Malang : Little Missy dari Pulau Sempu

26/12/2011

Menyebrang ke Pulau Sempu dari Pantai Sendang Biru sebenarnya cuma memakan waktu 10 menit saja dengan perahu kecil bermotor tunggal yang banyak berjejer di tepi pantai rebutan penumpang. Tapi kami malah memilih naik perahu dayung kecil, pulang pergi. Berasa seakan-akan jadi Little Missy tipuan yang ada di film “Pirates of the Carribean 1” itu ketika teman saya membuka payung untuk melindungi diri dari sengatan matahari…, tapi malangnya angin besar malah membalik payung hingga menjadi cekung bukannya cembung seperti seharusnya, untung perahunya tidak ikut terbalik….:D

Mei-2007

Lokasi Pulau Sempu

===================

Mendayung Ke Sempu

Terpikat oleh foto-foto Segara Anak yang indah-indah dan oleh cerita-cerita perjalanan trekking penuh tantangan di Pulau Sempu, pergilah saya dan 3 teman lainnya ke Malang.  Perjalanan darat yang panjang dari Jakarta, mulai dengan naik kereta malam ke Surabaya, lanjut dengan bis ke Terminal Arjosari (Malang), setelah sebelumnya “dibodohi lagi” oleh mamang becak kesana kemari di Surabaya.  Lanjut lagi dengan bis kecil menuju Terminal Gadang, lalu ke  Turen, dari sana masih harus naik angkot lagi yang sangat “over capacity” ke Sendang Biru.

Rangkaian perjalanan itu kira-kira hampir 24 jam lamanya, naik turun gonta-ganti kendaraan sambil bawa gembolan masing-masing, termasuk tenda beserta peralatan memasak, yang sayangnya tidak jadi kami pakai gara-gara sampai Sendang Biru nya kesorean plus hujan lebat sekali, sehingga kami lebih memilih Pondok Wisata dibandingkan nenda :p

Pantai Sendang Biru

Barulah keesokan harinya, pagi-pagi sekali kami sudah kelantang-kelinting di sekitar Pantai Sendang Biru, mencoba menikmati sunrise yang mendung sambil mencari-cari informasi sewaan perahu termurah untuk menyebrangkan kami ke Pulau Sempu.

Perahu-perahu sewaan itu rupanya sudah lumayan terorganisir, tarifnya sama, dan ada semacam sistem antrian untuk mencegah rebutan penumpang.  Kami yang malas dengan “rayuan” para calo perahu, diam-diam bersepakat dengan seorang nelayan yang bersedia memberikan tarif lebih murah.  Awalnya lumayan keder juga begitu tau bahwa perahunya adalah sampan kecil tanpa motor, alias harus di dayung, takut perahunya terbalik dan kami tercebur ditengah-tengah.  Tapi, Mamang Perahu nya berhasil meyakinkan kami semua, lagipula kilatan jail dimata kami akan suatu petualangan tak terlupakan berdayung ke Pulau Sempu, membulatkan tekad kami…!!!

Satu per satu kami menaiki perahu, duduk berbanjar satu-satu diatas palang kayu, saya duduk paling depan, mamang perahu di paling belakang.  Awalnya hanya Mamang Perahu saja yang mendayung, tapi lalu kami kasihan karena sepertinya berat sekali mendayung perahu bermuatan 5 orang, jadi kami bergantian ikut-ikutan mendayung dengan dayung cadangan, membuat arah perahu mencong ke sana ke sini karena gerakan kami yang kaku dan tidak tahu teknik mendayung dan mengarahkan perahu dengan benar.  Mamang perahu menjadi guru kami yang sabar dan menyenangkan serta sangat ahli dalam hal itu.  Kami…., kami menjadi muridnya yang pemalas dan bodoh serta cepat menyerah, mendanyung sebentar saja sudah mengeluh tangan lecet merah-merah dan pundak pegal :p

Menakutkan juga tiap kali papasan dengan perahu bermotor yang lebih besar, riak ombaknya membuat perahu kami oleng.  Demi melihat kami, perempuan-perempuan kota, duduk berpegangan erat-erat ke tepi perahu sambil berteriak dan mengomel ngeri, awak-awak perahu nelayan itu malah nyengir dan melambai lambaikan tangan.  Mau tak mau kami jadi ikut tertawa nyengir dan melambai-lambai walaupun masih diselingi ngomel-ngomel.

Saya pikir, titik pendaratan di Pulau Sempu nya itu adalah titik terdekat yang tepat berhadapan dengan Pantai Sendang Biru, yang kelihatannya “sangat dekat”, ternyata bukan….., titik pendaratannya menyerong jauh ke kanan.  Hingga rasanya lama sekali, ngga sampai-sampai, tapi lalu perahu berbelok memasuki suatu “ceruk “ pantai yang cukup landai diantara pohon-pohon bakau, dan mendarat disana.  Janjian lagi sama si Mamang Perahu untuk menjemput kami lagi nanti di sini.

Trekking Licin Menembus Hutan Pulau Sempu

Jalur trekkingnya jelas terlihat dan mudah diikuti, berkelok-kelok menembus Hutan Cagar Alam Sempu yang masih sangat rimbun.   Tapi, hujan besar semalam, membuat jalur tanah ini menjadi licin bukan main.  Kami bergulat dengan lumpur selama kira-kira 2 jam, berkali-kali terpeleset dan hampir jatuh.  Untung saya memakai sepatu trekking, padahal tadinya malas sekali karena beratnya.

