Pulau Alor (NTT) : Berkenalan dengan lautnya yang berarus dan dingin

Pada hari ke-2 (17-Agst-2012) di Pulau Alor , saya berkenalan dengan arus lautnya yang kuat dan suhu air yang sangat dingin.

Sudah hampir tengah hari ketika saya dan teman-teman berkumpul di Dermaga Desa Alor Kecil untuk memulai petualangan mengintip alam bawah laut Alor yang tersohor.  Sempat cekcok sedikit dengan Pak Asa (nelayan setempat yang sudah kami  kontak untuk menyewa perahu) gara-gara perahu yang ditawarkan kepada kami, ukurannya kecil dan telanjang tanpa atap….. Wewww…. bisa selegam orang Alor nanti kami, seharian terpanggang terik matahari.  Akhirnya perahu ditukar dengan yang beratap dan berukuran lebih besar, tentu dengan sewa yang lebih besar pula :p

Desa Alor Kecil berjarak kira-kira 15 km dari Kota Kalabahi, sekitar 20 menit bermobil.  Tampak di seberang dermaga Desa Alor Kecil adalah Pulau Kepa yang mungil, di sana terdapat salah satu resort sekaligus dive center milik asing (tentu saja).  Dibelakangnya tampak puncak Pulau Pura yang seperti puncak gunung biru.

Dermaga Desa Alor Kecil

Matahari bersinar sangat terik, tapi anginnya sejuk menampar-nampar.  Kami berperahu menuju Pulau Ternate,  snorkling spot pertama hari ini.

Arus laut yang kencang dan suhu air yang dingin mengejutkan kami semua.  Ketiadaan jaket pelampung, memperparah keadaan saya yang “takut tenggelam”, walaupun sudah membekali diri dengan  “pelampung” darurat dari dry bag yang digembungkan.  Arus laut menyeret kami dengan cepat menjauhi posisi perahu , mamang perahu dengan sigap melemparkan tali tambang untuk menolong….huupp….kami berpegang erat-erat pada tali yang ditarik ke arah perahu.

just slightly under the sea

Pemandangan bawah lautnya indah, tentu saja.  Airnya sangat jernih.  Di sini terdapat tebing dalam laut yang sangat curam, dasarnya tidak kelihatan, biru gelap membuat ciut nyali.  Tebing laut curam adalah surganya para penyelam, banyak makhluk-mahkluk laut cantik yang bisa ditemui di sepanjang dinding tebing.

the gang in the water

Kami singgah sebentar di Pulau Ternate, mengobrol dengan penduduk setempat yang tengah berkumpul di bawah pohon rindang di tepi pantai.  Ibu-ibu menjajakan kain tenun, sementara para pemuda nya duduk-duduk santai di sebuah perahu rusak sambil mendengarkan musik ajep-ajep dari sebuah laptop, sambil ber-internet ria.

Aaahhhh….dua generasi dari  zaman yang berbeda saling bersisian,  generasi asli tradisional dan generasi buatan global.

generasi tradisional dan generasi digital di Pulau Ternate (Alor, NTT)

Hari ke-3 kami akan melanjutkan perkenalan dengan arus dan dinginnya laut Alor (selat Pantar), juga berkenalan dengan  makhluk-makhluk lautnya.  Bedanya, kaau kemarin menjadi tamu pak Asa dari Desa Alor Kecil, kali ini kami akan menjadi tamunya Mr. Donovan Whitford (http://www.divealordive.com/about%20us.htm ), ikut program snorkling dan diving.  Menyedihkan memang, WNI menjadi tamu WNA untuk menikmati keindahan negrinya sendiri 😦

Kami bahkan sarapan ala western..!!!

Uuuppsss…dan sebuah kejutan tidak menyenangkan datang diawal hari ketiga, yaitu tidak ada kapal yang bisa saya tumpangi yang akan berangkat ke Pulau Lembata…!!!  Terpaksa saya harus mengurungkan niat untuk pergi ke Desa Lamalera, desanya para pemburu paus, yang sudah sangat saya idamkan untuk dikunjungi…. 😦

Saya harus mengubah rencana perjalanan, membatalkan penerbangan Lewoleba – Kupang yang sudah dipesan jauh-jauh hari, dan harus mencari tiket penerbangan Alor – Kupang untuk besok atau paling lambat tanggal 21-Agustus (tanggal kepulangan saya kembali ke Jakarta), untungnya masih ada seat kosong untuk besok pagi.  Hatipun lumayan tenang…dan siap untuk menikmati hari ini di laut Alor yang dingin dan berarus kencang.

Sebuah kapal milik Dive Alor Dive sudah menunggu kami di Dermaga Pantai Reklamasi (Kalabahi).   Kapal ini dilengkapi dengan kompressor untuk pengisian udara ke dalam tabaung-tabung yang akan digendong  para diver, sebuah dapur kecil, sebuah toilet.   “Wet area” tempat untuk menaruh barang2 yang basah-basah seperti wetsuit, fin, snorkle, google, BCD, tangki, dll.   “Dry area” yang dilengkapi dengan matras plus bantal untuk tempat beristirahatnya para divers, kursi-kursi di depan kabin kapten untuk “sun bathing”, dan “capten cabin” yang nyaman.  Sangat nyaman sekali.

Mr. Donovan Whitford (http://www.divealordive.com/about%20us.htm )

Donovan dan crew nya (3 orang warga Alor + 1 kapten kapal yang ternyata orang Sukabumi :p ), sibuk memberikan pelayanan terbaik untuk kenyamanan para client nya yang hari ini terdiri dari 4 penyelam WNA, 6 penyelam WNI, 8 snorklerer WNI.

Kapal melaju tenang membelah Teluk Mutiara yang diapit daratan Alor yang bergunung-gunung.  Tepat di depan mulut Teluk Mutiara, menjulang Pulau Pura yang seperti puncak gunung, di sebelah kanan terdapat Pulau Kepa yang mungil dan Dermaga Kampung Alor Kecil tepat dihadapannya.

http://www.divealordive.com/location%20map.htm

Kapal melaju ke arah kiri dari Pulau Kepa, kemudian merapat ke tepian Pulau Pura, jangkar dilepas, rupanya ini adalah Dive Site pertama hari ini, disebut “Mike Delight” Dive Site.

Para penyelam berkumpul untuk briefing dengan Donovan serta bersiap dengan gear nya masing-masing.  Kami, yang akan snorkling sibuk melirik-lirik arus laut yang sepertinya masih sederas kemarin, oughhhh…. L

Dan betul saja, arusnya sangat kencang, juga masih sedingin kemarin.  Tidak butuh waktu lama untuk terseret menjauhi lokasi kapal.  Salah satu kawan penyelam terseret arus cukup jauh dari kapal dan terdampar didekat daratan sehingga harus dijemput oleh kapal.

Lautnya masih sejernih kemarin, kalau saja arusnya bisa sedikit lebih tenang, pasti akan lebih menyenangkan mengintip-intip para clown fish cantik yang sedang sibuk menjagai sarang annemon-nya.

Ada seorang nelayan sedang mencari ikan menggunakan sampan kecil, diatas sampannya terdapat bubu yaitu alat penangkap ikan berbentuk bulat terbuat dari anyaman bambu.  Saya menceburkan diri ke laut yang jernih dan terseok-seok melawan arus mengejar sampan si bapak nelayan, untuk mengamati kegiatannya.  Si Bapak Nelayan sudah menaruh bubu tersebut di dekat sebuah batu karang besar, ditindihi batu-batu dan diikat supaya tidak terbawa arus laut.  Esok hari, bubu tersebut mudah-mudahan sudah berisi ikan.

