Pulau Tunda

20/12/2011
Oleh : Dian Sundari

Benar-benar tidak enak rasanya mabok laut itu 😦

Puyeng dan bawaannya kaya orang yang lagi ngidam (walaupun yang ini mah belum pernah merasakan :p). Alhasil, liburan jadi tidak menyenangkan. Meski begitu, liburan ke Pulau Tunda, menjadi salah satu liburan yang momen-momennya tidak akan terlupa.

Juli-2007

Pelabuhan Karang Antu

Pulau Tunda dapat diakses dengan menggunakan perahu nelayan dari Dermaga Karang Antu, dekat Petilasan Kerajaan Banten Lama.  Jika dari Jakarta, harus keluar di pintu tol Cilegon Timur, lalu mengambil arah ke wilayah Keramat Watu, terus ke utara hingga ke tepi laut.

Dermaga Karang Antu, seperti halnya dermaga-dermaga rakyat di negri ini, terlihat kotor dan semrawut.  Perahu-perahu nelayan terangguk-angguk diayun gelombang di perairannya yang keruh kecoklatan. Tak terlihat adanya sisa kejayaan Pelabuhan Banten Lama yang menurut sejarah adalah sebuah pelabuhan besar, andalan Kerajaan Banten Lama (dan Kerajaan Sunda) yang bisa disejajarkan dengan Malaka dan Makassar.  Tome Pires, adalah penjelajah Portugis yang pernah menyebutkan tentang pelabuhan ini pada tahun 1513.   Pada awal abad ke-17 Masehi, Pelabuhan Banten merupakan salah satu pusat perniagaan penting dalam jalur perniagaan antar negara di Asia.

Kesultanan Banten sendiri didirikan oleh Maulana Hasanuddin (1527), kerajaan ini mengalami puncak kejayaan pada saat diperintah oleh anaknya, yaitu Maulana Yusuf.  Kerajaan besar ini kemudian hancur akibat penjajahan VOC, kejayaan Pelabuhan Banten Lama pun turut redup, hingga kondisinya semengenaskan seperti sekarang.  Nyaris hanya tinggal hantu, mungkin itu sebabnya pelabuhan ini sekarang dikenal pelabuhan Karang Antu :-p

Tentang Kerajaan Banten : id.wikipedia.org/wiki/Banten

 

 

Snorkling sambil Mabuk Laut

Membutuhkan waktu kira-kira 2 jam menumpangi perahu nelayan dari Pelabuhan Karang Antu ke Pulau Tunda.  Ombak dan kondisi badan saya masih bersahabat saat berangkat itu.  Masih bisa menikmati pemandangan ke arah gugusan pulau-pulau kecil yang dilewati.  Selebihnya saya hanya merem melek terkantuk-kantuk dibuai alunan gelombang dan semilir angin laut.

Tepat tengah hari kami merapat di dermaga Pulau Tunda yang terbuat dari beton.  Pulau ini hanya terdiri atas 1 desa saja yaitu Desa Wargasara, yang terbagi menjadi 2 dusun yakni Kampung Barat dan Kampung Timur.  Kami menuju rumah salah satu warga, yaitu Mas Ocid, yang kami jadikan sebagai base-camp.  Rumahnya tidak jauh dari dermaga, terbuat dari tembok seperti rumah-rumah yang umum kita jumpai dimana-mana.  Jalan kecil alias gang terbuat dari beton, menghubungkan rumah-rumah warga.  Mata pencaharian penduduknya kebanyakan nelayan kecil, atau buruh di kota.  Sektor pariwisata belum atau bahkan “tidak” menjadi salahsatu alternatif mata pencaharian.

Kami dipuaskan dengan menu makan siang berupa ikan bakar besar-besar dan sambal yang bisa bikin mata melotot kembali.  Siap untuk menikmati kegiatan utama liburan di pulau yaitu snokling…

Kami berperahu kembali menuju snorkling spot yang jaraknya tidak terlalu jauh, kira-kira 10 menitan ke arah barat.  Satu persatu kami menceburkan diri ke laut, jaket-jaket pelampung berwarna orange seketika memberi warna pada birunya laut.  Kecipak kecibung sirip-sirip fin dan kayuhan tangan para pen-snorkeler amatair membuat ikan-ikan kabur semrawutan.  Arusnya lumayan kencang ternyata, menyeret-nyeret kami ke timur.

Terumbu karang warna-warni dan ikan-ikan laut beraneka bentuk dan warna yang wara-wiri di bawah kami, sering membuat kami lupa diri, tak terasa sudah terseret arus menjauhi perahu, lelah sekali rasanya melawan arus untuk kembali.  Sering kali juga arus menyeret kami ke laut yang lebih dangkal.  Terumbu-terumbu karang sepertinya hanya berjarak beberapa centimeter saja dari badan, jika menyayat kulit rasanya perih dan gatal.  Tapi air laut dangkal rasanya lebih hangat, membuat saya betah.   Sedangkan air laut yang lebih dalam, rasanya jauh lebih dingin, dan membuat saya pusing karena kedalamannya.

Ternyata rasa pusing tidak mau hilang, mungkin dipicu oleh kombinasi antara arus yang mengombang ambing badan serta suhu dingin air laut dalam.  Saya tidak tahan lagi, saya mabuk laut.., saya harus segera mengeringkan badan dan beristirahat.  Wah…sayang sekali, padahal kami baru saja mulai, masih ada lagi spot-spot snorkling yang rencananya akan kami singgahi. Tapi saya senang memperhatikan tingkah polah teman-teman bermain-main di laut.

Satu lagi yang selalu kami tunggu selagi melaut adalah fenomena sunset yang luar biasa.  Walaupun tidak sempat untuk menikmati sunset di lokasi terbaik, kami cukup puas menikmatinya di sekitar dermaga.  Yang mengganggu keasyikan itu hanyalah nyamuk yang luar biasa banyak jumlahnya.  Malam di pulau tropis selalu adalah masa berperang dengan nyamuk.

Listrik di pulau ini disediakan oleh pembangkit listrik tenaga surya, setiap rumah memiliki alat tersebut.  Tenaga listrik yg diperoleh cukup untuk menyalakan tv/radio n penerangan seadanya tapi tidak untuk jangka waktu lama.  Jadi sebagian penerangan di rumah yg kami tempati masih memakai lampu minyak alias lampu tempel.

Sunrise esok harinya, sayangnya tidak terlalu mengesankan karena langit mendung berawan, bahkan sedikit gerimis.  Ternyata di dekat dermaga, lautnya sedang surut, gundukan terumbu karang yang ditinggalkan air laut, terbentang melengkung menghiasi pantai yang ditumbuhi pohon mangrove.  Kubangan-kubangan air laut diantara karang-karang, kadang dihuni ikan mungil cantik yang lupa pulang ke laut.

Pagi inipun kami masih meneruskan kegiatan snorkling, di tempat berbeda tentu saja.  Saya yang agak baikan, turut pula mengintip-intip ikan-ikan.  Hari ini jarak pandang kurang bagus, karena mendung dan arusnya juga terasa lebih kuat.  Ternyata kondisi mabuk laut saya belum benar-benar pergi, membuat saya sekali lagi terpaksa meringkuk diatas perahu.  Hari ini saya ada temannya, 2 orang…, yang sama-sama masuk angin mabok laut..^_^

Itu adalah acara snorkling terakhir, kami sudah harus berkemas untuk balik ke daratan.  Jam 15:30 kami semua sudah diperahu kembali menyusuri gelombang untuk kembali ke daratan.  Ternyata seharian ini cuaca terus menerus mendung, matahari muncul cuma sebentar saja.

 

Kejadian Mendebarkan Di Akhir Perjalanan 

Suatu kejadian yang sangat mendebarkan tiba-tiba menimpa perahu kami di tengah laut, kira-kira di posisi ¾ perjalanan pulang.  Magrib-magrib tiba-tiba mesin perahu tersedak-sedak dan akhirnya berhenti total.  Padahal tujuan kami hanya sebentar lagi, kerlap kerlip lampu di Pelabuhan Karang Antu bahkan sudah kelihatan.  Hening seketika, membuat kami semua langsung terbangun, saling menatap kebungungan dan bertanya-tanya satu sama lain.  Salah satu teman, bahkan langsung memakai jaket pelampung karena takut perahunya tenggelam.  Juru mudi minta salah satu ABK untuk turun ke laut guna memeriksa kapal, hasil pemeriksaan itu cukup fatal, yaitu ternyata baling-baling perahu copot dan hilang, tidak bisa dicari ditengah gelapnya laut yang semakin gulita.

Jangkar segera dilepas untuk mencegah perahu agar tidak terbawa arus.  Untungnya sudah ada sinyal handphone yang sudah bisa tertangkap, jadi Bapak perahu berhasil menghubungi rekannya untuk meminta pertolongan.

Selama kurang lebih 1 jam, kami terombang ambing tanpa daya di lautan, lampu petromak sudah dinyalakan di tengah perahu.   Posisi kami kata Bapak Perahu dekat dengan Pulo Pamujan Kecil dan Pamujan Besar yang ada di bagian barat.  Katanya lagi, kedua pulau itu adalah tempat orang “muja-muja” (semacam pemujaan terhadap kekuatan supra natural seperti itu), dan lumayan angker katanya hiyyyy…. Banyak kecelakaan-kecelakaan perahu yang tidak jelas penyebabnya di sekitar sini.  Membuat kami semakin takut saja, mana hari sudah semakin gelap lagi, memasuki waktu maghrib…., saat-saat yang konon kabarnya disukai para dedemit hiyyyy….amit-amit….

Untuk meredakan dagdigdug jantung dan panik, teman-teman berinisiatif untuk menyalakan mp3 player dengan speaker dock, hingga musiknya mengusir kesunyian lautan, sementara teman lainnya mengeluarkan kartu remi.  Tawa candapun kembali mengisi perahu, kadang-kadang candaan  kami sudah nyerempet-nyerempet hal-hal gaib yang “tabu” untuk disebut-sebut, terutama disaat-saat genting kaya sekarang.  Berulang kali Bapak Perahu harus mengingatkan dengan ber- husss…husss…

Kami juga dikejutkan dengan ikan yang tiba-tiba meloncat keatas perahu…, mungkin itu tanda keberuntungan…  Tidak lama kemudian  dari arah belakang terdengar derungan suara kapal dan benarlah rescue boat datang ….syukur…syukuurr….  Dengan diikat tali tambang, perahu kami diderek hingga Pelabuhan Karang Antu.

Terimakasih Tuhan karena kami semua telah selamat.  Tapi sungguh kasihan Bapak Perahu karena harus membeli baling-baling baru yang harganya jutaan.  Untuk meringankan bebannya, kami semua bersepakat untuk patungan, semoga bisa sebagai penambah biaya.

—-ooooooo—-

Thanks to : Ridwan, mas Ocid n family, mas Indra, Bapak si empunya perahu n kru,  Pak Huda, Alida, Darwin, Dewi, Dini, Endro, Erni, Lili, Riko,  Rika, Riri, Risda, papa+mamanya+Sekar+AG

Ujung Kulon : Trip Dua Musim

29/12/2011

Taman Nasional Ujung Kulon, namanya menguarkan aroma petualangan alam liar yang hebat…, bertemu badak bercula satu, harimau sunda, banteng, ular sanca, buaya, hwaaaa….pasti seru !!!!

