Sumedang : Curug Pongkor Dibalik Punggung Cadas Pangeran

Curug ini benar-benar belum terekspose, tersembunyi di sebuah ceruk tebing batu cadas yang menjulang tinggi. Didepannya terhampar pesawahan hijau berundak-undak. Curugnya juga hanya satu saja, tidak besar tapi tinggi, seakan-akan tercurah keluar begitu saja dari dalam tebing batu cadas. Di atas tebing batu cadas adalah hutan Gunung Tugu yang dihuni monyet-monyet kecil.

==========

01-Januari-2010

Curug Pongkor terletak di Desa Ciherang (Sumedang Selatan), di rute Jalan Cadas Pangeran yang menghubungkan Bandung dengan Sumedang.

Tak ada jalan tembok atau sekedar jalan setapak berbatu yang memang dikhususkan untuk menuju ke sana. Yang ada hanyalah jalan setapak yang biasa dipakai penduduk untuk pergi ke sawah dan ladang mereka. Dan pematang sawah, serta harus pula melewati saluran air kecil dengan airnya yang dingin.  Dua kali kami berpapasan dengan ular sawah yang sama-sama kaget. Lumpur sudah melumuri kaki kami, dan betis sudah perih tergores-gores duri sang putri malu dan daun eurih yang setajam silet baru.

Bukan tempat “wisata”, mungkin cuma sekadar tempat bagi penduduk setempat untuk “botram” istilah orang Sunda untuk acara makan-makan di lingkungan alam terbuka.

Bahkan tak ada saung sawah, cuma ada bekas perapian dari batu , bekas seseorang membuat nasi liwet dan ayam bakar atau ikan bakar mungkin. Hmmmm….  Terbayang asyiknya berkemping ria di alam hijau ini.  Dan malamnya diisi dengan menyalakan api unggun serta menikmati makan malam bikinan sendiri.  Alangkah nikmatnya memakan ikan nila bakar, ikan asin bakar, sambal mentahan, dan lalapan serta kerupuk kampung  !!!

Penasaran ingin ke sana ?? Kalau kalian menuju Sumedang dari arah Bandung, setelah melewati Jalan Cadas Pangeran, turunlah di dekat pompa bensin sebelum gerbang “Selamat Datang Sumedang Kota”. Di sebelah kiri ada jalan beton menanjak menuju ke sebuah kampung. Ikuti lah jalan itu dan bertanyalah kepada penduduk setempat atau lebih baik minta diantar saja , karena tidak ada penanda jalan apapun untuk menuju ke sana.

=======

Thanks to my partner in crime : Ateng & Mbak Dewi

Salah satu kontestan pemenang dalam lomba adventure journal   http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/sumedang-curug-pongkor-dibalik-punggung-cadas-pangeran/  Oleh : Dian Sundari

Gunung Gede: Nasi Uduk Surken

Luar biasa memang perjuangan manusia untuk tetap bertahan hidup. Berdagang nasi uduk dan gorengan hingga hingga ke Puncak Gunung Gede pun dilakoni. Mendaki gunung untuk mereka bukan hanya sekedar bertualang di alam bebas, melainkan untuk HIDUP.

Para pejuang kehidupan itu tidak gentar dengan terjalnya jalur pendakian Gunung Putri.  Saya yakin sekali, mereka itu bisa mengalahkan pendaki-pendaki kawakan.  Para pejuang kehidupan itu juga sekaligus menjadi seseorang yang menampar “kecemenan” pendaki gadungan, yang setiap 5 langkah harus berhenti dan beristirahat sambil terus bertanya “masih jauh kah ???”.  Para pejuang kehidupan itu juga menjadi dewa penolong pendaki-pendaki cemen seperti kami, yang hampir saban weekend mencoba kekuatan diri merambah sang gunung.

=========

Mei-2009

Jalur Mendaki Tiada Henti di Gunung Putri

Coba saja, setiap weekend (misalnya Jumat malam) kalau Anda kebetulan sedang berada di Terminal Kampung Rambutan, lalu melihat segerombolan atau beberapa gerombolan anak-anak muda (cewek-cowok) dengan backpack besar di punggung, kebanyakan dari mereka pasti akan mendaki Gunung Gede Pangrango, atau tetangganya, Gunung Salak.  Dandananan mereka serupa : kaos oblong, celana kargo (pendek ataupun panjang), bandana atau topi atau kupluk, sepatu atau sendal gunung.  Langkah mereka santai tapi pasti (entah cuma gaya atau memang benar-benar tau pasti arah hidupnya).  Biasanya ramai sendiri dengan kelompoknya, seakan-akan Terminal Kampung Rambutan itu, dan dunia disekitarnya, adalah miliknya.  Kalau kebetulan sedang sepi penumpang, mereka akan jadi rebutan para kernet-sopir bis-bis yang akan melewati Puncak (Cipanas-Cianjur), kalau sedang ramai penumpang, mereka tidak akan dilirik, karena bawaannya yang besar-besar memenuhi bagasi, dan karena tujuan jarak dekat, yang artinya ongkosnya cekak….!!!!

Saya setiap kali melihat mereka dan sedang tidak memiliki rencana naik gunung manapun, selalu merasa iri…., sekaligus teringat dengan pengalaman serupa beberapa tahun yang lalu, ketika bersama 16 orang lainnya bertujuan sama dengan mereka, yaitu mendaki Gunung Gede.  Bis yang kami naiki seketika penuh ketika kami naik dan seketika pula kosong ketika kami semua turun di pertigaan Cibodas-Cimacan (Kab. Cianjur).  Hujan rintik-rintik dan udara dingin pegunungan  menyambut kami.  Dari sana kami mencarter angkot menuju ke Gunung Putri.  Malam sudah sangat larut, sudah hampir jam 12 malam.

Kami memulai pendakian sekitar jam 2 dini hari.  Saya tentu saja menyewa porter untuk membawa barang bawaan saya yang untuk pendaki laki-laki sihh.. tidak seberapa.  Yahhh…hitung-hitung berbagi rejeki dengan orang lain tohhh..???  Mereka mendapat tambahan pendapatan, dan saya bisa melenggang bersama daypack kecil.

Hujan rintik-rintik menemani awal pendakian kami.  Siluet sinar head-lamp dan lampu senter genggam, berkelebatan menyapu jalur pendakian dan ladang sayuran milik penduduk setempat.  Selepas itu, kami memasuki jalur menanjak dalam hutan hujan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang lebat.  Bebatuan dan akar pepohonan bertaburan dimana-mana. Uap-uap napas yang ngos-ngosan tersapu angin gunung yang dingin.

Jalur menanjak terus menghajar kami tanpa ampun.  Gerombolan menjadi terpisah-pisah sesuai dengan kecepatan langkahnya masing-masing, tapi tidak pernah sendirian, TIDAK BOLEH SENDIRIAN.  Badan saya yang lagi “enak” dan sudah ketemu ritme langkah yang juga “enak”, dan yang digembol juga yang enak-enak, menjadikan saya ada di kelompok depan.

Semburat cahaya fajar tidak mampu menembus pekatnya kabut.  Hanya bayang-bayang pohon samar-samar mulai jelas dilatari putihnya kabut pagi.  Kira-kira jam 7 pagi kami baru sampai di POS-4, beristirahat sejenak disana, masih ada 1 POS terakhir yang harus kami capai.

Huhhh….pendakian panjang dengan rute yang semakin terjal dan rumit dari POS-4 ke POS-5 seakan tiada akhir.   Pertanyaan keramat seperti : “Masih jauh kahh ???”, “Berapa lama lagi ???” sudah semakin sering keluar dari mulut kami, dan dijawab dengan pernyataan “kamuflase” berupa : “Udah deket kok…”, “Sebentar lagi…”   Huhhh….kami cuma saling menyeringai menyadarai kekonyolan pertanyaan dan jawaban-jawaban itu, disela-sela napas megap-megap kelelahan.

Kami merasa lebih konyol lagi ketika berpapasan dengan para penjual nasi uduk yang SUDAH turun lagi dari Alun-alun Surya Kencana, spot perkemahan sebelum puncak Gede.  Ya, rupanya memang begitulah kondisinya kalau week-end tiba dan para pendaki berdatangan meramaikan Surya Kencana.  Penduduk penjual nasi uduk dan gorengan akan mendaki DENGAN SANGAT CEPAT sejak dini hari untuk menjajakan barang dagangannya di puncak gunung, membangunkan para pendaki dari satu tenda ke tenda lainnya.  Hampir selalu seperti itu setiap weekend.  Kami yang sudah kelaparan lagi, menyikat semua sisa nasi uduk dingin yang tidak terjual di puncak tadi.