Ohh…rupa-rupanya selain dengan bubu, beliau  juga akan menombak ikan.  Saya yang sejak tadi membuntuti beliau sudah siap-siap dengan kamera untuk mengabadikan aksinya.  Tapi sayang, akibat kedatangan kami, ikan-ikan besar lari ke laut dalam.  Bapak nelayan pun tidak memperoleh buruan dan pindah mencari lokasi lain yang tanpa pengganggu.

ready to hunt…but…the big fishes are gone 😦

Seseorang dari kapal memanggil-manggil kami semua yang sedang asyik-asyiknya mengamati ikan warna warni beserta terumbu karang indah-indah, untuk segera naik kapal untuk menuju lokasi lainnya.  “Sampai jumpa Pak Nelayan, maaf kami telah mengganggu…!!!”

Dive site selanjutnya masih di sekitar Pulau Pura, dinamakan sebagai “paradise point”, katanya banyak ikan-ikan besar bergerombol di dalam sana.  Sementara di perairan dangkal dekat kapal, yang kami temui melulu pasir.  Ada ikan-ikan kecil dan segerombol soft coral disana-sini.  Agak ke tengah langsung bertemu dengan tebing laut (drop-off), ombaknya juga lumayan menampar-nampar membuat pusing.  Jadi, kami malah asyik bermain-main dengan anak-anak kecil di dermaga Pulau Pura sementara menunggu para penyelam naik ke permukaan.

Wahhh…tak terasa sudah tengah hari…, masih ada satu lagi dive site yang akan kami kunjungi hari ini, lokasinya ternyata di tepi Pulau Ternate, dekat lokasi snorkling kami kemarin.

Saya yang sudah terjangkit penyakit masuk angin, mual plus malas, memilih duduk-duduk saja di atas kapal.  Malas kedinginan lagi..:p

Arus laut masih sekencang biasanya, lumayan terseret arus  jauh juga teman-teman penyelam dan yang snorkling-an.  Kapal lepas jangkar dan bergerak menjemput mereka.

Kamera saya yang dibawa teman lumayan banyak menangkap ikan-ikan cantik dan coral-coral cantik di bawah sana.  Bahkan yang mengejutkan adalah ada “mawar laut” berwarna merah menyala yang berhasil difoto oleh salah satu teman saya.

“Mawar Laut” Alor

Wooowww…cantik sekali, kejutan yang sangat indah di hari ketiga ini.  “Mawar laut” adalah underwater icon yang dijagokan di Kepulauan Riung 17 Pulau di Flores sana.

——————————————————

Ditulis untuk : http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/

Dive center di Alor :

–  http://www.divealor.com/index.html

–  La P’tite Kepa Diving http://www.alor-diving.com/

–  http://www.alor-divers.com/

–  http://www.alor-divers.com/

 

 

Advertisements

Pulau Alor (NTT) : Keakraban Sekejap di Kampung Tradisional Takpala

“SELAMAT HUT KEMERDEKAAN RI-67…!!!!”

Sejak sore hari kemarin, jalanan kota Kalabahi (Kab. Alor-Solor, NTT) sudah meriah dihiasi umbul-umbul dan bendera merah putih.  Tim Drum Band giat melakukan latihan gladi-resik , berpawai keliling kota, ditonton segenap warga kota yang bermunculan ke tepi jalan demi mendengar dentuman drum dan lengkingan terompet mereka.

latihan drumband di Kota Kalabahi

Sementara itu kami sibuk berbelanja baju ganti, perlengkapan mandi, dan sarung, akibat bagasi yang tidak diangkut si pesawat.

Pagi ini, hati terasa plong dengan adanya informasi bahwa bagasi kami sedang dalam perjalanan udara dari Kupang ke Alor sini.  Uuupsss….terpaksa kami harus melewatkan upacara peringatan HUT RI yang ke 67 pagi ini, karena harus ke Bandara Mali untuk menjemput si bagasi.

Jam 8 pagi waktu setempat, bunyi sirine pertanda datangnya pesawat di bandara memecah pagi yang cerah.  Ohh..syukurlaaahhhh….bagasi kami lengkap semua…   “Selamat Datang di Alor backpack orange ku….” hahaaa…

Bagasi yang hilang akhirnya kembali 🙂

Kini, setelah semua bagasi datang, maka kami siap bertualang mengeksplorasi alam dan budaya Alor.  Teman-teman yang ikut Diving Program sudah meluncur ke dermaga di Pantai Reklamasi.  Teman-teman yang akan snorkling masih sibuk bersiap diri sambil meunggu jemputan bemo “Cinta” untuk keliling kota dan ke Alor Kecil.  Saya, yang penasaran ingin mengunjungi salah satu kampung adat, bersiap menaiki ojek ke Kampung Takpala di Desa Lembur Barat, Kec. Alor Tengah Utara.

Uupsss…..saya hampir lupa membeli oleh-oleh sirih-pinang untuk Ketua Adat Takpala.  Sebetulnya, tuan rumah lah yang berkewajiban menyajikan sirih-pinang kepada tamunya, tapi tak apalah…

Mama penjual sirih pinang di Pasar Alor

Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit, menyusuri jalan aspal kecil dan lengang di bibir pantai.  Rute terakhir menuju kampung Takpala ini sungguh trek yang menantang, berupa jalanan berbatu menanjak terjal dan berliku.  Hampir ciut nyali saya dan minta turun saja dari ojek, tapi mamang ojek bersikeras agar saya duduk tenang-tenang saja dan tidak perlu takut, karena katanya beliau sudah terbiasa mengantar tamu ke sini.  Aww…ya sudahlah…saya pun berpegangan erat-erat ke body motor supaya tidak terpental :p

serong kanan ke Takpala

Ohhh..ya ampun, pemandangan sepanjang perjalanan menanjak ini sungguh indah, hamparan laut biru membentang di bawah sana.  Sungguh sulit berkonsentrasi berpegangan menjaga keseimbangan di atas ojek yang merayap terseok-seok mendaki di jalanan berbatu.  Beberapa orang anak kampung yang tengah asyik bermain di halaman rumahnya menatap ingin tahu ke arah saya, tapi spontan mereka tersenyum dan membalas sapaan “halooo…” dan lambaian tangan saya.  Anak-anak di sini sepertinya sudah sangat terbiasa melihat pelancong.  Dan tibalah saya di pelataran “parkir” di mulut kampung.  Dari sini pemandangan ke arah lautan sangat leluasa.

Pemandangan ke Laut biru

Sedikit mendaki lagi, maka sampailah saya di pintu masuk kampung, disambut  Ibu-ibu penjaja cinderamata yang menggelar lapaknya di halaman, di bawah pohon rindang.  Anak-anak asyik bermain di sekitarnya.

Deretan rumah-rumah panggung beratap bulat meruncing terbuat dari rumbia kering dan disangga 4 tiang utama dari kayu merah gelondongan yang sangat kuat. Terdapat 15 unit rumah adat (loppo).   Sistem ikat memperkuat kekokohan struktur rumah loppo.  Tali pengikat tersebut adalah berupa pohon tanaman merambat yang kuat lagi lentur.

