Ke Ujung Utara Nusantara berkat Garuda Indonesia Promo

Duh senangnya….. berkat pagelaran Garuda Indonesia Travel Fair 12-14 September 2014 lalu, saya dan beberapa teman berhasil mendapatkan tiket promo Garuda Indonesia rute Jakarta – Pontianak untuk penerbangan tanggal 4 – 8 Maret 2015. Penerbangannya tepat waktu, aman, dan nyaman.  Bertualang ke Pontianak dan Singkawang memang menjadi impian saya sejak lama.

IMG_20150407_151747

==========

Wow…setibanya di Pontianak, saya langsung dibombardir dengan aneka panganan khas Pontianak oleh teman dan keluarganya, bingung saya mana yang mau difavoritkan, semuanya enak-enak dan bikin ketagihan.

Parade Tatung di Festival Cap Go Meh Singkawang juga membuat saya takjub sekaligus ngeri melihat kawat-kawat yang ditusukan di pipi para tatung, tingkah para tatung yang seperti sedang teler berat (konon kabarnya sedang kerasukan arwah-arwah), aura mistis begitu terasa walaupun di siang hari bolong.

IMG_20150305_093606

Tapi…, petualangan sesungguhnya baru kami mulai setelahnya.

Kami nekat menjelajah hingga ke desa paling utara, di ujung utara Kalimantan, salah satu desa perbatasan dengan negri tetangga, Malaysia. Desa yang sangat terpencil, tak terjangkau PLN, tak terjangkau Telkomsel dkk nya. Sendiri di ujung negri. Itulah Desa Temajuk.

Rute dari Singkawang - Temajuk

Etape 1 : Singkawang – Pemangkat

Tengah hari kami memulai perjalanan menuju Desa Temajuk dengan menggunakan 2 mobil sewaan, dari Singkawang menyusuri jalan aspal lurus dan mulus menuju ke Pemangkat (sekitar 31,4 km). Kami sempatkan untuk istirahat makan siang di Rumah Makan Pondok Indah (Pemangkat), tempatnya seperti rumah tingkat biasa, tapi makanannya benar-benar luar biasa..!

Etape 2 : Pemangkat – Kartiasa

Dari Pemangkat, perjalanan dilanjutkan menuju Kota Sambas (sekitar 46 km), jalan aspalnya mulai mengecil dan mulai berkelok-kelok, hingga sampai di Jembatan Kartiasa (km 51,7). Nah selepas jembatan ini siksaan jalanan pun dimulai, aspal nya sudah hancur, hanya tinggal batu-batu kali yang bulat-bulat. Melesak disebelah sini, menggunung di sebelah sana. Debu mengepul kemana-mana…, rumah-rumah dan pepohonan di sisi kiri dan kanan jalan kotor penuh debu. Tak terbayangkan kondisinya disaat hujan. Jarak yang cuma sejauh 5 km, berasa jadi 50 km, waktu tempuh yang seharusnya hanya sekitar 5 menit, menjadi berasa selamanya…..

Etape 3 : Kartiasa – Sumpit – Ceremei

Lega sekali rasanya ketika akhirnya jam 3 sore kami sampai di Dermaga Tanjung Harapan. Selanjutnya kami akan menyeberangi sungai dengan menggunakan kapal ferry ASDP menuju Dermaga Sekura. Kapalnya cukup besar, dapat memuat sekitar 7 unit kendaraan roda 4, ruang tunggu penumpangnya bersih dan nyaman, tarifnya Rp 35.000 per kendaraan dan Rp5000 per kendaraan untuk retribusi dermaga. Berhubung kapal penyebrangannya hanya ada satu saja, mau tak mau harus menunggu hingga penuh dulu, baru berangkat.

Tigapuluh menit kemudian sampailah kami di seberang sungai.

IMG_20150305_144931

Penyebrangan di Dermaga Tanjung Harapan

Untuk pengguna sepeda motor, disini terdapat banyak sekali perahu penyebrangan kecil-kecil yang hilir mudik sepanjang hari, jadi tidak perlu menunggu lama untuk menyebrang.

Sinyal seluler masih sangat bagus di sini.