Karena kebanyakan berhenti disana sini, kami sampai di Alun-alun Surya Kencana kira-kira jam 10 pagi.  Terlalu lama untuk ukuran standard pendakian.  Tak apalah… yang penting heppy ^_^

Nasi Uduk Surya Kencana

Dataran alun-alun Surya Kencana membentang dari Timur ke Barat, dipenuhi rumput-rumput kecoklatan dan rumpun-rumpun bunga edelwies berwarna putih.  Konon menurut sejarah Kerajaan Pajajaran, ini adalah tempat pelarian Prabu Siliwangi ketika melarikan diri dari istananya akibat serbuan dari anak sulungnya sendiri yang bertujuan untuk meng-Islamkan seluruh Kerajaan Pajajaran.  Prabu Siliwangi beserta sekelompok tentara kerajaan yang menolak masuk Islam dan tetap dengan kepercayaan nenek moyang “Sunda Wiwitan”, kemudian mengungsi ke gunung ini.  Dan di sini, di alun-alun Surya Kencana ini, Prabu Siliwangi yang bijaksana memberikan 4 pilihan kepada para tentara pengikutnya.  Pilihan ke Barat akan memberikan konsekwensi berupa keterkucilan dari masyarakat karena mempertahankan kepercayaan Sunda Wiwitan, menjadi cikal bakal Suku Baduy di Banten.  Pilihan ke Utara, akan memberikan kejayaan dan kemakmuran, seperti Kerajaan Cirebon dan Jayakarta.  Pilihan ke selatan akan memberikan kerajaan baru di Sunda.  Sedangkan ke Timur akan tergilas kerajaan-kerajaan dari Timur, saat itu ada kekuatan Majapahit.

Kira-kira itu yang saya masih ingat dari sebuah buku fiksi sejarah Kerajaan Pajajaran.  Saya memandang sekeliling alun-alun yang panjang ini.  Katanya, disaat-saat tertentu, pendaki-pendaki tertentu sering melihat penampakan serupa prajurit-prajurit kerajaan….mmmm….entahlahh..

Kami mendirikan tenda di ceruk memanjang yang ada di tengah alun-alun Surya Kencana.  Mata air jernih segar, mengalir di depan tenda-tenda kami.  Sudah banyak tenda-tenda pendaki lain yang didirikan disana-sini.  Acara memasak sore-sore dan acara menanti sunset di ujung barat alun-alun, ditengah padang edelweis mengisi akhir hari yang melelahkan, sebelum memasuki malam yang sangat dingin.  Berlapis-lapis baju dan jacket serta sleeping bag, masih kuranng ampuh untuk mengusir hawa dingin menusuk tulang.  Kami bangun tertidur dan terbangun lagi berulang-ulang dengan gigi bergemeletuk kedinginan.

Ketika rasanya baru sesaat bisa tidur lelap di penghujung malam, sayup-sayup teriakan tukang nasi uduk dan gorengan seperti datang sayup-sayup dari dalam mimpi.   “Mbak…mbak…banguuun…sudah pagi.., sarapan dulu Mbak…, nasi udukk.. gorengan…., masih hangat”.. begitu katanya berulang-ulang.  Oalaaahhhh…. :p

Beberapa dari kami bangun dengan giat untuk mengejar sunrise, yang sayangnya agak sedikit tertutup kabut tebal.  Pagi yang cerah, langit biru terang.  Puncak Gunung Gede menunggu kami di sebelah kanan.  Berpendar kekuningan dihujani cahaya matahari pagi.

Menurut teman-teman yang sudah sering mendaki Gunung Gede dan berkemah disini, katanya tadi malam adalah malam paling dingin yang pernah mereka rasakan selama ini.

Rame sekaleee

Jarak dari Surya Kencana memang sudah tidak terlalu jauh.  Tapi…ya ampuunnn…ramai sekali yang mendaki, serasa di Gunung Tangkuban Perahu Saja jadinya.  View di bibir tebing kawah Gunung Gede sedang tidak terlalu bagus, kabut tebal meghalangi pemandangan.  Katanya seharusnya dari sini dapat melihat jelas Puncak Pangrango.  Tapi saat itu, sama sekali tidak tampak apa-apa.  Semuanya putih karena kabut.

Saat turun gunung, kami mengambil jalur berbeda, yaitu turun lewat jalur Cipanas.  Berbaris satu-satu meniti jalur tepian tebing kawah yang diberi  pengaman.  Huhh…ramai sekali jalur ini.  Medannya yang tidak terlalu terjal, menjadikan jalur Cibodas sebagai jalur favorit pendakian Gunung Gede.  Dan unik, karena harus melewati sungai air panas dan tebing vertikal yang sangat menantang, yang disebut “tebing setan”.

Saya yang tidak tahu bahwa ada jalur pilihan yang lebih landai tapi memutar, sambil dengan lutut dan tangan gemetar tertatih-tatih menuruni tebing setan sambil berpegang-erat-erat pada tali tambang pengaman.  Untunglah selamat sampai dibawah.

============================

Thanks to seluruh anggota gerombolan : Danang (Mr. TL), Mas Bayu, Kang Dhani, Mas Edo, Mas Eko, Tasnim, Sulis, Andreas, Endi, Dwi, Memed, Ares, (siapa lagi yaa ??).

And to ladies trekker : Yani, Fitri, Suci, Dhyan

Salah satu kontestan pemenang dalam lomba adventure journal   http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/gunung-gede-nasi-uduk-surken/  Oleh : Dian Sundari

Tasik : Uka-uka Kawah Galunggung dan Pantai Sindangkerta

21/12/2011

Ini adalah salah satu weekend hebat bersama para gerombolan hebat… tanpa hujan tanpa macet, yang ada hanya udara yang bersih, kabut gunung yang sejuk, sinar matahari yang cerah, laut yang biru sebiru-birunya, ombak yang berdebur-debur, pemandangan yang supertakuler, kesenangan dan kegembiraan bersama para gerombolan, serta uka-uka……. yang bahkan ikut hingga ke Jakarta, tertangkap dalam sebuah foto…!!!

=========

16-18 Nov 2007

=========

Uka-Uka Hijau dari Kawah Galunggung

Perjalanan bis Jakarta – Singaparna dimulai sekitar jam sebelasan malam dari Terminal Kampung Rambutan dan tiba sekitar jam 4 subuh di depan Mesjid Agung Singaparna.  Sebagian meneruskan tidur diemperan mesjid, karena tidur yang tak nyenyak di bis tadi gara-gara diganggu mamang penjual buah mangga yang terus saja memaksa-maksa menawarkan mangga nya kepada semua penumpang.

Ketika hari mulai terang tanah, kami melanjutkan perjalanan dengan angkot menuju Galunggung melewati pedesaan khas Sunda yang mana hampir tiap rumahnya memiliki kolam ikan alias balong. Sawah-sawah sudah mulai menghijau kembali setelah sekian bulan kemarau. Matahari pagi tampak mengintip dari celah-celah ranting dan daun. Truk-truk besar pengangkut pasir tampak berjejer di beberapa lokasi penambangan pasir volkano.

Rupanya kami kepagian, posnya masih terkunci, petugasnya belum datang, yang ada cuma tukang ojek dan tukang warung yang baru saja membuka kembali warungnya. Tapi, tak lama kemudian sang petugas datang, memungut uang retribusi.  Rupanya dari Pos Depan ini ke Pos Pendakian, jaraknya masih lumayan jauh, bisa ditempuh dengan berjalan kaki menyusuri jalan aspal kecil berliku, naik mobil (sayangnya angkot tadi sudah pergi), atau naik ojek.  Kami pilih naik ojek karena malas trekking… :p

Pos pendakian juga masih sangat sepi, warung-warung belum ada yang buka.  Disini ada mushalla dan areal parkir yang bisa menampung beberapa motor.  Gunung Galunggung memang sudah dijadikan objek wisata, setelah letusan dahsyatnya di tahun 1982.  Untuk memudahkan wisatawan, telah dibangun tangga beton dari areal ini hingga ke tepi kawah.

Karena tidak ada angkot ataupun ojek yang bisa ditumpangi ( :p ), kami memulai trekking pagi, tidak melewati jalur bertangga beton, melainkan melewati jalan setapak yang ada di samping musholla, supaya lebih alami dan berasa sedang di gunung nya…. Awalnya menanjak cukup terjal, komposisi pasir volkano yang berwarna hitam dan sama sekali tidak mau lengket satu sama lainnya, membuatnya sukar dipijak, tetapi hujan beberapa hari sebelumnya dan embun membuat pasir itu cukup padat di beberapa tempat, hingga cukup kokoh untuk dipijak.  Jalur ini rimbun dinaungi pohon-pohon semak.  Lamat-lamat terdengar gemuruh air terjun, ternyata ada air terjun kecil nun jauh ditebing sebelah kanan. Semakin ke atas, jalurnya semakin terbuka dan pasir volkano hitam legam tampak dimana-mana.