Sewaktu sampai di suatu danau berair hijau, saya pikir kami sudah tersesat ke danau satunya (katanya selain Danau Segara Anak berair asin, ada juga 1 danau air tawar).   Tapi ternyata kami memang sudah sampai di Danau Segara Anak, tapi ditepiannya yang jauh dari laut.  Setelah berjalan terseok-seok beberapa lama menyusuri tepian tebing danau, airnya tampak semakin berwarna biru, lalu tampaklah batu karang berlubang tempat air samudra Hindia masuk “mengisi kolam” dan pantai melengkung berpasir putih menyilaukan dihiasi beberapa tenda.  Membuat saya berteriak kegirangan, ke arah teman-teman yang masih tertinggal di belakang.

Wahhh…ternyata banyak yang nenda, katanya kemarin lebih banyak lagi malahan.  Mereka rata-rata dari Surabaya, sepertinya anak kuliahan.

Air laut jernih kebiruan Danau Segara Anakan yang tenang, yang hanya sesekali agak bergelombang ketika air laut tumbah dari bolongan tembok karang pemisah dengan samudra, sepertinya sangat tidak mudah untuk diabaikan.  Kami sudah asyik bermain air, cibang cibung berenang kesana kemari, tapi terlalu takut untuk berenang terlalu ke tengah.  Wahhh…kalau saja danau seperti ini berada di arena wisata komersil, pastilah menjadi favorit wisata keluarga dan menjadi ladang pemasukan yang sangat memuaskan bagi pengelola tempat wisata tersebut.

Mudah-mudahan issu mengenai akan dibangunnya resort di sini tidak pernah terwujud, biarlah yang indah alamiah tetap seperti adanya.  Mudah-mudahan undang-undang atau peraturan pemerintah lainnya mengenai Cagar Alam, mampu menjadi penjaganya dari sisi hukum, dan kita para penikmat alam, mampu menjadi penjaga nyata akan kelestariannya.  Minimal, bawa kembali semua sampah yang kita hasilkan selama disini…!!!

Pemandangan dari arah puncak tebing karang ke samudra nan luas juga sangat menakjubkan.  Ombak selatan berdebur-debur pecah menghantam karang.  Tapi harus extra hati-hati memilih pijakan karang yang tajam-tajam, yang terasa ketajamannya walaupun telah memakai sendal.

Little Missy dari Pulau Sempu

Teringat dengan janjian jemput menjemput dengan Mamang Perahu tadi pagi, kami berkemas-kemas untuk kembali.  Tidak bisa berbilas dengan air tawar, karena dekat-dekat sini memang tidak ada sumber air tawar.  Semua sampah sudah kami kumpulkan untuk kami bawa kembali ke Sendang Biru.  Mudah-mudahan lumpurnya sudah agak mengering karena panas matahari sehingga jalannya tidak selicin tadi lagi.

Mamang perahu ternyata belum datang…mudah-mudahan dia tidak lupa dengan janjiny untuk menjemput kami kembali.  Oh..itu dia datang, katanya dia terlambat karena baru saja datang dari mencari ikan….

Satu per satu kami kembali menaiki sampan.  Matahari terasa sangat terik.  Sebuah perahu cepat yang disewa dua orang bule tampak tidak jauh dari pulau.  Bule-bulenya sedang foto sana sini, membuat kami kege-eran karena merasa jadi objek fotonya, padahal mungkin tidak…:-p

Karena tidak tahan dengan teriknya matahari, salah seorang teman saya membuka payung, dan bergaya seperti Little Missy tipuan bajak laut di film “Pirates of the Carribean”…ketika para bajak laut pimpinan Kapten Borbosa akan menyerbu kapal tentara Kerajaan Inggris.  Malangnya, payungnya condong ke sana kemari karena ditiup angin lumayan kencang, membuat panik kami semua karena takut perahunya terbalik gara-gara angin yang tertahan payung.  Kerangka logam pembentuk payung yang “kalah” oleh kekuatan tiupan angin, malah kemudian melengkung ke atas, seperti mangkuk tukang sulap yang berdiri diatas sebatang gagang besi kecil….  Kami tertawa-tawa tapi juga panik menjinakan sang payung.  Bule-bule itu bahkan ikut tertawa-tawa melihat kekonyolan itu, sambil membidikan kameranya ke arah kami lalu melambaikan tangan ke arah kami yang semakin menjauh.

Kejadian konyol tadi terus saja membuat kami dan Mamang Perahu tertawa-tawa.  Ketika berpapasan kembali dengan perahu nelayan yang baru saja pulang menangkap ikan, kami kembali saling melambaikan tangan.  Rupanya para nelayan itu teman-temannya Mamang Perahu, mereka berbalas pantun teriakan-teriakan dalam bahasa Jawa yang tidak kami mengerti, sepertinya nelayan-nelayan itu menggoda Mamang Perahu yang “begitu beruntung” mengangkut cewek-cewek kota :p

Kejutan lainnya menunggu kami di Sendang Biru, ternyata para nelayan itu dengan murah hati memberikan beberapa ekor ikan besar-besar hasil tangkapannya hari ini kepada kami.  Wahhh…rezeki tak terduga…  Ikan-ikan itu kemudian kami bawa ke salah satu warung yang bersedia mengolahnya menjadi ikan bakar lezat, menu makan sore yang nikmat.

Gara-gara keasyikan makan ikan bakar dan kelamaan mandi, kami ketinggalan angkot terakhir ke Turen.  Terpaksa menyewa ojek, untuk mengejar angkot terakhir di tempat lain yang biasa digunakan untuk ngetem.  Kami pikir rute ngojeknya tidak terlalu jauh, hingga tidak melengkapi diri dengan jaket, ternyata lumayan jauh  juga, jalanannya sepi tapi aspalnya lumayan bagus, melewati perkebunan tebu dan sawah ladang, angin dingin disertai gerimis membuat badan menggigil.

Untunglah angkot yang kami kejar masih ngetem disana.  Penumpangnya tidak sebanyak seperti kemarin, kaki kami tidak kram akibat tertekuk cukup lama.

