Waisak Trip: Dari Candi ke Candi, dari Merapi ke Merapi

Tak ada satupun dari kami berlima yang beragama Budha, tapi kami tertarik untuk menyaksikan Prosesi Peringatan Hari Raya Waisak tahun itu, di Kawasan Candi Borobudur (Magelang, Jawa Tengah). Ketertarikan kami karena hobby fotograpi dan tentu saja budaya. Geli juga sewaktu ingat expresi Panitia Waisak saat teman saya yang berjilbab mendatanginya untuk meminta pass-card agar bisa memasuki area Peringatan Waisak yang dijaga superketat karena akan kedatangan Presiden RI. Si Mbak-mbak Panitia mengamati teman saya itu dari bawah ke atas, menatap jilbabnya agak lama lalu membaca ulang “Agama” yang tercantum pada KTP nya, tidak yakin dengan alasan-alasan yang kami ajukan tapi akhirnya bersedia memberikan 5 pass-card (undangan) untuk kami semua.

====================

Ehh Mendut lagi Mendut lagi

Kereta-bis-angkot-andong, semua alat transportasi darat itu kami gunakan hingga sampai di Kawasan Borodudur (Magelang).  Bahkan bajay dan ojek juga sewaktu kami, terburu-buru berangkat dari kantor masing-masing agar bisa sampai di Stasiun Senen sebelum keberangkatan kereta malam Sawung Galih Executive, yang dijadwalkan  berangkat jam 7 malam dan tiba di Stasiun Kutoarjo (Magelang) sekitar jam 4 subuh keesokan harinya.

Kehebohan perjalanan sebenarnya sudah terjadi sejak kira-kira sebulan sebelum keberangkatan.  Seperti biasa ketika akan jalan-jalan bareng, kami sudah heboh dengan berbagai macam urusan tetek bengek perjalanan, misalnya mau naik apa, siapa yang akan beli tiketnya secara kolektif, mau kemana saja selama disana, mau menginap dimana, dan tentunya jurus-jurus mengurus pengajuan cuti supaya disetujui ^_^

Perjalanan darat yang panjang dan melelahkan tapi tidak menurunkan semangat kami, sehingga setelah mendapatkan penginapan, kami langsung berangkat ke Borobudur untuk mencari Panitia Waisak guna meminta pass-card (undangan), karena tanpa itu, kami dan siapapun tidak akan diperbolehkan masuk ke area utama Prosesi Waisak.

Gara-gara kejadian naik andong disini, saya selalu geli setiap kali melihat andong.

Kami yang sama sekali buta dengan jarak dan lokasi area seputar Borobudur (terakhir saya ke Borobudur adalah waktu di SD, sudah sangat lama sekali), mau saja beberapa kali dibodohi oleh Mamang Andong, hingga harus duduk berdesakan di atas andong yang sangat sempit, hingga kaki kram, pantat pegal, punggung linu, padahal ternyata jarak dari penginapan ke Borobudur tidak sejauh seperti yang digambarkan Mamang Andong, hanya kira-kira 500 m.

Sekali dibodohi, ternyata belum mampu membuat kami jadi lebih pintar..!!!  Karena sekali lagi kami kembali harus merasakan kaki kram – pantat pegal – punggung linu, gara-gara duduk berdesakan dalam andong dari Borobudur ke Mendut yang ternyata jaraknya sangat jauh, tidak sedekat seperti yang dijelaskan orang-orang, kurang lebih 2,5 km.

Kami merasa lebih bodoh lagi karena ternyata, Candi Mendut itu lokasinya sangat strategis, dan dilewati oleh bis-bis hampir semua jurusan.  Dongkol karena merasa dibodohi waktu itu, sekarang menjadi memory aneh ajaib bin menggelikan buat kami berlima.

Kami bolak-balik Borobudur-Mendut ini karena urusan si pass-card itu, yang ternyata panitianya bermarkas bukan di Borobudur melainkan di Mendut.

Candi Mendut bentuknya mengkerucut, seperti candi Prambanan, merupakan salahsatu candi yang disucikan umat Budha.  Disana terdapat 3 arca besar-besar, yang “menghuni” bilik-bilik batu didalam candi, Arca Dyani Budha Cakyamuni atau Vairocana, Arca Budha Avalokitesvara atau Lokesvara, dan Arca Bodhisatva Vajrapani.  Relief-relief yang ada disini katanya menggambarkan ajaran hukum sebab akibat berupa cerita fabel (cerita yang diperankan oleh binatang-binatang), misalnya cerita si kera yang ditipu burung bangau dengan cara berpura-pura menyelamatkannya dari bahaya, lalu cerita tentang si buaya yang pura-pura berbaik hati menolong si kera menyebrang sungai tapi si kera berhasil menipu si buaya, dll.

Sebagian Upacara Prosesi Waisak juga diselenggarakan di sini, seperti acara malam itu yang dihadiri oleh banyak sekali biksu berbalut kain warna warni yang membuat saya melongo keheranan.  Saya tadinya berpikir bahwa warna baju para biksu di dunia ini sama, yaitu oranye, seperti yang sering saya lihat di film-film dan di foto-foto, ternyata warnanya bermacam-macam.  Kata ibu-ibu di samping saya yang tiba-tiba menjawab pertanyaan keheranan saya, katanya itu sesuai dengan “aliran” nya.  Yahh…pokonya seperti itulah… Yang jelas semua biksu dan biksuni itu kepalanya gundul plontos.  Dan ya, mereka mengikuti perkembangan jaman dan teknologi, banyak dari mereka yang memakai ponsel canggih dan kacamata hitam bermerek.

Sebuah arca Budha besar berwarna kuning berkilauan menjadi pusat acara malam itu, dikelilingi oleh hiasan janur-janur kuning beraneka bentuk dan lilin-lilin dimana-mana.  Katanya itu adalah upacara pensakralan api suci, atau entah apa karena saya tidak begitu memperhatikan.  Saya malah takjub melihat tingkah polah biksu-biksu dan biksuni-biksuni, kain jubahnya, tasnya, sepatunya yang seperti sepatu pendekar bertali temali.  Warna-warni keemasan dimana-mana.

Sayangnya saya tidak ikut menyaksikan acara Larung Api Suci di Kali Progo, gara-gara masuk angin parah L

Merapi dari Ketep

Sebagai selingan sambil menunggu acara Waisak, kami mengagendakan untuk pergi ke gardu pandang Gunung Merapi di Ketep.  Kembali merasa sebagai turis bodoh, karena dari Mendut tadi  kami memutuskan untuk kembali ke terminal dulu, sebelum naik jurusan Muntilan yang ternyata juga melewati Mendut.  Dari Terminal Muntilan lanjut lagi dengan bis ke Telatar, dan masih harus naik angkot lagi hingga ke Ketep Pas.

Kami semua (kecuali saya) yang bekerja di Jakarta yang hiruk pikuk dan tergesa-gesa untuk hal apapun, merasa geli dan sekaligus kesal dengan sikap santai para penumpang yang akan turun dan naik ke dalam kendaraan yang sama sekali tidak terburu-buru.  Tidak seperti kebiasaan kami di Ibukota yang bahkan akan berlari-lari mengejar bis kota penuh sesak dan melompat tanpa menunggu si bis berhenti dulu, karena kalau tidak begitu kami akan dimaki-maki kernet dan supir bis beserta seluruh penumpang yang berdesakan seperti ikan asin itu.

Lama-lama kami akan hanya saling melirik dan menyeringai geli tiap kali ada penumpang yang sudah berteriak “kiriii…” tapi dia masih tetap saja duduk manis di dalam bis tanpa tanda-tanda akan turun segera, atau ketika melihat seorang bapak-bapak menyetop bis sambil tetap duduk nyaman di pinggir jalan lalu dengan santai berdiri membenahi barang bawaannya kemudian masih sempat mengobrol dengan sejawatnya sebelum akhirnya naik ke dalam bis yang sudah menunggu cukup lama.

Kami kurang beruntung di Ketep, tidak bisa melihat pemandangan indah menakjubkan ke arah Merapi karena hujan rintik dan kabut, jadi kami hanya menikmati udara dingin sambil mencicipi mendoan hangat dan wedang jahe.

Expresi Derita Sang Biksuni

Seharian itu, sedari pagi, kami di Kawasan Candi Borobudur, tidak berani keluar-keluar karena takut kelewatan suatu acara dan takut tidak diperbolehkan masuk lagi saking ketatnya penjagaan di wailayah acara Prosesi utama yang akan dihadiri Presiden.

Jadi sejak pagi kami sudah wara-wiri di sekitar candi, naik-naik ke atas candi, mengekor rombongan penganut Budha yang sedang beribadah mengelilingi candi dari atas kebawah sambil membawa segala macam atribut keagamaan seperti lonceng yang berdentang-dentang, hio yang mengepulkan asap dupa, taburan bunga-bunga, tasbih besar-besar, dan lantunan doa-doa.  Keringat bercucuran di kening dan leher sang Biksu pemimpin do’a,  batu-batu candi seperti memancarkan halogen serupa kaca karena teriknya matahari.  Panas sekali….

Di bawah sana, di halaman candi sudah disiapkan area untuk prossesi selanjutnya.  Saya yang kecapean dan kepanasan di atas candi tadi, duduk menggelosor di bawah pohon kelapa, menonton berbagai persiapan di arena itu.  Sementara kedua teman saya masih bersemangat mengejar-ngejar rombongan iring-iringan pawai yang kabarnya baru memasuki Area Borobudur dari Mendut sana.  Dua teman lainnya masih diluar Magelang, karena mereka memutuskan untuk berkunjung ke Dieng (Wonosobo) yang cukup jauh jaraknya dari sini.

Seperti biasa, sebuah arca Budha besar berwarna kuning keemasan berada di pusat altar, di bagian depan arena.  Dihiasi dengan berbagai hiasan janur, bunga-bunga, buah-buahan, lilin-lilin dan dupa.  Dilapangan didepannya terhampar terpal plastik.  Alas duduk berbentuk segiempat berukuran sekitar 40 cm x 40 cm , terbuat dari busa dilapisi karet, di letakan berderet-deret.  Ada gang di tengah arena, yang membagi dua arena, membentang dari pintu masuknya di bagian timur hingga ke altar Sang Budha di bagian barat.

Orang-orang mulai berkerumun, para fotograper mulai mencari lokasi strategis untuk dapat mengambil momen-momen istimewa.  Saya duduk mendeplok dirumput, tepat ditepi arena yang dibatasi tali rapia, berlindung dari teriknya matahari dibawah bayang-bayang seorang fotograper (sepertinya sesorang yang kawakan kalau melihat peralatannya).