Kira-kira 20 menit kemudian, sampailah kami di bibir kawah yang menganga lebar… katanya luasnya kira-kira 40 Ha.  Entah berapa metrik ton tanah beserta segala isinya terlempar ke udara, katanya lontaran materialnya mencapai ketinggian 25 km.  Abu vulcanik nya menyiram wilayah kabupaten tetangga seperti Ciamis, Garut, dan Majalengka.  Juga menyiram kampung saya, di Kab. Ciamis.  Saat itu semuanya penuh debu, berhari-hari debu turun dari langit, membuat siang menjadi remang-remang bahkan gelap.  Saya ingat sedikit-sedikit tentang kejadian itu, ingat ketika kaki saya terbenam hingga lutut ketika saya nekat keluar ke pekarangan rumah, niatnya untuk membantu nenek saya mencari-cari ayam-ayam peliharaan kami supaya tidak sakit dan mati terkena racun dari debu.

Di dasar kawah tampak danau berwarna hijau muda, hanya separuh areal dasar kawah yang membentuk danau.  Konon kabarnya air danau ini selalu dipantau supaya bebannya tidak melebihi kekuatan dinding kawah, airnya dialirkan ke sungai Cibanjaran dan Cikunir.   Nun jauh diujung sana terlihat saluran pipa air yang merambati dinding terjal terus ke atas, ke arah sumber air yg berupa air terjun kecil.  Di sisi lain dasar kawah yang masih berupa daratan, terdapat bangunan mushalla dan 1 buah rumah penjaga.  Tepat di tepi danau terdapat bangunan warung seperti yang ada di pinggiran atas sini.

Penasaran dengan danau di dasar kawah, kami memutuskan untuk turun. Jalurnya terjal dan cukup sulit dilalui.  Danaunya tampak cukup dalam, dan airnya tidak hangat. Dari dasar sini, dapat terlihat jelas saat-saat kabut turun dan menghilangkan danau dari pandangan. Tapi kabut tidak bertahan lama, karena tak lama kemudian matahari muncul dengan sinar hangat keemasannya…. memberikan efek cermin sempurna untuk sang bukit kembar yang ada di tengah danau, menjadikannya sangat cantik untuk di foto.

Sewaktu sedang mengagumi hasil jepretan kamera yang diambil secara horizontal (landscape) dan iseng-iseng dilihat vertical…., ternyata WALLA…ditemukan fenomena menakjubkan dan sedikit membuat merinding dari si bukit kembar beserta bayangannya masing2…., yaitu membentuk sosok pocong hijau yg menyeringai..hiiiii…..  Ini dia sang uka-uka dari Kawah Gunung Galunggung…!!!

Uka-uka hijau dari Kawah Galunggung ^_^

Uka-uka dari Pantai Sindangkerta

Dari Gunung Galunggung, kami meneruskan perjalanan ke tepi selatan Tasik.  Penasaran dengan Pantai Sindang Kerta, Pantai Cipatujah, dan Pantai Karang Towulan. Perjalanan kesana dari Terminal Indihiang (Tasik) memakan waktu kurang lebih 2 jam.  Semakin ke luar Kota Tasik, jalanan semakin berliku-liku, melewati perkebunan karet , kebun salak, juga melewati beberapa situs bersejarah yg dikeramatkan, seperti Makam Waliyulloh Syech Abdul Muchyi.

Sekitar jam 3 sore kami telah sampai di Wisma Mutiara Sari (milik Pemda Kab. Tasik) di daerah Sindangkerta tepat dibibir pantai, disambut dengan masalah…  Rupanya, Pak Iskak, pengelola wisma, lupa bahwa semua semua kamar telah dipesan oleh Pemda Tasik untuk pelatihan selama 2 pekan, kami pun dialihkan ke Wisma APL yg letaknya tidak jauh dari Wisma Mutiara Sari dan sangat dekat dengan bibir pantai.

Pantai di depan penginapan merupakan pantai berkarang-karang dan sedang sedikit surut. Karang-karangnya ditutupi rumput agar-agar laut berwarna hijau cerah.   Kubangan-kubangan air laut yang terperangkap diantara karang menjadi aquarium alam berisi ikan-ikan kecil, rumput laut, si kaki lima, siput, kerang dan kamiiii… yg tidak tahan lagi untuk menceburkan diri di airnya yang hijau jernih…, membuat ikan-ikan langsung kabur, ngumpet di lubang-lubang karang 😀

Tapi sayang, sunset nya tidak terlalu spektakuler karena agak terhalang awan-awan. Malamnya kami berkumpul di serambi, menunggu makan malam yang sore tadi kami pesan. Lama juga kami menunggu, semua snack sudah habis saking kelaperannya. Setelah 2 kali ditelepon, makan malam kami pun tiba, menunya nasi putih + ikan bakar + bumbu kecap + tumis kangkung + lalapan + sambel. Wuaaahhhh…. ikan bakarnya muantaaappp… !!!

Malam ini rencananya kami, akan mengunjungi pantai penangkaran penyu. Dengan dipandu oleh Bapak Petugas Penangkaran Penyu, kami berduyun-duyun menyusuri bibir pantai berbekalkan lampu senter.  Di langit malam yang gulita, tampak bulan sabit dan beberapa bintang.  Sinar bulan sabit lumayan untuk menerangi pantai yang akan kami lalui,  walaupun tidak begitu jelas dan harus berhati-hati dengan karang-karangnya yang tajam.

Laut sedang surut, deburan ombaknya yang tiada henti menemani langkah kami yang berjalan terseok-seok di pasir.  Rasanya lama sekali kami berjalan, kaki masih pegal akibat trekking di Galunggung terasa semakin pegal saja dan sakit terkena karang tajam.  Beberapa kali harus menyebrangi aliran sungai kecil yang bermuara ke laut. Tapi tampaknya belum ada tanda-tanda daerah berpasir halus kesukaan para penyu, yang kami lewati adalah melulu pantai berkarang.

Pertanyaan keramat pun tak tahan lagi dilontarkan “Pak, berapa lama lagi Pak?? Masih jauh ya Pak…???? Berapa kilo lagi sih Pak..???? Tadi kita sudah berjalan berapa kilometer Pak..???” He..he… pertanyaan-pertanyaan keramat itu bertubi-tubi diluncurkan oleh 12 mulut orang kota kecapean yang sudah hampir mogok ditepi pantai.  Jauh memang ternyata jarak yang sudah kami tempuh, ternyata kami sudah berjalan hampir sejauh 2 km, kata Pak Petugas, dan sudah hampir sampai di daerah konservasi penyu.

Tidak berapa lama kami bertemu dengan pemancing ikan yang sedang duduk sendirian di tepi pantai dan tidak sedang memegang gagang kail.  Rupanya, memang tidak bergagang, kailnya cuma berupa tali kenur sangat panjang yang menjulur dari tempatnya duduk hingga ke lautan. Lucunya tali kailnya di lewatkan ke sebuah tiang kayu setinggi kepala dan pangkal tali pancingnya ditindihi bilah pelepah daun kelapa. Katanya kalau dapat ikan besar, tiangnya akan roboh karena talinya tertarik ikan dan pelepah daun kelapanya akan terlempar, sehingga akan membangunkan si pemancing bila dia ketiduran, hmmm…unik dan cerdas !!!

Rupanya lokasi ini sudah berada di daerah penangkaran penyu. Kata petugasnya mungkin kami harus menunggu hingga jam 2 malam, sebab biasanya di jam-jam tersebutlah sang ibu penyu muncul. Hmmmm….malas sekali rasanya kalau harus menunggu hingga jam 2 pagi dan belum tentu pula ada ibu penyu yang akan bertelur !!!

Kami duduk-duduk cukup lama sambil mengobrol dan berfoto-foto, tapi belum ada tanda-tanda adanya penyu yang mendekat.  Dan di situlah sang uka-uka pantai Sindang Kerta muncul, tertangkap di salah satu foto, berkelebat putih tepat diatas kepala-kepala kami yang sedang seru-serunya foto bersama…!!!  Demi melihat itu, kami semua merinding ketakutan, tidak lagi kepingin melihat hasil foto, taupun berfoto-foto lagi.  Bahkan tak lagi berminat menunggu ibu penyu naik ke pantai untuk bertelur.  Kami hanya ingin pergi secepatnya meninggalkan lokasi ini….!!!

Tergesa-gesa kami kembali ke penginapan. Kali ini tidak melewati pantai yang sepi karena takut, melainkan melewati jalan desa yang beraspal.

Oh ya, maaf tak ada foto uka-uka nya, karena tiap kali teman saya mencoba membuka foldernya, pasti selalu terjadi “sesuatu”, sehingga teman saya itu tidak berani lagi mencobanya……

Taman Eden Terpencil di Pantai Karangtawulan

Dengan masih memperbincangkan soal uka-uka semalam, kami berkemas untuk pulang.  Tapi sebelumnya akan mampir dulu di  Pantai Cipatujah dan Pantai Karangtawulan.  Semua barang bawaan kami telah dikumpulkan di serambi bawah, siap menunggu dijemput oleh mobil elf yang kemarin mengantarkan kami.  Sudah jam 8, tapi elf kami belum datang juga, sementara kami sudah kehabisan gaya.

