#AmazingRaceAnambas bersama Garuda Indonesia

Posted: August 8, 2015 in Riau Kepulauan
Tags: , , , , ,

#AmazingRaceAnambas bersama Garuda Indonesia

Lagi, ajang Garuda Indonesia Travel Fair (GATF) tanggal 3 – 5 April 2015, menjadi penunjang bagiku untuk bisa mewujudkan impian mengunjungi salah satu tempat cantik di pelosok Nusantara. Kepulauan Anambas di Prov. Riau Kepulauan adalah si tempat cantik itu.

Konon kabarnya.., waktu terbaik untuk mengunjungi Kepulauan Anambas adalah sekitar bulan April-November karena lautnya sedang teduh. Nahhh….kebetulan di bulan Mei 2015 ini ada long weekend alias “ hari kejepit nasional” tanggal 14, 15, 16, 17 Mei 2015, dan ada open trip ke sana di tanggal-tanggal tersebut. Jadiiii….. mari menabung dan mengajukan cuti.., lalu berangkaaatttt….!!!

Day 0

Day of chaos , first round

Rute umum untuk mencapai Kepulauan Anambas adalah melalui Kota Tanjung Pinang. Jadi…pertama-tama aku dari Jakarta bisa memilih penerbangan langsung dengan Garuda ke Tanjung Pinang, atau terbang dengan Garuda ke Batam dulu, baru kemudian dari Batam naik ferry ke Tanjung Pinang. Dari Tanjung Pinang ke Kota Tarempah (ibukota Kabupaten Kepulauan Anambas-Natuna) bisa menggunakan pesawat atau kapal cepat atau kapal lambat. Atau…, bisa juga terbang dulu dari Jakarta or Batam ke Natuna, dari Natuna ke Kota Tarempah (ibukota Kabupaten Kepulauan Anambas-Natuna) naik kapal cepat atau kapal Lambat.

Eiitt…, tapii… ternyata tidak semudah itu menentukan kapan berangkat dan kapan pulang, harus menyesuaikan dengan jadwalnya si pesawat atau si kapal cepat ataupun si kapal lambat TanjungPinang – Tarempah (Kota Tarempah , ibukota Kabupaten Kepulauan Anambas-Natuna). Kalau tidak pas waktunya, bisa-bisa terdampar di Anambas dan tidak bisa pulang.

Selidik punya selidik, hasil guglang-googling, dan telpon sana sini…, jadwal-jadwal untuk kapal cepat dan kapal lambat selalu berubah-ubah, tidak ada yang bisa memastikan. Jadwal pesawat Tanjung Pinang ke Palmatak lumayan bisa dipegang , ada setiap hari, berangkat dari Tanjung Pinang jam 13an , sedangkan dari Palmatak jam 14:30an, ongkosnya flat 1,25jt sekali jalan , tidak fluktuatif seperti tiket pesawat umum, tapi…tidak bisa dipesan secara on-line jadi harus bayar cash via agen tiket setempat.

Berhubung waktu cutiku yang didapat sangat mepet 14, 15, 16, 17 dan 18 Mei 2015 saja, maka aku hanya bisa mengandalkan si pesawat. Rencanaku begini, tanggal 14 Mei 2015 mengambil flight pertama ke Tanjung Pinang agar bisa mengejar jadwal pesawat yang ke Tarempah jam 13an, itu artinya tidak bisa mengambil flight Garuda karena flight nya terlalu siang. Sedangkan untuk pulangnya, diputuskan mengambil last flight Garuda dari Batam, karena kalau dari Tanjung Pinang jadwalnya tidak ada yang malam.

Di ajang Garuda Indonesia Travel Fair (GATF) tanggal 3 – 5 April 2015 lumayan dapat tiket promo Garuda rute Batam-Jakarta untuk tanggal 18-Mei-2015. Tiket Nusantara Air Tanjung Pinang – Matak pp juga sudah dibeli melalui agen tiket setempat. Tiket Jakarta – Tanjung Pinang juga sudah dibeli. Biaya trip 14-18 Mei 2015 juga sudah ditransfer, cuti sudah disetujui, mari berangkaaattt…!!!

Tapiii…..

Sehari sebelum keberangkatan, disaat sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan pekerjaan karena mau cuti, tiba-tiba sore-sore dapat kabar mengejutkan via sms dari agen tiket di Kota Tarempah, katanya pesawat Nusantara air rute Tanjung Pinang – Matak untuk penerbangan Kamis (14 Mei 2015) dan Jumat (15 Mei 2015) DIBATALKAN…!!! Semua penumpang dipindahkan ke penerbangan hari Sabtu (16-Mei-2015) atau tiket bisa juga dibatalkan.

Aduh….bagaimana ini…??? Kami semua panik…Whatsapp grup semalaman penuh dengan notifikasi galau dari teman-teman seperjalanan.

Kami berusaha untuk mencari transportasi alternatif menuju Anambas. Harapan terbesar ada pada kapal ferry yang akan berangkat lusa (jumat pagi) dari Tanjung Pinang, tapi katanya sudah penuh penumpangnya. Semalaman kami bergerilya mencari tiket si kapal ferry.

Dengan nanar aku menatap tas backpack dry bag, snorkling set, sendal, kamera, dan segala barang bawaan yang memang sudah dipersiapkan untuk dibawa dalam perjalanan ke Anambas ini.

Jadinya…mau kemana kita…???

Day 1

Terkatung-katung di Tanjung Pinang

Sampai tiba saatnya untuk berangkat ke Tanjung Pinang, pertanyaan tersebut tetap belum jelas jawabannya. Bahkan sampai akhirnya kami mendarat di Bandara Tanjung Pinang pun, masih belum jelas apakah kami bisa berangkat ke Anambas atau tidak…

Kami luntang lantung di Bandara Tanjung Pinang yang sepi, sambil terus mencoba meminta tolong dicarikan tiket ferry kepada agen-agen tiket, dan sambil browsing-browsing kira-kira tempat menarik apa yang bisa dikunjungi di seputar Pulau Bintan dan Pulau Batam, jika seandainya kami tidak berhasil mendapatkan tiket ferry, dan cari-cari rental mobil untuk dipakai ngider-ngider seputar Pulau Bintan ini.

Setelah heboh telpon sana-sini, menjelang tengah hari, kami mendapat kabar baik, agen tiket yang kami mintain tolong, berhasil mendapatkan 8 tiket ferry Tanjung Pinang – Tarempa, berangkat besok jam 7 pagi, horeeeee……..!!!

Tapi harus segera dibayar tunai….!!! Siaaaappp…..!!!