Sudah dua kali ke Ujung Kulon, tapiiiii… tak pernah bertemu badak atau buaya, adanya banteng yang mirip banget sapi, burung merak yang pesolek, plankton-plankton yang bikin badan gatal-gatal waktu snorkling, dan monyet-monyet super nakal yang mengacak-acak seisi kamar penginapan bahkan mencuri dadar telor menu sarapan tepat dihadapan kami semua L

Kemarau lebih asyik (Okt 2007)

Hal-hal itulah yang ada di kepala saya, sewaktu mendaftar untuk ikut trip Explore Taman Nasional Ujung Kulon.  Saya sudah siap-siap minum obat anti malaria karena disana itu adalah daerah endemik malaria.   Jumat malam ketika akan berangkat.., hmmm…. pesertanya  ada 11 cewek “kota” dan 2 cowok.  Mmmm… sepertinya cewek-cewek itu bukan penjelajah alam liar…  Saya cuma kenal 1 orang saja, plus Pak Ketua Trip.  Hmmm…. saya jadi bingung.., tapi ya sudahlah…, liat aja nanti…!!!

Rute yang kami tempuh : Jakarta – Tol Jkt-Merak exit di Serang – Pandeglang – Labuan – Panimbang – Cibaliung – Sumur – Taman Jaya (Ujung Kulon) dengan jarak tempuh sekitar 240 Km. Perjalanan dari Jakarta menuju Ujung Kulon bisa ditempuh dalam waktu kira-kira 7 jam.  Kondisi jalan selepas Desa Sumur menuju Desa Taman Jaya luar biasa rusak.

Pagi-pagi sekali kami sudah sampai di rumahnya Pak Komar (Desa Taman Jaya), pemilik perahu yang nanti akan kami sewa.   Istirahat sejenak, dan mempersiapkan segala macam perlengkapan serta logistik yang akan dibawa.

Pulau Peucang

Waktu berangkat, laut cukup tenang, kami berperahu selama kurang lebih 2,5 jam dan mendarat di dermaga Pulau Peucang.  Pantai Pulau Peucang luar biasa putih pasirnya, lembut seperti bedak tabur…., lautnya hijau dan biru jernih… , kumpulan ikan-ikan sewarna pasir banyak bergerombol di bawah dermaga.

Di Pulau Peucang ini terdapat wisma wisata milik Perhutani, lengkap dengan toilet, dan listrik dari generator diesel.  Pondok-pondok panggung itu dibangun disekitar dermaga, mengelilingi halaman rumput tempat peucang alias kijang bermain. Sekelilingnya adalah hutan lebat yang menakutkan bagi kami semua, terutama malam hari.

Penduduk asli Pulau Peucang, yaitu si peucang alias kijang itu jinak-jinak, pagi-pagi sudah pada datang minta jatah sarapan… Lain halnya dengan tetangga si peucang yaitu si monyet, huhhh..nakal-nakal banget, mencuri telor dadar menu sarapan tepat dihadapan kami semua, gesit sekali dia…!!!  Ada lagi tetangga si peucang lainnya, yaitu si biyawak jaim…, malu-malu dan takut-takut bertemu manusia…., kalo disangkanya kita lagi tidak ada disekitar pantai, si biawak jaim akan turun minum ke pantai atau berkeliaran dekat sumur di belakang penginapan.  Tetangga si peucang yang ada di laut dekat dermaga adalah gerombolan ikan-ikan sewarna pasir yang rupanya bergerombol disitu karena sedang berburu plankton-plankton.

Rasanya geli dan gatal-gatal, seperti digigiti semut-semut kecil merah, ketika plankton-plankton iseng itu mengigiti kulit saya yang sedang asyik snorkling kesana kemari dekat dermaga.

Mengisengi Banteng

Kami berperahu lagi menuju Pantai Cibom, pantainya sempit, disini terdapat semacam display Sejarah Ujung Kulon dan peta.

Sewaktu trekking menembus hutan Ujung Kulon saya sudah menanti-nanti hal-hal yang sudah mengisi kepala saya setiap mendengar tentang Ujung Kulon : badak bercula satu, harimau sunda, banteng, ular sanca, buaya, dll.   Hmmm…tapi tidak ada satupun dari mereka yang muncul.., hanya ada seekor ayam hutan yang kaget dan lari pontang-panting menembus semak belukar.

Hmmm…sepertinya cocok juga pilihan pakaian (celana pendek) dan alas kaki (sendal jepit cantik) yang dipakai teman-teman cewek saya itu, cuma saya saja yang berlebihan : memakai sepatu trekking+celana hutan + jaket + topi hutan..!!!  Trayek yang dipilih ternyata trayek hutan wisata…, pinggiran “hutan sesungguhnya” .

Kami menuju mercusuar diatas bukit batu karang, dijaga oleh 2 orang petugas.  Tangga besinya berkrekat-krekot ketika kami menaikinya dan menaranya bergoyang-goyong tertiup angin laut yang kencang.  Pemandangannya hebat sekali dari atas sana, tapi saya tidak berani sampai puncak, takut tangga besinya rontok… (padahal takut karena terlalu tinggi).

Di ujung terbaratnya Ujung Kulon, yaitu di Tanjung Layar, terdapat tugu Nol Kilometernya Pulau Jawa.  Dulu mercusuarnya didirikan di sini, diatas tebing karang itu.  Kini, yang tertinggal hanya puing-puing bangunan penjaga dan tangga rusak.

Ombak laut selatan terdengar berdebar-debur menghantam karang-karang hitam, mengerikan sekali…

Kami berperahu lagi menuju Pos Pengamatan Satwa Liar di Cidaun.  Pos ini didirikan ditepian lapangan rumput  luas, tempat hewan-hewan merumput.  Ditepian terjauh lapangan rumput, terlihat beberapa ekor burung merak dan banteng-banteng yang sedamg merumput.  Merak-merak itu langsung kabur begitu menyadari kehadiran kami.  Sedangkan gerombolan banteng-banteng yang dari kejauhan benar-benar terlihat mirip sapi biasa, mendongak waspada tapi masih tetap meneruskan kegiatannya.

Saya yang berjaket orange dan salah satu teman , Yuni yang berkaos merah, iseng dan nekat sambil takut-takut, berjalan pelan-pelan memasuki lapangan rumput,  mendekati area gerombolan banteng-banteng…., mumpung si banteng terbesar lagi merumput…   Kira-kira kami akan dikejar tidak yaa…????   Banteng-banteng itu tetap asyik merumput, tapi telinganya sudah tegak lurus waspada, matany sesekali melirik ke arah kami berdua.  Kami semakin berani mendekat, eeee…. tiba-tiba banteng terbesar mengangkat kepala, matanya melotot memperhatikan kami dengan waspada….  Hwaaa….takut, kami berdua saling berpandangan…, ingin segera berbalik lari tapi takut mengagetkan sang banteng yang nanti malahan mengejar kami…!!!

Sunset di Pantai Cidaun hari itu sungguh mempesona…, menutup petualangan kecil kami hari ini.

Besoknya kami puas-puas snorkling di beberapa spot yang penuh dengan terumbu-terumbu hidup, tapi sayangnya arus sangat kencang hari ini, tidak setenang kemarin, jadi tidak bisa menikmati keindahan terumbu karang di Pulau Badul, sebuah pulau gosong karang kecil.

Thanks to :  Mas Aris Yanto, Arita, Atik Khoi, Emyl, Erin, Harti, Indah, Jeanny, Lily, Tia, Yuni

=========================================

Hujan, Tidur Melulu Jadinya (Des 2008)

Desember yang penuh hujan, memang benar-benar bukan saat ideal untuk berwisata ke Ujung Kulon, tapi saya tetap berangkat juga walaupun tahu musimnya sedang “tidak bagus” dan spot-spot kunjungannya pasti itu-itu juga.  Yang menarik saya untuk ikut kali ini adalah Pulau Panaitan, yang ada di belakang Pulau Peucang, yang katanya akan dikunjungi juga, tapi sayangnya tidak bisa dikunjungi karena cuaca buruk sekali ditambah ada insiden dengan perahu sewaan kami.

Kali ini pesertanya, ada cowok-cowoknya…, tidak terlalu seperti rombongan arisan seperti yang lalu.  Kali ini, kami menaiki bus umum, bukan mobil sewaan seperti waktu itu.  Suka-duka perjalanan dengan memakai angkutan umum memang banyak sekali, dari mulai kena macetnya lalulintas ibukota ketika menuju meeting point di Terminal Kalideres, hingga bis trayek Labuan yang super ngebut, kehujanan tengah malam di POM Bensin Labuan ketika sedang menunggu jemputan sambil dikerubuti ojek-ojek, hingga elf butut yang ngacir naik turun meliuk-liuk di jalanan aspal yang grunjal grinjul, belum lagi backpack yang basah kuyup kehujanan di atap mobil…!!!

Di depan balai desa Sumber – kec Sumur, kami turun, masih dini hari sekali, hujannya belum juga berhenti.   Kami ngaso dulu di rumahnya Pak Matang si empunya perahu yg akan kami sewa.   Sewaktu akan berangkat berperahu menuju Ujung Kulon, hujan belum juga reda, tapi tetap kami harus berangkat.  Berhujan-hujan menuju pantai dekat pasar Sumur tempat perahunya tertambat, tidak ada dermaga, jadi perahunya jauh dari pantai.  Kami memakai sampan kecil untuk menuju perahu ditengah hujan yang masih terus saja mengguyur dan ditengah tatapan warga setempat yang sedang berbelanja di pasar, yang mungkin menganggap kami ini wisatawan nekat banget.

Hujan terus menemani kami selama di Ujung Kulon…, di Pulau Peucang, saya lebih memilih tidur daripada keluyuran hujan-hujanan, tohh saya sudah pernah ke sini sebelumnya.  Waktu mau mendarat di Cibom, hari sudah sore, ombaknya besar sekali, perahu kesulitan mendekati pantai yang berkarang-karang, jadi kami menyebrang dari perahu memakai sampan dayung isi max 3 orang…, wihiiii…..serem juga…, takut sampannya terbanting gelombang.  Kasihan sekali mamang awak perahu yang harus bolak-balik mendayung 7 kali untuk menyebrangkan kami semua ke pantai.

Trekking Cibom – Tj. Layar yang dulu seaman berjalan di Kebun Raya Bogor, sekarang harus extra hati-hati karena jalurnya terendam air hujan.  Mercusuar pun jadi tidak aman untuk dinaiki.  Jalur selepas mercusuar menuju Tj Layar licin bukan main.   Tapi pemandangan di Tj Layar tetap TOP…luar biasa!!!

The show must go on…, acara mengintip banteng juga sambil hujan-hujanan.  Tapi banteng-bantengnya tidak muncul satupun, ogah merumput hujan-hujan begini..!!!  Waktu snorkling juga sambil hujan-hujanan, bikin capek karena arusnya kencang kesana kemari.

Sudah kondisi laut tidak bersahabat seperti itu, ada insiden pula dengan perahu sewaan kami yang membuat kami batal ke Pulau Panaitan, yaitu jangkar kapal lepas dan hilang ditelan lautan yang menggelora, sehingga kami tidak berani lagi berhenti di spot-spot snorkling yang tadinya akan didatangi.  Kami segera kembali ke Desa Sumur, menyudahi acara hujan-hujanan di Ujung Kulon…

=============

Thanks to : Wied, Syifa, Mona, Devy, JJ, Anne, Fita, Rina, DhYan, Mbak Dini, Mbak Wati, Dida, Danang, Tasnim, Azhari

=============

Sawarna : Trip ala “Srimulat”

28/12/2011

Ini dia trip 3 hari ala srimulat (pinjam istilahnya Emyl), full ceria…full canda…full ketawa…!!!

Menyusuri pantai-pantai di sekitar Desa Sawarna hingga Bayah.  Mengamati kegiatan acara tujuhbelasan penduduk desa dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

=====================

16-18 Agustus 2007

Cerita keberangkatan saja sudah lucu. Berhubung kami yang para kuli ini tidak seragam jam pulang ngulinya, maka kami terbagi jadi 2 kloter. Kloter 1 terdiri dari : Erni, Fitri, Anis, Rika, dan saya, berangkat duluan, sedangkan kloter 2 terdiri dari Emyl, Esma, dan Risda, berangkat agak lebih malam.

