[Pulau Timor Barat] Edisi Desa Boti : menemukan Genset, Soeharto dan Golkar

03Sept2011

Seusai berkelana sedikit di Pulau Rote, sorenya saya melanjutkan perjalanan ke Soe, Ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Sebenarnya ada banyak sekali yang ingin saya datangi di Kab. TTS ini, seperti Desa Mollo, Gunung Mutis, Pantai Kolbano, tapi  tujuan utama saya memang pergi ke Desa Boti yang katanya seperti Suku Baduy-nya NTT.

Peta Lokasi Desa Boti

Peta Lokasi Desa Boti

Dari Pelabuhan Tenau (Kupang) saya ngojek ke tempat ngetemnya bis-bis Soe. Ongkos bis Kupang-Soe 20rb. Dapat bis jam 4 sore, sampei di So’e jam 6 sore.  Minta diturunkan di hotel, diturunkanlah daku di Hotel Sejati. Besoknya pagi-pagi baru berangkat ke Desa Boti.

Kota So’e memang dingin, apalagi pagi-pagi dan ngebut diatas motor ojek yang menderu pada kecepatan 80 km/jam (diam-diam saya mengintip speedometer dari balik bahu mamang ojek yang masih muda ).  Yahhh…maklum masih pagi, masih belum banyak saingan bis-bis lintas Timor di Jalan Raya Lintas Timor yang mulus dan lebar ini.  Sepanjang jalan, masih banyak dijumpai rumah bulat beratap ilalang dan berpintu rendah, asap mengepul dari puncak atap bulatnya.  Karena penasaran, saya sempat minta berhenti dan mampir disalah satu rumah warga yang memiliki rumah bulat di pekarangan belakang rumahnya.  Ibu tuan rumah yang baik hati, untungnya bersedia mengijinkan saya masuk ke dalam rumah bulat yang kini hanya digunakan sebagai dapur saja itu.

Ume Kbubu

Ume Kbubu

Di Kota Niki-niki, kami belok kanan (serong kanan, kalau kata orang NTT), memasuki jalan aspal yang rusak dan rusak parah kondisinya.  Di Pasar Desa Oinlasi (Kecamatan Kie), kami ambil jalan kanan lagi, tapi sebelumnya berhenti di warung untuk beli oleh-oleh pinang sirih, tembakau, dan kue-kue, serta bekal minum untuk kami.  Pasar Oinlasi ini ramainya setiap hari Selasa, dan sangat menarik untuk dikunjungi dan untuk berburu kain tenun khas Timor.

Jalanan semakin bertambah buruk, dan kami berulangkali tersesat salah jalan karena tukang ojeknya belum pernah ke daerah ini.  Bahkan kami dihadapkan pada tebing yang longsor, tapi masih bisa dilewati dengan motor walaupun harus extra hati-hati.

Bis trayek Kupang-Oinlasi

Bis trayek Kupang-Oinlasi

Di bawah tebing, terlihat banyak orang berkumpul, saya pun turun untuk sekedar melepas penat sambil mengobrol dengan mereka.  Rupanya mereka tengah menanam bibit pohon ke dalam poly bag untuk kemudian hari ditanam di tebing yang longsor tadi.  Semuanya murni dari prakarsa masyarakat setempat, tidak ada campur tangan pemerintah maupun LSM.

Penghijauan

Penghijauan

Rupanya dari longsoran tebing ini, Desa Boti Dalam tidak jauh lagi, tapi tetap saja kami nyasar lagi dan ketemu gerbang pagar kayu yang salah !!  Tapi akhirnya sampai juga kami di depan pagar kayu yang benar, masuk ke pelataran luar, lalu ada pagar lagi ke halaman dalam.

Pagar yang salah

Pagar yang salah

Saya ragu-ragu untuk masuk karena sepi sekali, tidak ada siapapun.  “Permisiii…..” teriak saya berkali-kali, akhirnya ada seorang ibu tua muncul sambil membawa sapu lidi, tersenyum, dan membukakan pintu pagar, lalu bicara dalam bahasa Boti (bahasa Dawan) yang tidak saya mengerti, mungkin mempersilahkan saya masuk.  Rupanya beliau tidak bisa berbahasa Indonesia, untungnya lalu muncul perempuan belia yang bisa berbahasa Indonesia.  Nona Klui namanya, rupanya pernah sekolah hingga tamat SMP, tapi tidak melanjutkan sekolahnya karena “Mau menenun saja di sini…” begitu jelasnya dengan suara lirih dan senyum malu-malu.

Suasana area depan Wilayah Boti Dalam

Suasana area depan Wilayah Boti Dalam

Saya dibawa masuk melalui 1 pintu pagar lagi ke area halaman dalam Sonaf Raja Boti (Sonaf = istana), menuruni undakan-undakan dari batu.  Teduh sekali suasana disini.  Saya diterima di teras depan.  Ada bangku kayu kelapa untuk duduk-duduk, dan kursi kayu kusam buatan sendiri, juga kursi plastik dari toko yang juga sudah usang.  Yang menarik, disekitar tempat duduk ada beberapa potongan bambu besar untuk membuang ludah selama mengunyah sirih pinang.

Suasana di Sonaf Raja Boti

Suasana di Sonaf Raja Boti

Ahh ya… saya teringat dengan sirih pinang dan kue-kue yang saya beli di Oenlasi tadi.  Ibu tua, Nona Klui, dan anak perempuannya Ibu Tua, segera mengambil pinang sirih dan mulai mengunyahnya.  Untung saya tidak ditawari untuk mengunyah juga.  Ada goreng pisang hangat dan ubi jalar rebus, serta teh manis hangat yang disodorkan kepada saya.  Enak sekali rasanya, karena semuanya hasil kebun sendiri, bahkan minyak gorengnya pun buat sendiri dari kelapa yang banyak tumbuh di sini.  Jadi harumnya beda sekali dengan “pisgor kota” .

Jamuan untuk saya, tamu tak diundang :-p

Jamuan untuk saya, tamu tak diundang :-p

Sambil makan pisang goreng, saya banyak bertanya tentang adat keseharian Boti, tapi selalu di jawab dengan “Nanti Mama Raja kasih jelaskan.  Saya tidak boleh kasih jelaskan sebelum Mama Boti kasih jelaskan.”  Ketika saya tanya kenapa, jawabnya adalah “Nanti kalau semua orang boleh kasih jelaskan, maka semua orang adalah Raja.  Raja Boti su tidak ada lai, itu tidak boleh”.  Begitupun ketika saya minta izin untuk foto-foto, baru boleh jika Mama Raja sudah memberi penjelasan.  Ahh…sungguh adab sopan santun yang sangat luhung.  Tapi jadinya sukar sekali untuk mencari topik pembicaraan umum yang bisa sama-sama kami obrolkan.

Saat pisang goreng saya sudah hampir habis, Mama Raja yang ternyata adik bungsunya Bapa Raja Usif Nama Benu, bersedia datang dan mengobrol dengan saya.  Berkebaya putih dan berkain tenun khas Boti dengan warna merah pudarnya yang sangat khas itu.  Yang menarik perhatian saya adalah tenunan motif lambang Partai Golkar yang berderet menghiasi kancingan kebayanya.  Ketika dengan berkelakar saya bertanya tentang hal itu, dengan senyum lembut beliau berujar “Partai Golkar-nya itu baik, yang buat jadi tidak baik itu adalah orang-orangnya”.  Lagi-lagi saya tertohok oleh kebijaksanaan adi luhung Suku Boti.

Sewaktu saya melongok ke dalam Sonaf (istana Raja Boti), didinding belakang kusi kebesaran Raja Boti masih tergantung foto hitam putih alamarhum mantan Presiden Soeharto di sebelah kanan foto almarhum Raja Boti terdahulu.  Ya Tuhan…., sepertinya waktu memang terhenti di sini.  Semuanya seperti datang dari masa lalu.  Yang sedikit merusak suasana masa lalu itu hanyalah lambang partai itu, lalu genset merah disamping sonaf beserta kabel-kabel listrik.  Genset itu ternyata sumbangan dari Dinas Budaya dan Pariwisata .

boti6

Sayangnya saya tidak bisa bertemu dengan Bapak Raja, bahkan tak seorang lelaki Suku Boti pun saat itu, karena mereka semuanya sedang pergi ke ladang.  Sebenarnya saya penasaran ingin melihat adat “gelungan rambut” pria Boti, yang kata teman saya seperti gambar-gambar orang jaman Majapahit.  Saya juga tidak menemukan anak-anak kecil di sini, hanya wanita remaja dan dewasa saja, termasuk Nenek Raja, istri mendiang Raja Boti terdahulu yaitu Usif Nune Benu (wafat pada bulan Maret 2005).

Desa Boti Dalam ini sepertinya memang sudah “sedikit dipoles” untuk kepentingan wisata.  Sehingga di halaman depan telah dibangun semacam “penginapan” untuk wisatawan dan sudah dibangun pula MCK “normal” seperti yang biasa kita “warga m1/2 modern” gunakan sehari-hari.  Di sana juga sudah dibangun semacam “showroom” yang berisi kain tenun dan berbagai kerajinan tangan untuk dijual.  Bahkan tersedia pula showroom untuk demonstrasi pemintalan benang kapas dan proses menenun,  para perempuan Boti yang ditugaskan untuk memperagakan proses memintal benang kapas dan menenun juga sudah siap sedia memperagakan keahliannya kepada setiap tamu yang datang.  Sesuatu yang kurang hanyalah proses pewarnaan yang memang “sangat rumit” bagi kita-kita yang tidak terbiasa melakukannya dan prosesnya sendiri memang memakan waktu yang sangat panjang pula.  Seperti yang pernah saya lihat di Desa Kaliuda (Sumba Timur).

Aneka tenun Boti yang indah.  Woowww...... bingung sendiri pilihnya

Aneka tenun Boti yang indah. Woowww…… bingung sendiri pilihnya

Lagi-lagi adat Boti yang “melarang tuan rumah makan sebelum tamunya selesai makan” membuat saya harus makan siang sendirian disaksikan oleh Tuan Rumah yang duduk “ngedeprok” bersandar di tiang pintu.  Awalnya agak risi, makan ditonton seperti itu, tapi saya harus “menguatkan diri” dan terus makan sebanyak yang saya mampu, guna menghormati sang tuan rumah yang begitu baik hati dan penuh adab sopan santun. Semua bahan makanan yang disajikan merupakan hasil kebun dan ternak sendiri, mungkin hanya garam saja yang dibeli.  Makanannya disajikan dalam wadah-wadah yang terbuat dari batok kelapa, tembikar, dan anyaman daun lontar.  Ukuran sendok makan dari batok kelapa yang cukup besar, sedikit menyulitkan untuk mulut kecil saya.  Adat Boti memang mengharuskan untuk menjamu tamunya makan sebelum pulang.

Saya memang SMP, Sudah Makan Pulang dehhh….

Kira-kira jam 12 siang saya membangunkan tukang ojek yang sedang tidur lelap dibawah pohon rindang.  Lalu kami memulai perjalanan pulang yang sama beratnya seperti tadi waktu berangkat.  Kali ini kami mengambil jalan lain, tidak melewati sungai super lebar itu, tetapi melewati jalanan yang biasa dilalui oleh truk-truk pengangkut pasir, batu dan kayu, serta yang biasa dilalui oleh kendaraan 4WD yang biasa disewa oleh para turis.  Dan seperti tadi ketika berangkat, kali ini pun kami bertanya ditiap belokan jalan supaya tidak nyasar.