Dari Pulau Sempu, kami akan melanjutkan ke Bromo, saya akan ceritakan lain kali….

=====000=====

Situs informasi Pulau Sempu yang lumayan lengkap : apvalentine.students.uii.ac.id/pulau-sempu-alternatif-wisata-pantai-di-kala-liburan-akses-pulau-sempu-pantai-sendang-biru/

=====000=====

Thanks to : Erni, Wiwied, Evi

Advertisements

Pegunungan Tengger

27/12/2011

Saya kesal mendengar komentar salah satu teman sewaktu melihat foto-foto pemandangan pagi hari yang saya ambil sewaktu di Gunung Pananjakan (2700 MDPL) yang perlihatkan Gunung Batok, lalu Gunung Bromo (2300 MDPL), dan dikejauhan ada Gunung Semeru dengan asapnya yang mengepul. Ketiga gunung itu dikelilingi oleh pelataran awan putih. “Ini bener nihh foto disana ??” katanya sambil menatap tak percaya… “Ya iyalahhh… memang foto itu diambil disana, memangnya loe pikir dimana…???” sahut saya kesal bukan kepalang. Kata teman saya lagi: “Ngga…, kok kaya foto diri yang diambil di studio foto, loe kaya lagi berdiri didepan cetakan foto lanscape indah pemandangan gunung…”

Mei-2007

===================

Ya memang begitulah kesan yang ditampilkan foto-foto pemandangan pagi di Pegunungan Tengger.  Seperti lukisan.  Tapi se-maestro apapun pelukisnya tidak akan mengalahkan lukisan alam nyata karya Tuhan Yang Maha Kuasa.

Anda yang sudah pernah melihat sendiri ke sana, pasti tahu maksud saya

Awalnya, saya pikir ke Gunung Bromo itu seperti ke gunung-gunung lainnya, trekking pendakian melelahkan jiwa raga sambil membawa segala perlengkapan “kenyamanan hidup portable” yang bisa dibawa dalam satu backpack besar tersampir di punggung.  Ha….ternyata ke Bromo “tidak semenantang itu” 😀

Kami start dari Kota Malang, sepulang dari Pulau Sempu di tepi Selatan Malang, menuju Tumpang.  Dari sana kami mencarter jeep yang biasa dipakai untuk mengangkut sayur mayur, menuju Desa Ranu Pane.  Rutenya memang memutar, jalannya jelek, tapi menjanjikan pemandangan alam pegunungan yang spektakuler, dan menawarkan pengalaman petualangan yang tidak bisa kami abaikan.

www.kaskus.us/showpost.php

Jeep nya Pak Yanto

Semua backpack telah terikat erat-erat di bagian atas jeep, aman tertutupi lembaran plastik terpal, jaga-jaga kalau turun hujan.  Hanya satu penumpang yang bisa duduk di dalam kabin depan, yang lainnya berdiri di bagian belakang jeep terbuka, berpegangan pada palang-palang besi.

Pemandangan pedesaan pegunungan memang spektakuler, kebun-kebun sayuran berundak-undak menghiasi lereng-lereng bukit.  Penduduk desa yang baru pulang dari ladang ataupun yang baru pulang dari mencari rumput untuk ternak-ternak nya tersenyum ramah ketika berpapasan.  Paru-paru yang selama ini dijejali dengan udara knalpot kini bersuka ria dianugrahi udara pegunungan yang bersih dan segar.  Kamera-kamera dijepretkan ke sana ke sini, inilah alasan kami memilih jeep bak terbuka, supaya bisa lebih leluasa mengabadikan setiap moment menarik yang datang hanya sekejapan mata, tak bisa di ulang, tak bisa di re-wind, tak bisa di re-play, tak bisa di-undo…

Rute ini juga melalui air terjun Coban Rondo, lalu Desa Ranu Pane dengan danaunya, setelah itu memutar dan melewati padang savana luas yang menakjubkan, menembus gurun pasir Bromo, hingga ke Desa Cemoro Lawang, sebuah desa turis yang dipenuhi dengan berbagai hotel dan penginapan.  Kami menginap disalah satu penginapan kelas VIP, backpacker naik status ^_^

Kira-kira jam 2 dini hari dengan masih amat sangat mengantuk, kedinginan bukan main, plus lapar pula, bergegas-gegas kami menaiki jeep lagi, menuju Gunung Pananjakan untuk melihat pemandangan “The Spectaculer Sunrise of Bromo”.  Sudah banyak sekali wisatawan berkerumun disana, seperti kerumunan penduduk miskin yang sedang menunggu sat-saat pembagian raskin.  Disitu ada semacam tempat duduk berundak-undak seperti di stadion sepakbola, tapi semuanya telah penuh.  Mencari posisi strategis untuk dapat menikmati suasana sunrise tanpa penghalang adalah usaha yang sangat susah dilakukan.  Terpaksa kami melewati pagar keselamatan, dan bertengger di sis tebing, berhati-hati agar tidak menginjak tanah yang licin atau tanah yang gembur dan mudah ambrol.

Sayangnya kami tidak disuguhkan dengan matahari bulat merah saga yang baru terbangun dari tidur lelapnya semalam.  Awan-awan menghalangi pemandangan.  Tapi ketika sang mentari pagi terus meninggi, dan sinarnya menjangkau lebih jauh, tersibaklah pemandangan alam spektakuler itu.

Awan putih terhampar dibawah kami, puncak Gunung Batok seperti nasi tumpeng di tengah-tengah hamparan kapas.  Dibelakangnya ada Gunung Bromo yang mengepul, lalu nun jauh di belakangnya lagi ada Puncak Mahameru, tanah tertinggi di Jawa, kawah junggring saloko nya sesekali meletupkan awan panas bergulung-gulung membubung tinggi ke angkasa.  Pemandangan alam maha dahsyat yang menggetarkan jiwa…!!!

