Ke Ujung Utara Nusantara berkat Garuda Indonesia Promo

Ke Ujung Utara Nusantara berkat Garuda Indonesia Promo

Duh senangnya….. berkat pagelaran Garuda Indonesia Travel Fair 12-14 September 2014 lalu, saya dan beberapa teman berhasil mendapatkan tiket promo Garuda Indonesia rute Jakarta – Pontianak untuk penerbangan tanggal 4 – 8 Maret 2015. Penerbangannya tepat waktu, aman, dan nyaman.  Bertualang ke Pontianak dan Singkawang memang menjadi impian saya sejak lama.

IMG_20150407_151747

==========

Wow…setibanya di Pontianak, saya langsung dibombardir dengan aneka panganan khas Pontianak oleh teman dan keluarganya, bingung saya mana yang mau difavoritkan, semuanya enak-enak dan bikin ketagihan.

Parade Tatung di Festival Cap Go Meh Singkawang juga membuat saya takjub sekaligus ngeri melihat kawat-kawat yang ditusukan di pipi para tatung, tingkah para tatung yang seperti sedang teler berat (konon kabarnya sedang kerasukan arwah-arwah), aura mistis begitu terasa walaupun di siang hari bolong.

IMG_20150305_093606

Tapi…, petualangan sesungguhnya baru kami mulai setelahnya.

Kami nekat menjelajah hingga ke desa paling utara, di ujung utara Kalimantan, salah satu desa perbatasan dengan negri tetangga, Malaysia. Desa yang sangat terpencil, tak terjangkau PLN, tak terjangkau Telkomsel dkk nya. Sendiri di ujung negri. Itulah Desa Temajuk.

Rute dari Singkawang - Temajuk

Etape 1 : Singkawang – Pemangkat

Tengah hari kami memulai perjalanan menuju Desa Temajuk dengan menggunakan 2 mobil sewaan, dari Singkawang menyusuri jalan aspal lurus dan mulus menuju ke Pemangkat (sekitar 31,4 km). Kami sempatkan untuk istirahat makan siang di Rumah Makan Pondok Indah (Pemangkat), tempatnya seperti rumah tingkat biasa, tapi makanannya benar-benar luar biasa..!

Etape 2 : Pemangkat – Kartiasa

Dari Pemangkat, perjalanan dilanjutkan menuju Kota Sambas (sekitar 46 km), jalan aspalnya mulai mengecil dan mulai berkelok-kelok, hingga sampai di Jembatan Kartiasa (km 51,7). Nah selepas jembatan ini siksaan jalanan pun dimulai, aspal nya sudah hancur, hanya tinggal batu-batu kali yang bulat-bulat. Melesak disebelah sini, menggunung di sebelah sana. Debu mengepul kemana-mana…, rumah-rumah dan pepohonan di sisi kiri dan kanan jalan kotor penuh debu. Tak terbayangkan kondisinya disaat hujan. Jarak yang cuma sejauh 5 km, berasa jadi 50 km, waktu tempuh yang seharusnya hanya sekitar 5 menit, menjadi berasa selamanya…..

Etape 3 : Kartiasa – Sumpit – Ceremei

Lega sekali rasanya ketika akhirnya jam 3 sore kami sampai di Dermaga Tanjung Harapan. Selanjutnya kami akan menyeberangi sungai dengan menggunakan kapal ferry ASDP menuju Dermaga Sekura. Kapalnya cukup besar, dapat memuat sekitar 7 unit kendaraan roda 4, ruang tunggu penumpangnya bersih dan nyaman, tarifnya Rp 35.000 per kendaraan dan Rp5000 per kendaraan untuk retribusi dermaga. Berhubung kapal penyebrangannya hanya ada satu saja, mau tak mau harus menunggu hingga penuh dulu, baru berangkat.

Tigapuluh menit kemudian sampailah kami di seberang sungai.

IMG_20150305_144931
Penyebrangan di Dermaga Tanjung Harapan

Untuk pengguna sepeda motor, disini terdapat banyak sekali perahu penyebrangan kecil-kecil yang hilir mudik sepanjang hari, jadi tidak perlu menunggu lama untuk menyebrang.

Sinyal seluler masih sangat bagus di sini.

Selepas penyebrangan ini jalanan aspal masih lebih lumayan dibandingkan jalan Kartiasa tadi. Rute selanjutnya melewati beberapa desa, yaitu Sekura , Sayang Sedayu, Tanah Hitam, Malek, Liku, Setinggak, dan Merbau. Selepas Desa Merbau kembali memburuk hingga Pelabuhan Penyeberangan Sumpit.

Dan.., sinyal seluler pun menghilang…

Pelabuhan Penyeberangan Sumpit ini kecil, terbuat dari bilah-bilah papan, hanya terdapat beberapa warung makan, selebihnya adalah rawa-rawa tepi muara, dan jauh dari perkampungan. Moda transportasi penyebrangannya berupa kapal kayu lebar yang disebut sebagai kapal bangkong. Kapal bangkong ini bisa memuat hingga 3 mobil, tarifnya seperti carteran, Rp 300 ribu sekali nyebrang, jika hanya 2 mobil maka per mobil Rp 150 ribu, sedangkan jika 3 mobil maka per mobilnya Rp 100 ribu. Lama penyebrangannya hanya sekitar 5 – 10 menit saja.

Dermaga untuk kapal bangkong (Desa Ceremai).  Foto diambil pada waktu rute pulang dari Temajuk
Dermaga untuk kapal bangkong (sisi Dusun Ceremai). Foto diambil pada waktu rute pulang dari Temajuk

Sebetulnya sudah ada pelabuhan baru yang lebih bagus, tetapi belum di operasikan. Selain memakai perahu bangkong, terdapat juga perahu-perahu penyebrangan kecil yang bisa digunakan oleh pengendara sepeda motor.