Longsor dimana-mana

Longsor dimana-mana

 

Tapi ternyata jalur inipun sudah rusak parah, bahkan putus karena longsor di 2 tempat yang berbeda.  Yang tersisa hanya seruas jalan setapak di bibir jurang dan berdinding tebing kapur kering yang sewaktu-waktu masih bisa longsor lagi.  Saya pun tidak berani tetap duduk di ojek selagi melewati jalur ini.

Pfffiuhhhh….benar-benar jalur yang sangat menantang…

“Selamat bertualang ke Desa Boti”

=======================================================================

 

Penginapan di So’e :

Hotel Sejati, Jl. Gajahmada No. 18, phone 0388-21101 (tarif Rp.100rb per malam, kamar mandi dalam)

 

Transportasi :

  • Kupang-Soe dengan bis kecil , Rp.20rb, 2 jam, bisnya ada sampai malam
  • Soe-Desa Boti dengan ojek (Rp.100rb, sudah termasuk bensin)

Informasi mengenai Budaya Suku Boti yang cukup lengkap :

Tips :

  • Jangan lupa membawa oleh-oleh kue-kue , speaket sirih+pinang+tembakau
  • Berikan “sumbangan” sewajarnya
  • Wajib mengikuti segala adat yang berlaku
  • Bertutur kata santun
  • Memakai sunblock, topi, kaca mata, dan membawa air minum untuk persediaan selama perjalanan, dan jas hujan kalau perginya pas musim hujan
  • Berangkat sepagi mungkin dari So’e supaya kebagian bis ke Oinlasi, dan kesananya tidak terlalu panas. Yang terbaik memang nyewa ojek dari Oinlasi atau dari Desa Tumu (sebelum Oinlasi), selain pastinya lebih murah (mungkin Rp60rb pp), ojeknya pasti banyak yang sudah pernah ke Desa Boti jadi sudah berpengalaman dengan trayek offroad-nya yang ekstrim, kalau nyewa ojek dari Soe, kemungkinan besar belum pernah ke Desa Boti

Ke Atambua aja ahh…

29-30 September 2014

“Duluan yaaa….!!” teriakku pada semua teman-teman baruku peserta dan panitia Perhelatan Festival Adventure Indonesia – Lembata 2014 yang dilaksanakan tanggal 24-28 September 2014 dan baru saja usai.

Jam 4 subuh, kami baru saja mendarat di Pelabuhan Bolok (Kupang, NTT), setelah 12 jam lamanya diayun gelombang Laut Sawu diatas ferry Lewoleba-Kupang.

Awalnya aku masih bingung mau kemana untuk menghabiskan 2 hari terakhir di NTT sebelum pulang ke aktifitas rutin.  Pilihanku ada 2, yang pertama adalah Pulau Semau yang tidak begitu jauh dari Kupang, hanya kira-kira 30 menit saja naik perahu.  Yang kedua adalah Atambua dan perbatasan Timor Leste yang jaraknya lumayan jauh dari Kupang, sekitar 6-7 jam perjalanan bermobil.

Mungkin kesejukan udara Kupang subuh-subuh yang akhirnya membantu menetapkan pilihanku.  Baiklah…. aku akan ke Atambua lalu ke perbatasan Indonesia – Tomor Leste…!

Jadi….

“Duluan yaa…, sampai ketemu lagi di trip selanjutnya…  Nanti kontak-kontak di FB yaa…,” aku pun berpamitan pada teman-teman baruku itu.  Lalu bergegas menaiki ojek motor yang sejak tadi membujuk-bujuk aku.  Tujuanku adalah ke Agen Timor Travel, salah satu dari 2 biro perjalanan yang melayani trayek Kupang – Dili.

Subuh-subuh jalanan kota Kupang masih sunyi.  Kantor Agen Timor Travel ternyata masih belum buka, tapi sudah ada beberapa pelanggannya yang duduk-duduk menunggu di berandanya.  Jam 6 kurang sedikit, petugas mulai berdatangan.  Ternyata, selain melayani rute Kupang – Dili pp, juga melayani angkutan ke bandara Kupang.

Tarif Ongkos Timor Travel

Tarif Ongkos Timor Travel

Satu per satu armada Timor Travel berupa mobil minibus Isuzu Elf mulai berdatangan sehabis menjemputi penumpangnya satu-satu dirumahnya/hotel.  Ada sekitar 4 armada yang berangkat susul menyusul pagi itu, aku kebagian di nomor 4, bangku nomor1, alias disamping pak supir dan pas diatas mesin.  Alhasil, baru beberapa puluh menit perjalanan, kursi ku sudah menjadi kursi panas, dan betisku berulangkali dijilati logam panas.  Aduhh…mana tahan…., untunglah ternyata di bagian belakang ada kursi kosong, maka pindahlah aku…

Mobil ini tidak dilengkapi AC, jadii…..harus tahan panas yaa…

Jalan Raya Lintas Timor lumayan mulus, hanya dibeberapa lokasi ada jalan yang amblas, tebing longsor, dan jembatan yang ambruk.  Kondisi yang sehari-harinya memang lengang membuat mobil travel ini bisa dipacu rata-rata 80 km/jam.

Lengang

Lengang

Jalanan ini meliuk-liuk menembus Pulau Timor yang sejak tahun 2002 lalu petanya menjadi terpotong menjadi 2 bagian, dan terdapat sempalan kecil di bagian utara, Enclave Oecussi milik Timor Leste.

Ruteku 24-30Sept2014

Ruteku 24-30Sept2014

Ketika melewati percabangan ke kiri ke arah Desa Fatumnasi sebelum memasuki kota So’e yang dingin, aku jadi teringat lagi serunya perjalanan berojek ke sana, keindahan sepanjang perjalanan, dinginnya udara malam di Lopo Mutis dan keindahan pagi di kaki Gunung Mutis itu (https://dians999.wordpress.com/2012/10/19/desa-fatumnasi-ntt-atap-pulau-timor/).  Di percabangan ke kanan di Niki-niki, aku teringat lagi perjalanan berojek ria ke Desa Boti, jalan yang sangat sulit karena banyak longsoran, nyasar sana sini karena mamang ojek nya yang masih belum berpengalaman 🙂

Di Kota Kefamenanu kami rehat sejenak untuk makan siang, dengan menu nasi rendang Padang J  Warung-warung makan masakan padang, warung bakso/soto, warung sate, pecel lele, dan aneka warung makan yang biasa kita jumpai di Pulau Jawa, banyak bertebaran di sepanjang rute ini.

Tengah hari kami sampai di Atambua.

“Paspor..paspor… Minta tolong dikumpulkan paspornya..!” teriak Pak Supir.  Setumpuk paspor hijau RI dan paspor merah marun Timor Leste diserahkan kepadanya.

Rupa-rupanya paspor-paspor ini mau didata di Kantor Agen Timor Travel Cabang Atambua, guna mempermudah urusan imigrasi.

“Saya tidak ya Bapak, saya turun di Mota’ain..,” kata ku.

“O…kaka tidak pigi Dili kah..??  Sampai batas sa…” kata pak supir.

“Iya Bapak.., saya turun di batas,” jawab ku lagi.

Lapor dulu di Kantor Agen Timor Travel - Atambua

Lapor dulu di Kantor Agen Timor Travel – Atambua

Dari Atambua ke Motaain ditempuh sekitar 30 menit, jalanannya meliuk-liuk menuruni bukit, dihiasi longsor di sana sini.  Lalu sampailah di tepi batas Indonesia – Timor Leste.

Mobil-mobil Timor Travel parkir didekat kantor Imigrasi.  Dibelakangnya terdapat terminal, yang saat itu kosong melompong.  Penumpang semuanya diminta turun, untuk urusan keimigrasian.  Tak berapa lama paspor-paspor dibagikan kembali ke pemiliknya masing-masing.

Suasana di seputar portal batas Negara Republik Indonesia

Suasana di seputar portal batas Negara Republik Indonesia

Kantor-kantor sederhana untuk urusan imigrasi, karantina, dlsb berderet-deret.  Disitu juga ada Kantor Cabang Bank Mandiri untuk keperluan penukaran mata uang rupiah ke dollar dan sebaliknya.  Dididekatnya ada barak tentara penjaga perbatasan.  Diseberangnya dekat gerbang batas Indonesia ada taman kecil tapi lumayan apik, dilengkapi dengan bangku-bangku beton di bawah pohon, ada pula toko cinderamata khas Timor Leste yang bangunannya cukup apik, serta warung jajanan disebelahnya.

Dan…dari semuanya inilah dia gerbang batas akhir Wilayah Indonesia, sederhana, dengan palang kayu dicat belang hitam putih sebagai penghalang jalanan, yang digerakan secara manual oleh Tentara Loreng Hijau TNI Penjaga Perbatasan.

Disebrang gerbang batas adalah wilayah netral , bersisian dengan laut.  Dan di ujung wilayah netral sana, ada gerbang Bem vindo a Timor Leste (Welcome to Timor Leste) yang sangat megah.  Gedung Imigrasinya pun tak kalah megahnya, begitu juga portal keluar masuk kendaraannya, megah-modern-rapi.

Rupa-rupanya ada 2 jenis travel, yang terus sampai ke Dili, dan yang hanya sampai perbatasan saja, seperti mobil yang aku tumpangi.  Penumpang-penumpang yang tadi semobil denganku dan akan menuju Dili, dan urusan keimigrasiannya sudah selesai kemudian berjalan kaki dengan membawa segala barang bawaannya, melintasi portal batas Indonesia, memasuki wilayah netral, dan kemudian melapor lagi di kantor imigrasi Timor Leste, kemudian menaiki mobil lain yg juga milik Timor Travel.  Bagi warga negara lain, termasuk WNI, terlebih dahulu harus mengisi formulir aplikasi dan membayar visa sebesar 25 USD.

Aku yang memang tujuannya hanya sampai perbatasan sini, hanya celingak-celinguk disekitar taman perbatasan, lalu duduk-duduk mengobrol saja dengan para anggota TNI yang sedang berjaga di portal perbatasan.

Salah seorang anggotanya berbaik hati mengantarku ke wilayah netral dan ke wilayah batas Timor Leste untuk berfoto-foto.  Pantainya landai dan membentang cukup panjang.  Nelayan hilir mudik diatas sampan, tanpa harus melapor di portal.  Muda-mudi banyak yang duduk-duduk ditepi pantai wilayah netral, diketeduhan pohon rindang.  Petugas-petugas imigrasi Timor Leste tersenyum dengan cukup ramah dari lobby gedung megahnya.

Diseberang Portal Perbatasan

Diseberang Portal Perbatasan

Unik juga mengamati aktivitas keluar masuk orang dan kendaraan di portal batas Indonesia.

“Lapor Pak, saya permisi lewat, sebentar saja, mau ambil pisang di kebun..’” kata seorang bapak-bapak berkaos belang-belang.  “Oke…, sebentar saja tapi ya.., cepat kembali..!” kata bapak tentara.  Portal ditarik naik, dan Si bapak berkaos belang-belang pun lewat lah dengan sepeda motornya , tanpa paspor, tanpa visa.

“Permisi Pak.., mau beli minuman dingin di warung sebelah,” kata Bapak tentara Timor Leste berbaju loreng coklat yang masuk dari arah Timor Leste dalam mobil putih four-wheel drive yang gagah.  “Oke Pak, silahkan Pak..” kata Bapak Tentara Loreng Hijau, portal pun dibuka, mobil berplat Timor Leste beserta 2 tentara didalamnya pun lewat, tanpa paspor, tanpa visa.