Selepas penyebrangan ini jalanan aspal masih lebih lumayan dibandingkan jalan Kartiasa tadi. Rute selanjutnya melewati beberapa desa, yaitu Sekura , Sayang Sedayu, Tanah Hitam, Malek, Liku, Setinggak, dan Merbau. Selepas Desa Merbau kembali memburuk hingga Pelabuhan Penyeberangan Sumpit.

Dan.., sinyal seluler pun menghilang…

Pelabuhan Penyeberangan Sumpit ini kecil, terbuat dari bilah-bilah papan, hanya terdapat beberapa warung makan, selebihnya adalah rawa-rawa tepi muara, dan jauh dari perkampungan. Moda transportasi penyebrangannya berupa kapal kayu lebar yang disebut sebagai kapal bangkong. Kapal bangkong ini bisa memuat hingga 3 mobil, tarifnya seperti carteran, Rp 300 ribu sekali nyebrang, jika hanya 2 mobil maka per mobil Rp 150 ribu, sedangkan jika 3 mobil maka per mobilnya Rp 100 ribu. Lama penyebrangannya hanya sekitar 5 – 10 menit saja.

Dermaga untuk kapal bangkong (Desa Ceremai).  Foto diambil pada waktu rute pulang dari Temajuk

Dermaga untuk kapal bangkong (sisi Dusun Ceremai). Foto diambil pada waktu rute pulang dari Temajuk

Sebetulnya sudah ada pelabuhan baru yang lebih bagus, tetapi belum di operasikan. Selain memakai perahu bangkong, terdapat juga perahu-perahu penyebrangan kecil yang bisa digunakan oleh pengendara sepeda motor.

Sekitar jam 16:50 kami sudah sampai di seberang sungai, di Dusun Ceremai. Di sini juga terdapat beberapa warung makanan minuman, tidak ada perkampungan.

Etape 4 : Ceremei – Tugu Pancasila (Temajuk)

Dari sini ke Desa Temajuk masih sekitar 40 km lagi, masih ada seutas jalan aspal sempit menembus belukar, lalu jalan aspal sempit itu pun menghilang, disambung dengan jalan tanah merah. Untung bagi kami bahwa sudah beberapa hari terakhir ini tidak turun hujan, jadi jalan tanahnya lumayan kering, tapi masih menyisakan jebakan tanah lumpur becek di beberapa lokasi.

Beberapa urat air alias sungai kecil, melintas memotong jalan tanah. Beberapa dilengkapi jembatan papan kayu, yang lainnya cuma dialasi dengan bilah-bilah papan kayu yang diletakan begitu saja, sangat berbahaya untuk mobil. Ada juga yang tanpa apa-apa, jadi yang melintas terpaksa harus mencebur dan berbasah-basah.

eSAM_4123

Salah satu spot di jalur tanah becek (selepas dermaga Dusun Ceremai) di tengah area rawa-rawa, jauh dari perkampungan, tidak ada sinyal selular, sangat berbahaya di musim hujan.

Kondisi jalanan yang aduhai…, ditambah dengan hari yang semakin gelap, maka makin merayaplah mobil tunggangan kami ini jadinya. Segala rasa takut memenuhi benak kami semua, takut selip, takut gardan kepentok papan, takut mogok karena kemasukan air, dan takut muncul marabahaya dari kegelapan alam sekitar juga. Area nya jauh dari mana-mana, tidak ada sinyal seluler, tidak ada yang lewat pula. Aduh…..

IMG_20150307_095433

Narsis di Tugu Pancasila. Foto diambil waktu pulang dari Temajuk.

Rasa lega teramat sangat muncul begitu sampai di tugu Pancasila, yang menandakan bahwa kami sudah memasuki Desa Temajuk. Yang lebih melegakan lagi adalah bahwa di situ ada rumah warung yang terang benderang. Oh…rupanya pakai genset sendiri. Pak Haji dan istrinya yang punya warung, langsung sibuk memenuhi pesanan mie rebus dari kami semua. Beliau juga ikut heboh menimpali cerita kami.

