Desa Tepal – desa di atap Sumbawa

Catatan Pengembaraan Sumbawa – Sumba Check Point 2

Nepal sering disebut-sebut sebagai negri atap dunia, maka Desa Tepal ini saya sebut sebagai desa di atapnya Pulau Sumbawa. 

Dari Pantai Maluk yang  setenang kolam renang Senayan , saya kembali ke Kota Sumbawa Besar.  Harus bermalam 1 malam lagi di kota ini, sebelum besok pagi-pagi melanjutkan perjalanan ke Desa Tepal yang disebut-sebut sebagai desa yang masih memegang teguh budaya Samawa, budaya tradisional Sumbawa.

Desa Tepal merupakan penghasil kopi terbesar di Sumbawa.  Secara administratif termasuk dalam Kecamatan Batu Lante, terletak di puncak Gunung Batu Lanteh, puncak gunung  tertinggi di Pulau Sumbawa (1.730 MDPL). Gunung ini berdiri tegak di antara lima pegunungan lainnya yang berada di bagian tengah dan selatan pulau. Mengarah ke gunung ini terdapat sebuah sungai terbesar bernama Brang Beh yang juga mengalir menuju Teluk Lampui.

peta-lombok-DesaTepal

Perlu perjuangan yang sangat keras untu mencapai desa ini.  Dimulai dari mencari-cari tempat ngetem angkutan umum yang akan menuju kesana.  Informasi tentang hal ini masih sangat tidak jelas.  Katanya sampai suatu titik masih bisa pakai mobil, tapi ke sana nya harus ngojek , bahkan ada yang bilang harus naik kuda segala.  Berbekal informasi yang serba minim ini, pagi-pagi saya sudah naik ojek ke Terminal Lawang Gali, sebab katanya ada kendaraan ke Tepal dari situ.

Tapi ternyata tidak ada kendaraan ke Tepal, katanya saya harus ngojek dulu ke Sering, disitu biasanya ada hardtop yang ngetem menunggu penumpang pagi-pagi, tapi tidak setiap hari.  Sesampainya di daerah Sering, saya melihat beberapa penumpang sedang ngopi-ngopi di warung dan ada hardtop terparkir di situ.  Dari keterangan beberapa penumpang, mereka memang akan menuju Desa Tepal dsk, tapi…. rupanya hardtop itu adalah hardtop mogok.  Penumpang-penumpang tersebut juga tidak tahu apakah ada hardtop yang akan berangkat ke Tepal hari itu.

Wahhh… Saya semakin penasaran dengan keberadaan Desa di Puncak Gunung ini, apalagi setelah mendengarkan cerita-cerita dari penumpang-penumpang lain dan dari ibu warung tentang betapa sulitnya akses menuju ke sana.  Katanya sudah 3 hari ini akses jalan ke sana terputus, karena ada alat berat pengeruk jalan yang mogok melintang di jalanan.  Selain itu, curah hujan yang tinggi menyebabkan kendaraan hampir bisa dikatakan berenang di lumpur, dan banyak yang mogok.

Saat sedang asyik ngopi di warung sambil mendengarkan keluh kesah penduduk tentang jalan, tiba-tiba datang 1 hardtop yang ternyata akan menuju Desa Tepal.

Ahh…betapa leganya kami semua.  Satu per satu muatan barang yang kebanyakan adalah belanjaan warga, dimuat ke bagian belakang.  Backpack besar saya dinaikan ke atap, diikat erat-erat dengan tali tambang supaya tidak terlempar, lalu ditutup dengan plastik terpal untuk jaga-jaga bila hujan turun.

Setelah menjemput beberapa muatan barang yang dititipkan penduduk, sekitar jam 9:30 kami berangkat.  Saya duduk di depan, disamping supir, mungkin karena saya satu-satunya penumpang perempuan plus satu-satunya pelancong nekat yang ada disitu.

Pak Dedi, penumpang lainnya yang duduk di kabin supir, terheran-heran dengan saya yang melancong sendiri hingga jauh ke pelosok Tepal.  Pak Dedi ini rupanya adalah Pegawai Dinas PU yang ditugaskan untuk menangani alat berat yang rusak dan menghalangi jalan itu.  “Kalau tidak karena tugas, saya malas pergi ke Tepal, jalanannya bikin sengsara….  Buat apa Mbaknya pergi ke sana??  Di sana itu tidak ada apa-apa….” demikian katanya.

Pak sopir yang rumahnya di Dusun Batu Rotok , dusun yang paling terpencil dari semua dusun-dusun di wilayah Desa Tepal, juga mengamini hal kondisi jalan yang parah tersebut.  Beliau ini sudah 5 tahun lebih menjalani profesi supir hardtop jalur Sumbawa-Tepal.  Katanya, kalau musim hujan, bisa-bisa hanya 2 minggu sekali pergi ke Sumbawa.   “Wah…pokoknya Mbak nanti liat sendiri deh jalanannya..!!” katanya memperingatkan saya.

Menurut Pak Dedi dan Pak Supir , hanya kendaraan-kendaraan jenis Jeep hardtop keluaran tahun 1985 ini yang bisa melewati medan se-extrim trayek Tepal.

Jalanan yang kami lalui masih beraspal, walaupun kian ke pedalaman kian menipis, selepasnya Desa Batu Dulang, kondisi jalanan kian menyempit dan memburuk .  Di suatu turunan super curam yang disebut Turunan Brang Treng (dalam bahasa Sumbawa , Brang = sungai, Treng = Bambu), para penumpang yang ada di bagian belakang diminta turun untuk mengurangi beban kendaraan.  Saya tidak perlu turun kata Pak Sopir, jadi saya berpegangan erat-erat  merasakan sensasi “turunan gila” Brang Treng.  Betapa tidak, jalan tersebut meliuk-liuk menuruni tebing jurang yang dibawahnya mengalir sungai Brang Treng.  Kalau salah menginjak pedal rem dengan pedal gas, mobil ini akan langsung melayang jatuh tanpa penghalang.

Selepas turunan maut Brang Treng, jalanan semakin memburuk.  “Ini belum apa-apa Mbak, nanti di depan sana lebih susah lagi jalanannya” kata Pak Sopir.

Sekitar tengah hari kami sampai di Desa Punek.  Disini adalah tempat istirahat makan siang.  Sinyal ponsel masih bisa menjangkau tempat ini.

Kami melanjutkan lagi perjalanan hebat ini.  Terguncang-guncang selama hampir 6 jam diatas hardtop, mengarungi jalan becek yang kadang-kadang berbatu-batu besar, ditengah hutan lebat, naik turun gunung dan menyebrangi sungai tanpa jembatan.   Menuruni turunan tajam menukik yang harus dilalui dengan extra hati-hati. Musim hujan membuat jalanan ini hampir mustahil untuk dilalui.  Lumpunya yang teramat tebal dan licin seringkali memakan hardtop yang terperosok dan tak bisa laju lagi.