“Permisi Pak.., mau masuk sebentar , ambil barang dagangan di sana..,” kata si Bapak WNI berkaos putih sambil menunjuk ke arah Timor Leste.  “Pakai helm.., ambil helm dulu.., pakai…, kalau tidak pakai helm, tidak boleh masuk..!” hardik tentara loreng hijau.  Sementara Si Bapak berkaos putih sudah ngeloyor masuk dengan sepeda motornya, tanpa helm, tanpa paspor, tanpa visa.

“Makasih masbro…, besok kami ke sini lagi..” seru akrab tentara loreng coklat Timor Leste yang tadi masuk katanya mau beli minuman dingin itu.  “Oke.., masbro…, kalau ada minuman enak disana, kasih kita ya..” seru tentara loreng hijau tak kalah akrabnya.   Portal kembali dibuka, mobil berplat Timor Leste beserta 2 tentara didalamnya pun kembali ke negaranya, tanpa paspor, tanpa visa.

Lain waktu, dari arah Timor Leste datang lagi sebuah Kijang Inova merah marun, supirnya turun, keturunan Chinese, “permisi Bapak, saya mau ambil barang dagangan, sebentar lagi istri saya dari Atambua antar kesini, minta ijin untuk parkir disini”

Si istri pedagang pun datang dengan mobil Avanza, barang dibongkar dari bagasinya, dipindah ke bagasi mobil suaminya, disitu, di portal batas.

Haha..seru juga mengamati kehidupan disekitar portal batas.

Aku sejak tadi memang nongkrong saja di situ bersama para tentara penjaga portal, ngobrol ngalor ngidul, jajan mie bakso malang, jajan ice cream walls conello (c), dan ketawa-ketawa.

Sebentar lagi jam 4 sore, saatnya portal ditutup.  Kalau ada pelintas batas yang kemalaman, akan disuruh menginap di mess tentara, katanya.

Tidak ada penginapan di sekitar tapal batas sini, adanya di Kota Atambua sana.  Bingung juga mau kembali ke Atambua karena sore-sore begini sudah tidak ada kendaraan umum.  Paling banter naik ojek, ongkosnya pun mahal, 50rb – 100rb katanya.

Ketika si istri pedagang etnis Chinese telah selesai memindahkan barang-barang dagangannya ke mobil suaminya, akupun iseng-iseng bertanya, “Bu, mau kembali ke Atambua ya..?”.

“Iya..,” jawab si Ibu.

“Wahh…, saya mau ikut, bolehkah..?  Saya bingung mau ke Atambua, katanya sudah tidak ada mobil angkutan jam segini, cari-cari ojek juga belum dapet-dapet,” kata saya dengan sedikit memelas.

“O iya…kamu ikut Ibu ini aja, biar aman, ke Atambua nya,” kata si Bapak Tentara penjaga portal.

“Iya.., kamu ikut saja….  Naik ojek bahaya sore-sore begini…,” kata Bapak Tentara yang satunya lagi.

“Ya udah, Mbak nya naik aja.., barang bawaanya banyak ngga…?” kata si Ibu , takut juga mungkin sama tentara-tentara itu kalau menolak.  Tapi, kelihatannya si Ibu agak mangkel juga ditebengi cewek dekil bawa keril, sedangkan beliau itu menyupir sendiri.  Pembantunya, ABG perempuan, duduk manis saja di kursi penumpang depan.

Alhamdulillah….akhirnya aku pun bisa kembali ke Atambua dengan sangat nyaman.  Aku turun di depan ruko besaaarrr…. milik si Ibu di kawasan Pasar Baru Atambua.  Si Ibu ini ternyata kelahiran Atambua, dan sepertinya usaha dagangnya cukup sukses, di Atambua, Dili dan Surabaya.

“Terimakasih banyak ya Buu…, maaf merepotkan, “ kata saya berpamitan.

Dari sana, saya lanjut ngojek mencari penginapan.  Penginapan Nusantara II yang berada di area Pasar Baru memang lokasi nya cukup strategis, tapi harganya lumayan mahal untuk ukuran budget ku, yang termurah 150rb per malam.  Saya lanjut lagi ke arah simpang lima, tadi waktu masih di travel sempat lihat ada Hotel Liurai dekat alun-alun simpang lima.

Lumayan harganya, 100rb per malam, kamar dengan 2 tempat tidur kecil, kipas angin kecil dan kamar mandi dalam.  Begitu kamarnya dibuka.., nyamuknya banyaaaakkk sehingga harus dikasih semprotan obat nyamuk dulu.  Bentuk kamar-kamarnya seperti kost-kostan mahasiswa.  Lokasinya persis di samping alun-alun simpang lima.  Disekitar situ ada banyak warung-warung makan, makanan Jawa pastinyaaa…  Harganya pun sama seperti di Jawa.

Esoknya pagi-pagi buta, aku sudah ngacir lagi di ojek untuk mengejar bus paling pagi ke Kupang, karena nanti sore aku harus terbang pulang ke Jakarta.

Udara Atambua malam dan pagi-pagi begini, dingiiiinnn….sekali.  Aplikasi weather di HP menunjukkan suhu 19 derajat celcius.  Brrrr…..dinginnyaaa…..  Bis-bis pagi sudah pada ngetem di terminal bayangan, orang sini menyebutnya.  Aku naik ke bis yang mesinnya sudah dihidupkan, tanda sudah mau berangkat.  Ternyata si bis, putar-putar dulu jemput penumpang.  Jam 6 lebih, bis berangkat menuju Kupang.  Cukup nyaman juga tempat duduknya. Ongkosnya 65rb. Istirahat makan siang 1 kali di Kota Kefamenanu, nasi padang lagi :-p

Bis tiba di Terminal Oebobo di Kota Kupang sekitar jam 1 siang.

Nahhh…. rasa penasaranku tentang seperti apa rasanya kehidupan di perbatasan 2 negara yang dulunya merupakan satu kesatuan, sudah sedikit terjawabkan….walaupun cuma sebentar saja.  Dan, kurasa “kami” seharusnya tidak berpisah hikss….. 😥

=======================================

UUPSS….TERNYATA SALAH JALUR

“Oiiiiii…. LEWAT MANAAAA…???” teriakku menyahuti teriakan-teriakan yang kudengar dari balik rimbunnya kebun pisang yang tiba-tiba saja hadir dihadapan jalur jalan setapak rute turun gunung yang sejak tadi aku ikuti.

Kebun pisang inilah yang akhirnya menyadarkanku bahwa aku telah salah ambil rute turun Gunung Api Lewotolok (1450 MDPL, gunung api tertinggi di Pulau Lembata, NTT). Seingatku waktu nanjak semalam dari Desa Lewotolok, tidak melewati kebun pisang super rapat seperti ini (baca kembali kisah nanjakku di sini : https://dians999.wordpress.com/2014/10/03/terkoyaknya-kesunyian-surgawi-ile-ape-lewotolok/ ).

“LEWAT SINI…!!!” jawab sebuah suara dari sebelah kanan rerimbunan pohon pisang, disusul teriakan-teriakan lainnya.

Dan diantara rapatnya pohon pisang, aku bertemu lagi dengan Bapak pendaki lokal yang tadi mendahului, juga temanku, juga si anak kecil, juga pendaki-pendaki lainnya yang tadi mendahuluiku.

Total kami jadi ber-11 orang, terdiri dari 9 orang laki-laki (7 orang penduduk lokal dan 2 orang pendatang / peserta Festival Adventure), dan 2 orang perempuan (pendatang / peserta Festival Adventure Indonesia 2014 di Lembata).

Ternyata mereka telah sadar bahwa telah salah jalur turun dan memutuskan untuk menungguku disitu. Wahhh…terimakasih banyak kawan telah menungguku.., pasti lama sekali ya karena jalanku selambat siput…
Cerita punya cerita sepertinya kami salah mengambil rute ke arah kiri sewaktu di POS 2 tadi di padang savana. Aku bahkan tidak melihat bahwa di situ ada percabangan.

View dari Puncak Ile Lewotolok ke arah Ile Boleng di Pulau Adonara. Tenda kecil di padang savana itu adalah POS 2. Di dekat situ katanya adanya percabangan jalur.

View dari Puncak Ile Lewotolok ke arah Ile Boleng di Pulau Adonara.
Tenda kecil di padang savana itu adalah POS 2. Di dekat situ katanya adanya percabangan jalur.

Dan, rata-rata dari kami baru menyadari diri sudah tersesat ketika sudah sampai di kebun pisang. Katanya, tadi sebelum aku datang bergabung, ada yang punya usulan untuk kembali naik menyusuri rute yang sudah kami lewati tadi…. “Ohhh…tidak kakak…..kami sudah tidak sanggup untuk mendaki lagi..!!!” Jadi diputuskan untuk terus turun mencari jalan keluar. Menurut Bapak-bapak penduduk lokal, lokasi kami ini katanya ada disekitar Desa Kolontobo.

Posisi Desa Lewotolok (start pendakian) vs Desa Kolontobo (lokasi tersesat).

Posisi Desa Lewotolok (start pendakian) vs Desa Kolontobo (lokasi tersesat). Foto insert kiri : kawah lama Ile Lewotolok.  Foto insert kanan : puncak sejati Ile Lewotolok.

Rute yang semula jelas untuk dikuti, kini hilang sama sekali diantara rapatnya pohon-pohon pisang. Kami bergerosakan mencari jalan keluar, mentok lagi di belukar bambu liar. Mata jeli pendaki lokal berulang kali memberi peringatan adanya bahaya jebakan babi hutan yang dipasang penduduk setempat. Jika terinjak maka kami bisa terperosok dalam lubang perangkap, atau terikat tergantung diatas pepohonan dengan kepala menghadap tanah..

Rombongan sempat terpencar karena mencari jalan keluar berbeda, tapi lalu bisa berkumpul kembali di rute jalan setapak yang tembus di kebun kelapa.

Masih sangat beruntung bahwa diantara kami ada penduduk setempat , dan membawa parang pula, bisa digunakan untuk menebas belukar dan untuk menebas kelapa muda yang sangat lumayan untuk menghilangkan dahaga dan sedikit mengganjal perut.

Nah, jika yang tersesat adalah si orang kota pendaki hora-hore… yang hanya bersenjatakan handphone dan kamera…, apalah jadinya kami nanti…?? Ehh…tapi beruntung juga…di lokasi ini sinyal Telkomsel lumayan kencang, sehingga senjata HP canggih ber-GPS milik si orang kota pendaki hora-hore bisa digunakan untuk melihat posisi kami dan mengabarkannya pada kawan-kawan Panitia Festival Adventure Indonesia 2014 dan Dinas Budaya & Pariwisata Lembata.

Insert foto adalah lokasi GPS real kami pada saat tersesat dan mencapai kebun kelapa (Screen shot oleh Dee Je).

Jadi…., seharusnya kami naik dan turun gunung dari dan ke Desa Lewotolok lagi, karena salah ambil rute turun, kami malah menuju ke arah Desa Kolontobo. Dan ternyata lagi…, lokasi kebun pisang dan kebun kelapa itu masih sangat jauuuuhhhhh….dari perkampungan.

Selepas dari kebun kelapa sampailah kami ke jalan tanah buntu yang baru dibuka. Jalannya cukup lebar, cukup untuk dilewati 2 mobil bersisian. Jalan tani, demikian penduduk setempat menamakannya. Tanah nya gembur dan kering diterpa sinar garang matahari Lembata menjelang tengah hari. Setiap jejakan kaki menimbulkan kepulan debu yang langsung tertiup angin. Pepohonan di kiri kanan jalan , semuanya kering meranggas berwarna putih, katanya itu adalah pohon minyak kayu putih. Dibawah pepohonan, terhampar ilalang dan tanah bebatuan berwarna hitam habis terbakar. Tidak ada lagi pohon kelapa dan pohon pisang.