Rumah loppo terdiri dari 4 tingkatan, yang pertama adalah semacam teras tempat menerima tamu.  Sehelai tikar digelar diatas lantai kayu, tuan rumah menyajikan sirih pinang kepada tamunya, bincang-bincang pun terus berlangsung, lalau minuman kopi panas disajikan.  Demikianlah adab penerimaan tamu di sini.  Tapi berhubung saya adalah orang “luar”, maka adabnya sedikit jungkir balik hahaa…saya yang memberikan sirih pinang sebagai oleh-oleh dan saya tidak ikut mengunyahnya hahaa…tapi saya meminum kopi yang disuguhkan Bapak Martinus Kapelkay sampai habis J

Asyik mengobrol bersama Keluarga Kapelkay

Sebuah tangga tegaklurus menembus  “lubang pintu” berbentuk segi empat,  menghubungkan teras  dengan bagian dalam rumah.  Tingkat kedua adalah bagian utama, seluruh kegiatan berpusat di ruangan ini, memasak, makan, dan tidur.   Bagian ruangan untuk tempat tidur berada di pinggir, sangat bersahaja, hanya sehelai tikar.  Tungku memasak ditempatkan diatas lantai kayu dialasi lumpur keras untuk mencegah perambatan panas dan kebakaran.  Ruangan utama ini hangat tapi juga masih ada sirkulasi udara.

Diatas ruangan ini, terdapat ruangan ketiga untuk menyimpan persediaan bahan pangan seperti jagung, beras, umbi, kopi, dll.  Lalu yang paling atas adalah tempat untuk menyimpan barang-barang berharga, seperti moko, benda pusaka, dll.

Saya sangat asyik mendengarkan penuturan Bapak Martinus, hingga lupa waktu.  Uppsss…sudah hampir tengah hari, saya sudah ditunggu teman-teman di Dermaga Desa Alor Kecil untuk memulai petualangan mengintip alam bawah laut Alor yang tersohor.

——————————————————

Ditulis untuk : http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/

Pulau Alor (NTT) : Kejutan Pertama

Jam 2 dini hari saya berangkat dari daerah Cicurug (Sukabumi) menuju Bogor (pangkalan DAMRI jurusan Bandara) supaya bisa menumpang bis DAMRI paling pagi.  Tiba di Bandara Soekarno-Hatta ( Jakarta) saat subuh.  Ughhh…bandara sudah sangat ramai dengan para pemudik lebaran.   Semua counter check-in sudah panjang dengan antrian.   Pesawat paling pagi yang saya tumpangi, lepas landas kira-kira jam 6 pagi WIB menuju Kupang , Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Menyongsong Matahari Pagi Jakarta

Matahari pagi yang bulat kemerahan tampak baru saja muncul di langit Jakarta, pesawat yang tinggal landas ke arah barat, kemudian membelok menyongsong matahari di timur dan terus terbang ke timur.  Awan-awan putih bersih berkilauan menyilaukan mata.

Beberapa jam setelah lepas landas, saya yang baru saja terbangun, dikejutkan dengan pemandangan Gunung Tambora dengan kawahnya yang menganga super besar dan Pulau Satonda dengan danau di tengah pulau nya yang membuatnya unik, seperti cincin.

Kawah Gunung Tambora

Saya menunggu-nunggu pemandangan spektakuler ke arah Gunung Kelimutu di daratan Flores dengan danau tiga warna nya yang juga unik.  Tapi rupanya rute pesawat ini tidak menuju ke sana, melainkan terus melaju membelah langit di atas Laut Sumba.

Ini adalah kali ke 4 perjalanan saya menyusuri keindahan alam dan budaya FLOBAMORA (Flores, Sumba, Timor, dan Alor).   Pulau Alor dan Desa Lamalera di Pulau Lembata, kini menjadi tujuan utama perjalanan saya.   Walaupun berniat ingin menjajaki juga Pulau Adonara dan Pulau Solor, kemudian menyebrang ke Larantuka di Pulau Flores bagian Timur, kemudian terbang kembali ke Kupang dari Kota Maumere , tapi keterbatasan jatah cuti memaksa saya mengurungkan niat tersebut, dan mencanangkan 2 tujuan utama saja yaitu Pulau Alor dan Pulau Lembata.

Setelah beberapa kali bertualang di NTT, kita akan jadi sangat akrab dengan keterbatasan sarana transportasi darat-laut-udara yang dapat membuat rencana perjalanan yang semula disusun jadi berantakan.  Entahlah…, sepertinya adaaaa… saja alasan ferry tidak jadi melaut atau pesawat tidak jadi terbang.  Para traveller di wilayah ini, harus selalu siap dengan perubahan rencana perjalanan.

Tidak seperti biasanya, kali ini saya berhasil memperoleh teman seperjalanan, sehingga kami menjadi 1 grup yang terdiri dari 2 cowok dan 4 cewek, lumayanlah untuk menekan budget penginapan dan sewa perahu untuk snorkling.

Jam 11 WIT lewat sedikit, pesawat kami mendarat dengan lumayan mulus di Bandara El tari (Kupang), matahari sudah sangat menyengat panasnya.   Penumpang mengerubungi conveyor kedatangan bagasi.  Lama menunggu, tak ada lagi bagasi yang muncul di conveyor, kami dan beberapa penumpang lainnya bingung.  Alangkah terkejutnya kami semua ketika mendengar penjelasan dari petugas maskapai, ternyata tidak semua bagasi berhasil diangkut dengan pesawat yang sama, mungkin akibat terlalu banyaknya bawaan oleh-oleh mudik  lebaran yang dibawa penumpang.

Kepanikan dan kejengkelan melanda kami para traveller yang notabene semua keperluan “hidup” selama travelling ada dalam bagasi yang ditinggal tersebut.  Segala daya upaya dikerahkan untuk melacak keberadaan sang bagasi yang ternyata memang masih berada di Bandara Sukarno Hatta (Jakarta), dan akan diangkut dengan pesawat berikutnya yang diperkirakan akan tiba sekitar jam 11 malam.  Ughhhh…tidak mungkin kami menunggu bagasi, karena jam 14:00 WIT sudah harus meneruskan perjalanan, terbang menuju Alor.  Kalau membatalkan penerbangan ke Alor berarti uang tiket pasti hangus, dan pesawat besok ke Alor pun sudah full-book.

Laporan kehilangan bagasi

Tanpa mengasihani petugas maskapai yang tampak kewalahan menerima protes-protes keras dari penumpang, kami berhasil membuat perjanjian bahwa maskapai HARUS bersedia mengantarkan bagasi kami hingga ke Pulau Alor besok pagi dengan penerbangan pertama yang ada.

Dengan hati galau-misah-misuh, kami berenam dan juga beberapa traveller dari Jakarta bertujuan sama dan bernasib sama, mengangkasa kembali meninggalkan Kupang menuju Pulau Alor.  Batal sudah rencana menikmati daging sei di Kupang sembari menunggu penerbangan berikut.

