SI ANAK MACAN

Posted: July 28, 2015 in Uncategorized

Intro

Anak perempuan ini bertubuh ceking, paling kecil mungil diantara teman-teman sebayanya.   Rambutnya lurus panjang sampai ke pantat, seperti kedua kakak perempuannya. Biasanya rambut panjangnya itu di kepang satu atau di ikat buntut kuda, tapi tentunya itu bukan hasil kepangan ataupun ikatan sendiri, kalau bukan bantuan tangan ibu-kakak perempuan-nenek nya, maka pastilah bantuan tangan salah satu tetangga.  Kulitnya sewarna sawo yang terlalu matang, karena terlalu banyak berkeliaran di alam terbuka.  Giginya gingsul, besar-besar dan kurang terawat, karena paling benci kalau disuruh sikat gigi.

Rumah orangtuanya berada di belakang rumah neneknya.  Keduanya sama-sama berupa rumah panggung terbuat dari kayu dan ada kolong rumahnya.  Hangat dan nyaman.  Namun rumah orangtuanya lalu dipugar menjadi rumah tembok yang dingin dan lembab.

Play Ground

Tempat main kesukaanya tentu saja adalah sungai, sawah, ladang, kebun, dan lapangan atau bertengger di atas pohon jambu klutuk milik Bibinya atau di atas pohon kersen yang tumbuh menjorok ke kolam tetangga.

Paling senang kalau diijinkan nenek atau kakeknya ikut ke sawah atau kebun.  Bukan berniat untuk bantu-bantu (walaupun dengan cemberut selalu membantu neneknya membawakan salah satu rantang berisi makanan), melainkan untuk bermain lumpur di sawah dan bermain air di sungai yang ada di dekat sawah.  Dan untuk merecoki pada saat makan siang di saung sawah.

Paling benci dengan ulat dan nyamuk.  Setiap kali keluyuran di kebon, matanya selalu awas mencari-cari ulat bulu supaya dapat menghindar jauh-jauh karena trauma dengan gatal nya .  Benci dengan bunyi dengungan nyamuk yang merubungi kepalanya.  Benci dengan bentol dan gatal-gatal di sekujur badan yang diakibatkan oleh keduanya.

- SAM_2649

Ulat jungkat jungkit (hileud jeungkal – bahasa Sunda)

Pernah suatu saat, dia dan sobat karibnya seperti biasa sedang bertenggeran diatas pohon jambu klutuk milik Bibinya yang tumbuh menjorok ke arah kolam ikan, tiba-tiba temannya bertanya “Maneh sieun teu ku hileud jeungkal ???” (Kamu takut tidak sama ulet keket – ulet tak berbulu yang merayapnya kaya jungkat jungkit), “Teu…teu sieun uing mah” (Ngga…, ngga takut saya !!!) jawabnya sombong.  “Tuh aya nempel na baju…” (tuhh ada 1 nempel di baju) tunjuk temannya.   “Mana…????” dengan muka ngeri Si Anak Macan bertanya.  Ternyata si ulat sedang menempel di ban pinggang rok seragam pramukanya.  Sontak dia menjerit-jerit dan menangis nyuruh temannya untuk membuangi si ulet dari bajunya.  Temannya yang juga sama-sama takut, dengan gemetar dan sambil ikut menangis berusaha membuangi si ulat yang masih erat menempel.  Akhirnya dengan panik dibukanya roknya lalu dia dilemparkannya entah kemana.  Masih sambil menangis berlarilah ia pulang ke rumahnya, tak perduli saat itu dia masih setengah telanjang.  Kedua sahabat itu bermusuhan hampir seminggu lamanya setelah kejadian itu.

Banyak cerita tentang dia dan sungai.  Pernah terhanyut di arus sungai yang tiba-tiba membludak karena hujan di hulu sana, tapi tidak kapok untuk bermain lagi dan lagi di kali.  Walaupun selalu dilarang dan dimarahi setelahnya.  Tidak takut adu nyali dengan anak laki-laki dengan cara melompat terjun dari atas bendungan (yang populer di sebut STORBAK) setinggi 5 meteran , walaupun ditakut-takuti dengan cerita banyaknya anak-anak yang mati tersedot pusaran air.

Merasa takjub sewaktu tebing tanah di pinggir kali longsor dengan suara gemuruh menghebohkan seluruh warga kampung.  Tanah merahnya menguruk aliran kali, hingga airnya terus naik sampai mendekati kolong jembatan (orang kampung menyebutnya Sasak Sundawa, “sasak” adalah bahasa Sunda-nya untuk jembatan).  Dengan bersuka cita dia ikut-ikutan melompat menceburkan diri dari atas jembatan yang saat itu hanya berjarak 2 meteran dari permukaan air, padahal biasanya begitu jauh jaraknya dari dasar kali.