Panas…, debu…, letih…, haus.., lapar.., dan jari-jari kakiku sakit bukan alang kepalang, tergencet sepatu hiking yang kurang nyaman. Untungnya sakit perut masuk angin ku sudah reda. Sakit perut gara-gara masuk angin akibat angin dingin di Puncak Gunung Lewotolok itu pula lah yang menyebabkan aku buru-buru turun gunung sendirian, walaupun kemudian tersusul beberapa pendaki yang saat ini menjadi Tim Sebelas yang Sesat.

Teman-temanku berderap menuruni jalan tanah kering berdebu yang panas membara dan entah berujung dimana. Aku kembali menjadi juru kunci paling belakang, melangkah setapak demi setapak sambil meringis-ringis kesakitan, ditemani Bapak Dominic bersaudara. Lama-lama teman-temanku menghilang di kelokan jalan. Bapak Dominic bersaudara yang kasihan melihatku akhirnya menawarkan diri untuk menggendongku…. Aduhh aku sebenarnya tidak tega mengiyakan.., dan risi juga digendong laki-laki, tapi apa boleh buat daripada semakin menghambat laju tim, maka akhirnya aku iya kan saja dan pasrah digendong bergantian beberapa puluh meter jauhnya. Karena benar-benar tidak tega, aku minta diturunkan lagi, kakiku diurut-urut.., kemudian aku jalan lagi pelan-pelan sebisanya.

Tersesat di Ile Ape Lewotolok

Tersesat di Ile Ape Lewotolok

Teman-temanku yang lain ternyata memutuskan untuk beristirahat di bawah sebatang pohon yang ajaibnya masih punya daun cukup rindang. Duduk-duduk dan tiduran di atas hamparan daun kering. Percakapan via telepon untuk meminta bantuan terus dilakukan dengan intensif. Awalnya kami sempat stress berat karena diminta untuk terus berjalan turun ke kampung / jalanan di tepi pantai. Sementara kami tidak tahu pasti berapa kilometer lagi jaraknya (menurut GPS itu sekitar 4-5 km ). Aduhhh…..aku jelas-jelas tidak sanggup…. Aku pilih menunggu saja di sini.

Negosiasi terus dilakukan, dan kabar terbaik pun datang, kami diminta untuk tidak kemana-mana, jemputan akan segera diberangkatkan menuju lokasi. Tapi karena khawatir mobil Tim Penolong tidak mampu merambah jalan tanah kering berbatu, akhirnya kami memutuskan untuk bergerak lagi, mencari lokasi yang memudahkan bagi Tim Pencari. Dan menemukan lokasi sempurna dekat gubuk ladang kosong dan rindang, jalan tanahnya pun cukup lebar dan rata.

Sementara menunggu bantuan datang, kami terlelap diatas hamparan daun-daun kering. Deru mobil seperti datang dari alam mimpi.

Horeeeee….bantuan sudah dataaang….!! Bapak Kepala Dinas Pariwisata Lembata beserta 2 stafnya datang dengan dua unit mobil Toyota Hullux 4×4 yang tangguh.

Terimakasih banyak kepada teman-teman tim sebelas, perpaduan antara pengetahuan real dari penduduk lokal dan teknologi digital si orang kota pendaki hora-hore, mempermudah proses pemanduan Tim Penolong untuk sampai di lokasi kami. Terimakasih banyak kepada Panitia FAI-Lembata 2014, Bapak Kepala Dinas Pariwisata Lembata beserta staf, dan Kementrian Pariwisata yang diwakili oleh Ibu Ratna beserta staf nya.

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Penolong, untuk segala kemudahan yang diberikan diatas segala kesulitan yang kami rasakan.

Terimakasih semesta untuk pengalaman tak terlupakan di Lembata.

===============================

Pendakian Ile Ape Lewotolok ini merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan acara Festival Adventure Indonesia – Lembata 2014 tanggal 24-28 September 2014 yang diselenggarakan oleh Way2East didukung oleh Pemda Kab Lembata dan Kementrian Pariwisata & Ekonomi Kreatif Indonesia.

===============================
Cara untuk mencapai Pulau Lembata yang cantik ini :

Via Kupang :
• Naik pesawat Susi Air (telp. 0383-41077, Kupang :+62 811 381 3801 / +62 811 381 3802, Bandara Wunopito Lewoleba +62 812 3602 5244, booking online : http://fly.susiair.com/ ).
• naik Kapal Cepat Cantika , 3-4 jam (berangkat jam 9 pagi dari Pelabuhan Tanjung Lontar, Tenau, Kupang, sampai di Pelabuhan Lewoleba sekitar jam 1 siang), jadwal Rabu (Kupang-Lewoleba-Larantuka), Kamis ( Larantuka-Lewoleba-Kupang), tarif tiket : Rp 260 ribu untuk kelas ekonomi dan bisnis, sedangkan kelas VIP, Rp 360 ribu).
• Naik kapal lambat :
• KM Bukit Siguntang : kapal PELNI Kupang-Lewoleba-Maumere-Makassar , phone 0383-41521 / 41031
• KMP Fery Ile Boleng : ferry Kupang-Lewoleba setiap Selasa , Lewoleba-Kupang setiap Sabtu, phone 0383-41521 / 41031

Via Larantuka
• Kapal Cepat Ina Maria 29 :
o Larantuka-Lewoleba : Selasa, Rabu & Kamis, berangkat pukul 09.30 wita
o Lewoleba-Larantuka : Jumat, Sabtu, Minggu, Senin, berangkat pukul 09.00 wita.
• Kapal Cepat Fantasi Express 1 (tarif : Rp 75 ribu), pp setiap hari jam 09.00 wita, phone 0383-41007 / 410008
• KM Lewoleba Karya , Larantuka-Weiwerang-Lewoleba, pp setiap hari
• KM Sinar Mutiara , Larantuka-Weiwerang-Lewoleba, pp setiap hari
• KM Alfian Lembata, Larantuka-Lewoleba, pp setiap hari jam 10 malam
• KMP Namparnos , Larantuka-Lewoleba- Baranusa-Kalabahi, setiap Senin dari Larantuka, setiap Minggu & Senin dari Kalabahi (Alor)

Kendaraan selama di Lewoleba :
Labomi atau bus truck, bus kecil, angkutan pedesaan, dan ojek

PENGINAPAN :
Hotel banyak terdapat di Lewoleba :
o Hotel Palm Indah (3 star), 0813 371 81220 / 0815 196 06853
o Hotel Lewoleba, Jl.Awolong-Walakeam-Lewoleba
o Lile Ile Backpackers Homestay, Jl. Trans Lembata
o Hotel An’nisa , dekat Pelabuhan Lewoleba (Pantai SGB Bungsu), Phone 0383-41012
o Hotel Rezeki, Jl. Trans Lembata (depan Taman Swaolsa Titen), Phone 0383-41128
o Hotel Lembata Indah, Jl. Berdikari – Lewoleba
Di Desa Lamalera :
o Falmina homestay
o Ben Homestay
o Maria Homestay
Atau bisa menginap di rumah penduduk di Jontona (apabila mengambil rute trekking via Jontona), dan di desa Lewotolok (apabila mengambil rute trekking via Jontona.

Guide trekking Ile Ape : Bapak Elias di Jontona (0812 3785 4464).
Bank di Lewoleba : BRI dan Bank NTT
Sinyal HP : Telkomsel

Where to eat :
o Restoran Berkat Lomblen, Jl. Trans Lembata – Lamahora – Lewoleba
o Restoran Bandung , Jl. Trans Lembata (dekat Hotel Rejeki)
o Restoran Ayu Nisa, Jl. Trans Lembata – Lamahora – Lewoleba
dekat pelabuhan Lewoleba banyak warung-warung makanan Jawa

TERKOYAKNYA KESUNYIAN SURGAWI ILE APE LEWOTOLOK

Sumber info mengenai gunung ini, bisa dilihat di sini : http://www.gunungbagging.com/lewotolo/

Sumber info mengenai gunung ini, bisa dilihat di sini : http://www.gunungbagging.com/lewotolo/

Tengah malam menjelang pagi, kesunyian di Ile Ape Lewotolok (Gunung Api Lewotolok, 1450 MDPL, di Pulau Lembata, NTT), terkoyak oleh teriakan-teriakan, gumaman, obrolan, tawa, dengus nafas dan keluh kesah ratusan pengunjung yang merupakan campuran dari penduduk setempat, dan peserta Festival Adventure Indonesia 2014 yang adalah pendatang dari luar provinsi NTT dan bahkan ada pula dari luar negri.

Tengah malam, dengan mata masih sepet karena kantuk, dan sambil menahan gigilan tubuh akibat dingin udara pegunungan, kami dikumpulkan di sebuah areal sedikit lapang, yang tentu saja kurang luas untuk menampung kami semua.

Pembagian kelompok pengunjung yang berniat mendaki Sang Ile Ape mulai dilakukan, dan satu persatu diberangkatkan dengan terlebih dahulu diberkati oleh Tetua Adat Lewotolok dengan air suci disertai doa keselamatan.

Satu persatu dari kami berderap melintasi Kampung Lama Lewotolok, mendaki menyusuri jalan setapak.  Awal pendakian kecepatan kami masih relatif setara, tapi semakin naik, semakin kentara mana si lambat yang tidak terbiasa berjalan nanjak, dan mana si cepat yang terbiasa  berjalan jauh dan nanjak.  Karena komposisi per kelompok merupakan campuran si lambat dan si cepat, si lambat yang sering kali berhenti untuk beristirahat, sering membuat kemacetan serius di sepanjang jalur pendakian.  Teriakan-teriakan tidak sabar dari si cepat, mulai bersahut-sahutan, kebanyakan dalam bahasa lokal yang bercampur dengan Bahasa Indonesia.  Teriakan keras salah satu pendaki lokal yang berdiri persis dibelakangku, langsung menyerbu kuping kiri ku tanpa ampun.  Terkoyaklah sudah kesunyian surgawi Sang Ile Ape Lewotolok karenanya….. Pudarlah juga kekhusuan suatu pendakian gunung dalam keheningan malam….

Di suatu titik , terdengar kabar bahwa ada seseorang dibawah sana yang membutuhkan bantuan oksigen.  Tabung oksigen besar yang biasa ada di ruang UGD rumah sakit dan posisinya sudah berada di bagian depan rombongan, kini harus diturunkan secara estafet ke arah posisi korban yang membutuhkan bantuan, yang entah ada dibagian belakang sebelah mana dari untaian mengular para pendaki.

Di titik ini, si cepat yang sudah tidak sabaran, mulai merangsek saling mendahului, kelompok-kelompok tercerai.  Si lambat melipir memberi jalan, aku adalah salah satunya.  Dari sana, kami saling susul menyusul, sesuai dengan ritme nafas dan dengkul, bahkan ada yang mogok dan kembali ke kampung.

Aku terseok-seok berusaha terus mendaki, kadang sendiri ditemani sinar senter, kadang berbaur dengan gerombolan pendaki-pendaki lainnya.  Beristirahat disana sini, diatas batu, diatas pohon tumbang, diatas rumput, berusaha mengatur nafas dan meringankan beban dari tas punggung pindah ke dalam perut.