Cerita dari Kloter 1  

Cerita dari Kloter 1 dihiasi dengan acara bis mogok tengah malam ketika sudah sedikit lagi sampai di tujuan yaitu TPI Pelabuhan Ratu.  Berhasil menolak rayuan semua ojek-ojek yang merubung, dan memilih berjalan kaki di tengah malam. Lalu dilanjut dengan nebeng mobil pick-up Pak Djay, seorang pengusaha arang batok kelapa asal Bogor, yang biasa mengambil arang-arang dari para penduduk Desa Sawarna.  Kebetulan malam ini beliau akan ke Desa Sawarna dengan mobil pick up, kami diperbolehkan nebeng.

Angin dingin menampar-nampar wajah kami selama perjalanan berguncang-guncang di bak belakang pick up Pak Djay.  Saya memilih tidur dalam sleeping bag, terbangun tiba-tiba karena mobil berhenti gara-gara ada orang yang mau menumpang. Katanya mereka biasanya memang begitu. Hampir saja saya terinjak, karena suasana lumayan gelap dan biasanya pick-up ini kosong.

Entah dimana Bapak Penumpang itu turun, karena ketika saya diibangunkan tiba-tiba, hanya tinggal kami saja.  Kami rupanya sudah sampai di Desa Sawarna.  Hmmm…masih ngantuk sekali, baru jam 2:30 dini hari.  Kata Pak Djay, kita harus menyebrang sungai, karena jembatan gantungnya ambruk diterjang banjir bandang.  Headlamp dan senter pun dikeluarkan, celana digulung, kaos kaki dilepas, dan byurrr…kecuprakan….kami menyebrang sungai di bagian yang dangkal, cuma selutut.  Sungainya lumayan lebar, tapi airnya sedang sedikit karena kemarau.

Rasa kantuk hilang seketika oleh dinginnya air sungai dan udara dini hari pedesaan. Sehabis menyebrang sungai, kami masih harus berjalan di pematang sawah.  Bulan sabit dan bintang-bintang mengintip dari langit yang berawan. Cahaya senter tangan dan head-lamp berkelebatan menerangi pematang.  Kami sampai di rumahnya Pak Puloh, salah seorang rekanan usaha nya Pak Djay.  Rupanya Pak Djay sudah mempersiapkan segalanya untuk kami.  Terimakasih banyak Pak, maaf merepotkan…!!!

Rumah Pak Puloh di tengah sawah Kampung Leles ini menjadi base-camp kami selama di Desa Sawarna.

Cerita dari Kloter 2  

Sekitar jam 8 pagi, teman-teman dari Kloter 2 akhirnya tiba.  Kami begitu senang ketika melihat mereka bertiga sedang berjalan beriringan di pematang sawah.  Cerita dari Kloter 2 ternyata tidak kalah seru.   Teras rumah Pak Puloh tiba-tiba menjadi sangat ramai ketika kami saling bertukar cerita. Ibu-ibu penduduk setempat yang tengah sibuk dengan ritual pagi harinya masing-masing di sepanjang aliran saluran irigasi yang mengalir di depan rumah, ikut tersenyum-senyum sambil sesekali melirik kami dan berbisik-bisik dengan sesamany.

Cerita dari Kloter 2 dihiasi dengan acara dibohongi supir angkot yang awalnya katanya bersedia mengantar mereka hingga Pelabuhan Ratu.  Mereka diturunkan di tengah jalan tanpa tahu ada di daerah mana, di pagi buta pula…  Mereka akhirnya mencegat truk pasir dan nebeng truk tersebut  sampai Pel. Ratu.  Untungnya dari Pel. Ratu sudah ada angkot sampai pertigaan Ciawi-Sawarna, dilanjut dengan naik ojek sampai ke Desa Sawarna, menyebrang sungai dan sampailah di sini.

Bertemu Gerombolan Si Merah di Goa Lalay  

Tim Trip Srimulat telah lengkap, dengan diantar Pak Puloh yang baik hati, kami siap menjelajahi setap sudut Desa Sawarna, sementara Pak Djay sudah pulang kembali ke Bogor dengan membawa barang dagangannya.

Goa Lalay yang jaraknya paling dekat ke rumah Pak Puloh menjadi sasaran pertama. Dengan menyusuri sepanjang jalur irigasi yang katanya memang sumbernya dari Goa Lalay tersebut, kami berjalan beriringan, melewati kebun dan sawah penduduk yang tampak kering dan kosong karena sudah lewat musim panen dan belum tiba musim tanam berikutnya. Ternyata Pak Puloh tidak begitu tahu tentang Goa Lauk dan Goa Lalay, hingga kami tiba dilokasi yang salah.  Kami memutuskan kembali ke desa dan bertanya pada sesorang yang lebih tahu.

“Kalo mo ke desa, lewat sini Neng” kata Mang Puloh. Rutenya ternyata berbeda dengan rute waktu berangkat. Tidak seberapa jauh dari situ…di sebelah kanan ada pintu goa besar menganga….. Di dalamnya ada sungai bawah tanah yang mengalir di bagian tengah goa, stalaktit-stalaktit bergelantungan di atap goa yang sangat tinggi.  Di mulut goa, ada semacam bak air dari tembok, sungai bawah tanahnya pun di bendung dengan tembokan dan airnya di alirkan ke saluran irigasi…

Kami tidak berani masuk terlalu dalam karena Pak Puloh sendiri belum pernah ke sini…!!!

Selagi bertanya-tanya dan berdebat kusir sambil berfoto-foto di depan mulut goa, tiba-tiba ada serombongan cewek berkaos merah merah membawa headlamp dan senter, dipimpin oleh seorang bapak-bapak yang membawa lampu petromax…. Ternyata mereka ber-8 adalah rombongan dari Jakarta juga, baru tiba tadi pagi, dan berniat menyusuri goa Lalay ini. Waaaa….kebetulan….. Goa di cinta guide pun tiba…. boleh nebeng ngga???

Dengan dipandu oleh si Bapak yang bawa petromax kami beriringan di sungai bawah tanah yang membelah goa, yang ternyata dalamnya cuma selutut, dan dasarnya adalah lumpur halus yang tidak nyaman jika disusuri sambil memakai sendal. Di beberapa spot kami naik ke tepi sungai. Harus extra hati-hati karena di lantai goa ini lumpur yang basah menjadi sangat licin.

Tinggi banget langit-langit goa-nya… stalaktit-stalaktitnya yang tajam bertonjolan dimana-mana, airnya menetes-netes dari beberapa stalaktit. Tak lupa kami berfoto-foto lagi…, grup merah bercampur dengan grup backpacker srimulat, Goa Lalay jadi ramamai seperti di bioskop Keong Mas. Karena peralatan yang tidak memadai dan skill yang jelas tak kami miliki akhirnya setelah agak dalam kami menghentikan perjalanan susur goa kali ini dan kembali ke tempat semula kami masuk.

Di mulut goa ini kami berpisah dengan grup merah…, mereka kembali ke desa, sedangkan kami menyusuri rute semula kembali ke Kampung Leles untuk makan siang tentunya….

Terimakasih ya teman-teman dari Gerombolan Si Merah…..

Pantai Aquarium Lagun Pari

Selewat tengah hari kami berangkat untuk kegiatan susur pantai. Rutenya melewati kebun kelapa, kandang-kandang sapi dan kambing, sawah yang kering, bukit gersang dengan rumput liarnya, kebun kelapa lagi, dan setelah melewati salah satu puncak bukit, tampaklah lengkungan pantai berpasir putih “Lagun Pari” di bawah sana.

Pasirnya putih berkilauan terkena cahaya matahari, ombak laut selatannya yang bikin gentar berdebur-debur menghantam karang hitam di sebelah timur. Lautnya yang biru membentang sampai batas pandang. Di sebelah barat tampak hamparan batu karang yang menghijau karena ditumbuhi lumut dan rumput laut.

Karena sedang surut, banyak sekali hewan-hewan laut yang terperangkap di dalam kubangan air diantara karang-karang. Seperti melihat ke dalam aquarium saja. Kami menjumpai berbagai-bagai hewan laut yang tak kami tahu namanya. Ikan-ikan kecil beraneka warna yang sangat susah di foto, selalu ngumpet ke dalam lubang karang setiap kali saya bergerak mendekat, walaupun dengan sangat pelan. Gesit benar mereka menghindar. Saya mengganti siasat, diam menunggu dengan kamera siap jepret, dan berhasil..!!!

Karang TwentyOne & Tragedi Karang Heulang

Wilayah pantai berkarang yang muncul hanya kalo laut sedang surut ini, luas sekali. Ada batu-batu karang yang akibat hempasan ombak laut selatan yang kencang selama bermilyar-milyar tahun lamanya, jadi membentuk seperti deretan sandaran kursi berjajar-jajar, berjalur-jalur seperti di bioskop 21, semuanya menghadap ke laut selatan. Maka kamipun menjulukinya pantai 21.

Jauh didepannya, batu karang hitam berdiri tegar menahan deburan ombak laut supaya tidak naik ke dalam bioskop. Jika ada ombak tinggi datang, pemandangannya menjadi sangat spektakuler. Karena penasaran dengan pemandangan apakah yang tersji di balik batu karang, salah satu teman naik ke atas karang, dan saya menyusul kemudian.

Dan….wow, ombak ganas berdebur-debur menghantam batu karang tiada henti.  Deburan ombak yang cukup besar menyemburatkan air laut menghujani kami, takjub dan ngeri dengan kekuatan alam, saya buru-buru turun, takut ada ombak super besar, bisa-bisa nanti kita terlempar menghantam batu-batu karang… Apa yang ditakutkan akhirnya terjadi menimpa temen teman saya yang turun belakangan, padahal dia sudah turun dari tebing tapi masih bisa terhantam ombak saking kuatnya, akibatnya dia limbung dan terjatuh, lututnya terluka dan terkilir gara-gara terperosok diantara celah karang.

Karang Jalan Tol & Batu Layar

Selain karang terjal pembawa celaka orang-orang yang penasaran, nekat, dan ceroboh itu, ada pula dataran batu karang yang menghampar datar, lurus membujur dari timur ke barat seperti jalan tol sehabis hujan sore-sore, basah bersinar keemasan akibat pantulan matahari sore. Garis-garis berjajar seperti marka jalan, memisahkan jalur tol yang satu dengan yang lainnya. Indah sekali.

Di pinggir selatan jalan tol, karang-karang megah bergerombol-gerombol lengkap dengan deburan ombak-ombak nya yang menghantam terus menerus. Mengundang orang penasaran dan nekat seperti kami. Semua basah kuyup terguyur semburat pecahan ombak besar.

Di sisi utara jalan tol, menjulang 2 buah batu karang seperti layar yang tertancap di perahu nelayan. Oleh karena itu tempat ini dinamakan Tanjung Layar.

Menatap matahari sore yang mengintip dari celah-celah awan tepat di atas puncak Batu Layar, benar-benar pemandangan indah.  Saking asyiknya menikmati senja, tanpa terasa hari mulai gelap, dan kami harus segera kembali, padahal hanya saya yang membawa headlamp.

Hari yang Luar Biasa

Peristiwa terkilirnya kaki salah satu teman saya sewaktu di Karang Heulang, ternyata bukan masalah sepele.  Perjalanan kembali ke rumah nya Pak Puloh, menjadi amat sangat lambat, karena teman saya itu sudah amat-sangat kesakitan, padahal hari sudah benar-benar gelap, dan head-lamp hanya ada 1 saja.  Yang lainnya mengandalkan sinar layar HP masing-masing.