Sekitar jam 16:50 kami sudah sampai di seberang sungai, di Dusun Ceremai. Di sini juga terdapat beberapa warung makanan minuman, tidak ada perkampungan.

Etape 4 : Ceremei – Tugu Pancasila (Temajuk)

Dari sini ke Desa Temajuk masih sekitar 40 km lagi, masih ada seutas jalan aspal sempit menembus belukar, lalu jalan aspal sempit itu pun menghilang, disambung dengan jalan tanah merah. Untung bagi kami bahwa sudah beberapa hari terakhir ini tidak turun hujan, jadi jalan tanahnya lumayan kering, tapi masih menyisakan jebakan tanah lumpur becek di beberapa lokasi.

Beberapa urat air alias sungai kecil, melintas memotong jalan tanah. Beberapa dilengkapi jembatan papan kayu, yang lainnya cuma dialasi dengan bilah-bilah papan kayu yang diletakan begitu saja, sangat berbahaya untuk mobil. Ada juga yang tanpa apa-apa, jadi yang melintas terpaksa harus mencebur dan berbasah-basah.

eSAM_4123
Salah satu spot di jalur tanah becek (selepas dermaga Dusun Ceremai) di tengah area rawa-rawa, jauh dari perkampungan, tidak ada sinyal selular, sangat berbahaya di musim hujan.

Kondisi jalanan yang aduhai…, ditambah dengan hari yang semakin gelap, maka makin merayaplah mobil tunggangan kami ini jadinya. Segala rasa takut memenuhi benak kami semua, takut selip, takut gardan kepentok papan, takut mogok karena kemasukan air, dan takut muncul marabahaya dari kegelapan alam sekitar juga. Area nya jauh dari mana-mana, tidak ada sinyal seluler, tidak ada yang lewat pula. Aduh…..

IMG_20150307_095433
Narsis di Tugu Pancasila. Foto diambil waktu pulang dari Temajuk.

Rasa lega teramat sangat muncul begitu sampai di tugu Pancasila, yang menandakan bahwa kami sudah memasuki Desa Temajuk. Yang lebih melegakan lagi adalah bahwa di situ ada rumah warung yang terang benderang. Oh…rupanya pakai genset sendiri. Pak Haji dan istrinya yang punya warung, langsung sibuk memenuhi pesanan mie rebus dari kami semua. Beliau juga ikut heboh menimpali cerita kami.

Dari sini, kata Pak Haji, masih ada sekitar 3 jembatan kayu lagi yang harus kami lalui. Setelah itu akan ketemu jalan aspal. Jalan aspal….??? Aduh senangnya….

Etape 5 : Tugu Pancasila – Dusun Maludin (Temajuk)

Dan benar saja, setelah melewati 3 jembatan, kami bertemu lagi dengan jalan aspal, lalu memasuki Desa Temajuk. Tujuan kami adalah ke Pondok Wisata Atong di Dusun Maludin, sempat nyasar ke Dusun Camar Bulan karena gelap jadi penunjuk jalannya tidak terbaca. Sekitar jam 7 malam, akhirnya kami sampai di ujung jalan mobil. Karena belum dibangun jembatan dan jalan yang cukup besar untuk bisa dilewati mobil, maka mobil harus diparkir di area ini. Selanjutnya harus menggunakan ojek sepeda motor atau kalau kuat ya berjalan kaki. Kami memilih menggunakan ojek.

Berduyun-duyun lah 10 ojek melewati jembatan bilah kayu, lalu menyusuri jalan setapak di area kebun kelapa dan rumah-rumah penduduk. Masing-masing rumah memiliki genset sendiri untuk menghasilkan listrik. Begitu juga dengan Pondok Wisata Atong.

IMG_20150306_181546
Salah satu pondok yang ada di komplek Taman Wisata Atong

Listrik menerangi pendopo di bangunan utama, Pak Atong sekeluarga sedang asik menonton TV, siaran dari TV Kalbar. Luas komplek Pondok Wisata Atong ini sekitar 3 Ha, berupa taman dan berada tepat di tepi pantai. Selain bangunan utama ini, disekelilingnya terdapat bangunan-banguan bungalow kayu untuk disewakan kepada wisatawan, di bangunan utama juga ada kamar-kamar yang disewakan, ada yang dilengkapi AC ada yang tidak.

Kami memilih untuk menyewa sebuah bungalow kayu yang memiliki 2 kamar. Di area luar terdapat 4 unit kamar mandi, 1 unit shower, 1 toilet, sedangkan di dalam bangunan utama terdapat 2 kamar mandi plus toilet.

Di Desa Temajuk tidak perlu khawatir dengan ketersediaan air bersih, tidak seperti di Pontianak atau Singkawang, dimana air tawar bersih hanya diperoleh dari menampung air hujan. Di Temajuk, mata air dari gunung mengalirkan air sepanjang masa. Bahkan di tepi pantai, air bersih merembes keluar dari dalam pasir. Airnya sungguh sejuk dan segar.

Malam semakin larut, gemuruh mesin genset bersimfoni dengan debur ombak dan bunyi jangkrik bersahutan di semak-semak dan diatas pepohonan kelapa. Udara laut dan udara gunung berbaur menciptakan kesejukan. Badan penat dan stress dengan kondisi jalanan sepanjang hari, membuat kami semua tertidur lelap, walaupun sebagian tidak kebagian kasur.