Begitu mobil sewaan datang, kami segera meluncur keluar bandara menuju pusat kota Tanjung Piang, tujuan utama : untuk mencari mesin ATM…!!! Banyak insiden setelah kabar buruk pembatalan pesawat kemarin sore : kartu ATM hilanglah ketinggalan di mesinnya akibat panik dan buru-buru, kartu ATM yang di telan mesin ATM lah , internet banking yang tidak berfungsi, heboh salah hitung uang untuk bayar tiket ferry lah. Haduhh…pusing dehh…

Hati berasa plong ketika akhirnya tiket ferry Tanjung Pinang – Tarempa sudah ditangan…. J

Setelah check in di Hotel Furia yang lokasinya dekat dermaga SriBintan, kami menuju Pantai Trikora. Lumayan jauh juga dari kota ternyata…. Bingung tak tahu arah, akhirnya kami memasuki salah satu spot tepi pantai, yang ternyata adalah restoran seafood. Tempat makannya berupa saung-saung bertiang tinggi, terbuat dari kayu & bambu beratap rumbia/daun bambu, dibangun tepat di bibir pantai. Saat laut surut, posisinya sepertinya sangat tinggi, tapi saat laut pasang tiang-tiangnya akan terendam.

Dengan takjub kami melirik pada berpiring-piring tumpukan-tumpukan cangkang kerang di saung-saung makan, padahal yang makannya hanya 2 atau 3 orang. Kami fikir, “Wahhh…gembul-gembul amat ini orang-orang…, habis sebegitu banyak kerang… Apa ngga enek yaaa…..???”

Kami sebetulnya belum terlalu lapar, karena sebelumnya sudah mencicipi sup ikan yang rasanya sangat juara di Kota Tanjung Pinang tadi. Tapi ketika ada salah satu saung makan yang kosong dan ingin leha-leha duduk-duduk ditepi pantai, tapi artinya kami harus memesan makanan & minuman.   Iseng dan pensaran juga dengan kerang, kami pun memesan masing-masing 1 porsi tumis kerang bulu, siput putih gonggong disebutnya, kerang remis yang kecil-kecil, dan kerang kijing yang pipih & lonjong-lonjong.

Semuanya siap saji ternyata, tidak perlu menunggu lama-lama, pesanan kami pun tiba. Sepiring tumis kerang bulu (memang ada bulu-bulu nya dicangkang kerangnya, seperti lumut) dalam kuah yang berwarna hitam. Sepiring kerang siput bercangkang putih, yang ini tanpa kuah. Sepiring kerang remis yang ukurannya kecil-kecil, dan sepiring kerang kijing berkuah. Hmmmm……enak ngga yaaa…??? Masih teringat dengan angka tingkat kolesterol dalam darah waktu medical check up yang lalu , saya awalnya tidak berani mencicip banyak-banyak… Tapiii….setelah mencicip si kerang bulu yang rupa & bentuknya sangat tidak menarik , setidakmenarik seperti kuahnya yang berwarna kehitaman, hmmmm….saya kalap. Rasanya enaaaaaaaaakkkk….. gurih kenyal mantap… Kerang gonggong juga enak, apalagi setelah dicocol sambal kacang yang berasa asam manis pedas segar itu….

Begitu juga teman-teman yang lainnya, semua kalap melahap semua hidangan. Berkali-kali memesan lagi dan lagi kerang bulu dan gonggong, hingga kekenyangan dan sudah tidak ingat lagi berapa porsi yang tadi sudah dimakan. Ketika datang tagihan , kami girang dengan harga yang harus kami bayar, ternyata tidak semahal yang kami bayangkan…., tapiiii…. apa betul kami makan hanya sejumlah itu porsinya…, sepertinya kami memesan lagi dan lagi dengan membabibuta tadi saking enaknya…

Setelah puas kekenyangan, kami melanjutkan perjalanan lagi mencari Pantai Trikora… Ternyata ketika bertanya-tanya.., sejak tadi juga sudah memasuki area Pantai Trikora yang membentang beberapa kilometer, sehingga ada yang disebut sebagai Pantai Trikora I, Pantai Trikora II, Pantai Trikora III, dan Pantai Trikora IV…

Hari sudah semakin sore, kami memutuskan untuk kembali ke hotel, dan berkumpul dengan teman-teman yang baru datang dari Batam. Dari ibu-ibu penjual bensin eceran , kami mendapat info rute yang katanya lebih dekat, tidak harus memutar melewati jalan yang tadi, akhirnya kami ikuti arahan tersebut. Ternyata rutenya lebih jauh, membelah Pulau Bintan, melalui bentangan areal perkebunan sawit yang sangat luas. Jalanannya lebar, lengang, beraspal mulus, sedikit bergelombang naik turun dan sedikit berkelok.

Malamnya kami membaur bersama orang-orang Tanjung Pinang desebuah taman yang sangat ramai dengan berbagai macam jajanan makanan.

Day-2

Ferry Tanjung Pinang – Tarempa

Jam 6 pagi kami sudah buru-buru check out dari hotel, dan buru-buru jalan kaki dengan segala barang bawaan menuju ke dermaga Sri Bintan. Dermaga sudah penuh dengan para penumpang ferry. Tiket diperiksa para petugas. Tak lupa kami membeli nasi bungkus untuk sarapan dan makan siang di kapal.

Ternyata penumpang kapal ferry ini penuh sekali, mungkin akibat penerbangan-penerbangan yang dibatalkan beberapa hari ini. Saya dan 2 kawan kebagian duduk di kursi paling depan, menghadap ke penumpang-penumpang lainnya. Kawan lainnya mendapat tempat duduk yang terpencar-pencar. Yang penting dapat kursi dehh…!!!

Jam 7 pagi kapal ferry berangkat meninggalkan dermaga Sri Bintan (Tanjung Pinang). Hari itu ombak di Laut Cina Selatan sedang teduh, kami yang didalam ferry tidak terlalu gonjang ganjing. Tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan di dalam ferry, hanya duduk sambil ngobrol, duduk sambil tidur, duduk sambil nontonin orang-orang yang sedang nonton TV.

Jam 3 sore kapal mampir berlabuh di Jemaja (Pulau Letung), menurunkan barang & penumpang, menaikan penumpang baru & barang. Dari jauh sudah kelihatan ramai orang di dermaga, campur baur antara petugas, calon penumpang, kuli angkut barang, pengantar, penjemput dan para pedagang asongan yang kebanyakan ibu-ibu. Begitu kapal merapat, para ibu-ibu pedagang asongan dan bapak-bapak kuli angkut dengan gesitnya berebut naik ke atas ferry. Dagangannya seragam, yaitu nasi bungkus, kerupuk, keripik pisang, kue-kue, kacang goreng, kerupuk ikan, limun, kopi. Di dermaga juga banyak yang menggelar lapak dagangannya. Begitu aktifitas bongkar muat selesai, dermaga pun sepi kembali, sampai ada kapal berikutnya yang singgah, kira-kira 2 hari lagi.