Satu-persatu wisatawan mulai meninggalkan gardu pandang Gunung Pananjakan yang sudah menyajikan pertunjukan keindahan alam tiada tara.  Begitu pula kami, meneruskan perjalanan menuruni Gunung Pananjakan, menembus atap awan kabut putih yang masih pekat dan belum mampu ditembus cahaya matahari.  Kembali mengarungi lautan pasir dibawah naungan atap kabut putih, menuju pelataran parkir Gunung Bromo.

Jeep dan kuda adalah tunggangan andalan disini.  Kadang-kadang pengendara sepeda dan mobil ada yang adu nyali menjajal hamparan gurun pasir.  Siluet-siluet tukang kuda beserta kudanya seakan-akan tiba-tiba muncul dari dunia dongeng penuh mistis.  Semuanya masih gelap samar-samar padahal sudah lebih dari jam 8 pagi.

Kami yang penasaran dengan “rasa” menunggang kuda, memilih kuda-kuda yang sesuai dengan postur tubuh, dan tentu menawar sebisanya.  Kuda yang saya tunggangi namanya “Unyil” karena sosoknya yang mungil, cocok dengan pawang serta saya , calon penumpangnya.  Si Unyil ini cukup tenang ketika saya naik di sadel dan duduk diatas pelana.  Tidak seperti kuda pilihan salah satu teman yang gelisah, terus saja meringkik, mendengus dan mendepak-depakan kakinya, membuat penumpangnya jadi ikut gelisah.

Pelan-pelan kami berkuda menembus kabut, pawang kuda berjalan disamping sambil terus memegangi tali kekang dan mengerahkan kuda.  Enak juga ternyata naik kuda…

Kami berhenti di depan Gunung Batok yang seperti kue apem hijau raksasa, tepat dikaki tangga beton untuk menuju bibir kawah Gunung Bromo.    Banyaaaaakkk..sekali wisatawan disana sini.  Pemandangan dari atas tepi kawah memperlihatkan hamparan gurun pasir yang dibatasi oleh dinding gunung.  Ketika kabut menghilang, tampaklah Pure ditengah gurun, padahal tadi kami lewat situ, tapi tidak melihatnya karena masih tertutupi kabut pekat.

Penduduk Tengger merupakan pemeluk Hindu Kuno terakhir di tanah Jawa.  Mahameru adalah tempat suci bagi mereka.  Ritual-ritual kuno budaya Tengger masih terus dilestarikan hingga sekarang, meski sudah terkontaminasi sedikit disana sini akibat “kehidupan modern”, seperti Upacara Kasada yang diselenggarakan di puncak Gunung Bromo sebagai syukuran pada dewata.

=====000=====

01-Agust-2008 Take A Nap di ketinggian 3300 MDPL lereng MAHAMERU

Mahameru, tempat tidurku yang paling tinggi (sejauh ini…)

400 m menuju puncak Mahameru dan aku pun menyerah dan tidur……….

Mahameru….gunung angkuh menyebalkan….!!!

Treknya terjal berpasir-berdebu-dan-berbatu tak berumput sehelaipun (katanya sih kemiringannya hampir 60 derajat). Tumbuhan terakhir adalah sebatang pohon cemara kering kerontang, merana kekurangan air dan dihembus angin dingin pegunungan setiap saat. Selepas si cemoro tunggal ini jalur trekking terus menanjak tanpa tumbuhan selembarpun…., tanahnya kering berpasir dan berbatu-batu yang amat sangat labil. Tak ada tempat berlindung dari angin dingin menggigit tulang. Tak ada tempat berpegangan kala pijakan kaki kurang kokoh…., yang bisa dilakukan cuma berlutut atau tiarap sekalian untuk sekedar menahan tubuh agar tidak menggelinding…

Sebelum bisa sampai di jalur trekking menyebalkan itu…., kita harus berjalan…berjalan….dan..berjalan… dari desa terakhir (desa Ranu Pane), naik turun bukit hingga sampai ke Ranu Kumbolo. Ada 3 pos peristirahatan di antara Ranu Pane dan Ranu Kumbolo. Aku berangkat jam 5 sore dan sampai di Ranu Kumbolo jam 10 malam, trekking tersaruk-saruk malam-malam ditemani ribuan bintang di atas kepala.

Di Ranu Kumbolo, kita bisa buka tenda di tepi danau yang dikelilingi oleh bukit-bukit. Airnya dingiiiinnn….dan ada tanda larangan berenang dan mencuci pakai detergent. Kita juga bisa tidur dalam pondok-pondok kosong, yang memang diperuntukan bagi para pendaki yang ingin beristirahat sejenak. Matahari terbit akan muncul di celah antara 2 bukit di sebrang danau…. Mahameru tidak terlihat, hanya asapnya kadang-kadang terlihat membubung dari bukit sebelah selatan. Musim kemarau ini membuat warna-warna rumput dan pepohonan menjadi kuning keemasan…

Ranukumbolo, dengan mentari pagi diantara 2 bukitnya, dan pemancing

Setelah Ranu Kumbolo, kita masih harus berjalan lagi menuju Kalimati. Aku menempuh jalur Ranu Kumbolo – Kalimati ini dari jam 10 pagi hingga jam 2 siang. Jalur awal berupa tanjakan terjal berdebu menaiki bukit sebelah barat Ranu Kumbolo, tanjakan cinta katanya namanya, tapi…cinta macam apa yang menyuguhkan tanjakan terjal melelahkan seperti itu…, aku tidak tahu. Lalu kita akan turun bukit lagi menuju hamparan padang rumput gersang berdebu yang cukup luas (disebut sebagai padang Oro-Oro Ombo). Dari Oro-Oro Ombo ini bisa terlihat puncak Mahameru yang gundul-gersang dan menyemburkan asap putih “wedus gembel” setiap beberapa belas menit berselang, kadang besar…., kadang kecil saja.