Pak Puloh sudah berusaha mengurut kaki teman saya, tapi tidak kunjung membaik.  Jadi kami paksa teman saya itu agar mau digendong Pak Puloh saja daripada nanti bertambah parah lagi.  Kasihan sekali Pak Puloh, tapi itulah jalan terbaik untuk mengatasi tragedi ini.

Jadi kami berjalan lagi dengan agak lebih cepat dalam gelap, menyusuri kebun kelapa, dan pematang sawah yang licin diterangi cahaya bulan sabit.  Kami semua lelah dan lapar sekali.

Sesampainya di Kampung Leles, teman saya segera dibawa ke tukang urut, ratap tangis nya ketika diurut menggegerkan para tetangga yang segera berkerumun.  Sebagian dari kami bergegas ke rumahnya Pak Puloh untuk mengambilkan baju ganti untuk teman saya yang kecelakaan itu, yang sejak tadi menggigil kedinginan karena bajunya basah kuyup diguyur ombak.

Hari yang luar biasa sekali..!!!

Hiburan Malam yang Seronok

Malamnya kami (tanpa teman yang kecelakaan itu) menyebrang kali menuju ke alun-alun desa, katanya hari ini ada acara wayang golek dengan dalang Asep Sunandar Sunarya dari Bandung yang terkenal itu.  Ramai banget suasana di alun-alun ini, sepertinya semua penduduk Sawarna tumpah ruah di sini. Mereka menggelar tikar dan membawa perbekalan, dari balita sampai kakek nenek ada di sini. Berbagai makanan jajanan bisa dijumpai di seantero alun-alun. Beberapa wisatawan asing juga tampak diantara para penduduk desa.

Di panggung sedang berlangsung acara hiburan ngibing alias joget bermusik jaipong atau dangdut. Para pemuda dan bapak-bapak yang mau ngibing (menari) terlihat antri di pintu samping panggung. Yang kebagian langsung naik ke panggung dan langsung mengajak pengibing wanita berbaju warna-warni untuk ngibing sama-sama. Uang saweran pun terlihat di sebar-sebarkan para lelaki pengibing ke arah para nayaga (pemain musik) dan para pengibing wanita. Gaya seruduk banteng ala pemain sepak bola Prancis Zidane Zidane acap kali dipakai oleh pengibing laki-laki ke bagian d#d# pengibing wanita.  Cukup seronok juga…

Sudah jam setengah sepuluh tapi wayang golek belum juga dimulai. Sudah cape dan mengantuk, kami pun memutuskan untuk pulang.

Lobster

Esoknya, pagi-pagi kami sudah keluyuran di atas pematang sawah menuju TPI di Pantai Ciantir yang semalam sempat kami lewati.  Kami mau berburu ikan laut segar tangkapan nelayan, tapi TPI-nya sepi sekali, tidak ada nelayan-nelayan yang baru pulang melaut, cuma ada beberapa orang nelayan sedang membetulkan jaring, dan seseorang jauh di sana sedang mengumpulkan sesuatu di antara karang-karang.  Ternyata tadi pagi cuma ada 3 perahu yang melaut karena sebagian nelayan masih dalam suasana agustusan!!!

Ombak pagi sama dahsyatnya dengan ombak sore kemarin.  Karang nya ada yang berwarna hijau seperti puding, hijau sampai ke dalam-dalam. Rumput laut dan hewan-hewan laut yang terdampar di genangan air disela-sela karang juga banyak. Orang yang sedang di terbungkuk-bungkuk di karang itu ternyata sedang mengumpulkan rumput laut untuk dimakan, katanya kalo sudah direbus rasanya enak.

Di lantai berpasir TPI, temen-temen menemukan 2 ekor lobster, setelah tawar menawar sebisanya, akhirnya kami membeli ke-2 lobster itu seharga Rp.20.000 asyiikkkk…. mana ada lobster semurah itu…..  Lobster adalah menu hidangan laut bagi raja-raja, saking mahalnya…

Pantai Cimanuk & Pantai Cibayawak di Bayah

Dengan bantuan Mang Puloh, kami berhasil memperoleh sewaan pick up pengangkut kopra untuk mengantarkan kami ke Pantai Cimanuk di Bayah, daerah tetangga terdekat Desa Sawarna.

Kami menyebrang sungai lagi ke desa, dari sana baru kami naik pick up. Melewati jalan utama desa di tepi pantai Sawarna yang panjaaaaaaaannng.  Pantai tersebut tampak jelas terlihat dari atas bukit. Setelah melewati bukit dan hutan, kami sampai di Pantai Cibayawak. Di sini sudah lebih komersil, ada banyak warung-warung, pengunjungnya agak banyak. Pantainya landai jadi aman untuk berenang dan aksesnya mudah.

Disebut pantai Cimanuk karena dulu di karang yang menjulang jauh di sana itu banyak burung walet laut bersarang. Tapi sekarang ga ada satupun. Kalau siang menjelang sore, pengunjung bisa mencapai karang tersebut dengan cara berjalan di atas hamparan karang yang terlihat kalo laut sedang surut. Mulai jam 6 sore laut akan pasang dan hamparan batu karang ini akan tertutup air laut. Ikan laut yang terperangkap diantara karang-karang nya lebih banyak dan lebih beragam. Yang agak besar ukurannya juga ada.

Jam 4 sore kami bergegas kembali ke Desa Sawarna, karena rupanya mobilnya mau dipakai si empunya mobil untuk mengangkut kelapa. Jadilah pak supir melarikan mobilnya seperti kesetanan ngebut naik turun kaya naik roller coaster di Dufan. Kami penumpangnya cuma bisa menjerit-jerit sambil berpegangan ke pinggir pick up.

Pantai Ciantir serasa milik pribadi

Kami di drop di depan jalan setapak yang berjudul “Selamat Datang di TPI Sawarna” , melewati jembatan gantung yang tidak rontok gara-gara banjir bandang, melewati rumah-rumah penduduk (salah satunya berjudul “HOMESTAY WIDI”) dan menuju kebun penggembalaan kerbau yang banyak penghuninya, kerbau besar kecil. Kerbau yang besar pada melotot melihat saya dan satu teman lainnya yang berkaos merah. Kami berdua lari pontang panting akibat kerbaunya di hela si penggembala iseng tepat ke arah kami…ha….ha….

Kebun gembala kerbau ini berada tepat ditepi Pantai Ciantir.  Pantainya panjang landai membentang dan lengang.  Hanya ada kami dan beberapa orang warga desa yang sedang memancing.  Dengan mengikuti 3 orang warga desa yang sedang memancing di tengah ombak yang bergulung-gulung, kami bermain ombak dan bermain air, menakjubkan ternyata di sini adalah pertemuan 2 arus laut, akibatnya ombak datang dari mana-mana, bukan cuma datang dari arah depan tapi dari samping kiri kanan, bahkan ombak yang sudah sampai pantai kembali ke laut lagi dalam bentuk ombak juga…waaa…..luar biasa….

Sebenarnya bisa berjalan terus sampai agak tengah, seperti nelayan-nelayan itu, tapi takut melihat ombak yang bergulung-gulung. Kadang-kadang kami berada tepat di titik pertemuan ombak dari 4 penjuru mata angin. Seringkali terlihat kepala ombaknya bukan berjalan ke arah pantai seperti ombak-ombak pada umumnya, tapi menyamping merepet terus sepanjang badan ombak itu sendiri ke arah samping sampai bertemu dengan kepala ombak dari arah berlawanan dan byurrrrr…..ombak pecah menjadi buih-buih air laut berwarna putih.

Matahari senja yang kuning keemasan memantul dari permukaan air laut dan memandikan kami semua dengan sinarnya. Pasirnya halus dan putih. Tak ada sampah. Tak ada pengunjung lain kecuali kami. Bebas bergaya narsis apa saja. Bebas tiduran di pasir yang lembut dan hangat tanpa takut terganggu siapa-siapa.

Makin sore ombaknya makin besar. Nelayan yang sedang memancing pun sudah kembali ke darat, entah dapat ikan entah tidak, kami lupa menanyakannya karena sibuk bermain ombak dan menikmati sunset dalam gaya masing-masing.

Asyik banget serasa pantai milik sendiri…

Terimaksih Banyak Pak Puloh

Esoknya, pagi-pagi sekali kami berpamitan kepada keluarga Pak Puloh. Hari ini kami akan pulang ke habitatnya masing-masing.

Tadi malam kami sudah memesan kursi di elf satu-satunya jurusan Sarwarna-Pel. Ratu.  Walaupun kami sudah pesan tempat duduk dan ongkosnya pun sudah dibayar full tadi malam, tetap saja harus berebut tempat duduk dengan penumpang lain.

Dan busyet!!! Penumpangnya banyak benerrrr… Orang-orang dan barang bawaan penuh sampai di atap mobil. Ibu-ibu kegencet oleh bapak-bapak yang berdiri berdesakan di pintu, cuma kepalanya saja yang masuk ke dalam mobil, pantatnya nungging kemana-mana.

Parahnya lagi, mobil ini ternyata knalpotnya rusak. Jadi asap knalpot nya yang bau dan hitam pekat itu masuk ke dalam mobil, membuat kami seperti tercekik. Untung duduk dekat jendela…. jadi tidak terlalu parah baunya. Di Cikotok sebagian penumpang turun, dan semua penumpang yang duduk diatas mobil harus masuk, karena memasuki wilayah Pel. Ratu banyak patroli Polisi, nanti bisa ditilang.

Indonesia bangeeettttss…..

———–000000000———-

Pantai Tanjung Lesung : Numpang Kemping di Resort

29/12/2011
 Oleh : Dian Sundari

Gara-gara ingin tidur di alam terbuka, di atas pasir pantai kalau bisa (sayangnya tidak bisa karena pasang laut sampai ke atas) atau di atas rumput hijau, di bawah langit yang bertabur bintang, saya dan teman sampai pindah lokasi tidur berkali-kali karena belum juga menemukan “posisi wueenak”.

Coba digelar ditengah halaman… ahhh terlalu berangin… pindah yuk ke dekat karang penahan ombak dekat pohon, ahh…banyak semutnya…pindah lagi yuukk…., beberapa lokasi lagi dicoba, menggotong matras dan sleeping-bag ke sana kemari, akhirnya dapat tempat nyaman di samping dan depan tenda :p

Kekonyolan itulah yang paling saya ingat dari trip ini 😀

Gambar dari : tanjunglesungbeach.blogspot.com

======================

Resort Tanjung Lesung di Anyer (Banten), sebenarnya bukan tempat umum yang bisa begitu saja dipakai untuk kemping, tapi kami beruntung diizinkan mendirikan tenda di halaman samping nya, tentu berkat bantuan “orang sakti” kenalannya Pak Ketua Rombongan.

Lumayan banyak juga peserta kemping ceria kali ini.  Kami berangkat dari Jakarta melewati rute : Tol Merak – Labuan – Panimbang – Tanjung Lesung.   Lama perjalanan kira-kira 3,5 jam.  Buah mangga dan jambu air yang sedang berbuah lebat di halam hampir setiap rumah, begitu menggoda selera [atau kecanduan ???] saya dengan rujak ulek…!!!

Kecanduan rujak saya seketika terobati ketika kami mapir ke rumahnya Bapak Pemilik Perahu yang akan kami sewa, yang ternyata sedang pesta rujak mangga di teras rumahnya 😀

Di halaman samping resort, kami mendirikan 3 tenda.  Acara malam hari disibukkan dengan memasak makan malam beraneka rupa, Pak Ketua Rombongan adalah seorang chef yang hebat, selalu banyak makanan enak penuh “improvisasi unik” setiap kali saya ikut tripnya, itu juga alasan terbesar saya ikut trip-tripnya 😀

Cuaca malam itu ternyata lumayan juga, tidak turun hujan lebat seperti yang kami takutkan sejak sore karena mendungnya yang luarbiasa.  Mungkin awan hujannya tersapu angin lautan.