Beberapa kali, kami semua penumpang, harus turun dari kendaraan ketika melewati kubangan lumpur.  Sekam, rantai ban, dan cangkul adalah senjata andalan di saat-saat seperti ini.  Sekam digunakan untuk menaburi jalan yang akan dilalui agar tidak terlalu licin.  Rantai yang diikatkan ke roda berfungsi sebagai “penggigit” jalanan berlumpur.  Sedangkan cangkul digunakan untuk sedikit meratakan bagian tengah jalan yang posisinya sudah terlalu tinggi akibat tergerusnya bagian kiri kanan jalan oleh roda-roda hardtop yang lewat.  Jika terlalu tinggi, bisa menyentuh body kendaraan di bagian kolong mobil.

cangkul, sekam, dan rantai besi adalah senjata yang wajib dibawa

Hardtop-hardtop yang “kalah” perang akan terperangkap di lumpur, kadang-kadang bisa sampai 3 hari 3 malam, seperti yang barusan kami lewati.  Barang belanjaan milik penumpang, tampak teronggok ditepi jalan ditutupi terpal biru.   Api unggun beserta alat menanak nasi tampak terpasang tidak jauh dari saung tenda alakadarnya.  Menurut Pak Muntaka, Sang pemilik belanjaan, dirinya dan supir hardtop sudah 2 malam menginap menunggui barang dan kendaraan.  Jika sudah demikian, maka kerjasama antar supir hardtop plus penumpang-penumpangnya adalah tradisi yang otomatis terjadi. Yang ditakutkan ketika menginap seperti itu di hutan adalah serangan babi hutan.  Babi hutan memang masih banyak terdapat di hutan pegunungan Batu Lanteh ini.  Salah satunya sempat kami temui sedang asyik mengisap-hisap lumpur di jalan, dan satunya lagi lari melesat melintas jalan. Pak Muntaka yang lalu ikut menumpang di hardtop yang saya tumpangi, ternyata adalah salah satu pengurus Desa Tepal.  Beliau mengundang saya ke rumahnya, yang dengan senang hati saya terima.

Tapi perjalanan kami masih jauh, kami baru sampai di Dusun Pusu, salah satu dusun yang ada di Wilayah Desa Tepal.  Kebun kopi milik warga menandai bahwa kami telah keluar dari hutan dan telah memasuki “peradaban”.

Rumah-rumah di Dusun Pusu ini berupa rumah panggung terbuat dari bilah-bilah papan kayu.   Begitu pula gedung sekolah TK atau PAUD sederhana yang ada di sana itu.  Kuda-kuda Sumbawa tampak asyik merumput di lapangan desa.  Ada juga yang sedang “blasak-blusuk” di kebun kopi, mengagetkan babi hutan yang juga ada disana. Dari Dusun Pusu ini, masih ada 1 puncak bukit lagi yang harus kami lewati, lalu satu jurang curam, dan menanjak lagi ke atas puncak bukit di seberang,  disanalah Desa Tepal berada.   Benar-benar Desa di Atap Langit Sumbawa.

Rumah-rumah di Desa Tepal
Rumah-rumah di Desa Tepal

Rumah-rumah kayu berjejer memagari jalan tanah.  Hardtop, motor trail,  dan kuda, adalah transportasi utama disini.  Penduduknya bertanam kopi.  Semua kebutuhan warga desa di datangkan dari Sumbawa.  Jaman dulu, dibutuhkan 2 hari 1 malam berkuda melintasi gunung untuk bisa sampai ke Sumbawa.

Saya numpang menginap di kediaman Kepala Desa Tepal, Bapak Sudirman.  Kebetulan Bu Bidan Desa yang bertugas di desa ini sedang pulang kampung ke Dompu, jadi kamarnya kosong dan bisa saya pinjam untuk bermalam. Sebagaimana umumnya rumah-rumah di desa ini, rumah Bapak Sudirman juga berupa rumah panggung terbuat dari bilah-bilah papan kayu.  Bagian kolong rumah biasanya digunakan untuk kandang kambing dan ayam, atau untuk menyimpan kayu bakar. Fasilitas listrik dipasok sendiri dari pembangkit listrik tenaga turbin (air) yang dibangun dengan bantuan salah satu LSM luar negri.  Pembangkit listrik tenaga surya juga sudah terpasang di beberapa rumah warga.  Fasilitas tersebut juga merupakan bantuan dari LSM.  Fasilitas air bersih dan MCK juga sudah ditertibkan disini.  Rumah-rumah sudah memiliki fasilitas MCK sendiri-sendiri.  Airnya diambil dari sumber air di Gunung Batu Lanteh, kemudian dialirkan ke desa dan di tampung di penampungan air bersama milik warga, lalu dialirkan ke masing-masing rumah warga.  Airnya jernih dan sejuk luarbiasa. Untuk fasilitas memasak, masih menggunakan kayu bakar.  Tungkunya seperti tungku warga Baduy (Banten) dan warga Ciptagelar (Sukabumi), dipasang diatas lantai kayu yang lalu dilapisi lumpur kira-kira 10 cm tingginya, baru tungkunya dibuat / dicetak diatasnya.

Menurut keterangan dari Bapak Muntaka, sebagaimana tertulis dalam buku besar catatan sejarah asal usul Desa Tepal, bahwa dahulu kala ada 4 kelompok (disebut sebagai “mule kamuya”) yang mendiami wilayah Desa Tepal sekarang, yaitu Malengke, Malempe, Padesa dan Tebas.  Peninggalan bersejarah yang masih bisa ditemua hingga sekarang adalah berupa batu bertulis dan makam keramat, serta mata air keramat yang disebut sebagai Ai Rongka Mali. Nama daerah ini dulunya adalah Kepal, dikepalai oleh seorang dukun yang disebut sebagai Pasung Kepal yang bijaksana, sehingga sering dijadikan sebagai penasihat Raja Sumbawa kala itu.  Sehingga Tu Kepal atau Tau Kepal (orang Kepal) sangat dihormati oleh masyarakat kerajaan Sumbawa.  Lama kelamaan sebutan Tu Kepal atau Tau Kepal ini dilafalkan sebagai Tepal, hingga saat ini.

Desa ini seperti umumnya desa-desa jaman dulu, juga memiliki area lumbung padi.  Tapi sayangnya jaman sekarang, lumbung-lumbung tadi sudah tidak difungsikan lagi.  Jaman sekarang, jeep hardtop dan motor trail sudah menggantikan pedati dan kuda.  Terutama hardtop, kendaraan ini benar-benar menjadi andalan di sini, untuk mengangkut bahan bangunan seperti batu dan kayu-kayu dari hutan.  Tapi kuda dan pedati juga sampai sekarang masih dijumpai,  misalnya untuk mengangkut hasil panen kopi ke pasar desa.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Malam minggu ini, Pak Kades dan Pak Babinsa beserta bapak-bapak yang lainnya mau pergi berburu rusa di gunung, dan saya pun diajak serta.

Paginya, setelah keluyuran disepanjang jalan desa menikmati udara pagi dan mentari yang baru menyembul,  saya sudah asyik lagi mengobrol dengan nenek, kakek dan Bu Kades disekitar tungku, sambil mempersiapkan makanan untuk makan pagi sekeluarga.  Tak ketinggalan pula sambil menyeruput kopi Sumbawa dan ngemil kuping rusa bakar yang dicocolkan ke garam pedas “sirawer”.  Perpaduan sarapan yang aneh hehe… Obrolan diantara kami juga tidak kalah anehnya, nenek sama sekali tidak bisa bahasa Indonesia dan saya sama sekali tidak bisa bahasa Sumbawa.  Untung ada Bu Kades yang menjadi penterjemah diantara kami.   Selain itu, juga ada pertukaran minum kopi yang aneh, nenek dan seorang tetangga nenek yang saat itu datang ke dapur, yang notabene adalah para petani kopi sejati, terkagum-kagum dengan enaknya  kopi instant 3 in one yang kebetulan saya temukan di dalam backpack saya.  “Nyaman….” kata beliau-beliau sambil mengacungkan jempol dan tersenyum lebar.  Nyaman artinya enak sekali. ===========

Advertisements

Pengembaraan Sumbawa – Sumba (0) :

Check Point 0 : Sumbawa begini…., Sumba begitu…

Sumbawa & Sumba, terdengar seperti nama dua anak kembar identik, padahal keduanya sangatlah jauh berbeda. Sumbawa sangat kental dengan pengaruh Islam misalnya, sedangkan Sumba lekat dengan pengaruh Nasrani. Di Sumba, peradaban jaman megalitikum alias jaman batu-batu raksasa masih sangat jelas terlihat hingga sekarang, hampir seperti di Tana Torja (Sulawesi) saya rasa. Orang Sumbawa sepertinya sangat menyukai musik gambus dan musik dangdut koplo, sedangkan orang Sumba menyukai musik disko yang kebarat-baratan.