Semakin ke atas, jenis vegetasi tumbuhan berubah, dari pepohonan tinggi rindang, berubah menjadi belukar perdu, lalu menjadi rumput tinggi, rumput pendek dan akhirnya tidak ada tumbuhan sama sekali.

Setiap kali menengok ke belakang, tampak jajaran kerlap-kerlip lampu senter para pendaki yang masih di bawah.  Menengok ke depan , tampak pula jajaran meninggi dari kerlap-kerlip lampu senter para pendaki yang sudah mendaki jauh ke atas.  Jajaran kerlip meninggi itu yang membuat nyali sedikit ciut, tapi kerlip dibelakang memberi semangat.  Ada lagi kerlip dilangit dari gugusan bintang-bintang, terang, jernih, tanpa penghalang, sungguh indah.  Di sebelah kanan nun jauh di bawah sana, ada kerlap-kerlip lampu-lampu di kampung-kampung dan di Kota Lewoleba, terhampar seperti permadani kunang-kunang.

Menjelang fajar, aku sudah sampai di area vegetasi rumput pendek yang cukup landai.  Angin dingin sudah sejak tadi berseoran tanpa penghalang.  Brrr……dingin menyusup lapisan baju dan jaket.  Samar-samar hamparan bebatuan tampak disekeliling, diselingi rumput-rumput yang semakin pendek dan jarang-jarang.  Nun jauh di depan, kerlip-kerlip sinar senter para pendaki masih saja menunjukkan arah naik, bahkan naik yang sangat curam…

“Hahhh….masih naik lagi kah…???  Seriusan itu kita masih harus naik lagi kaya gitu…???” tanyaku pada seorang kawan pendaki.

Dibalas kawanku itu dengan tawa sambil meringis…, “Iya…kita harus ke sana…!  Ayo.., lanjut..!!” sahutnya menyemangati.

Medan berbatu-batu diatas tanah kering yang mudah rontok, semakin memperlambat langkah kaki.  Tidak hanya kaki sekarang, kedua tangan pun ikut menapak tanah bebatuan, merangkak dan terus naik.

Cahaya fajar sudah semakin terang, memperlihatkan semesta indah Ile Ape Lewotolok yang sekaligus juga menawarkan bahaya.  Jurang curam menganga di kiri kanan jalur pendakian, janganlah sampai kaki terpeleset, nyawa mungkin tidak akan kita punyai lagi.

Savana Ile Ape Lewotolok

Savana Ile Ape Lewotolok

Etape akhir pendakian, berupa jalur sempit melipir disisi jurang dan diapit tebing batu tinggi.  Walaupun tidak terlalu mendaki, tapi disinilah tekad terakhir kita diuji.  Teruskah hingga tepi kawah untuk menyambut sang mentari…., atau stop sampai di sini saja menikmati hamparan alam indah disekitar dan dibawah sana, sambil menanti kehangatan sinar mentari dari yang nanti muncul balik puncak kawah.

Etape terakhir

Etape terakhir, melipir ke tepi jurang di arah kiri.  Dikanan ada jurang juga bekas longsoran tebing.

Sesaat sebelum matahari mencapai puncak sejati Ile Ape yang masih aktif dan menyemburkan gas belerang ke arah selatan, aku sampai di tepi kawah lama, berbaur dengan banyak pendaki-pendaki lain yang sudah duluan sampai.

Sedikit lagi sampai kawah

Sedikit lagi sampai kawah

Seketika aku terpukau kagum dengan luasnya sang kawah lama Ile Ape.  Lalu badanku limbung dan mengkerut kedinginan diterpa hembusan kuat angin dingin dari timur dan utara. Kalau saat itu aku bisa bercermin, pasti yang tampak adalah muka lelah dan kumal penuh debu.  Tapi matanya pasti berbinar bahagia, bangga, dan takjub.

Kawah lama Ile Ape Lowotolok

Kawah lama Ile Ape Lowotolok

Selamat datang kembali matahri

Selamat datang kembali matahari

Dibelakang saya itu puncak sejati Ile Ape yang masih sangat aktif

Dibelakangku itu adalah puncak sejati Ile Ape yang masih sangat aktif

Inilah puncak tertinggi tanah Lembata.

Menengok ke arah belakang rute pendakian, nun jauh di sana mulai terlihat garis pantai, dan garis pulau Adonara, tetangga sebelah barat Pulau Lembata.

Disana itu Pulau Adonara

Disana itu Pulau Adonara

Matahari mulai memanjat lereng puncak sejati Ile Ape, menerpa asap belerang yang menyembur dari kepundannya.  Membuatnya seperti tirai kuning transparan yang melayang dihembus angin Timur Laut menuju selatan.

Tuhanku Yang Maha Besar…., keindahan ciptaan-Mu ini memanglah Maha Sempurna.  Terimakasih atas kekuatan yang Engkau berikan kepada hamba, sehingga sampai saat ini hamba bisa mengaguminya dengan leluasa.

===============================

Pendakian Ile Ape Lewotolok ini merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan acara Festival Adventure Indonesia – Lembata 2014 tanggal 24-28 September 2014 yang diselenggarakan oleh Way2East didukung oleh Pemda Kab Lembata dan Kementrian Pariwisata & Ekonomi Kreatif Indonesia.

===============================

Cara untuk mencapai pulau yang cantik ini :

Via Kupang :
• Naik pesawat Susi Air (telp. 0383-41077, Kupang :+62 811 381 3801 / +62 811 381 3802, Bandara Wunopito Lewoleba +62 812 3602 5244, booking online : http://fly.susiair.com/ ).
• naik Kapal Cepat Cantika , 3-4 jam (berangkat jam 9 pagi dari Pelabuhan Tanjung Lontar, Tenau, Kupang, sampai di Pelabuhan Lewoleba sekitar jam 1 siang), jadwal Rabu (Kupang-Lewoleba-Larantuka), Kamis ( Larantuka-Lewoleba-Kupang), tarif tiket : Rp 260 ribu untuk kelas ekonomi dan bisnis, sedangkan kelas VIP, Rp 360 ribu).
• Naik kapal lambat :
• KM Bukit Siguntang : kapal PELNI Kupang-Lewoleba-Maumere-Makassar , phone 0383-41521 / 41031
• KMP Fery Ile Boleng : ferry Kupang-Lewoleba setiap Selasa , Lewoleba-Kupang setiap Sabtu, phone 0383-41521 / 41031
Via Larantuka
• Kapal Cepat Ina Maria 29 :
o Larantuka-Lewoleba : Selasa, Rabu & Kamis, berangkat pukul 09.30 wita
o Lewoleba-Larantuka : Jumat, Sabtu, Minggu, Senin, berangkat pukul 09.00 wita.
• Kapal Cepat Fantasi Express 1 (tarif : Rp 75 ribu), pp setiap hari jam 09.00 wita, phone 0383-41007 / 410008
• KM Lewoleba Karya , Larantuka-Weiwerang-Lewoleba, pp setiap hari
• KM Sinar Mutiara , Larantuka-Weiwerang-Lewoleba, pp setiap hari
• KM Alfian Lembata, Larantuka-Lewoleba, pp setiap hari jam 10 malam
• KMP Namparnos , Larantuka-Lewoleba- Baranusa-Kalabahi, setiap Senin dari Larantuka, setiap Minggu & Senin dari Kalabahi (Alor)

Kendaraan selama di Lewoleba :
Labomi atau bus truck, bus kecil, angkutan pedesaan, dan ojek

PENGINAPAN :
Hotel banyak terdapat di Lewoleba :
o Hotel Palm Indah (3 star), 0813 371 81220 / 0815 196 06853
o Hotel Lewoleba, Jl.Awolong-Walakeam-Lewoleba
o Lile Ile Backpackers Homestay, Jl. Trans Lembata
o Hotel An’nisa , dekat Pelabuhan Lewoleba (Pantai SGB Bungsu), Phone 0383-41012
o Hotel Rezeki, Jl. Trans Lembata (depan Taman Swaolsa Titen), Phone 0383-41128
o Hotel Lembata Indah, Jl. Berdikari – Lewoleba
Di Desa Lamalera :
o Falmina homestay
o Ben Homestay
o Maria Homestay
Atau bisa menginap di rumah penduduk di Jontona (apabila mengambil rute trekking via Jontona), dan di desa Lewotolok (apabila mengambil rute trekking via Jontona.
Guide trekking Ile Ape : Bapak Elias di Jontona (0812 3785 4464).

Bank di Lewoleba : BRI dan Bank NTT
Sinyal HP : Telkomsel

Where to eat :
o Restoran Berkat Lomblen, Jl. Trans Lembata – Lamahora – Lewoleba
o Restoran Bandung , Jl. Trans Lembata (dekat Hotel Rejeki)
o Restoran Ayu Nisa, Jl. Trans Lembata – Lamahora – Lewoleba
o dekat pelabuhan Lewoleba banyak warung-warung makanan Jawa

DIANTARA DEBU LEMBATA

Whooosshhhh….debu mengepul bergulung-gulung di belakang labomi (bus truck) yang membawa kami, para peserta Festival Adventur Indonesia 2014 di Pulau Lembata (Nusa Tenggara Timur), dari satu desa adat ke desa adat lainnya.

Labomi siap berangkat

Labomi siap berangkat

Hidung dan mulut serentak ditutup, entah itu pakai masker, sapu tangan, kerudung, atau hanya dengan sekedar mingkem dan pencet lubang hidung….  Seketika aku teringat sebuah buku catatan perjalanan berjudul “Selimut Debu” yang ditulis oleh petualang sekaligus jurnalis kelahiran Lumajang yang sekarang katanya menetap di Beijing, yaitu Agustinus Wibowo.  Buku yang mengisahkan pengalamannya selama berkelana di pedalaman Afghanistan.  Alkisah, penduduk Afghanistan hidupnya tak pernah lepas dari debu.

Begitu juga di Lembata, sebuah pulau diantara gugusan pulau-pulau yang membentuk Provinsi Nusa Tenggara Timur.  Iklim kering khas NTT menyedot uap air dari tanah, membuat partikel-partikel tanah menjadi mudah terurai dan terbang menjadi debu.  Pepohonan kering kerontang, hitam bekas terbakar.  Sungai-sungai menyusut dan kering.  Mata air berhenti mengalir.

kering

kering

Lembata mengingatkanku dengan keras, akan pentingnya air dalam kehidupan.  Di Kampung Lama Lewotolok, yang berada di kaki gunung Ile Ape, ketika untuk mendapatkan sejerigen kecil air terlebih dahulu harus berjalan kaki berkilometer jauhnya, tidak sampai hati rasanya untuk menghamburkan bahkan hanya segayung air. Sehari semalam tanpa kegiatan rutin MCK dengan air melimpah, tanpa listrik, tanpa kasur empuk, bahkan tanpa dinding rumah.  Ini bagiku adalah pembelajaran hidup dan pengayaan hati nurani.

Diantara debu dan kekeringan Lembata, ada keramahan tiada tara dari para penduduknya, ada seni adi busana luhung turun temurun berupa mahakarya tenun ikat yang dibuat dengan kecintaan dan tradisi, ada keteguhan hidup diantara segala keterbatasan, ada kecintaan abadi terhadap tradisi.

Tenun ikat tradisional dari Desa Lamagute

Tenun ikat tradisional dari Desa Lamagute

Lihatlah tata cara mereka dalam menyambut tamu, penuh dengan adab dan anggah ungguh tradisi.  Di Lamagute, di Kampung Lama Lewo Belen, di Desa Jontona, di Desa Laba Limut, kami disambut dengan upacara adat, disuguhi berbagai tari-tarian yang entah berapa bulan sebelumnya mereka berlatih, berbagai ragam makanan disuguhkan untuk kami, para tamu dari kota besar.

