Waisak Trip: Dari Candi ke Candi, dari Merapi ke Merapi

Tak ada satupun dari kami berlima yang beragama Budha, tapi kami tertarik untuk menyaksikan Prosesi Peringatan Hari Raya Waisak tahun itu, di Kawasan Candi Borobudur (Magelang, Jawa Tengah). Ketertarikan kami karena hobby fotograpi dan tentu saja budaya. Geli juga sewaktu ingat expresi Panitia Waisak saat teman saya yang berjilbab mendatanginya untuk meminta pass-card agar bisa memasuki area Peringatan Waisak yang dijaga superketat karena akan kedatangan Presiden RI. Si Mbak-mbak Panitia mengamati teman saya itu dari bawah ke atas, menatap jilbabnya agak lama lalu membaca ulang “Agama” yang tercantum pada KTP nya, tidak yakin dengan alasan-alasan yang kami ajukan tapi akhirnya bersedia memberikan 5 pass-card (undangan) untuk kami semua.

====================

Ehh Mendut lagi Mendut lagi

Kereta-bis-angkot-andong, semua alat transportasi darat itu kami gunakan hingga sampai di Kawasan Borodudur (Magelang).  Bahkan bajay dan ojek juga sewaktu kami, terburu-buru berangkat dari kantor masing-masing agar bisa sampai di Stasiun Senen sebelum keberangkatan kereta malam Sawung Galih Executive, yang dijadwalkan  berangkat jam 7 malam dan tiba di Stasiun Kutoarjo (Magelang) sekitar jam 4 subuh keesokan harinya.

Kehebohan perjalanan sebenarnya sudah terjadi sejak kira-kira sebulan sebelum keberangkatan.  Seperti biasa ketika akan jalan-jalan bareng, kami sudah heboh dengan berbagai macam urusan tetek bengek perjalanan, misalnya mau naik apa, siapa yang akan beli tiketnya secara kolektif, mau kemana saja selama disana, mau menginap dimana, dan tentunya jurus-jurus mengurus pengajuan cuti supaya disetujui ^_^

Perjalanan darat yang panjang dan melelahkan tapi tidak menurunkan semangat kami, sehingga setelah mendapatkan penginapan, kami langsung berangkat ke Borobudur untuk mencari Panitia Waisak guna meminta pass-card (undangan), karena tanpa itu, kami dan siapapun tidak akan diperbolehkan masuk ke area utama Prosesi Waisak.

Gara-gara kejadian naik andong disini, saya selalu geli setiap kali melihat andong.

Kami yang sama sekali buta dengan jarak dan lokasi area seputar Borobudur (terakhir saya ke Borobudur adalah waktu di SD, sudah sangat lama sekali), mau saja beberapa kali dibodohi oleh Mamang Andong, hingga harus duduk berdesakan di atas andong yang sangat sempit, hingga kaki kram, pantat pegal, punggung linu, padahal ternyata jarak dari penginapan ke Borobudur tidak sejauh seperti yang digambarkan Mamang Andong, hanya kira-kira 500 m.

Sekali dibodohi, ternyata belum mampu membuat kami jadi lebih pintar..!!!  Karena sekali lagi kami kembali harus merasakan kaki kram – pantat pegal – punggung linu, gara-gara duduk berdesakan dalam andong dari Borobudur ke Mendut yang ternyata jaraknya sangat jauh, tidak sedekat seperti yang dijelaskan orang-orang, kurang lebih 2,5 km.

Kami merasa lebih bodoh lagi karena ternyata, Candi Mendut itu lokasinya sangat strategis, dan dilewati oleh bis-bis hampir semua jurusan.  Dongkol karena merasa dibodohi waktu itu, sekarang menjadi memory aneh ajaib bin menggelikan buat kami berlima.

Kami bolak-balik Borobudur-Mendut ini karena urusan si pass-card itu, yang ternyata panitianya bermarkas bukan di Borobudur melainkan di Mendut.

Candi Mendut bentuknya mengkerucut, seperti candi Prambanan, merupakan salahsatu candi yang disucikan umat Budha.  Disana terdapat 3 arca besar-besar, yang “menghuni” bilik-bilik batu didalam candi, Arca Dyani Budha Cakyamuni atau Vairocana, Arca Budha Avalokitesvara atau Lokesvara, dan Arca Bodhisatva Vajrapani.  Relief-relief yang ada disini katanya menggambarkan ajaran hukum sebab akibat berupa cerita fabel (cerita yang diperankan oleh binatang-binatang), misalnya cerita si kera yang ditipu burung bangau dengan cara berpura-pura menyelamatkannya dari bahaya, lalu cerita tentang si buaya yang pura-pura berbaik hati menolong si kera menyebrang sungai tapi si kera berhasil menipu si buaya, dll.

Sebagian Upacara Prosesi Waisak juga diselenggarakan di sini, seperti acara malam itu yang dihadiri oleh banyak sekali biksu berbalut kain warna warni yang membuat saya melongo keheranan.  Saya tadinya berpikir bahwa warna baju para biksu di dunia ini sama, yaitu oranye, seperti yang sering saya lihat di film-film dan di foto-foto, ternyata warnanya bermacam-macam.  Kata ibu-ibu di samping saya yang tiba-tiba menjawab pertanyaan keheranan saya, katanya itu sesuai dengan “aliran” nya.  Yahh…pokonya seperti itulah… Yang jelas semua biksu dan biksuni itu kepalanya gundul plontos.  Dan ya, mereka mengikuti perkembangan jaman dan teknologi, banyak dari mereka yang memakai ponsel canggih dan kacamata hitam bermerek.