Besok, kami akan memulai petualangan menjelajahi sudut-sudut Temajuk, melintasi perbatasan negri, dan kalau bisa mencapai Tanjung Datuk, titik terujung Kalimantan yang terbelah dua negara.
Temajuk, selangkah ke negeri sebrang

Pagi hari yang sejuk di Kawasan Pondok Wisata Atong (Dusun Maludin, Desa Temajuk, Kec. Paloh, Kab. Sambas, Prov. Kalimantan Barat). Saatnya berburu matahari terbit. Ah….lupa saya…pantai ini menghadap ke barat. Jadi tidak ada sunrise, adanya sunset, nanti sore. Tapi biarlah…

Pagi masih remang-remang…, sepanjang pantai sepi tak ada orang kecuali kami. Laut sedang surut rupanya, jauh juga pantai yang tersingkap ditinggalkan lautan. Kami menyusuri pantai yang lengang ke arah utara…., menyusuri pasirnya yang halus berwarna putih kecoklatan, seperti buih kopi capucino warnanya. Air dari mata air pegunungan, merembes keluar dari dasar pasir, membentuk galur-galur aliran air kecil-kecil, lalu mengumpul di cekungan karang…, membentuk kolam air tawar di tepi lautan Selat Karimata.

eIMG_1205
Pantai Atong, tidak cocok untuk berburu momen sunrise, karena ada di sisi barat :-p

Lalu ada lukisan jejak air laut surut di atas pasir, bergalur-galur indah seperti hiasan gaun, membuat kami segan menginjaknya.

eIMG_1305
Pantai Batu Paus, demikian kami menamakan pantai ini, karena batu besar yang disana itu mirip ikan paus. Area ini akan tertutup air laut dikala pasang naik

Lalu ada batu-batu super besar dimana-mana. Kontur pantai Temajuk di Pantai Atong ini ternyata mirip dengan di Pulau Bangka – Belitong, dihiasi batu-batu super besar. Garis batas bagian batu yang kalau laut pasang terendam air laut, jauh melebihi tinggi badan saya. Garis batas itu warnanya kecoklatan dan seperti berkilau kuning keemasan ketika cahaya matahari pagi pertama dari balik gunung akhirnya menyinarinya.

IMG_20150307_083238
Pulau Batu Nenek , bisa dicapai dengan berjalan kaki saat laut surut

Ah….Temajuk yang indah.., seperti di negri dongeng.

Siangnya kami menyewa ojek menuju perbatasan Indonesia-Malaysia. Kembali, 10 ojek berduyun-duyun membuat heboh seisi desa yang biasanya tenang. Jalan aspal sudah sampai hingga ke pos perbatasan, sebuah bangunan kayu sederhana seperti warung yang ternyata adalah pos tentara penjaga perbatasan. Di depan pos, ada portal penghalang jalan terbuat dari kayu yang menghalangi jalan, siapapun yang akan melintas harus melapor.

eSAM_4167
Pos TNI Penjaga Perbatasan

Jadi kami semua turun dari ojek masing-masing, koordinator ojek kemudian melapor dan mencatatkan namanya dan nama teman2nya di buku tulis besar semacam buku tamu, nama kami tidak ada yang ditulis, cukup warga lokal saja penanggung jawabnya katanya. Kami pun boleh lewat, keluar dari wilayah Indonesia, memasuki wilayah negara tetangga, Malaysia.
Selepas portal perbatasan, jalan aspal digantikan jalan tanah, menuju ke atas bukit. Dimana terdapat gerbang bagus dan masih baru, berhiaskan bendera merah putih di puncaknya, dan bertuliskan “Selamat Jalan” serta “Selamat Datang” di sisi yang menghadap ke arah negri tetangga.

Dari sana, jalan tanah terus membelah perkebunan karet milik Diraja Malaysia. Hingga bertemu dengan gedung penjaga perbatasan Malaysia yang jauh lebih megah dibandingkan dengan gubuk kayu tentara penjaga perbatasan Indonesia. Komplek tentara penjaga perbatasan Malaysia ini juga dilengkapi dengan fasilitas pembangkit tenaga listrik dan unit pengolahan air bersih.

eSAM_4181
Pos Penjaga Perbatasan Negara Diraja Malaysia

Kami kembali turun dari ojek masing-masing, lalu melapor kepada para tentara Malaysia yang sedang berjaga. Koordinator ojek dan teman-temannya kembali menuliskan namanya di sebuah buku tamu besar. Nama kami tidak dicatat juga disini, tak ditanya passport pula. Tentara (askar) Malaysia nya baik-baik, bahkan mau diajak berfoto bersama.

Selepas itu, kami bebas masuk ke wilayah Malaysia. Tujuan kami adalah ke Teluk Melano ditepian Laut Cina Selatan.

Pantainya luas membentang karena air laut masih sedang surut, panjang pantainya berkilo-kilo meter. Terdapat dermaga bagus, rumah-rumah khas Melayu, bangunan Sekolah Dasar bertingkat (3 lantai), homestay, toko makanan-minuman, pembangkit listrik, dan unit pengolahan air bersih. Tapi semuanya sepi, tidak ada orang kecuali kami.

eSAM_4206
Pantai Teluk Melano (Malaysia) dikala surut

Lalu kami memasuki hutan, menuju Pantai Batu Bersusun. Batu karangnya seperti bersusun-susun mirip dengan Pantai Batu Layar nya Desa Sawarna. Pantai ini juga dipenuhi bebatuan pantai kecil-kecil beraneka bentuk dan warna, permukaannya halus karena terkikis air laut. Sejenis batu pantai yang biasa dipakai untuk menghiasi taman-taman di perumahan, perkantoran, ataupun mall.