Upacara Selamat Datang di Kampung Adat Lama Lamagute

Upacara Selamat Datang di Kampung Adat Lama Lamagute

Upacara Selamat Datang di Kampung Lama Lewotolok

Upacara Selamat Datang di Kampung Lama Lewo Belen

Lihatlah seruan dan binar mata anak-anak serta penduduk disepanjang jalan dan di desa-desa adat yang menjadi tujuan kami.  Itu adalah antusiasme tulus.  Wooww…lihatlah begitu antusiasnya anak-anak Desa Wulondani ketika mengejar drone bermuatan kamera milik salah satu tim liputan stasiun televisi nasional, yang terbang berputar-putar di seputar lapangan pasar barter Wulondani.

Terpesona oleh drone

Terpesona oleh drone

Alam Lembata yang kering menciptakan keindahan tersendiri.  Langitnya biru bersih.  Mataharinya menyorot cerah sepanjang hari. Gunung Ile Api nya menawarkan bentangan alam yang indah ke seluruh penjuru pulau.  Lautnya biru jernih sejauh batas cakrawala. Tersembunyi dibawah lautnya, ada terumbu karang sehat warna warni beserta ikan-ikan hias beraneka bentuk dan warna.

Kawah lama Gunung Ile Api

Kawah lama Gunung Ile Api Lewotolok

Alam bawah laut Jontona

Alam bawah laut Jontona

Taman Terumbu karang cantik di Jontona

Taman Terumbu karang cantik di Jontona

???????????????????????????????

Lima hari tentu tidaklah cukup untuk mendalami apapun.  Hanya cukup untuk sekilas membaca beberapa paragraf tentang Lembata.  Tahun-tahun sebelumnya aku sudah sempat membaca paragraf tentang Flores dari Labuan Bajo hingga Maumere, juga tentang Sumba dari Kodi hingga ke Desa Kaliuda di timur, lalu tentang Sawu, lalu Rote, sempat pula mengintip Desa Boti, Desa Fatumnasi yang cantik di Gunung Mutis, lalu merambah Alor.  Membaca paragraf demi paragraf diantara lembaran halaman-halaman buku tebal berjudul Nusantara.

“The world is a book, those who do not travel, read only a page” demikian sabda Saint Augustin yang menjadi penyemangatku untuk setapak demi setapak menjelajahi Nusantara.

==============================

Pengalaman menakjubkan di Pulau Lembata ini diperoleh selama mengikuti rangkaian kegiatan acara Festival Adventure Indonesia – Lembata 2014 tanggal 24-28 September 2014 yang diselenggarakan oleh Way2East didukung oleh Pemda Kab Lembata dan Kementrian Pariwisata & Ekonomi Kreatif Indonesia.

aeSAM_3352

Tulisan ini diikutsertakan dalam ajang Lomba Blogging http://www.way2east.com/events/Lomba-Foto-Menulis-Blog-Tentang-Lembata-NTT

===============================

Cara untuk mencapai pulau yang cantik ini :
Via Kupang :
• Naik pesawat Susi Air (telp. 0383-41077, Kupang :+62 811 381 3801 / +62 811 381 3802, Bandara Wunopito Lewoleba +62 812 3602 5244, booking online : http://fly.susiair.com/ ).
• naik Kapal Cepat Cantika , 3-4 jam (berangkat jam 9 pagi dari Pelabuhan Tanjung Lontar, Tenau, Kupang, sampai di Pelabuhan Lewoleba sekitar jam 1 siang), jadwal Rabu (Kupang-Lewoleba-Larantuka), Kamis ( Larantuka-Lewoleba-Kupang), tarif tiket : Rp 260 ribu untuk kelas ekonomi dan bisnis, sedangkan kelas VIP, Rp 360 ribu).
• Naik kapal lambat :
• KM Bukit Siguntang : kapal PELNI Kupang-Lewoleba-Maumere-Makassar , phone 0383-41521 / 41031
• KMP Fery Ile Boleng : ferry Kupang-Lewoleba setiap Selasa , Lewoleba-Kupang setiap Sabtu, phone 0383-41521 / 41031

Via Larantuka
• Kapal Cepat Ina Maria 29 :
o Larantuka-Lewoleba : Selasa, Rabu & Kamis, berangkat pukul 09.30 wita
o Lewoleba-Larantuka : Jumat, Sabtu, Minggu, Senin, berangkat pukul 09.00 wita.
• Kapal Cepat Fantasi Express 1 (tarif : Rp 75 ribu), pp setiap hari jam 09.00 wita, phone 0383-41007 / 410008
• KM Lewoleba Karya , Larantuka-Weiwerang-Lewoleba, pp setiap hari
• KM Sinar Mutiara , Larantuka-Weiwerang-Lewoleba, pp setiap hari
• KM Alfian Lembata, Larantuka-Lewoleba, pp setiap hari jam 10 malam
• KMP Namparnos , Larantuka-Lewoleba- Baranusa-Kalabahi, setiap Senin dari Larantuka, setiap Minggu & Senin dari Kalabahi (Alor)

Kendaraan selama di Lewoleba :
Labomi atau bus truck, bus kecil, angkutan pedesaan, dan ojek

PENGINAPAN :
Hotel banyak terdapat di Lewoleba :
o Hotel Palm Indah (3 star), 0813 371 81220 / 0815 196 06853
o Hotel Lewoleba, Jl.Awolong-Walakeam-Lewoleba
o Lile Ile Backpackers Homestay, Jl. Trans Lembata
o Hotel An’nisa , dekat Pelabuhan Lewoleba (Pantai SGB Bungsu), Phone 0383-41012
o Hotel Rezeki, Jl. Trans Lembata (depan Taman Swaolsa Titen), Phone 0383-41128
o Hotel Lembata Indah, Jl. Berdikari – Lewoleba
Di Desa Lamalera :
o Falmina homestay
o Ben Homestay
o Maria Homestay
Atau bisa menginap di rumah penduduk di Jontona (apabila mengambil rute trekking via Jontona), dan di desa Lewotolok (apabila mengambil rute trekking via Jontona.
Guide trekking Ile Ape : Bapak Elias di Jontona (0812 3785 4464).

Bank di Lewoleba : BRI dan Bank NTT
Sinyal HP : Telkomsel

Where to eat :
o Restoran Berkat Lomblen, Jl. Trans Lembata – Lamahora – Lewoleba
o Restoran Bandung , Jl. Trans Lembata (dekat Hotel Rejeki)
o Restoran Ayu Nisa, Jl. Trans Lembata – Lamahora – Lewoleba
o dekat pelabuhan Lewoleba banyak warung-warung makanan Jawa

DESA FATUMNASI (NTT) : ATAPNYA TIMOR BARAT

Ketiadaan ferry Alor – Lembata dan pembatalan penerbangan Alor-Kupang kemarin pagi, membuat saya harus berulang kali mengubah rencana perjalanan, mencoret Desa Lamalera maupun Atambua dan Perbatasan Mota’ain, dan mencari destinasi menarik tapi dekat dengan Kupang, karena besok sore saya sudah harus kembali ke Jakarta.

Om Nope (guide asal So’e) yang kemarin kebetulan bertemu di Bandara Alor mengusulkan agar saya pergi ke Desa Fatumnasi saja di Gunung Mutis (Kab. Timor Tengah Selatan).   Katanya desa itu luar biasa indah.  Katanya lagi, saya bisa pergi bersama-sama dengannya dari Bandara Kupang ke Kota Soe (2 jam bermobil), lalu dari So’e nanti saya akan diantarkan oleh anak buahnya yang sudah biasa mengantar turis-turis ke Desa Fatumnasi, dengan ojek…!!

Baiklaaahhh…..mari kita ke Fatumnasi…!!!!!

Ketika terbang dari Alor ke Kupang tadi pagi, hati lumayan was-was juga menaiki pesawat yang baru selesai diperbaiki dan belum diuji coba.  Sepertinya semua penumpang berperasaan sama dengan saya.  Tapi 45 menit kemudian, pesawat berhasil mendarat mulus di Bandara El Tari (Kupang).

Kelompok kami berpencar dengan tujuan masing-masing, kelima kawan saya dari Jakarta berangkat tergesa-gesa mengejar kapal cepat ke Rote, kedua teman Spanyol pergi ke hotel yang sudah mereka pesan sebelumnya, saya dan Om Nope berangkat ke So’e menggunakan bis.

Tiga jam kemudian barulah kami sampai di So’e, mampir dulu ke Hotel Bahagia 2 miliknya Om Nope untuk bertemu dengan anak buahnya si om yang akan mengantar saya dengan motor ke Desa Fatumnasi.

PEMANDANGAN MEMPESONA

Sekitar jam 14 lewat, saya dan Om Hengki (ojek) memulai perjalananan menuju Desa Fatumnasi, ditemani matahari yang masih bersinar garang dan udara sejuk So’e.  Sekitar 30 menit kemudian, kami mampir sebentar di air terjun Oehala, salah satu air terjun kebanggaan Kabupaten Timor Tengah Selatan dan menjadi favorite warga untuk dikunjungi.   Terbukti dengan betapa ramainya pengunjung saat itu.

Air terjun Oehala (NTT)

Air Terjun Oehala ini unik karena berundak-undak menjadi beberapa tingkatan yang sambung menyambung.  Batuan yang dilalui air, berwarna kehijauan.

Karena takut kemalaman di jalan dan teringat kondisi jalan ke Desa Boti yang sedemikian parah, kami hanya menengok sebentar saja Air Terjun  Oehala,  kemudian melanjutkan kembali perjalanan menembus bagian tengah daratan Timor, melewati hutan jati yang jauh dari perkampungan, mendaki perbukitan gersang, dan sampai di suatu areal di suatu puncak bukit dengan pemandangan yang sangat lapang ke segala penjuru.  Angin menderu kencang dan hampir menumbangkan tubuh saya yang ceking ketika mendaki ke puncak bukit.  Sejauh mata memandang terbentang dataran Timor yang sudah lama tidak diguyur hujan.

Sekitar jam 4 sore, kami sampai di Pasar Kapan, Kota Kapan adalah Ibukota Kec. Mollo Utara.  Bemo dari Kupang bermuara di Pasar Kapan ini.  Masih ada beberapa kios yang buka karena sudah sangat sore.  Di sini kami membeli oleh-oleh berupa sirih, pinang, kapur, dan tembakau untuk Keluarga Ketua Adat Suku Mollo di Desa Fatumnasi nanti, sekalian beli sarung tangan karena di sana pasti sangat dingin sekali.   Lalu kami segera melanjutkan perjalanan kembali.

Pedagang Sirih Pinang di Pasar Kapan

Pemandangan sepanjang jalan makin indah saja, daratan dan perbukitan Timor bagian Tengah ini berpendar dalam cahaya keemasan matahari sore.  Semuanya tampak begitu hening dan tenang.  Sapi-sapi dan kuda merumput di padang-padang gembala, mencari sejumput rumput hijau diantara yang sudah menguning kekeringan.

Pemandangan sepanjang jalan menuju Desa Fatumnasi

Kondisi jalan semakin menanjak dan semakin buruk .  Hampir saja saya terpelanting jatuh dari ojek akibat tidak konsentrasi karena mata jelalatan memandangi alam sekitar yang sangat cantik.   Selepas Desa Ajobaki, terdapat utan cemara dengan bukit menguning disebrangnya, wilayah ini disebut sebagai Bola Palelo.  Bukitnya yang dihiasi rumput kering kuning kecoklatan, mengundang rasa penasaran saya dengan pemandangan apa yang ditawarkan dari atas bukit sana.