Pernah juga suatu saat, ketika sedang asyik bermain sumur-sumuran di kali yang ada persis di belakang rumah Bibinya, tiba-tiba lubang sumur-sumuran yang ditemukannya di atas tanah berpasir dipinggir kali, saat mau digali ternyata bisa bergerak sendiri, lalu meluncurlah seekor kura-kura yang cukup besar dari dalam timbunan pasir ke air sungai.  Rupanya lubang tersebut adalah ventilasi udara bagi si kura-kura yang tengah bersembunyi mengubur dirinya di dalam tanah berpasir.

Di musim kemarau yang biasanya pas dengan masa-masa liburan sekolah selama 1 bulan, biasanya dia mengikuti kakak laki-lakinya bermain adu layangan di lapangan (lahan sawah yang mengering) atau mencari-cari sisa ubi (boled dalam bahasa Sunda, boled yang tertinggal disebut “kakacir”,  dan kegiatan mencari “kakacir” ini disebut sebagai “ngala kakacir”) maupun kacang tanah (suuk dalam Bahasa Sunda) yang tidak tercabut oleh petani pada saat panen.  Biasanya rasanya lebih manis, karena kadar airnya sedikit akibat kemarau.  Biasanya di makan mentah-mentah begitu saja, atau kalau dapatnya banyak, di bawa pulang dan di-“bubuy” (dimasukkan ke dalam sekam atau debu pembakaran yang panas membara hingga matang) di dapur neneknya.

Selain permainan anak laki-laki, dia juga suka permainan anak perempuan.  Dia akan asyik sendiri membuat rumah-rumahan impiannya, biasanya di celah tanah diantara liukan akar pohon rambutan besar di halaman tetangga.  Kursi, meja, tempat tidur, dll dibuat dari potongan-potongan gelas keramik berbagai motif yang dipungutnya dari saluran air utama yang ada di kampungnya.  Orang-orangannya dibuat dari batang daun yang ditusuk lidi di bagian atasnya sebagai tangan, lalu diberi baju dari potongan-potongan kain berwarna warni yang dibentuk menyerupai rok atau celana panjang. Atau membeli mainan BP-BPan (BP = bongkar pasang).

bp

Membuat rumah-rumahan ini adalah hobby nya yang dia bawa hingga masa awal remajanya.  Senang merancang dan mendesain rumah impiannya.

Kalau sedang musim main saung-saungan, ia akan mengeluarkan jurus tercanggihnya untuk dapat membuat saung yang paling besar, paling indah dan paling kokoh diantara teman-temannya.  Biasanya kemudian dimarahi nenek atau ibunya karena kain jarik terbaiknya diambil tanpa ijin untuk digunakan sebagai dinding saungnya.  Dan dimarahi Nini Upi, tetangga baik hati yang pagar bambunya dan tiang-tiang kayunya juga diambil tanpa ijin untuk dipakai sebagai tiang saung dan atapnya.

eIMG_2897

Sosorodotan

Tentu saja dia juga senang main lompat tali dan main gatrik (permainan menjentik sebilah bambu kecil (disebut gatrik) yang diletakkan melintang diatas 2 buah batu, menggunakan sebilah bambu lainnya yang lebih panjang, yang berhasil menjentik paling jauh, dialah yang menang, yang kalah harus menggendong yang menang dari titik awal hingga titik jatuhnya bilah bambu).  Juga main “sosorodotan” (perosotan), meluncur dari atas tebing tanah yang landai hingga ke bawah sambil menunggangi “upih” (pelepah daun palem yang sudah tua).

Sekolah

Hari ketika ibunya mendaftarkan dia di Sekolah Dasar, adalah hari yang sangat mendebarkan, sedikit menakutkan bahkan. Dia tidak sekolah TK dulu, jadi belum tahu sekolah itu seperti apa. Bu Mimi yang bertugas menerima pendaftaran murid baru, tidak percaya bahwa saat itu usianya sudah masuk 7 tahun, karena badannya yang jauh lebih kecil dibandingkan anak-anak sebayanya. Untunglah ketika disuruh melingkarkan tangannya melalui puncak kepala, berhasil mencapai telinganya . Jadi tahun itu, dia resmi menjadi siswa SD.