Jam 5 sore, kapal berlabuh di Tarempah (Ibukota Kabupaten Kepulauan Anambas-Natuna). Alhamdulillah…..

Semua penumpang dan barang tumpah ruah di dermaga. Kami disambut 3 kawan yang sudah terlebih dahulu sampai, beserta 2 kapten speed boat yang akan kami sewa untuk keliling pulau-pulau. Kami tidak sempat melihat-lihat kota, karena langsung berpindah ke dermaga untuk boat-boat kecil. Setelah ini, kami akan melanjutkan perjalanan ke Pulau Durai, kira-kira 2 jam lamanya.

Pulau Durai ini tidak berpenghuni, dan terkenalnya sebagai pusat konservasi penyu karena merupakan pulau yang dijadikan sebagai tempat bertelur oleh penyu-penyu. Penyu yang lagi bertelur, pemeliharaan telur hingga tukik dan pelepasan anak penyu alias tukik ke laut menjadi atraksi wisata andalan.

Di pulau ini terdapat beberapa bangunan pusat konservasi penyu, dan tempat tinggal penjaga pulau, ada juga gajebo-gajebo, dan kamar mandi umum untuk pengunjung. Kami mendirikan tenda disini. Menjelang malam sempat melihat 3 ekor penyu yang sedang bertelur. Selain kami, ada juga rombongan pengunjung lain (warga Anambas dari SMK) yang sedang study tour di pulau ini.

Day-3

Orang Laut dari Pulau Mengkait

Pagi-pagi setelah acara masak memasak dan beberes tenda serta segala rupa barang bawaan, kami dibawa keliling pulau Durai dengan boat, lalu sebagian snorkling dan sebagian lagi ikut paket diving.

Ekosistem bawah air disekitar pulau Durai ini tidak begitu banyak dihuni soft coral, ikan-ikan pun sedikit, kurang meriah… Yang diving juga sama bilangnya begitu… Visibility lumayan clear , jarak pandang cukup jauh. Arus laut tidak terlalu terasa, suhu air juga biasa. Menurut saya sihh underwater nya seperti di Pulau Rubiah (Aceh).

Yang seru malah acara manjat-manjat pohon kelapa oleh teman-teman cowok, anak kota coba panjat pohon kelapa.., yang ada baret-baret di dada, perut, paha, kaki, tangan. Seru sekali tapinya…. Acara masak-masakan darurat di bawah pohon dengan alat masak seadanya juga seru. Gara-gara kisruh akibat pembatalan pesawat dan lain sebagainya, Pak Hero (motorist) lupa membawa beberapa peralatan masak , jadinya masak nasi pakai teko, rebus kangkung juga pakai teko, wadahi nasi pakai jerigen bekas minyak goreng Bimoli yang sudah dipotong atasnya, jadi kami menyebutnya nasi bimoli.

Selepas makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju Pulau Mengkait untuk membeli panci.

Pulau Mengkait ini lumayan padat penduduknya, rumah-rumah penduduk nya berupa rumah-rumah panggung terbuat dari kayu. Perahu-perahu tinting berserakan terparkir di perairan dekat dermaga, laut nya biru bening kadang-kadang berhiaskan sampah plastik, siang hari ini laut sedang surut rupanya. Dermaganya sudah terbuat dari beton, ada tembok rendah penahan ombak juga di tepian pantainya. Di dermaga segerombolan ibu-ibu berserta anak-anaknya sedang asik ngobrol. Di dermaga juga ada semacam tempat penyulingan air laut menjadi air tawar bersih. Air bersihnya ditampung dalam tangki-tangki oranye ditepian gang dekat dermaga.  Airnya dijual per jerigen, harganya untuk jerigen besar Rp3000, jerigen sedang Rp2500, jerigen kecil Rp2000.

Gang desa sudah terbuat dari beton. Rumah-rumah panggung bertiang tinggi berderet-deret disepanjang gang. Tiang-tiang rumahnya dari kayu bulat. Dinding rumah dari papan kayu kurnbar, kajang atau daun kelapa yang dianyam secara rapi. Lantai rumahnya terdiri dari papan kayu nibung atau bambu, sedangkan atap dibuat dari daun kelapa dan kajang.

Segerombolan bapak-bapak sedang ngobrol-ngobrol sambil ngopi siang-siang di sebuah warung. Ada beberapa warung minuman jajanan di dekat-dekat dermaga. Dan ada satu toko lumayan besar dan menjual segala rupa kebutuhan dari sayuran sampai sapu, panci, buku, kosmetik, sabun, baju, sepatu, dll. Sepertinya ini Toserba terbesar se Pulau Mengkait. Di Pulau Mengkait juga kami membeli cumi-cumi segar untuk dimasak nanti malam.

Pulau Mengkait ini dihuni oleh orang-orang dari Suku Orang Laut, demikian kata si bapak pengrajin perahu tinting yang saya ajak ngobrol selagi beliau sedang asik menyelesaikan pekerjaannya di bawah terik matahari. Sebuah perahu cadik alias ketinting sepanjang 25 meter sedang dikerjakannya, hmmm…mungkin baru 30-40% terselesaikan.

Suku orang laut , katanya adalah sebutan bagi sekelompok orang yang mengembara di laut, biasanya terdiri dari 10-15 perahu yang masing-masing berisi 6-7 orang. Perahu orang laut ini dikenal sebagai perahu gubang .

Pulau Mengkait ini bertetangga dengan Pulau Tamiang yang memiliki teluk yang sangat tenang karena terlindungi dari ombak. Dulu katanya namanya adalah Pulau Lanun dan Teluk Lanun, karena jaman dahulu kala tempat tersebut dikenal sebagai tempat berlindungnya para lanun alias bajak laut Cina Selatan yang terkenal sangat ganas itu.

Sebetulnya Pulau Tamiang lebih besar dan lebih “pantas” dihuni dibandingkan dengan Pulau Mengkait. Di Pulau Tamiang ada sumber air tawar bersih, di Pulau Mengkait tidak ada. Di Pulau Tamiang masih padat hutannya, dan tanahnya subur sehingga cocok untuk bercocok tanam, sedangkan di P Mengkait gersang dan tandus. Tapi orang laut entah kenapa lebih sreg untuk tinggal di Pulau Mengkait sejak dahulu kala.

Cerita dari Bapak Pengrajin Perahu masih akan terus bergulir jika sekiranya saya masih ada punya waktu di sini, tapi hari semakin sore, jadi kami harus segera melanjutkan perjalanan menuju ke Pulau Bawah, masih sekitar 2-3 jam lagi tergantung ombak.