Paling tidak, itu adalah perbedaan nyata yang saya rasakan dari pengembaraan saya selama 3 minggu lebih di Bulan November 2010 lalu.

Perbedaan yang sangat terasa lainnya misalnya soal kondisi jalan. Karena selama 3 mingguan itu kebanyakan waktu saya dihabiskan di jalan, maka perbedaan ini sangat terasa. Di Sumbawa, kondisi jalan aspal mulus hanya saya nikmati selama di kota, misalnya di Kota Sumbawa Besar, Kota Dompu, Kota Hu’u, Kota Bima dan Kota Sape. Semakin ke pinggiran, kondisi jalanan semakin rusak parah cenderung ke “off road”, misalnya trayek ke Pantai Sekongkang, trayek ke Calabai, dan yang terparah adalah trayek ke Desa Tepal. Sedangkan di Sumba, jalan aspal mulus telah menghubungkan kecamatan-kecamatan, bahkan hingga ke desa-desa, misalnya ke pelosok desa-desa di Kecamatan Kodi (Sumba Barat Daya), dan ke Desa Kaliuda (Sumba Timur) .

Sejarah mencatat bahwa Suku Sumbawa atau tau Samawa mendiami bagian barat Pulau Sumbawa atau bekas wilayah Kesultanan Sumbawa, sedangkan bagian timur Pulau ini didiami oleh suku Bima. Saat ini, penduduk yang mengklaim diri sebagai keturunan asli tau Samawa mendiami wilayah-wilayah pegunungan Batu Lanteh, seperti Tepal, Dodo, dan Labangkar. Mereka mengungsi ke sana akibat dataran rendah yang dulunya mereka diami sudah rusak dan tidak bisa didiami lagi pasca erupsi Gunung Tambora di tahun 1815 , yang menewaskan hampir dua pertiga penduduk.

Pengaruh Islam di Sumbawa pertama kali datang dari tanah Jawa, yaitu oleh Sunan Prapen (keturunan Sunan Giri) pada sekitar abad ke 16. Dan kemudian terus mengakar dengan kuat hingga sekarang.

Sunatan Masal (Pulau Medang, Sumbawa)
Sunatan Masal (Pulau Medang, Sumbawa)

 

Bu Kades and The Gang (Pulau Medang, Sumbawa)
Bu Kades and The Gang (Pulau Medang, Sumbawa)

Sumba berasal dari kata Humba atau Hubba yang berarti asli. Penduduk pulau Sumba biasa menyebut pulau mereka dengan nama Tana Humba yang berarti tanah asli, dan mereka menyebut dirinya sebagai Tau Humba atau orang-orang asli.

Penduduk pulau Sumba sendiri sebenarnya bukan penduduk asli, tetapi pendatang dari berbagai daerah seperti Sawu, Bima, Ende, Makasar, Bugis, Selayar, Buton, dan yang paling utama dikatakan dalam beberapa cerita, nenek moyang orang Sumba berasal dari Malaka Tana Bara atau dari Semenanjung Malaka. Nenek moyang orang Sumba pertama kali tiba di pulau Sumba lewat Tanjung Sasar dan muara Sungai Pandawai.

Nenek moyang orang Sumba menganut kepercayaan animisme Marapu. Sekarang, hampir 65% dari penduduknya menganut agama Kristen. Kuatnya pengaruh agama nenek moyang Merapu, hingga sekarang masih bisa dirasakan, terutama di kampung-kampung adat yang masih memegang teguh adat istiadat tradisi. Kaum muslim dalam jumlah kecil dapat ditemukan di sepanjang kawasan pesisir, salah satunya ada di Desa Pero, di tepian laut selatan Kabupaten Sumba Barat Daya.

Sosok penduduk Sumbawa lebih mirip penduduk Indonesia bagian barat pada umumnya. Sedangkan di Sumba, lebih mirip penduduk Indonesia bagian timur.

Penduduk Sumba secara rasial merupakan campuran dari ras Mongoloid dan Melanesoid, seperti penduduk asli Papua Nugini , Selandia Baru, dan Australia. Lebih seperti sosok orang Portugis. Lebih exsotis, begitu kalau saya bilang 🙂

Laki-laki Sumbawa, identik dengan kain sarung dan peci. Sedangkan laki-laki Sumba, yang masih memegang teguh tradisi, identik dengan mulut merah karena mengunyah sirih, golok panjang atau parang, kain hinggi yang diikatkan di pinggul dengan ikat pinggang lebar dari kulit, serta tiara patang, sejenis penutup kepala dengan lilitan dan ikatan tertentu yang menampilkan jambul. Jambul ini dapat diletakkan di depan, samping kiri atau samping kanan sesuai dengan maksud perlambang yang ingin dikemukakan. Jambul di depan misalnya melambangkan kebijaksanaan dan kemandirian. Hinggi dan tiara terbuat dari tenunan dalam teknik ikat dan pahikung.

Logat bicaranya, kalau orang Sumbawa lebih “halus dan mengalun” , ada sedikit “alunan” logat Bali.  Sedangkan logat Sumba keras, tegas, dan cepat, seperti orang marah-marah.   Kecuali kalau yang bicara itu Ibu Sonya dan Ibu Kades Kaliuda , halus dan lembut 🙂

   

Di Kampung Tarung (Waikabubak, Sumba )
Di Kampung Tarung (Waikabubak, Sumba )
Di Pasar Kodi (Sumba Barat Daya)
Di Pasar Kodi (Sumba Barat Daya)

Jadi, kenapa memilih Sumbawa dan Sumba sebagai tujuan perjalanan kali ini….??  

  • Pertama, karena saya belum pernah ke 2 tempat tersebut :-p  
  • Keduanya, karena saya penasaran dengan kedua pulau yang namanya seperti kembar identik ini, betulkah identik..?, bagaimanakah adat istiadatnya..?, seperti apakah orang-orang nya, bagaimanakah alamnya, seperti apa rasa makanan favorit mereka ??? 
  • Dan yang ketiga, beranikah saya mengembara sendiri kesana ???  Ternyata, saya berani…., Anda juga dong…!!! 🙂
Rute pengembaraan di Pulau Sumbawa
Rute pengembaraan di Pulau Sumbawa

Peta-Sumba

===========

Ini adalah langkah awal saya, langkah selanjutnya ada di Pengembaraan Sumbawa – Sumba Check Point 1 , 2, 3, 4, 5, 6,  dst :))

==========

Sumber info yg bagus :

– http://www.sumbawanews.com/berita/mengenal-kebudayaan-sumbawa

– http://fridlampard.blogspot.com/2013/04/marapu-dan-budaya-masyarakat-sumba.html 

 

Feels not so lucky at Lakey Beach

Check Point (6) Pengembaraan Sumbawa Sumba

Kegembiraan anak Pantai Lakey di senja hari

      

Pantai Lakey di selatan Dompu memang diperuntukan Tuhan untuk para peselancar.  Saya yang sama sekali bukan peselancar merasa sedikit tidak beruntung.  Snorkling gear saya tidak berguna sama sekali di sana.  Untunglah bermain body board bersama anak-anak kecil warga setempat, membuat tingkat keberuntungan saya sedikit naik 🙂

Ya, Pantai Lakey memang sudah terkenal bagi para peselancar dunia.  Tak heran tempat ini sudah lengkap dengan sarana pariwisata.  Restoran-restoran yang kebanyakan menawarkan menu ala barat sudah banyak bertebaran di sini.  Penginapan murah, bungalow, bahkan hotel bintang lima, sudah ada di sini.  Turis-turis asing bukanlah hal asing lagi.  Mereka bahkan ada yang tinggal selama berbulan-bulan di sini.  Setiap hari berselancar, bermain dengan ombak samudra.