Kerumunan para pendaki memenuhi tepian Ranu Kumbolo

Selepas Oro-Oro Ombo, kita akan sampai ke hutan cemara. Jalur dalam hutan cemara ini menaik tapi tidak terjal. Musim hujan pastilah lebih rindang. Banyak tanaman perdu yang buahnya dapat dimakan, misalnya murbai merah dan “cecendet” kalau orang Sunda-Ciamis bilang. Di hutan cemara ada tempat agak lapang untuk sekedar duduk-duduk beristirahat sejenak, mungkin bisa untuk mendirikan 2 tenda. Tidak ada sumber air di sini.

Merambah padang savana Oro-oro Ombo yang kering kerontang

Di ujung hutan cemara, kita akan sampai ke lapangan rumput yang juga cukup luas, bisa menampung mungkin 4-6 tenda, tapi disini pun tidak ada sumber air. Dari lapangan ini, puncak Mahameru tampak sangat jelas dan menakutkan untuk didaki. Pikiran pertama sewaktu melihat Mahameru nan besar dan jangkung itu adalah “Bagaimana cara mendakinya ya….??? Ga ada pohon…dan…monyong banget begitu….????? Turunnya bagaimana pula….??? Enaknya para-gliding aja kali ya….”

Tapi tempat membuka tenda sebenarnya bukan di sini, melainkan di Kalimati yang berupa lapangan rumput gersang yang cukup luas. Jaraknya cukup lumayan dari padang rumput tadi, jalurnya menurun merambah hutan. Sumber air di Kalimati ini ada kira-kira 1 km dari pondok peristirahatan. Ini adalah sumber air terakhir. Di Kalimati ini ada Tugu Memorian untuk mengenang salah satu pendaki yang hilang. Padang Kalimati ini membujur dari timur ke barat, dikelilingi oleh hutan.

Tempat perkemahan lainnya, sangat sempit ada di hutan Arcopodo. Dari Padang Kalimati ke tempat agak lapang Arcopodo harus melewati sebelah timur padang Kalimati, lalu menanjak terus melewati hutan (trek Kalimati-Arcopodo aku lewati dari jam 1 malam hingga jam 3 pagi) . Tanjakannya lumayan terjal dan sukar dilalui, kadang-kadang harus melewati jalur tepi jurang, atau bahkan jalur yang diapit 2 jurang kanan kiri. Di Arcopodo ini tidak ada sumber air.

Dari Arcopodo ini kita akan menuju Kelik yaitu batas vegetasi terakhir sebelum pendakian Mahameru sesungguhnya..!!!!

Selepas Kelik, berhentilah sejenak, tarik nafas dalam-dalam, berdoalah kalau masih percaya keajaiban doa, karena dari sini kita akan memulai perlombaan ini… Perlombaan menaklukan Sang Mahameru, perlombaan menaklukan rasa haus, perlombaan menahan hawa dingin, perlombaan menjinakan jantung yang melompat-lompat seperti mau menjebol dada, perlombaan menekan rasa putus asa karena sepertinya kecepatan pendakian kita tidak lebih cepat daripada sang kura-kura di darat……dan perlombaan menjaga stamina serta semangat…!!!! Dua teguk air minum di sini sangatlah berharga….berhematlah dengan air mu…!!!

Struktur tanahnya yang kering berpasir dan berbatu-batu sangat labil dan mudah longsor serta mengeluarkan debu yang memedihkan mata dan pernafasan. Melangkahlah dengan telapak kaki hampir horizontal, kalau melangkah dengan telapak kaki vertikal (jari-jari kaki ada lurus di depan kita) maka kita akan terperosok turun kembali, tidak akan maju-maju….!!! Usahakan jangan menginjak batu-batu yang kurang besar ukurannya, karena batu akan tercabut dari tanah berpasir dan menggelinding ke bawah , menimpa orang-orang di belakang kita. Jaga jarak kita dengan pendaki di depan dan di belakang kita..

Beberapa ratus meter di atas Kelik, kita akan sampai di Cemoro Tunggal, yaitu tempat tumbuh satu-satunya pohon cemara di lereng Mahameru. Di Cemoro Tunggal (aku sampai sini kira-kira jam 4 subuh saat semburat fajar mulai berpendar di timur Mahameru) ada tempat yang bisa dijadikan tempat duduk beristirahat yang cukup nyaman karena terlindung batu besar yang bisa dijadikan tempat bersandar dan perlindungan dari angin.

Selepas Cemoro Tunggal, kemiringan jalur pendakian semakin tajam dan semakin sukar dilalui. Semakin ke atas, semakin banyak batu-batu besar dan batu-ba
tu besar sekali. Usahakan jangan menginjak permukaan tanah yang tipis (bagian dalamnya keras berbatu), karena kaki kita tidak akan kuat menahan tubuh, pasti akan tersuruk mundur lagi…. Pakailah tongkat untuk mengetahui tempat-tempat yang akan kita pijak selanjutnya.

Karena sekarang ada larangan berada di puncak melebihi jam 11 pagi, maka para pendaki biasanya berangkat dari Kalimati sekitar jam 1 malam, bahkan ada yang mulai jam 11 malam. Maka usahakan makan makanan berenergi tinggi sebelum berangkat, bawa minuman hangat kalau bisa, bawa coklat atau madu dan air isotonik. Pakai baju hangat, kupluk atau balaklava, sarung tangan, kaus kaki tebal, sepatu trekking yang mutunya baik dan nyaman dipakai serta kalau bisa tingginya di atas mata kaki (supaya tidak terlalu banyak kemasukan tanah, pasir dan batu kerikil). Pakai kacamata pelindung debu dan sinar UV. Headlamp atau senter harus bekerja dengan baik (kalau bisa pakailah batere lithium yang tahan lama).