Pepohonannya yang rindang, semilir angin yang teduh, membuat kami betah berlama-lama di sini.
Tapi laut sebentar lagi pasang naik, kalau air laut sudah naik nanti kami tidak bisa lewat. Jadi, kembali kami berkonvoi disepanjang pantai Teluk Melano, kembali menyusuri jalan tanah membelah perkebunan karet, kembali melewati pos perbatasan Malaysia, dan pos perbatasan Indonesia.

Kami juga sempat trekking ke hulu mata air yang sepertinya dulunya dijadikan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air, tapi kini sudah terbengkalai, hanya menyiskan bendungan dan pipa-pipa besi, serta gardu. Entah…mungkin suatu saat nanti bisa difungsikan lagi.

Panen ubur-ubur

Ada fenomena unik di Desa Temajuk ini, yaitu fenomena panen ubur-ubur di bulan Maret hingga April, seperti fenomena menangkap cacing nyale di Lombok pada bulan Februari-Maret. Saya sudah tidak sabar untuk menyaksikannya.

Jadi sore-sore kami berkonvoi menuju Dusun Camar Bulan, ke pusat pengumpulan atau kilang-kilang ubur-ubur. Masyarakat sudah ramai diseputar kilang-kilang tersebut. Beberapa perahu yang baru kembali dari laut sudah tertambat di pantai. Ubur-ubur hasil tangkapannya sedang dibongkar dan diangkut ke kilang-kilang. Buruh-buruh angkut sedang sibuk hilir mudik dari perahu ke kilang, mengangkut ubur-ubur besar-besar dalam kotak-kotak keranjang plastik. Satu kotak keranjang plastik diangkut oleh 2 orang kuli angkut yang terdiri dari ibu-ibu, remaja-remaja pria, remaja wanita, dan bapak-bapak. Ketika perahu satu sudah selesai diangkut semua ubur-ubur tangkapannya, mereka pindah ke perahu lainnya, begitu seterusnya. Semakin banyak jumlah ubur-ubur yang berhasil mereka angkut ke kilang, semakin banyak jumlah bayarannya.

Ternyata, di dalam perahu setelah ditangkap, ubur-ubur tersebut dipisahkan antara bagian badan dan jumbai “kaki” nya. Ketika dibongkar, diangkut, dan dikumpulkan di kilang juga dipisahkan antara kaki dan badan. Harga badan ubur-ubur lebih mahal daripada kakinya, padahal lebih enak kaki, kata seorang ibu yang jadi kuli angkut.

Seorang petugas penghitung ubur-ubur telah siap sedia ditempat “unloading” kilang, dengan cekatan menghitung setiap ubur-ubur dari setiap keranjang, lalu meneriakan hasil hitungannya. Seorang ibu juru catat, sibuk mencatat teriakan si juru hitung, siapa mengangkut berapa badan atau berapa kaki ubur-ubur, dan dari perahu mana, semuanya tercatat.

Badan para kuli angkut dan juru hitung telah basah terkena air laut bercampur lendir ubur-ubur. Gatal-gatal dari racun si ubur-ubur sepertinya tidak begitu mereka rasakan, walaupun ketika saya tanya apakah gatal atau tidak, jawabannya “Ya gatal de..!” begitu katanya sambil garuk-garuk dan meringis. “Tapi nanti juga kalau sudah mandi, gatalnya hilang” lanjutnya.

Kegiatan bongkar-angkut ubur-ubur ini terjadi setiap sore hari di sepanjang bulan Maret hingga April. Ubur-ubur dalam kilang-kilang itu direndam sambil diaduk-aduk semalaman, kemudian dijemur hingga kering. Ubur-ubur kering kemudian dijual kepada pengepul besar yang akan menjualnya lagi keluar daerah. Cina, Taiwan, Korea dan Jepang konon kabarnya adalah tujuan ekspor ubur-ubur.

Meninggalkan Temajuk yang menakjubkan

Wow… Desa Temajuk yang terisolir sendirian di ujung negri, ternyata memiliki potensi teramat menakjubkan. Tanahnya subur, bisa ditanami rupa-rupa hasil bumi termasuk sayuran. Hasil lautnya juga melimpah. Tapi…, aksesnya yaoloooo….

Nah… kami masih punya semalam lagi di Temajuk, diisi dengan acara bakar ikan dan berburu kelomang di pantai.

Esoknya kami masih sempat menyambangi satu lagi objek wisata, yaitu Pantai Batu Nenek yang juga dihiasi dengan batu-batu super besar. Kalau laut sedang pasang, area ini akan terpisah dari daratan, menjadi Pulau Batu Nenek.
Hari ini kami harus kembali pulang, menembus jalur tanah merah becek sekaligus berdebu.. Berulang kali geleng-geleng kepala mengingat kenekatan kami kemarin malam setelah melihat kondisinya disiang hari. Kembali menyebrangi Sungai Sampit menggunakan perahu bangkong, lalu menyebrang dengan ferry ke Dermaga Tanjung Harapan di Kartiasa, lalu kembali menyusuri jalan rusak Kartiasa yang bikin sakit pinggang, kembali menuju Sambas lalu Pemangkat dan ke Pontianak.

Jam 9 pagi dari Temajuk, jam 12 malam sampai di Pontianak, karena diselingi mampir sana sini untuk makan, beli oleh-oleh, ambil barang, dll.

========

Esok sore kami akan pulang ke Jakarta menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA 515.

Terimakasih kepada Garuda Indonesia dengan event Garuda Indonesia Travel Fair nya dengan promo discount tiket rute domestiknya yang sangat menarik dan memberikan kesempatan kepada masyarakat Indonesia untuk menjelajahi negerinya dengan biaya yang lebih murah.