Surfer bersiap mengejar ombak

Akses jalan dan angkutan umum juga mudah.  Dari Kota Dompu, cukup dengan uang Rp8000, sudah bisa mengantarkan kita ke Pantai Lakey.
Seperti umumnya kebiasaan kita, orang Indonesia, yang tidak suka naik kendaraan umum dari dalam terminal, trayek bis Dompu-Lakey ini juga tidak naiknya tidak dari dalam terminal Ginte di Kota Dompu, melainkan di belakang Rumah Sakit Umum Daerah Dompu.  Bukan hanya dari Dompu, bis dari Kota Bima pun ada.

Dan seperti biasa, musik dangdut koplo akan setia menemani perjalanan anda !!!

Calabai : Gerbangnya Tambora dan Satonda

Check Pint (5) Pengembaraan Sumbawa Sumba

 

Selepas Pulau Moyo, saya melanjutkan perjalanan ke Kota Dompu, di belahan timur Sumbawa.  Bis kecil jurusan Sumbawa – Dompu yang saya tumpangi sudah sarat muatan, bahkan hingga ke atapnya.  Padahal hari ini, seperti juga hari-hari lainnya di Sumbawa, terasa begitu terik.  Saya tidak tahu bagaimana mereka bisa tahan duduk berjam-jam lamanya di atap bus seperti itu.  Mungkin kalau dianggap wajar, penumpang manusia juga akan diikat rekat-rekat di bagian belakang bus, seperti halnya sepeda motor yang terikat erat dibelakang sana itu.

Bis trayek Sumbawa Besar ke Dompu, penuh sampai ke atap di samping dan di belakang

Dan seperti biasa, speaker tua yang sudah serombeng bisnya menguarkan nyanyian dangdut koplo memekakan kuping.  Lama-lama kuping saya bisa jadi serombeng speaker dan bis ini juga….

Jarak 155 km Sumbawa Besar – Dompu ditempuh selama hampir 10 jam,  bis rombeng ini seharusnya memang sudah dicemplungkan ke Laut Flores, dijadikan rumpon untuk bertenggernya annemon-annemon cantik, rumah para clown fish yang lucu-lucu.
Saya hanya semalam saja di Kota Dompu, menumpang di rumah seorang kawan.   Ternyata kota ini berhawa sejuk.   Pagi-pagi sekali saya sudah berada di Terminal Ginte (Kota Dompu), saya harus mengejar bis yang akan ke Calabai yang katanya cuma ada 2 kali sehari saja.

Calabai adalah sebuah kecamatan di Wilayah Kabupaten Dompu.  Di sana ada tujuan para pelancong, petualang, ahli konservasi dan arkeolog, yaitu Gunung Tambora (dengan kerajaan Tamboranya yang sudah musnah ketika gunung tersebut meletus) dan Pulau Satonda (yang konon kabarnya juga adalah gunung api ditengah laut yang juga sudah meletus, kawahnya sekarang membentuk danau ditengah pulau).

Jalur Dompu – Calabai sejauh 100 km lebih, kondisinya juga sangat buruk.  Tapi karena bersisian dengan laut, maka cenderung lurus, jadi tidak se-exstrim jalur Sumbawa-Tepal.  Hanya diawal-awal perjalanan saja yang masih naik turun bukit.  Hampir 7 jam waktu tempuh yang dibutuhkan untuk mencapai Desa Kedindi, salah satu desa di Kecamatan Calabai yang merupakan perhentian akhir dari bis ini.

Seperti halnya bis jurusan Sumbawa Besar – Dompu, bis jurusan Dompu – Calabai ini pun hobby menaikan penumpang manusia dan
barang yang berlebihan.  Atap bis, penuh dengan rupa-rupa barang dan manusia.

Trayek ini memiliki tempat perhentian untuk beristirahat dan makan, yang cukup sejuk.  Nama daerahnya adalah Pantai Hodo.
Tepat ditepi Pantai Hodo ini ada mata air tawar yang jernih dan sejuk.  Tempatnya juga rindang dengan pepohonan, jadi
cukup menyejukan bagi penumpang-penumpang yang sudah kepanasan dan kelelahan.  Warung-warung makannya menawarkan menu
standard.  Sayangnya tak ada minuman dingin yang sangat diidamkan kami-kami yang kepanasan di bis, karena memang di sini tidak ada listrik.  Salah satu warung makan itu rupanya sedang membuat sambal goreng, asapnya yang memerihkan mata dan membikin batuk menyerang seisi bis yang saat itu baru akan beranjak.  Alhasil kami semua penumpang batuk bersahutan dan berurai air mata karenanya.  Pak supir yang menyadari hal ini, tertawa terkikik-kikik tiada henti sepanjang sisa perjalanan, padahal sejak berangkat dari Dompu tadi kerjanya cuma bersungut-sungut sambil cemberut.

Selepas Pantai Hodo, laut selalu menemani di sebelah kiri kami, dan Gunung Tambora setia di sebelah kanan kami.  Diantara kami dengan laut dan G Tambora, ada padang savana dengan pohon-pohon perdunya dan tentu saja kuda Sumbawa.  Pemandangan ini begitu mengagumkan, sehingga saya hampir-hampir tidak menyadari buruknya kondisi jalan yang kami lalui.  Debu jalanan beterbangan di ekor bis yang berlari melonjak-lonjak menerjang lubang jalan seperti kuda liar kegelian.  Tidak ada perkampungan penduduk, sejauh mata memandang hanya laut, savana, dan Gunung Tambora.

Sore hari, bis tiba di Desa Kedindi Atas (Kec. Calabai) dari sana saya ngojek ke Desa Pancasila, pintu gerbang pendakian Gunung Tambora.  Tapi, menurut Pak Saeful ( Ketua Perhimpunan Guide Gunung Tambora), saat ini musim sepi, hampir tidak ada pendaki yang menyambangi Tambora.  Tadinya saya berniat untuk bergabung dengan kelompok pendaki lain, jika ada. Menurut Pak Saeful lagi, musim hujan seperti sekarang ini, memang biasanya sepi pendaki karena jalurnya juga semakin sulit.  Jadi saya harus berpuas diri hanya sampai di “kelingking” kaki Gunung Tambora.

Gunung Tambora di sebrang padang savana

Pagi-pagi di Desa Kedindi, ternyata ada pasar  pagi yang cukup ramai dan menarik untuk dikunjungi.  Kebanyakan penduduk di desa ini, katanya adalah pendatang dari Mataram (Lombok).  Makanya tidaklah mengherankan kalau ternyata ada kendaraan bis Mataram-Calabai yang berangkat 1 kali sehari setiap jam 7 pagi.

Tempat lain yang ingin saya kunjungi di Calabai ini adalah Pulau Satonda.  Bang Jul, yang biasanya menjadi guide pendakian Gunung Tambora, kali ini berbaik hati menjadi guide saya berkelana di Calabai.   Memperkenalkan saya pada Pak Kades Desa Nangamiru, desa terdekat ke Pulau Satonda.  Saudaranya Pak Kades Nangamiru ini ternyata adalah Petugas Penjaga Daerah Wisata Pulau Satonda, namanya Pak Abdurahman.  Beliau sangat ramah dan baik hati, bersedia menampung saya dan mengantarkan saya ke Pulau Satonda, bahkan menunggui dengan sabar ketika saya asyik bersnorkling di pantai Pulau Satonda.

snorkling di bawah dermaga Pulau Satonda
Penuh dengan terumbu karang sehat dan ikan warna warni

Bersnorkling di Pantai Pulau Satonda ini memang sangat mengasyikan.  Tidak kalah dengan kondisi di Pulau Moyo.  Soft coral dan ikan warna-warni membuat saya betah berlama-lama wara-wiri bersnorkling ditemani Bang Hasan, salah satu saudara Bapak Abdurahman yang ikut dengan saya ke Pulau Satonda.  Katanya sudah lama dia tidak bermain di laut.  Dari obrolan dengan beberapa warga , baik di Desa Nangamiru maupun Desa Kedindi, ternyata warga sini memang belum mengerti potensi apa yang bisa diberikan oleh keelokan alam bawah laut yang ada di “belakang rumah”-nya ini.   Bahkan anak gadisnya Pak Abdurahman belum pernah menginjakan kaki di Pulau Satonda !!!