Sebuah arca Budha besar berwarna kuning berkilauan menjadi pusat acara malam itu, dikelilingi oleh hiasan janur-janur kuning beraneka bentuk dan lilin-lilin dimana-mana.  Katanya itu adalah upacara pensakralan api suci, atau entah apa karena saya tidak begitu memperhatikan.  Saya malah takjub melihat tingkah polah biksu-biksu dan biksuni-biksuni, kain jubahnya, tasnya, sepatunya yang seperti sepatu pendekar bertali temali.  Warna-warni keemasan dimana-mana.

Sayangnya saya tidak ikut menyaksikan acara Larung Api Suci di Kali Progo, gara-gara masuk angin parah L

Merapi dari Ketep

Sebagai selingan sambil menunggu acara Waisak, kami mengagendakan untuk pergi ke gardu pandang Gunung Merapi di Ketep.  Kembali merasa sebagai turis bodoh, karena dari Mendut tadi  kami memutuskan untuk kembali ke terminal dulu, sebelum naik jurusan Muntilan yang ternyata juga melewati Mendut.  Dari Terminal Muntilan lanjut lagi dengan bis ke Telatar, dan masih harus naik angkot lagi hingga ke Ketep Pas.

Kami semua (kecuali saya) yang bekerja di Jakarta yang hiruk pikuk dan tergesa-gesa untuk hal apapun, merasa geli dan sekaligus kesal dengan sikap santai para penumpang yang akan turun dan naik ke dalam kendaraan yang sama sekali tidak terburu-buru.  Tidak seperti kebiasaan kami di Ibukota yang bahkan akan berlari-lari mengejar bis kota penuh sesak dan melompat tanpa menunggu si bis berhenti dulu, karena kalau tidak begitu kami akan dimaki-maki kernet dan supir bis beserta seluruh penumpang yang berdesakan seperti ikan asin itu.

Lama-lama kami akan hanya saling melirik dan menyeringai geli tiap kali ada penumpang yang sudah berteriak “kiriii…” tapi dia masih tetap saja duduk manis di dalam bis tanpa tanda-tanda akan turun segera, atau ketika melihat seorang bapak-bapak menyetop bis sambil tetap duduk nyaman di pinggir jalan lalu dengan santai berdiri membenahi barang bawaannya kemudian masih sempat mengobrol dengan sejawatnya sebelum akhirnya naik ke dalam bis yang sudah menunggu cukup lama.

Kami kurang beruntung di Ketep, tidak bisa melihat pemandangan indah menakjubkan ke arah Merapi karena hujan rintik dan kabut, jadi kami hanya menikmati udara dingin sambil mencicipi mendoan hangat dan wedang jahe.

Expresi Derita Sang Biksuni

Seharian itu, sedari pagi, kami di Kawasan Candi Borobudur, tidak berani keluar-keluar karena takut kelewatan suatu acara dan takut tidak diperbolehkan masuk lagi saking ketatnya penjagaan di wailayah acara Prosesi utama yang akan dihadiri Presiden.

Jadi sejak pagi kami sudah wara-wiri di sekitar candi, naik-naik ke atas candi, mengekor rombongan penganut Budha yang sedang beribadah mengelilingi candi dari atas kebawah sambil membawa segala macam atribut keagamaan seperti lonceng yang berdentang-dentang, hio yang mengepulkan asap dupa, taburan bunga-bunga, tasbih besar-besar, dan lantunan doa-doa.  Keringat bercucuran di kening dan leher sang Biksu pemimpin do’a,  batu-batu candi seperti memancarkan halogen serupa kaca karena teriknya matahari.  Panas sekali….

Di bawah sana, di halaman candi sudah disiapkan area untuk prossesi selanjutnya.  Saya yang kecapean dan kepanasan di atas candi tadi, duduk menggelosor di bawah pohon kelapa, menonton berbagai persiapan di arena itu.  Sementara kedua teman saya masih bersemangat mengejar-ngejar rombongan iring-iringan pawai yang kabarnya baru memasuki Area Borobudur dari Mendut sana.  Dua teman lainnya masih diluar Magelang, karena mereka memutuskan untuk berkunjung ke Dieng (Wonosobo) yang cukup jauh jaraknya dari sini.

Seperti biasa, sebuah arca Budha besar berwarna kuning keemasan berada di pusat altar, di bagian depan arena.  Dihiasi dengan berbagai hiasan janur, bunga-bunga, buah-buahan, lilin-lilin dan dupa.  Dilapangan didepannya terhampar terpal plastik.  Alas duduk berbentuk segiempat berukuran sekitar 40 cm x 40 cm , terbuat dari busa dilapisi karet, di letakan berderet-deret.  Ada gang di tengah arena, yang membagi dua arena, membentang dari pintu masuknya di bagian timur hingga ke altar Sang Budha di bagian barat.

Orang-orang mulai berkerumun, para fotograper mulai mencari lokasi strategis untuk dapat mengambil momen-momen istimewa.  Saya duduk mendeplok dirumput, tepat ditepi arena yang dibatasi tali rapia, berlindung dari teriknya matahari dibawah bayang-bayang seorang fotograper (sepertinya sesorang yang kawakan kalau melihat peralatannya).