Entah bagaimana saya harus menggambarkan bentangan keindahan alam yang saya lihat di sini,  tak bisa disampaikan dengan kata-kata, bahkan kamera hanya mampu menangkap sekilas-sekilas, terpotong-potong seperti mainan puzzle.  Anda harus berada di sana untuk bisa menikmati dan merasakan seutuhnya.

Dari sebuah bukit juga bisa tampak tempat penambangan marmer yang telah menjadi sengketa antara warga, perusahaan penambangan, dan pemerintah daerah yang pro-perusahaan penambangan.

DINGINNYA MALAM DI FATUMNASI

Senja sudah akan berakhir ketika saya tiba di Desa Fatumnasi, disambut dengan udara dingin menusuk tulang.  Saya disambut Keluarga Bapak Mateos Anin (Kepala Adat Fatumnasi), rumah beliau memang sudah dijadikan sebagai Homestay untuk para tourist yang kebanyakan adalah WNA.  Semua penghuni rumah, termasuk anak-anak dan balita paling kecil di rumah ini, datang keluar untuk menyambut saya di semacam pendopo terbuka berbentuk bulat untuk menerima tamu.  Keramahan bersahaja murni yang selalu saya rindukan.    Minuman kopi panas, kue bolu, dan “pop-corn” asli Desa Fatumnasi dihidangkan untuk saya, sementara tuan rumah yang tampak malu-malu menerima oleh-oleh berupa sirih-pinang-kapur-tembakau, sebab adab mereka sebetulnya tuan rumahlah yang menawarkan itu semua kepada tamunya.

Suasana di Loppo Mutis (Homestay di Desa Fatumnasi)

Di kanan kiri pendopo tamu, terdapat kamar tamu sederhana, masing-masing terdiri dari 4 tempat tidur berkelambu dan dilengkapi selimut tebal.   Juga sudah ada semacam “kamar mandi” dan WC sederhana dan agak sedikit terbuka, dan airnya itu…….. dingiiiiiiiiinnnn… brrrrr…..   Menyikat gigi malam-malam sebelum tidur itu sesuatu perjuangan yang perlu kekuatan tekad…. J

Duduk berlama-lama di pendopo tamu malam-malam itu juga perlu kekuatan, akhirnya tuan rumah menyilahkan saya masuk ke dapur bulat (loppo) yang hangat dengan adanya api di tungku.  Biasanya, tuan rumah merasa malu jika tamunya berkunjung ke dapur.  Seisi rumah berkumpul di seputar tungku, menonton aksi-aksi kocak anak-anak dan saling bertukar bercerita apa saja dengan logat dan dialek masing-masing.  Sepertinya dapur bulat ini menjadi pusat kegiatan, memasak, makan, bahkan tidur.  Bahkan 2 burung nuri hijau, 2 ekor kuskus, dan 4 ekor anjing juga ikut berkumpul meramaikan suasan.  Terrenyuh hati saya melihat anak-anak itu tidur diatas selembar tikar yang dihamparkan diatas lantai tanah dapur, berselimut selembar kain sarung atau selimut sedikit tebal yang mereka sebut sebagai “kain panas”.

Desa Fatumnasi ini secara administratif masuk kedalam wilayah Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur.  Bertetangga dengan  Desa Nenas , Desa Nuapin, dan Desa Kuanoel.  Lokasinya berada di ketinggian 1150 MDPL, di kaki Gunung Mutis yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Timor (2247 MDPL).  Mata pencaharian penduduknya adalah bertani (aneka sayuran, padi gogo, jagung, umbi-umbian, kopi) dan berternak (kambing, sapi, kuda, kerbau).  Mereka juga pencari madu hutan, sementara ibu-ibunya penghasil tenun berkualitas.

Seru juga mendengar cerita dari Om Stephan (anak laki-lakinya Bapak Mateos Anin) tentang panen madu hutan, ternyata ada ritual-ritual khusus yang harus dijalankan, misalnya ritual memanggil lebah agar lebah-lebah madu dari berbagai penjuru datang ke hutan Gunung Mutis lalu bersarang dan menghasilkan madu, katanya lebah-lebah yang datang itu jumlahnya jutaan ekor, langit desa bisa menjadi hitam tertutup jutaan lebah madu yang bermigrasi.  Juga ada semacam pembagian wilayah hutan, yang mengatur masyarakat pencari madu agar tidak saling serobot.  Dan rupanya, tabu untuk memanen madu di siang hari, sebab kata Om Stephan lebah-lebah madu yang sudah berhasil disingkirkan dari sarangnya dan bertebaran diatas tanah jika disiang hari bisa dengan cepat naik kembali ke sarangnya dan menyerang si pemanen, sedangkan di malam hari, lebah-lebah itu akan tetap dibawah.

Asyik mendengarkan cerita-cerita, tidak terasa hari sudah semakin malam, dan angin dingin semakin santer saja berseoran di udara.  Malas rasanya harus pergi tidur di tempat tidur tamu yang sudah pasti sangat dingin, ingin rasanya ikut bergelung bersama anak-anak itu diatas tikar didekat tungku yang menyala.

Dan benar saja, jaket, sleeping bag, plus selimut tidak mampu membendung hawa dingin yang mengalir masuk dari celah-celah dinding kayu.  Brrrrrr……

Menghangatkan diri di sekitar tungku perapian di dalam dapur bulat (ume kbubu) adalah obat mujarab setelah semalaman tidur kedinginan di Homestay Lopo Mutis milik Keluarga Bapak Mateos Anin (Desa Fatumnasi, Kec. Fatumnasi, Kab. Timor Tengah Selatan).   Segelas kopi pahit yang harumnya semerbak serta sepiring goreng ubi,  serta senyum dan tawa tulus dari seluruh penghuni rumah, membuat saya seperti di rumah sendiri.

Berkumpul dalam Ume Kebubu (Dapur Bulat) yang hangat

Ditemani Mali, Wandri, Imel, Rinto, dan Ado, anak-anak Keluarga Besar Bapak Mateos Anin, saya berjalan-jalan pagi menyusuri jalanan desa.  Langit begitu cerahnya, udara begitu dinginnya, matahari pagi menyorot dari sisi kanan jalan.  Kami menuju ke utara, ke arah hutan Gunung Mutis.  Gunung Mutis di utara seperti dinding biru-hijau, bagian selatan dan barat desa dibentengi hutan hijau.  Jauh di timur terlihat sebuah gunung batu menjulang.

Jalan desa yang berbatu dan berdebu, membelah wilayah desa.  Sebuah truk yang biasa ditumpangi penduduk desa, bergerak ke arah hutan, mungkin menuju ke Desa Nenas,

Anak-anak desa yang saat itu masih dalam suasana liburan, sedang asyik bermain bola voli di pekarangan, net-nya dari seutas tali rapia yang diikatkan ke-2 pohon buah apel.  Tanaman buah-buahan (apel, jeruk, mangga, alppukat) dan beragam sayur mayur (jagung, wortel, bawang putih, bawang merah, bawang daun, cabe, kentang, ubi jalar, keladi, dll)  serta bunga-bunga cantik menghiasi pekarangan-pekarangan rumah.

Dapur bulat atau ume kbubu tampak mengepulkan asap pertanda sang mama sedang sibuk memasak.  Ume kbubu seyogyanya adalah dapur, beralaskan tanah padat, beratap daun rumbia kering berbentuk bulat, merupakan tempat favorite untuk berkumpulnya seluruh keluarga, karena hangat dengan adanya perapian, walaupun jadi tidak sehat untuk pernafasan akibat asap pembakaran yang terperangkap.  Sebetulnya warga memiliki rumah-rumah “biasa” (disebut sebagai ume kase ) , bentuknya seperti umumnya rumah yang bisa dijumpai dimanapun di Indonesia, berdinding tembok batako atau berdinding kayu, berjendela kaca, dan beratapkan seng.   Tapi tempat favorit tetaplah ume kbubu yang hangat.

Sumber air dari gunung, dialirkan ke desa-desa, ditampung di beberapa tangki penampungan air, sepertinya sumbangan dari pemerintah.  Anak-anak dan ibu-ibu mengangkuti air dalam jerigen-jerigen dan ember-ember untuk persediaan di rumah masing-masing.  Untuk penerangan, listrik telah masuk ke desa ini sejak beberapa tahun lalu.

Di ujung desa terdapat hutan dengan pohon-pohon nya yang tinggi menjulang dan besar-besar,  ini adalah awal dari Wilayah Konservasi Alam Gunung Mutis.  Hamparan rumput membentang seperti permadani.  Kuda, sapi dan kerbau sedang asyik merumput.  Suara kicauan burung bersahutan.  Harmoni keindahan alam seakan-akan tumpah ruah di sini.

Suasana Desa Fatumnasi

Makin ke atas, pohon-pohon makin besar dan makin tinggi.  Konon kabarnya pohon amanuban tertinggi di dunia ada di sini.  Sayang sekali waktu saya yang amat sangat sempit membatasi keinginan bertualang  di Gunung Mutis, mendaki hingga ke puncaknya pastilah akan memberikan pengalaman yang tak terlupakan.

“But I have a plane to catch…”

Ya.., sore nanti saya harus kembali ke Jakarta, kembali ke rutinitas biasa.   Oleh-oleh berupa kain ikat cantik, kopi, dan madu hutan (serta moke…psssttttt….), kini menambah beratnya backpack orange yang selalu menemani perjalanan.  Foto-foto cantik memenuhi kartu memori kamera-kamera , pengalaman suka duka perjalanan memenuhi benak saya, keramah tamahan penduduk setempat memperkaya hati saya.

Ini adalah kali ke 4 saya datang ke FLOBAMORA (Flores, Sumba, Timor, Alor), tapi masih saja keindahan alamnya dan keunikan budayanya memberikan kejutan-kejutan istimewa.  I love Nusantara….

Foto-foto ada di sini : http://www.facebook.com/media/set/?set=a.10152061036928538.449532.817203537&type=3

====================================

Menuju Desa Fatumnasi :

– Dari Bandara Kupang naik ojek (rp20rb, 20 menit) ke tempat ngetemnya bis-bis ke So’e

– Naik bis jurusan So’e (2 jam, Rp.20rb), minta di turunkan di tempat ojek ke Desa Fatumnasi atau angkot/bemo ke Kapan  , baru dari Pasar Kapan lanjut lagi ke Desa Fatumnasi

– Ngojek ke Desa Fatumnasi (2-3 jam, Rp100rb sekali jalan) atau angkot/bemo ke Kapan (1 jam, ongkos mungkin Rp10rb) , baru dari Pasar Kapan lanjut lagi ke Desa Fatumnasi dengan ojek (1-1,5 jam ; ongkos mungkin Rp75rb sekali jalan)

– Penginapan di Desa Fatumnasi : Rp.100rb per orang per malam, sudah sama makan

– Hindari perjalanan malam dan musim hujan

============================

Ditulis untuk : http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/

Pulau Alor (NTT) : terlantar vs terselamatkan

Kejutan Hari Keempat (19-Agustus-2012)

“Bye everyone….!!!!” teriak saya kepada teman-teman yang masih akan mengikuti program diving / snorkling dengan Mr. Donovan Whitford (http://www.divealordive.com/about%20us.htm ) yang saat itu sedang berkumpul untuk sarapan.