SDN III bukanlah SD favorit, malah bisa dibilang SD kelas buncit dalam hal prestasi. Hanya kakaknya yang pertama yang disekolahkan ke SD I , sekolah terfavorit se kecamatan. Kakaknya yang kedua dan ketiga sekolah di SD III, karena lokasinya dekat dengan rumah, mungkin sekitar 10 menit jalan kaki.

peta-kawali

map of sweet-child-of-mine

Hari pertama masuk sekolah, adalah juga hari yang sangat mendebarkan. Seragam sekolah putih-merahbata nya masih baru dan kaku, rempelan di rok nya rapih di setrika ibunya. Sejak beberapa hari, baju seragam itu sudah digantung di rangka besi atap ranjang nya, sehingga setiap malam sebelum tidur dia bisa pandangi sambil berkhayal tentang sekolah barunya. Tas selempangnya bertali panjang, terlalu panjang mungkin, hingga tas nya menggantung sampai di betis. Kaus kakinya putih, sepatunya berwarna merah bata, serasi dengan baju seragamnya. Dasi kupu-kupu berwarna merah bata menghiasi kerah leher. Topi putih-merahbata bertengger di kepalanya, sebentar-bentar miring dan mau copot karena terganjal 2 kuncir rambut panjangnya.

Para murid petugas Upacara bendera di senin pagi nya yang pertama begitu membuatnya kagum, waaawwww….. mereka pastilah anak-anak terpintar sesekolah, begitu fikirnya.

Sebelum masuk ke dalam kelas harus berbaris dulu dengan rapih, diabsen satu satu, lalu diarahkan untuk duduk dibangku kayu. Bangku nya menyambung dengan mejanya. Satu bangku ada yang diisi 3 orang anak, ada yang 4, ada juga yang 5 anak kalau badannya kecil-kecil. Waaww….banyak teman baru.

bangku-jadul

Belajar membaca huruf-huruf dan angka-angka. “Ini Budi. Ini Ibu Budi. Ini Bapak Budi. Wati kakak Budi.” Belajar berhitung menggunakan potongan lidi. Lidi nya dapat minta sambil merajuk pada kakek. Potongan lidi nya harus sama panjang. Tiap anak harus bawa seratus potong, diikat pakai karet gelang, dan menjadi harta karun yang harus dijaga dengan segenap jiwa raga. Kalau hilang.., bisa disetrap berdiri satu kaki sambil pegang kuping sebelah , di depan papan tulis sampai selesai pelajaran.

Harta karun lainnya adalah pinsil, serutan pinsil berkaca, buku letjes, penghapus, penggaris, buku gambar, pensil warna, untaian karet gelang untuk lompat tali dan bola bekel beserta kerang-kerang nya. Uang jajan per hari 25 rupiah (uang logam kecil dan mudah lolos dan hilang dari genggaman), biasanya dibelanjakan untuk beli cilok ( 5 rupiah dapat 3 biji, kalau ada kacang didalamnya, artinya dapat hadiah 2 biji cilok), kerupuk jengkol dicocol sambel saos pedas, atau endog cakcak (kue bulat-bulat kecil warna warni, rasanya sedikit manis), atau pelendungan (balon tiup dari pasta dalam tube-tube seperti odol kecil-kecil, pasta nya ditempel di ujung sedotan kecil, lalu ditiup , kalau sudah keras tidak bisa mengembang lagi).

Entah bagaimana, tapi para ibu guru itu berhasil mengajarinya membaca, menulis, dan berhitung. Setelah berhasil bisa membaca, dia pun keranjingan membaca. Semua majalah dibacanya, semua buku-buku cerita dan komik milik kakak-kakak nya , temannya, tetangganya, semuanya dibacanya. Ada salah satu tetangga favorit baginya, karena dirumahnya banyaaakkk sekali majalah Bobo edisi lama yang dihibahkan oleh keponakan sang tetangga yang tinggalnya di Ibukota Jakarta. Biasanya, sepulang sekolah, setelah menggerataki makanan di dapur neneknya, dia akan ke rumah sang tetangga, untuk membaca, sampai sore hari. Pernah juga karena saking asyiknya membaca komik Superman, dia sampai ketinggalan di sebuah toko buku di kawasan Alun-alun Bandung, dia tidak sadar bahwa seluruh keluarganya telah pergi meninggalkan toko tersebut, berpindah ke beberapa toko lainnya, sebelum akhirnya ada yang sadar bahwa si anak macan tidak ada dalam rombongan.

Entah bagaimana, tapi para ibu guru itu berhasil membuatnya menjadi anak pandai, paling pandai di kelasnya. Nilai-nilainya selalu paling bagus, kecuali untuk pelajaran olah raga dan pendidikan agama. Dia benci olah raga, kecuali lari. Karena kalau pelajaran lari, pak gurunya akan membawa semua murid ke lapangan terbuka, walaupun jaraknya lumayan jauh dari sekolah, tapi semua anak senang karena bisa bermain lari-larian sepuasnya dan bisa memamerkan bekal makanan bawaan masing-masing.