Rombongan para biksu dan biksuni datang, berbaris rapi, kepanasan bercucuran keringat.  Satu per satu mereka menempati alas-alas duduk yang tadi telah disiapkan.  Biksuni-biksuni berbalut kain warna coklat tua,  duduk berderet-deret di depan saya.  Saya menghadap mereka, mereka menghadap altar Sang Budha.

Fotograper-fotograper berseliweran kesana kemari.  Risi juga melihat mereka, yang sepertinya tanpa sungkan bergerombol depan altar sang Budha yang bagi umatnya adalah suci.

Upacara dimulai dengan serangkaian lantunan do’a-do’a dan ritual-ritual.  Terik matahari jam 2 siang menyorot langsung pada arena, pada muka-muka para biksu dan biksuni.  Tiba-tiba seorang biksuni yang tepat berdiri dihadapan saya terkulai jatuh…, dia pingsan !!!  Mengagetkna kami semua..!!!  Tapi yang lebih mengagetkan lagi adalah tingkah para fotograper yang berkerumun berdesakan disekitarnya guna mendapatkan foto istimewa berupa : EXPRESI DERITA SANG BIKSUNI.  Untunglah mereka berhasil diusir oleh beberapa biksu yang berusaha menolong.

Cepat-cepat saya mengeluarkan minyak Kayu Putih untuk di berikan pada temannya si biksuni yang pingsan itu.  Tidak lama kemudian sang biksuni sadar lagi dah dipapah ke tempat yang lebih teduh.  Matahari memang sangat terik, membuat kepala nyut-nyutan dan berkunang-kunang.

Acara puncak Peringatan Hari Raya Waisak dimulai kira-kira jam 7 malam.  Sedan mercy hitam RI-1 terparkir angkuh dijaga 2 orang Paspampres bersenjata laras panjang.  Yang mengusir semua orang dari area radius 2 meter dari mobil.  Saya bercuek-cuek mengobrol dengan salah satu pasukan Paspampres lain yang sedang agak rileks tepat didepan hidung mobil sedan.  Makan jajanan ini itu yang berhasil dibeli melalui celah pagar area Candi Borobudur karena tidak bisa lagi keluar masuk area sesuka hati.

Ada pementasan macam-macam drama musical tentang Sang Budha, tidak hanya dari Indonesia, tetapi juga dari negara-negara ASEAN lainnya.  Saya mengintip layar lebar yang menampilkan setiap acara, memanjang-manjangkan leher berusaha melihat lebih jelas, bersama ratusan rakyat jelata lainnya yang tidak termasuk dalam daftar undangan tamu yang duduk-duduk disana itu.

Merasa bosan dengan acara-acara tersebut, kami keluyuran di halaman sekitar Candi Borobudur.  Stupa teratas candi berpendar disoroti lampu berwarna putih.  Kok mirip es krim ya..???, pikir saya.

Candi dan Merapi

Saya rasa kedua hal itu yang akan selalu menjadi “benang merah” untuk Yogyakarta.

Entah berapa banyak candi-candi yang ada di seputar Yogyakarta.  Peradaban Nusantara Kuno sepertinya memang berpusat di sini.  Candi-candi, mereka adalah perpustakaan raksasa untuk budaya dan peradaban manusia Nusantara.

Jadi, seperti lajimnya wisatawan yang datang ke Yogyakarta, kami mengunjungi candi demi candi, Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Prambanan, Candi Ratu Boko, dan candi-candi lainnya dalam kompleks percandian yang lebih kecil.

Luar biasa sekali nenek moyang orang-orang Nusantara ini.  Andai saja ada sesuatu “kekuatan”, seperti di film-film dan buku-buku fiksi, yang bisa membawa saya kembali ke masa-masa kejayaan kerajaan-kerajaan besar Nusantara seperti Kerajaan Majapahit misalnya….

Lalu ada Gunung Merapi yang selalu aktif dan Mbah Maridjan (waktu itu beliau masih hidup), sang kuncen yang teguh menjaga Sang Gunung, apapun yang terjadi.  Saya rasa, kita semua kagum dengan keteguhan hati Sang Kuncen bersahaja itu.  Maka dari itu, kami memutuskan untuk “sowan” ke rumah Mbah Terkenal itu juga, mumpung kami ada di Yogya.

Kami mendaki Bukit Kali Urang hingga tembus ke Kali Kuning, sungai yang batu-batuannya berupa batu-batu lava berwarna kuning yang terbawa arus lahar panas sewaktu erupsi beberapa tahun lalu.  Cukup menguras tenaga juga acara trekking rute Kaliurang-Kalikuning ini.  Mengundang keluhan dan umpatan dari teman-teman saya yang tidak terlalu trekking-trekking blasak-blusuk seperti saya, apalagi ketika kami bertemu dengan jalan aspal mulus setelah Kali kuning.

Tujuan kami sebenarnya adalah Kaliadem, suatu kawasan yang dulunya adalah kawasan wisata, tapi kemudian hancur lebur diterjang lahar dan awan panas, memporak-porandakan segalanya, memakan korban harta benda dan nyawa.