Esok paginya cuaca cerah, hunting sunrise tentu saja.  Rupanya tidak jauh dari dermaga ,  ada spot surfing, sepagi ini sudah ada beberapa peselancar yang tengah asyik mengejar dan menaiki ombak.  Kembali ke area kemping, kami disambut dengan menu sarapan pagi  yang juga penuh improviasi.

Lanjut dengan acara snorkling, harus dipuas-puasin sekarang setelah kemarin siang acara snorkling kami dekat pulau kecil itu gagal karena arusnya lumayan kencang ditambah mendung gelap.  Tapi pagi begini ternyata lautnya masih pasang, lumayan capek juga ternyata berenang dari pantai hingga agak ke tengah-tengah, ditambah lagi dengan tidak cukup “pede” karena tidak memakai pelampung :-p

Seharusnya kami memakai perahu, supaya bisa mencapai spot snorkling di sana itu, seperti para tamu-tamu resort yang pelampung merah-orange nya terlihat agak lebih jauh ke tengah lagi.

Menjelang siang, lautnya surut, dan kami snorkling lagi dengan lebih mudah.   Teman saya yang pandai berenang, bahkan bertemu dengan clown-fish di rumah annemonnya.  Cantik-cantik sekali fotonya.

Wahh…Tanjung Lesung ternyata menawarkan atraksi alam yang lengkap : surfing, snorkling, diving, permainan banana boat, dll.  Sangat cocok untuk wisata keluarga juga.

Jadi selamat berwisata di Tanjung Lesung 😀

=========Okt-2008==========

Sawarna – your private gate away

By : Dian Sundari

Sawarna, a lovely name for a lovely small village at the edge of Hindia Ocean, about 230 kms heading south from Jakarta.  The name Sawarna comes the word suarna means gold, because once upon the time during Japan colonialism, this village is producing gold.

Location            : Kec. Bayah – Kab. Lebak – Banten Province

Sawarna

Main Features    :

  1. Beaching                                       :   at Lagun Pari Beach, Ciantir beach
  2. Nature Aquarium Watching :    at Tanjung Layar
  3. Caving                                            :   at Goa Lauk and Goa Lalay
  4. Hiking                                            :   at Paddy field
  5. Culinary                                        :   Fresh Seafood (lobster fresh from the ocean)

Beaching

Lays beneath the conservation forest is a long private beach called Ciantir.  You can lays yourself at this pearly white sandy beach without anyone bothering you.  Enjoying yourself in a sunny day. Or you can do surfing on its high hindia ocean wave.  Choose your private beach a long Ciantir Beach or a secluded Lagun Pari beach.

-34 Pantai Ciantir 2 -15 Pantai LagunaPari 1 -23 Sunset di Tanjung Layar 2

Ciantir Beach                                  Lagun Pari Beach                            Amazing sunset at Tanjung Layar

Nature Made Aquarium

When the prince of tide is getting its lowest level, you can enjoy an amazing experience of watching various kind of colorful fish inside the nature made aquarium at Lagun Pari Beach.  Fishes is trapped between rocks and waiting for the prince of tide to take them back to the ocean.

-16 Penghuni LagunaPari

Lion fish waiting for the high tide

Paddy field Hiking

If you love hiking at the Green Paddy Field, this Sawarna Village also over you an exciting journey.  Experience yourself by having lunch with traditional farmer in the middle of green paddy field. Catching sunrises between paddy leafs. Experiencing traditional soil preparation activity using “garu” which is being dragged by bull. Or you also can became a traditional farmer, plant your own paddy !!!

-04 Our Home Stay

Paddy field

Caving

There are 2 caves to be visited, Goa lalay and Goa Lauk.  These cave can be explored both by amateur or by professional caver.  Smooth mud at the underground river inside Goa Lauk will cares your feet.  Wear your waterproof booth or wear nothig but your feet skin.

-10 Masuk Goa Lalay

Culinary

Enjoy fresh seafood and various sundanese culinary.  Try your luck to get cheap fresh lobster.

-59 Sajian malam -33 Sang Lobster 2

Handy Craft

Learn how to make a Fine Homemade guitar.

Enjoy the experience of making “gula kelapa” (coconut sugar).

Gula Kelapa 2

Rute :

  1. Via Serang (Banten)
    1. Private Transportation

Heading west from Jakarta, take Jakarta-Merak Toll Road, exit at Serang Timur Gate, look forward for Tanjung Lesung – Labuan sign , follow the sign which will take you to Pandeglang City.  Look forward for Saketi sign, follow the lead which will take you to a small city called Malingping Bayah.  Turn right when you reach Terminal Bayah, when you meet Cibayawak Junction take the straight road.  Then you will meet the wellcome sign “Selamat Datang di Desa Sawarna”, just follow the road and you will find yourself the promising Desa Sawarna.

  1. Public Transportation

–       Take a bus from Jakarta to Serang, take elf minibus from Serang to Bayah, take “ojek”  to Desa Sawarna

  1. Via Tangerang
    1. Private Transportation

Jakarta—Balaraja—Maja—Rangkasbitung—Malimping—Bayah—Sawarna

  1. Public Transportation

–       Take a bus from Jakarta to Cimone (Tangerang City), take bus or elf minibus to Bayah, take “ojek”  to Desa Sawarna

  1. Via Pelabuhan Ratu
  2. Private Transportation

Heading south from Jakarta, take Jagorawi Toll Road, exit at Ciawi Gate, drive forward to Pelabuan Ratu.  From Pelabuhan Ratu, take the main road to Cikotok Bayah,  when you meet Ciawi Bayah Junction turn left, just follow  the road and you will find yourself the promising Desa Sawarna.

  1. Public Transportation

–       Take a bus from Jakarta to Sukabumi, drop yourself at Cibadak Junction, take bus from Cibadak to Pelabuan Ratu, take elf minibus from Pelabuhan Ratu to Cikotok Bayah, drop yourself at Ciawi Bayah Junction, from here take “ojek”  to Desa Sawarna

–       Or take a bus from Jakarta to Bogor , from here take a bus to Pelabuan Ratu, and than take elf minibus from Pelabuhan Ratu to Cikotok Bayah, drop yourself at Ciawi Bayah Junction, from here take “ojek”  to Desa Sawarna

Accommodation :

–       Non commercial local farmer home surrounded by green paddy field

–       Commercial Home stay near by the sea

Curug Gendang – Carita (2 September 2007)

Ini adalah destinasi kami yang ketiga setelah Krakatau dan Lagun Cabe.

Kami dengan ngotot tetap ingin pergi dari pantai ini dan berkemah di Curug Gendang, tapi menurut Pak Saeful dengan barang bawaan kami yang segambreng (terutama perlengkapan makanan nya Oom Ridwan) kami tidak mungkin bisa trekking gelap-gelapan melewati jalan setapak di hutan menuju curug yang jarak tempuhnya kira-kira 1 jam dari pos jagawana (jarak pos itu sendiri dari sini kira-kira 1 jam jalan kaki).

Akhirnya kami memutuskan untuk menyewa angkot dari sini hingga Pos, mendirikan tenda di sana, dan besok pagi baru trekking ke Curug. Snorkell gear, kami titip di rumah salah satu temannya Pak Samsul.

Lamanya juga kami menunggu angkot carteran yang katanya milik temannya Pak Samsul. Kami duduk-duduk di pinggir jalan di depan pantai Carita. Sesekali angkot-angkot yang lewat, berhenti di depan kami dan supirnya menanyakan tujuan kami. Ada juga ibu-ibu yang biasa berdagang di pantai yang menyengka kami belum dapat kamar untuk menginap dan mau mencarikan kami tempat penginapan. Akhirnya Pak Samsul mencegat salah satu angkot yang lewat, yang rupanya supirnya dia kenal, dan kami pun meneruskan kembali perjalanan kami.

Sesampainya di Pos, kami sangat lega karena ternyata di sana sepi dan ada air tawar serta semacam MCK yang bisa digunakan untuk kencing dan cuci muka, tapi ngga bisa buat BAB. Di pelataran Pos Jaga yang cukup lebar, kami pun mendirikan tenda. Ridwan Sang Chef mulai menggelar peralatan tempurnya dan memasakkan kami makan malam. Pak Samsul dan Mas Ocid mencari kayu bakar dan api unggun. Darwin dan Mamad mendirikan tenda. Yang lain menggelar lembaran plastik untuk alas duduk dan membongkar matras serta sleeping bag. Begitu api unggun menyala, kami pun sibuk bakar-bakar, ada yang bakar sosis, bakar otak-otak yang tadi dibeli di Pantai Carita, dan ada juga yang bakar ikan hasil memancing dan menombak tadi. Makan malampun siap digelar dan di santap beramai-ramai. Wah seru sekali acara mengerubuti ikan bakar…..

Seusai makan sampai kenyang, kami yang sudah kelelahan mengatur posisi tidur. Para cewek tidur di dalam tenda dan ber-sleeping bag. Sedangkan para cowok tidur di luar, ada yang ber-sleeping bag karena memang bawa, ada yang cuma berjaket, berkaus kaki, berkupluk, dan bercelana panjang, tapi yang ngga bawa apa-apa seperti Oom Ridwan, harus bergemeletuk menahan dingin dengan hanya bersarung, untung lemaknya banyak…. he…he….

Pagi-pagi, selagi bongkar tenda, kami dikejutkan dengan kedatangan se-pick up muda-mudi yang akan berangkat ke curug. Mereka mampir dulu di Pos ini, mencuci muka, kencing, dan ber-ha-ha-hi-hi dengan bahasa campuran Indonesia gaul dan bahasa lokal yang Sunda bukan Jawa juga bukan. Dan tentu saja mereka menonton kami yang sedang memasak dan berbenah. Tak lama kemudian, Petugas Jagawana datang. Rupanya dia menginap di curug, karena katanya ada beberapa kelompok anak muda yang sedang berkemah di sana.

Setelah sarapan bersama-sama dengan petugas Jagawana, kami memulai trekking pagi menuju curug. Barang-barang kami titipkan di Pos dan kami hanya membawa air minum, makanan, dan barang-barang lain yang dianggap diperlukan di curug sana, seperti baju ganti.

Jalur treking awalnya adalah lanjutan jalan beraspal tipis, kemudian di lanjutkan dengan jalan tanah yang agak lebar, selanjutnya adalah jalan setapak berbatu dipinggir tebing yang rimbun dengan pepohonan. Suara gemuruh sungai lamat-lamat mulai terdengar ditingkahi suara-suara burung, dan binatang jangkrik hutan. Jalur trekkingnya teduh dan tidak terlalu naik turun, hanya harus hati-hati jangan sampai terpeleset ke sisi kiri, bisa-bisa mengglundung hingga ke sungai kalau tidak nyangkut di akar-akar pohon.

Selang beberapa lama, kami pun sampai di curug. Sungainya jernih dan tidak terlalu besar. Airnya juga tidak banyak. Air terjunnya lumayan tinggi, airnya mengalir deras ke ceruk di bawah nya yang dikelilingi tebing-tebing batu hingga membentuk lingkaran yang terbelah oleh aliran air sungai. Di situ juga ada warung, dan ada toilet umum. Jadi tidak usah khawatir dengan makanan dan minuman.