Bangunan sekolahnya, kelas 5 dan 6 sudah sangat lapuk kondisinya, hingga akhirnya dikosongkan karena membahayakan, takut runtuh sewaktu-waktu. Lama kedua kelas tersebut terbengkalai. Kelas 5 jadinya masuk bergantian dengan kelas 2, sedangkan kelas 6 bergantian dengan kelas 1. Suatu waktu, kedua ruang kelas itu diperbaiki. Semua murid dikerahkan untuk mengangkuti batu-batu kali, dari sungai nun jauh dibawah lembah. Kami senang-senang saja walaupun capek bolak balik mengangkuti batu. Senang karena tidak harus belajar di kelas, dan senang karena boleh basah-basahan main dikali. Biaasanya kan dilarang-larang dan diomeli kalau main-main di kali.

Acara “Samen” alias kenaikan kelas, adalah acara hora hore yang paling dinanti oleh semua siswa. Saatnya memamerkan kepandaian akademis, kepandaian menyanyi, menari, baca puisi, main drama, main sendra tari, dan memamerkan baju & sepatu baru, serta memamerkan seberapa banyak uang jajan yang berhasil dikumpulkan. Dia selalu berpartisipasi dalam segalanya, dan selalu naik podium untuk menerima hadiah sebagai rangking 1 di kelasnya.

Acara study tour juga. Biasanya ke Tangkuban Perahu, Maribaya, Pantai Pangandaran, Goa Batujajar, Kebun Binatang di Bandung, ke Borobudur & Prambanan, ke Waduk Darma & Cirebon. Kemanapun oke, asal jalan-jalan…!!

Hobby

Dia senang menggambar. Acara favoritnya di tipi adalah acara menggambar bersama Pak Tino Sidin. Sore-sore jika ada acara tersebut, tanpa disuruhpun dia akan sudah mandi dan duduk manis depan tipi dengan buku gambar, pensil, rautan, penghapus, krayon, pensil warna, spidol, penggaris dlsb. Jika sedang asyik menggambar, dia tidak akan ingat waktu, dia akan teruuuussss….menyelesaikan gambarnya sampai dia merasa puas dengan hasilnya. Setiap hari. seprei kasurnya biasanya akan kotor dengan sisa-sisa serutan pensil, krayon, hapusan dan serutan pensil warna. Peralatan menggambar, biasanya dia beli sendiri dengan uang jajan yang berhasil dikumpulkannya.

Hobby nya ada banyak sebetulnya, salah satunya mengumpulkan bekas cangkang korek api, kagum dengan gambar-gambarnya yang indah-indah. Ada ratusan cangkang korek api yang berhasil dikumpulkannya. Dari cangkang korek api dan cangkang odol alias pasta gigi, biasanya dia membuat semacam rumah-rumahan, kursi-kurian, lemari-lemarian, ranjang-ranjangan, dll.

Dia juga mengoleksi perangko, mengoleksi gambar-gambar, mainan-mainan BP, bahkan mengoleksi lembaran kertas surat harum warna-warni yang diam-diam dia curi dari koleksi kertas surat cinta milik kakak perempuannya.

Kumpulan harta karun mainannya ada banyaakkkk…., apapun bisa dibuat jadi mainan, bahkan pecahan beling-beling keramik antik yang dia pungut dan bersihkan dari selokan air pun bisa dijadikan furniture main-mainan yang cantik di dalam rumah-rumahan nya.

Ada tempat favorit anak-anak untuk membuat rumah-rumahan, yaitu di sela-sela simpang siurnya akar pohon rambutan besar milik tetangga. Kalau sore, biasanya tempat itu ramai dengan celoteh anak-anak dengan segala permainannya.

Main lompat tali , dia lah jagoannya. Main gatrik, main kelereng, main pecle, adu kelereng, main bekel, main congklak. Semuanya dia jago.

Ramadhan dan Lebaran

Di bulan Ramadhan, yang biasanya juga libur selama 1 bulan, dia paling senang kalau ikut kakak laki-lakinya main mercon atau main “lodong”.  “Lodong” adalah batang bambu besar yang ditempatkan sedemikian rupa seperti meriam, biasanya dipinggir sebuah tebing.  Bubuk mercon di masukkan kedalam lubang yang ada pada bagian atas lodong, kemudian di sulut hingga meledak dengan suara menggelegar seperti meriam.  Biasanya dari kampung seberang akan dibalas.  Dan bunyi dentuman yang lemah akan di soraki dengan teriakan-teriakan ejekan.  Tinggi rendahnya suara dentuman akan menandakan kalah atau menangnya suatu kubu.  Seru sekali, walaupun amat sangat berbahaya.