Kami melewati rumahnya si Mbah yang sepertinya sedang sibuk menerima tamu-tamu kalau dilihat dengan banyaknya mobil yang diparkir di pinggir jalan tadi.  Lalu melewati padang rumput, dan sampailah ke kawasan Kaliadem yang sudah porak poranda diterjang lahar dan awan panas, yang tersisa hanya berupa puing-puing bangunan yang terkubur dalam lahar yang kini sudah mendingin dan mengeras.  Dan ada bungker maut yang telah memerangkap dua orang relawan Tim SAR ketika awan panas “wedus gembel” bersuhu hampir 100 derajat celcius datang melintas.

Dalam kengerian puing-puing kehancuran bencana Merapi, ternyata kami memperoleh pemandangan matahari sore di balik Gunung Merapi yang spektakuler.  Siluet remaja-remaja yang sedang menghabiskan sore disana menjadi objek menarik untuk difoto.

Wisata religi, budaya, kuliner, petualangan, hingga wisata bencana sudah mewarnai 5 hari kami wara-wiri di Yogya.  Tiba saatnya kami pamit dan kembali ke kehidupan rutin masing-masing.

====================================

Thanks to: Rey, Wied, Devi n Dini for our wonderfull time together

Salah satu kontestan pemenang dalam lomba adventure journal   http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/waisak-trip-dari-candi-ke-candi-dari-merapi-ke-merapi/   Oleh : Dian Sundari

Advertisements

Waisak Trip: From Candi to Candi, From Merapi to Merapi

Waisak Trip: From Candi to Candi, From Merapi to Merapi

(bikin betis be’konde)

Setelah selama kira-kira 1 bulanan wara wiri di web ber-imel ria n by phone nyari info acara waisak + nyari tiket + nyari losmen, akhirnya kita (gw, Rey, Wiewied, Devy, dan Dini) positif berangkat ke Magelang untuk liat Prosesi Waisak di Candi Agung Borobudur (sedangkan Xave pada detik2 terakhir keberangkatan ternyata ga bisa berangkat gara bosz-nya tiba2 ngebatalin cuti-nya, halah…bos bos piye toh???).

30Mei:

Jam 15:00 cabut dari kantor pulang ke kost ganti baju, halah pake acara bongkar muat backpack yg dah rapi tertata, nyari2 barang2 yg kira-kira ngga usah dibawa, hasilnya….kacang garuda, pocari, dan biskuat turun lagi, memperingan bawaan kah??? Ternyata ngga tuh, sama aza…sutra deh.

Jam 15:30 naik mobil setan biar cepet, turun di ciawi (4rb)

Jam 16:10 dapet bis uki, bis priuk ga ada, gpp deh (6rb)

Jam 17:00 naik patas 02 ke senen (2rb), rada macet di matraman

Jam 17:40 Wiewied dah sampe senen, Devi masih stuck di stasiun Bekasi, sementara gw kejebak macet di Matraman dan Rey masih stuck di halte busway Benhill kena macet dan hujan

Jam 18:15 sampe stasiun Senen, Wiewied dah berhasil jualin tiket Xape ke Pak Arif, berbakat calo juga nih anak, makan dulu sambil nungguin Rey, ngga lama kemudian dia muncul, katanya naik bajaj dari Benhill, Devi n Dini adiknya belum sampai juga

Jam 18:45 Masuk Stasiun, ngga lama keretanya dateng di jalur 3, Devi masih dimana nih??

Jam 18:50 Devi telpon nanya posisi, gw lari jemput dia, tp berhubung kita belum pernah ketemu sebelumnya, jadi ya…gitu deh, gw dimana dia dimana

Jam 19:00 Devi telpon lagi katanya keretanya dah mau jalan, eh bener aza akhirnya gw lompat aza tau di gerbong mana, gerbong eksekutive jg ga tau apa di depan or di belakang, ternyata di paling belakang, di belakangnya gerbong restorasi, akhirnya semua berhasil ngumpul, kenalan, ketawa ketiwi, n ngosh ngoshan

Jam 20:00 Gw telpon lagi Pak Anwari untuk meng-cancle 1 kamar karena Xape ga jadi berangkat, n telp Mas Sumaryanto nanyain mobil carteran n nanyain tempat wisata menarik terdekat dari Borobudur. Selanjutnya kita rapat itenary entah edisi yg keberapa (kayanya edisi 3 deh kalo ga salah), kursi Rey n Wiewied pun di balik jd menghadap ke belakang, jadinya itenarinya adalah begini:

30 Mei : senen~kutoarjo Sawung Galih eksecutive 130rb jam 19:00~5:00 pagi

31 Mei : setelah check in dan beres2, langsung pergi ke Borobudur nyari Sekretariat Walubi untuk nyari Walubi Pass, setelah itu ke Gardu Pandang Ketep, sorenya ke Mendut ikut acara Waisak sampai malem

01 Juni : ke Borobudur seharian keliling2 n ikut acara Waisak sampai malem (kalo bisa sih gw ikut rafting dulu paginya)

02 Juni : nyarter kijang-nya temen-nya Mas Sumaryanto (anak IBP), pagi2 berangkat ke Tugu n Malioboro cari tiket kereta buat pulang n nyari penginapan Losmen Betty di Sosrowijayan, pergi ke Kaliurang, Trekking ke tempatnya Mbah Marijan di Merapi

03 Juni : ke Candi Ratu Boko or Prambanan, malamnya pulang pake kereta

Jam 21:00 Rapat Itenary 3 diakhiri dengan makan malam (service-nya Sawung Galih executive), bersiap untuk tidur deh…