Ternyata, bagi warga sini, berkunjung ke Pulau Satonda kalah menarik, jika dibandingkan dengan bertandang ke Bendungan.  Yang disebut bendungan adalah dam atau bendungan dari tembok yang dibuat untuk menampung air dari mata air jernih, untuk kemudian diatur distribusinya ke pesawahan dan ke areal perumahan warga.  Memang sangat segar mandi-mandi dan berenang di mata air ini.  Banyak sekali warga yang berwisata.  Pedagang-pedagang dadakan selalu memadati areal ini di akhir minggu seperti sekarang.

Calabai memang memiliki potensi wisata yang luar biasa, yang sudah luar biasa terisolasi pula oleh buruknya sarana jalan.

Bersambung……………

============================

Pulau Moyo sang Primadona Sumbawa

Check Point (4) Pengembaraan Sumbawa – Sumba

Saya meninggalkan Pulau Medang menuju Pulau Moyo.  Saya beruntung bisa “nebeng” perahunya Pak Haji Syukur yang sehari-harinya
berdagang keliling kampung di Pulau Moyo.  Perahunya Pak Haji ini kecil saja, penumpangnya ada Bu Haji, Harun anaknya Bapak & Ibu Haji, dan saya, sang penumpang tak diundang.  Sang kapten tentu saja Bapak Haji.

Cuaca pagi ini cerah sekali seperti kemarin-kemarin.  Ombak laut pagi ini lumayan mengguncang perahu kecil ini.  Tidak banyak percakapan diantara kami karena suara kami tenggelam oleh mesin perahu.  Kira-kira 1 jam kemudian kami sampai di dermaga Kampung Labuan Aji yang
sepi.  Labuan Aji ini merupakan kampung yang berada di bagian barat Pulau Moyo.  Kampung-kampung lainnya ada di bagian timur.  Di bagian timur sana, katanya lebih ramai, tapi jaraknya lumayan jauh.  Jika ditempuh melalui jalur darat memotong pulau, memakan waktu kira-kira 3 jam menggunakan sepeda motor.  Jalannya berupa jalan tanah, menembus hutan lindung dan kebun jambu mete.

Ya, banyak sekali perkebunan jambu mete disini, bisa dikatakan sebagai komoditi andalan warga sini.  Musim ini, katanya panennya tidak terlalu baik, karena curah hujan terlalu tinggi, hingga banyak mete yang membusuk.  Demikian keterangan dari Bapak Haji Syukri, penduduk setempat yang bersedia menampung saya di rumahnya.  Kristina, anak perempuan Pak H. Syukri merelakan berbagi kasur dengan saya.

Air Terjun Mata Jitu di tengah hutan Pulau Moyo

Wisatawan yang datang ke Pulau Moyo ini biasanya datang dari arah Pantai Ai Bari yang berjarak kira-kira perjalanan 10-20 menit kearah utara Sumbawa Besar.  Mobil angkutan pedesaaan tujuan Ai Bari ini, biasanya ngetem di belakang pasar Sumbawa Besar, paling telat jam 12 siang.  Dari pantai Ai Bari, perjalanan dilanjutkan dengan menyebrang menggunakan speedboat kira-kira 15 menit.

Sewaktu di Sumbawa Besar saya bertanya-tanya tentang Pulau Moyo, seringkali orang yang ditanya balik bertanya “Moyo Hilir atau Moyo Hulu ??? “ .  Nahh…ternyata ada yang namanya Desa Moyo Hilir dan Desa Moyo Hulu, letaknya bukan di Pulau Moyo tapi masih di daratan
Sumbawa Besar.

Salah satu tujuan wisata di Pulau Moyo ini adalah Air Terjun Matajitu, jaraknya kira-kira 4 km dari Dermaga Labuan Aji, bisa ditempuh dengan berjalan kaki, atau memakai sepeda motor atau mobil 4-wheel-drive.  Kendaraan yang terakhir disebut biasanya dipakai oleh tamu-tamu dari Amanwana Resort, suatu resort bintang 5 yang super mewah di pulau ini.  Area yang boleh dikunjungi wisatawan selain tamu-tamu dari resort tersebut (terutama wisatawan lokal) terbatas hanya sampai air terjun terdekat, tidak boleh hingga ke hulu aliran sungai Matajitu, karena biasanya pengunjung lokal tidak disiplin dalam hal membuang sampah.  Pembatasan ini sudah merupakan kesepakatan antara penduduk lokal Pulau Moyo dengan pengelola Amanwana Resort.

Sekali lagi saya beruntung, karena bisa mencapai bagian hulu Sungai Matajitu yang airnya super jernih berwarna kehijauan.  Itupun karena menurut Pak Ismail yang mengantar saya, musim ini tidak terlalu banyak turis asing yang datang.  Tapi, kami juga tidak bisa berlama-lama
disini, tidak tenang rasanya, seperti numpang mandi di kamar mandi milik tetangga kaya, tanpa permisi dulu.

Air terjun lain yang biasa dipakai orang lokal untuk berekreasi adalah air terjun Brang Rea.  Letaknya tidak jauh dari dermaga Labuan Aji.
Disini ada permainan asyik yaitu atraksi bergelantungan di ujung tambang besar yang diikatkan ke cabang pohon besar diatas air terjun, lalu menceburkan diri seiring curahan air terjun.

Air terjun Brang Rea

Sumber air tawar di Pulau Moyo ini cukup melimpah, karena hutan-hutannya masih terawat, belum tergunduli keserakahan manusia.  Sumur di dekat dermaga saja, rasanya masih setawar yang dibagian tengah pulau.  Selain biji mete, penduduk juga biasanya menjual madu hutan, hasil
perburuan di dalam hutan lindung.  Pada musim-musim tertentu, penduduk biasanya berburu telur burung bertong yang ukurannya lebih besar dari burung itu sendiri.  Anehnya walaupun dikelilingi lautan, tapi penduduk yang bermata pencaharian sebagai nelayan tidaklah banyak, tidak seperti di tetangganya, Pulau Medang.  Jadi di Pulau Moyo ini, ikan laut lebih mahal dan susah dicari, biasanya diperdagangkan oleh penduduk Pulau Medang, seperti oleh Pak Haji Syukur yang perahunya saya tumpangi kemarin pagi.

Di Pulau Moyo ternyata terdapat pondok wisata milik Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).   Tapi kondisinya kurang terawat dan kosong melompong.  Letaknya tidak jauh dari Dermaga Labuan Aji, ditepi pantai menghadap matahari terbenam.

Atraksi utama Pulau Moyo tentu saja wisata bawah lautnya.  Saya dengan bermodalkan 7 liter bensin, dengan bantuan Pak Ismail dan Pak Syukri, berhasil meminjam perahu ketinting kecil untuk dipakai menyebrang ke Pulau Gosong yang saat itu terlihat samar-samar putih berkilauan di kejauhan.  Kalau laut sedang pasang, pulau ini tenggelam.   Saya dan Pak Ismail mulai melaut di siang hari yang terik ini.  Perahu kecil ini terangguk-angguk menerjang riak gelombang.   Satu jam kemudian kami sampai dipulau Gosong karang, yang merupakan
timbunan coral-coral yang telah mati.