Rombongan para biksu dan biksuni datang, berbaris rapi, kepanasan bercucuran keringat.  Satu per satu mereka menempati alas-alas duduk yang tadi telah disiapkan.  Biksuni-biksuni berbalut kain warna coklat tua,  duduk berderet-deret di depan saya.  Saya menghadap mereka, mereka menghadap altar Sang Budha.

Fotograper-fotograper berseliweran kesana kemari.  Risi juga melihat mereka, yang sepertinya tanpa sungkan bergerombol depan altar sang Budha yang bagi umatnya adalah suci.

Upacara dimulai dengan serangkaian lantunan do’a-do’a dan ritual-ritual.  Terik matahari jam 2 siang menyorot langsung pada arena, pada muka-muka para biksu dan biksuni.  Tiba-tiba seorang biksuni yang tepat berdiri dihadapan saya terkulai jatuh…, dia pingsan !!!  Mengagetkna kami semua..!!!  Tapi yang lebih mengagetkan lagi adalah tingkah para fotograper yang berkerumun berdesakan disekitarnya guna mendapatkan foto istimewa berupa : EXPRESI DERITA SANG BIKSUNI.  Untunglah mereka berhasil diusir oleh beberapa biksu yang berusaha menolong.

Cepat-cepat saya mengeluarkan minyak Kayu Putih untuk di berikan pada temannya si biksuni yang pingsan itu.  Tidak lama kemudian sang biksuni sadar lagi dah dipapah ke tempat yang lebih teduh.  Matahari memang sangat terik, membuat kepala nyut-nyutan dan berkunang-kunang.

Acara puncak Peringatan Hari Raya Waisak dimulai kira-kira jam 7 malam.  Sedan mercy hitam RI-1 terparkir angkuh dijaga 2 orang Paspampres bersenjata laras panjang.  Yang mengusir semua orang dari area radius 2 meter dari mobil.  Saya bercuek-cuek mengobrol dengan salah satu pasukan Paspampres lain yang sedang agak rileks tepat didepan hidung mobil sedan.  Makan jajanan ini itu yang berhasil dibeli melalui celah pagar area Candi Borobudur karena tidak bisa lagi keluar masuk area sesuka hati.

Ada pementasan macam-macam drama musical tentang Sang Budha, tidak hanya dari Indonesia, tetapi juga dari negara-negara ASEAN lainnya.  Saya mengintip layar lebar yang menampilkan setiap acara, memanjang-manjangkan leher berusaha melihat lebih jelas, bersama ratusan rakyat jelata lainnya yang tidak termasuk dalam daftar undangan tamu yang duduk-duduk disana itu.

Merasa bosan dengan acara-acara tersebut, kami keluyuran di halaman sekitar Candi Borobudur.  Stupa teratas candi berpendar disoroti lampu berwarna putih.  Kok mirip es krim ya..???, pikir saya.

Candi dan Merapi

Saya rasa kedua hal itu yang akan selalu menjadi “benang merah” untuk Yogyakarta.

Entah berapa banyak candi-candi yang ada di seputar Yogyakarta.  Peradaban Nusantara Kuno sepertinya memang berpusat di sini.  Candi-candi, mereka adalah perpustakaan raksasa untuk budaya dan peradaban manusia Nusantara.

Jadi, seperti lajimnya wisatawan yang datang ke Yogyakarta, kami mengunjungi candi demi candi, Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Prambanan, Candi Ratu Boko, dan candi-candi lainnya dalam kompleks percandian yang lebih kecil.

Luar biasa sekali nenek moyang orang-orang Nusantara ini.  Andai saja ada sesuatu “kekuatan”, seperti di film-film dan buku-buku fiksi, yang bisa membawa saya kembali ke masa-masa kejayaan kerajaan-kerajaan besar Nusantara seperti Kerajaan Majapahit misalnya….

Lalu ada Gunung Merapi yang selalu aktif dan Mbah Maridjan (waktu itu beliau masih hidup), sang kuncen yang teguh menjaga Sang Gunung, apapun yang terjadi.  Saya rasa, kita semua kagum dengan keteguhan hati Sang Kuncen bersahaja itu.  Maka dari itu, kami memutuskan untuk “sowan” ke rumah Mbah Terkenal itu juga, mumpung kami ada di Yogya.

Kami mendaki Bukit Kali Urang hingga tembus ke Kali Kuning, sungai yang batu-batuannya berupa batu-batu lava berwarna kuning yang terbawa arus lahar panas sewaktu erupsi beberapa tahun lalu.  Cukup menguras tenaga juga acara trekking rute Kaliurang-Kalikuning ini.  Mengundang keluhan dan umpatan dari teman-teman saya yang tidak terlalu trekking-trekking blasak-blusuk seperti saya, apalagi ketika kami bertemu dengan jalan aspal mulus setelah Kali kuning.

Tujuan kami sebenarnya adalah Kaliadem, suatu kawasan yang dulunya adalah kawasan wisata, tapi kemudian hancur lebur diterjang lahar dan awan panas, memporak-porandakan segalanya, memakan korban harta benda dan nyawa.

Kami melewati rumahnya si Mbah yang sepertinya sedang sibuk menerima tamu-tamu kalau dilihat dengan banyaknya mobil yang diparkir di pinggir jalan tadi.  Lalu melewati padang rumput, dan sampailah ke kawasan Kaliadem yang sudah porak poranda diterjang lahar dan awan panas, yang tersisa hanya berupa puing-puing bangunan yang terkubur dalam lahar yang kini sudah mendingin dan mengeras.  Dan ada bungker maut yang telah memerangkap dua orang relawan Tim SAR ketika awan panas “wedus gembel” bersuhu hampir 100 derajat celcius datang melintas.

Dalam kengerian puing-puing kehancuran bencana Merapi, ternyata kami memperoleh pemandangan matahari sore di balik Gunung Merapi yang spektakuler.  Siluet remaja-remaja yang sedang menghabiskan sore disana menjadi objek menarik untuk difoto.

Wisata religi, budaya, kuliner, petualangan, hingga wisata bencana sudah mewarnai 5 hari kami wara-wiri di Yogya.  Tiba saatnya kami pamit dan kembali ke kehidupan rutin masing-masing.

====================================

Thanks to: Rey, Wied, Devi n Dini for our wonderfull time together

Salah satu kontestan pemenang dalam lomba adventure journal   http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/waisak-trip-dari-candi-ke-candi-dari-merapi-ke-merapi/   Oleh : Dian Sundari

Advertisements

Sumedang : Curug Pongkor Dibalik Punggung Cadas Pangeran

Curug ini benar-benar belum terekspose, tersembunyi di sebuah ceruk tebing batu cadas yang menjulang tinggi. Didepannya terhampar pesawahan hijau berundak-undak. Curugnya juga hanya satu saja, tidak besar tapi tinggi, seakan-akan tercurah keluar begitu saja dari dalam tebing batu cadas. Di atas tebing batu cadas adalah hutan Gunung Tugu yang dihuni monyet-monyet kecil.

==========

01-Januari-2010

Curug Pongkor terletak di Desa Ciherang (Sumedang Selatan), di rute Jalan Cadas Pangeran yang menghubungkan Bandung dengan Sumedang.

Tak ada jalan tembok atau sekedar jalan setapak berbatu yang memang dikhususkan untuk menuju ke sana. Yang ada hanyalah jalan setapak yang biasa dipakai penduduk untuk pergi ke sawah dan ladang mereka. Dan pematang sawah, serta harus pula melewati saluran air kecil dengan airnya yang dingin.  Dua kali kami berpapasan dengan ular sawah yang sama-sama kaget. Lumpur sudah melumuri kaki kami, dan betis sudah perih tergores-gores duri sang putri malu dan daun eurih yang setajam silet baru.

Bukan tempat “wisata”, mungkin cuma sekadar tempat bagi penduduk setempat untuk “botram” istilah orang Sunda untuk acara makan-makan di lingkungan alam terbuka.

Bahkan tak ada saung sawah, cuma ada bekas perapian dari batu , bekas seseorang membuat nasi liwet dan ayam bakar atau ikan bakar mungkin. Hmmmm….  Terbayang asyiknya berkemping ria di alam hijau ini.  Dan malamnya diisi dengan menyalakan api unggun serta menikmati makan malam bikinan sendiri.  Alangkah nikmatnya memakan ikan nila bakar, ikan asin bakar, sambal mentahan, dan lalapan serta kerupuk kampung  !!!

Penasaran ingin ke sana ?? Kalau kalian menuju Sumedang dari arah Bandung, setelah melewati Jalan Cadas Pangeran, turunlah di dekat pompa bensin sebelum gerbang “Selamat Datang Sumedang Kota”. Di sebelah kiri ada jalan beton menanjak menuju ke sebuah kampung. Ikuti lah jalan itu dan bertanyalah kepada penduduk setempat atau lebih baik minta diantar saja , karena tidak ada penanda jalan apapun untuk menuju ke sana.

=======

Thanks to my partner in crime : Ateng & Mbak Dewi

Salah satu kontestan pemenang dalam lomba adventure journal   http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/sumedang-curug-pongkor-dibalik-punggung-cadas-pangeran/  Oleh : Dian Sundari

Gunung Gede: Nasi Uduk Surken

Luar biasa memang perjuangan manusia untuk tetap bertahan hidup. Berdagang nasi uduk dan gorengan hingga hingga ke Puncak Gunung Gede pun dilakoni. Mendaki gunung untuk mereka bukan hanya sekedar bertualang di alam bebas, melainkan untuk HIDUP.

Para pejuang kehidupan itu tidak gentar dengan terjalnya jalur pendakian Gunung Putri.  Saya yakin sekali, mereka itu bisa mengalahkan pendaki-pendaki kawakan.  Para pejuang kehidupan itu juga sekaligus menjadi seseorang yang menampar “kecemenan” pendaki gadungan, yang setiap 5 langkah harus berhenti dan beristirahat sambil terus bertanya “masih jauh kah ???”.  Para pejuang kehidupan itu juga menjadi dewa penolong pendaki-pendaki cemen seperti kami, yang hampir saban weekend mencoba kekuatan diri merambah sang gunung.