31Mei:

Jam 04:30 pagi sampe di stasiun Kutoarjo, isoma + foto2, dr stasiun jln kaki 5 mnt ke jln raya

Jam 05:30 naik bis Sumber Alam jurusan Semarang (7rb),

Jam 06:30 harusnya turun di pertigaan Salaman Magelang, eh malah diturunin di terminal sama keneknya (dan kita pun ketiduran pula), langsung dikerubutin ojek males banget, akhirnya pindah ke deket pertigaan, nyarap dulu di pinggir jalan(nasi rames + teh manis 5 ribu) eh yg jual ternyata orang Jati-Kawali-Ciamis tp dari tahun 1998 dah pindah ke situ sekarang rumahnya di daerah Gunung Tidar Magelang.

Jam 07:00 nyarter angkot 20rb ke losmen Anita di deket AlfaMart Borobudur, sopirnya ngebut kaya Schumaker gila n ternyata tuh supir angkot ga tau dimana letaknya AlfaMart jadi rada2 nyasar2, tapi nyampe juga akhirnya, karena gila tapi baik jadi kita tambahnin 5rb lagi hi..hi…

Jam 07:30 Check in di Losmen Anita, Pak Anwari yg jadi contact person nya losmen Anita ternyata seorang polisi (pantes ngomongnya sekedarnya banget ga ada basa basinya ngga kaya orang yang lagi jualan jasa penginapan), penginapannya kecil tapi kamarnya banyak, n kayaknya dah lama banget ga ada tamu yg nginep situ, begitu buka kamar, nyamuk2 beterbangan n bau kamar yg sudah lama kosong langsung menguar ke luar, lampunya kurang terang, kamar mandinya lumayan besar n airnya air sumur, kasurnya keras, intinya nih kamar kemahalan buat 75rb, di Solo kamar kaya gini cuma 25rb

Jam 09:30 selesai beres2 kita naik andong ke Borobudur 5rb (ini andong di desain untuk 2 penumpang, sementara kita berlima, jadilah kaki ditekuk2 supaya muat semua), nyari Sekretariat Walubi, ternyata bukan di sini tapi di Mendut, kita cari lagi andong yg tadi buat pergi ke Mendut dan pulang laginya ke terminal (pp 20rb), dengan bermodal takut2 n KTP-nya Rey akhirnya kita dapaet kartu undangan Walubi (petugas Walubi-nya agak-agak gimana gitu melihat Rey yang berjilbab tapi ingin ikut Prosesi Upacara Waisak)

Jam 10:00 Setelah urusan Walubi selesai n hati tenang karena dah megang undangan, kita berencana langsung pergi ke Ketep via Muntilan, dari terminal Borobudur naik bis Probo ke terminal Muntilan 2rb (dan ternyata ini bis n semua bis ngelewatin Candi Mendut, lha ngapain tadi kita balik lagi ke terminal Borobudur??? Dasar turis!!!),

Jam 11:30 dari terminal Muntilan ke Telatar (3rb) pake bis Putra Purba,

Jam 12:30
naik angkot pinkies 2rb ke Ketep Pass di jejelin bareng anak sekolahan saking penuhnya anak cewek pun ada yg ngandul di pintu n anak cowoknya ada yg naik ke atap si pingkies yg penting kebawa dehh…, tiket ketep per orang Rp2200, view-nya ga bagus banget kehalangin kabut, laper akhirnya kita makan tempe mendoan (Rp750) uenaaaak banget dimakan panas-panas sama cabe rawit yg bongsor2, indomie rebus + telor + sayuran (4rb),

Jam 14:00 kita pulang lagi naik pinkies lagi diteruskan dengan naik bis Putra Purba (4rb) turun di mendut (jam 16:00), nunggu api sucinya datang, biasalah foto2 lagi, fotoghraper banyak banget dandanannya punky2 lensa tele-nya panjang2, gandulannya banyak depan belakang kiri kanan, ketemu Camel n kelompok FN-nya.

Jam 17:00 upacara pensakralan api suci alias api darma di mulai di pimpin oleh ibu Muryati Sudibyo Sang Ketua Walubi, ternyata biksu-pun ada beberapa aliran yang masing-masing bisa dibedakan berdasarkan warna baju yang dikenakan, biksu dan biksuni-nya masih muda2, setelah upacara ini selesai akan diteruskan dengan melarung api suci di Kali Progo, sayangnya gw ga bisa ikut akibat masuk angin yg parah banget, yah… terpaksa deh pulang duluan by becak (15rb) ke homestay, sedangkan Rey n Wiewied pencinta fotoghrapy di kelompok kita masih terus ikut prosesi sampai selesai, Devy n Dini ikut jejak gw, pulang ke Homestay n tidur zzz…..