Snorklingan di gosong karang sekitar Pulau Moyo

Pemandangan bawah lautnya memang jauh lebih mempesona dibandingkan dengan di Pulau Medang.  Saya sibuk snorkling ke sana ke mari di sekitar pulau.  Pak Slamet juga akhirnya terjun ke laut menemani saya, menjadi foto model bawah laut, bersaing dengan ikan-ikan dan terumbu karang yang cantik-cantik.  Apalagi kalau diving yaa…. pasti keindahannya tak terperikan .

Sore hari, saya ikut nimbrung bersama wanita-wanita kampung Labuan Aji bermain bola volley.  Awalnya tidak ada yang memperhatikan pendatang kecil seperti saya, tapi ketika saya berbicara , akhirnya ketahuan kalau saya adalah pendatang asing di kampung mereka.  Tapi mereka tetap ramah dan membaur tanpa membeda-bedakan, mungkin disangkanya saya adalah kerabatanya Pak Syukri karena saya datang bersama Kristina.  Obrol punya obrol, ternyata besok ada perahu yang akan menyebrang ke Badas (Sumbawa) karena banyak penduduk pulau yang akan berbelanja ke pasar Sumbawa Besar untuk persiapan Hari Raya Idul Adha lusa.  Jadi keesokan harinya, jam 7 pagi saya sudah duduk manis diatas perahu kayu berbekal goreng pisang hangat buatan Bu Syukri.

Rencananya, dari Sumbawa Besar nanti, saya akan menuju Kota Dompu.

Bersambung……………..

==============================

Pulau Medang sang tetangga yang terpinggirkan

Check Point 3 :  Pengembaraan Sumbawa – Sumba

Jujur saja, Pulau Medang sebetulnya tidak termasuk ke dalam itinerary pengembaraan saya kali ini.  Yahhhh…. malah bisa dibilang kalau saya tidak tahu dengan yang namanya Pulau Medang ini.  Maklum, nama pulau ini kalah jauh oleh pulau tetangga “Pulau Moyo” yang juga menjadi salah satu tujuan utama saya.

Nahhh….sewaktu saya sedang tanya-tanya kepada penduduk sekitar tentang perahu tumpangan untuk ke Pulau Moyo di Pelabuhan Mulut Kali (Kec. Badas, Kab. Sumbawa Barat), saya bertemu dengan seorang penduduk Pulau Medang yang bernama Bahar.   Cerita punya cerita, Mas Bahar ini berasal dari Desa Bugis, salah satu dari 2 desa yang ada di Pulau Medang.  Katanya, perahu tumpangan tujuan Pulau Moyo tidak tentu hari nya, tergantung banyak tidaknya penduduk yang akan pergi berbelanja ke pasar di Sumbawa Besar.   Akhirnya, saya diundang untuk berkunjung (bahkan menginap) di rumah orang tuanya. 

Pulau Medang adalah gugusan pulau kecil yang secara administratif berada di bawah pemerintahan Kecamatan Labuan Badas Sumbawa dan berada 27  km di bagian utara Pulau Sumbawa.  Luas  wilayah Pualu Medang mencapai 27,65 Km2 terdiri dari 2  desa yakni Desa Bajo Medang (8,65 Km2) dan Bugis Medang (19,0 Km2).  Luasnya hanya kira-kira 8% dari luas Pulau  Moyo, sang tetangga sudah “tenar” hingga mancanegara.

Waktu sudah menunjukan jam 11 lebih,  matahari garang menyinari laut dan daratan Pulau Sumbawa.  Ada 2 perahu hari itu yang akan berangkat menuju P Medang.  Penumpangnya, tentu saja para penduduk P Medang yang habis berbelanja di Pasar Kota Sumbawa Besar.  Saya sudah mencari posisi ternyaman di bagian samping perahu kayu yang cukup besar ini.  Ahhh….pasti enak sekali dininabobokan ombak sambil
dikipasi semilir angin laut, pikir saya yang masih dipenuhi pengalaman ber-offroad ke Desa Tepal.  Badan saya masih berasa ringsek tergonjang ganjing dalam jeep hardtop kemarin.

Bagian depan perahu nampak sudah penuh dengan barang belanjaan, parabola baru pun ada disana.  Bagian penumpang di bagi 2, di bagian dalam dan diatas.  Saya memilih di bagian atas,  karena lebih segar dan berpemandangan luas ke segala penjuru.  Tak ada kursi-kursi untuk duduk penumpang, yang ada hanya papan kayu datar dialasi tikar.  Ada  atap kayu menaungi kami dari teriknya matahari.

Penumpang yang kebanyakan ibu-ibu, sudah memenuhi lantai kayu ini.  Mereka duduk lesehan dan tiduran sambil ramai bersenda gurau dalam bahasa setempat yang tidak saya mengerti sedikitpun.  Saat saya nimbrung obrolan, maka ketahuanlah bahwa saya adalah “orang  asing”, dan seketika jadi objek pertanyaan-pertanyaan.  Salah satu dari ibu-ibu ini ternyata adalah istri Kepala Desa Bajo, beliau baru pulang belanja untuk keperluan acara sunatan massal dan periksa kesehatan gratis esok hari.   Ibu Kumala, demikian nama sang ibu Kades  ini, mengundang saya ke desanya, “nanti menginap saja dirumah saya, lihat acara sunatan massal besok, pasti ramai” begitu katanya.  Saya pun dengan segera meng-iya kan saja ajakan tersebut, sambil berpikir bagaimana caranya memberi alasan kepada Mas Bahar yang sudah terlebihdahulu mengundang saya.

Oh.., omong-omong… dimana Mas Bahar ini ya, dari tadi tidak kelihatan ???  Mungkin duduk di bagian bawah , demikian pikir saya.  Obrolan demi obrolan masih terus berlanjut.  Ibu Kumala tak henti-hentinya membicarakan Desa Bajo.  Katanya lautnya bagus, enak buat mandi-mandi, desanya lebih ramai dibandingkan Desa Medang, ibaratnya Desa Bajo ini “Surabaya” –nya Pulau Medang.

Hari sudah semakin terik, ibu-ibu penumpang perahu sudah semakin gelisah, anak-anak balita sudah banyak yang rewel, menangis tiada henti.  Sementara belum ada tanda-tanda sang perahu ini kapan akan mulai melaut.  Ahh…ternyata alasannya adalah karena lautnya masih surut.  Sang pasang lautlah yang menentukan kapan saatnya perahu melaut, bukan lagi jarum jam di pergelangan tangan dan angka-angkanya itu, seperti yang biasa menjadi pembatas atau ancang-ancang kapan memulai dan mengakhiri sesuatu.

Jika sebuah kapal mulai melaut dengan mendahului sang pasang laut, maka akan terdamparlah dia, seperti perahu kami ini.  Rupanya, karena terpropokasi ibu-ibu penumpang yang sudah gelisah, sang kapten kapal memutuskan untuk mulai melaut padahal laut masih surut,  akibatnya tak berapa jauh dari mulut muara, perahu pun kandas.  Baling-baling perahu menggerus lumpur laut dan menyemburkannya ke perairan sekitar hingga menjadi keruh penuh lumpur.  Awak perahu pun harus berjibaku meloncat ke laut dan mendorong sang perahu hingga arahnya berputar 180 derajat.  Jadi melautnya mundur…

Semakin ke tengah, laut semakin dalam tentu saja.  Perahu sudah melaut dengan normal kembali.  Ombak hampir tidak ada, membuat kantuk kami semua tak tertahankan lagi, para penumpang bergeletakan sekenanya di atas tikar.  Dari balik kelopak mata yang semakin menurun menahan kantuk, saya masih sempat melihat Tanjung Menangis yang merupakan salahsatu lokasi legenda Sumbawa.