=========

Mei-2009

Jalur Mendaki Tiada Henti di Gunung Putri

Coba saja, setiap weekend (misalnya Jumat malam) kalau Anda kebetulan sedang berada di Terminal Kampung Rambutan, lalu melihat segerombolan atau beberapa gerombolan anak-anak muda (cewek-cowok) dengan backpack besar di punggung, kebanyakan dari mereka pasti akan mendaki Gunung Gede Pangrango, atau tetangganya, Gunung Salak.  Dandananan mereka serupa : kaos oblong, celana kargo (pendek ataupun panjang), bandana atau topi atau kupluk, sepatu atau sendal gunung.  Langkah mereka santai tapi pasti (entah cuma gaya atau memang benar-benar tau pasti arah hidupnya).  Biasanya ramai sendiri dengan kelompoknya, seakan-akan Terminal Kampung Rambutan itu, dan dunia disekitarnya, adalah miliknya.  Kalau kebetulan sedang sepi penumpang, mereka akan jadi rebutan para kernet-sopir bis-bis yang akan melewati Puncak (Cipanas-Cianjur), kalau sedang ramai penumpang, mereka tidak akan dilirik, karena bawaannya yang besar-besar memenuhi bagasi, dan karena tujuan jarak dekat, yang artinya ongkosnya cekak….!!!!

Saya setiap kali melihat mereka dan sedang tidak memiliki rencana naik gunung manapun, selalu merasa iri…., sekaligus teringat dengan pengalaman serupa beberapa tahun yang lalu, ketika bersama 16 orang lainnya bertujuan sama dengan mereka, yaitu mendaki Gunung Gede.  Bis yang kami naiki seketika penuh ketika kami naik dan seketika pula kosong ketika kami semua turun di pertigaan Cibodas-Cimacan (Kab. Cianjur).  Hujan rintik-rintik dan udara dingin pegunungan  menyambut kami.  Dari sana kami mencarter angkot menuju ke Gunung Putri.  Malam sudah sangat larut, sudah hampir jam 12 malam.

Kami memulai pendakian sekitar jam 2 dini hari.  Saya tentu saja menyewa porter untuk membawa barang bawaan saya yang untuk pendaki laki-laki sihh.. tidak seberapa.  Yahhh…hitung-hitung berbagi rejeki dengan orang lain tohhh..???  Mereka mendapat tambahan pendapatan, dan saya bisa melenggang bersama daypack kecil.

Hujan rintik-rintik menemani awal pendakian kami.  Siluet sinar head-lamp dan lampu senter genggam, berkelebatan menyapu jalur pendakian dan ladang sayuran milik penduduk setempat.  Selepas itu, kami memasuki jalur menanjak dalam hutan hujan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang lebat.  Bebatuan dan akar pepohonan bertaburan dimana-mana. Uap-uap napas yang ngos-ngosan tersapu angin gunung yang dingin.

Jalur menanjak terus menghajar kami tanpa ampun.  Gerombolan menjadi terpisah-pisah sesuai dengan kecepatan langkahnya masing-masing, tapi tidak pernah sendirian, TIDAK BOLEH SENDIRIAN.  Badan saya yang lagi “enak” dan sudah ketemu ritme langkah yang juga “enak”, dan yang digembol juga yang enak-enak, menjadikan saya ada di kelompok depan.

Semburat cahaya fajar tidak mampu menembus pekatnya kabut.  Hanya bayang-bayang pohon samar-samar mulai jelas dilatari putihnya kabut pagi.  Kira-kira jam 7 pagi kami baru sampai di POS-4, beristirahat sejenak disana, masih ada 1 POS terakhir yang harus kami capai.

Huhhh….pendakian panjang dengan rute yang semakin terjal dan rumit dari POS-4 ke POS-5 seakan tiada akhir.   Pertanyaan keramat seperti : “Masih jauh kahh ???”, “Berapa lama lagi ???” sudah semakin sering keluar dari mulut kami, dan dijawab dengan pernyataan “kamuflase” berupa : “Udah deket kok…”, “Sebentar lagi…”   Huhhh….kami cuma saling menyeringai menyadarai kekonyolan pertanyaan dan jawaban-jawaban itu, disela-sela napas megap-megap kelelahan.

Kami merasa lebih konyol lagi ketika berpapasan dengan para penjual nasi uduk yang SUDAH turun lagi dari Alun-alun Surya Kencana, spot perkemahan sebelum puncak Gede.  Ya, rupanya memang begitulah kondisinya kalau week-end tiba dan para pendaki berdatangan meramaikan Surya Kencana.  Penduduk penjual nasi uduk dan gorengan akan mendaki DENGAN SANGAT CEPAT sejak dini hari untuk menjajakan barang dagangannya di puncak gunung, membangunkan para pendaki dari satu tenda ke tenda lainnya.  Hampir selalu seperti itu setiap weekend.  Kami yang sudah kelaparan lagi, menyikat semua sisa nasi uduk dingin yang tidak terjual di puncak tadi.

Karena kebanyakan berhenti disana sini, kami sampai di Alun-alun Surya Kencana kira-kira jam 10 pagi.  Terlalu lama untuk ukuran standard pendakian.  Tak apalah… yang penting heppy ^_^

Nasi Uduk Surya Kencana

Dataran alun-alun Surya Kencana membentang dari Timur ke Barat, dipenuhi rumput-rumput kecoklatan dan rumpun-rumpun bunga edelwies berwarna putih.  Konon menurut sejarah Kerajaan Pajajaran, ini adalah tempat pelarian Prabu Siliwangi ketika melarikan diri dari istananya akibat serbuan dari anak sulungnya sendiri yang bertujuan untuk meng-Islamkan seluruh Kerajaan Pajajaran.  Prabu Siliwangi beserta sekelompok tentara kerajaan yang menolak masuk Islam dan tetap dengan kepercayaan nenek moyang “Sunda Wiwitan”, kemudian mengungsi ke gunung ini.  Dan di sini, di alun-alun Surya Kencana ini, Prabu Siliwangi yang bijaksana memberikan 4 pilihan kepada para tentara pengikutnya.  Pilihan ke Barat akan memberikan konsekwensi berupa keterkucilan dari masyarakat karena mempertahankan kepercayaan Sunda Wiwitan, menjadi cikal bakal Suku Baduy di Banten.  Pilihan ke Utara, akan memberikan kejayaan dan kemakmuran, seperti Kerajaan Cirebon dan Jayakarta.  Pilihan ke selatan akan memberikan kerajaan baru di Sunda.  Sedangkan ke Timur akan tergilas kerajaan-kerajaan dari Timur, saat itu ada kekuatan Majapahit.

Kira-kira itu yang saya masih ingat dari sebuah buku fiksi sejarah Kerajaan Pajajaran.  Saya memandang sekeliling alun-alun yang panjang ini.  Katanya, disaat-saat tertentu, pendaki-pendaki tertentu sering melihat penampakan serupa prajurit-prajurit kerajaan….mmmm….entahlahh..

Kami mendirikan tenda di ceruk memanjang yang ada di tengah alun-alun Surya Kencana.  Mata air jernih segar, mengalir di depan tenda-tenda kami.  Sudah banyak tenda-tenda pendaki lain yang didirikan disana-sini.  Acara memasak sore-sore dan acara menanti sunset di ujung barat alun-alun, ditengah padang edelweis mengisi akhir hari yang melelahkan, sebelum memasuki malam yang sangat dingin.  Berlapis-lapis baju dan jacket serta sleeping bag, masih kuranng ampuh untuk mengusir hawa dingin menusuk tulang.  Kami bangun tertidur dan terbangun lagi berulang-ulang dengan gigi bergemeletuk kedinginan.

Ketika rasanya baru sesaat bisa tidur lelap di penghujung malam, sayup-sayup teriakan tukang nasi uduk dan gorengan seperti datang sayup-sayup dari dalam mimpi.   “Mbak…mbak…banguuun…sudah pagi.., sarapan dulu Mbak…, nasi udukk.. gorengan…., masih hangat”.. begitu katanya berulang-ulang.  Oalaaahhhh…. :p

Beberapa dari kami bangun dengan giat untuk mengejar sunrise, yang sayangnya agak sedikit tertutup kabut tebal.  Pagi yang cerah, langit biru terang.  Puncak Gunung Gede menunggu kami di sebelah kanan.  Berpendar kekuningan dihujani cahaya matahari pagi.

Menurut teman-teman yang sudah sering mendaki Gunung Gede dan berkemah disini, katanya tadi malam adalah malam paling dingin yang pernah mereka rasakan selama ini.

Rame sekaleee

Jarak dari Surya Kencana memang sudah tidak terlalu jauh.  Tapi…ya ampuunnn…ramai sekali yang mendaki, serasa di Gunung Tangkuban Perahu Saja jadinya.  View di bibir tebing kawah Gunung Gede sedang tidak terlalu bagus, kabut tebal meghalangi pemandangan.  Katanya seharusnya dari sini dapat melihat jelas Puncak Pangrango.  Tapi saat itu, sama sekali tidak tampak apa-apa.  Semuanya putih karena kabut.

Saat turun gunung, kami mengambil jalur berbeda, yaitu turun lewat jalur Cipanas.  Berbaris satu-satu meniti jalur tepian tebing kawah yang diberi  pengaman.  Huhh…ramai sekali jalur ini.  Medannya yang tidak terlalu terjal, menjadikan jalur Cibodas sebagai jalur favorit pendakian Gunung Gede.  Dan unik, karena harus melewati sungai air panas dan tebing vertikal yang sangat menantang, yang disebut “tebing setan”.

Saya yang tidak tahu bahwa ada jalur pilihan yang lebih landai tapi memutar, sambil dengan lutut dan tangan gemetar tertatih-tatih menuruni tebing setan sambil berpegang-erat-erat pada tali tambang pengaman.  Untunglah selamat sampai dibawah.

============================

Thanks to seluruh anggota gerombolan : Danang (Mr. TL), Mas Bayu, Kang Dhani, Mas Edo, Mas Eko, Tasnim, Sulis, Andreas, Endi, Dwi, Memed, Ares, (siapa lagi yaa ??).

And to ladies trekker : Yani, Fitri, Suci, Dhyan

Salah satu kontestan pemenang dalam lomba adventure journal   http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/gunung-gede-nasi-uduk-surken/  Oleh : Dian Sundari

Pulau Tunda

20/12/2011
Oleh : Dian Sundari

Benar-benar tidak enak rasanya mabok laut itu 😦

Puyeng dan bawaannya kaya orang yang lagi ngidam (walaupun yang ini mah belum pernah merasakan :p). Alhasil, liburan jadi tidak menyenangkan. Meski begitu, liburan ke Pulau Tunda, menjadi salah satu liburan yang momen-momennya tidak akan terlupa.