01juni:

jam 09:00 ke studio mas Medi (temennya Mas Sumaryanto anak IBP Yogya yg bantuin kita nyari penginapan) untuk nego carter mobil, deal-nya 200rb+supir, tp mobilnya msh di bengkel ,

Jam 09:30 Devy dan Dini pergi ke Dieng Wonosobo, sementara gw (yg bln Maret kemaren baru dari Dieng), Rey dan Wiewied pergi ke Borobudur by foot (turisnya udah lebih berpengalaman nih ye…), beli tiket masuk 9rb + seribu u camera, naik candi, ngekor para biksu yg lg sembahyang keliling candi bawa ketokan, kliningan, dupa/hio, n sesajen (biksu ketuanya trendi banget pake kaca mata item). Cape deh panas bgt n orangnya bejibun, patungnya banyak yg ga berkepala.

jam 13:00 setelah foto sana foto sini gw turun candi sendiri, anak dua itu masih foto2 entah di bagian mana candi, nunggu di dekat altar tempat upacara Waisak yang akan dimulai nanti sore, altarnya dipenuhi warna kuning keemasan dan merah, patung Budha-nya gede banget, dupa, bunga 7 rupa apa berapa rupa ada dimana-mana, buah-buahan juga, bau dupa, kemenyan, bunga melati, bunga sedap malem bercampur baur bikin semaput ditambah lagi dengan matahari yg panas membara halah…puanas re

jam 13:10 setelah kumpul bertiga lagi, kita dengan seijin petugas candi keluar komplek candi dulu untuk maksi (gado2 Rp7500 + teh manis panas Rp1500),

jam 13:40 balik lagi ke candi, prosesi api suci di altar dimulai dengan datangnya rombongan iring-iringan pembawa api dari Candi Mendut, biksu dan biksuni dari berbagai aliran datang dan duduk berbaris sesuai dengan alirannya masing-masing, puji2an dan bau-bauan segera memenuhi seluruh areal prosesi yang panas terpanggang matahari (bagaskara manjer kawuryan alias matahari bersinar gilang-gemilang – diambil dari serial novel Gajahmada karangan Langit K. Hariadi), tiba-tiba setelah acara doa-doa selesai dan para biksu & biksuni siap membubarkan diri seorang biksuni ada yg pingsan karena kepanasan, para fotoghraper tak tau malu itu segera mengerubuti Sang Biksuni dan memfoto dari segala arah tanpa mengindahkan etika dan rasa kemanusiaan tak ada satupun yang menolong…

jam 16~19 nunggu main event yang akan dihadiri oleh Pres. SBY (dia telat bo), sunsetnya jelek, borobudur kaya es krim disinari lampu warna putih (katanya lampunya 6 apa 7 warna gitu??? Lha ini kok cuma 1 warna???), narsis dulu berlatar eskrim Borobudur, wah bulan juga bersinar gilang gemilang, sementara acara main event Peringatan Waisak sudah dimulai dan dimulai dengan sambutan2 (kita skip acara sambutan2, langsung ke acara tari2an yang dibawakan oleh para penari dari 6 negara Asean yang menceritakan kisah Sidharta Goutama dari lahir hingga wafat), penari memeran Sidharta-nya cakep banget…

jam 21:30 sebelum pulang ke homestay mampir lagi ke tempat Mas Medi ternyata dah tutup n ga ada orang, telp mas Sumaryanto, dari dia dapet info kalo mobilnya Mas Medi dipake oalaaahh… yo wis ra jadi deh nyarter mobilnya ngeteng aja, balik ke homestay Devy dan Dini dah ngorok, setelah isoma, ngobrol ngalor ngidul mengomentari semua hal, sambil nge-pack2 karena besok pagi2 mau langsung chek out dan lanjut menuju Yogya, kitapun tidur zzzzzzzzzzz……

2juni

Jam 07:00 check out, nyarap soto lg, jln ke trmnl,

Jam 07:20 naik bis Cemoro Tunggal jurusan Borobudur Yogya 10rb ngelewatin lagi Mendut dan terminal muntilan (cuma 15 mnt, sementara kemarin sampai 1,5 jam dari Borobudur ke Muntilan karena jalurnya muter), turun di per3an entah apa namanya, lanjut pake bis kota jalur 19 ke Tugu, ini bis lambaaat… banget kaya andong padahal jalanan lengang dan penumpangnya penuh, jadinya lamaaa… baru sampe Stasiun Tugu,

Jam 10:10 hunting tiket kereta, ga dpt untuk keberangkatan tgl 3 Juni dah penuh semua kecuali Argo Lawu 230rb mahal bo… mending nyari bis aza, sementara Devy & Dini mo pulang hari senin jadi dapet tiket,

Jam 10:30 di jemput bu Betty dari Losmen Betty di Sosrowijayan, tempatnya nylusuk2 gang kaya di labirin entah gw inget ngga kalo ke situ lagi, dari Bu Betty dapat no telp kantor bis Safari Dharma Raya yang exsecutive 140rb tp harus dateng ke kantornya, jadilah gw n Rey berbecak ke kantor si Bis untuk beli tiket (gw tujuan Lebak Bulus (karena mo turun di UKI biar cepet) sedangkan Rey & Wiewied naik yg ke Pulo Gadung), waktunya mepet banget karena Rey dapet telepun dari Heru (anak IBP Yogya) yang ngabarin kalo ada rombongan anak-anak IBP lainnya yg juga mo trekking ke merapi via Kaliurang dan mau mulai trekking jam 12 siang, akhirnya kita putusin untuk gabung dengan mereka dan minta ditungguin,