Cerita tradisional Sumbawa “Tanjung Menangis”   merupakan cerita tentang seorang Sultan di Sumbawa yang menggelar sayembara  untuk menyembuhkan putrinya yang sakit akut. Sandro atau dukun dari berbagai  penjuru Tana Samawa berlomba, Eh, Sang Putri sembuh oleh sandro yang belakangan ditolak oleh si Sultan. Sang Sultan mangkir dari janjinya untuk  menikahkan putrinya dengan si penyembuh anaknya.

Pelabuhan Pulau Medang di Desa Bajo

Hampir 4 jam acara melaut dari Labuhan Mulut Kali ( Kec. Badas ) di pulau induk Sumbawa menuju Pulau Medang.  Yang pertama menarik perhatian adalah “kebun” rumput laut yang ditandai dengan bekas botol-botol air minum yang bertebaran di “halaman” laut sekitar pulau.  Sekilas tampak seperti sampah bertebaran.  Rupanya botol-botol bekas tersebut adalah berfungsi sebagai pelampung penanda “kebun” rumput laut yang ada di dasar laut dangkal.  Botol-botol itu terikat diatas tali tambang berpemberat.

Kira-kira jam 3 sore, perahu kami merapat di pelabuhan Desa Bugis untuk menurunkan penumpang beserta barang bawaanya masing-masing.   Saya celingukan mencari Mas Bahar tapi tidak menemukannya, mungkin dia tidak jadi pulang kampung, demikian pikir saya.  Di dermaga kayu Desa Bugis ini tampak beberapa penduduk yang rupanya datang untuk menjemput masing-masing kerabatnya.  Ada pula anak-anak yang sedang mandi-mandi bermain air di laut yang jernih, atau sedang bersampan-sampan ria menikmati sore yang cerah.

Dari dermaga Desa Bugis, perahu berlayar kembali menuju dermaga Desa Bajo.  Ahh..dan benar saja, Desa Bajo ini layak disebut sebagai “Surabaya”-nya Pulau Medang.   Rumah-rumah penduduk berderet cukup padat.  Kebanyakan masih berupa rumah panggung
bertiang tinggi.  Kolong rumah menjadi tempat terfavorit untuk ngadem disiang hari yang hampir selalu terik.  Tapi yang sudah rumah tembok tanpa kolong juga ada, seperti rumah Bapak Kepala Desa Bajo tempat saya menginap selama 2 malam ini.

Sebagaimana umumnya di pemukiman yang ada di sebuah pulau kecil, di Pulau Medang ini pun listrik  tidak menyala pada siang hari.   Sumber air untuk minum & MCK diperoleh dari air sumur, tapi hanya sumur-sumur tertentu saja yang airnya layak untuk dijadikan sebagai bahan pembuat air minum, yang lainnya berupa air payau yang hanya digunakan untuk MCK.  Ada beberapa tempat pemandian umum di Desa Bajo ini, terbuat dari tembok cukup tinggi tapi biasanya tanpa atap.  Beberapa diantaranya dibangun dengan bantuan dana Program PNPM Mandiri Perdesaan.

Jalan-jalan kecil alias gang terbuat dari tembok sudah dibangun melintasi kampung, tembus hingga ke Desa Bugis di bagian barat pulau.
Saya sempat tersesat di gang-gang ini sewaktu mencoba berjalan-jalan sendiri menelusuri kampung hingga ke pantai timur yang jaraknya bersebrangan dengan dermaga.  Pantai timur ini lebih landai dan lautnya pun jauh lebih teduh.  Disekitar pantai hampir tidak ada rumah, hanya saung-saung kecil tempat nelayan-nelayan menyimpan peralatan melautnya.

Saya ke sini setiap pagi untuk mengejar “sunrise”.  Tapi sayangnya, pantai ini juga biasa dijadikan orang kampung sebagai WC umum , terutama di pagi hari.  Yahhh….agak-agak tidak enak juga saya kepada orang-orang kampung yang akan buang hajat tapi terganggu oleh saya yang asyik foto sana foto sini :-p

Sunrise di pantai timur Pulau Medang

Kegiatan wisata, rupanya sama sekali bukan prioritas warga pulau ini.  Tidak ada satupun sarana wisata, seperti penginapan dan restoran.   Warung makan hanya ada satu saja, itupun sebatas nasi uduk untuk sarapan.  Warung-warung jajanan sihh banyak, begitupun toko-toko penyedia peralatan dasar rumah tangga.

Malam hari menjadi bagian hari yang disibukkan dengan : men-charge HP, MP3 player, laptop, memompa air, membuat es batu, menyetel vcd/dvd player, radio dan menonton sinetron di televisi.  Karena seperti halnya di pulau-pulau kecil pada umumnya, lisstrik hanya menyala pada malam hari.

Malam ini, di rumah Bapak Kepala Desa Bajo ada banyak kegiatan untuk menyambut acara Sabtu besok.  Saya pun turut membantu sebisanya.
Begitupun pagi esoknya.  Ibu-ibu mulai berkumpul di pekarangan belakang rumah Bu Kades, yang dijadikan sebagai dapur umum.  Menunya tentu saja sea food, yang paling saya nantikan adalah ikan bakar bumbu sepat.  Saya sudah tak sabar untuk ikut belajar membuatnya dan tentu saja mencicipinya.  Ada banyak sekali ikan yang dibakar, harumnya memenuhi seantero kampung.

Bu Kades dkk yang sedang menikmati ikan bakar bumbu sepat yang asam sepat segar

Ikan bakar bumbu sepat merupakan olahan ikan yang dibakar kemudian diberi kuah bercita rasa pedas, asam dan sedikit sepet. Ciri khas dari kuah sepat adalah membakar semua bumbunya yang terdiri dari kemiri, cabe rawit, bawang, dan terung.  Bahan khas lainnya adalah daun aru yang berbentuk kecil-kecil dan rasanya sepat.  Rasa asam bisa diperoleh dengan menambahkan asam sumbawa dan jeruk nipis yang kasar, atau bisa menggunakan cacahan mangga mengkal dan daging jambu mete.  Setelah semua bumbu dibakar kemudian dihaluskan dan diberi air, ikan yang sudah dibakar dicampurkan dalam kuah. Rasa asam dan pedas yang kuat menggoyang lidah.   Hmmm….. segar sekali.  Tamu-tamu
dari Dinas Kesehatan Kecamatan Badas penyelenggara event ini , sangat antusias menghabiskan semua hidangan makan siang yang lezat ini.

Para pengantin sunat di acara khitanan massal (Pulau Medang)

Saya bersyukur sekali karena diberi kesempatan menyaksikan ritual budaya keagamaan berupa khitanan ini.  Para anak lelaki yang menjadi pengantin khitan ini didandani kostum ala padang pasir Arab Saudi.  Nuansa Islami memang terasa sangat kental.  Acara diawali dengan pengajian oleh bapak-bapak, dilanjutkan dengan pemberian “amplop”.  Setiap orang yang memberikan amplop, harus mengoleskan “pacar” arab ke telapak tangan para pengantin khitan.  Acara kemudian dilanjutkan dengan makan bersama.  Malamnya ada hiburan dangdut di halaman bale desa.  Orang-orang sini menyebutnya hiburan “Electon” sesuai merek alat musik organ yang mengiringi lagu-lagu dangdut.  Kalau di tanah Jawa biasanya disebut sebagai hiburan organ tunggal.