Juli-2007

Pelabuhan Karang Antu

Pulau Tunda dapat diakses dengan menggunakan perahu nelayan dari Dermaga Karang Antu, dekat Petilasan Kerajaan Banten Lama.  Jika dari Jakarta, harus keluar di pintu tol Cilegon Timur, lalu mengambil arah ke wilayah Keramat Watu, terus ke utara hingga ke tepi laut.

Dermaga Karang Antu, seperti halnya dermaga-dermaga rakyat di negri ini, terlihat kotor dan semrawut.  Perahu-perahu nelayan terangguk-angguk diayun gelombang di perairannya yang keruh kecoklatan. Tak terlihat adanya sisa kejayaan Pelabuhan Banten Lama yang menurut sejarah adalah sebuah pelabuhan besar, andalan Kerajaan Banten Lama (dan Kerajaan Sunda) yang bisa disejajarkan dengan Malaka dan Makassar.  Tome Pires, adalah penjelajah Portugis yang pernah menyebutkan tentang pelabuhan ini pada tahun 1513.   Pada awal abad ke-17 Masehi, Pelabuhan Banten merupakan salah satu pusat perniagaan penting dalam jalur perniagaan antar negara di Asia.

Kesultanan Banten sendiri didirikan oleh Maulana Hasanuddin (1527), kerajaan ini mengalami puncak kejayaan pada saat diperintah oleh anaknya, yaitu Maulana Yusuf.  Kerajaan besar ini kemudian hancur akibat penjajahan VOC, kejayaan Pelabuhan Banten Lama pun turut redup, hingga kondisinya semengenaskan seperti sekarang.  Nyaris hanya tinggal hantu, mungkin itu sebabnya pelabuhan ini sekarang dikenal pelabuhan Karang Antu :-p

Tentang Kerajaan Banten : id.wikipedia.org/wiki/Banten

 

 

Snorkling sambil Mabuk Laut

Membutuhkan waktu kira-kira 2 jam menumpangi perahu nelayan dari Pelabuhan Karang Antu ke Pulau Tunda.  Ombak dan kondisi badan saya masih bersahabat saat berangkat itu.  Masih bisa menikmati pemandangan ke arah gugusan pulau-pulau kecil yang dilewati.  Selebihnya saya hanya merem melek terkantuk-kantuk dibuai alunan gelombang dan semilir angin laut.

Tepat tengah hari kami merapat di dermaga Pulau Tunda yang terbuat dari beton.  Pulau ini hanya terdiri atas 1 desa saja yaitu Desa Wargasara, yang terbagi menjadi 2 dusun yakni Kampung Barat dan Kampung Timur.  Kami menuju rumah salah satu warga, yaitu Mas Ocid, yang kami jadikan sebagai base-camp.  Rumahnya tidak jauh dari dermaga, terbuat dari tembok seperti rumah-rumah yang umum kita jumpai dimana-mana.  Jalan kecil alias gang terbuat dari beton, menghubungkan rumah-rumah warga.  Mata pencaharian penduduknya kebanyakan nelayan kecil, atau buruh di kota.  Sektor pariwisata belum atau bahkan “tidak” menjadi salahsatu alternatif mata pencaharian.

Kami dipuaskan dengan menu makan siang berupa ikan bakar besar-besar dan sambal yang bisa bikin mata melotot kembali.  Siap untuk menikmati kegiatan utama liburan di pulau yaitu snokling…

Kami berperahu kembali menuju snorkling spot yang jaraknya tidak terlalu jauh, kira-kira 10 menitan ke arah barat.  Satu persatu kami menceburkan diri ke laut, jaket-jaket pelampung berwarna orange seketika memberi warna pada birunya laut.  Kecipak kecibung sirip-sirip fin dan kayuhan tangan para pen-snorkeler amatair membuat ikan-ikan kabur semrawutan.  Arusnya lumayan kencang ternyata, menyeret-nyeret kami ke timur.

Terumbu karang warna-warni dan ikan-ikan laut beraneka bentuk dan warna yang wara-wiri di bawah kami, sering membuat kami lupa diri, tak terasa sudah terseret arus menjauhi perahu, lelah sekali rasanya melawan arus untuk kembali.  Sering kali juga arus menyeret kami ke laut yang lebih dangkal.  Terumbu-terumbu karang sepertinya hanya berjarak beberapa centimeter saja dari badan, jika menyayat kulit rasanya perih dan gatal.  Tapi air laut dangkal rasanya lebih hangat, membuat saya betah.   Sedangkan air laut yang lebih dalam, rasanya jauh lebih dingin, dan membuat saya pusing karena kedalamannya.

Ternyata rasa pusing tidak mau hilang, mungkin dipicu oleh kombinasi antara arus yang mengombang ambing badan serta suhu dingin air laut dalam.  Saya tidak tahan lagi, saya mabuk laut.., saya harus segera mengeringkan badan dan beristirahat.  Wah…sayang sekali, padahal kami baru saja mulai, masih ada lagi spot-spot snorkling yang rencananya akan kami singgahi. Tapi saya senang memperhatikan tingkah polah teman-teman bermain-main di laut.

Satu lagi yang selalu kami tunggu selagi melaut adalah fenomena sunset yang luar biasa.  Walaupun tidak sempat untuk menikmati sunset di lokasi terbaik, kami cukup puas menikmatinya di sekitar dermaga.  Yang mengganggu keasyikan itu hanyalah nyamuk yang luar biasa banyak jumlahnya.  Malam di pulau tropis selalu adalah masa berperang dengan nyamuk.

Listrik di pulau ini disediakan oleh pembangkit listrik tenaga surya, setiap rumah memiliki alat tersebut.  Tenaga listrik yg diperoleh cukup untuk menyalakan tv/radio n penerangan seadanya tapi tidak untuk jangka waktu lama.  Jadi sebagian penerangan di rumah yg kami tempati masih memakai lampu minyak alias lampu tempel.

Sunrise esok harinya, sayangnya tidak terlalu mengesankan karena langit mendung berawan, bahkan sedikit gerimis.  Ternyata di dekat dermaga, lautnya sedang surut, gundukan terumbu karang yang ditinggalkan air laut, terbentang melengkung menghiasi pantai yang ditumbuhi pohon mangrove.  Kubangan-kubangan air laut diantara karang-karang, kadang dihuni ikan mungil cantik yang lupa pulang ke laut.

Pagi inipun kami masih meneruskan kegiatan snorkling, di tempat berbeda tentu saja.  Saya yang agak baikan, turut pula mengintip-intip ikan-ikan.  Hari ini jarak pandang kurang bagus, karena mendung dan arusnya juga terasa lebih kuat.  Ternyata kondisi mabuk laut saya belum benar-benar pergi, membuat saya sekali lagi terpaksa meringkuk diatas perahu.  Hari ini saya ada temannya, 2 orang…, yang sama-sama masuk angin mabok laut..^_^

Itu adalah acara snorkling terakhir, kami sudah harus berkemas untuk balik ke daratan.  Jam 15:30 kami semua sudah diperahu kembali menyusuri gelombang untuk kembali ke daratan.  Ternyata seharian ini cuaca terus menerus mendung, matahari muncul cuma sebentar saja.

 

Kejadian Mendebarkan Di Akhir Perjalanan 

Suatu kejadian yang sangat mendebarkan tiba-tiba menimpa perahu kami di tengah laut, kira-kira di posisi ¾ perjalanan pulang.  Magrib-magrib tiba-tiba mesin perahu tersedak-sedak dan akhirnya berhenti total.  Padahal tujuan kami hanya sebentar lagi, kerlap kerlip lampu di Pelabuhan Karang Antu bahkan sudah kelihatan.  Hening seketika, membuat kami semua langsung terbangun, saling menatap kebungungan dan bertanya-tanya satu sama lain.  Salah satu teman, bahkan langsung memakai jaket pelampung karena takut perahunya tenggelam.  Juru mudi minta salah satu ABK untuk turun ke laut guna memeriksa kapal, hasil pemeriksaan itu cukup fatal, yaitu ternyata baling-baling perahu copot dan hilang, tidak bisa dicari ditengah gelapnya laut yang semakin gulita.

Jangkar segera dilepas untuk mencegah perahu agar tidak terbawa arus.  Untungnya sudah ada sinyal handphone yang sudah bisa tertangkap, jadi Bapak perahu berhasil menghubungi rekannya untuk meminta pertolongan.

Selama kurang lebih 1 jam, kami terombang ambing tanpa daya di lautan, lampu petromak sudah dinyalakan di tengah perahu.   Posisi kami kata Bapak Perahu dekat dengan Pulo Pamujan Kecil dan Pamujan Besar yang ada di bagian barat.  Katanya lagi, kedua pulau itu adalah tempat orang “muja-muja” (semacam pemujaan terhadap kekuatan supra natural seperti itu), dan lumayan angker katanya hiyyyy…. Banyak kecelakaan-kecelakaan perahu yang tidak jelas penyebabnya di sekitar sini.  Membuat kami semakin takut saja, mana hari sudah semakin gelap lagi, memasuki waktu maghrib…., saat-saat yang konon kabarnya disukai para dedemit hiyyyy….amit-amit….

Untuk meredakan dagdigdug jantung dan panik, teman-teman berinisiatif untuk menyalakan mp3 player dengan speaker dock, hingga musiknya mengusir kesunyian lautan, sementara teman lainnya mengeluarkan kartu remi.  Tawa candapun kembali mengisi perahu, kadang-kadang candaan  kami sudah nyerempet-nyerempet hal-hal gaib yang “tabu” untuk disebut-sebut, terutama disaat-saat genting kaya sekarang.  Berulang kali Bapak Perahu harus mengingatkan dengan ber- husss…husss…

Kami juga dikejutkan dengan ikan yang tiba-tiba meloncat keatas perahu…, mungkin itu tanda keberuntungan…  Tidak lama kemudian  dari arah belakang terdengar derungan suara kapal dan benarlah rescue boat datang ….syukur…syukuurr….  Dengan diikat tali tambang, perahu kami diderek hingga Pelabuhan Karang Antu.

Terimakasih Tuhan karena kami semua telah selamat.  Tapi sungguh kasihan Bapak Perahu karena harus membeli baling-baling baru yang harganya jutaan.  Untuk meringankan bebannya, kami semua bersepakat untuk patungan, semoga bisa sebagai penambah biaya.