Bandara Mali (Kota Kalabahi, Pulau Alor, NTT)

Empatpuluhlima menit kemudian pesawat mendarat di Bandara Mali (Pulau Alor).  Bandara yang mungil di apit laut dan bukit batu kapur.  Ojek-ojek dan bemo serta mobil carteran sudah berderet di parkiran.  Uughhh….ternyata hari itu banyak juga traveller yang datang dari Jakarta dan dari luar negri,  banyak juga diantara traveller yang juga akan menyewa jasa Dive Center yang sama rupanya.  Kami dibagi menjadi 2 mobil sewaan, bergerak meninggalkan bandara menuju ke tengah Kota Kalabahi (Ibukota Kabupaten Alor).

Hotel Pelangi yang kami pilih untuk tempat menginap selama di Alor, berada di pusat kota Kalabahi, tepat di seberang Musium 1000 Moko.  Moko adalah semacam “piala” besar atau nekara yang terbuat dari perunggu, dulunya digunakan sebagai alat musik, sekarang digunakan sebagai simbol status sosial adat.  Sayangnya musium tersebut sedang tutup.

Kami yang tidak memiliki baju ganti selembar pun, mau tak mau harus membeli dadakan semua keperluan dasar seperti sabun, sikat gigi, shampoo, baju ganti, baju dalam, bahkan sarung untuk selimut.  Toko-toko kecil di pasar Kalabahi mendadak kebagian rejeki dari pelancong Jakarta yang tidak punya baju ganti akibat bagasi yang tidak diangkut maskapai.  Lucu juga mencermati gaya busana-busana yang dipajang di toko-toko yang motifnya “ramai” dengan segala hiasan.  Mencari selembar kaos oblong sederhana dengan bahan ringan-dingin-menyerap keringat ternyata cukup sulit, sampai harus menjajal beberapa toko yang kebetulan masih buka.

Awal malam, dilewatkan dengan mencicipi hidangan makanan laut berupa ikan bakar, cumi beraneka bumbu, dan kepiting, di warung yang ada di Pantai Reklamasi.   Banyak juga warung-warung seafood yang ada di sini, semuanya menguarkan wangi ikan bakar yang menggoda.  Pengunjungnya lumayan banyak juga.  Selain seafood juga ada yang mejual jagung bakar serta jajanan biasa seperti bakso dan gorengan.  Asyiknya, di warung Peter yang kami pilih, ada fasilitas free-WiFi nya, sehingga kami asyik mengobrol sambil berinternet.  Maklumlah, generasi digital tidak bisa terpisah lama dengan internet…:p

Mudah-mudahan besok pagi, bagasi kami bisa diterbangkan ke Alor sini, sehingga kami bisa menikmati keindahan alam bawah laut alor dan adat budaya nya..

——————————————————

Ditulis untuk : http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/

Pulau Rote : Ndana, Mimpi Yang Tertunda

Saya ke Pulau Rote sebetulnya tujuannya adalah agar bisa menyebrang ke Pulau Ndana, pulau paling selatan Nusantara, untuk melihat-mendengar-dan-merasakan sedikit kehidupan keseharian para penjaga perbatasan negri ini.

============================

01Sept2011

Tapi apa daya, mimpi saya itu masih harus tertunda karena kendala biaya dan waktu.  Suatu hari nanti saya akan kembali untuk mewujudkan mimpi ini.  HOWGH..!!!!  (itu adalah kata penutup yang dipakai suku Indian Apache untuk menegaskan maksud dari suatu phrase atau kalimat panjang, seperti yang saya baca dalam buku-bukunya Dr. Karl May seri Winnetou).

Mengejar matahari terbenam di Nembrala

Hari sudah gelap ketika saya tiba di Nemberala dengan menyewa ojek (Rp.75rb, 2 jam).  Desa Nemberala, menurut beberapa informasi, adalah starting point untuk ke pulau impian saya, Pulau Ndana.

Ada 3 penginapan milik penduduk lokal yang budget harganya terjangkau, kami memilih Tirosa Homestay  yang berada di tepi pantai (Rp. 150rb per orang, sudah termasuk makan 2 kali dan makanan kecil untu sarapan, listrik hanya menyala malam hari, air bersih pun di jatah).  Hampir semua tamunya adalah bule, hanya saya, teman saya, dan 1 orang tamu lain asal Bandung, wisatawan lokalnya.  Gaya makannya, ala prasmanan, tamu lokal dan bule sama menunya dan di meja yang sama pula.  Suasanan makan bersama ini cukup akrab.  Rupanya, bule-bule itu rata-rata sudah tinggal lebih dari 2 minggu di sini.  Mereka adalah para penunggang ombak besar alias surfer.

Malam hari dilewatkan dengan duduk duduk di tepi pantai memandang jutaan bintang diatas kepala dan mendengarkan suara ombak.  Jika bosan di tepi pantai, ada 2 bar yang bisa dikunjungi.  Membaca buku juga menjadi pilihan pengisi malam, atau….. tidur cepat seperti saya.  Jendela kamar yang tidak bisa ditutup, menyebabkan angin malam leluasa memasuki kamar, hebatnya tidak ada nyamuk seekorpun seperti umumnya di area pantai.  Saya bergelung dalam kantung tidur karena semakin malam, angin lautnya terasa semakin dingin.

Pantai Nemberala pagi dan sore hari ternyata selalu ditinggalkan air laut, alias surut.  Kubangan-kubangan air laut diantara karang dan pasir memerangkap beberapa makhluk laut yang telat pulang.  Bintang laut berwarna kuning, orange, merah, dan coklat banyak bertaburan di pantai yang surut, beberapa diantaranya mati kekeringan dan kepanasan.  Saya sempat menemukan seekor ikan scorpion kecil dan seekor nudie brances yang terperangkap dalam kubangan.

Laut surut di pagi hari, meninggalkan mahluk-mahluk cantik di kubangan-kubangan karang
petani rumput laut

Saking asyiknya menengok ke dalam setiap kubangan dan mengobrol dengan para petani rumput laut, saya hampir lupa mencari tumpangan perahu nelayan yang akan pergi ke pulau impian saya itu.   Ternyata mahal sekali sewa perahu untuk pergi ke Pulau Ndana, walaupun sudah menawar sambil memelas, biayanya masih saja tinggi, Rp.600rb untuk 2 orang.  Saya berusaha mencari turis-turis lain yang kira-kira bertujuan pergi ke Ndana juga, tapi tak membuahkan hasil.  Jadi…., saya harus merelakan mimpi saya tertunda saat ini.

Untuk mengobati kekecewaan, kami memutuskan untuk pergi ke pulau lain yang lebih dekat, Pulau Do’o, sebuah pulau kecil tak berpenghuni yang bisa dicapai dalam waktu 1 jam.

Pulau Do’o yang sepi

Pulau Do’o memiliki pasir pantai yang berwarna putih dan halus, terasa tetap adem di telapak kaki walaupun ditengah hari yang sangat terik.  Pulau ini sangat cocok untuk menyepi.  Anda bisa menggunakan salah satu gubuk sementara terbuat dari daun-daun yang dibuat oleh para nelayan sebagai tempat beristirahat sekedarnya.  Atau Anda bisa membangun gubuk Anda sendiri, tapi harus bawa air tawar bersih yang banyaaaakkkkk…. karena tidak ada sumber tawar di sini, ada 1 sumur agak di tengah pulau, tapi airnya payau.

Gubuk singgah para nelayan

Jadi, suatu hari saya mau ke Rote lagi, lalu ke Desa Eoselli di Boa, katanya dari situ lebih dekat ke Pulau Ndana, pulau impian saya yang tertunda.