Pengalaman bodohku kali ini adalah:

·tidak membawa cadangan batere yang cukup untuk headlampku

·di arcopodo aku menitipkan semua ransumku (air jahe wangi panas dalam termos, isotonik water, susu kotak, madurasa beberapa sachet, sale pisang) dan pheripheral camera (cadangan memory card dan batere) serta seluruh uang dan hp ke salah seorang porter dari rombongan lain yang bersedia menolong membawakan daypack ku, sebenarnya tidak ada kejadian buruk dengan semua harta bendaku itu, tapi…..ternyata si porter itu tidak berniat mendaki hingga puncak, dan tidak menginformasikannya kepadaku, jadi….tidak ada serah terima kembali atas semua ransum dll sebelum aku mulai mendaki, alhasil…mendakilah aku dengan hanya berbekal tongkat kayu dan senter pinjaman, tanpa air setetespun dan tanpa ransum apapun…..

Karena kebodohanku itu, aku hampir menyerah kehausan di Cemoro Tunggal, untunglah ada pendaki baik hati yang memberiku seteguk air hingga aku mampu berjalan beberapa puluh meter lagi sampai bertemu seorang teman pendaki yang headlampnya mati dan mendaki merangkak-rangkak serabutan. Beberapa saat kemudian porternya si pendaki ber-headlamp mati itu sampai di tempat kami, maka berpesta air lah kami kemudian… huaaahhhhh……nikmatnya……

Mengagumi harmoni keagungan alam di lereng Mahameru

Saat matahari terbit, aku juga sudah hampir menyerah kehausan dan kedinginan, untunglah waktu merogoh saku jaket ketemu 1 sachet Tolak Angin™ yang langsung kutenggak habis dan mampu mengantarku beberapa puluh meter lagi hingga akhirnya bertemu teman-teman serombongan yang sudah jauh mendahuluiku. Dan ooohhh… Rika temanku membawa persediaan air berlebih yang bisa aku rampok, dan gula merah juga untuk menambah energi…!!! Dan Meriam….dia membagikan biskuit oreo-nya yang walaupun sangat susah menelan karena keringnya tenggorokan…, lumayan sekali untuk mengganjal perut….. Terimakasih banyak kawan-kawan..!!!

Tak lama kami sampai di titik bertanda “500 meter menuju puncak”…., tapi….sewaktu mendongak… alamaaaakkkk…. puncak masih jauuuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhh………..banget. Pendaki-pendaki di depan kami tampak kecil sekali, berceceran di beberapa titik ketinggian berbeda-beda.

Matahari semakin tinggi, menyinari alam sekitar Mahameru. Matahari ada di sebelah kiri kami, diatas daratan yang tertutup awan putih mengambang. Di kanan kami, nun jauh di bawah sana ada puncak-puncak gunung entah apa namanya. Di kanan belakang, tampak pegunungan Tengger dengan awan-awan putihnya. Di belakang kami, ada hutan Arcopodo yang semalam kami lalui, lalu ada padang Kalimati, dan padang rumput ditepi hutan cemara “Cemoro Kandang”, lalu di sana lagi ada padang Oro-oro ombo…., dan jauuuuhhhh… di sana berkilauan air danau Ranu Kumbolo, dan semakin jauh ada desa Ranu Pane… Whuuaaaaa……sejauh itukah jarak yang kami tempuh sejak 2 hari ini…..???? Huuuu……dan sejauh itu pula lah jarak pulang kami kembali…hikss….:((

Jeng Mer, yang mendaki sedikit lebih tinggi lagi

Dengan berbekal setengah botol isotonik water milik Rika, aku beringsut-ingsut setapak demi setapak mendaki sang Mahameru…. Beberapa pendaki duduk tertidur di batu-batu besar yang berserakan, beristirahat sejenak mengumpulkan stamina. Semakin berat rasanya langkahku…., perutku kosong melompong dan dingin. Hmmm…efek panas TolakAngin™ rupanya sudah habis…. Staminaku drop….!!! Di sebuah batu cukup besar di tepi kanan jalur pendakian – tepat di sisi jurang – aku pun berhenti…. Lalu Meriem sampai tempatku dan kami sama-sama istirahat di tempat itu sambil mencoba makan biskuit Oreo™ dan ngedumel tentang bodohnya kami-kami ini yang mau-maunya bersusah-susah menyiksa diri seperti ini… Dan tentang jalan pulang yang terlihat amat sangat jauh dari atas sini…. Dan tentang bagaimana caranya kami akan menuruni lereng terjal ini pada saat turun gunung nanti…. Dan tentu saja tentang bagaimana caranya kami akan mencapai puncak Mahameru dalam kondisi stamina selemah ini…

Sementara teman kami Rika dan Mas Yani sudah berjalan jauh mendahului kami berdua, kadang-kadang punggungnya masih terlihat di kejauhan. Sedangkan Mas Riv mungkin saat ini sudah muncak…. Ahhh…mereka memang benar-benar pendaki. Sedangkan aku…., aku cuma tukang jalan-jalan yang iseng yang kali ini jalan-jalannya (-jalan kaki—red) kejauhan dan ketinggian, soksokan pengen naik Mahameru ….. Bodoh sekali…!!!! Tapi temenku Meriem ini juga dulunya anak MAPALA dan sudah sangat berpengalaman naik turun gunung. Sekarang, menghadapi Mahameru, diapun kepayahan…!!!