—-ooooooo—-

Thanks to : Ridwan, mas Ocid n family, mas Indra, Bapak si empunya perahu n kru,  Pak Huda, Alida, Darwin, Dewi, Dini, Endro, Erni, Lili, Riko,  Rika, Riri, Risda, papa+mamanya+Sekar+AG

Tasik : Uka-uka Kawah Galunggung dan Pantai Sindangkerta

21/12/2011

Ini adalah salah satu weekend hebat bersama para gerombolan hebat… tanpa hujan tanpa macet, yang ada hanya udara yang bersih, kabut gunung yang sejuk, sinar matahari yang cerah, laut yang biru sebiru-birunya, ombak yang berdebur-debur, pemandangan yang supertakuler, kesenangan dan kegembiraan bersama para gerombolan, serta uka-uka……. yang bahkan ikut hingga ke Jakarta, tertangkap dalam sebuah foto…!!!

=========

16-18 Nov 2007

=========

Uka-Uka Hijau dari Kawah Galunggung

Perjalanan bis Jakarta – Singaparna dimulai sekitar jam sebelasan malam dari Terminal Kampung Rambutan dan tiba sekitar jam 4 subuh di depan Mesjid Agung Singaparna.  Sebagian meneruskan tidur diemperan mesjid, karena tidur yang tak nyenyak di bis tadi gara-gara diganggu mamang penjual buah mangga yang terus saja memaksa-maksa menawarkan mangga nya kepada semua penumpang.

Ketika hari mulai terang tanah, kami melanjutkan perjalanan dengan angkot menuju Galunggung melewati pedesaan khas Sunda yang mana hampir tiap rumahnya memiliki kolam ikan alias balong. Sawah-sawah sudah mulai menghijau kembali setelah sekian bulan kemarau. Matahari pagi tampak mengintip dari celah-celah ranting dan daun. Truk-truk besar pengangkut pasir tampak berjejer di beberapa lokasi penambangan pasir volkano.

Rupanya kami kepagian, posnya masih terkunci, petugasnya belum datang, yang ada cuma tukang ojek dan tukang warung yang baru saja membuka kembali warungnya. Tapi, tak lama kemudian sang petugas datang, memungut uang retribusi.  Rupanya dari Pos Depan ini ke Pos Pendakian, jaraknya masih lumayan jauh, bisa ditempuh dengan berjalan kaki menyusuri jalan aspal kecil berliku, naik mobil (sayangnya angkot tadi sudah pergi), atau naik ojek.  Kami pilih naik ojek karena malas trekking… :p

Pos pendakian juga masih sangat sepi, warung-warung belum ada yang buka.  Disini ada mushalla dan areal parkir yang bisa menampung beberapa motor.  Gunung Galunggung memang sudah dijadikan objek wisata, setelah letusan dahsyatnya di tahun 1982.  Untuk memudahkan wisatawan, telah dibangun tangga beton dari areal ini hingga ke tepi kawah.

Karena tidak ada angkot ataupun ojek yang bisa ditumpangi ( :p ), kami memulai trekking pagi, tidak melewati jalur bertangga beton, melainkan melewati jalan setapak yang ada di samping musholla, supaya lebih alami dan berasa sedang di gunung nya…. Awalnya menanjak cukup terjal, komposisi pasir volkano yang berwarna hitam dan sama sekali tidak mau lengket satu sama lainnya, membuatnya sukar dipijak, tetapi hujan beberapa hari sebelumnya dan embun membuat pasir itu cukup padat di beberapa tempat, hingga cukup kokoh untuk dipijak.  Jalur ini rimbun dinaungi pohon-pohon semak.  Lamat-lamat terdengar gemuruh air terjun, ternyata ada air terjun kecil nun jauh ditebing sebelah kanan. Semakin ke atas, jalurnya semakin terbuka dan pasir volkano hitam legam tampak dimana-mana.

Kira-kira 20 menit kemudian, sampailah kami di bibir kawah yang menganga lebar… katanya luasnya kira-kira 40 Ha.  Entah berapa metrik ton tanah beserta segala isinya terlempar ke udara, katanya lontaran materialnya mencapai ketinggian 25 km.  Abu vulcanik nya menyiram wilayah kabupaten tetangga seperti Ciamis, Garut, dan Majalengka.  Juga menyiram kampung saya, di Kab. Ciamis.  Saat itu semuanya penuh debu, berhari-hari debu turun dari langit, membuat siang menjadi remang-remang bahkan gelap.  Saya ingat sedikit-sedikit tentang kejadian itu, ingat ketika kaki saya terbenam hingga lutut ketika saya nekat keluar ke pekarangan rumah, niatnya untuk membantu nenek saya mencari-cari ayam-ayam peliharaan kami supaya tidak sakit dan mati terkena racun dari debu.

Di dasar kawah tampak danau berwarna hijau muda, hanya separuh areal dasar kawah yang membentuk danau.  Konon kabarnya air danau ini selalu dipantau supaya bebannya tidak melebihi kekuatan dinding kawah, airnya dialirkan ke sungai Cibanjaran dan Cikunir.   Nun jauh diujung sana terlihat saluran pipa air yang merambati dinding terjal terus ke atas, ke arah sumber air yg berupa air terjun kecil.  Di sisi lain dasar kawah yang masih berupa daratan, terdapat bangunan mushalla dan 1 buah rumah penjaga.  Tepat di tepi danau terdapat bangunan warung seperti yang ada di pinggiran atas sini.

Penasaran dengan danau di dasar kawah, kami memutuskan untuk turun. Jalurnya terjal dan cukup sulit dilalui.  Danaunya tampak cukup dalam, dan airnya tidak hangat. Dari dasar sini, dapat terlihat jelas saat-saat kabut turun dan menghilangkan danau dari pandangan. Tapi kabut tidak bertahan lama, karena tak lama kemudian matahari muncul dengan sinar hangat keemasannya…. memberikan efek cermin sempurna untuk sang bukit kembar yang ada di tengah danau, menjadikannya sangat cantik untuk di foto.

Sewaktu sedang mengagumi hasil jepretan kamera yang diambil secara horizontal (landscape) dan iseng-iseng dilihat vertical…., ternyata WALLA…ditemukan fenomena menakjubkan dan sedikit membuat merinding dari si bukit kembar beserta bayangannya masing2…., yaitu membentuk sosok pocong hijau yg menyeringai..hiiiii…..  Ini dia sang uka-uka dari Kawah Gunung Galunggung…!!!

Uka-uka hijau dari Kawah Galunggung ^_^

Uka-uka dari Pantai Sindangkerta

Dari Gunung Galunggung, kami meneruskan perjalanan ke tepi selatan Tasik.  Penasaran dengan Pantai Sindang Kerta, Pantai Cipatujah, dan Pantai Karang Towulan. Perjalanan kesana dari Terminal Indihiang (Tasik) memakan waktu kurang lebih 2 jam.  Semakin ke luar Kota Tasik, jalanan semakin berliku-liku, melewati perkebunan karet , kebun salak, juga melewati beberapa situs bersejarah yg dikeramatkan, seperti Makam Waliyulloh Syech Abdul Muchyi.

Sekitar jam 3 sore kami telah sampai di Wisma Mutiara Sari (milik Pemda Kab. Tasik) di daerah Sindangkerta tepat dibibir pantai, disambut dengan masalah…  Rupanya, Pak Iskak, pengelola wisma, lupa bahwa semua semua kamar telah dipesan oleh Pemda Tasik untuk pelatihan selama 2 pekan, kami pun dialihkan ke Wisma APL yg letaknya tidak jauh dari Wisma Mutiara Sari dan sangat dekat dengan bibir pantai.

Pantai di depan penginapan merupakan pantai berkarang-karang dan sedang sedikit surut. Karang-karangnya ditutupi rumput agar-agar laut berwarna hijau cerah.   Kubangan-kubangan air laut yang terperangkap diantara karang menjadi aquarium alam berisi ikan-ikan kecil, rumput laut, si kaki lima, siput, kerang dan kamiiii… yg tidak tahan lagi untuk menceburkan diri di airnya yang hijau jernih…, membuat ikan-ikan langsung kabur, ngumpet di lubang-lubang karang 😀

Tapi sayang, sunset nya tidak terlalu spektakuler karena agak terhalang awan-awan. Malamnya kami berkumpul di serambi, menunggu makan malam yang sore tadi kami pesan. Lama juga kami menunggu, semua snack sudah habis saking kelaperannya. Setelah 2 kali ditelepon, makan malam kami pun tiba, menunya nasi putih + ikan bakar + bumbu kecap + tumis kangkung + lalapan + sambel. Wuaaahhhh…. ikan bakarnya muantaaappp… !!!

Malam ini rencananya kami, akan mengunjungi pantai penangkaran penyu. Dengan dipandu oleh Bapak Petugas Penangkaran Penyu, kami berduyun-duyun menyusuri bibir pantai berbekalkan lampu senter.  Di langit malam yang gulita, tampak bulan sabit dan beberapa bintang.  Sinar bulan sabit lumayan untuk menerangi pantai yang akan kami lalui,  walaupun tidak begitu jelas dan harus berhati-hati dengan karang-karangnya yang tajam.

Laut sedang surut, deburan ombaknya yang tiada henti menemani langkah kami yang berjalan terseok-seok di pasir.  Rasanya lama sekali kami berjalan, kaki masih pegal akibat trekking di Galunggung terasa semakin pegal saja dan sakit terkena karang tajam.  Beberapa kali harus menyebrangi aliran sungai kecil yang bermuara ke laut. Tapi tampaknya belum ada tanda-tanda daerah berpasir halus kesukaan para penyu, yang kami lewati adalah melulu pantai berkarang.

Pertanyaan keramat pun tak tahan lagi dilontarkan “Pak, berapa lama lagi Pak?? Masih jauh ya Pak…???? Berapa kilo lagi sih Pak..???? Tadi kita sudah berjalan berapa kilometer Pak..???” He..he… pertanyaan-pertanyaan keramat itu bertubi-tubi diluncurkan oleh 12 mulut orang kota kecapean yang sudah hampir mogok ditepi pantai.  Jauh memang ternyata jarak yang sudah kami tempuh, ternyata kami sudah berjalan hampir sejauh 2 km, kata Pak Petugas, dan sudah hampir sampai di daerah konservasi penyu.

Tidak berapa lama kami bertemu dengan pemancing ikan yang sedang duduk sendirian di tepi pantai dan tidak sedang memegang gagang kail.  Rupanya, memang tidak bergagang, kailnya cuma berupa tali kenur sangat panjang yang menjulur dari tempatnya duduk hingga ke lautan. Lucunya tali kailnya di lewatkan ke sebuah tiang kayu setinggi kepala dan pangkal tali pancingnya ditindihi bilah pelepah daun kelapa. Katanya kalau dapat ikan besar, tiangnya akan roboh karena talinya tertarik ikan dan pelepah daun kelapanya akan terlempar, sehingga akan membangunkan si pemancing bila dia ketiduran, hmmm…unik dan cerdas !!!