==========================================

Salah satu kontestan pemenang lomba : http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/pulau-rote-ndana-mimpi-yang-tertunda/  Oleh : Dian Sundari

Pulau Rote : Tuak – Gula Aer – Laru – Sopi

Nektar bunga lontar (Borassus flabellifer L.) atau bunga gawang (Corypha utan lamk.), itulah bahan baku pembuatan gula cair, laru, dan sopi, juga gula lempeng serta gula semut (gula bubuk). Nektar lontar yang baru disadap disebut tuak.  Tuak yang dimasak hingga kental disebut gula aer. Gula aer yang difermentasi dengan ragi yang dibawa oleh akar pohon laru disebut “laru”, laru ini mengandung sedikit alkohol dan bersoda. Laru kemudian di destilasi untuk menghasilkan embun sopi. Sopi ini mengandung alkohol > 40%.

==============================

31Agst2011

Lontar (Borassus flabellifer L.) terlihat dimana-mana di wilayah Timor.  Hal pertama yang saya ingat jika seseorang menyebutkan lontar adalah bahwa jaman dahulu kala  kitab-kitab kuno ditulis pada daun lontar. Saya pikir di jaman sekarang ini, pohon lontar sudah tidak ada lagi, sampai saya melakukan perjalanan ke Wilayah Timor, ternyata Timor bukan hanya negeri kayu cendana tapi juga negri seribu lontar, karena pohon lontar terdapat dimana-mana.

Petani lontar dengan gesit memanjat pohon lontar yang tinggi, untuk memanen nektarnya

Seluruh bagian pohon lontar bisa digunakan untuk menopang kebutuhan mendasar hidup manusia.  Bukan hanya untuk menulis kitab kuno, daun lontar ternyata bisa dibentuk menjadi berbagai macam wadah yang sangat unik, bisa dibuat menjadi semacam mangkuk atau baskom, sebagai piring, sebagai ember, bahkan sebagai topi yang disebut Tii’langga, serta sebagai bahan untuk membuat berbagai macam alat musik (seperti sasando yang sudah menggetarkan hati para juri lomba “Indonesia Mencari Bakat” di salah satu stasiun televisi).  Buah lontar juga ternyata enak dan segar, dengan daging buahnya yang agak sedikit cair jika masih muda, sedikit kenyal dan akan semakin keras jika sudah tua.  Bunga lontar, memiliki nektar yang biasanya disadap dan dijadikan berbagai jenis minuman, mulai dari tuak (nektar lontar yang baru saja disadap), gula aer, gula lempeng (gula padat), gula bubuk (gula semut), bahkan minuman beralkohol seperti laru dan sopi, serta asam cuka.  Menurut penduduk desa, bahkan getahnya pun bisa dimanfaatkan untuk menyembuhkan luka gores.

Sore dan pagi hari adalah saat bagi para lelaki pengrajin gula lontar untuk mengambil hasil sadapan nira lontar dan membersihkan penampung nektar serta memasang yang baru.  Wadah penampung itu harus selalu bersih supaya nektarnya tidak cepat menjadi asam.

Obrolan dan gurauan dalam bahasa lokal yang tidak saya pahami, serta tawa ceria, dari para lelaki yang sedang bertenggeran di puncak pohon lontar tiba-tiba memenuhi langit Desa Kole (Pulau Rote) ketika saya menjepretkan kamera saku ke arah pamannya Jona yang sedang memanjat pohon lontar.  Ditimpali suara teriakan ibu-ibu yang tiba-tiba sudah bermunculan dari dapur-dapur pembuatan gula lontar masing-masing.  Hahahaaa…lucu sekali , rupanya mereka sedang meledek pamannya Jonna yang saat itu jadi seperti selebritis karena saya foto berkali-kali dari berbagai sudut pandang :))

Dapur untuk memasak gula aer lontar. Nektar lontar alias tuak yang baru dipanen, diwadahi dengan semacam ember yang terbuat dari anyaman daun lontar, tampak digantung di tiang-tiang dapur.

Nektar bunga lontar (Borassus flabellifer L.) atau bunga gawang (Corypha utan Lamk.), itulah bahan baku pembuatan gula cair, laru, dan sopi, juga gula lempeng dan gula semut (gula bubuk).  Nektar lontar yang baru disadap disebut tuak, jika diambilnya pagi hari dan sore hari rasanya manis segar, tapi jika siang hari maka rasanya sedikit asam. Di Ba’a (Pulau Sabu), saya sempat mencicip tuak yang rasanya sedikit asam, walaupun baru saja diturunkan dari pohon lontar,  waktu itu sekitar jam 11an siang.  Sedangkan di Desa Kuli (Pulau Rote), sore hari saya mencicipi tuak yang begitu manis segar.

Mencicipi tuak nektar lontar yang manis segar

Gula aer

Tuak itu kemudian dimasak dalam belanga-belanga besar diatas tungku kayu bakar selama beberapa lama hingga mengental dan berwarna coklat muda, disebut sebagai gula aer, dan biasanya dijual dalam jerigen-jerigen 20 literan (Rp.25000) atau dalam botol-botol bekas air minum dalam kemasan 1,5 liter.

Mama Elizabeth dari Pulau Sabu menyuruh saya untuk meminum banyak-banyak gula aer ini, katanya biar cepat gemuk dan agar penyakit tukak lambung saya cepat sembuh.  Beliau prihatin melihat tubuh saya yang kurus kerempeng.  Akhirnya di Pulau Rote, saya membeli 1 jerigen (20 liter) gula aer untuk oleh-oleh , walaupun saya bingung bagaimana membawa-bawa jerigen tersebut beserta backpack saya yang sudah berat itu kemana-mana (tempat yang ingin saya tuju masih banyak setelah dari Pulau Sabu & Pulau Rote ini)

Memasak tuak menjadi gula aer

Gula aer yang dimasak agak lama hingga sangat kental biasanya dibuat menjadi gula lempeng (gula padat), yang dibentuk kecil-kecil bulat.  Bentuk gula yang lainnya adalah gula semut yang berbentuk bubuk.   Gula aer juga menjadi teman yang sangat cocok untuk menikmati air kelapa muda, apalagi kalau ditambahkan es batu… hmmmmm… segarrrrrrr…

LARU

Gula aer  dapat pula dijadikan bahan baku pembuatan laru, minuman fermentasi beralkohol rendah yang difermentasi dengan ragi yang ada pada akar pohon laru.

Fermentasi tuak lontar menggunakan akar pohon laru, dalam beberapa jam akan timbul busa-busa di permukaan. Rasa tuak yang manis akan berubah menjadi sedikit asam, mengandung sedikit soda, dan sedikit alkohol.

Laru merupakan hasil fermentasi gula aer dengan menggunakan akar pohon laru (Alstonia acuminata Miq.).  Akar pohon laru ini rupanya adalah agen pembawa mikroba yang nantinya akan menguraikan kandungan gula (sakarosa, fruktosa dan glukosa) dalam gula aer menjadi ethanol, CO2 dan beberapa asam organik (biodiversitas.mipa.uns.ac.id/D/D0903/D090302.pdf).  Salah satu jenis mikroba yang berhasil diisolasi dari akar laru adalah Pichia anomala, sejenis yeast atau ragi.