Tak lama elf datang menderu-deru memasuki pekarangan penginapan dengan terburu-buru, seperti banteng hijau yang lari mengejar sang matador, dan langsung disambut sorakan “HUUUUUUU……” dari kami semua.

Sekitar 10 menit bermobil ke arah barat, kami tiba di Pantai Cipatujah.  Pantainya biasa-biasa saja, ombaknya keras menyapu pasir pantai berwarna kecoklatan.  Rupanya Pantai Cipatujah ini masih dalam tahap perbaikan seusai terhantam tsunami.

Kami tidak lama-lama di sini, cuma numpang sarapan, sekaligus membeli nasi bungkus untuk makan siang karena katanya di Pantai Karangtawulan tidak ada warung makan.  Perjalanan dilanjutkan ke arah timur,  melewati tempat penangkaran penyu yang semalam kami kunjungi tanpa hasil, melewati Pantai Pamayangsari tempat para nelayan menambatkan perahu mereka dan ada TPI-nya (tempat pelelangan ikan), kemudian juga melewati pelabuhan alias dermaga baru yang sedang di bangun.

Jalan aspalnya kecil tapi cukup baik kondisinya. Sesekali berpapasan dengan bis kecil jurusan Tasik-Cikalong atau dengan sesama elf.  Melewati 2 jembatan besi yang cukup panjang, salah satunya yang membentang di atas sungai lebar berair hijau yaitu sungai Cimedang, ditepiannya tertambat beberapa perahu kecil, persis seperti di Green Canyon – Cijulang – Ciamis.

Memasuki Kecamatan Cikalong, banyak dijumpai penjual opak bakar, rupanya di sini adalah sentra pengrajin opak bakar. Jadi ingat di daerah Parigi – Cijulang, opaknya enak dan renyah, kalo sudah mencoba 1 tidak akan bisa berhenti sampai 1 kaleng biskuit KhongGuan  yang persegi itu habis. Mungkin opak sini juga sama enaknya…, tapi sayangnya saya tidak sempat mencobanya.

Pantai Karangtawulan sekilas suasananya seperti di Pantai Batu Hiu – Pangandaran. Warung-warung (tutup semua tapinya), mushola, tempat parkir, toilet, gazebo tempat duduk-duduk sambil memandang ke lautan biru di bawah sana, dan menara pandang, semuanya tersedia di sini dan tampak cukup terawat baik, tapi tidak ada pengunjung lain selain kami.  Hanya ada beberapa bagian tangga beton yang hancur, mungkin abrasi atau longsor atau terkena tsunami waktu itu. Pemandangan ke laut lepas yang biru membentang adalah andalan pantai ini.

Karang karangnya yang tajam dan terjal setiap saat dihempas hantaman gelombang laut selatan yang terkenal ganas. Nun jauh di sana ada pulau kecil dan di sebelah timur juga ada pulau kecil lainnya yang disebut Pulau Manuk, dinamakan demikian karena sering dipakai sebagai tempat persinggahan berbagai jenis burung (burung = manuk dalam bahasa Sunda).

Ketika menjelajahi karang-karang yang bertebaran dimana-mana, saya bergidik ngeri setiap kali melihat ombak besar menghantam karang di bawah tebing sana sampai buihnya muncrat tinggi.  Indah tapi mengerikan.

Matahari yang cerah di langit biru sana, memanggang kulit, tapi begitu sampai ditempat teduh dan angin laut yang sejuk berhembus dari sela-sela pohon pandan duri, ahhhh….. nikmatnyaaa…. tak bisa diuraikan dengan kata-kata…, jadi ingin membuka semua pakaian yang terasa panas dan lengket, dan kalau bisa mencopot rambut biar kulit kepala juga….

Kalo melihat sunset di sini, pasti akan sangat luar biasa. Tapi sayang, kami tidak bisa menunggu hingga senja, harus segera pulang .

—–oooooOOOooooo—–

Terima kasih kepada para gerombolan  : Erni, Syifa, Indah, Anis, Dee, Emyl, Risda, Alida, Merry, Endro, dan Obby

Lebih Tinggi dari Puncak Ceremai

22/12/2011

Pendakian Gunung Ceremai (kata Wikipedia nama betulnya begitu, tapi jadi lebih sering disebut dengan nama Ciremai) menjadi suatu pengalaman mendaki gunung yang paling menyenangkan bagi saya. Bagaimana tidak…., gembolan dibawakan porter, badan sedang fit, cuaca cerah ceria bertabur berjuta bintang, dan bersama gerombolan pendaki sungguhan yang jempolan serta tim “hora-hore” yang “luar biasa”…… Hingga sewaktu di puncak, mau saja ketika ditawari “foto loncat” walaupun saat itu lutut masih gemetaran akibat pendakian tadi malam dan betis berasa “berkonde” alias menggempal dan linu-linu.

============

Agustus-2009

============

Ada 2 rute utama untuk mendaki Gunung Ciremai, yang pertama adalah jalur Linggarjati (start dari Desa Linggarjati – Kuningan), dan yang kedua adalah jalur Apuy (start dari Desa Apuy – Majalengka).

Gunung Ciremai memang merupakan batas wilayah 3 kabupaten : Cirebon, Kuningan, dan Majalengka.

Kami mengambil jalur Apuy, yang katanya lebih pendek, tapi lebih terjal.

Pendakian dimulai dimulai dari Pos-1 (dikenal dengan blok Arban), sekitar lewat tengah hari.  Rute awal berupa kebun-kebun sayuran beraneka ragam, kami yang iseng sempat “mengambil tanpa ijin” 2 buah kol untuk dimasak di gunung nanti :p

Hutan Ceremai nan Angker

Perasaan mencekam menyergap kami begitu memasuki hutan Gunung Ceremai yang banyak dikabarkan “angker”.  Sebelum berjalan lebih jauh lagi ke dalam hutan, kami berkumpul untuk berdoa, dan ditekankan benar-benar oleh Anto yang kami daulat sebagai PaKetu alias ketua gerombolan, agar kami tetap dalam barisan, tidak boleh mencar sendiri-sendiri, dan harus menjaga sikap serta ucap.  Jadinya…., gerombolan yang sebenarnya tidak bisa diam itu, kali ini menjadi menjadi “sedikit” pendiam.  Kami berjalan dalam senyap selama beberapa lama, menembus hutan rimbun yang remang-remang karena cahaya matahari sore tidak mampu menembus rapatnya dedaunan.  Dan rasanya tak tertahankan, sepertinya malah tambah mencekam perasaan.  Obrolan-obrolan dan canda ringan akhirnya terdengar kembali.

Empat puluh lima menit kemudian kami sampai di Pos-2, disini ada tembokan untuk duduk-duduk.  Satu jam selanjutnya tiba di POS-3, istirahat agak lama dulu di sini.  Pos-3 ke Pos-4 ditempuh selama kira-kira 45 menit, masih dalam hutan lebat.  Pos-5 dicapai menjelang maghrib, kecepatan pendakian semakin menurun karena rute yang semakin menanjak jika dibandingkan rute sebelumnya dan fisik kami yang semakin drop karena trekking setengah harian ini, ditambah lagi kurang tidur selama perjalanan Jakarta – Majalengka semalam.

Merambah Jalur Terjal  di Heningnya Malam

Tapi rute terjal “sesungguhnya” ada di hadapan. Hari sudah semakin malam, hutan sudah kami lalui, pohon-pohon tinggi sekarang sudah semakin berkurang, digantikan pohon perdu pendek. Saya tetap berjalan di kelompok depan, bersama 2 teman saya, asyik mengobrol dan bercanda bersama kedua porter yang kami sewa dari Desa Apuy. Kami bertiga berjalan berselang seling, karena ada salah seorang porter yang tidak membawa lampu senter. Jalur terjal menanjak semakin membuat dada sesak, tapi obrolan dan candaan bersama kedua porter membuat pendakian menjadi “terasa” lebih ringan.  Bintang-bintang diatas kepala yang entah berapa juta banyaknya itu, berkerlap kerlip di gelapnya langit malam. Dibalik punggung kami, terhampar pemandangan kerlap kerlip lampu-lampu Kota Majalengka.

Seringkali kami beristirahat duduk dalam hening menghadap jalur yang baru saja kami lalui, menikmati keindahan malam dalam diam, sambil saling berbagi cemilan dan minuman. Sepertinya kami ber-5 cukup jauh meninggalkan teman-teman lainnya di bawah sana. Salah satu Mamang Porter memutuskan untuk menunggu teman-teman yang masih dibelakang. Kadang-kadang sinar senternya terlihat samar-samar dan seruannya terdengar sayup-sayup.

Seruan balasan malah terdengar dari arah kanan jalur pendakian (ketika menghadap puncak), kelebatan sinar senter juga beberapa kali terlihat.  Kata Mamang Porter, itu adalah jalur Linggarjati,  sebentar lagi didepan sana kedua jalur ini akan bertemu.