Setiap mendekati saat berbuka puasa, biasanya akan sibuk nongkrong di pinggir jalan dengan beberapa gelas, menunggu Tukang Cendol lewat.  Kalau lagi shalat tarawih di mesjid, selalu kena teguran Bu Haji yang galak karena berisik cekakan cekikikan.  Biasanya selalu sibuk mengunyah bekal tarawih berupa rupa-rupa makanan favorit , seperti cireng, ketemling, sambel cengek, dll yang seharian tadi berhasil dikumpulkan dari uang jajan yang berhasil dikutip dari kakek-nenek-ibu-bapak atau paman-bibi-uwak atau siapa saja yang berhasil dirayu.  Di akhir tarawih, akan sibuk meminta tanda tangan imam tarawihan sebagai tugas dari Ibu Guru Agama di sekolah.  Saat sahur, adalah saat yang menyebalkan karena harus makan sambil terkantuk-kantuk.  Tapi, akan tiba-tiba bersemangat sahur jika siangnya sudah janjian dengan teman-temannya untuk lari pagi atau jalan santai ke Ciakar seusai saur.

Jika lebaran tiba, senangnya bukan alang kepalang.  Malam takbiran selalu seru dengan kegiatan beduk keliling, bermain petasan, dan acara gladi resik untuk Pesta Halal Bil-Halal.  Biasanya anak-anak kampung saling membangga-banggakan berapa banyak baju dan sepatu/sandal lebaran yang dimiliki.  Berapa harganya dan warnanya apa saja.  Lucunya, seringkali model dan warnanya seragam, karena para Ibu belanjanya di tempat yang sama dan biasanya untuk menghindari “sirik-sirikan” diantara anak-anaknya, maka dibelikan baju yang sama.  Dan celakanya, ketahuannya pada saat hari H , pada saat shalat Ied di mesjid atau di alun-alun.  Si anak yang bajunya sama dengan anak lain lalu akan malu, menangis dan ngambek, tidak mau lagi memakai baju tersebut.  Kalau yang bandel seperti Si Anak Perempuan Ber-shio Macan ini, akan memalak uang jajan yang jauh lebih banyak dari jatahnya kepada bapak-ibunya dan kakek-neneknya.

Memang, lebaran juga artinya mendapat uang saku yang amat sangat banyak jika dibandingkan dengan hari-hari biasa.  Tempat wisata favorit saat lebaran di kampung dia adalah Petilasan Astana Gede, suatu tempat makam keramat peninggalan Kerajaan Galuh Pajajaran.  Banyak pejiarah berduyun-duyun ke sana atau hanya sekedar jalan-jalan bagi kaum mudanya.  Jadi sepanjang jalan, kiri-kanan nya dipenuhi berbagai warung makanan, mainan, dan baju-baju, sandal, sepatu dan lain sebagainya.  Pokoknya sepanjang jalan menuju Astana Gede adalah surga jajanan bagi anak-anak kampung.

Musim buah-buahan dan cengkih

Sangat senang sekali saat musim duku dan rambutan tiba, karena kakeknya memiliki kebun luas berisikan pohon duku dan ada pohon rambutan besar di halaman belakang rumahnya.  Pagi-pagi buta dengan membawa lampu minyak, dia beserta kakak laki-lakinya biasanya sibuk memungut buah duku matang yang jatuh berserakan, bersaing dengan anak-anak lain yang bukan cucu kakeknya.  Jadi mereka harus lebih subuh berangkat “mulung dukuh”nya supaya tidak didahului oleh yang lainnya.  Hasil yang terkumpul akan dijual ke warung.  Jika musim panen tiba, dia tidak mau kalah ikut-ikutan naik pohon duku.  Dan senang sekali ikut kakeknya ke pasar untuk menjual duku yang berkarung-karung banyaknya, dan tentu saja seang karena artinya akan mendapat uang persenan.

Begitu juga pada musim rambutan,  pohon rambutan besar yang ada di belakang rumah kakeknya tidak pernah absen berbuah.  Daging buahnya tebal, manis dan mudah dikupas dari bijinya, “ngolotok” kalau dalam bahas Sunda nya.  Hasilnya juga biasanya banyak berkarung-karung.  Tapi suatu ketika, waktu sedang panen rambutan, kakeknya jatuh dari dahan yang tinggi, hingga sakit berminggu-minggu.  jadi untuk buang sial, pohon rambutan kesayangan itupun ditebang.