Rupanya lokasi ini sudah berada di daerah penangkaran penyu. Kata petugasnya mungkin kami harus menunggu hingga jam 2 malam, sebab biasanya di jam-jam tersebutlah sang ibu penyu muncul. Hmmmm….malas sekali rasanya kalau harus menunggu hingga jam 2 pagi dan belum tentu pula ada ibu penyu yang akan bertelur !!!

Kami duduk-duduk cukup lama sambil mengobrol dan berfoto-foto, tapi belum ada tanda-tanda adanya penyu yang mendekat.  Dan di situlah sang uka-uka pantai Sindang Kerta muncul, tertangkap di salah satu foto, berkelebat putih tepat diatas kepala-kepala kami yang sedang seru-serunya foto bersama…!!!  Demi melihat itu, kami semua merinding ketakutan, tidak lagi kepingin melihat hasil foto, taupun berfoto-foto lagi.  Bahkan tak lagi berminat menunggu ibu penyu naik ke pantai untuk bertelur.  Kami hanya ingin pergi secepatnya meninggalkan lokasi ini….!!!

Tergesa-gesa kami kembali ke penginapan. Kali ini tidak melewati pantai yang sepi karena takut, melainkan melewati jalan desa yang beraspal.

Oh ya, maaf tak ada foto uka-uka nya, karena tiap kali teman saya mencoba membuka foldernya, pasti selalu terjadi “sesuatu”, sehingga teman saya itu tidak berani lagi mencobanya……

Taman Eden Terpencil di Pantai Karangtawulan

Dengan masih memperbincangkan soal uka-uka semalam, kami berkemas untuk pulang.  Tapi sebelumnya akan mampir dulu di  Pantai Cipatujah dan Pantai Karangtawulan.  Semua barang bawaan kami telah dikumpulkan di serambi bawah, siap menunggu dijemput oleh mobil elf yang kemarin mengantarkan kami.  Sudah jam 8, tapi elf kami belum datang juga, sementara kami sudah kehabisan gaya.

Tak lama elf datang menderu-deru memasuki pekarangan penginapan dengan terburu-buru, seperti banteng hijau yang lari mengejar sang matador, dan langsung disambut sorakan “HUUUUUUU……” dari kami semua.

Sekitar 10 menit bermobil ke arah barat, kami tiba di Pantai Cipatujah.  Pantainya biasa-biasa saja, ombaknya keras menyapu pasir pantai berwarna kecoklatan.  Rupanya Pantai Cipatujah ini masih dalam tahap perbaikan seusai terhantam tsunami.

Kami tidak lama-lama di sini, cuma numpang sarapan, sekaligus membeli nasi bungkus untuk makan siang karena katanya di Pantai Karangtawulan tidak ada warung makan.  Perjalanan dilanjutkan ke arah timur,  melewati tempat penangkaran penyu yang semalam kami kunjungi tanpa hasil, melewati Pantai Pamayangsari tempat para nelayan menambatkan perahu mereka dan ada TPI-nya (tempat pelelangan ikan), kemudian juga melewati pelabuhan alias dermaga baru yang sedang di bangun.

Jalan aspalnya kecil tapi cukup baik kondisinya. Sesekali berpapasan dengan bis kecil jurusan Tasik-Cikalong atau dengan sesama elf.  Melewati 2 jembatan besi yang cukup panjang, salah satunya yang membentang di atas sungai lebar berair hijau yaitu sungai Cimedang, ditepiannya tertambat beberapa perahu kecil, persis seperti di Green Canyon – Cijulang – Ciamis.

Memasuki Kecamatan Cikalong, banyak dijumpai penjual opak bakar, rupanya di sini adalah sentra pengrajin opak bakar. Jadi ingat di daerah Parigi – Cijulang, opaknya enak dan renyah, kalo sudah mencoba 1 tidak akan bisa berhenti sampai 1 kaleng biskuit KhongGuan  yang persegi itu habis. Mungkin opak sini juga sama enaknya…, tapi sayangnya saya tidak sempat mencobanya.

Pantai Karangtawulan sekilas suasananya seperti di Pantai Batu Hiu – Pangandaran. Warung-warung (tutup semua tapinya), mushola, tempat parkir, toilet, gazebo tempat duduk-duduk sambil memandang ke lautan biru di bawah sana, dan menara pandang, semuanya tersedia di sini dan tampak cukup terawat baik, tapi tidak ada pengunjung lain selain kami.  Hanya ada beberapa bagian tangga beton yang hancur, mungkin abrasi atau longsor atau terkena tsunami waktu itu. Pemandangan ke laut lepas yang biru membentang adalah andalan pantai ini.

Karang karangnya yang tajam dan terjal setiap saat dihempas hantaman gelombang laut selatan yang terkenal ganas. Nun jauh di sana ada pulau kecil dan di sebelah timur juga ada pulau kecil lainnya yang disebut Pulau Manuk, dinamakan demikian karena sering dipakai sebagai tempat persinggahan berbagai jenis burung (burung = manuk dalam bahasa Sunda).

Ketika menjelajahi karang-karang yang bertebaran dimana-mana, saya bergidik ngeri setiap kali melihat ombak besar menghantam karang di bawah tebing sana sampai buihnya muncrat tinggi.  Indah tapi mengerikan.

Matahari yang cerah di langit biru sana, memanggang kulit, tapi begitu sampai ditempat teduh dan angin laut yang sejuk berhembus dari sela-sela pohon pandan duri, ahhhh….. nikmatnyaaa…. tak bisa diuraikan dengan kata-kata…, jadi ingin membuka semua pakaian yang terasa panas dan lengket, dan kalau bisa mencopot rambut biar kulit kepala juga….

Kalo melihat sunset di sini, pasti akan sangat luar biasa. Tapi sayang, kami tidak bisa menunggu hingga senja, harus segera pulang .

—–oooooOOOooooo—–

Terima kasih kepada para gerombolan  : Erni, Syifa, Indah, Anis, Dee, Emyl, Risda, Alida, Merry, Endro, dan Obby

Lebih Tinggi dari Puncak Ceremai

22/12/2011

Pendakian Gunung Ceremai (kata Wikipedia nama betulnya begitu, tapi jadi lebih sering disebut dengan nama Ciremai) menjadi suatu pengalaman mendaki gunung yang paling menyenangkan bagi saya. Bagaimana tidak…., gembolan dibawakan porter, badan sedang fit, cuaca cerah ceria bertabur berjuta bintang, dan bersama gerombolan pendaki sungguhan yang jempolan serta tim “hora-hore” yang “luar biasa”…… Hingga sewaktu di puncak, mau saja ketika ditawari “foto loncat” walaupun saat itu lutut masih gemetaran akibat pendakian tadi malam dan betis berasa “berkonde” alias menggempal dan linu-linu.

============

Agustus-2009

============

Ada 2 rute utama untuk mendaki Gunung Ciremai, yang pertama adalah jalur Linggarjati (start dari Desa Linggarjati – Kuningan), dan yang kedua adalah jalur Apuy (start dari Desa Apuy – Majalengka).

Gunung Ciremai memang merupakan batas wilayah 3 kabupaten : Cirebon, Kuningan, dan Majalengka.

Kami mengambil jalur Apuy, yang katanya lebih pendek, tapi lebih terjal.

Pendakian dimulai dimulai dari Pos-1 (dikenal dengan blok Arban), sekitar lewat tengah hari.  Rute awal berupa kebun-kebun sayuran beraneka ragam, kami yang iseng sempat “mengambil tanpa ijin” 2 buah kol untuk dimasak di gunung nanti :p

Hutan Ceremai nan Angker

Perasaan mencekam menyergap kami begitu memasuki hutan Gunung Ceremai yang banyak dikabarkan “angker”.  Sebelum berjalan lebih jauh lagi ke dalam hutan, kami berkumpul untuk berdoa, dan ditekankan benar-benar oleh Anto yang kami daulat sebagai PaKetu alias ketua gerombolan, agar kami tetap dalam barisan, tidak boleh mencar sendiri-sendiri, dan harus menjaga sikap serta ucap.  Jadinya…., gerombolan yang sebenarnya tidak bisa diam itu, kali ini menjadi menjadi “sedikit” pendiam.  Kami berjalan dalam senyap selama beberapa lama, menembus hutan rimbun yang remang-remang karena cahaya matahari sore tidak mampu menembus rapatnya dedaunan.  Dan rasanya tak tertahankan, sepertinya malah tambah mencekam perasaan.  Obrolan-obrolan dan canda ringan akhirnya terdengar kembali.

Empat puluh lima menit kemudian kami sampai di Pos-2, disini ada tembokan untuk duduk-duduk.  Satu jam selanjutnya tiba di POS-3, istirahat agak lama dulu di sini.  Pos-3 ke Pos-4 ditempuh selama kira-kira 45 menit, masih dalam hutan lebat.  Pos-5 dicapai menjelang maghrib, kecepatan pendakian semakin menurun karena rute yang semakin menanjak jika dibandingkan rute sebelumnya dan fisik kami yang semakin drop karena trekking setengah harian ini, ditambah lagi kurang tidur selama perjalanan Jakarta – Majalengka semalam.

Merambah Jalur Terjal  di Heningnya Malam

Tapi rute terjal “sesungguhnya” ada di hadapan. Hari sudah semakin malam, hutan sudah kami lalui, pohon-pohon tinggi sekarang sudah semakin berkurang, digantikan pohon perdu pendek. Saya tetap berjalan di kelompok depan, bersama 2 teman saya, asyik mengobrol dan bercanda bersama kedua porter yang kami sewa dari Desa Apuy. Kami bertiga berjalan berselang seling, karena ada salah seorang porter yang tidak membawa lampu senter. Jalur terjal menanjak semakin membuat dada sesak, tapi obrolan dan candaan bersama kedua porter membuat pendakian menjadi “terasa” lebih ringan.  Bintang-bintang diatas kepala yang entah berapa juta banyaknya itu, berkerlap kerlip di gelapnya langit malam. Dibalik punggung kami, terhampar pemandangan kerlap kerlip lampu-lampu Kota Majalengka.

Seringkali kami beristirahat duduk dalam hening menghadap jalur yang baru saja kami lalui, menikmati keindahan malam dalam diam, sambil saling berbagi cemilan dan minuman. Sepertinya kami ber-5 cukup jauh meninggalkan teman-teman lainnya di bawah sana. Salah satu Mamang Porter memutuskan untuk menunggu teman-teman yang masih dibelakang. Kadang-kadang sinar senternya terlihat samar-samar dan seruannya terdengar sayup-sayup.