Jaya terus Garuda Indonesia, maju terus negeriku Indonesia..!
========

Catatan Biaya-Biaya 4 – 8 Maret 2015

Berangkat :
Sewa mobil (2 unit, 5 hari, Rp300rb/hari, ganti rugi baret Rp400rb) = 3.4jt
BBM 500rb + 343rb
Ferry 85rb
Perahu bangkong 300rb
Ojek motor ke Villa Atong 150rb (11 ojek)
Ojek motor one day trip keliling Temajuk 500rb (11 ojek)

Pulang :
Ojek motor dari Villa Atong 150rb (11 ojek)
Parkir mobil di ujung Dusun Maulidin 20rb
Perahu bangkong 200rb
Ferry 85rb
BBM 186rb

Akomodasi di Temajuk
Villa Atong all in (2N, 2kamar, biaya makan, biaya bakar ikan) 870rb

Total untuk transportasi dan akomodasi = Rp6.789.000 (untuk 11 orang, diluar biaya tiket pesawat, makan dan oleh-oleh)

Advertisements

Berpetualang ke Kepulauan Derawan (Kalimantan Timur)

Menjalani perjalanan darat terheboh di tanah Borneo demi untuk bisa bertualang di perairan Kepulauan Derawan yang mempesona, sungguh pengalaman yang tak kan terlupa.

By : Dian Sundari

Tanggal : 20-26 December 2007

Lokasi   : Kalimantan Timur

Perjalanan Darat Balikpapan-Berau

Kepulauan Derawan terletak di Laut Sulawesi, pada pesisir Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, menghadap ke mulut muara Sungai Kelai dan dikenal dengan Delta Berau. Kepulauan ini terdiri atas enam gugusan pulau besar, yaitu Pulau Derawan, Pulau Sangalaki, Pulau Kakaban, Pulau Maratua, Pulau Panjang, Pulau Samama, serta beberapa pulau kecil dan gugusan karang. Terdapat 21 pulau di kepulauan ini. Gugus Kepulauan Derawan hanyalah sebagian kecil dari ratusan pulau di pesisir timur Kaltim yang berjumlah 248 pulau. Dari jumlah itu, 138 pulau belum mempunyai nama, dua pulau di antaranya Sipadan dan Ligitan hilang, menjadi milik Malaysia (Sumber : resep.web.id).

006 The Big Map 006 The Map

Kepulauan Derawan dapat ditempuh melalui 2 rute

Rute pertama : Balikpapan – Samarinda – Berau – Tanjung Batu – Derawan

Rute kedua    : Balikpapan – Samarinda – Tarakan – Tanjung Batu – Derawan

Keduanya bisa menggunakan angkutan darat maupun angkutan udara.  Bagi pengunjung dari Jakarta, Anda bisa mengambil penerbangan ke Bandara Sepinggan di ibukota Propinsi Kalimantan Timur – Balikpapan.  Dari Balikpapan, Anda bisa melanjutkan perjalanan ke Berau atau ke Tarakan menggunakan pesawat udara kapasitas kecil (kurang lebih 1 jam perjalanan) menggunakan armada dari jasa penerbangan KAL Star, Deraya atau DAS.  Jika sudah sampai di Tarakan atau Berau, Anda harus melanjutkan perjalanan via darat, biasanya ada beberapa mobil yang mereka sebut taksi (mobil-mobil seperti Avanza, Xenia, Kijang, dll) yang akan membawa Anda ke Tanjung Batu, disanalah Dermaga ke Kepulauan Derawan berada.

Atau jika Anda memiliki waktu yang cukup luang dan untuk menghemat budget perjalanan, maka Anda bisa mengikuti jalur yang kami tempuh di akhir tahun 2007 lalu, yakni melalui darat via Berau.  Kami berempat terbang dari Jakarta menggunakan armada penerbangan Air Asia, berangkat dari Bandara Sukarno-Hatta jam 6 pagi dan tiba 2 jam kemudian di Bandara Sepinggan (Balikpapan).  Dari sana kami akan naik bus ke Samarinda, untuk bisa naik bis tujuan Samarinda terlebih dahulu kami harus 2 kali naik angkot.  Pertama naik angkot warna hijau tua tujuan Terminal Damai (kurang lebih 30 menit), kemudian naik angkot warna hijau muda tujuan Terminal Batu Ampar (kurang lebih 45 menit).  Kami diturunkan di tempat ngetemnya bis-bis tujuan Samarinda.  Perjalanan ke Samarinda memakan waktu 2 jam.  Bisnya penuh dan ngebut, serta kami cukup lelah akibat perjalanan panjang dan kurang tidur jadi tidak begitu memperhatikan jalanan.

Sekitar tengah hari, kami sampai di Terminal Sei Kunjang (Samarinda).  Terminalnya kecil saja, ada beberapa bis besar dan beberapa angkot di sana.  Kami makan siang dan beristirahat cukup lama di terminal Sei Kunjang ini.  Lalu kami harus naik 1 angkot lagi (kurang lebih 1 jam perjalanan) untuk menuju Terminal Lempake, tempat mangkalnya bis-bis tujuan Berau.  Sesampainya di sana, kira-kira jam 3 sore, ternyata kami harus kecewa karena bis terakhir tujuan Berau rupanya sudah penuh.  Terpaksa kami harus memakai kendaraan carteran yang memang biasa digunakan penduduk setempat yang tidak kebagian bis umum.  Kami berbagi kendaraan dengan 3 penumpang lokal lainnya, sewa per orang adalah sebesar Rp. 175.000, sedangkan jika menggunakan bis tarifnya hanya Rp135.000.  Di Terminal Lempake ini banyak yang menawarkan mobil sewaan seperti ini, mobil-mobil yang ditawarkan seperti Avanza, Xenia, Kijang, dll keluaran terbaru dan berkualitas prima, karena beratnya jalur yang akan ditempuh jadi kondisi kendaraan harus benar-benar baik.