Akar laru direndam dalam gula aer , setelah beberapa lama akan timbul gelembung-gelembung gas.  Gelembung-gelembung gas tersebut lama-lama akan hilang, hal ini adalah tanda bahwa proses fermentasi telah selesai, artinya hampir seluruh kandungan gula telah dikonversi oleh yeast Pichia anomala menjadi ethanol, gas CO2 dan asam-asam organik. Kandungan alkohol dalam laru lebih dari 10%  (www.forda-mof.org/files/Lontar.pdf).

asyik mencicip laru langsung ciduk dari drum yang berbusa-busa.

Laru warnanya kuning kecoklatan, cair, rasanya manis asam segar dan sedikit berasa seperti bersoda.  Aromanya juga manis dan segar.  Semakin lama, rasanya akan semakin asam.  Jika gelembung-gelembung gas di permukaan laru sudah menghilang, artinya laru sudah siap untuk dijadikan sebagai bahan baku pembuatan sopi, demikian kata Bapak Sadrek Daepanie, pengrajin sopi skala rumah tangga, dari Desa Tuanatu (Kec. Lobalain, Kab. Rote-Ndao), yang bersedia mengajari saya “ilmu luhung” turun temurun dari nenek moyang pembuat sopi.  Drum-drum berisi laru yang masih dalam tahap fermentasi, permukaannya tampak penuh dengan busa-busa putih, ketika dicicipi, rasanya begitu segar, harum, manis, sedikit asam, dan bersoda.  Disampingnya, tampak drum berisi laru yang tengah dimasak dalam rangka membuat sopi.

Sopi

Saya yang penasaran dengan cara pembuatan sopi merasa sangat beruntung sewaktu diijinkan untuk melihat sendiri unit pengolahan sopi milik Bapak Sadrek Daepanie.  Lokasinya di area sawah karena membutuhkan air mengalir yang cukup banyak.  Ya, ternyata di Pulau Rote yang sebagian besar adalah wilayah kering, masih terdapat cukup banyak areal pesawahan yang hijau subur walaupun tanahnya berwarna sedikit putih karena tingginya kandungan kapur.

Bapak Bapak Sadrek Daepanie, pengrajin sopi tradisional

Sopi merupakan hasil pemurnian dari laru melalui cara destilasi.  Darimana awal mula nenek moyang orang Timor ini mempelajari teknik destilasi ????   Hmmmm…entahlah….  karena sewaktu si Kapten Cook, pengelana dari Inggris mampir di pulau-pulau ini, sudah disuguhi sopi, bahkan membawa berdrum-drum sopi ke dalam kapalnya.

Saya terpana melihat properti pembuatan sopi, sangat sederhana : sebuah drum yang dilengkapi 2 lubang berpipa tempat untuk laru yang akan dimasak, sepotong batang pohon kelapa yang bagian tengahnya dilubangi sebagai tempat penampung air pendingin , sepotong pipa tembaga yang disambungkan dengan drum lalu melewati bagian dalam si batang pohon kelapa dan harus terendam air, kemudian jerigen penampung hasil destilasi.

Dua lubang yang terdapat pada drum untuk memasak gula aer itu, yang lubang pertama adalah untuk memasukan laru, jika laru sudah selesai dimasukkan, maka lubang ini ditutup rapat dengan sumpal kayu.  Lubang kedua adalah untuk mengalirkan uap laru yang mendidih ke dalam pipa tembaga sepanjang kurang lebih 1,5 meter.  Pipa tembaga tersebut direndam dalam air untuk mempercepat pengembunan uap sopi, pemakaian air mengalir akan lebih mempercepat proses pendinginan dan pengembunan uap sopi menjadi tetesan-tetesan sopi yang kemudian akan di tampung ke dalam jerigen-jerigen 20 literan.

unit destilasi sopi secara tradisional

Cairan sopi yang pertama keluar disebut sopi kepala dan bermutu paling tinggi sehingga paling dicari oleh para penikmat sopi.  Harganya pun paling mahal.  Bapak Sadrek biasanya menjual sopi kepala seharga Rp20.000 per botol air mineral volume 600 ml.  Semakin lama, mutu sopi semakin menurun . 2 liter laru akan menghasilkan 2 liter sopi bermutu baik, jika lebih dari itu maka sopi yang dihasilkannya akan bermutu kurang baik dan sifatnya cepat memabukan.  Sopi bermutu baik bermanfaat bagi kesehatan tubuh jika dikonsumsi secara tidak berlebihan, cukup 1 sloki sebelum tidur.    Kadar alkohol dalam sopi berkisar antara 36 – 43% %, 2 kali penyulingan sopi akan menghasilkan alkohol murni 98%  (www.forda-mof.org/files/Lontar.pdf).

Sopi yang saya beli dari Bapak Sadrek berkadar alkohol 47% ketika saya cek sendiri di laboratorium tempat saya bekerja.  Pantas saja mulut , tenggorokan dan perut saya terasa terbakar ketika saya mencicipinya walau cuma setutup botol air minum.

Rasanya….????  Hmmm…. pahit seperti minum spirtus, tenggorokan dan dada terasa panas.  Tapi rasanya itu cepat hilang.  Bagi saya yang tidak pernah minum minuman beralkohol sebelumnya, masih belum bisa merasakan manfaatnya bagi tubuh, selain jadi sedikit mengantuk.  Mungkin saya harus mencobanya lebih sering ^_^

Jadi… selamat menikmati panasnya sopi !!!

Tapi harus dijaga takarannya… nanti mabok kalau terlalu banyak :-p

==============================

Salah satu kontestan pemenang dalam lomba adventure journal http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/pulau-rote-tuak-gula-aer-laru-sopi/  Oleh : Dian Sundari

Pulau Rote : 3 Kejutan dari Desa Kuli

Dalam suatu perjalanan memang kita harus siap dengan segala kejutan. Dan hari pertama di Pulau Rote (NTT) ini saya mendapatkan 3 sekaligus !!!

==================================

30Agst2011

Source : http://www.indonesiatraveling.com/nusatenggara/nusatenggara-intro/2476-timor-and-roti.html

Rumah adat susah ditemui di Rote

Hari ini saya dikejutkan oleh 3 hal, yang pertama adalah bahwa rumah adat sangat susah ditemui di Pulau Rote ini.  Hari ini saya menjelajah dari Ba’a di pesisir utara Pulau Rote hingga Desa Kuli di pesisir selatan Pulau Rote, dan hanya menemukan 1 saja rumah adat, yaitu di Desa Kuli.

Istana Raja Lole (Dibangun tahun 1927)

Rumah adat tersebut dibangun pada tahun 1927 oleh Raja Lole yang bernama Ndi’i Hua . Dulunya diperuntukan sebagai sekolah, demikian cerita yang dituturkan oleh Mama Dilak, cicit dari Sang Raja. Beliau beserta keluarganya kini mendiami rumah panggung yg sangat besar itu.

Rumah itu memang besar sekali, ukurannya mungkin sekitar 14m x 14m, tinggi tiang kolong rumahnya kira2 1,5meter. Penampilannya sudah setua umurnya, sudah perlu perbaikan disana sini, yang tentu saja memerlukan biaya yang sangat besar.