Anak-anak muda yang sedang berkemah langsung beraksi meloncat dari atas tebing, searah dengan luncuran air terjun, dan langsung nyebur ke dalam ceruk di bawahnya. Hiyyy…..4 meter ada kali ya tingginya, mungkin kalo melompat, jantung langsung copot duluan sebelum badan nyebur ke air… Diantara kami t
idak ada yang berani meloncat, jadi kami hanya bermandi-mandi ria di sungai yang dibuat seperti kolam karena airnya dibendung. Ahhhh…..dingin…. segarrrrr……banget airnya.

Cukup lama juga kami bermain air dan bernarsis ria di depan si Oly. Om Ridwan sang Diver menularkan ilmu duck dive-nya kepada para bocah laut yang dengan antusias mencoba berjungkir balik di air sampai cuma tinggal kakinya doang yang melambai-lambai di atas. Acara bermain air diselingi dengan acara memasak kentang goreng dan sosis goreng di pinggir sungai, yang panas-panas langsung diserbu. Makannya dicolekkan ke dalam sambal dicampur mayonaise… hmmmm….. enaknyaaaa…. jadi laper nih kebayang lagi enaknya…. Minumnya ada yang pesen kopi pahit ke warung, ada yang bikin wedang jahe, ada yang nyeduh ovaltin™ dan energen™, dan ada juga yang beli coca cola ™ dan fanta™ yang dari tadi derndam dulu dalam air sungai supaya adem walahhh…… segereeee… lengkaplah sudahhh…..

Belum puas main air sungai yang suejukkkkk….sehabis makan kami pun nyebur lagi. Kali ini gilirannya mandi sama-sama, bermodalkan sabun batangan lifebuoy™ dan shampoo sachet pentene™, kami pun asyik bermandi-mandi ria. Matahari yang tandinya hilang timbul, sekarang bersinar terang, jadi membikin suasana hangat, dan badan tidak terlalu menggigil lagi.

Sudah hampir jam 1 siang, yukk…yukkk….udahan yukkkk…. dan tepat pada saat kami naik dari sungai, datanglah serombongan muda-mudi yang langsung mengambil alih sungai, dan beratraksi meloncat dari tebing. Sementara kami mengganti baju, dan bersiap-siap untuk pulang.

Di perjalanan pulang, sendal jepitnya Oom Ridwan rupanya sudah tidak tahan lagi diinjak-injak sang beruang terus-menerus, hingga mengantarkannya mendaki krakatau yang pasirnya panas membara dan merambah jalur trekking berbatu menuju curug ini, akhirnya sang sendal pun putus, dan dibuang begitu saja oleh si pemilik. Kasihan sang sendal…, dan kasihan pula sang pemilik yang harus nyeker jalan kaki melewati medan berbatu-batu, sampai jingkrak-jingkrak kaya lagi berjoget dangdut ..ha…ha… lucu banget ada beruang jogettt….

Sesampainya di Pos, angkot yang kami carter semalam dan akan kami carter lagi hari ini, ternyata sudah menunggu. Kami segera bergegas packing lagi dan berpamitan pada petugas jaga. Dan berangkat menuju Cilegon lagi. Di Carita kami mampir di rumah temennya Pak Samsul untuk ambil snorkell gear yang kami titip kemaren, sekaligus ber-say good bye kepada Pak Samsul dkk. Kamipun melanjutkan perjalanan kembali. Sesampainya di jalan raya Anyer, jalanan macet dan puanaaasss… yahhhh.. beginilah kondisi kalo hari libur di jalan Anyer ini, penuh dengan wisatawan.

Menjelang jam 3, kami sampai di rumah Ridwan kembali. Langsung menyerbu bakso ikan yang kebetulan lagi nongkrong di situ. Hhhh…..enak banget, otak lagi kriting kepanasan, dikasih makanan pedas…langsung cling!!! Segar… apalagi disediain es teh manis…wuahhhh….asoyyyy.

Kami tidak lama-lama beristirahat di rumahnya Ridwan. Kami segera berangkat lagi menuju rumah masing-masing. Di dekat Toserba Ramayana kami pun berpisah. Gw naik bus menuju Bogor yang kebetulan saat itu lewat, sedangkan Darwin, Mamad, Dini, dan Emyl naik bis Jakarta. Mas Ocid sudah lebih dulu pisah karena mau ke Subang katanya, ke rumah neneknya.

Oke deh kawan-kawan… terima kasih banyak atas semuanya yaaa…. seru banget triping nya… sehabis lebaran kita keluyuran lagi entah kemana…. (mungkin kembali ke Krakatau, kan puncaknya belum terinjak…he…he….penasaran tetep).

C u on d next trip……..

———————oooooooooooooooooo—————————-

Thanks to: Pak Samsul dan rekan-rekannya, Oom Ridwan dan keluarganya, para bocah laut (Darwin, Mamad, Dini dan Emyl)

(16-19 Agustus 2007) Sawarna – Bayah

Ini dia triping 3 hari ala srimulat (minjam istilahnya Emyl) karena kita ketawa ketiwi melulu selama 3 harian…bener-bener gokill…!!!

Kamis, 16 Agustus 2007

Berhubung kami yang para kuli ini ngga seragam jam pulang ngulinya, maka kami terbagi jadi 2 kloter. Kloter 1 terdiri dari : Erni, Fitri, Anis, Rika, dan gue, sedangkan kloter 2 terdiri dari Emyl, Esma, dan Risda.

Kloter 1 (kecuali gw yg nunggu di Cicurug) janjian ngumpul di Terminal Baranang Siang Bogor jam 19:0 ~ 19:30 …. dan ternyata baru jam 20:05 mereka dapet bis, setelah sempat macet gara-gara pas jam pulangnya orang2 garment akhirnya jam 21:15 mereka nyampe juga di tempat gw nunggu. Waahhhh…bis nya penuh bangettt.

Jam 23:22 tiba-tiba mesin bis kami batuk-batuk dan akhirnya mogokk…. walah tengah malam di negeri antah berantah pula dan masih jauh dari Pel. Ratu… menurut Erni mungkin kualat kali gara-gara dia ditarik ongkos Rp17.500 sedangkan Anis cuma Rp15.000!!!

Ngga lama kemudian bis sudah bisa jalan lagi, tapi alamaaakkkk…mesinnya tiba-tiba mati lagi n mogok lagi padahal terminal Pel. Ratu tinggal 2 tanjakan pendek lagi, para penumpang pria alias bapak-bapak berusaha mendorong bis… Di tanjakan rendah yang pertama si bis berhasil didorong melewati tanjakan dan menggelinding mulus menuruni turunan….tapi menjelang tanjakan ke-2 yg agak tinggi bis-nya tidak mampu terus… Wahh terpaksa deh kami semua turun. Kami pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki di tengah malam buta, menuju meeting point kami dengan Pak Djay – pemilik mobil pick up yang akan kami tebengi hingga Sawarna – yaitu didepan POM Bensin dekat TPI Pel. Ratu.

Setelah tanya sana sini akhirnya kami bertemu dengan Pak Djay. Kami pun segera melakukan confrence call alias berembuk dengan kloter 2, memutuskan apakah mau nunggu kloter ke-2 yang ternyata saat itu masih di Ciawi – Bogor (ajagilabusyettt….) dengan resiko harus tidur di sini di dalam bak belakang pick up sampai pagi atau berangkat duluan menuju Sawarna dengan resiko meninggalkan rekan-rekan dibelakang…., akhirnya kami sepakat untuk berangkat duluan.

Maka mulailah perjalanan berguncang-guncang di bak belakang pick up Pak Djay. Gue, Rika dan Anis memilih tidur di bak belakang, di atas tikar yg sudah disiapin Pak Djay. Gara-gara menghadap belakang ternyata pusing juga melihat pohon-pohon dan bangunan-bangunan berlarian berlawanan arah dengan yang biasanya kita lihat kalo naik mobil dengan posisi menghadap ke depan. Hwaaaa…daripada pusing mending tidur!!! Awalnya ngga begitu dingin cuma berjaket doang, tapi brrrr….lama-lama dingin juga. Ngga tahan akhirnya minta berhenti dulu di tempat terang untuk bongkar backpack nyari sleeping bag (kecuali Anis yg males bongkar). Hmmmm…. anget….dan zzzzz…. kami pun tertidur pulas.

Di tengah jalan kami terbangun karena mobil berhenti gara-gara ada orang yang mau menumpang. Katanya mereka biasanya memang begitu. Gara-gara sudah biasa dan biasanya ngga ada orangnya di bak belakang sini, maka si Bapak main naik aza tanpa babibu, hampir saja gue diinjek nya eee….. Bapak ati-ati dooong ada orangnya nih…!! Si Bapak pun kaget melihat ada 3 bidadari tidur di bak pick up!!! Tidur lagi ahhhh… ngantuk. Sayup-sayup antara sadar dan tidak masih terdengar obrolan bapak-bapak itu yg sekali-sekali dijawab Anis. Entah di daerah mana tuh Bapak-bapak yang nebeng turun. Sisa perjalanan dilalui dengan tidur pulas….

Tiba-tiba mobil berhenti, pintu mobil dibuka dan dibanting menutup, dan “Woooy…woyyy…bangun woy, udah sampe. Ayo packing2 lagi…, kita musti nyebrang sungai…” kata Erni. Hahhh???? Jam berapa ini??? Ternyata baru jam 02:30 pagi…. Serasa mimpi, gw berusaha melipat kembali sleeping bag dengan benar, walahhh…. ternyata susah, yasud di lipet ngasal dan bessss… dimasukin ke backpack.

Waaa…di mana ini Pak Djay??” tanya gue. “Di Sawarna” kata Pak Djay. Tapi kita musti nyebrang sungai, jembatan gantungnya ambruk diterjang banjir bandang. Headlamp dan senter pun dikeluarkan, celana digulung, kaos kaki dilepas, dan byurrr…kecuprak…kecuprakkk…. kita pun nyebrang sungai di bagian yang dangkal, cuma selutut, lebarnya kira-kira 3 meter ada kali ya… (maksudnya bagian yg berairnya…).

Sehabis nyebrang sungai, kita musti berjalan di pematang sawah, yaaa…. kira-kira 200 meteranlah. Di langit bulannya bulan sabit, bintang pun dikit karena tertutup awan. Setelah melewati selokan irigasi, kami sampai di rumah kenalannya Pak Djay. Ternyata ini adalah rumahnya Pak Puloh, pengrajin arang batok kelapa rekan bisnisnya Pak Djay. Seisi rumahpun terbangun gara-gara kedatangan kami. Setelah ngobrol berbasa-basi dengan tuan rumah, kami pun meneruskan tidur. Sebagian tidur di kasur yang digelar di lantai ubin, sebagian tidur dalam sleeping bag di lantai, dan gw kebagian tidur di kursi. Zzzzz….sampai pagi, niat hunting sunrise lewatlah sudah….

Jumat, 17 Agustus 2007

Pagi-pagi…sambil menunggu sarapan yang sedang disiapkan Bu Puloh, kami keluyuran di sawah, hunting foto ceritanya sih…., ada keluarga bebek berenang di sawah di foto, ada ibu-ibu mencuci di kali difoto juga, ada iring-iringan orang-orang nyebrang sungai sambil menggotong perahu hias untuk pawai 17-an difoto pula, sampai ke telur keong mas yang menempel di batang padi pun di foto. Ahhh…ya, ayam jago juga difoto!!

Hhhh…laper…balik ke rumah lagi yukkk…dan ternyata sarapannya sudah siap. Hmmm…sedaaappp… Rencananya pagi ini kami mau ke pantai yang terdekat dulu yaitu pantai Ciantir sambil menunggu teman-teman yang lain. Yukk..yukk sudah jam 08:20 kita berangkat yukkk…tapi begitu buka pintu…lhaaaaa…..itu me
reka lagi nyebrang sungai. Woooyyyy….kami di sini teman-teman!!! Rencana ke pantai pun dibatalkan.