Kami memulai perjalanan darat yang sangat panjang dan melelahkan menuju Berau ini kira-kira pada jam 5 sore.  Kondisi jalan yang dilalui pada awalnya masih baik hingga melewati Kota Bontang dan Kota Sangata.  Setelah itu kondisi jalanan mulai memburuk, sempit dan bolong-bolong, meliuk-liku naik turun bukit dan hutan-hutan yang sudah banyak ditebang.  Kami makan malam di Kota Bontang berupa nasi goring berwarna merah karena diberi caos dengan porsi yang diperuntukan bagi kuli pertambangan yang harus makan banayk karena memerlukan tenaga yang besar dalam bekerja.

Gelap gulita menemani perjalan malam kami karena jarangnya rumah penduduk.  Sekitar melewati tengah malam, di daerah Wahau, supir kami yang kelelahan menghentikan kendaraan di salah satu warung makan yang sudah sepi walaupun masih buka.  Rupanya Pak Supir sudah sangat lelah dan mengantuk dan sudah tidak sanggup lagi melanjutkan perjalanan sehingga berniat untuk beristirahat di sini.  Kami pun mau tidak mau harus ikut beristirahat, tiduran diselasar warung makan karena tidak ada penginapan, semalaman dikerubuti nyamuk-nyamuk hutan yang ganas.

Pagihari kami kembali melanjutkan perjalanan.  Jalanan semakin kecil dan rusak.  Hutan yang kami lalui semakin lebat.  Rumah penduduk sudah sangat jarang kami temui.  Sinyal seluler sudah hilang timbul.  Kami berpapasan dengan truk-truk besar pengangkut batu bara, kayu, dan solar.  Dan kami melewati salah satu area penambangan batu bara yang sangat luas.  Jalan ini meliuk-liuk di pinggang gunung, dibibir jurang yang  sangat dalam yang telah merenggut banyak korban.  Kata Pak Supir, baru saja minggu lalu ada sebuah truk yang terjun ke jurang dan supir serta keneknya tidak terselamatkan.  Bahkan bangkai mobilnya masih belum di angkat dari dalam jurang karena medan yang sangat sulit.

Di suatu titik di tengah hutan, jalan sudah tidak lagi beraspal.  Kami berpapasan dengan bis dari arah Berau menuju Samarinda, suaranya sudah terdengar menderu-deru walaupun bisnya sendiri belum kelihatan.  Tiba-tiba bis tersebut muncul dari balik tikungan dengan kecepatan tinggi, menderu-deru melewati kami diatas jalanan tanah yang licin akibat hujan subuh tadi.

Sekitar jam 12 siang kami tiba di Terminal Berau Baru di Kota Tanjung Redeb (Ibukota Kabupaten Berau).  Di sini kami akan bergabung dengan 2 teman lainnya yang berangkat menggunakan pesawat dari Balikpapan karena berangkat dari Jakartanya di hari berbeda dengan kami.  Terminalnya tentu saja kecil dan sepi.  Kami istirahat dan makan siang di terminal ini.

Sungai Berau membelah Kota Tanjung Redeb (Ibukota Kabupaten Berau) ini.  Di malam hari sepanjang sisi sungai dipenuhi penjual makanan beraneka ragam.  Menjadi tempat gaul yang diminati seluruh lapisan masyarakat, terutama kaum muda.

Nightlife at Sungai Berau

Selanjutnya kami akan menuju Tanjung Batu, menggunakan taksi selama kurang lebih 3,5 jam (ongkos per orang Rp. 50.000).  Dari Tanjung Batu inilah petualangan laut di sekitar Kepulauan Derawan dan Maratua akan kami mulai.

Mengintip Surga Laut Pulau Derawan

Untuk menuju ke Pulau Derawan ada beberapa speedboat dan perahu tradisional yang beroperasi di dermaga ini.  Jika menggunakan speedboat waktu tempuh kurang lebih 30 menit, sewanya sekitar Rp.300.000 per perahu sekali jalan (untuk ukuran speedboat kecil).  Sedangkan jika menggunakan perahu tradisional akan memakan waktu sekitar 1 jam, sewanya sekitar Rp.150.000 per perahu sekali jalan.

Laut sore itu tampak tenang, langit tampak tenang walupun berawan. Burung-burung laut tampak beterbangan kian kemari, mencari ikan mungkin. Kami berperahu dengan nyaman menuju ke Pulau Derawan.  Kami tidak memperoleh pemandangan sunset yang spektakuler karena mendung berawan.

Kami tiba di dermaga Pulau Derawan jam 5:30 sore.  Dengan bantuan Bang Iwan (penduduk setempat yang adalah kenalan salah satu teman kami di dunia internet), kami berhasil mendapatkan 2 kamar sederhana di serambi lantai 2 yang menghadap ke laut (Rp.50.000 per kamar per malam, fasilitas 2 single bed).  Di dekat pondokan kami terdapat restoran kecil yang juga menyewakan kamar-kamar bagi para tamu.  Di Pulau Derawan ini banyak terdapat motel kecil milik penduduk lokal (seperti Danakan, Derawan Lestari III, Derawan Lestari I & II. Penginapan HAMS dan Yogie Mas menyediakan kamar dengan harga sekitar Rp.45.000 sampai Rp.100.000/malam) dan ada juga yang cukup besar, serta ada juga Derawan Dive Resort yang mewah.