Gempa menggoyang Rumah Adat Raja Lole

Ketika sedang asyik-asyiknya mendengarkan cerita Mama Dilak diteras depan, tiba-tiba rumah itu terasa bergoyang-goyang dan bunyi kerekatkrekot, ternyata ada gempa, maka kami pun tergesa-besa turun ke halaman, karena takut rumah tua ini roboh. Gempa inilah hal kedua yang mengejutkan saya hari ini. Rupanya memang sering terjadi gempa disini. Dan setiap kali ada gempa, Mama Dilak selalu lari ke halaman, karena takut rumah lapuk yang besar ini rubuh.

Mama Dilak bercerita dengan penuh semangat

Cerita masih terus di halamannya luas dan teduh. Lingkungan rumah adat ini dipagari pohon lontar dan pohon asam jawa. Lingkungan luarnya berupa hamparan sawah hijau yang luas. Sebatang pohon asam jawa yang sangat besar dan rindang yang tumbuh di halaman depan mungkin umurnya sudah setua umur sang rumah, dan sudah menyaksikan berbagai kejadian bersejarah yang berlangsung disitu. Termasuk kejadian mengenaskan di th 2000-2001 yg menjadi kejutan ketiga buat saya hari ini.

Perang Antar Suku yang sangat Brutal

Kejadian tersebut adalah perang antar warga Kecamatan Rote Barat Daya [yang merupakan keturunan dari Kerajaan Ti] dengan Kecamatan Lobalain [ yang merupakan keturunan dari Kerajaan Lole], ini adalah perang memperebutkan perbatasan yang sudah membara sejak jaman nenek moyang dahulu kala. Rumah-rumah dijarah dan dibakar. Penduduk perempuan dan anak-anak Mengungsi ke gunung kapur, bersembunyi didalam goa dan minta perlindungan gereja. Penduduk laki-laki dewasa dan dianggap sudah cukup dewasa maju berperang dengan senjata seadanya untuk mempertahankan desa dari serangan musuh yang menyerbu dari seberang sungai. Penduduk yang tewas cukup banyak, bahkan ada yang kepalanya dipenggal dan ditancapkan ditiang, sedangkan badannya dimutilasi hingga tinggal tulang belulang. Demikian tutur Jonathan, salah satu ‘pemuda veteran perang’ dan Mama Dila bergantian. Perang tersebut berlangsung selama setahun penuh. Perdamaian terjadi setelah adanya campur tangan pemerintah.

Saya terkesima mendengarkan peristiwa menyeramkan tersebut.

Hati saya terenyuh melihat sisa-sisa kuburan Sang Raja Lole yang sudah rusak dan dengan sangat menyedihkan separuhnya sudah dijadikan jalan raya. Tidak dihormati.  Seakan-akan tidak ada lahan lainnya untuk dijadikan jalanan. Hanya ornamen berbentuk mahkota nya saja yang menunjukkan bahwa itu adalah kuburan seorang raja.

Kuburan Raja Lole yang tergerus proyek pembangunan jalan desa

??????????????????????

Saksi sejarah Rote lainnya adalah Bukit Mandao, sebuah bukit kapur ditepi pantai selatan Rote yang sudah menjadi sejarah sejak jaman raja-raja di Rote [ada 19 kerajaan], tempat mencari “ilmu halus” bagi dukun-dukun, tempat bersemedi mencari wangsit, dan tempat pertemuan raja-raja Rote dalam menyelesaikan masalah-masalah pelik seperti perang memperebutkan perbatasan. Dan disana pula dikuburkan 3 kepala yang dipenggal pada perang perbatasan di tahun 2000-2001 lalu, serta dibuat suatu monumen yang sekarang dijadikan sebagai sarana wisata, sehingga hilang sudah aura magisnya.

Pemandangan dari atas Bukit Mandao

Orang sana menyebut Bukit Mandao sebagai “bukit tangga 300”.  Kini tempat tersebut tampak sangat tak terurus, pagar besi pengaman di sepanjang kurang lebih 365 anak tangga beton yg dibuat untuk kemudahan pengunjung, telah patah dan roboh di sana-sini. Gazebo-gazebo untuk beristirahat sejenak di beberapa titik pendakian, juga telah rusak, atapnya patah. Serta taman yang sedianya cukup asri dipuncaknya, kini juga sudah sangat menyedihkan keadaannya.

Bukit Mandao dilihat dari pantai kebun rumput laut
Jonathan "Jona" Hendrik, pemuda setempat yang mengantar-antar saya kesana kemari (https://www.facebook.com/jonatan.hendrik?fref=ts)
Jonathan “Jona” Hendrik, pemuda setempat yang mengantar-antar saya kesana kemari  (https://www.facebook.com/jonatan.hendrik?fref=ts)

Namun, pemandangan dari puncak masih menyajikan suatu keindahan alam yang sungguh spektakuler. Laut selatan biru membentang sejauh mata memandang. Beberapa gugusan pulau karang tampak berserakan di lepas pantai, yang terbesar bernama Pulau Lai atau Nusa Lai. Nelayan petani rumput laut dan pencari kerang & teripang tampak sekecil semut dibawah sana. Sedangkan bukit batu tampak seperti benteng kokoh di sebelah utara. Di timur, jajaran pepohonan hijau membentang menghiasi lekuk pantai. Dan di barat sana matahari merah sedang akan tenggelam ke balik bumi. Langit, laut, dan pepohonan dibanjiri warna kuning keemasan.

Matahari tenggelam di hadapan Bukit Mandao

Walaupun katanya telah hilang “kekuatan magis” nya, tapi saya tidak bersedia kalau kemalaman di atas sana, siapa tahu masih ada yang tersisa hiiiiiiiii……

==========================================

Salah satu kontestan pemenang dalam lomba adventure journal http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/pulau-rote-3-kejutan-dari-desa-kuli/  Oleh : Dian Sundari

Pulau Sabu 4: Ada Deo di Setiap Langkah

Setiap aspek kehidupan masyarakat Sabu selalu melibatkan kuasa Tuhan Yang Maha Kuasa (Deo Mone Ae), setiap kegiatan-kegiatan selalu diawali dengan ritual-ritual dengan maksud memohon bimbingan, petunjuk, berkat serta penjagaan dari Deo, misalnya untuk memulai proses menyadap nira lontar sekalipun harus meminta ijin dari Deo Mayang, mewadahi nira kepada Deo Haik, memasak gula lontar kepada Deo Haba Hawu dan Jiwa Hode yang bertugas menjaga kayu bakar. Itu adalah bukti betapa besarnya penghormatan orang Sabu terhadap kuasa Pencipta Alam Semesta (Deo Mone Ae).

Persinggahan kedua dengan budaya Sabu saya alami di Kampung Pedero dan Kampung Mehara.

================================

Kampung Pedero

Seperti halnya Kampung Namata, Kampung Pedero juga terletak di atas bukit.  Pemandangan membentang ke arah selatan hingga ke samudera biru.  Satu dua rumah beratap ilalang terlihat disana-sini didataran rendah antara Kampung Padero dan samudra biru.

Kampung Padero memiliki situs arena upacara adat yang tidak kalah menarik dengan yang ada di Kampung Namata.  Sebuah pohon yang sangat besar dan rindang, usianya mungkin sudah ratusan tahun, menjadi pusat arena tersebut.  Daunnya yang lebat dan rindang walaupun di musim kemarau yang sangat kering seperti saat ini, menaungi “kursi-kursi” berupa sandaran dari batu yang ditata melingkari sang pohon.

