleh kendaraan 4WD yang biasa disewa oleh para turis.  Dan seperti tadi ketika berangkat, kali ini pun kami bertanya ditiap belokan jalan supaya tidak nyasar.

Longsor dimana-mana

Longsor dimana-mana

 

Tapi ternyata jalur inipun sudah rusak parah, bahkan putus karena longsor di 2 tempat yang berbeda.  Yang tersisa hanya seruas jalan setapak di bibir jurang dan berdinding tebing kapur kering yang sewaktu-waktu masih bisa longsor lagi.  Saya pun tidak berani tetap duduk di ojek selagi melewati jalur ini.

Pfffiuhhhh….benar-benar jalur yang sangat menantang…

“Selamat bertualang ke Desa Boti”

=======================================================================

 

Penginapan di So’e :

Hotel Sejati, Jl. Gajahmada No. 18, phone 0388-21101 (tarif Rp.100rb per malam, kamar mandi dalam)

 

Transportasi :

  • Kupang-Soe dengan bis kecil , Rp.20rb, 2 jam, bisnya ada sampai malam
  • Soe-Desa Boti dengan ojek (Rp.100rb, sudah termasuk bensin)

Informasi mengenai Budaya Suku Boti yang cukup lengkap :

Tips :

  • Jangan lupa membawa oleh-oleh kue-kue , speaket sirih+pinang+tembakau
  • Berikan “sumbangan” sewajarnya
  • Wajib mengikuti segala adat yang berlaku
  • Bertutur kata santun
  • Memakai sunblock, topi, kaca mata, dan membawa air minum untuk persediaan selama perjalanan, dan jas hujan kalau perginya pas musim hujan
  • Berangkat sepagi mungkin dari So’e supaya kebagian bis ke Oinlasi, dan kesananya tidak terlalu panas. Yang terbaik memang nyewa ojek dari Oinlasi atau dari Desa Tumu (sebelum Oinlasi), selain pastinya lebih murah (mungkin Rp60rb pp), ojeknya pasti banyak yang sudah pernah ke Desa Boti jadi sudah berpengalaman dengan trayek offroad-nya yang ekstrim, kalau nyewa ojek dari Soe, kemungkinan besar belum pernah ke Desa Boti
Comments
  1. winnymarch says:

    jd pengen jalan ke timor lg

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s