Pagi ini saya dan kelima kawan akan kembali ke Kupang dengan pesawat pagi dan melanjutkan petualangan ke tujuan lainnya.  Saya, karena telah gagal menyebrang ke Pulau Lembata, mengubah haluan dan berencana akan ke perbatasan RI-Timor Leste di Mota’ain, tidak ikut kelima kawan lainnya yang akan melanjutkan perjalanan ke Pulau Rote karena tahun lalu sudah pernah ke sana.

======================

Bandara Mali yang mungil ini hanya ramai ketika ada pesawat datang & pergi, 2 kali sehari biasanya, tapi hari ini hanya 1 pesawat yang datang dan berangkat.  Suara raungan sirine menandakan bahwa sebentar lagi pesawat akan segera mendarat.  Kira-kira 15 menit kemudian barulah sang pesawat muncul seakan-akan keluar dari balik bukit, lalu mendarat mulus di landasan.

Para penumpang turun satu persatu keluar menemui penjemputnya.  Para penumpang naik segera menggantikan mereka di dalam pesawat.

“Ayo cepat…. cepaatt… semuanya tolong duduk di kursinya masing-masing…” seru Bapak Captain Crew berperut bulat menonjol, seuntai kalung rantai emas besar melingkari lehernya yang berlipat-lipat.

Semuanya sudah duduk dengan tertib di kursinya masing-masing, seat-belt sudah dipasang, ketika mesin pesawat tiba-tiba mati, lalu sang captain crew muncul kembali dari kabin, mengumumkan sesuatu yang sangat mengejutkan, yaitu pesawat tidak bisa berangkat karena mengalami kerusakan teknis dan harus diperbaiki, seluruh penumpang diharapkan turun kembali ke ruang tunggu bandara dengan membawa seluruh barang bawaan-kabin-nya masing-masing…..!!!!

Wajah-wajah penumpang yang terkejut dengan mata yang bertanya-tanya serta kekhawatiran yang juga tersirat nyata didalamnya, saling menatap satu sama lainnya.  Ragu-ragu, semua penumpang berdiri, memungut kembali semua bawaan kabin nya masing-masing, lalu kembali bersusah payah menyusuri lorong antar tempat duduk kabin, menuju pintu belakang pesawat, karena hanya pintu itu saja yang dibuka.

O..ooooo…..rupanya kejutan tidak menyenangkan masih saja timbul di hari kepulangan kami dari Alor.

Ruang tunggu mendadak penuh kembali dengan para penumpang yang bingung, kecewa, marah, tapi juga merasa lega karena kerusakan pesawat diketahui sebelum pesawat tersebut terbang. Kalau tidak terdeteksi…, hmmmm….. entahlah apa yang akan terjadi…, tak berani kami membayangkannya..

Kebingungan juga semakin bertambah dengan ketidak jelasan kapan pesawat bisa selesai diperbaiki dan kapan bisa terbang lagi.  Kepala Bandara dan PIC maskapai kewalahan menerima serangan pertanyaan bertubi-tubi dari seluruh penumpang.

Matahari semakin tinggi, halaman bandara sudah sepi, para pengantar sudah pulang sejak tadi.

Semua orang di ruang tunggu sepertinya menelepon seseorang sekarang, kebanyakan minta dijemput lagi, yang memiliki jadwal penerbangan berikut hari itu misah-misuh gelisah dan menelepon maskapai untuk membatalkan penerbangan berikut dan berharap uang tiketnya dapat diambil kembali (harapan yang mustahil…) , para traveller seperti kami juga sibuk menghitung waktu dan mengatur ulang rencana perjalanan.  Teman-teman saya yang berencana hari itu juga melanjutkan perjalanan dengan kapal cepat ke Pulau Rote, terpaksa membatalkan pemesanan tiket kapal.  Sementara saya yang akan melakukan perjalanan darat tanpa harus booking-booking, sibuk memikirkan alternatif tujuan lain yang bisa dijangkau dengan tersia-sianya 1 hari ini, destinasinya tentu harus “menarik & menantang”, dan waktunya tidak boleh mengacaukan jadwal penerbangan pulang saya ke Jakarta 2 hari yang akan datang.

Satu per satu, penumpang lainnya sudah kembali ke rumahnya masing-masing.  Tinggallah kami ber enam, Pak Nope (seorang guide asal So’e yang baru selesai tugas memandu turis-turis Italia di Alor) dan sepasang turis warga Spanyol yang tersisa di teras bandara, menunggu jemputan angkot “Cinta” langganan kami.

Saya sempat bertemu dan mengobrol ringan sejenak dengan mereka berdua sewaktu di Kampung Takpala, 2 hari yang lalu, dan rupanya keduanya masih ingat saya jadi sejak kedatangan di bandara tadi pagi kami sudah asyik mengobrol, dan kini kami semua sudah seperti 1 group sejak awal.  Itulah keakraban dan kebersamaan sesama pejalan yang selalu saya rindukan, sudah seperti kenal bertahun-tahun walaupun baru bertemu 5 menit yang lalu.. J

Hari ini, adalah hari terakhir juga bagi kedua turis Spanyol, Dani & Anne.  Mereka memutuskan untuk menunggu di bandara karena tidak punya tempat lain lagi untuk dituju.  Jadilah kami berbaur saling bertukar cerita di teras bandara, bahkan para petugas bandara pun ikut nimbrung.

Angkot “Cinta” yang biasa mengantar jemput kami kemana-mana tidak juga muncul.  Perut lapar karena tidak sempat sarapan akibat terburu-buru berangkat mengejar pesawat pagi, khawatir tidak jadi terbang dan harus mengubah lagi rencana perjalanan, serta bosan menunggu bergumul menjadi satu.  Sementara tidak ada satu warung pun yang buka di bandara ini, biasanya warung kecil disebelah sana itu buka kalau saat ada pesawat datang dan pergi.  Yang ada hanya petugas bandara dan rumput ilalang di tepi landasan.

ilalang kering kerontang di tepi bandara

Lama menunggu, sang bemo “Cinta” pun akhirnya tiba, suara klaksonnya yang heboh sudah terdengar sebelum sang bemo kelihatan…  Bemo “Cinta” ini kami sebut demikian karena memang ada tulisan itu di body nya, selain tulisan-tulisan lain dan beraneka gambar-gambar yang memenuhi body mobil dan kaca jendela, membuat penumpang sangat sulit melihat-lihat ke luar.  Hiasan bemo yang “wahhh” ini memang sudah menjadi  ciri khas bemo-bemo di NTT, plus suara musik disco retro trenzz dlsb yang membahana, membuat obrolan apapun hampir tidak mungkin dilakukan.

Bemo Cinta, our king of heroes from Kalabahi :p

Kami berkeliling Kota Kalabahi untuk mencari warung makan, tapi tak menemukan satupun yang buka.  Rupanya, walaupun hampir 95% warganya memeluk agama Kristen, tapi semua orang libur guna menghormati Hari Raya Iedul Fitri yang jatuh tepat jatuh pada hari ini.  Terpaksa kami merepotkan keluarganya Om Kris Dami, pemilik Homestay Cantik sekaligus pemilik si bemo Cinta, dan sekaligus pula jadi dewa penolong kami selama di Alor, untuk menyiapkan makan siang dadakan bagi para traveller yang terlantar hahahaa…

Homestay Cantik ini memang benar-benar cantik suasananya, begitu nyaman berasa di rumah sendiri.  Ada 4 kamar siap pakai dan 4 lagi yang sedang dibangun untuk mengakomodasi para tourist yang semakin banyak berdatangan di Alor.  Dari foto-foto yang berderet di bawah lapisan kaca di meja makan prasmanan, bisa dilihat perjalanan keluarga Om Kris dan siapa-siapa saja tamu (terutama selebritis) yang datang dan pernah menginap di sini, seperti Nadine Chandrawinata.

mengatur strategi perjalanan yang kembali acak-acakan
# Homestay Cantik, Kalabahi, Alor)

Kamar-kamar itu sekarang sedang kosong karena baru saja ditinggalkan tamu-tamu tourist Italia yang telah melanjutkan perjalanan mereka ke Pulau Pantar hingga Larantuka (Flores).  Terasnya yang teduh dengan tanaman-tanaman membuat kami nyaman beristirahat menunggu kabar dari pihak maskapai, jadi terbangkah atau batal dan baru besoknya kami terbang..???  Kami tidak berani pergi jauh-jauh karena takut suatu saat ada telpon dari mereka, jadi hanya sempat berjalan-jalan di sekitar kota hingga ke Pelabuhan Pantai Reklamasi.

Dermaga Pantai Reklamasi yang sepi di siang hari

Ternyata penantian kami hari itu sia-sia, pesawat tidak bisa terbang hingga sore tiba, dan diberitahukan bahwa akan terbang besok pagi-pagi.  Hmmm….rupanya kami harus mencicipi menginap semalam di Homestay Cantik dan mencicipi lagi masakan istrinya Om Kris Dami yang enak.  Tentu saja semua biaya penginapan dan makan ditanggung oleh pihak maskapai.

gaya penumpang terlantar yang marah besar 🙂

Jadi sore-sore kami kembali ke bandara, mengambil bagasi.  Bersiap untuk menginap semalam lagi di Pulau Alor, bertemu dengan semua teman-teman penyelam dari groupnya Mr. Donovan ( http://www.divealordive.com/about%20us.htm ) yang tadi pagi sudah kami beri ucapan selamat tinggal.

“The ferry is broken, now the plane is broken too…???”   Itu adalah komentar dari salah seorang turis Amerika menanggapi  cerita kenapa saya dan teman-teman masih saja ada di sini malam ini.  Kemarin saya sudah bercerita kepadanya bahwa saya tidak jadi ke Pulau Lembata gara-gara ferry nya rusak. Beginilah kondisi umum transportasi di wilayah Indonesia Timur.

Miss Anne si turis Spanyol, bahkan berseloroh “Nope…, I’m gonna stay at the hotel, I’m not going anywhere else, I’m not gonna take any transportation again, not even a bemo.  Worry that for some reason that we don’t know, the bemo may be broken too…”

Hahahaaa…. Anne dan Dani memang sudah mengalami 2 penundaan keberangkatan pesawat, pertama adalah pesawat Kupang-Makassar yang menyebabkan mereka harus menginap di Kupang, dan sekarang ditimpa lagi dengan penundaan pesawat Alor – Kupang yang menyebabkan mereka harus menginap lagi di Alor.  Untungnya mereka berdua adalah backpacker kakap kelas dunia, yang “sudah bisa menikmati” kondisi apapun yang mereka temui selama di perjalanan.

Yuppp….kesulitan demi kesulitan selama perjalanan tidak akan membuat seorang traveller kapok… , malah akan menjadi pupuk penyemangat untuk perjalanan-perjalanan selanjutnya, dan bagi hidupnya.

Strategi perjalanan kembali harus diatur, menyesuaikan dengan waktu yang sudah semakin sempit.  Kebetulan tadi pagi sewaktu terdampar di Bandara Mali , saya bertemu dengan Om Nope yang ternyata adalah seorang guide asal So’e yang beberapa hari lalu datang ke Alor mengantar tamu-tamu dari Italia yang menginap di Homestay Cantik milik Om Kris Dami.  Saya pernah ke So’e tahun lalu dan pergi ke Desa Adat Boti di Bagian Selatan dari So’e.  Om Nope mengusulkan agar saya pergi ke Desa Fatumnasi saja di Gunung Mutis, katanya pasti tidak akan menyesal kalau pergi ke sana.  Tahun lalu saya sebenarnya mencanangkan pergi ke Fatumnasi juga, tapi tidak ada waktu, sooo…Fatumnasi deh jadiii…!!!

——————————————————

Ditulis untuk : http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/