Jam 11:00 dr tugu naik bis jalur 4 yg arah terminal (salah bo, mustinya naik yg keluar dr terminal, nunggunya di dekat air mancur jl mataram, bersebrangan dg stasiun Tugu), turun per4an (2rb), naik lg jlr 4 turun di mm ugm (2rb), naik bis kaliurang 8rb

jam 12:32 sampe di depan Telogo Putri Kaliurang, wah telat nih jangan2 mereka udah ninggalin kita, hampir nyewa tukang lukis sebagai guide (minta 40 rebu…busyet deh), tp ternyata msh ditungguin heru anak ibp yogya sementara yg lainnya udah naik, sebelum naik kita beli nasi bungkus pake telur laper bo belum maksi,

Jam 12:50 trekking dimulai, dan…hekkkk jalanan setapak yg terjal langsung membuat kami bengek tp cuma thp awal aza kesononya ga terlalu nan
jak, melewati kali kuning yg ngga kuning n ngga berair lagi cuma penuh dengan batu dan pasir sisa lahar waktu merapi meletus, setelah melewati semak belukar dan kebon akhirnya nemu jln aspal yang katanya berakhir di Kompleks Wisata Kaliadem yang sudah lenyap akibat meletusnya gunung Merapi, tapi kita ngga mengikuti jalan beraspal itu melainkan belok kanan melewati rumahnya Mbah Marijan Sang Selebritis Merapi yang Legendaris, melainkan menyusuri padang rumput, terus hingga lokasi Kaliadem, yang tertinggal dari obyek Wisata Kaliadem cuma atap-atap bangunan yang dulunya warung dan sekarang telah terkubur hingga ke atap oleh guguran lahar Merapi dan bungker Kaliadem yang tidak berhasil menjadi penyelamat dua orang Tim SAR dari ganasnya api neraka Wedus Gembel bersuhu lebih dari 600oC, pemandangan ke arah Merapi tertutup awan dan kabut, pemandangan ke arah kota Yogyakarta yang terhampar di bawah juga kurang jelas, tp untungnya waktu kita dah mau turun Sang Mentari Sore menyibakkan Sang Awan dan menyuguhkan pemandangan menakjubkan ke puncak Merapi yang masih menjulang meskipun sudah sering memuntahkan lahar dan lava

Jam 14:00 kita kembali turun, kali ini tidak melewati Kaliurang lagi melainkan menyusuri jalan aspal kira-kira 2 km sambil menunggu datangnya mobil Ira yang sedang diambil Heru dan salah satu temannya Mba Ira, di pr3an akhirnya mobil jemputan datang dan kita semua pun naik, kami berlima nebeng hingga jalan raya Kaliurang tempat kendaraan umum lewat, bisnya ga ada yg lewat tapi ada angkot yang habis ngangkut sampah, yahhh.. daripada ga dapet2 akhirnya kita pun naik (10rb) hingga pertigaan, terus lanjut dengan starwagon yang jalannya lambat kaya keong hingga ke tempat yang ada biskota jalur 4 (ongkosnya 20rb), naik jalur 4 (2rb) turun di Tugu, pulang ke losmen, isoma,

Jam 19:00 pergi jln2 di Malioboro, beli sendal Eiger karena sendal lama gw dah hampir putus, lanjut ke angkringan untuk ketemuan klmpk mba ira sambil makan nasgor & kopi arang,

Jam 09:00 jalan lagi ke Malioboro, terus berbecak (4rb pp) ke bakpia patok 25, beli oleh-oleh

Jam 10:00 sampe losmen, ketemu temen baru Adi&David yg kost di situ (anak pondok gede), ngobrol2 sebentar, udah itu nge-pack barang karena besok siang mo pulang

Jam 12:00 tidur zzzzzz…..

3 juni:

Jam 06:00 berangkat, sarapan lesehan (mahal, nasi+telor+orek tempe + teh manis masa 7 ribu), Jam 06:30 jalan kaki sampe air mancur jl Mataram, naik bis jlr 4 lg (2rb),

Jam 06:45 lanjut pake mobil starwagon keong lagi ke pasar Prambanan 5rb + 2rb antar ke Candi Ratu Boko,

Jam 07:45 nyampe di Candi Boko, naik tangga deh banyak bener, tiket 7rb,

Jam 08:00 nongkrong di gardu pandang Candi Boko, sindoro sumbing cantik tp ga bisa di foto berkabut,

Jam 09:30 pulang naik angkot (sebenernya tuh angkot sebelum kita naik dah full, tapi sopirnya maksain supaya kita masuk juga, hingga isi nya full18 orang sama yang glantungan di pintu), ongkosnya 2rb sampe pasar Prambanan, dari lampu merah naik bis solo (2rb), turun di Janti, naik bis jlr 7 (2rb) ke Wirota Kampus, naik bis jlr 4 sampe Tugu

Jam 11:00 maksi di mall, beli celana pendek 15rb di emperan Malioboro, balik losmen, isoma,

Jam 13:30 berbecak ke kantor safari darma raya, dr kantor diangkut ke terminal Jombor pake Espass non ac panaaas,

Jam 15:40 berangkat, ha samping gw aki2 gemuk berkemeja super norak busyet deh,

Jam 15:50 di lampu merah, baru ketahuan kalo ac nya mati halaahhhh…, berhenti dulu untuk ngecek AC, ganti mobilkah??? terlambat deh gw besok

Jam 16:30 bis jln lg, AC tetep rusak, katanya mo tuker di Temanggung

Jam 18:00 masuk garasi, fixing, laper ga ada warung, makan otak2 yg dibeli di mall malioboro, kalo masih laper juga mo makan bakpia yang buat oleh2…

Jam 19:17 fixing’s done, try out ok.., what next??