Menjelang matahari terbenam, akhirnya kami sampai di wilayah Pulau Bawah. Pulau Bawah ini ukurannya lumayan besar juga, membentuk bukit berhutan rimbun,tapi tidak berpenduduk,yang ada hanya area Resort Pulau Bawah yang masih sedang dibangun (katanya pembangunannya sudah sekitar 2 tahun). Disekitar Pulau Bawah terdapat pulau-pulau kecil tak berpenghuni.

Sebelum merapat ke salah satu pulau kecil yang ada dihadapan Pulau Bawah untuk mendirikan tenda, kami memutuskan untuk snorkling dulu. Lautnya sedang surut, jadi menyulitkan bagi boat kami untuk berkeliaran mencari spot snorkling yang kira-kira bagus.

Seperti sebelumnya, di spot ini pun dipenuhi dengan batu-batu karang dan hard coral hidup, sedangkan soft coralnya jarang-jarang. Ikan-ikan ada tapi tidak begitu beragam, dan ukurannya kecil-kecil. Tapi saya sempat bertemu dengan 2 ekor ikan pari yang sedang berpacaran sepertinya, didasar laut dibawah sebongkah batu karang bulat. Uhhh…takut sekali saya melihat buntut beracunnya yang panjang mencuat seperti pedang.

Sepertinya kedua ikan pari itu juga merasa terganggu dengan keberadaan saya, sehingga tidak lama mereka melesat melarikan diri entah kemana. Buru-buru saya naik lagi ke atas boat, takut kalau-kalau bersirobok lagi dengan si ikan pari. Lagian matahari juga sudah semakin tenggelam, laut semakin gelap, sudah semakin susah untuk foto-foto ikan & coral tanpa penerangan memadai.

Kami mendarat di salah satu pulau berbukit. Pantainya berpasir putih dan cukup lebar. Sudah ada beberapa tenda yang didirikan oleh pengunjung lain, sepertinya mereka adalah pelajar setempat beserta bapak/ibu guru nya yang sedang mengadakan acara PERSAMI (perkemahan sabtu minggu). Untungnya masih ada tempat untuk kami mendirikan 3 tenda. Sayangnya ternyata tidak ada sumber air tawar disini, jadi terpaksa kami tidak mandi / bilas-bilas setelah bermain seharian ini di laut. Hanya ganti baju saja dengan yang kering jadinya, mandinya besok atau kapan-kapan ketika ketemu air tawar lagi.

Setelah acara mendirikan tenda, tiba saatnya untuk masak-masak lagi. Tumis cumi bimoli karena diwadahi jerigen bekas minyak bimoli. Menggoreng ayam yang sejak kemarin sudah dipotong-potong dibumbui dan direbus. Rebus kangkung lagi untuk bikin gado-gado. Bakar ikan yang tadi dikasih Bapak TNI AL di Pulau Mengkait. Ada orek tempe, ada kerupuk.., aduhh… banyak banget ternyata makanannya.

Malam begitu cerah ceria. Laut beriak sedikit, ombak ada berdebur sedikit dipasir pantai, angin dingin dan segar berhembus dari laut, bintang-bintang berserakan di langit yang begitu cerah. Api unggun tetangga tampak meriah menari-nari di gelapnya malam. Lagu-lagu global masa kini menghentak-hentak dari gadget para tetangga. Ternyata walaupun nun jauh di pulau yang ada di Laut Cina Selatan, lagu-lagu global & budaya global tidak mengalami hambatan untuk bisa menyebar di kalangan muda-mudi Anambas. Acara malam kami lewati dengan ngobrol ngalor ngidul diseputar api unggun bekas bakar-bakar ikan, bermain dengan umang-umang, mengamati polah tingkah tetangga dan ikut-ikutan menertawakan tetangga yang sedang main kartu dan mengerjai yang kalah dengan cara keliling dari tenda ke tenda sambil berlari-lari dan teriak “Aku gilaaa…, aku gilaaa…, aku gilaaa…!!” kocak banget dehh. Kemudian satu persatu tidur, ada yang di dalam tenda, ada yang geletakan di atas matras alias terpal plastik di luar tenda, ada juga yang tidur di kapal.

Day-4

Pendakian yang konyol & pelangi di Pulau Penjalin

Pagi yang cerah, matahari muncul tanpa malu-malu. Para penghuni tenda bermunculan terkantuk-kantuk. Ritual rutinitas pagi urusan MCK terganggu karena ketiadaan sumber air bersih, jadi nyemplung aja langsung di laut. Lanjut acara masak memasak lagi, persediaan makanan masih banyak aja ternyata. Lanjut beberes lagi karena hari ini rencananya kami akan kembali ke Kota Tarempah. Sebagian dari kami, besok rencananya pulang ke Tanjung Pinang, lalu menuju Batam, dan malamnya pulang ke Jakarta. Sebagian lagi, yang masih punya waktu luang akan melanjutkan petualangan menyusuri pulau-pulau di seantero Kepulauan Anambas.

Selesai berkemas, kami menyebrang ke Pulau Bawah, ke tempat pembangunan Resort Pulau Bawah yang belum selesai juga. Bebrapa pekerja bangunan tengah asik mengobrol sambil memandang lautan, mungkin karena masih pagi dan hari minggu pula, jadi masih pada asik bersantai. Pasti ada sumber air tawar disini…, jadi saya meminta ijin untuk menggunakan MCK, ternyata lokasi MCK nya jauh dibelakang, melewati beberapa bangunan resort, melewati kolam renang, melewati aula besar, tapi semuanya belum ada yang rampung. Sumber air tawarnya diperoleh dari sumur, airnya dipompa dengan pompa listrik genset, atau bisa juga ditimba secara manual. Sebenarnya pengen numpang mandi, tapi tidak ada waktu… Kami meminta ijin kepada mandornya untuk mendaki bukit di belakang resort, salah seorang pekerja bersedia menjadi guide kami.

Spot yang ingin kami tuju adalah sebuah spot yang menurut beberapa sumber dari internet, sangat bagus untuk digunakan sebagai spot foto. Pemandangannya lepas ke laut dengan gugusan pulau-pulau kecil dan laguna-laguna nya, pemandangan seperti di Wayag atau Pianemo di Raja Ampat.

Acara trekking diwarnai dengan tersesat kesana kemari, akibat salah komunikasi dengan si guide, kami maksudnya kemanaaa….si guide memahaminya entah kemana… Jadi selama 1 jam kami trekking mendaki puncak bukit, lalu turun lagi menuju bukit satunya , tanpa jelas tujuannya mau kemana… Setelah berembuk lagi barulah si guide faham akan tempat yang ingin kami tuju…, dan ternyataaa…… tempat tersebut hanya dekat saja dari tempat kami mendarat tadi… Hanya perlu 5 menit melipir menyusuri pantai ke arah kiri, melewati deretan homestay-homestay atas laut (homestay mewah tentu nantinya), lalu memanjat batu karang, dan…..walllaaaa….. pemandangan spektakuler terbentang dihadapan.