Setelah beberapa lama beristirahat, aku putuskan untuk menyudahi kekonyolan ini sampai di sini saja. AKU MAU TURUN…!!!! Tapi aku mau tidur dulu di balik batu ini, meringkuk kaya udang… Temenku Meriem, katanya masih mau mencoba naik lagi, jadi ya sudah aku tunggui daypack nya sambil merem-merem melek….!! Sewaktu aku mendongak, tidak jauh diatas tampak temenku Meriem sedang berhenti dan bernafas megap-megap… Aku teriaki “Lho kok baru nyampe situ…???” dan dia cuma meringis, ya sudah aku merem lagi. Karena kedinginan aku berganti posisi lagi, menghadap matahari.

Tidak lama aku duduk, dan melihat temenku Meriem sudah berdiri di atas batu tadi lagi, aku teriak lagi “Aku mau turun aja..!!! Turun yukk…!!!” “Iya..aku juga mau turun, tapi susah…” jawabnya. Jadi aku tunggu dia sampai ke tempatku. Setelah itu kami memulai proyek turun gunung.

Mula-mula temenku Meriem turun duluan, lalu setelah debu yang ditinggalkannya agak berkurang, akupun menyusul turun. Lututku gemetar, jadi aku mulai pelan-pelan, tapi lama-lama aku menemukan ritme langkahku dan semakin cepat sampai menyusul temenku dan harus berhenti berkali-kali. Akhirnya temenku menyilahkan aku untuk turun duluan. Dan meluncurlah aku setapak demi setapak. Badan miring menghadap matahari, tapak kaki horizontal mencari-cari pijakan yang cukup stabil untuk langkah selanjutnya, terus begitu semakin jauh meninggalkan temenku yang rupanya kesulitan langkah. Tapi langkahku terganggu oleh beberapa pendaki yang turun gunung sambil berlari yang meninggalkan debu bergulung-gulung dibelakangnya…BAHHHHH….!!! Aku juga berpapasan dengan temenku yang lain, Mas Riv, yang rupanya sudah muncak duluan dan turun duluan pula, dengan sangat cepat.

Akhirnya aku sampai kembali di Kelik, dan bertemu dengan 2 orang Prancis yang tadi turun gunung sambil berlari, kami mengobrol sejenak, ternyata mereka rombongan dari Balikpapan dari salah satu oil company. Aku melanjutkan langkahku lagi, meninggalkan ke-2 orang Prancis yang sedang membersihkan sepatu-sepatu mereka dari pasir yang masuk. Tujuanku jelas, yaitu untuk secepatnya sampai di Arcopodo, untuk menggali harta karun yang tadi kami sembunyikan di semak-semak. Kembali aku bertemu dengan temanku Mas Riv yang juga sedang membersihkan sepatunya. Aku ikut-ikutan duduk di batang pohon tumbang, sambil menatap ke arah jalur pendakian. Nun jauh di atas sana, beberapa pendaki sedang berusaha turun gunung, aku juga lihat temanku Mas Yani sedang turun gunung, tapi masih jauuuuhhhh….diatas…. Pendaki-pendaki Perancis itu lewat mendahuluiku setelah berfoto-foto di sekitar tempatku istirahat. Airku tinggal 2 cm dari dasar botol yang sudah kumal penuh debu.

Aku lanjutkan lagi perjalanan ku, lemas sekali rasanya kaki ini, dan kepalaku sakit luar biasa… Lama kemudian barulah aku sampai di pelataran pertama Arcopodo, dan segera celingukan mencari bekal diantara semak-semak…, tapi tidak ada apapun lagi disana..!!! Semakin lemas saja badanku dan semakin sakit kepalaku. Aku buka 2 lapis jaket tebal dan 2 lapis celana panjang yang masih aku pakai….untunglah ada 2 orang porter rombongan lain yang lewat dan salah satunya mau menolongku membawakan pakaian-pakaianku hingga ke Kalimati…terimakasih banyak teman-teman…. Tapi sayangnya merekapun tidak punya persediaan air minum lagi, rupanya kami semua pun begitu…, karena setiap pendaki yang melewatiku selalu menjawab begitu…L

Tidak lama kemudian teman-temanku Rika, Meriem, dan Mas Yani sampai di tempatku, dan kami duduk-duduk beristirahat bersama-sama, sambil makan sisa bekal mereka. Lalu rombongan pendaki Balikpapan yang masih 1 rombongan dengan orang-orang Prancis itu pun bergabung bersama kami. Setelah cukup lama kami melanjutkan perjalanan kami kembali. Tapi ditengah jalan aku memutuskan untuk beristirahat lebih lama dan meyilahkan teman-temanku melanjutkan perjalanan.

Akhirnya aku sampai juga di perbatasan Kalimati, dan AHA……..di bawah pohon rindang duduklah sang porter kecil yang kutitipi daypack beserta isinya itu….sedang makan dan minum ditemani 1 orang teman porter lainnya. Begitu melihatku, dia langsung mengangkat tinggi-tinggi daypack ku itu sambil menyeringai dengan mulut penuh makanan……

Gubrakkkssss…..akupun langsung menjatuhkan badanku dekat mereka dan langsung menceritakan keadaanku selama mendaki dan turun. Kami bertiga segera menikmati segala bekal yang ada di dalam daypack ku, air jahe wangi hangat, isotonik water, coklat, MaduRasa™, biskuit Mari, susu kotak… semuanya dengan rakus kami makan dan minum. Lalu ada rombongan Balikpapan lainnya (entah berapa jumlah total mereka seluruhnya) yang juga ikut berpesta dengan kami bertiga. Lalu ada salah satu teman ke-2 porter itu yang datang dari arah Kalimati dan membawa 1,5 liter air minum dan beberapa irisan daging buah nanas yang segaaaaaarrrr…… Waaaa….. terimakasih teman-teman semuanya….