Dari sini, kata Pak Haji, masih ada sekitar 3 jembatan kayu lagi yang harus kami lalui. Setelah itu akan ketemu jalan aspal. Jalan aspal….??? Aduh senangnya….

Etape 5 : Tugu Pancasila – Dusun Maludin (Temajuk)

Dan benar saja, setelah melewati 3 jembatan, kami bertemu lagi dengan jalan aspal, lalu memasuki Desa Temajuk. Tujuan kami adalah ke Pondok Wisata Atong di Dusun Maludin, sempat nyasar ke Dusun Camar Bulan karena gelap jadi penunjuk jalannya tidak terbaca. Sekitar jam 7 malam, akhirnya kami sampai di ujung jalan mobil. Karena belum dibangun jembatan dan jalan yang cukup besar untuk bisa dilewati mobil, maka mobil harus diparkir di area ini. Selanjutnya harus menggunakan ojek sepeda motor atau kalau kuat ya berjalan kaki. Kami memilih menggunakan ojek.

Berduyun-duyun lah 10 ojek melewati jembatan bilah kayu, lalu menyusuri jalan setapak di area kebun kelapa dan rumah-rumah penduduk. Masing-masing rumah memiliki genset sendiri untuk menghasilkan listrik. Begitu juga dengan Pondok Wisata Atong.

IMG_20150306_181546

Salah satu pondok yang ada di komplek Taman Wisata Atong

Listrik menerangi pendopo di bangunan utama, Pak Atong sekeluarga sedang asik menonton TV, siaran dari TV Kalbar. Luas komplek Pondok Wisata Atong ini sekitar 3 Ha, berupa taman dan berada tepat di tepi pantai. Selain bangunan utama ini, disekelilingnya terdapat bangunan-banguan bungalow kayu untuk disewakan kepada wisatawan, di bangunan utama juga ada kamar-kamar yang disewakan, ada yang dilengkapi AC ada yang tidak.

Kami memilih untuk menyewa sebuah bungalow kayu yang memiliki 2 kamar. Di area luar terdapat 4 unit kamar mandi, 1 unit shower, 1 toilet, sedangkan di dalam bangunan utama terdapat 2 kamar mandi plus toilet.

Di Desa Temajuk tidak perlu khawatir dengan ketersediaan air bersih, tidak seperti di Pontianak atau Singkawang, dimana air tawar bersih hanya diperoleh dari menampung air hujan. Di Temajuk, mata air dari gunung mengalirkan air sepanjang masa. Bahkan di tepi pantai, air bersih merembes keluar dari dalam pasir. Airnya sungguh sejuk dan segar.

Malam semakin larut, gemuruh mesin genset bersimfoni dengan debur ombak dan bunyi jangkrik bersahutan di semak-semak dan diatas pepohonan kelapa. Udara laut dan udara gunung berbaur menciptakan kesejukan. Badan penat dan stress dengan kondisi jalanan sepanjang hari, membuat kami semua tertidur lelap, walaupun sebagian tidak kebagian kasur.

Besok, kami akan memulai petualangan menjelajahi sudut-sudut Temajuk, melintasi perbatasan negri, dan kalau bisa mencapai Tanjung Datuk, titik terujung Kalimantan yang terbelah dua negara.
Temajuk, selangkah ke negeri sebrang

Pagi hari yang sejuk di Kawasan Pondok Wisata Atong (Dusun Maludin, Desa Temajuk, Kec. Paloh, Kab. Sambas, Prov. Kalimantan Barat). Saatnya berburu matahari terbit. Ah….lupa saya…pantai ini menghadap ke barat. Jadi tidak ada sunrise, adanya sunset, nanti sore. Tapi biarlah…

Pagi masih remang-remang…, sepanjang pantai sepi tak ada orang kecuali kami. Laut sedang surut rupanya, jauh juga pantai yang tersingkap ditinggalkan lautan. Kami menyusuri pantai yang lengang ke arah utara…., menyusuri pasirnya yang halus berwarna putih kecoklatan, seperti buih kopi capucino warnanya. Air dari mata air pegunungan, merembes keluar dari dasar pasir, membentuk galur-galur aliran air kecil-kecil, lalu mengumpul di cekungan karang…, membentuk kolam air tawar di tepi lautan Selat Karimata.