Dari atas batu karang, kita bisa lepas memandang hingga ke batas cakrawala dimana birunya langit bertemu birunya lautan. Pulau-pulau kecil berserakan. Laguna-laguna terbentuk diantara pulau-pulau karena saat itu laut sedang surut. Laguna-laguna itu dipenuhi air laut dengan gradasi warna biru kelam,biru muda jernih, hijau toska, hingga putih bening. Boat-boat kami tampak cantik ketika melewatinya, bapak-bapak motorist itu katanya mau ambil sesuatu dari temannya yang ada di salah satu pulau.

Kalau tidak kepanasan di atas batu karang itu, saya akan betah berlama-lama di sana. Senja di sana pastilah indah luar biasa. Tapi senja masih jauuuhhhh…., matahari bahkan baru saja merayap naik. Tak tahan dengan panasnya dan lapar pula , saya dan seorang kawan ditemani si guide gadungan , turun duluan menuju boat, dan berkeliaran diseputar laguna. Memanjat-manjat batu karang di salah satu pulau. Walaupun batunya sudah jadi sangat panas karena terik matahari. Lalu kami lanjut snorklingan di seputar laguna.

Lagi, ekosistem bawah lautnya kurang meriah, ikan-ikannya kurang banyak dan kurang beragam, hard coral masih mendominasi, corak warna nya kurang beragam, soft coral ada beberapa disana-sini. Arusnya lumayan deras pagi ini, visibility lebih rendah jadinya.

Usai puas snorkling kami melanjutkan perjalanan menuju Pulau Gembili untuk mengambil stock bensin yang sudah dititipkan oleh Pak Hero di tempat temannya. Di Pulau Gembili kami makan siang dibawah pohon rindang, ditepi pantai yang berpasir putih dan air laut biru jernih. Tapi kami sudah malas untuk snorklingan karena matahari sudah sangat terik.

Dari Pulau Gembili kami melanjutkan lagi perjalanan sekitar 2 jam menuju Pulau Penjalin di utara Kota Tarempah. Disambut hujan deras dan arus deras. Saya yang sudah kambuh malasnya, memilih untuk leha-leha di boat saja, sementara kawan-kawan yang masih bersemangat, sudah asik menceburkan diri ke laut ber-snorkling sana sini, katanya terumbu karangnya lebih bagus dan ikan-ikannya lebih banyak dan besar-besar, tapi saya sudah malas untuk berbasah-basah.

Pulau Penjalin ini dihiasi batu-batu berukuran super besar, mirip seperti di Bangka-Belitung dan Temajuk (kalimantan Barat). Formasi bebatuannya lucu-lucu, ada yang bertengger unik dipuncak batu besar, seperti telur paskah.

Karena arus dan ombak yang kuat, boat jadinya susah untuk merapat ke pulau. Hujan juga masih mengguyur deras, makin deras malah. Kawan-kawan yang sudah menceburkan diri ke laut, berusaha memanjat batu-batu besar dengan susah payah saking licinnya karena lumut.

Lalu hujan mereda, dan muncullah dua lengkung pelangi di balik pulau.  Itulah hadiah dari sang hujan dan sang awan hitam untuk kami di akhir hari ini.. Terimakasiiihhh…

Pulau Penjalin ini ternyata cukup besar ukurannya, disisi lain dihiasi batu-batu super besar, disisi lain nya lagi dihiasi bentangan panjang pantai landai berpasir putih berombak tenang. Kalau masih punya waktu, mau rasanya berkemah lagi semalam di sini. Tapi karena jaraknya cukup jauh dari Kota Tarempah, kami tidak berani ambil resiko. Akhirnya kami harus meninggalkan Pulau Penjalin menuju Kota Tarempah (di Pulau Siantan).

Sekitar jam 7 malam kami mendarat di Kota Tarempah, terseok-seok mengangkuti seluruh barang bawaan dari kapal ke Hotel Hang Tuah yang lokasinya tidak jauh dari dermaga. Kamar-kamar hotelnya ada di lantai 2 dan 3, sementara lantai 1 nya adalah ruko yang berjualan peralatan rumah tangga. Tangganya lumayan curam dan bikin nafas megap-megap. Kamarnya kecil, dilengkapi 2 tempat tidur kecil, 1 unit televisi, 1 unit meja kursi, 1 unit AC, dan kamar mandi (tanpa hot water). Huhhh….segar sekali rasanya mandi setelah 2 hari 1 malam tanpa berbilas air tawar.

Malamnya kami keluyuran di sepanjang jalan protokol Kota Tarempah yang padat dengan ruko-ruko, warung makan, kantor bank (BNI, BRI, Bank Syariah Mandiri, Bank Kepri), kantor-kantor pemerintah, gedung serba guna, puskesmas, dan kedai kopi. Bangunan-bangunan ruko nya banyak yang berupa bangunan lama dengan gaya Tiongkok lama, rupanya Jl.Hang Tuah ini merupakan kompleks Pecinan, tempat para perantau asal Cina daratan yang dahulu datang merantau dari tanah leluhur. Jalanannya sangat padat dengan sepeda motor yang berseliweran. Tukang ojek ada mangkal dimana-mana. Kami mencoba kuliner mie goreng tarempah, penampakannya mirip mie aceh, penuh dengan bumbu, tapi rasanya berbeda.

Day-5

Pulang…., tapii… (Another Day of chaos , 2nd round)

Hari ini saya dan 3 kawan lainnya akan pulang ke Jakarta. Pesawat dari Bandara Matak (di Pulau Palmatak) jadwalnya akan terbang jam 1 siang. Karena berbeda pulau, para penumpang dari sekitar Tarempah diharuskan berkumpul di dermaga sekitar jam 11an untuk kemudian diangkut dengan boat ke dermaga Matak, ongkos boat sudah termasuk dalam ongkos tiket pesawat.

Pagi-pagi kami sudah janjian dengan Bapak Agen Tiket Baik Hati yaitu Pak Jap Jonni untuk ngopi-ngopi di Kedai Kopi Mak Alang depan Pasar Ikan Siantan. Kedai kopinya berupa teras rumah lebar di depan bangunan kayu bergaya Tiongkok lama, bersebrangan dengan Pasar Ikan Siantan. Pengunjungnya laki-laki semua, alias bapak-bapak. Kopinya harum sekali, cemilannya berupa kue-kue jajanan tradisional beraneka rupa, ada juga mie tarempah, mie tiaw sagu, haduhhh…lupa saya nama-nama makanannya. Semuanya enak-enak rasanya.