Jalur menanjak semakin terjal. Rumpun-rumpun pohon Bunga Edelwis sudah sejak tadi menghiasi sisi kiri-kanan jalur. Udara semakin dingin menggigit tulang, kadang-kadang tercium bau belerang samar-samar, dihembuskan angin gunung. Disuatu titik, kami melewati tugu peringatan seorang pendaki yang tewas bertahun-tahun lalu. Ini mengingatkan kami untuk lebih berwaspada.

Sekitar jam 9 malam, kami ber-5 sampai di Pos-6, Goa Wallet, di ketinggian 2950 MDPL. Di sana sudah terdapat beberapa tenda, tapi masih ada lahan lumayan datar untuk kedua tenda yang akan kami dirikan. Api unggun berkobar-kobar menarik saya mendekat untuk mengusir dingin yang semakin menggila. Pendaki-pendaki senior dan porter-porter yang mereka sewa yang sedang minum kopi diseputar api unggun, langsung menawarkan kopi hangatnya yang tentu saja tanpa sungkan saya terima. Rupanya mereka dari Jakarta juga, dan sudah disini sejak kemarin.

Sambil menahan dingin dan lelah, teman-teman mulai mendirikan salah satu tenda, karena yang satunya ternyata di bawa entah oleh siapa yang masih tertinggal di jalur belakang sana. Saya membersihkan area untuk tenda satunya dari batu-batu yang banyak berserakan. Tak berapa lama seorang teman lagi berhasil sampai dilokasi, megap-megap kehabisan napas dan kelelahan. Perempuan hebat…, saya pasti tidak akan sanggup mendaki sambil membopong keril seberat itu. Teman-teman lainnya satu per satu berdatangan, dalam jarak waktu yang terpaut lumayan jauh satu sama lainnya, masing-masing dengan cerita pengalaman berbeda-beda.

Kedua tenda sudah didirikan. Kami tidur berdesakan seperti ikan asin siap expor :p

Horeee…sampai puncak…!!!

Esok paginya, niat hunting sunrise di puncak Gunung Ceremai masih sebatas niat, kami semua masih asik bergelung dalam kantung tidur. Baru sekitar jam 7an satu per satu berhasil memaksa diri sendiri keluar dari dalam kepompong hangat. Karena lapar tentu saja…:D

Sarapan sederhana di gunung selalu lebih nikmat dibandingkan dimanapun….  Para pemalas seperti kami, dengan senang hati menyerbu sarapan enak nan hangat buatan Anto, Riris, dan Mbak Rahmi 😀

Panasaran dengan kondisi puncak Gunung Ciremai yang hanya tinggal “naik sedikit” lagi dari sini, saya mengajak sedikit memaksa salah satu teman, Obby, untuk naik bersama-sama. Merayap perlahan-lahan mendaki jalur terjal berbatu-batu. Pilih sana.., pilih sini…, tapi tak banyak yang bisa jadi pilihan untuk dipijak.  Pegangan sana…, pegangan sini… sambil sesekali tengadah, mengecek masih berapa jauh lagi kami dari puncak. Pendaki-pendaki lain terlihat bertenggeran di tepian kawah, terlihat sebagai siluet-siluet karena timur ternyata ada di bagian gunung seberang sana, padahal semalam saya pikir kami naik memunggungi arah timur.

Lama-lama akhirnya kami berdua sampai juga ditepi kawah, bergabung dengan banyaaakkk sekali pendaki yang rupanya akan melaksanakan upacara peringatan tujuhbelasan besok disini. Dan, masih banyak lagi yang akan berdatangan nantinya. Sepertinya banyak pendaki dari Jabodetabek, mereka-mereka yang menyukai alam bebas dan bosan dengan kota…

Kawahnya sangat dalam ternyata, seperti mulut raksasa yang menganga lebar ke langit. Bayang-bayang gunung Ceremai seperti kerucut raksasa hitam. Dari atap Majalengka-Kuningan-Cirebon ini bisa terlihat puncak-puncak gunung lainnya seperti Gunung Gede Pangrango di Cianjur-Bogor, Gunung Slamet di Jateng, dan Gunung Papandayan serta Cikuray di Garut.  Dibagian kawah sisi timur, ada sisi kawah yang lebih tinggi posisinya, dan katanya itulah puncak sebenarnya dari gunung ini.

Thanks Obby for the photo [ http://www.facebook.com/sobihan ]

Saya tidak kesana, disini pun sudah lebih dari cukup, sudah merupakan pencapaian tersendiri yang memerlukan perjuangan dan keteguhan hati yang luar biasa.

Lari Sprint Express Menembus Hutan Ceremai

Saatnya turun gunung, ini sama sekali bukan perkara gampang..  Lutut rasanya gemetar… Cuma turun dari puncak menuju kawasan tenda saja, bingung pilih jalannya… mana yang kokoh dan aman… mana yang tidak. Apalagi menempuh jalur panjang dari POS-6 hingga POS-1 nanti.

Tapi ternyata, setelah menemukan ritme langkah yang enak dan cocok, saya jadi sulit berhenti. Pos-6 ke Pos-5 kami masih iring-iringan bersama, tapi selepas Pos-5 hingga Pos-1 saya tidak bisa dihentikan. Ketika tersadar bahwa saya sudah terlalu cepat turun dan akhirnya celingukan sendirian di dalam hutan Ceremai, mau tak mau saya harus tetap lanjut berlari…, “ogah banget” kalau harus berhenti lama menunggu yang lain di dalam hutan lebat gelap dan angker ini. Bisa-bisa saya nanti disapa “para penunggu” hutan Ceremai hiyyy…..

Saat saya berlari menembus hutan Ceremai dan tidak tahu akan bertemu apa dikelokan dibalik pohon-pohon besar itu, saya jadi mengerti untuk apa para pendaki lain ada yang memakai “genta” berklonengan bunyinya ketika sedang bergerak.  Seperti sapi atau kerbau saja, pertamanya saya pikir. Padahal, “klonengan” itu ternyata sangat penting, untuk menandakan lokasi kita pada pendaki lain. Sebab kalau bunyi “grosakan” daun-daunan yang terinjak kan, bisa saja mungkin ada binatang buas…

Sesekali saya berpapasan dengan para pendaki yang baru naik, dan selalu saya tanyakan pertanyaan yang sama “ada orang yang sedang turun juga ngga didepan saya??? Jaraknya jauh ngga dari saya ???”. Saya berusaha mengejar pendaki dari kelompok lain yang turun duluan…, yang penting saya TIDAK SENDIRI..!!!  Tapi ternyata saya tidak berhasil mengejar seorangpun….  Sempat beristirahat sejenak di POS-2 karena disitu ada 2 orang pendaki lain yang baru saja naik sedang beristirahat. Dan saya langsung ngibrit lari lagi sendirian, begitu mereka melanjutkan pendakian.

Dititik itulah saya serasa mendengar sesorang memanggil nama saya dari arah belakang, suaranya seperti suara Erin teman saya, jadi dengan gembira saya balas menyahut dan menengok ke belakang, tapi tidak ada siapa-siapa disana….. Sepersekian detik saya bengong menengok kearah belakang yang sepi dan gelap tanpa seorangpun disitu, sepersekian detik itupula kaki saya terpeleset menginjak batang bulat menggelinding, dan gedubraakkkk….. saya hilang keseimbangan dan jatuh dengan pantat lebih dulu.

Tanpa sempat merasakan sakit apa-apa, saya langsung bangun dan berlari ngibrit menuruni rute hutan terakhir…. Tak sudi saya berlama-lama sendirian di hutan….

Lega rasanya ketika akhirnya berhasil mencapai Pos-1 lagi. Banyak sekali orang disini sekarang… Bahkan ada warung gorengan dan kopi serta minuman yang buka lapak. Petugas-petugas jagawana sedang sibuk memeriksa pendaki-pendaki remaja yang baru turun gunung, pendaki yang kedapatan membawa bunga edelweis dimarahi habis-habisan, dan dihukum push-up seratus kali.

Saya menonton semuanya itu sambil duduk selonjoran di rumput…, maunya sihh sambil tiduran :p

Lama juga saya menunggu kemunculan teman-teman, sudah habis gorengan beberapa biji, tehh botol 2 botol, dah ngobrol ngalor ngidul dengan si Bapak warung dan salah satu Petugas Jagawana yang heran kenapa saya tiba-tiba muncul sendirian dari dalam hutan.

Rombongan mereka akhirnya sampai juga disini, memperamai situasi.  Dari sini kami masih harus naik pick-up turun gunung hingga desa Apuy, melalui jalur kemarin yang “rinjul” bukan main.  Masih sangat panjang jalan pulang…., tapi hati kami benar-benar senang dengan segala pengalaman manis-pahit-konyol Pendakian Ceremai.