eIMG_1205

Pantai Atong, tidak cocok untuk berburu momen sunrise, karena ada di sisi barat :-p

Lalu ada lukisan jejak air laut surut di atas pasir, bergalur-galur indah seperti hiasan gaun, membuat kami segan menginjaknya.

eIMG_1305

Pantai Batu Paus, demikian kami menamakan pantai ini, karena batu besar yang disana itu mirip ikan paus. Area ini akan tertutup air laut dikala pasang naik

Lalu ada batu-batu super besar dimana-mana. Kontur pantai Temajuk di Pantai Atong ini ternyata mirip dengan di Pulau Bangka – Belitong, dihiasi batu-batu super besar. Garis batas bagian batu yang kalau laut pasang terendam air laut, jauh melebihi tinggi badan saya. Garis batas itu warnanya kecoklatan dan seperti berkilau kuning keemasan ketika cahaya matahari pagi pertama dari balik gunung akhirnya menyinarinya.

IMG_20150307_083238

Pulau Batu Nenek , bisa dicapai dengan berjalan kaki saat laut surut

Ah….Temajuk yang indah.., seperti di negri dongeng.

Siangnya kami menyewa ojek menuju perbatasan Indonesia-Malaysia. Kembali, 10 ojek berduyun-duyun membuat heboh seisi desa yang biasanya tenang. Jalan aspal sudah sampai hingga ke pos perbatasan, sebuah bangunan kayu sederhana seperti warung yang ternyata adalah pos tentara penjaga perbatasan. Di depan pos, ada portal penghalang jalan terbuat dari kayu yang menghalangi jalan, siapapun yang akan melintas harus melapor.

eSAM_4167

Pos TNI Penjaga Perbatasan

Jadi kami semua turun dari ojek masing-masing, koordinator ojek kemudian melapor dan mencatatkan namanya dan nama teman2nya di buku tulis besar semacam buku tamu, nama kami tidak ada yang ditulis, cukup warga lokal saja penanggung jawabnya katanya. Kami pun boleh lewat, keluar dari wilayah Indonesia, memasuki wilayah negara tetangga, Malaysia.
Selepas portal perbatasan, jalan aspal digantikan jalan tanah, menuju ke atas bukit. Dimana terdapat gerbang bagus dan masih baru, berhiaskan bendera merah putih di puncaknya, dan bertuliskan “Selamat Jalan” serta “Selamat Datang” di sisi yang menghadap ke arah negri tetangga.

Dari sana, jalan tanah terus membelah perkebunan karet milik Diraja Malaysia. Hingga bertemu dengan gedung penjaga perbatasan Malaysia yang jauh lebih megah dibandingkan dengan gubuk kayu tentara penjaga perbatasan Indonesia. Komplek tentara penjaga perbatasan Malaysia ini juga dilengkapi dengan fasilitas pembangkit tenaga listrik dan unit pengolahan air bersih.

eSAM_4181

Pos Penjaga Perbatasan Negara Diraja Malaysia

Kami kembali turun dari ojek masing-masing, lalu melapor kepada para tentara Malaysia yang sedang berjaga. Koordinator ojek dan teman-temannya kembali menuliskan namanya di sebuah buku tamu besar. Nama kami tidak dicatat juga disini, tak ditanya passport pula. Tentara (askar) Malaysia nya baik-baik, bahkan mau diajak berfoto bersama.

Selepas itu, kami bebas masuk ke wilayah Malaysia. Tujuan kami adalah ke Teluk Melano ditepian Laut Cina Selatan.

Pantainya luas membentang karena air laut masih sedang surut, panjang pantainya berkilo-kilo meter. Terdapat dermaga bagus, rumah-rumah khas Melayu, bangunan Sekolah Dasar bertingkat (3 lantai), homestay, toko makanan-minuman, pembangkit listrik, dan unit pengolahan air bersih. Tapi semuanya sepi, tidak ada orang kecuali kami.

eSAM_4206

Pantai Teluk Melano (Malaysia) dikala surut

Lalu kami memasuki hutan, menuju Pantai Batu Bersusun. Batu karangnya seperti bersusun-susun mirip dengan Pantai Batu Layar nya Desa Sawarna. Pantai ini juga dipenuhi bebatuan pantai kecil-kecil beraneka bentuk dan warna, permukaannya halus karena terkikis air laut. Sejenis batu pantai yang biasa dipakai untuk menghiasi taman-taman di perumahan, perkantoran, ataupun mall.