Pasar ikan diseberang gang juga ramai dengan pembeli, ibu-ibu berseliweran sibuk menawar-nawar. Beraneka ikan, kerang, cumi, udang, bahkan ikan pari, digelar berjejer-jejer. Pasar ikannya cukup resik, tidak berbau seperti Pasar Ikan Muara Angke di jakarta. Sekarang musim tongkol katanya, ikan-ikan tongkol beraneka ukuran berjejeran di lapak-lapak, semuanya segar-segar.

Usai ngopi-ngopi dan berjalan-jalan di pasar ikan, kami berencana untuk memanfaatkan waktu sebelum pulang untuk pergi ke salah satu pulau kecil dan ke Air Terjun Temburun yang berada di sisi lain Pulau Siantan ini. Air terjun nya bisa dicapai melalui jalan darat off road atau melalui laut. Teman kami sudah mencoba jalan darat dengan menyewa 2 motor trail sebelumnya, jadi kali ini kami mencoba jalur laut yang juga lebih singkat. Kami sempat juga singgah di salah satu pulau kecil untuk sekedar foto-foto, ingin snorklingan lagi rasanya tapi waktunya terlalu sempit.

Air terjun Temburun ini airnya mengalir langsung ke laut sebetulnya, tapi sekarang ada jalan yang dibangun sekaligus sebagai pembendung air terjun sehingga membentuk kolam. Jalannya berupa jalan tanah, tempat lalu lalangnya truk-truk pengangkut pasir ke sebuah kilang yang ada dekat situ. Ada beberapa rumah ditepi pantai depan air terjun.

Ukurannya air terjunnya cukup lebar, sehingga bisa terlihat dari kejauhan ketika kita masih menaiki boat. Bentuk air terjunnya berundak-undak, katanya ada 7 tingkatan, tapi saya lupa ada berapa tingkatan. Kalau musim hujan debit airnya besar, melebar kemana-mana, tapi saat ini debit airnya sedikit karena sedang musim kemarau.

Ada jalan beton cukup lebar, menanjak curam di samping kiri air terjun, bersisian dengan pipa air berukuran besar yang katanya dulunya adalah dialirkan ke PLTA, tapi sekarang sudah tidak berfungsi lagi.

Karena debit airnya sedang sedikit, jadi pengunjung, yang saat itu hanya ada kami saja, bisa leluasa melintas menyebrangi sungainya. Ada semacam tembok bendungan di undakan pertama. Pemandangan dari sini sudah cukup leluasa ke arah lautan. Diseberang sungai ada semacam gajebo-gajebo dan bangunan berkaca serta toilet-toilet yang sudah terbengkalai, sudah rusak disana-sini.

Kami yang penasaran, berusaha untuk terus naik mencapai undakan-undakan selanjutnya. Naik melalui akar-akar pohon dan batu-batuan yang penuh dengan semut merah…, hadeuuhhh….ampun dehhh gigitannya mantap… Tapi view dari undakan atas juga sangat mantap. Terlihat jelas pulau-pulau diantara kilau lautan dan kelok teluk , sangat cantik sekali.

Tapi kami tidak bisa berlama-lama, kami harus segera kembali ke Kota Tarempah, harus segera check out dari hotel, dan segera menuju bandara Matak. Masih sempat mandi sekali lagi dan beli oleh-oleh kerupuk ikan dari toko dekat hotel.

Jam 11an kami berempat sudah tiba di dermaga PEMDA, dermaga tempat berkumpulnya para penumpang pesawat, tapi belum ada penumpang lainnya, kata si Mbak penjaga warung minuman biasanya baru kumpul sekitar jam 12an. Dan benarlah, sekitar jam 12an penumpang-penumpang lain berdatangan, 2 boat kuning milik PEMDA yang akan mengangkut kami juga sudah datang. Tidak lama kami diinstruksikan untuk naik ke 2 boat tersebut.

Kami pun berpamitan dengan kawan-kawan yang masih tinggal (7 orang) dan kepada kedua motorist (Pak Hero dan Pak Khaerul), semua barang bawaan sudah dimasukan ke boat. Kami berempat yang akan pulang sudah duduk sumringah di dalam boat, tiba-tiba ada seseorang yang katanya petugas berbicara sambil berjonhgkok dari arah pintu depan boat, katanya pesawat yang akan kami tumpangi itu belum berangkat dari Tanjung Pinang menuju Matak sini, katanya lagi kemungkinan jam 3an baru berangkat dari Tanjung Pinang jadi sekitar jam 4:30an sore baru mendarat di Bandara Matak, jadiiii….dari Bandara Matak akan berangkat sekitar jam 5 sore… Penumpang yang sudah di boat diharap turun lagi, nanti akan dikabari lagi perkembangannya..

“Apaaaaa…???” serempak kami semua kaget.

Antara percaya dan tidak percaya dengan kabar yang barusan kami dengar. Semua penumpang keluar lagi dari boat, naik lagi ke dermaga. Petugas yang tadi ngasih pengumuman kami tanyai lagi. Nanti katanya kami dikasih kabar lagi sekitar jam 2 siang. Aduhh…..bagaimana ini…??? Kami yang bingung luntang lantung di ruang tunggu dermaga, sinyal selular kadang nyambung seringnya sih tidak… Teman-teman yang lain mungkin sudah berangkat ke suatu pulau. Saya kirim sms ke bos di kantor tentang hal ini, takutnya hari ini pesawatnya tidak jadi berangkat, artinya saya tidak bisa pulang malam ini, artinya lagi saya tidak bisa masuk kerja besok pagi.

Dermaga sudah sepi lagi, penumpang-penumpang yang tadi entah pada pergi kemana, mungkin pulang lagi ke rumahnya masing-masing, atau pada pergi ke warung makan. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari warung makan juga, yang ada di depan hotel. Ternyata teman-teman yang lain masih ada di hotel, belum berangkat jelajah pulau, dan ikut bingang bingung dengan kami berempat.

Kabar mengenai si pesawat TanjungPinang-Matak juga belum jelas, kenapa sampai ditunda penerbangannya, jadikah tidak kah terbangnya hari ini, atau batalkah…., semuanya masih serba tidak jelas.

Selesai makan siang, kami memutuskan untuk balik ke hotel dulu, masih ada 3 kamar yang posisinya belum check out. Yang cewek umpel-umpelan di 2 kamar, yang cowok menggerombol di satu kamar dan dilorong hotel. Lumayan lah, masih bisa ngadem di kamar ber-AC.