Seruan balasan malah terdengar dari arah kanan jalur pendakian (ketika menghadap puncak), kelebatan sinar senter juga beberapa kali terlihat.  Kata Mamang Porter, itu adalah jalur Linggarjati,  sebentar lagi didepan sana kedua jalur ini akan bertemu.

Jalur menanjak semakin terjal. Rumpun-rumpun pohon Bunga Edelwis sudah sejak tadi menghiasi sisi kiri-kanan jalur. Udara semakin dingin menggigit tulang, kadang-kadang tercium bau belerang samar-samar, dihembuskan angin gunung. Disuatu titik, kami melewati tugu peringatan seorang pendaki yang tewas bertahun-tahun lalu. Ini mengingatkan kami untuk lebih berwaspada.

Sekitar jam 9 malam, kami ber-5 sampai di Pos-6, Goa Wallet, di ketinggian 2950 MDPL. Di sana sudah terdapat beberapa tenda, tapi masih ada lahan lumayan datar untuk kedua tenda yang akan kami dirikan. Api unggun berkobar-kobar menarik saya mendekat untuk mengusir dingin yang semakin menggila. Pendaki-pendaki senior dan porter-porter yang mereka sewa yang sedang minum kopi diseputar api unggun, langsung menawarkan kopi hangatnya yang tentu saja tanpa sungkan saya terima. Rupanya mereka dari Jakarta juga, dan sudah disini sejak kemarin.

Sambil menahan dingin dan lelah, teman-teman mulai mendirikan salah satu tenda, karena yang satunya ternyata di bawa entah oleh siapa yang masih tertinggal di jalur belakang sana. Saya membersihkan area untuk tenda satunya dari batu-batu yang banyak berserakan. Tak berapa lama seorang teman lagi berhasil sampai dilokasi, megap-megap kehabisan napas dan kelelahan. Perempuan hebat…, saya pasti tidak akan sanggup mendaki sambil membopong keril seberat itu. Teman-teman lainnya satu per satu berdatangan, dalam jarak waktu yang terpaut lumayan jauh satu sama lainnya, masing-masing dengan cerita pengalaman berbeda-beda.

Kedua tenda sudah didirikan. Kami tidur berdesakan seperti ikan asin siap expor :p

Horeee…sampai puncak…!!!

Esok paginya, niat hunting sunrise di puncak Gunung Ceremai masih sebatas niat, kami semua masih asik bergelung dalam kantung tidur. Baru sekitar jam 7an satu per satu berhasil memaksa diri sendiri keluar dari dalam kepompong hangat. Karena lapar tentu saja…:D

Sarapan sederhana di gunung selalu lebih nikmat dibandingkan dimanapun….  Para pemalas seperti kami, dengan senang hati menyerbu sarapan enak nan hangat buatan Anto, Riris, dan Mbak Rahmi 😀

Panasaran dengan kondisi puncak Gunung Ciremai yang hanya tinggal “naik sedikit” lagi dari sini, saya mengajak sedikit memaksa salah satu teman, Obby, untuk naik bersama-sama. Merayap perlahan-lahan mendaki jalur terjal berbatu-batu. Pilih sana.., pilih sini…, tapi tak banyak yang bisa jadi pilihan untuk dipijak.  Pegangan sana…, pegangan sini… sambil sesekali tengadah, mengecek masih berapa jauh lagi kami dari puncak. Pendaki-pendaki lain terlihat bertenggeran di tepian kawah, terlihat sebagai siluet-siluet karena timur ternyata ada di bagian gunung seberang sana, padahal semalam saya pikir kami naik memunggungi arah timur.

Lama-lama akhirnya kami berdua sampai juga ditepi kawah, bergabung dengan banyaaakkk sekali pendaki yang rupanya akan melaksanakan upacara peringatan tujuhbelasan besok disini. Dan, masih banyak lagi yang akan berdatangan nantinya. Sepertinya banyak pendaki dari Jabodetabek, mereka-mereka yang menyukai alam bebas dan bosan dengan kota…

Kawahnya sangat dalam ternyata, seperti mulut raksasa yang menganga lebar ke langit. Bayang-bayang gunung Ceremai seperti kerucut raksasa hitam. Dari atap Majalengka-Kuningan-Cirebon ini bisa terlihat puncak-puncak gunung lainnya seperti Gunung Gede Pangrango di Cianjur-Bogor, Gunung Slamet di Jateng, dan Gunung Papandayan serta Cikuray di Garut.  Dibagian kawah sisi timur, ada sisi kawah yang lebih tinggi posisinya, dan katanya itulah puncak sebenarnya dari gunung ini.

Thanks Obby for the photo [ http://www.facebook.com/sobihan ]
Saya tidak kesana, disini pun sudah lebih dari cukup, sudah merupakan pencapaian tersendiri yang memerlukan perjuangan dan keteguhan hati yang luar biasa.

Lari Sprint Express Menembus Hutan Ceremai

Saatnya turun gunung, ini sama sekali bukan perkara gampang..  Lutut rasanya gemetar… Cuma turun dari puncak menuju kawasan tenda saja, bingung pilih jalannya… mana yang kokoh dan aman… mana yang tidak. Apalagi menempuh jalur panjang dari POS-6 hingga POS-1 nanti.

Tapi ternyata, setelah menemukan ritme langkah yang enak dan cocok, saya jadi sulit berhenti. Pos-6 ke Pos-5 kami masih iring-iringan bersama, tapi selepas Pos-5 hingga Pos-1 saya tidak bisa dihentikan. Ketika tersadar bahwa saya sudah terlalu cepat turun dan akhirnya celingukan sendirian di dalam hutan Ceremai, mau tak mau saya harus tetap lanjut berlari…, “ogah banget” kalau harus berhenti lama menunggu yang lain di dalam hutan lebat gelap dan angker ini. Bisa-bisa saya nanti disapa “para penunggu” hutan Ceremai hiyyy…..

Saat saya berlari menembus hutan Ceremai dan tidak tahu akan bertemu apa dikelokan dibalik pohon-pohon besar itu, saya jadi mengerti untuk apa para pendaki lain ada yang memakai “genta” berklonengan bunyinya ketika sedang bergerak.  Seperti sapi atau kerbau saja, pertamanya saya pikir. Padahal, “klonengan” itu ternyata sangat penting, untuk menandakan lokasi kita pada pendaki lain. Sebab kalau bunyi “grosakan” daun-daunan yang terinjak kan, bisa saja mungkin ada binatang buas…

Sesekali saya berpapasan dengan para pendaki yang baru naik, dan selalu saya tanyakan pertanyaan yang sama “ada orang yang sedang turun juga ngga didepan saya??? Jaraknya jauh ngga dari saya ???”. Saya berusaha mengejar pendaki dari kelompok lain yang turun duluan…, yang penting saya TIDAK SENDIRI..!!!  Tapi ternyata saya tidak berhasil mengejar seorangpun….  Sempat beristirahat sejenak di POS-2 karena disitu ada 2 orang pendaki lain yang baru saja naik sedang beristirahat. Dan saya langsung ngibrit lari lagi sendirian, begitu mereka melanjutkan pendakian.

Dititik itulah saya serasa mendengar sesorang memanggil nama saya dari arah belakang, suaranya seperti suara Erin teman saya, jadi dengan gembira saya balas menyahut dan menengok ke belakang, tapi tidak ada siapa-siapa disana….. Sepersekian detik saya bengong menengok kearah belakang yang sepi dan gelap tanpa seorangpun disitu, sepersekian detik itupula kaki saya terpeleset menginjak batang bulat menggelinding, dan gedubraakkkk….. saya hilang keseimbangan dan jatuh dengan pantat lebih dulu.

Tanpa sempat merasakan sakit apa-apa, saya langsung bangun dan berlari ngibrit menuruni rute hutan terakhir…. Tak sudi saya berlama-lama sendirian di hutan….

Lega rasanya ketika akhirnya berhasil mencapai Pos-1 lagi. Banyak sekali orang disini sekarang… Bahkan ada warung gorengan dan kopi serta minuman yang buka lapak. Petugas-petugas jagawana sedang sibuk memeriksa pendaki-pendaki remaja yang baru turun gunung, pendaki yang kedapatan membawa bunga edelweis dimarahi habis-habisan, dan dihukum push-up seratus kali.

Saya menonton semuanya itu sambil duduk selonjoran di rumput…, maunya sihh sambil tiduran :p

Lama juga saya menunggu kemunculan teman-teman, sudah habis gorengan beberapa biji, tehh botol 2 botol, dah ngobrol ngalor ngidul dengan si Bapak warung dan salah satu Petugas Jagawana yang heran kenapa saya tiba-tiba muncul sendirian dari dalam hutan.

Rombongan mereka akhirnya sampai juga disini, memperamai situasi.  Dari sini kami masih harus naik pick-up turun gunung hingga desa Apuy, melalui jalur kemarin yang “rinjul” bukan main.  Masih sangat panjang jalan pulang…., tapi hati kami benar-benar senang dengan segala pengalaman manis-pahit-konyol Pendakian Ceremai.

============

Thanks to tim pendaki jempolan : Anto “Koboi Insap”, Riris, Mbak Rahmi, Fita

Thanks to tim hora-hore : Mak Risda, Erin, Obby

Special thanks to : Obby buat foto loncatnya dan foto nangkring di tebing kawahnya ^_^

===============

Malang : Little Missy dari Pulau Sempu

26/12/2011

Menyebrang ke Pulau Sempu dari Pantai Sendang Biru sebenarnya cuma memakan waktu 10 menit saja dengan perahu kecil bermotor tunggal yang banyak berjejer di tepi pantai rebutan penumpang. Tapi kami malah memilih naik perahu dayung kecil, pulang pergi. Berasa seakan-akan jadi Little Missy tipuan yang ada di film “Pirates of the Carribean 1” itu ketika teman saya membuka payung untuk melindungi diri dari sengatan matahari…, tapi malangnya angin besar malah membalik payung hingga menjadi cekung bukannya cembung seperti seharusnya, untung perahunya tidak ikut terbalik….:D

Mei-2007

Lokasi Pulau Sempu

===================

Mendayung Ke Sempu

Terpikat oleh foto-foto Segara Anak yang indah-indah dan oleh cerita-cerita perjalanan trekking penuh tantangan di Pulau Sempu, pergilah saya dan 3 teman lainnya ke Malang.  Perjalanan darat yang panjang dari Jakarta, mulai dengan naik kereta malam ke Surabaya, lanjut dengan bis ke Terminal Arjosari (Malang), setelah sebelumnya “dibodohi lagi” oleh mamang becak kesana kemari di Surabaya.  Lanjut lagi dengan bis kecil menuju Terminal Gadang, lalu ke  Turen, dari sana masih harus naik angkot lagi yang sangat “over capacity” ke Sendang Biru.