Pulau Derawan ini kecil saja.  Rumah-rumah penduduk berderet rapi di kedua sisi jalur yang bisa disebut jalan.  Rumah-rumahnya sudah berupa rumah tembok modern, tapi ada juga masih separuh rumah kayu.  Ada beberapa warung makan.  Tidak banyak aktifitas yang bisa dilakukan di malam hari.  Di pagi hari kami berjalan-jalan di pantai yang berair sangat jernih.  Banyak juga pengunjung yang sudah bermain-main di pantai sepagi ini.  Pagi ini masih mendung jadi tidak ada sunrise indah.

Pasirnya putih tapi tidak terlalu lembut.  Ombaknya begitu tenang, dan airnya begitu jernih.  Di dermaga yang ada di depan Derawan Dive Resort kami terkagum-kagum menikmati pemandangan bawah laut yang jelas terlihat.  Kami melihat penyu batik berenang tenang melintasi bawah dermaga, juga manta sting ray kecil, dan si scorpion king.  Terumbu karang warna warni terhampar begitu jelas di bawah sana.  Ikan-ikan hias berwarna warni bergerombol kesana kemari.  Luar biasa pemandangan ini…!!!  Kami sudah tidak sabar untuk ber-snorkelling.

011 Derawan Turtle 02 015 Taman Laut Derawan 001 013 Si Penjepit 012 Fishy 01

Kami menyewa jaket pelampung di Derawan Dive Resort dan segera bersnorkell ke sana kemari di sekitar dermaga.  Wowww….luar biasa sekali keanekaragaman hayati di sini.  Kamera ampibi saya sibuk memotret sana sini.  Tak henti hentinya kami berdecak kagum melihat segala keindahan bawah laut ini.  Sayangnya tidak seorangpun diantara kami yang bisa menyelam.  Ahhh…kalau saja…..

Puas bersnorkell, kami kembali ke pondokan untuk membersihkan diri dan untuk makan siang.  Menunya….seafood tentu saja.  Kami juga harus bersiap-siap untuk petualangan selanjutnya di pulau Semama, Sangalaki, Kakaban, Maratua, dan Nebuko.  Untuk menjelajahi ke semua pulau itu kami menyewa perahu tradisional kecil seharga Rp.1.500.000 untuk 3 hari 2 malam bertualang.  Perahunya kecil saja, ada ruangan kecil untuk menyimpan barang-barang dan untuk beristirahat bergantian.  Di bagian belakang perahu ada tempat duduk-duduk yang diberi atap, kami duduk berdempetan didalamnya, salah seorang dari kami harus rela kepanasan karena tempatnya tidak muat untuk kami semua.

Berburu Penyu di Pulau Sangalaki

Kami berperahu selama 3 jam menuju Pulau Sangalaki.  Lautan tampak tenang meskipun mendung.  Kami mampir sebentar ke Pulau Semama yang tidak berpenghuni, yang saat itu sedang terkena pasang hingga pantai dan pohon-pohonnya terendam air.  Ada 1 bangunan tidak terurus di Pulau Semama ini.

Kami tiba di Pulau Sangalaki menjelang malam hari.  Pulau Sangalaki ini adalah pusat konservasi penyu.  Untuk bisa berkunjung ke sini, terlebih dahulu harus memiliki surat ijin SIMAKSI (Surat Ijin Memasuki Kawasan Konservasi).  Kami tidak memiliki SIMAKSI ini jadi kami agak mengalami sedikit kesulitan dan hampir-hampir tidak diijinkan untuk menginap di pulau ini.  Untunglah berkat salah satu saudara dari teman kami yang rupanya pejabat tinggi di Kementrian KLH di Jakarta, akhirnya kami diijinkan menginap di salah satu kamar yang ada di balai konservasi.  Di Pulau ini juga terdapat 1 bangunan milik Sangalaki Dive Lodge yang cukup besar.  Pengelola yang ada di situ mengijinkan kami untuk menggunakan fasilitas kamar mandi dan dapur untuk memasak.

Kebetulan waktu itu sedang ada sekelompok murid SMA yang sedang belajar konservasi jadi suasana cukup ramai.  Di malam hari kami mengelilingi pulau untuk mencari penyu yang sedang atau akan bertelur, tapi kami rupanya sedang tidak beruntung.  Kami tidak menemukan satu ekor kura-kura pun di sana.  Kami hanya menemukan jejak kura-kura yang cukup besar yang rupanya telah kembali ke lautan.

Di pagi hari laut kembali surut hingga hamparan pantai berbatu karang timbul di permukaan , memperlihatkan kerang kerang dan ikan-ikan kecil yang terperangkap dalam kubangan air menunggu kembali dijemput sang pasang.  Pada saat-saat seperti ini biasanya digunakan untuk berburu kerang laut yang nikmat, tapi harus berhati-hati terhadap si manta sting ray kecil beracun yang suka bersembunyi mengubur dirinya dengan pasir pantai.  Buntutnya yang beracun sangat berbahaya.  Kami menemukan beberapa manta sting ray kecil pada saat menaiki perahu kami kembali untuk melanjutkan petualangan kami.

Di beberapa spot di sekitar Pulau Sangalaki, kami kembali bersnorkell.  Pemandangan bawah laut di sini pun tak kalah indahnya dengan yang di Pulau Derawan.  Saat kecapaian dan lapar karena bersnorkell kami akan naik ke perahu untuk menyantap mie rebus yang dimasak di atas perahu atau menyantap biscuit-biskuit yang kami bawa dari Jakarta.  Hilang sudah kepenatan pekerjaan rutin yang biasa membebani kami setiap hari.  Di sini kami hanyalah sekelompok petualang bebas.