Menjelang jam 2 siang, sudah ada konfirmasi bahwa pesawat tidak jadi berangkat dari Tanjung Pinang ke Matak hari ini, artinya tidak ada yang bisa mengangkut kami kembali ke Tanjung Pinang… Saya dan 2 kawan yang besok harus kerja, terpaksa harus bolos..!!! Kapal ferry ke Tanjung Pinang sudah berangkat tadi pagi, artinya baru akan ada lagi 3 hari yang akan datang…!!! Kami berusaha untuk mencari tumpangan kapal nelayan, ke Batam atau ke Tanjung Pinang tidak masalah, asalkan bisa keluar dulu dari Kepulauan Anambas…, tapi ternyata tidak ada. Kami juga coba-coba tanya-tanya ke Bapak TNI AL mana tahu ada kapal patrolinya yang akan menuju Batam atau Tanjung Pinang malam ini, kalau ada..kami mau menumpang…., tapi ternyata itu pun tidak ada…

Akhirnya kami pasrah, dan check in lagi di Hotel Hang Tuah. Tiket Batam-Jakarta malam ini saya minta jadwal ulang ke besok malam. Upaya menelpon customer service nun jauh di sebrang lautan itu, dari Tarempah sini juga membutuhkan usaha dan kesabaran tingkat tinggi karena sinyal seluler yang hilang timbul hilang timbul. Soal bayar membayar selisih harga tiket juga jadi masalah karena internet banking tidak berjalan, ATM Bank Mandiri tidak ada, akhirnya pinjam ATM BNI punya teman…

Tapi yang tersusah tentu saja meyakinkan si bos di kantor…. L

Sore-sore sebagai pelipur stress, saya dan kawan sekamar memutuskan untuk jalan-jalan ke pasar, untuk mencari lagi tukang empek-empek yang tadi pagi sempat kami lihat warungnya dan sepertinya enak. Empek-empek nya memang enak.., si ibu dan bapak penjualnya asli orang Palembang tapi sudah setahun ini merantau di Tarempah, katanya ikut anaknya yang mendapat kerja di sini.

Malamnya, kami berbondong-bondong ke salah satu cafe pinggir pantai untuk mencicipi kuliner Tarempah lainnya. Dilanjutkan dengan acara karokean bersama sebagai obat penghilang stress.

Day-6

Terbang…ngga…. terbaaang….ngga… (Another Day of chaos , 3rd round)

Pagi-pagi kami janjian lagi untuk ngopi-ngopi dan curhat-curhat bersama Pak Jap Jonni di Warung Kopi Mak Alang lagi. Mencicipi lagi aneka makanan jajanan, sampai lupa siapa makan apa dan jumlahnya berapa…

Karena masih ada sedikit waktu, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Kelenteng, menyusuri gang demi gang sempit di seputar kota Tarempah. Benar-benar padat kota ini…!! Di suatu gang, persis sebelum kelenteng, kami melewati sekelompok orang (ada ibu-ibu, anak-anak, dan seorang pemuda) yang sedang membakar ikan tongkol dipinggir gang.

Mungkin melihat gelagat tingkah kami yang menunjukkan bukan orang sini, si pemuda bertanya “Dari mana mas..mbak..??” Pertanyaan sederhana itu menjadi pembuka keakraban antara kami si pendatang norak dengan mereka yang orang sini. Ketertarikan kami pada si ikan tongkol yang sedang diasapi membawa kami pada icip-icip kuliner andalan Kepulauan Anambas-Natuna, yaitu ikan tongkol lado garom dan sambel pede. Emmmhhh….rasanya enaaaakkk banget itu sambel pede.

Kebetulan kemarin pagi teman sekamarku membeli sebotol sambel pede dari pasar ikan, karena dia sudah biasa memakan produk sejenis tapi beda nama saja di kampung halamannya, Pontianak.  Ahh…menyesal juga jadinya saya tidak ikutan beli kemarin itu, tadi pagi sudah tidak jualan lagi si Bapak yang jualnya. Saking enaknya makan tongkol asap lado garom, akhirnya kami terbujuk oleh untuk membeli ikan tongkol segar dari pasar ikan, Oka dan ibu-ibu itu akan membantu mengasapinya. Kami akan membawanya pulang untuk oleh-oleh.

Mengenai si kelenteng yang menjadi tujuan kami pagi itu, hmmm…, bangunannya cantik, berada di tebing dan menghadap ke lautan. Pemandangannya begitu lepas, bisa melihat ke lautan dan ke segenap penjuru Kota Tarempah yang padat.

Kami berempat hanya sebentar saja disitu, karena harus check out hotel dan berangkat ke dermaga lalu ke bandara Matak. Diperjalanan pulang ke hotel kami mampir ke kantornya agen tiket, dan mendapat kabar yang menyesakkan dada…., katanya pesawat TanjungPinang-Matak hari ini juga batal terbang….!!!!

ALAMAAAAAAKKKKK……!?!&#%**)%#@# agaimana pula nasibku ini…??? BAHHH….!!!  Hari ini sudah bolos kerja…, besok masa harus bolos lagi…??? Bisa dipecat saya….!?!#$@^&!

Bingung alang kepalang kami jadinya….. Bingung apa harus me-reschedule tiket lagi yang untuk ke Jakartanya…, tapii….kalau sudah 3 kali di reschedule akan tidak bisa lagi di re-schedule…!!! Dan.., harus di re-schedule ke tanggal berapa..?? Ke besok..??? Yakin besok pesawatnya yang Tanjung Pinang – Matak ini besok ada..???

Aduh pusiiiiing…… .!?!&#%**)%#@#

Dengar-dengar katanya hari ini ada kapal dari Tanjung Pinang ke sini, artinya besok pagi kapal tersebut akan kembali lagi ke Tanjung Pinang. Maka cepat-cepat kami minta tolong untuk dicarikan si tiket kapal…, syukurlah dapat 4 tiket… Tapii…kalau naik kapal besok, artinya sampai ke Tanjung Pinangnya sore menjelang malam, pesawat paling malam dari Batam pun tidak mungkin terkejar lagi…, artinya baru lusa kami bisa kembali ke Jakarta, artinya tambah 2 hari lagi bolos kerja , besok dan lusa…. Wadooowwww….. alamat jadi langsung dipecat oleh perusahaan…!!!

Tidak lama, ada telpon masuk ke agen tiket dari petugas di Perusda Anambas Sejahtera yang mengelola penerbangan rute Tanjung Pinang – Matak, katanya si pesawat sekitar jam 3an berangkat dari Tanjung Pinang, sampai sekitar jam 4:30an sore baru mendarat di Bandara Matak, jadiiii…. kami dari Bandara Matak akan bisa berangkat ke Tanjung Pinang sekitar jam 5 sore. …!!!