Arena upacara adat Kampung Padero

Seorang Mama Tua sedang duduk di salah satu sandaran batu, beliau sedang khusu “mendandani” selembar kain tenun ikat yang sangat cantik.  Dua orang anak laki-laki kecil, mungkin cucunya, sedang asyik bermain di sekitarnya.  Seekor anjing berwarna hitam sedang asyik tiduran disampingnya.  Semua kedamaian dibawah keteduhan pohon rindang itu buyar seketika akibat kedatangan saya.  Si anjing hitam seketika terbangun dan menggonggong-gonggong.  Kedua anak laki-laki itu menghentikan permainan mereka, lalu mendekat dengan ragu-ragu tapi matanya memancarkan binar keingintahuan.  Hanya Mama Tua yang tetap tenang, hanya mengangkat kepala dan tersenyum lembut, sambil tetap meneruskan pekerjaannya.

Sayangnya Mama Tua tidak bisa berbahasa Indonesia, dan tidak ada orang lain di situ untuk tempat bertanya.  Om Riki yang menjembatani kami, agak kesulitan menterjemahkan bahasa saya dan bahasa Mama Tua.

Tenun asli Kampung Padero

Kampung Mehara

Dari Kampung Padero, kami berpindah ke Kampung Mehara.  Akses jalan ke sini berupa jalan tanah berbatu, perlu keahlian dan kelincahan bermanufer diatas sepeda motor untuk bisa melaluinya.

Kampung Mehara juga terletak diatas bukit, merupakan kompleks rumah adat yang dihuni oleh keluarga Deo Rai Mehara.  Di tempat ini sudah dibangun sebuah “workshop” sekaligus “galeri” seni yang sederhana.  Didalamnya terdapat alat tenun, kain tenun, dan peralatan rumah tangga terbuat dari berbagai bagian dari pohon lontar.  Di sini, ibu-ibu membentuk sebuah Kelompok Tenun bernama “Tewu Nirai” yang beranggotakan 30 orang.  Mereka sangat produktif menghasilkan kain tenun Sabu yang menggunakan pewarna alam dari tumbuh-tumbuhan, seperti para perajin di Desa Kaliuda (Sumba Timur).  Kain tenun mereka kemudian secara berkala diambil oleh pedagang tenun dari Bali, dan kadang-kadang dari luar negeri, seperti Perancis.

Mama Beni Godi dari Kelompok Tenun “Tewu Nirai” yang sempat tampil di Museum Horniman (London)

Kampung Mehara memang sudah merupakan tujuan wisata budaya di Sabu, terutama bagi para wisatawan dari luar negri.  Bahkan ada yang tinggal lama di sini untuk mempelajari tenun Sabu yang indah.  Dialah Nyonya Genevieve Dugan (asal Perancis).  Beliau juga lah yang telah memprakarsai penampilan para wanita penenun dari Sabu untuk tampil di Museum Horniman (London).  Saya beruntung bertemu dengan Mama Beni Godi, salah satu penenun yang sempat pergi ke London saat itu.

Saya juga sangat beruntung karena Bapak Raja bersedia mengijinkan saya masuk ke istana Keluarga Deo Rai Mesara. Melihat altar untuk upacara kematian dan berbagai senja pusaka bertuah milik nenek moyang Keluarga Deo Rai Mesara yang masing-masing memiliki cerita magis.

Rumah Raja Mehara

Dan terjawablah sudah pertanyaan yang memenuhi benak saya berkaitan dengan adat pemakaman, karena selama di Sabu, baik di Kampung Namata maupun di Kampung Padore tidak menemukan satupun kuburan.  Mungkin kepala saya telah terlalu dipenuhi gambaran bahwa di Sabu akan menemukan hal yang relatif sama seperti di Sumba.  Jadi saya bingung dan heran ketika tidak menemukan satupun kuburan.

Rupanya memang budaya Sabu dalam hal penguburan amat sangat berbeda dengan di Sumba.  Di Sumba, ukuran serta ornamen-ornamen penghias sebuah kuburan menjadi penanda status sosial si mati beserta keluarganya.  Semakin “wah” maka artinya semakin tinggi pula status sosialnya di masyarakat, dan semakin banyak ternak dan tenun yang dipersembahkan kepada si mati adalah semata-mata untuk bekalnya di dunia arwah.  Sedangkan di Sabu sini, lokasi tempat sesorang dikuburkan tidak boleh terlihat dan diketahui orang lain.  Orang yang meninggal akan dikuburkan di kolong rumah tempat kelahirannya, sesuai dengan budaya rambut atau “Ruketu” yaitu tradisi mengembalikan arwah ke tanah leluhur.  Karena menurut kepercayaan leluhur, setelah sesorang meninggal, maka pertama-tama arwahnya akan singgah di alam “Rai Ehu Nga Tewuni” yaitu tanah tempat tersimpannya tali ari-ari.

Kuburan di kolong rumah

Seperti salah satu keluarga Deo Rai Mehara yang baru meninggal dunia 20 hari yang lalu.  Mayatnya dikuburkan dibawah beranda rumah keluarga, tidak diberi penanda apapun, hanya selembar tikar daun lontar dihamparkan menutupi gundukan rendah tanah kuburannya.  Kalau saja tidak diceritakan oleh Bapa Deo Rai, maka saya tidak akan menyangka bahwa itu adalah kuburan.

Rumah adat Sabu (emmu hawu) juga berbeda dengan di Sumba.  Di Sabu rumah adatnya memanjang horizontal, seperti perahu terbalik, sedangkan di Sumba memanjang vertikal dan ada juga yang bulat atapnya.  Bagian dalam rumah adat Sabu  juga tidak dibagi-bagi berdasarkan gender seperti di Sumba, tidak ada pintu masuk dan area khusus bagi perempuan ataupun pintu serta area khusus untuk laki-laki.  Memang ada 2 pintu, satu dekat dapur, dan satunya lagi dekat tiang pemujaan pada Deo.  Di bagian tengah rumah adalah altar untuk upacara kematian.

Walaupun sebagian besar warga Sabu sudah memeluk agama Kristen Protestan, akan tetapi mereka masih mempertahankan kepercayaan dan tradisi nenek moyang hingga sekarang, termasuk kepercayaan tehadap para dewa atau Deo dan kepada tokoh gaib yang masih memiliki kekuatan supra-natural.  Berbagai ritual  untuk menghormati Deo masih setia dilaksanakan.

Konon kabarnya, bagi para penginjil Kristen-Protestan Potugis yang datang ke Sabu pada Tahun 1625, kepercayaan nenek moyang orang Sabu itu adalah kafir atau tidak mengenal Tuhan atau Gentios (dalam bahasa Portugis).  Oleh orang Sabu kata gentios itu dilafalkan menjadi  jingi-tiu, maka jadilah kepercayaan orang Sabu terkenal dengan nama  jingi-tiu tersebut.

Pencipta Alam Semesta itu memang ESA, kita lah manusia yang berbeda dan yang selalu membesar-besarkan perbedaan itu !!

==========================================

Pembelajaran sejarah Pulau Sabu, bisa dibaca di sini : http://derosaryebed.blogspot.com/2012/01/sejarah-orang-sabu-dan-rote.html

Salah satu kontestan pemenang dalam lomba adventure journal  http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-journal/contestant-journal/detail/read/pulau-sabu-4-ada-deo-di-setiap-langkah/   Oleh : Dian Sundari