Lain lagi kalau sedang musim cengkih.  Waktu itu harga cengkih masih tinggi sehingga siapapun yang punya kebun cengkih akan menjadi kaya raya pada saat musim cengkih.  Di kampungnya, orang yang memiliki kebun cengkih cukup luas adalah Mang Enjo, masih saudara sebenarnya.  Pada musim cengkih, kebunnya selalu menjadi incaran bocah-bocah dan warga kampung lainnya yang juga ingin mencicipi memiliki uang lebih dari cengkih.  Malam-malam atau pagi buta , biasanya para pemulung cengkih akan sudah berkeliaran di kebun-kebun cengkih tetangga sambil lampu minyak ataupun senter , bahkan ada juga yang “mopoek” (tidak membawa alat penerangan karena takut ketahuan.  Mereka juga membawa kaleng bekas susu untuk mewadahi hasil pungutannya.  Lumayan untuk menambah uang jajan.  Tapi yang punya kebun cengkih biasanya menjaga kebunnya lebih ketat, karena ada beberapa pemulung yang “nakal” suka mengoyang-goyang pohon cengkih hingga banyak bunga cengkih yang berjatuhan dan merugikan pemilik kebun.

Pramuka dan Naik Gunung

Walaupun sosok dia ini termungil diantara sesama temannya,  anehnya dia selalu ditunjuk jadi ketua regu di kegiatan Pramuka.  Jabatan yang paling dibencinya, karena itu berarti dia tidak bisa bertindak sesuka hati dan bertanggung jawab untuk membawa regunya menjadi juara.  Yang paling disukai dari sekian banyak kegiatan dalam Pramuka, adalah kegiatan PENJELAJAHAN ALAM.  Mengenali setiap tanaman obat yang dijumpai selama penjelajahan, mencari jejak, mencari petunjuk-petunjuk rahasia dan berusaha menjawabnya, menggambar pemandangan alam yang ada didepan matanya saat itu, ataupun suasana misitis pada saat penjelajahan malam.

Di acara Hari Pramuka, selain Persami, biasanya ada pawai obor malam-malam keliling kota kecamatan. Semua murid dari SD, SMP, SMA, biasanya akan tumpah ruah di alun-alun kecamatan. Batang obor, biasanya terbuat dari bambu, diisi minyak tanah, dan diberi sumbu kain. Kakeknya biasanya yang membuatkannya.

Sejak kelas 5 SD, dia seringkali ikut anak-anak yang lebih besar untuk naik Gunung Syawal, gunung satu-satunya yang ada di kampung nya.  Walaupun jijik dan ngeri dengan binatang pacet yang banyak menempel di kakinya.  Beberapa jalur pernah dicobanya.  Pernah suatu ketika berpapasan dengan babi hutan yang sangat besar yang sedang menjarah kebun jagung penduduk kampung di kaki gunung.  Pernah juga naik menyusuri aliran air sungai ke hulu, hingga ke suatu air terjun yang airnya sangat jernih, dan banyak udang transparan yang ngumpet dibalik-bailk batu.  Udang-udang transparan itu jadi lauk favorit, setelah dibakar atau digoreng dan kemudian dimakan dengan nasi liwet panas dan sambal cobek.  Huwaaahhhh….nikmatnya.

Akibat terlalu doyan makan udang, pernah suatu ketika keracunan, bibir bengkak jontor dan gatal-gatal di sekujur tubuh setelah memakan cukup banyak udang yang berhasil ditangkap di acara “ngabedahkeun balong” alias menguras dan membersihkan kolam ikan dari lumpur-lumpur yang sudah menumpuk banyak.  Ngabedahkeun adalah salah satu acara favorit bagi anak-anak kampung, karena artinya boleh bermain lumpur sepuasnya dan akan ada pesta ikan bakar dan pesta udang setelahnya.

Di “Kuris”

Di “kuris” artinya diberi suntikan imunisasi.  Ini adalah kegiatan yang paling ditakuti oleh dia dan anak-anak kampung lainnya.  Ngeri dengan jarum suntik Pak Mantri Kesehatan yang besar-besar.  Suatu ketika, dia kabur dari kegiatan ini, lari pontang-panting sekuat tenaga dan bersembunyi karena takut di “kuris”, walaupun Pak Mantri dan Bu Bidan telah berusaha membujuknya dengan segala macam cara.  Ibu, nenek, kakak-kakanya dan saudara-sudara ibunya celingukan mencari dia tanpa hasil.  Malam itu dia tidak pulang ke rumah ibunya, menginap di salah satu temannya yang berbeda kampung.

Sepertinya dia tidak selalu berhasil melarikan diri dari mantri kuris, buktinya di kedua pangkal lengannya ada bekas kuris bulat besar bergerigi. Jelek sekali kelihatannya.