WHATTTT….??/ !?!&#%**)%#@#

Kami sudah terlanjur membeli tiket kapal. Tapi…. yasudahlah apabolehbuat…., syukur-syukur kalau memang si pesawat jadi terbang, walaupun tetap saja kami harus bolos sehari lagi besok…!!!

Kami yang stress berat akhirnya berduyun-duyun menuju Kantor Perusda Anambas Sejahtera yang utk komplain & meminta surat keterangan resmi alasan pembatalan kemarin & penundaan hari ini….. Dua orang pegawai (perempuan) melayani permintaan kami. Si mbak-mbak itu tidak minta maaf atas semua kesulitan yang harus kami hadapi akibat ketidakjelasan jadwal pesawat. Boro-boro dapat pengganti biaya-biaya extra baik akomodasi maupun penggantian biaya tiket Batam-Jakarta yang akhirnya pasti hangus juga itu….. Benar-benar tidak bertanggung jawab..!!!

Sekitar jam 14an akhirnya kami diangkut juga dengan boat PEMDA ke Pulau Palmatak, kurang-lebih 45 menit sudah sampai lagi di dermaga Matak. Dari sana kami lanjut naik taxi (harus bayar lagi) ke Bandara Matak (kurang lebih 10 menit). Berhenti di semacam tempat check in, seperti teras rumah yang berada persis diluar gerbang area bandara.

Masing-masing penumpang harus lapor ke si Bapak Petugas check in yang memegang secarik kertas list penumpang dan sebuah buku tulis besar. Tiap penumpang ditanyai berat badannya. Tak ada timbangan di situ. Bagasi-bagasi ditandai. Kemudian kami naik lagi ke taxi, diangkut ke dalam area bandara.

Area bandara nya asri dan rapi. Mess-mess perusahaan migas berderet rapi di satu sisi. Pintu ruang tunggu bandara masih terkunci, tapi tidak lama kemudian di buka. Ruang tunggu nya kecil tapi bersih dan nyaman ber-AC. Hati masih ketar ketir, karena sudah jam 4 sore, tapi pesawat dari Tanjung Pinang belum juga datang. Tiket ke Jakarta, hangus sudah pasti…!!!

Sekitar jam 4:30an sore si pesawat yang ditunggu-tunggu akhirnya mendarat juga, hati lumayan plong walaupun geram karena sudah pasti kami tidak akan bisa mengejar jadwal pesawat ke Jakarta nya nanti malam.

Jam 17an , kami di suruh masuk pesawat. Pesawatnya Foker50 berbaling-baling, tempat duduknya nyaman, pramugarinya ada 3 orang, setiap penumpang mendapatkan sebotol kecil AMDK dan beberapa permen. Langit sore yang cerah, matahari masih bersinar. Pulau-pulau berserakan di lautan Cina Selatan, kapal-kapal nelayan tampak seperti bintik-bintik. Di langit awan-awan tipis mengambang tenang. Penerbangan Matak-TanjungPinang berlangsung selama 1 jam 20 menit. Pesawat mendarat mulus di Bandara Tanjung Pinang kira-kira jam 18:20.

Penumpang nya full, sebagian besar diisi oleh rombongan guru-guru dari Kab Anambas yang akan menghadiri acara pelatihan di Jakarta. Kami juga berkenalan dengan seorang pemuda dari Bandung yang akan pulang setelah menengok ayahnya sekalian liburan di Anambas. Kami yang merasa sependeritaan, janjian untuk sama-sama mencarter mobil dan mencarter speed boat untuk menyebrang dari Tanjung Pinang ke Batam, karena mereka juga harus mengejar jadwal pesawat terakhir ke Jakarta, sedangkan sudah pasti kapal ferry sudah tidak ada, sudah kemalaman.

Tapi situasi tidak mendukung ternyata.., jalanan kota Tanjung Pinang padat merayap. Selidik punya selidik katanya tadi siang ada demo besar-besaran di depan Kantor PLN , warga yang sudah muak dengan kinerja PLN yang buruk sudah tidak bisa lagi mentoleransi kondisi “mati lampu” yang sudah amat sangat sering melanda Kota Tanjung Pinang dan Batam. Sehingga kami baru bisa sampai di dermaga Sri Bintan Tanjung Pinang ini sekitar jam 8 malam. Pesawat Garuda GA 159 Batam-Jakarta jam 19:20, yang harusnya saya tumpangi, terbang sudah tanpa saya….

Sementara, salah satu teman yang memilih maskapai berbeda dan jadwalnya sedikit lebih malam, masih berusaha untuk mengejar jadwal pesawatnya. Tapiiii…, rencana yang tdai sudah disusun bersama rombongannya si Bapak Guru juga harus gagal karena orang yang menyewakan speedboat nya tiba-tiba menaikan harga sewa yang katanya tadi sudah disepakati… Ya sudahlah…pasrah saja jadinya… Tiket hangus semua…

Malam itu kami terpaksa menginap lagi satu malam di Tanjung Pinang, harus membeli lagi tiket pesawat ke Jakarta, harus meminta permakluman lagi kepada atasan karena besok kami masih belum bisa masuk kerja…. L

Day-7

Aku Pulaaaaaang….

Pagi ini kami akan pulang ke Jakarta, mengambil penerbangan paling pagi, sekitar jam 9:20 berangkatnya.

Pagi-pagi kami menyempatkan diri untuk sedikit berburu kuliner lagi , tidak jauh-jauh dari hotel, hanya berjalan kaki ke daerah sekitar Jalan Pos. Menjajal salah satu kedai kopi dan jajanannya yang enak-enak. Selain itu juga berburu oleh-oleh lagi.

Syukurlah hari kepulangan ini semuanya lancar. Pesawat sesuai jadwal, angkutan DAMRI Bandara Soetta-Bogor juga langsung ada, tol dalam kota Jakarta juga lancar (isu adanya demo mahasiswa besar-besaran tgl 20-Mei-2015 untuk menuntut penurunan Presiden Jokowi ternyata tidak jadi).

Sekitar jam 6 sore, tibalah saya di tempat kerja, langsung lapor atasan menjelaskan keadaan transportasi yang kacau tidak bisa dipegang jadwalnya, sambil menyerahkan semua bukti-bukti tiket dan surat keterangan dari Kantor Perusda Anambas Sejahtera. Hmmm….., catatan merah saya tahun ini L

Jadi begitulah…., salah satu balada seorang kuli pabrik yang hobby nya bertualang ketempat-tempat yang aksesnya sulit….. Seorang kuli pabrik, yang masih ingin menjelajahi pelosok negerinya…., yang tidak puas jika hanya beredar diseputar pabrik-rumah-bank-pasar-pabrik lagi – rumah lagi – warung – bank – pasar…

Yang percaya pada quote “The world is a book, those who do not travel, read only one page”…!!

============================

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s