Setelah puas makan dan minum, kami semua berjalan beriringan menaiki tanjakan menuju Base Camp Kalimati. Dan jam 12 siang aku sampai ditempat kawan-kawanku yang sudah berkumpul semuanya dan sedang ramai bercerita dan semakin ramai lagi karena kedatanganku. Tapi kami harus segera bersiap-siap kembali untuk perjalanan pulang kami menuju peradaban. Kami pun segera makan dan packing. Jam 2 siang kami memulai perjalanan pulang kami.

Matahari memanggang kami dengan sinarnya yang terik. Sang Mahameru tetap angkuh berdiri di sebelah selatan kami. Aku berjalan tersaruk-saruk dengan kakiku yang lemas dan kepala yang sakit berdenyut-denyut. Seperti mayat hidup aku terus berjalan. Di hutan Cemoro Kandang, kami didahului oleh rombongan pendaki Balikpapan. Di padang Oro-oro Ombo, panas matahari begitu terasa, dan menyorot langsung ke muka karena sudah mulai condong ke barat, kami terus berjalan ke arah utara. Menuruni “tanjakan cinta” dan jam 4 sore sampailah kami kembali di Ranu Kumbolo dengan air danaunya yang dingin berkilauan tertimpa cahaya matahari. Hanya sejenak kami beristirahat di situ, sementara rombongan Balikpapan beristirahat agak lama.

Pendaki pergi, Ranu Kumbolo pun kembali sepi

Jam 4:30 sore kami lanjutkan perjalanan menuju Desa Ranu Pane, melipir lereng bukit diatas danau Ranu Kumbolo. Hari semakin gelap. Senter dan headlamp segera dinyalakan kembali. Kami beristirahat sejenak di setiap pos kecuali pos pertama karena begitu senangnya kami setelah menapak kembali di jalur yang ber-pavingblock…., pikir kami jarak tempuh tinggal sedikit lagi jadi untuk apa berhenti beristirahat….!!! Tapi o…oooo…….. setelah berjalan dan berjalan dan berjalan dalam gelap…. sepertinya jalan ini tidak berujung…. L

Tapi akhirnya sampai juga kami di jalan beraspal…., tapiiii….o…oooo….. tidak ada kendaraan apapun yang lewat dan rumah yang kami tuju masih sangat jauh….. Akhirnya kami berjalan lagi dan menemukan rumah pertama yang didepannya ada 2 buah sepeda motor dan ada beberapa orang remaja pria sedang mengobrol. Kami menyewa ke-2 motor itu untuk mengantarkan kami ke rumah tujuan. Oh…senangnya… menaiki sesuatu yang bisa membawa kami dari satu tempat ke tempat lain…!!!

Di rumah tujuan itu kami sudah disediakan makanan hangat di dekat tungku perapian, nikmatnya makan nasi panas dan sambel dan lauk pauk lainnya…. Lalu kami bergantian memasak air untuk mandi. Rencananya jika kami tidak memperoleh jeep tumpangan malam ini, maka terpaksa kami harus menginap di sini. Tapi untunglah kami mendapatkan jeep tumpangan yang mengantarkan kami hingga ke Malang. Sepa
njang jalan ke Malang, aku tertidur lelap, hanya sesekali terbangun karena goncangan kendaraan membenturkan kepalaku ke jendela mobil.

=====================================

Tgl Rute jarak*) Waktu

30Jul08 Ranu Pane – Ranu Kumbolo (2400 MDPL) 10 km 17:00 – 22:00 (5 jam)

31Jul08 Ranu Kumbolo – Kalimati (2700 MDPL) 5 km 10:00 – 14:00 (4 jam)

1Ags08 Kalimati – Acopodo (3000 MDPL) 1 km 01:00 – 02:30 (2,5 jam)

Arcopodo – Kelik (3100 MDPL) …….. 02:30 – 03:30 (1 jam)

Kelik – Cemoro Tunggal …….. 03:30 – 04:30 (1 jam)

CemoroTunggal – Titik 300m to d top (3300 MDPL) 04:30 – 07:00 (2.5 jam)

Puncak Mahameru (3676 MDPL)……………………… (tak tercapai saat ini)

*) informasi jarak tempuh diperoleh dari http://groups.yahoo.com/group/nature_trekker/message/37781; Posted by: “m achsani” arch_sani@yahoo.com, Tue Jan 29, 2008 9:40 pm (PST)

Biaya-biaya untuk pendakian

Tgl Rute Angkutan Biaya

29Jul08 Jkt – Sby Kereta Sembrani Rp. 210.000

30Jul08 Turi – Purabaya Carter Kijang @Rp. 7.000

Purabaya – Malang Bis ekonomi Rp. 10.000

Arjosari – MeetingPoint Angkot Rp. 3.000

Malang – Ranupane pp Carter Jeep+makan @Rp. 157.000

30Jul–1Agsts Porter (Rp.70.000/hari) Rp. 210.000

Ojek Rp. 5.000

*) Biaya makan dan perbekalan belum dihitung

Biaya-biaya selama Wisata Malang dan Pulang (1-3 Agustus 2008)

·Hotel malam 1 Rp. 35.000 (sekamar ber-2, double bed, breakfast, no TV, no hot-bath)

·Hotel malam 2 Rp. 22.500 (sekamar ber-4, 1 double bed, 1 single bed, breakfast, TV, no hot-bath)

·Sewa Kijang Rp. 90.000 (termasuk bensin dan supir)

·Bis Arjosari-SBY Rp. 10.000 (ekonomi)

·Bis ke Turi Rp. 4.000

·Krt ArgoAnggrek Rp.250.000 (AC, Lunch)

*) biaya makan belum dihitung