Galunggung Meletus

Gunung Galunggung berada di kabupaten tetangga, berjarak kira-kira 2 jam bermobil.  Suatu ketika, di bulan Ramadhan kalau tidak salah, tiba-tiba di kampungnya terjadi hujan abu berwarna putih keabuan.  Seluruh atap rumah, pekarangan, jalan, pohon-pohon, semuanya tertutup abu.  Bahkan sempat kampungnya menjadi gelap seperti saat maghrib, padahal masih jam 3 sore.  Anak-anak diliburkan dari sekolah mengajinya, saat itu sekolah biasa memang sedang libur.

Neneknya sibuk mengumpulkan ayam-ayam kampung peliharaannya yang sedang berkeliaran entah kemana.  Ia menutupi tubuhnya dengan lembaran plastik agar terhindar dari abu yang turun semakin tebal.  Si Anak Perempuan Ber-shio Macan membantunya, katanya sih begitu, padahal dia hanya ingin berkeliaran di luar setelah sekian lama dikurung di dalam rumah akibat hujan abu.  Begitu tebalnya abu yang menutupi tanah hingga kakinya tenggelam sampai ke lutut.  Susah payah  mereka mencari ayam-ayam itu dimana-mana hingga ke kolong-kolong rumah tetangga, sambil terbatuk-batuk dan berurai air mata karena perihnya mata yang termasuki abu.  Hidung, alis, bibir, pipi mereka putih seperti ditaburi tepung.

Berhari-hari hujan abu terus mengguyur kampung mereka.  Sulit air dan makanan karena pasar-pasar kotor berselimut abu.

Listrik Desa dan TVRI

TVRI adalah satu-satunya tontonan yang ada di televisi saat itu.  Televisinya masih hitam putih yang ada rumahnya dan ada pintunya yang bisa di kunci.  Masih jarang warga kampung yang memiliki televisi.  Sumber listrik untuk menghidupkan si tipi ini biasanya memakai accu yang besar dan airnya seringkali membuat celaka orang.  Tapi belakangan, ada orang kaya dikampungnya yang membeli mesin diesel besar bersuara sangat berisik, yang mampu memasok listrik ke tiap rumah, tentu saja harus membayar dan dibatasi jumlah daya dan waktunya, hanya dari jam 6 sore hingga jam 12 malam.

Malam minggu adalah malam yang benar-benar ditunggu-tunggu, karena ada acara nyanyi-nyanyi dan pada tengah malamnya TVRI memutar film-film Indonesia teRkini.  Biasanya anak-anak Bibinya yang tidak punya tipi, akan sengaja datang menginap dirumah.  Bantal-bantal dan selimut digeret dari kamar-kamar dan diletakkan diatas tikar yang digelar di depan tipi.  Adakalanya, di tengah seru-serunya acara film, tiba-tiba listriknya mati karena dieselnya kehabisan solar.  Maka dari berbagai penjuru kampung yang gelap gulita akan terdengar teriakan-teriakan protes warga yang marah kepada si penjaga diesel agar menghidupkan kembali dieselnya.

Helikopter

Dulu, di alun-alun depan Kantor kecamatan / Kantor Desa , helikopter milik ABRI sering mendarat, entah untuk keperluan apa.  Tapi, saat-saat ada helikopter meraung-raung dan berputar-putar di langit kampung, adalah saat-saat yang seru dan heboh.  Seluruh penduduk kampung biasanya akan keluar rumah untuk menontonnya.  Anak-anak yang sedang asyik bermain akan menghentikan permainannya dan akan berteriak-teriak sambil mendongak ke atas “KAPAAALLLL……MENTA DUIIIIITTTTT !!!!” Begitu teriakan mereka berulang-ulang.  Kami menyebut pesawat sebagai kapal terbang. Lalu mereka akan lari terbirit-birit ke arah alun-alun kecamatan untuk meonton sang helikopter dan penumpangnya, yang biasanya pejabat ABRI.

Pernah suatu hari sewaktu dia sedang bermain di sawah, tiba-tiba terdengar bunyi baling-baling helikopter menderu-deru.  Dia dan teman-temannya yang saat itu belepotan lumpur sawah, segera lari terbirit-birit di sepanjang pematang sawah menuju alun-alun.  Kakinya yang penuh lumpur dan licin berulang kali terpeleset dari pematang sawah yang sempit.  Ditambah lagi dengan matanya yang tidak selalu melihat apa yang akan diinjaknya karena berulang kali menegadah melihat sang helikopter yang berputar-putar.

Kadang-kadang, Bapak-bapak ABRI yang turun dari helikopter itu memberi kesempatan kepada 1 atau 2 orang anak untuk naik ke dalam helikopter dan diajak berputar-putar diudara.  Kesempatan seperti itulah yang diimpikan setiap anak tiap kali ada helikopter, walaupun terbangnya cuma sebentar saja.