Rangkaian perjalanan itu kira-kira hampir 24 jam lamanya, naik turun gonta-ganti kendaraan sambil bawa gembolan masing-masing, termasuk tenda beserta peralatan memasak, yang sayangnya tidak jadi kami pakai gara-gara sampai Sendang Biru nya kesorean plus hujan lebat sekali, sehingga kami lebih memilih Pondok Wisata dibandingkan nenda :p

Pantai Sendang Biru

Barulah keesokan harinya, pagi-pagi sekali kami sudah kelantang-kelinting di sekitar Pantai Sendang Biru, mencoba menikmati sunrise yang mendung sambil mencari-cari informasi sewaan perahu termurah untuk menyebrangkan kami ke Pulau Sempu.

Perahu-perahu sewaan itu rupanya sudah lumayan terorganisir, tarifnya sama, dan ada semacam sistem antrian untuk mencegah rebutan penumpang.  Kami yang malas dengan “rayuan” para calo perahu, diam-diam bersepakat dengan seorang nelayan yang bersedia memberikan tarif lebih murah.  Awalnya lumayan keder juga begitu tau bahwa perahunya adalah sampan kecil tanpa motor, alias harus di dayung, takut perahunya terbalik dan kami tercebur ditengah-tengah.  Tapi, Mamang Perahu nya berhasil meyakinkan kami semua, lagipula kilatan jail dimata kami akan suatu petualangan tak terlupakan berdayung ke Pulau Sempu, membulatkan tekad kami…!!!

Satu per satu kami menaiki perahu, duduk berbanjar satu-satu diatas palang kayu, saya duduk paling depan, mamang perahu di paling belakang.  Awalnya hanya Mamang Perahu saja yang mendayung, tapi lalu kami kasihan karena sepertinya berat sekali mendayung perahu bermuatan 5 orang, jadi kami bergantian ikut-ikutan mendayung dengan dayung cadangan, membuat arah perahu mencong ke sana ke sini karena gerakan kami yang kaku dan tidak tahu teknik mendayung dan mengarahkan perahu dengan benar.  Mamang perahu menjadi guru kami yang sabar dan menyenangkan serta sangat ahli dalam hal itu.  Kami…., kami menjadi muridnya yang pemalas dan bodoh serta cepat menyerah, mendanyung sebentar saja sudah mengeluh tangan lecet merah-merah dan pundak pegal :p

Menakutkan juga tiap kali papasan dengan perahu bermotor yang lebih besar, riak ombaknya membuat perahu kami oleng.  Demi melihat kami, perempuan-perempuan kota, duduk berpegangan erat-erat ke tepi perahu sambil berteriak dan mengomel ngeri, awak-awak perahu nelayan itu malah nyengir dan melambai lambaikan tangan.  Mau tak mau kami jadi ikut tertawa nyengir dan melambai-lambai walaupun masih diselingi ngomel-ngomel.

Saya pikir, titik pendaratan di Pulau Sempu nya itu adalah titik terdekat yang tepat berhadapan dengan Pantai Sendang Biru, yang kelihatannya “sangat dekat”, ternyata bukan….., titik pendaratannya menyerong jauh ke kanan.  Hingga rasanya lama sekali, ngga sampai-sampai, tapi lalu perahu berbelok memasuki suatu “ceruk “ pantai yang cukup landai diantara pohon-pohon bakau, dan mendarat disana.  Janjian lagi sama si Mamang Perahu untuk menjemput kami lagi nanti di sini.

Trekking Licin Menembus Hutan Pulau Sempu

Jalur trekkingnya jelas terlihat dan mudah diikuti, berkelok-kelok menembus Hutan Cagar Alam Sempu yang masih sangat rimbun.   Tapi, hujan besar semalam, membuat jalur tanah ini menjadi licin bukan main.  Kami bergulat dengan lumpur selama kira-kira 2 jam, berkali-kali terpeleset dan hampir jatuh.  Untung saya memakai sepatu trekking, padahal tadinya malas sekali karena beratnya.

Sewaktu sampai di suatu danau berair hijau, saya pikir kami sudah tersesat ke danau satunya (katanya selain Danau Segara Anak berair asin, ada juga 1 danau air tawar).   Tapi ternyata kami memang sudah sampai di Danau Segara Anak, tapi ditepiannya yang jauh dari laut.  Setelah berjalan terseok-seok beberapa lama menyusuri tepian tebing danau, airnya tampak semakin berwarna biru, lalu tampaklah batu karang berlubang tempat air samudra Hindia masuk “mengisi kolam” dan pantai melengkung berpasir putih menyilaukan dihiasi beberapa tenda.  Membuat saya berteriak kegirangan, ke arah teman-teman yang masih tertinggal di belakang.

Wahhh…ternyata banyak yang nenda, katanya kemarin lebih banyak lagi malahan.  Mereka rata-rata dari Surabaya, sepertinya anak kuliahan.

Air laut jernih kebiruan Danau Segara Anakan yang tenang, yang hanya sesekali agak bergelombang ketika air laut tumbah dari bolongan tembok karang pemisah dengan samudra, sepertinya sangat tidak mudah untuk diabaikan.  Kami sudah asyik bermain air, cibang cibung berenang kesana kemari, tapi terlalu takut untuk berenang terlalu ke tengah.  Wahhh…kalau saja danau seperti ini berada di arena wisata komersil, pastilah menjadi favorit wisata keluarga dan menjadi ladang pemasukan yang sangat memuaskan bagi pengelola tempat wisata tersebut.

Mudah-mudahan issu mengenai akan dibangunnya resort di sini tidak pernah terwujud, biarlah yang indah alamiah tetap seperti adanya.  Mudah-mudahan undang-undang atau peraturan pemerintah lainnya mengenai Cagar Alam, mampu menjadi penjaganya dari sisi hukum, dan kita para penikmat alam, mampu menjadi penjaga nyata akan kelestariannya.  Minimal, bawa kembali semua sampah yang kita hasilkan selama disini…!!!

Pemandangan dari arah puncak tebing karang ke samudra nan luas juga sangat menakjubkan.  Ombak selatan berdebur-debur pecah menghantam karang.  Tapi harus extra hati-hati memilih pijakan karang yang tajam-tajam, yang terasa ketajamannya walaupun telah memakai sendal.

Little Missy dari Pulau Sempu

Teringat dengan janjian jemput menjemput dengan Mamang Perahu tadi pagi, kami berkemas-kemas untuk kembali.  Tidak bisa berbilas dengan air tawar, karena dekat-dekat sini memang tidak ada sumber air tawar.  Semua sampah sudah kami kumpulkan untuk kami bawa kembali ke Sendang Biru.  Mudah-mudahan lumpurnya sudah agak mengering karena panas matahari sehingga jalannya tidak selicin tadi lagi.

Mamang perahu ternyata belum datang…mudah-mudahan dia tidak lupa dengan janjiny untuk menjemput kami kembali.  Oh..itu dia datang, katanya dia terlambat karena baru saja datang dari mencari ikan….

Satu per satu kami kembali menaiki sampan.  Matahari terasa sangat terik.  Sebuah perahu cepat yang disewa dua orang bule tampak tidak jauh dari pulau.  Bule-bulenya sedang foto sana sini, membuat kami kege-eran karena merasa jadi objek fotonya, padahal mungkin tidak…:-p

Karena tidak tahan dengan teriknya matahari, salah seorang teman saya membuka payung, dan bergaya seperti Little Missy tipuan bajak laut di film “Pirates of the Carribean”…ketika para bajak laut pimpinan Kapten Borbosa akan menyerbu kapal tentara Kerajaan Inggris.  Malangnya, payungnya condong ke sana kemari karena ditiup angin lumayan kencang, membuat panik kami semua karena takut perahunya terbalik gara-gara angin yang tertahan payung.  Kerangka logam pembentuk payung yang “kalah” oleh kekuatan tiupan angin, malah kemudian melengkung ke atas, seperti mangkuk tukang sulap yang berdiri diatas sebatang gagang besi kecil….  Kami tertawa-tawa tapi juga panik menjinakan sang payung.  Bule-bule itu bahkan ikut tertawa-tawa melihat kekonyolan itu, sambil membidikan kameranya ke arah kami lalu melambaikan tangan ke arah kami yang semakin menjauh.

Kejadian konyol tadi terus saja membuat kami dan Mamang Perahu tertawa-tawa.  Ketika berpapasan kembali dengan perahu nelayan yang baru saja pulang menangkap ikan, kami kembali saling melambaikan tangan.  Rupanya para nelayan itu teman-temannya Mamang Perahu, mereka berbalas pantun teriakan-teriakan dalam bahasa Jawa yang tidak kami mengerti, sepertinya nelayan-nelayan itu menggoda Mamang Perahu yang “begitu beruntung” mengangkut cewek-cewek kota :p

Kejutan lainnya menunggu kami di Sendang Biru, ternyata para nelayan itu dengan murah hati memberikan beberapa ekor ikan besar-besar hasil tangkapannya hari ini kepada kami.  Wahhh…rezeki tak terduga…  Ikan-ikan itu kemudian kami bawa ke salah satu warung yang bersedia mengolahnya menjadi ikan bakar lezat, menu makan sore yang nikmat.

Gara-gara keasyikan makan ikan bakar dan kelamaan mandi, kami ketinggalan angkot terakhir ke Turen.  Terpaksa menyewa ojek, untuk mengejar angkot terakhir di tempat lain yang biasa digunakan untuk ngetem.  Kami pikir rute ngojeknya tidak terlalu jauh, hingga tidak melengkapi diri dengan jaket, ternyata lumayan jauh  juga, jalanannya sepi tapi aspalnya lumayan bagus, melewati perkebunan tebu dan sawah ladang, angin dingin disertai gerimis membuat badan menggigil.

Untunglah angkot yang kami kejar masih ngetem disana.  Penumpangnya tidak sebanyak seperti kemarin, kaki kami tidak kram akibat tertekuk cukup lama.

Dari Pulau Sempu, kami akan melanjutkan ke Bromo, saya akan ceritakan lain kali….

=====000=====

Situs informasi Pulau Sempu yang lumayan lengkap : apvalentine.students.uii.ac.id/pulau-sempu-alternatif-wisata-pantai-di-kala-liburan-akses-pulau-sempu-pantai-sendang-biru/

=====000=====

Thanks to : Erni, Wiwied, Evi