Pepohonannya yang rindang, semilir angin yang teduh, membuat kami betah berlama-lama di sini.
Tapi laut sebentar lagi pasang naik, kalau air laut sudah naik nanti kami tidak bisa lewat. Jadi, kembali kami berkonvoi disepanjang pantai Teluk Melano, kembali menyusuri jalan tanah membelah perkebunan karet, kembali melewati pos perbatasan Malaysia, dan pos perbatasan Indonesia.

Kami juga sempat trekking ke hulu mata air yang sepertinya dulunya dijadikan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air, tapi kini sudah terbengkalai, hanya menyiskan bendungan dan pipa-pipa besi, serta gardu. Entah…mungkin suatu saat nanti bisa difungsikan lagi.

Panen ubur-ubur

Ada fenomena unik di Desa Temajuk ini, yaitu fenomena panen ubur-ubur di bulan Maret hingga April, seperti fenomena menangkap cacing nyale di Lombok pada bulan Februari-Maret. Saya sudah tidak sabar untuk menyaksikannya.

Jadi sore-sore kami berkonvoi menuju Dusun Camar Bulan, ke pusat pengumpulan atau kilang-kilang ubur-ubur. Masyarakat sudah ramai diseputar kilang-kilang tersebut. Beberapa perahu yang baru kembali dari laut sudah tertambat di pantai. Ubur-ubur hasil tangkapannya sedang dibongkar dan diangkut ke kilang-kilang. Buruh-buruh angkut sedang sibuk hilir mudik dari perahu ke kilang, mengangkut ubur-ubur besar-besar dalam kotak-kotak keranjang plastik. Satu kotak keranjang plastik diangkut oleh 2 orang kuli angkut yang terdiri dari ibu-ibu, remaja-remaja pria, remaja wanita, dan bapak-bapak. Ketika perahu satu sudah selesai diangkut semua ubur-ubur tangkapannya, mereka pindah ke perahu lainnya, begitu seterusnya. Semakin banyak jumlah ubur-ubur yang berhasil mereka angkut ke kilang, semakin banyak jumlah bayarannya.

Ternyata, di dalam perahu setelah ditangkap, ubur-ubur tersebut dipisahkan antara bagian badan dan jumbai “kaki” nya. Ketika dibongkar, diangkut, dan dikumpulkan di kilang juga dipisahkan antara kaki dan badan. Harga badan ubur-ubur lebih mahal daripada kakinya, padahal lebih enak kaki, kata seorang ibu yang jadi kuli angkut.

Seorang petugas penghitung ubur-ubur telah siap sedia ditempat “unloading” kilang, dengan cekatan menghitung setiap ubur-ubur dari setiap keranjang, lalu meneriakan hasil hitungannya. Seorang ibu juru catat, sibuk mencatat teriakan si juru hitung, siapa mengangkut berapa badan atau berapa kaki ubur-ubur, dan dari perahu mana, semuanya tercatat.

Badan para kuli angkut dan juru hitung telah basah terkena air laut bercampur lendir ubur-ubur. Gatal-gatal dari racun si ubur-ubur sepertinya tidak begitu mereka rasakan, walaupun ketika saya tanya apakah gatal atau tidak, jawabannya “Ya gatal de..!” begitu katanya sambil garuk-garuk dan meringis. “Tapi nanti juga kalau sudah mandi, gatalnya hilang” lanjutnya.

Kegiatan bongkar-angkut ubur-ubur ini terjadi setiap sore hari di sepanjang bulan Maret hingga April. Ubur-ubur dalam kilang-kilang itu direndam sambil diaduk-aduk semalaman, kemudian dijemur hingga kering. Ubur-ubur kering kemudian dijual kepada pengepul besar yang akan menjualnya lagi keluar daerah. Cina, Taiwan, Korea dan Jepang konon kabarnya adalah tujuan ekspor ubur-ubur.