Saya penasaran dengan pemandangan bawah laut di sekitar Pulau Medang ini.  Untunglah ada Mas Bahar (yang ternyata berangkat dengan perahu yang kedua) yang mau menemani saya keliling pulau hingga ke bagian terbarat dan snorkling di sekitar pulau.  Tidak ada orang selain saya yang bermain di laut sore itu, orang sini mungkin sudah bosan dengan laut.  Pemandangan bawah lautnya tidak terlalu menarik.  Mungkin karena berada di spot yang kurang tepat.  Masyarakat Pulau Medang ini memang belum menggarap potensi wisata bahari yang mereka miliki,
hampir setiap orang yang saya tanyai tidak paham dimana spot snorkling terbaik di sini.  Sayang sekali…:(

Esok hari saya sudah akan meninggalkan Pulau Medang ini, saya akan ke Pulau Moyo.  Rencananya saya akan ikut menumpang di perahunya Pak H. Syukur yang biasa pulang pergi dari dan ke Pulau Moyo untuk berdagang.

Bersambung………………..

==================================================================================================

Pantai Maluk yang sedang setenang Kolam Renang

Catatan Pengembaraan Sumbawa – Sumba Check Point 1 : 

Pantai Maluk yang saya bayangkan adalah pantai dengan ombaknya yang bergelora, karena pantai ini merupakan salah satu spot berselancar di Pulau Sumbawa.  Makanya saya begitu takjub dengan ketenangannya di sore hari yang mendung ini.  Ombaknya betul-betul tidak ada.  Anak-anak kecil setempat tampak asyik bermain air tanpa rasa takut terbawa arus ombak.  Ada pula yang sedang asyik bersnorkle (mungkin pendatang seperti saya).  Penduduk lainnya asyik memancing.  Tapi masih ada saja yang coba-coba mencari ombak sambil membawa body boardnya, tapi tentu saja tanpa hasil.

Entah lari kemana ombak-ombak yang biasanya menggelora itu sore ini.  Mungkin saling berkumpul di pusat badai nun jauh di samudra sana, yang dinaungi langit ber-awan badai hitam pekat.  Rintik hujan tadi sempat mewarnai senja kelabu tapi lalu awan-awan badai itu menyibak, memberi kesempatan kepada sang matahari senja untuk menerangi bukit-bukit hijau yang membentengi Pantai Maluk, membuatnya seperti berwarna keemasan.  Dan keajaiban lain muncul dibelakang saya, ada pelangi setengah lingkaran menghiasi langit Kota Maluk.

Ini adalah hari ke-2 saya di Pulau Sumbawa.  Hari pertama saya habiskan disekitar kota Sumbawa dengan diantar oleh seorang kawan.  Sempat pergi mencari Desa Pemenang untuk menonton acara barapan kebo yang terkenal itu.  Juga sempat mencari pelabuhan penyebrangan ke Pulau Moyo, yang ternyata susah juga dicarinya (terutama oleh pendatang seperti kami ini).  Tak lupa juga mencicipi kuliner khas Sumbawa : ikan singang yang gurih kuahnya dan kangkung pelecing yang aduhai pedasnya.  Tadinya saya juga ingin bertualang di tempat penambangan emas liar yang baru-baru ini ditemukan dan telah menarik banyak pemburu emas dari seantero negri.  Para pemburu emas itu telah membuat penginapan dan hotel-hotel di Sumbawa selalu full-booked akhir-akhir ini.  Ada banyak cerita romantika kejayaan dan kekejaman yang menyertai perburuan emas liar ini.  Seperti dalam cerita “Winetou” karya Dr. Karl May yang termashur itu.

Sepertinya saya telah salah menentukan itinerary dan tidak seharusnya saya menolak kebaikan yang disodorkan oleh Saeful, penduduk Kota Taliwang yang saya temui di Bis Denpasar – Dompu yang sama-sama kami tumpangi.  Sebenarnya dia dan kakak perempuannya sudah menawari saya untuk sama-sama turun di Mataram, mampir ke rumah sang kakak dahulu, baru kemudian berangkat ke rumah orangtua mereka di Kota Taliwang (Sumbawa Barat).  Tapi karena saya sayang dengan ongkos tujuan Sumbawa Besar yang sudah terlanjur saya bayar dan tidak enak hati dengan teman yang akan saya temui di sana, maka saya terpaksa harus menolak kebaikan hati mereka.  Alhasil saya seperti hilir mudik ke barat ke timur jadinya, dan jadi double pengeluaran.

Saya terpaksa menginap semalam di Maluk karena masalah transportasi.  Mungkin saya masih terbawa suasana tanah Jawa, dimana sarana angkutan umum banyak tersedia dan murah, padahal sudah sering sekali saya melakukan perjalanan ke pelosok-pelosok yang susah angkutan umum (bahkan di tanah Jawa sekalipun).  Dan ternyata, angkutan umum ke Pantai Maluk ini hanya 2 kali sehari, pagi dan siang.  Itupun bukan dari Sumbawa Besar melainkan dari Kota Taliwang, Ibukota Kabupaten Baru : Sumbawa Barat.   Dari Sumbawa Besar ke Taliwang sendiri ada 3 kali angkutan per hari.  Saya naik yang kedua, berangkat jam 8 pagi.

Saat melewati Pelabuhan Poto Tano, saya tercengang dengan lansekap yang menakjubkan, maklum tadi malam saya melewatinya jam 2 pagi jadi tidak terlihat apa-apa.  Bukit-bukit kecil yang menghiasi bagian barat Poto Tano ini begitu menggoda untuk didaki.  Bisa dibayangkan keindahan lanskap yang terhampar saat sang surya mulai muncul di awal hari.  Selewatnya Poto Tano, jalanan mulai meliuk-liuk melipir bukit yang membentengi Taliwang dan sekitarnya dari Selat Lombok.

Kota Taliwang sendiri, hmmm… udaranya panas dan lembab karena sepertinya udara dari laut terhalangi bukit-bukit itu sehingga tidak bisa sampai ke kota.  Kota ini memang baru dibangun.  Kompleks terminal sekaligus pertokoan nya tampak lengang dan gersang, hanya 1 atau 2 toko saja yang buka.  Saya berganti kendaraan disini, dari bis kecil berganti ke elf pengap.  Semakin ke luar kota , jalanan semakin berliku, pemukiman penduduk semakin jarang,  bahkan melewati bibir jurang di tepi hutan yang cukup lebat.

Gerbang masuk ke Kota kecil Maluk, ditandai dengan Pelabuhan milik PT Newmont.  Ya, kota ini memang berkembang karena adanya PT Newmont ini.  Dijadikan sebagai tempat tinggal sementara bagi para karyawan pendatang, dan dijadikan kota tempat dibangunnya kantor-kantor perwakilan dari perusahaan-perusahaan kecil penyokong si raksasa Newmont.  Si Raksasa ini memiliki ijin untuk meyedot kekayaan emas dari dalam bumi Sumbawa, meninggalkan bekas galian tambang yang tak bisa ditanami, hutan gundul, limbah logam berat, dan kemiskinan yang masih tetap menjadi milik penduduk pribumi Sumbawa.

Pantai Wisata Maluk sudah lengkap dibangun infrastruktur untuk wisatawan.  Restoran, penginapan, hotel bintang 3, pub atau diskotik juga ada.  Kalau hari libur, tempat ini ramai dengan pengunjung.  Masakan khas Sumbawa seperti sayur ikan singang, kangkung plecing, ikan bakar, bisa dicicipi di sini.   Biasanya ombak di Pantai Maluk ini memang tinggi seperti ombak-ombak pantai selatan di Indonesia pada umumnya.  Jadi biasanya banyak peselancar yang datang.  Selain Pantai Maluk, ada juga Pantai Sekongkang yang juga spot selancar.  Akses ke sana dari Maluk sini hanya 2 kali sehari, yaitu jam 5:30 pagi dan jam 12 siang.  Bila mau, bisa juga mencarter ojek tapi biayanya mahal, karena kondisi jalannya masih sangat jelek.

Saya tak bisa berlama-lama disini.   “I had an elf to catch…!!!” nanti kalau sampai ketinggalan angkutan, bisa berabe !!!

=======================