Mengejar Maling

Di kampungnya, disaat-saat tertentu, misalnya disaat awal tahun pelajaran dan menjelang lebaran, seringkali ada warga yang kemalingan.  Beberapa kali maling yang beraksi di siang bolong berhasil di tangkap dan digiring warga ke kantor polisi.  Mengejar maling  adalah kegiatan seru lainnya yang selalu dia ikuti.  Biasanya cuma dia anak perempuan yang ikut-ikutan mengejar maling.  Pernah suatu kali, setelah malingnya berlari-lari kesana kemari menghindari kejaran warga kampung, ternyata si maling ngumpet diantara rumpun padi di sawah seberang kali.  Maling itu berhasil ditangkap karena warga dengan rapat mengepungnya.  Dia ikut bersorak sorai bersama warga lainnya dan menggiring si maling yang babak belur dihajar warga dan kotor belepotan lumpur sawah ke kantor polisi.  Ternganga-nganga takjub karena berhasil menyelinap dan melihat penjara berjeruji besi yang katanya ada di kantor polisi ini dan tidak sembarangan orang boleh atau pernah melihatnya secara langsung.  Seru sekali hari itu…!!!

Nujuh Harinya Kucing

Suatu pagi di saat liburan sekolah, seekor kucing entah milik siapa, ditemukan mati tertabrak ojek, bangkainya tergolek menyedihkan ditengah jalan depan rumah neneknya.  Dia dan teman-temannya segera merubung bangkai si kucing.  Karena kasihan, mereka menguburkan bangkai kucing itu di kebun, memberinya batu nisan dari batuan jalanan, menaburkan bunga diatas gundukan tanahnya, dan menanami tumbuhan bunga di sekitar makam si kucing, persis seperti makam-makam manusia yang ada di tanah pekuburan di kampungnya.  Tiba-tiba saja, terbersit ide dikepala si anak perempuan ber-shio macan ini untuk memperingati 7 hari bahkan 40 hari matinya si kucing, seperti layaknya warga kampung memperingati warganya yang meninggal dunia.  Ide itu langsung disambut temen-temannya dengan antusias, maklum liburan masih sangat panjang, sedangkan para anak kampung ini tidak pergi kemanapun untuk menikmati masa liburan seperti orang-orang kaya di kota, jadi kegiatan aneh dan konyol ini membuat liburan mereka lain dari biasanya.

Jadi setiap anak harus menyerahkan uang pelayat, uang yang terkumpul tersebut untuk membeli bahan makanan yang diperlukan, seperti buncis, kentang, bihun, kol, wortel, minyak goreng, dll, persis seperti yang biasa mereka lihat di makanan besekan yang biasa didapat orang tuanya sehabis acara tahlilan.  Pada hari ke-7 setelah kematian si kucing, berbondong-bondonglah 5 orang anak kecil pergi ke pasar untuk berbelanja bahan-bahan tersebut.  Masing-masing bahan hanya beberapa ons saja belinya karena uang mereka sangat terbatas, membuat geli para pedagang di pasar yang rata-rata adalah para tetangga.  Bahan-bahan yang belum terbeli, mereka ambil dari persediaan dapur ibu mereka.

Lalu di saung yang mereka dirikan, dan di atas tungku dari tumpukan batu bata, merekapun sibuk memasak, sejumput tumis buncis, sambal goreng kentang, tumis bihun, menanak nasi, dll.  Membuat ibu-ibu mereka marah, karena wajan-panci-sodet-penggorengan-pisau dll tidak ada didapurnya pada saat akan mereka gunakan.  Dan pada saat ditemukan lagi, ternyata sudah kotor coreng moreng gara-gara anak-anak bandel itu.  Tapi diam-diam mereka tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak-anaknya itu.

Makanan-makanan yang berhasil dimasak itu, walaupun rasa dan bentuknya tidak karuan, kemudian dibungkus dengan daun waru atau daun pisang dan dihantarkan ke masing-masing anak yang tempo hari menyumbangkan uang layatan, dan makanan itu harus dimakan, bagaimanapun rasa dan bentuknya……!!!!

Epilog

Begitulah sejumput kisah keseharian si anak perempuan ber-shio macan ini.  Selalu penuh dengan hal-hal seru, ide-ide aneh, kekonyolan, dan petualangan.  Tidak kalah seru dengan novel-novel / cerita bersambung petualangan yang biasa dia baca, seperti Lima Sekawan, Pasukan Mau Tau, The Hardy Boys, Deny Manusia Ikan, Mark Twain & Huckkleberry Finn, bahkan Winnetou & Old Shatterdhand sekalipun.

Comments
  1. Jauharry says:

    Fiuuuuh, melelahkan bacanya😀

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s