Bermain Bersama Ubur-ubur Kakaban

Puas bersnorkell di sana sini, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Kakaban.  Kami sudah tidak sabar untuk melihat sendiri danau ubur-ubur air tawar yang ada di tengah Pulau Kakaban.

Setibanya di Pulau Kakaban, laut masih surut hingga perahu kami tidak bisa merapat di dermaga kayu yang ada disana.  Kami pun segera menceburkan diri ke laut dan sibuk menikmati keindahan pemandangan bawah laut sambil berusaha berenang menuju dermaga.  Laut yang surut sangat menyulitkan kami karena terlalu dangkal untuk direnangi tetapi terumbu karang yang terhampar didepan kami sangat tidak mungkin untuk diinjak, apalagi kalau tidak memakai alas kaki.  Kami harus pandai-pandai memilih permukaan yang tidak ditumbuhi terumbu karang hidup.

Sesampainya di bawah dermaga kayu, kami segera memanjat ke atas dermaga yang cukup tinggi.  Dari dermaga ini terdapat jalan yang terbuat dari papan-papan kayu, menembus hutan hingga ke danau Kakaban.  Dan tampaklah di depan kami sebuah danau berair tawar yang sangat penuh dengan ubur-ubur berwarna putih kecoklatan, begitu banyaknya ubur-ubur ini, berenang memantul-mantul dan berkepak-kepak dari bawah ke atas dan sebaliknya.  Ubur-ubur yang besar tampak mendekam di dasar danau, yang kecil tampak berenang di permukaan.  Menakjubkan…!!!

Ubur-ubur Kakaban

Awalnya saya merasa ngeri untuk menceburkan diri ke danau yang penuh dengan ubur-ubur itu.  Tapi menurut informasi, ubur-ubur ini tidak menyengat seperti ubur-ubur lainnya.  Teman-teman saya sudah menceburkan diri dan sibuk bersnorkell mengintip para ubur-ubur, bahkan memegang dan mengangkatnya di atas telapak tangan ke permukaan danau.  Tanpa air, ubur-ubur ini jadi seperti kue apem atau kue serabi cokelat, kenyal seperti jeli.  Air di danau ini sangat sejuk.  Mungkin karena rimbun dinaungi pepohonan.

Menurut beberapa informasi dari internet, katanya ada goa bawah air yang tembus dari danau ini menuju lautan. Tapi informasi ini tidak begitu jelas.

Kami tinggalkan Danau Kakaban dengan berjuta-juta jelly fish di dalamnya, dilanjutkan dengan ber-snorkell di depan dermaga.  Di sini terbentuk tebing karang yang sangat curam, ditumbuhi dengan berbagai jenis terumbu karang beraneka warna dan bentuk.  Taman bermain yang cantik ini penuh diisi berbagai jenis ikan laut warna warni.  Terasa begitu nyaman dan damai mengambang diam diantara ribuan ikan-ikan itu.

Hari sudah semakin siang, bersnorkell membuat perut kami keroncongan.  Kami makan mie seduh yang airnya dimasak diatas perahu.  Kami benar-benar merasa sudah seperti manusia perahu.  Makan dan tidur diatas perahu.  Lalu kami melanjutkan berperahu menuju Pulau Maratua.

Bersirobok dengan rombongan penyu

Sore hari kami tiba di perairan sekitar Pulau Maratua yang sedang pasang.  Kami mampir sebentar di Maratua Paradise Resort. Dalam perjalanan menuju dermaga Pulau Maratua kami berpapasan dengan serombongan penyu yang sedang bermigrasi.  Sungguh suatu pemandangan yang menakjubkan.  Air laut yang jernih membuat penyu-penyu tersebut terlihat jelas dari atas perahu, penyu-penyu berukuran besar melintas di kiri kanan perahu kami, membuat kami semua histeris karena takjub.

Di dermaga kayu Pulau Maratua, pantainya seperti terlihat kotor dengna banyaknya gelondongan kayu yang terdampar.  Katanya kayu-kayu tersebut terbawa arus sungai yang sedang banjir.  Anak-anak kecil tampak asyik bermain air, melewatkan waktu di sore hari yang cukup cerah ini.  Kami bermalam di Pondok Wisata yang ada di dekat dermaga.

Kampung Maratua dermaga_maratua

Pulau Maratua ini, kalau di peta terlihat seperti huruf U, kami berada di sisi U yang luar, untuk memutari pulau Maratua menuju sisi U bagian dalam, diperlukan waktu 1 hari berperahu, tapi hanya diperlukan waktu 15 menit berjalan kaki memotong pulau, melintasi perkampungan Maratua.

Pagi hari kami menuju dermaga yang ada disisi U bagian dalam.  Tujuan kami selanjutnya adalah Pulau Nabucco, pulau kecil yang ada di ujung kaki si pulau U.  Dermaga yang ini membelah hutan bakau.  Saat itu langit sangat cerah dan lautpun tampak tenang.  Anak-anak tampak bermain-main diatas perahu-perahu kecil.  Kami menyewa perahu kecil seharga Rp.100.000 untuk mengantarkan kami ke Nebucco.

Di Pulau Nebucco ini terdapat 1 dive resort.  Saat tengah hari laut disekitar Nebucco ini mengalami surut.  Hingga hanya tersisa sedikit laut yang masih berair, pulau-pulau karang yang tadinya terendam air bermunculan.  Dasar laut yang kini tidak berair berubah menjadi daratan yang luas.  Kepiting-kepiting kecil bermunculan dari lubang-lubang persembunyiannya.  Saling menyapa dengan sesamanya.

Selamat Berpetualang …..!!!