Meninggalkan Temajuk yang menakjubkan

Wow… Desa Temajuk yang terisolir sendirian di ujung negri, ternyata memiliki potensi teramat menakjubkan. Tanahnya subur, bisa ditanami rupa-rupa hasil bumi termasuk sayuran. Hasil lautnya juga melimpah. Tapi…, aksesnya yaoloooo….

Nah… kami masih punya semalam lagi di Temajuk, diisi dengan acara bakar ikan dan berburu kelomang di pantai.

Esoknya kami masih sempat menyambangi satu lagi objek wisata, yaitu Pantai Batu Nenek yang juga dihiasi dengan batu-batu super besar. Kalau laut sedang pasang, area ini akan terpisah dari daratan, menjadi Pulau Batu Nenek.
Hari ini kami harus kembali pulang, menembus jalur tanah merah becek sekaligus berdebu.. Berulang kali geleng-geleng kepala mengingat kenekatan kami kemarin malam setelah melihat kondisinya disiang hari. Kembali menyebrangi Sungai Sampit menggunakan perahu bangkong, lalu menyebrang dengan ferry ke Dermaga Tanjung Harapan di Kartiasa, lalu kembali menyusuri jalan rusak Kartiasa yang bikin sakit pinggang, kembali menuju Sambas lalu Pemangkat dan ke Pontianak.

Jam 9 pagi dari Temajuk, jam 12 malam sampai di Pontianak, karena diselingi mampir sana sini untuk makan, beli oleh-oleh, ambil barang, dll.

========

Esok sore kami akan pulang ke Jakarta menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA 515.

Terimakasih kepada Garuda Indonesia dengan event Garuda Indonesia Travel Fair nya dengan promo discount tiket rute domestiknya yang sangat menarik dan memberikan kesempatan kepada masyarakat Indonesia untuk menjelajahi negerinya dengan biaya yang lebih murah.

Jaya terus Garuda Indonesia, maju terus negeriku Indonesia..!
========

Catatan Biaya-Biaya 4 – 8 Maret 2015

Berangkat :
Sewa mobil (2 unit, 5 hari, Rp300rb/hari, ganti rugi baret Rp400rb) = 3.4jt
BBM 500rb + 343rb
Ferry 85rb
Perahu bangkong 300rb
Ojek motor ke Villa Atong 150rb (11 ojek)
Ojek motor one day trip keliling Temajuk 500rb (11 ojek)

Pulang :
Ojek motor dari Villa Atong 150rb (11 ojek)
Parkir mobil di ujung Dusun Maulidin 20rb
Perahu bangkong 200rb
Ferry 85rb
BBM 186rb

Akomodasi di Temajuk
Villa Atong all in (2N, 2kamar, biaya makan, biaya bakar ikan) 870rb

Total untuk transportasi dan akomodasi = Rp6.789.000 (untuk 11 orang, diluar biaya tiket pesawat, makan dan oleh-oleh)

Comments
  1. Jauharry says:

    Wah seru banget🙂 thx dah berbagi

  2. Kaki KakiKoe says:

    “Kapal bangkong ini bisa memuat hingga 3 mobil, tarifnya seperti carteran, Rp 300 ribu sekali nyebrang, jika hanya 2 mobil maka per mobil Rp 150 ribu, sedangkan jika 3 mobil maka per mobilnya Rp 100 ribu.”
    —> Waktu daku cari info perahu bangkong, gak ketemu penjelasan yang seperti ini.

    “ganti rugi baret Rp400rb”
    —> Baretnya justru saat parkir mobil di hotel… hadeuuuh…

    Salam : “Nek permisi yah nek…”

    • dians999 says:

      Silahkan masuk Kek Jeff..,

      About tarif kapal bangkong, itu kata si bapak2 yg ngobrol ama gw waktu kita berangkat.
      Yg ngebaretin ngga tanggungjawab lagi yaa….hiksss…

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s