Halah jalan yang dilewatin kok ya gelep tenan, berliku-liku, n kecil ga ada bis yang lewat situ, AC-nya dingin banget, sinyal Telkomsel dan Pro-XL byar pet kaya listrik PLN, tp terus tembus ke jalan besar lagi , aaahhh…rupanya pak supir nyari jalan alternatif tercepat untuk ngejer waktu yg kebuang gara2 benerin AC tadi

Jam 21:58 Mampir ke Rumah Makan Sendang Wungu Grinsing, halah halah dah ampir pingsan nih gw kelaperan n kedinginan, habis makan tidur deh zzz………

Jam 05:58 Bis baru ngelewatin pintu tol Cikarang

Jam 07:00 Nyampe UKI

Jam 07:30 baru dapet bis Sukabumi, penuh bo, tp msh dpt duduk

Jam 08:30 nyampe kost, naro tas, mandi, mindahin duit-dompet-hp-dll ke tas kerja, langsung ngojek ke kantor

Jam 09:00 nyampe kantor, halah laper tenan, ngantuk, pegel, n hang abis…. tapi selamet deh cuman telat 1 jam, tinggal bagi2 oleh2 n cerita…waaaaa gw item bgt katanya….biarin deh yg penting hepiii…

Thanks to: Rey, Wied, Devi n Dini for our wonderfull time together

Mas Sumaryanto Tadji untuk bantuin cari2 penginepan n sharing info2nya yg berharga

Mas Anwari dan mbak nya di Homestay Anita

Mas Medi n niat baiknya mo rentalin mobil murmer (walaupun ga jadi)

Ibu Betty dan mbaknya di Losmen Betty

Mas Heru dan Mas Andi Azimuth (IBP Yogya)

Mbak Ira dkk yang dah mau ditebengin kita , sory telah bikin anda semua menunggu …

Xape, nanti kita pasti bisa jalan bareng

Ongkos-ongkos

30 Mei 2007

Kereta Sawung Galih Executive Senen-Kutoarjo executive Rp.130.000,-

31 Mei 2007

Bis Sumber Alam Kutoarjo- Semarang Rp. 7.000,-

Carter angkot pertigaan salaman ke Homestay Anita Brbdr Rp. 5.000,- (ber 5 Rp.25000)

Andong Homestay ke Parkiran Borobudur Rp. 1.000,- (ber 5 Rp. 5000)

Andong Parkiran Borobudur-Mendut-Terminal Borobudur Rp. 4.000,- (ber 5 Rp.20000)

Bis Terminal Borobudur – Terminal Muntilan Rp. 2.000,-

Bis Terminal Muntilan – Pertigaan Telatar Rp. 3.000,-

Angkot Pertigaan Telatar – Ketep Pass (pp) Rp. 4.000,-

Bis Pertigaan Telatar – Mendut Rp. 4.000,-

Becak Mendut – Penginapan (tarif malam) Rp. 15.000,-

01 Juni 2007

Tak ada ongkos transport, karena jalan kaki kemana-mana

02 Juni 2007

Bis Terminal Borobudur – Yogya Rp. 10.000,-

Bis jalur 19 Pertigaan – Stasiun Tugu Rp. 2.000,-

Bis jalur 4 dari malioboro ke pertigaan Rp. 2.000,-

Bis jalur 4 dari pertigaan ke MM UGM Rp. 2.000,-

Bis dari MM UGM ke Kaliurang Rp. 8.000,-

Nyarter angkot dari pertigaan jalan raya kaliurang

ke tempat ngetem elf Rp. 2.000,-

Elf dari pertigaan ke tempat ngetemnya bis jalur 4 Rp. 4.000,-

Bis Jalur 4 ke Malioboro Rp. 2.000,-

Becak dari Malioboro ke Bakpia Pathuk 25 (pp) Rp. 4.000,-

03 Juni 2007

Bis jalur 4 dari malioboro ke pertigaan Rp. 2.000,-

Mobil starwagon lewat pasar Prambanan ke Candi Boko Rp. 7.000,-

Angkot dari Candi Boko ke Pasar Prambanan Rp. 2.000,-

Bis Solo-Yogya dari Pasar Prambanan ke perempatan janti Rp. 2.000,-

Bis jalur 7 dari perempatan Janti ke Wirota Kampus Rp. 2.000,-

Bis jalur 4 dari Wirota Kampus ke Malioboro Rp. 2.000,-

Becak dari Tugu ke Kantor Bis Safari di Jl. Mangkubumi Rp. 3.000,-

Bis Safari Dharma raya Executive Jombor-Lbk Bulus Rp. 140.000,-

Transport Rp. 371.000,-

Tiket Wisata

Tiket Ketep Pass Rp. 2.200,-

Tiket Candi Borobudur Rp. 9.000,-

Tiket Kamera di Candi Borobudur Rp. 1.000,-

Tiket Kaliurang Rp. 500,-

Tiket Candi Boko Rp. 7.000,-

Tiket Rp. 19.700,-

Penginapan per room per night per person

Homestay Anita di Borobudur – Magelang Rp. 75.000,- Rp. 25.000,- (x 2 night)

Losmen Bety di Sosrowijayan – Yogyakarta Rp. 50.000,- Rp. 16.700,- (x 1 night)

Penginapan Rp. 250.000,- Rp. 66.700,-