============

Thanks to tim pendaki jempolan : Anto “Koboi Insap”, Riris, Mbak Rahmi, Fita

Thanks to tim hora-hore : Mak Risda, Erin, Obby

Special thanks to : Obby buat foto loncatnya dan foto nangkring di tebing kawahnya ^_^

===============

Subang : Dicegat Ular Hitam Panjang di Curug Cileat

http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/subang-dicegat-ular-hitam-panjang-di-curug-cileat/
29/12/2011

 

Air terjun atau “curug” dalam Bahasa Sunda selalu menarik untuk dikunjungi, dan di daerah Jawa Barat ini ada banyak sekali curug. Kali ini kami pergi ke Curug Cileat di Gunung Sanggah (Subang), katanya ada 3 curug disitu, tapi lokasinya terpencil dan masih banyak ular tanah hitam yang sangat berbisa..!!!

Minggu, 30 Mei 2010.

Bandung – Jalan Cagak – Desa Cibogo

Cahaya matahari menyorot terang di pagi hari yang cerah ini. Terminal Ledeng tampak masih tenang,  belum banyak calon penumpang dan angkot-angkot berseliweran semrawutan.   Tapi bus-bus pariwisata sarat penumpang sudah banyak yang melintas mengarah ke daerah wisata di Lembang, Tangkuban Perahu dan sekitarnya.

Cukup lama juga berdiri di tepi jalan menunggu bus jurusan Leuwipanjang-Indramayu yang akan kami tumpangi hingga ke daerah Jalan Cagak di Kab. Subang.  Beberapa calo elf jurusan Subang beberapa kali menghampiri dan merayu kami, tapi tetap tidak tergoda karena malas dengan jadwal ngetem mereka yang tak kenal waktu.  Akhirnya mobil  tumpangannya datang.

Mobil L-300 butut ini ngebut meliuk-liuk di jalanan Bandung-Subang yang berbukit-bukit.  Matahari pagi menyorot di sisi kanan. Hamparan perkebunan teh memagari kiri kanan jalan. Semakin mengarah ke Subang, semakin banyak kami jumpai pedagang buah-buahan di pinggir jalan. Nenas khas Subang dan manggis tampak mendominasi setiap lapak.

Satu jam kemudian kami sampai di daerah Jalan Cagak, sebuah ibukota kecamatan yang ada dipersimpangan jalan, arah kiri ke Subang dan Indramayu, lurus ke arah Sumedang. Mampir sebentar di kontrakan seorang kawan, mencari pinjaman sepeda motor. Bermodal bensin seharga sepuluh ribu rupiah, bersama motor bebek pinjaman, kami  melaju ke arah Sumedang, menuju ke daerah Kecamatan Cisalak.

Tujuan utama kami hari itu adalah Curug Cileat, yang telah membangkitkan rasa penasaran dan hobby petualangan. Tiga puluh menit bermotor, sampailah di Kecamatan Cisalak. Kira-kira 1 km setelah melewati Pasar Cisalak, kami sampai di percabangan Desa Gardu Sayang , belokan ke kanan menuju  Curug Cileat.

Kami memutuskan untuk makan siang dulu, di warung nasi khas Sunda sederhana dan satu-satunya yang ada di situ.  Menunya : nasi hangat, sayur asam, ikan mujair goreng yang masih panas dan renyah , serta sambal.

“Wah Curug Cileat mah, tebih keneh atuh Neng.  Ngalangkungan Mayang teraaassss ka ditu, tebih keneh pokonamah..!! (Wah, air terjun Cileat masih jauh sekali, Nona. Melewati Desa Mayang, terus ke sana)” kata Ibu pemilik warung tentang curug tujuan kami. Tapi waktu kami tanya apa si Ibu pernah pergi sana atau belum, jawabnya belum katanya. “Ahhh…, buat apa ke sanah sagala, curug mah geus teu aneh (ahhh…, buat apa pergi sana , air terjun bukan sesuatu yang aneh) “, begitu katanya.  Ahh ibu….

Seusai makan siang dan membeli nasi timbel untuk bekal di air terjun, kami melanjutkan perjalanan kembali. Berbelok ke arah kanan menuju Desa Mayang.  Di belokan ini terdapat penanda arah “Curug Cileat” 9 km lagi. Jika tidak membawa kendaraan sendiri, Anda harus menyewa ojek yang banyak mangkal di tempat ini.

Jalan aspal yang kami lalui semakin sempit. Melewati sawah dan kebun penduduk. Kolam-kolam pemeliharaan ikan air tawar tampak di buat di saluran air yang berair jernih. Sederhana sekali cara mereka membuat kolam ini, cukup dengan membendung aliran air irigasi dengan tembokan, pasangi penyaring di kedua lubang sebagai inlet dan outlet air. Air jernih sangat melimpah di daerah ini.

Sebagian besar penduduk daerah ini bermata pencaharian sebagai petani padi sawah. Beberapa ibu-ibu tampak sedang menjemur padi hasil panen musim ini. Padi-padi itu di hamparkan dihalaman rumah yang telah di tembok khusu untuk menjemur padi, atau di hamparkan di atas “bilik” (anyaman bambu seperti tikar) dan dijemur dipinggir-pinggir jalan desa yang sempit ini.

Anak-anak kecil tampak asyik bermain sepeda atau bermain air di saluran air yang mengalir di depan rumahnya. Jaringan listrik sudah masuk ke desa ini. Rumah-rumahnya sudah terbuat dari tembok. Kolam-kolam ikan menghiasi halaman hampir setiap rumah. Beberapa tempat peristirahatan (villa) juga terdapat di sini.

Setengah jam bermotor dari belokan Desa Gardu Sayang, kami sampai di belokan berikutnya, tepat di depan Balai Desa Mayang. Ada 2 jalan kecil di kanan jalan, jalan kecil yang ke 2 lah yang harus kami ambil untuk pergi ke Curug Cileat , demikian kata penduduk setempat yang kami tanyai, tidak ada penunjuk arah sama sekali.

Jalannya kecil dan aspalnya nyaris sudah tidak ada. Sawah-sawah mengapit kiri kanan jalan. Jauh di sebelah kiri terdapat sungai cukup besar, aliran airnya deras dan jernih. Di beberapa titik, terdapat longsor, yang membuat jalan semakin sempit. Jalan ini berakhir di suatu pelataran cukup luas tempat pengerukan tanah. Rupanya kami telah sampai di Desa Cibago, desa terakhir sebelum curug. Waktu tempuh dari Desa Gardu Sayang kira-kira 30 menit.

Di tempat inilah para pengunjung curug biasa menitipkan kendaraan mereka. Saat itu terdapat beberapa buah sepeda motor pengunjung curug yang terparkir di tempat penitipan motor. Pengunjung curug harus membayar biaya retribusi sebesar Rp.4000 per orang. Dari Desa Cibago ini, pengunjung harus berjalan kaki alias hiking.

Trekking Melipir Gunung Sanggah

Maka mulailah acara trekking kami siang itu. Waktu sudah menunjukkan jam 12 siang. Awan-awan pembawa hujan sudah tampak di atas gunung. Kami berjalan kaki menyusuri jalan setapak di tengah kampung, melewati rumah-rumah penduduk yang sederhana walaupun rata-rata sudah terbuat dari tembok. Bertanya disetiap belokan jalan karena tidak ada penanda sama sekali. Sehabis perkampungan yang cuma terdiri dari beberapa rumah ini, kami harus berjalan melewati pematang sawah yang becekdan terus menanjak, menyusuri saluran air, melipir pinggang gunung Sanggah.

Kebingungan melanda manakala sampai di percabangan jalan dan tak ada siapapun untuk ditanyai. Ragu-ragu kami mengambil arah kanan, terus naik menjauhi suara gemuruh air sungai. Rasa lega timbul begitu bertemu dengan penduduk setempat yang tengah mencari bambu, ternyata kami tidak salah jalan. Areal ini cukup terbuka, sinar matahari berlimpah di sini. Menengok ke arah kiri depan, kami berseru gembira manakala melihat 3 air terjun dikejauhan sana. Lokasinya sedikit berjauhan, terutama yang ketiga, yang paling besar.

Dengan semakin bersemangat kami melanjutkan kembali perjalanan. Jalan setapak ini semakin terjal, sempit dan rimbun. Di kiri kami adalah tebing curam yang dibawahnya mengalir sungai, sedangkan di kanan adalah dinding gunung yang rimbun ditumbuhi berbagai pepohonan liar. Tumbuhan kopi yang buahnya sedang merah ranum tampak disana sini. Seorang penduduk tengah asik memanen kopi-kopi tersebut, tampak bersusah payah menundukkan cabang pohon kopi yang mengarah ke jurang.