Dengan hebohnya bertemulah ke-2 kloter backpacker super gokilll….ramai saling bertukar cerita di teras rumah yang tepat di depannya mengalir saluran air untuk irigasi sawah, yang ternyata juga dipakai untuk kegiatan MCK yuppp…MANDI CUCI KAKUS, seperti ibu-ibu di depan kami yang sibuk mencuci piring dan baju, ada juga yang mandi, hi…hi…hi…saruuuu…

Ternyata kloter 2 ini sempet berantem dengan supir angkot yang berjanji mo nganter sampai Pel. Ratu ternyata bokis akibatnya mereka diturunin di tengah jalan tanpa tau ada di daerah mana, di pagi buta pula wah…dan mereka akhirnya nebeng truk sampai Pel. Ratu…asyrikkkk….seru punya!! Dari Pel. Ratu sudah ada angkot, sampai pertigaan Ciawi-Sawarna, selanjutnya naik ojek sampai Sawarna…nyebrang sungai deh ke sini, ke Kampung Leles namanya…..

Setelah berembuk lagi tentang tempat-tempat yang mau kita kunjungi, akhirnya kami memutuskan untuk ke Goa Lalay dulu sampai waktunya Sholat Jum’at karena Mang Puloh kan musti ke Mesjid. Sorenya kita susur pantai dari mulai Laguna Pari, Karang Heulang, Batu Layar, sampai Ciantir. Rencananya mo hunting sunset di Batu Layar.

Dengan menyusuri sepanjang jalur irigasi yang katanya memang sumbernya dari Goa Lalay tersebut, kami berjalan beriringan, melewati kebun dan sawah penduduk yang tampak kering dan kosong karena sudah lewat musim panen dan belum tiba musim tanam berikutnya.

Jam 09:25 kami tiba di suatu bendungan yang ada kincir air kecil untuk menaikan air ke pipa-pipa yang akan dialirkan ke sawah-sawah. “Nah, kita sudah sampai ke Goa Lalay” kata Mang Puloh. Hahhh?? Mana goa-nya Mang??? Itu lobang air yang sempit itu goa lalay nya kata si Emang lagi. Alamakladalahhh…..kecil bener lobangnya??? Salah kali Mang…bukan ini!!! Orang dari gambar-gambar di internet goanya gede, orang bisa masuk sampai ke dalam… Gambar orang yang ber-foto di dalam goa dengan peralatan caving lengkap juga ada di Kompas OnLine….

Yaaaa….ternyata si Mang Puloh ini ngga tau potensi wisata daerahnya sendiri, dia ngga tau kalo ada Goa Lauk dan Goa Lalay yang sering di jelajah para Caver. Wahhh…yasud kita ke desa aja deh ke rumahnya Pak Hudaya sang tokoh Sawarna, minta tolong dicariin local guide yang pernah masuk ke goa-goa tersebut..

Kalo mo ke desa, lewat sini Neng” kata Mang Puloh. Kita pun menempuh rute berbeda dengan rute waktu berangkat. Ngga lama…di sebelah kanan ada pintu goa besar menganga….. “Lho, Mang …., ini goa bukan??? Ini goa Lalay nya kali Mang, tuh besar banget di dalamnya…ada sungai bawah tanah yang mengalir di tengahnya…stalaktitnya juga banyak…tapi ga ada lalay nya…” Tapi di mulut goa, ada semacam bak air dari tembok, sungai bawah tanahnya pun di bendung dengan tembokan dan airnya di alirkan ke saluran irigasi… Wahhh…ternyata si Mang Puloh juga ngga tahu tentang goa ini dan belum pernah ke sini. Waduhhh…bahaya deh jangan masuk dulu terlalu dalam, takutnya sungainya berbahaya…..

Selagi bertanya-tanya dan berdebat kusir serta ber-narsis ria di mulut goa, tiba-tiba ada serombongan cewek berkaos merah merah membawa headlamp dan senter, dipimpin oleh seorang bapak-bapak yang membawa lampu petromax…. Ternyata mereka ber-8 adalah rombongan dari Jakarta juga, baru tiba tadi pagi, dan berniat menyusuri goa Lalay ini. Waaaa….kebetulan….. Goa di cinta guide pun tiba…. boleh nebeng ngga??? Xi..xi..xi..xiiii…. srikk..asyrikk..asyriiikkkk…..nebeng lagiiiii….

Dengan dipandu oleh si Bapak yang bawa petromax (aduh maaf siapa namanya lupa d…) kami beriringan di sungai bawah tanah yang membelah goa, yang ternyata dalamnya cuma selutut, dan dasarnya adalah lumpur halus yang tidak nyaman jika disusuri sambil memakai sendal. Di beberapa spot kami naik ke tepi sungai. Harus extra hati-hati karena di lantai goa ini lumpur yang basah menjadi sangat licin.

Waaa….tinggi banget langit-langit goa-nya… stalaktit-stalaktitnya yang tajam bertonjolan dimana-mana, airnya menetes-netes dari beberapa stalaktit. Tak lupa kami ber-narsis lagi… grup merah bercampur dengan grup backpacker srimulat kami, jadi rame kaya di depan bioskop Keong Mas. Karena peralatan yang tidak memadai dan skill yang jelas tak kami miliki akhirnya setelah agak dalam kami menghentikan perjalanan susur goa kali ini dan kembali ke tempat semula kami masuk.

Sempat terpeleset waktu mau turun sungai, sampai-sampai kamera dan sarungnya nyungseb ke dalam lumpur super becek….untung si Oly gw ini waterproof dan tahan banting, jadi ga apa-apa….dicuci dikit udah bersih lagi, tapi sarungnya musti di sikat nihh… Di mulut goa ini kami berpisah dengan grup merah…, mereka kembali ke desa, sedangkan kami menyusuri rute semula kembali ke Kampung Leles untuk makan siang tentunya…. Terimakasih ya teman-teman…..

Jam 14:30 kami berangkat untuk kegiatan susur pantai (istilah kerennya sih…sebenarnya cuma main-main di pantai…). Rutenya melewati kebun kelapa, kandang-kandang sapi dan kambing, sawah yang kering, bukit gersang dengan rumput liarnya, kebun kelapa lagi, dan setelah melewati salah satu puncak bukit, tampaklah pantai Lagun Pari di bawah kami.

Pasirnya putih berkilauan terkena cahaya matahari, ombak laut selatannya yang bikin gentar berdebur-debur menghantam karang hitam di sebelah timur. Lautnya yang biru membentang sampai batas pandang. Di sebelah barat tampak hamparan batu karang yang menghijau karena ditumbuhi lumut dan rumput laut. Karena sedang surut, banyak sekali hewan-hewan laut yang terperangkap di dalam kubangan air diantara karang-karang. Seperti melihat ke dalam aquarium saja. Kami menjumpai berbagai-bagai hewan laut yang tak kami tahu namanya. Ikan-ik
an kecil beraneka yang sangat susah di foto, selalu ngumpet ke dalam lubang karang setiap kali kami bergerak mendekati walaupun dengan sangat pelan. Gesit bener mereka menghindar. Tapi kalo sabar menunggu dengan kamera yang sudah stand by di dalam air, akhirnya dapet juga beberapa foto ikan. Kalo sudah frustrasi sih, jepret aja dari permukaan seperti kalo kita foto ikan di kolam…, ada pantulannya memang…tapi lumayan lah….

Wilayah pantai berkarang yang muncul hanya kalo laut sedang surut ini, luas sekali. Ada batu-batu karang yang akibat hempasan ombak laut selatan yang kencang selama bermilyar-milyar tahun lamanya, jadi membentuk seperti deretan sandaran kursi berjajar-jajar, berjalur-jalur seperti di bioskop 21, semuanya menghadap ke laut selatan. Maka kamipun menjulukinya pantai 21.

Jauh didepannya, batu karang hitam berdiri tegar menahan deburan ombak laut supaya tidak naik ke dalam bioskop. Jika ada ombak tinggi datang, pemandangannya menjadi sangat spektakuler. Karena penasaran dengan pemandangan apakah yang tersji di balik batu karang, Risda naik ke atas karang, dan gw pun menyusul. Dan….wow, ombak ganas berdebur-debur menhantam batu karang tiada henti. Deburan ombak yang cukup besar menyemburatkan air laut menghujani kami, takjub dan ngeri dengan kekuatan alam, gw buru-buru turun takut ada ombak gede banget, bisa terlempar mental menghantam batu-batu karang gw nantinya… Apa yang ditakutkan akhirnya terjadi menimpa temen gw Risda, padahal dia sudah turun dari tebing tapi masih bisa terhantam ombak saking kuatnya, akibatnya dia limbung dan terjatuh, lututnya terluka dan terkilir gara-gara terperosok diantara celah karang.

Selain karang terjal pembawa celaka orang-orang yang penasaran, nekat, dan ceroboh itu, ada pula dataran batu karang yang menghampar datar ke arah barat , lurus membujur dari timur ke barat seperti jalan tol sehabis hujan sore-sore, basah bersinar keemasan akibat pantulan matahari sore. Garis-garis berjajar seperti marka jalan, memisahkan jalur tol yang satu dengan yang lainnya. Indah sekali.

Di pinggir selatan jalan tol, karang-karang megah bergerombol-gerombol lengkap dengan deburan ombak-ombak nya yang menghantam terus menerus. Mengundang orang penasaran dan nekat seperti gw, Risda, Rika, dan Emyl. Mereka semua basah kuyup terguyur ombak karena turunnya tidak di saat yang tepat. Untunglah gw turun selalu pada saat yang tepat. Di Karang pertama tempat Risda jatuh, gw dah turun duluan jadi selamat, di karang ke-2 juga begitu, tapi tetap aja kedinginan kena angin laut sore.

Di sisi utara jalan tol, menjulang 2 buah batu karang seperti layar yang tertancap di perahu nelayan. Oleh karena itu tempat ini dinamakan Tanjung Layar. Menatap matahari sore yang mengintip dari celah-celah awan tepat di atas puncak batu layar, hmmmm….benar-benar indah. Hari mulai gelap, dan kami pun mulai trekking kembali ke kampung Leles. Melewati kebun dan sawah. Untung headlamp nya ta bawa.

Malamnya kami keluyuran keluyuran ke alun-alun desa , tentu musti nyebrang kali dulu dong, niatnya sih mo nonton wayang golek dengan dalang Asep Sunandar Sunarya dari Bandung yang terkenal itu. Ramai banget suasana di alun-alun ini, sepertinya semua penduduk Sawarna tumpah ruah di sini. Mereka menggelar tikar dan membawa perbekalan. Dari balita sampai kakek nenek ada di sini. Berbagai makanan jajanan bisa dijumpai di sini. Beberapa wisatawan asing juga tampak diantara para penonton.

Di panggung sedang berlangsung acara hiburan ngibing alias joget bermusik jaipong atau dangdut. Para pemuda dan bapak-bapak yang mau ngibing (menari) terlihat antri di pintu samping panggung. Yang kebagian langsung naik ke panggung dan langsung mengajak pengibing wanita berbaju warna-warni untuk ngibing sama-sama. Uang saweran pun terlihat di sebar-sebarkan para lelaki pengibing ke arah para nayaga (pemain musik) dan para pengibing wanita. Gaya seruduk banteng ala pemain sepak bola Prancis Zidane Zidane acap kali dipakai oleh pengibing laki-laki ke bagian d#d# pengibing wanita.

Ada juga pengibing lelaki yang membawakan tarian jaipongan solo alias sosoranganan atau bersama teman-temannya, hoby menari kali jadi sumbang tari… Sudah jam setengah sepuluh tapi wayang golek belum juga dimulai. Sudah cape dan mengantuk, kami pun memutuskan untuk pulang.