Seorang penduduk lainnya sedang asik bertengger di atas pohon nira sambil memukul mukuli batang buah nira muda. “Kok, dipukul-pukuli Pak” saya bertanya keheranan. “Iya, Neng, supaya hasilnya nantinya banyak”. Niranya nanti baru bisa disadap 2 minggu kemudian. Ohh begitu ???? Rupanya menyadap nira tidak asal tebas dan tamping, harus dihitung / diperkirakan benar-benar kapan sari nectar nira yang manis mulai mengalliri buluh-buluh menuju buah nira. Saat itulah si batang buah nira tersebut dipotong dan nektarnya ditampung di dalam batang-batang bambu yang disebut “Lodong” dalam bahasa Sunda. Kegiatan menyadap nira biasanya disebut sebagai “ngalodong”. Bila buah-buah nira ini dibiarkan tumbuh membesar, biasanya setelah tua dan matang akan dipanen, dibakar untuk menghilangkan getahnya yang amat sangat gatal itu, kemudian direndam berkali-kali untuk menghilangkan rasa pahit dan gatal yang tersisa. Jika sudah siap, maka daging buahnya yang berwarna putih itu akan dijual sebagai “kolang-kaling” yang biasa digunakan untuk membuat es campur, es kolang-kaling, ataupun kolak kolang-kaling.

Sempat juga berpapasan dengan beberapa orang penyadap nira lainnya yang tengah mengangkut hasil sadapannya. Dan dengan para petani yang baru pulang dari sawah atau dari hutan mencari kayu bakar. Kami harus berhenti dan menepi hingga mepet ke dinding gunung supaya mereka bisa lewat. Mereka semuanya sangat ramah dan murah senyum.

Lalu kami sampai di sebuah tempat yang sangat rimbun, sinar matahari hanya berupa larik-larik cahaya kecil yang berhasil menembus rimbunnya dedaunan. Jalan yang kami injak tampak seperti bekas jalan air, batu-batunya bersih karena tanahnya sudah terkikis air. Di ujung yang terang sebelah sana, tampak seorang anak laki-laki penduduk setempat yang sedang beristirahat , di seberangnya terlihat kakak laki-lakinya sedang merokok. Begitu keluar dari gerumbulan pohon itu, kami langsung disambut gemuruhnya air terjun. Aaahhhh….rupanya kami telah sampai ke air terjun ke 1, tampak menjulang jauh disebelah kanan atas.

Air terjun ini begitu tinggi, ujung atasnya tidak terlihat, tersembunyi dibalik pepohonan, ujung bawahnya juga tidak terlihat, seperti tenggelam diantara pohon-pohon liar. Tidak ada “kolam” di bawah air terjun yang biasanya bisa kita jumpai dan biasanya dipakai untuk arena bermain air. Tidak ada akses jalan untuk bisa melihat area tempat jatuhnya air. Yang bisa kita jangkau cuma aliran sungai kecil berair jernih dan sejuk.

Kami beristirahat sejenak di sini, sambil ngobrol dengan kakak beradik tadi. Lalu kembali melanjutkan perjalanan, menyebrangi sungai kecil berair jernih. Berhati-hati agar tidak terpeleset ketika menginjak batu-batunya yang berwarna hitam. Kira-kira sepuluh menit kemudian, kami yang senang karena sudah melihat aliran air terjun yang ke 2, tiba-tiba dikagetkan oleh seekor ular hitam kelam berukuran lumayan besar yang melintas dari balik sebongkah batu besar menuju semak-semak. Kami teringat cerita bapak-bapak di sebuah warung di Jalan Cagak tadi yang mengatakan bahwa di daerah ini memang masih banyak dijumpai ular tanah berwarna hitam yang sangat berbisa, oleh karena itu di sini dilarang berkemah. Wahh…dengan pengalaman tadi, kami percaya 100% pada cerita si Bapak tersebut, tapi kami jadi agak sedikit paranoid, mencurigai setiap bongkah batu yang banyak berserakan di sini.

Curug ke 2 tidak setinggi dan sebesar curug ke 1, pangkal dan ujung nya dapat terlihat. Bias-bias airnya yang terbawa angin membasahi dedaunan dan tanah disekitarnya. Tapi tidak terdapat kolam di bawah kucuran air, mungkin karena tidak cukup besar. Tiba-tiba dari ujung jalan setapak sebelah sana, dari balik semak-semak muncul suara-suara percakapan disusul dengan kemunculan beberapa orang cowok, sepertinya mereka bukan penduduk setempat melainkan pengunjung seperti kami.  Mereka kemudian asyik mandi-mandi dibawah guyuran air terjun yang dingin itu sambil berfoto-foto.

Rupanya mereka baru saja kembali dari air terjun yang ke 3 dan terbesar. Jaraknya kurang lebih 1 jam perjalanan lagi dari sini. Menimbang-nimbang waktu yang kami miliki dan keadaan alam yang sepertinya sebentar lagi akan hujan dan seriusnya kondisi medan yang harus dilalui, akhirnya kami memutuskan untuk balik arah, menyudahi petualangan kami hari itu.

———ooooOOooo———–

Pantai Karangsari – tempat yang tepat bagi para Surfer wannabe

By Dian Sundari

Setelah nonton bareng film dokumenter berjudul “Mengejar Ombak” yang menceritakan tentang seorang peselancar muda berbakat asal Sukabumi – Jawa Barat bernama Dede Suryana,  saya jadi teringat waktu menonton teman-teman saya belajar surfing di Pantai Karangsari yang juga terletak di Teluk Pelabuhan Ratu, bertetangga dengan Pantai Cimaja tempat Kang Dede Suryana berasal.

Pantai Karangsari ini letaknya tidak jauh dari Terminal Bis Pelabuhan Ratu, kira-kira 2 km ke arah utara .  Menurut Wikipedia, di seputar Palabuhanratu, paling tidak ada sembilan titik lokasi untuk berselancar, yaitu di Batu Guram, Karangsari, Samudra Beach, Cimaja, Karang Haji, Indicator, Sunset Beach, Ombak Tujuh sampai Ujung Genteng. Masing-masing pantai mempunyai ombak dengan karakteristiknya sendiri.

pantai karang sari 13 Almost Sunset 2

Ombak di Pantai Karangsari menurut www.surftravelonline.com disebut sebagai “ an easy spot close to town, short right-hand point style wave on sand bottom”.  Dari  seluruh pantai-pantai di Pelabuhan Ratu, pantai ini memiliki keunikan tersendiri, karena terletak di teluk Pelabuhan ratu
sehingga membuat omabaknya stabil dan sangat aman untuk segala kegiatan pantai, terutama untuk orang-orang yang berminat belajar surfing.  Terdapat spot surfing untuk kelas pemula hingga advance.  Untuk kelas experience tergantung musim ombak, bisa mencapai 7 feet dan sangat sempurna untuk surfer kelas experience.

Terdapat beberapa hotel (seperti Pondok Dewata) dan penginapan-penginapan murah di sekitar Pantai Karangsari ini (misalnya Wisma Handayani).  Anda juga bisa berkemah ria di tepi pantai.  Ada fasilitas toilet umum dan warung makan.  Selain itu , di sini juga terdapat tempat-tempat yang membuka kursus surfing, misalnya saja yang dikelola oleh Dendy Septiandani atau di Walakasurf (http://www.walakasurf.com/).

09 Surfing Master 1 09 Si Kuning 3a

09 Ber-Body Board asyiiikkkkk

Waktu itu (9 September 2007),  kami menginap di rumahnya salah satu tokoh peselancar Karangsari, Kang Asep.  Dari beliau pula lah, teman-teman saya belajar tehnik-tehnik surfing.  Sedangkan saya dan Indah teman saya, belum berani mencobanya, kami hanya berani mencoba body-boarding.  Asyik sekali rasanya menunggangi ombak diatas sebilah body board, apalagi kalau pas ombaknya besar, kita bisa menungganginya hingga jauh keatas pantai, dan akhirnya terdampar di atas pasir.

Menurut teman-teman saya yang belajar surfing, butuh kekuatan tangan pada saat mengayuh untuk mengejar ombak, dan kekuatan kaki serta keseimbangan untuk dapat menaiki sang papan di atas ombak.  Selain itu tentu saja butuh keberanian luarbiasa, terutama saat tubuh tergulung ombak besar.  Oh ya kemampuan seperti ber-duck dive juga diperlukan pada saat berpapasan dengan ombak yang bukan merupakan target yang akan kita naiki, kalau tidak ber-duck dive di bawah ombak, maka kita akan terseret kembali ke belakang.  Dan selama latihan di Karangsari weekend ini, mereka masih belum bisa berdiri di atas papan…J

Selamat mencoba belajar berselancar ya…J

http://dians999.multiply.com/

21Mar2009 Curug Dago yang takkan kulupakan

Hari minggu kemarin (21Mar2009) kami akhirnya sampai juga di Curug Dago.

First attempt : failed 😦

Cerita pencarian kami akan si Curug Dago ini lucu dan menjengkelkan.Sebenarnya hari minggu weekend yang lalu kami sudah keluyuran berpanas-panas di Dago, sudah berbelok ke jalan yang benar yang tidak jauh dari terminal Dago, sayangnya kami bertanya kepada orang yang salah, si mamang pencari rumput mengatakan bahwa “curug dago itu masih jauuuuuuuhhhh…. sekali dari sini, mungkin 4 km lebih mah ada lah Neng”, begitu katanya.  Keterangan ini membuat nyali kami ciut karena harus trekking di jalan aspal nan panas sejauh itu. Akhirnya kami pun mengurungkan niat dan balik arah, lalu terdampar di mall Ciwalk…

Lagi, hari sabtu sebelum kami menemukan curug Dago, kami juga mencari si curug itu yang katanya adanya di daerah Punclut, yang bisa di akses melalui Ciumbuleuit.Maka pergilah kami ke Ciumbuleuit.Si sopir angkot menurunkan kami di pertigaan depan sebuah rumah sakit.Lagi, kami bertanya, kali ini ke Tukang Rujak, lhaaa…katanya di Punclut mah tidak ada Curug Dago Neng, kalau mau ke Curug Dago mah si Eneng harus balik lagi naek angkot yang tadi, turun di simpang lalu naek angkot nomor sekian, dan bla…bla…bla….Halahhh….cape dehhh…!! Salah lagi…!! Dan lagi, kami berbalik arah lalu terdampar di warnet….

Mutung bertanya kepada manusia berwujud, kami pun bertanya kepada yang tidak berwujud, internet….!!!Betapa anehnya dunia ini…untuk mencari tempat yang ada di RT sebelah saja harus minta tolong sama Om Google yang weruh sedurung winara itu!!!

Dari Si Internet ini, ada beberapa info yang lagi-lagi bikin pusing , ada yang menyebutkan bahwa si Curug Dago ini bisa diakses dari Hutan Raya Djuanda yang berada kurang lebih 2 km setelah Terminal Dago, tapi info lainnya menyebutkan bahwa si Curug Dago (yang disebut penulisnya sebagai curug yang terlupakan) ini bisa di akses melalui jalan yang ada di depan Hotel Sheraton Dago yang nyata-nyata berada sebelum Terminal Dago.Bahhh…!!!Pusing lagi…!!!

Penasaran dengan Si Curug Dago Yang Terlupakan ini, kami pun memutuskan untuk pergi ke Taman Hutan Raya Djuanda (Tahura) esok pagi.

2nd attempt : succeed 🙂

Maka keesokannya pergilah kami berdua ke Taman Hutan Raya Djuanda (Tahura).Naik angkot jurusan Ciburial (Ciroyom-Ciburial) dari Simpang Dago, dan turun di pertigaan jalan yang ada plang tulisan Hutan Raya Djuandanya.Dari sana kami berjalan kaki di jalan aspal sempit yang menanjak sejauh kira-kira 600m, dan sampailah kami di pelataran parkir Kompleks Taman Hutan Raya Djuanda.

Sewaktu melihat peta yang ada di parkiran, tahulah kami bahwa kali ini pun kami sudah salah tempat lagi.Di situ tertera jelas kalau Curug Dago tidak terletak di kompleks ini walaupun masih termasuk dalam Wilayah Konservasi Hutan Djuanda.Yaaahhhh….salah lagi deh..!!!Tapi karena kami sudah terlanjur berada di sini, kami memutuskan untuk menjelajahinya.

Tempat wisata alam ini sangat sejuk karena rimbunnya pepohonan.Jalan-jalan nya tertata rapih dan bersih.Tiket retribusinya Rp8000 per orang. Terdapat banyak bangku-bangku taman untuk duduk-duduk santai.Taman bermain anak juga tersedia di sini.Sarana dasar seperti toilet dan musholla juga tersedia.Penjaja makanan juga ada beberapa yang diijinkan berjualan di kawasan ini.

Objek wisata andalan Tahura antara lain Musium Tahura, Monumen Ir. H. Djuanda, Kolam Pakar, Goa Jepang, dan Goa Belanda.Untuk masuk ke Goa Jepang dan Goa Belanda, Anda harus membawa senter atau Anda bisa menyewanya seharga Rp3000.Di hutan ini, masih banyak terdapat monyet-monyet kecil, tapi tidak mengganggu pengunjung. Bila Anda ingin menjelajah lebih jauh lagi, Anda bisa trekking atau biking hingga ke Maribaya.

Puas menjelajahi Tahura, kami turun ke Terminal Dago lagi, tentu saja dengan niat untuk mencari si Curug Dago.Di sebrang terminal, kami bertanya kepada seorang penjaga warnet , katanya kami harus mengikuti jalan menurun ini (yang seminggu lalu pernah kami lalui), setelah belokan ada warung, lalu menurun sedikit lagi, nah tidak jauh dari situ ada jalan kecil ke arah kiri, ikuti terus jalan itu, nanti juga akan bertemu dengan Curug Dago.Ternyata benar, tidak jauh berjalan, kami menemukan jalan kecil di sebelah kiri itu, posisinya persis di dekat tempat kami seminggu yang lalu bertemu dengan si pencari rumput yang memberi informasi yang salah…

Tidak ada seorangpun di sana kali ini.Tidak ada penunjuk jalan apapun.Hanya ada bangunan bekas warung yang sudah dilupakan siempunya, seperti si curug Dago yang dilupakan penduduk sekitarnya.Sebenarnya ada 2 jalan kecil di sebelah kiri ini, satunya yang kami lewati ini dan lainnya yang berada di balik tembok beton itu tepat sebelum jembatan sungai Cikapundung.Kamipun bingung, yang ini atau yang itu ya??Untungnya ada ibu-ibu yang lewat, ahhh ternyata ini jalan yang benar, curugnya tidak jauh lagi dari sini, tinggal belok kanan….., tapi koq sepi sekali ya..tidak ada suara gemuruh sebuah curug atau gemericik suara aliran sungai…???

Tidak berapa lama, kami sampai di perempatan jalan setapak ini.Yang ke arah kiri kemungkinan akan muncul di dekat terminal tadi, yang ke depan entah akan menuju ke mana, sedangkan yang ke kanan , tentu saja ke Curug Dago..

Lho..ternyata jalan setapak di balik tembok itu juga menuju ke sini, lengkap dengan tembok-temboknya memanjang terus entah samapi ke mana.Ahhh…senangnya ketika akhirnya kami menemukan Curug Dago ini…

biasa banget deeehhh

Kawasan Wisata Curug Dago ini kecil saja.  Tidak ada pos retribusi.  Hanya ada 2 gazebo kecil untuk duduk-duduk, beberapa bangku taman, dan 1 warung makanan.  Curugnya ada di sebelah kiri.  Kita harus menuruni jalan setapak berbatu berliku-liku yang cukup terjal untuk bisa sampai ke ceruk, tempat si air curug jatuh. Di ceruk ini ada 2 bangunan kecil terkunci rapat, bercat merah dan kuning keemasan yang berfungsi untuk melindungi 2 buah prasasti alias batu bertulis yang katanya di buat oleh 2 Raja dari Thailand.Prasasti yang satu di buat oleh ayah dari Raja Thailand Chulalongkan II dan yang satunya lagi dibuat oleh Si Raja Chulalongkan II sendiri sewaktu di tahun 1896 ia berkunjung untuk melihat prasasti tulisan tangan Sang Ayah.Semua prasasti di tulis dalam huruf dan bahasa Thailand.

Rumah prasasti Raja Thailand

apa coba ituu bacaanya ??

Walahhh.. untuk apa raja-raja itu datang jauh-jauh dari Thailand ke tempat ini ya???  Hmmm…curugnya sendiri bukan sebuah curug yang membuat kita tercengang kagum akan ketinggiannya. Curugnya pendek saja, mungkin 4 meteran tingginya.  Di siang menuju sore hari seperti ini, tempat ini agak sedikit menyeramkan, mungkin karena rimbun dengan pepohonan besar dan tua. Untungnya ada 2 orang pemancing lokal di seberang sungai.  Karena musim hujan, air sungainya berwarna cokelat. Dan karena dekat dengan pemukiman, maka sampah berserakan di ceruknya.

Ketika kami ke atas lagi, sudah ada beberapa rombongan kecil anak muda dan 1 keluarga kecil yang juga mengunjungi tempat ini.  Menurut seorang penduduk lokal yang kami temui, di hari minggu biasanya banyak anak-anak muda yang bermain-main di kawasan ini. Bahkan ada juga yang camping.

Ending : satisfaction

Puas sudah pencarian kami akan si Curug Dago ini.Kami pulang ke arah yang berlawanan dari arah datang tadi. Alasannya simple saja, karena kami ingin tahu ke arah mana jalan ini sebenarnya.  Ternyata jalan setapak ini berakhir di kampung Dago Pojok, lalu tembus ke jalan beraspal kecil yang bermuara di depan Hotel Sheraton Dago. Jadi ternyata si internet itu benar juga, cuma kami saja yang bingung sendiri saking banyaknya informasi :p

==========================