Kami berembuk lagi untuk kegiatan esok hari. Berhubung Risda kakinya masih sakit jadi mau ga mau dia harus stay di sini. Kami pun akhirnya memutuskan untuk explore pantai Karang Taraje dan pantai Cimanuk alias Cibayawak di Bayah.

Sabtu, 18 Agustus 2007

Esok paginya, pagi-pagi kami sudah keluyuran di atas pematang sawah menuju TPI di pantai Ciantir, dengan tujuan berburu ikan laut segar tangkapan nelayan. Tapi ternyata di TPI sepi cuma ada beberapa orang nelayan sedang membetulkan jaring, dan seseorang jauh di sana sedang mengumpulkan sesuatu di antara karang-karang. Ombak pagi sama dahsyatnya dengan ombak sore kemarin.

Karang nya ada yang berwarna hijau seperti puding, hijau sampai ke dalam-dalam. Rumput laut dan hewan-hewan laut yang terdampar di genangan air disela-sela karang juga banyak. Orang yang sedang di terbungkuk-bungkuk di karang itu ternyata sedang mengumpulkan rumput laut untuk dimakan, katanya kalo sudah direbus rasanya enak.

Di lantai berpasir TPI ternyata temen-temen menemukan 2 ekor lobster. Daripada ga dapat ikan sama sekali, kita beli aja ini lobster yukkk… dan karena cuma gw yang orang Sunda jadilah gw dijadikan sebagai utusan untuk menanyakan harga lobster, akhirnya kami membeli ke-2 lobster itu seharga Rp.20.000 asyiikkkk….mari kita rebussss….dengan bergembira ria kami pun pulang. Ternyata tadi pagi cuma ada 3 perahu yang melaut karena sebagian nelayan masih agustusan!!!

Sesampainya di rumah, sebelum direbus si lobster dijadikan obyek foto dulu, dari atas, dari samping, dari depan, dari belakang, kaya selebritis… Setelah dicuci jadi keliatan yang satunya warnanya hitam banget sedang yang satunya lagi agak coklat terang. Dan setelah di rebus, ternyata si hitam warnanya jadi merah menyela. Karena wong kere ga pernah makan lobster, prosesi buka kulitnya pun luamaaa…. Tiap lobstar di cincang jadi 8 potong, masing-masing dikunyah berlama-lama biar long lasting rasa enaknya…he…he…katro banget yaaa…. biarin deh!

Sambil sarapan tadi kami berdiskusi tentang cara untuk mencapai pantai-pantai Bayah. Untuk ke sana kami harus ngojek, karena itulah satu-satunya angkutan umum yg tersedia. Merasa masih trauma dengan pegalnya pantat, kaki dan lengan akibat ngojek waktu pulang dari Ciptagelar melewati jalanan berbatu grinjal grinjul, gw mengusulkan untuk menyewa mobil pick up. Dengan bantuan Mang Puloh, kami pun memperoleh sewaan pick up Rp. 200.000,- pp. Oke deh siiippp… mari berangkat….

Kami menyebrang sungai lagi ke desa. Dari sana baru kami naik pick up. Melewati jalan masuk ke Desa Sawarna, melewati pantai Sawarna, dan menaiki bukit. Pemandangan dari atas bukit sungguh indah, pantai sawarna terhampar di bawah kami. Setelah melewati bukit dan hutan, kami sampai di Pantai Cimanuk, tapi kami memutuskan untuk ke Karang Taraje dulu.

Pantai karang Taraje ini tidak kalah indahnya dengan pantai Lagun Pari, Tanjung Layar dan Ciantir. Batu-batu karang dan ombaknya pun sama sangarnya, beberapa karangnya berwarna warni pula sepeti di pantai twenty one. Bedanya di sini sudah lebih komersil, pengunjungnya agak banyak. Mobil ber-plat B juga banyak. Di sini juga banyak warung.

Setelah puas bernarsis ria, kami menuju ke Pantai Cimanuk alias Cibayawak. Di sini juga banyak warung-warung dan pengunjungnya lebih banyak, karena di sini pantainya landai jadi aman untuk berenang. Oya banyak orang pacaran pula hi…hi….

Disebut pantai Cimanuk karena dulu di karang yang menjulang jauh di sana itu banyak burung walet laut bersarang. Tapi sekarang ga ada satupun. Kalau siang menjelang sore, pengunjung bisa mencapai karang tersebut dengan cara berjalan di atas hamparan karang yang terlihat kalo laut sedang surut. Mulai jam 6 sore laut akan pasang dan hamparan batu karang ini akan tertutup air laut. Ikan laut yang terperangkap diantara karang-karang nya lebih banyak dan lebih beragam. Yang agak besar ukurannya juga ada.

Jam 4 sore kami bergegas kembali ke Desa Sawarna, karena rupanya mobilnya mau dipakai si empunya mobil untuk mengangkut kelapa. Jadilah pak supir melarikan mobilnya seperti kesetanan ngebut naik turun kaya naik roller coaster di Dufan. Kami penumpangnya cuma bisa menjerit-jerit sambil berpegangan ke pinggir pick up.

Kami di drop di depan jalan setapak yang berjudul “Selamat Datang di TPI Sawarna” , melewati jembatan gantung yang tidak rontok gara-gara banjir bandang, melewati rumah-rumah penduduk (salah satunya berjudul “HOMESTAY WIDI”) dan menuju kebun penggembalaan kerbau yang banyak penghuninya, kerbau besar kecil. Kerbau yang besar pada melotot melihat gw dan Fitri yang berkaos merah. Kami berdua lari pontang panting akibat kerbaunya di hela si penggembala iseng tepat ke arah kami…ha….ha….

Kami pun sampai di Pantai Ciantir lagi. Niat berbasah-basah di laut pun kesampaian di sini. Dengan mengikuti 3 orang warga desa yang sedang memancing di tengah ombak yang bergulung-gulung, kami bermain ombak dan bermain air, menakjubkan ternyata di sini adalah pertemuan 2 arus laut, akibatnya ombak datang dari mana-mana, bukan cuma datang dari arah depan tapi dari samping kiri kanan, bahkan ombak yang sudah sampai pantai kembali ke laut lagi dalam bentuk ombak juga…waaa…..luar biasa….

Sebenarnya bisa berjalan terus sampai agak tengah, seperti nelayan-nelayan itu, tapi takut melihat ombak yang bergulung-gulung. Kadang-kadang kami berada tepat di titik pertemuan ombak dari 4 penjuru mata angin. Kadang-kadang kami liat kepala ombaknya bukan berjalan ke arah pantai tapi menyamping merepet terus sepanjang badan ombak itu sendiri ke arah samping sampai bertemu dengan kepala ombak dari arah berlawanan dan byurrrrr…..ombak pecah menjadi buih-buih air laut berwarna putih.

Matahari senja yang kuning keemasan memantul dari permukaan air laut dan memandikan kami semua dengan sinarnya. Pasirnya halus dan putih. Tak ada sampah. Tak ada pengunjung lain kecuali kami. Bebas bergaya narsis apa saja. Bebas tiduran di pasir yang lembut dan hangat tanpa takut terganggu siapa-siapa.

Makin sore ombaknya makin besar. Nelayan yang sedang memancing pun sudah kembali ke darat, entah dapat ikan entah tidak, kami lupa menanyakannya karena sibuk bermain ombak sambil narsis dengan si Oly ampibi. Waktunya untuk pulaaang….waaaaa…..pengen kembali lagi ke sini!!! Asyik banget serasa pantai milik sendiri…

Nyampe rumah dah disiapin ikan bakar n rujak es kelapa muda pake gula merah….hmmmm uenak tenan….

Minggu, 19 Agustus 2007

Esoknya, pagi-pagi sekali kami berpamitan kepada keluarga Pak Puloh. Hari ini kami akan pulang ke habitatnya masing-masing.

Dengan menumpang elf satu-satunya jurusan Sarna-Pel. Ratu kami berangkat menuju Pantai Karang Hawu di Pel. Ratu. Walaupun kami sudah pesan tempat duduk dan ongkosnya pun sudah dibayar full tadi malam, tetap saja kami harus berebut tem
pat duduk dengan penumpang lain.

Dan busyet!!! Penumpangnya banyak benerrrr… Orang-orang dan barang bawaan penuh sampai di atap mobil. Ibu-ibu kegencet oleh bapak-bapak yang berdiri berdesakan di pintu, cuma kepalanya doang yang masuk ke dalam mobil, pantatnya nungging kemana-mana. Akhirnya si Ibu ngga tahan kegencet, dan turun sambil ngomel-ngomel. Lagian ibu nekat banget, udah tau mobilnya penuh gini. Tapi ibu-ibu yang bawa balita tetap nekat berdiri ngungging di pintu. Kayanya mereka memang sudah terbiasa demikian. Orang-orang yang akan pergi ke Pel. Ratu dan tidak kebagian mobil terpaksa harus ngojek hingga ke pertigaan Ciawi, untuk kemudian naik angkutan apa saja yang lewat dari arah Bayah. Jalanan dari Desa Sawarna hingga ke pertigaan Ciawi ini rusak parah. Selanjutnya jalanan mulus.

Parahnya lagi, mobil ini ternyata knalpotnya rusak. Jadi asap knalpot nya yang bau dan hitam pekat itu masuk ke dalam mobil, membuat kami seperti tercekik. Untung duduk dekat jendela…. jadi ga terlalu parah. Di Cikotok sebagian penumpang turun, dan semua penumpang yang duduk diatas mobil harus masuk, karena memasuki wilayah Pel. Ratu banyak patroli Polisi, nanti bisa ditilang.

Dari Cikotok, pemandangannya semakin indah, terutama di turunan setelah puncak bukit dekat Pantai Cibingbin. Dibawah terlihat teluk Cibingbin dan banyak perahu-perahu nelayan tertambat di pantainya. Di sini, banyak terdapat villa-villa dan rumah makan.

Tak lama kemudian kami sampai di pantai Karang Hawu. Hmmm….pantainya sangat biasa saja seperti pantai-pantai wisata umum (untungnya belum ada retribusi masuk pantai, kalau dah ada rugi benerrrr…). Banyak cendramata khas pantai dijual di sini. Tenda-tenda sewaan untuk menginap di pinggir pantai juga banyak. Orang yang sedang belajar surfing juga ada, tapi kasihan bener, ombaknya kecil, coba kalo di Pantai Sawarna….

Karena jenuh dengan kondisi pantai yang sangat biasa-biasa saja, kami tak berlama-lama bermain di pantai ini, dan segera melanjutkan perjalanan dengan angkot ke Terminal Pel. Ratu.

Sesampainya di terminal, kami makan siang dulu. Setelah itu baru cari bis ke Bogor, ternyata bis yang stand by ngga ada yang AC, katanya yang AC mah lama datangnya, terpaksalah kami naik bis ini ditengah teriknya matahari Pantai Pelabuhan Ratu hingga keringat kami membanjir. Gawatnya lagi bisnya ngetem-ngetem dimana-mana…ajagilabuneeeee…..puanaaassss….

Kalo sudah jalan sih, angin silir-silir dari jendela kaca yang dibuka lumayan untuk sedikit meringankan rasa panas hingga kamipun tertidur…

Jam 2 siang gw dah nyampe di depan kost an dan turun…hhhhh….leganyaaaaa…. Sementara temen-temen yang lain masih melanjutkan perjalanan hingga ke Bogor, dan dari sana berpencar menuju rumah masing-masing.

———–000000000———-

Thanks to :

Pak Djay, Pak Puloh dan keluarga, Bapak yang memandu kita waktu di goa Lalay, temen-temen semua *in alphabetical order* : Anis, Emyl, Esma, Erni, Fitri, Rika, Risda)