MENCICIPI KESEHARIAN FAM GUARRI (SUKU KORUWAI)

“Ooo uu o o oo… ou o o u oooo…. Yayayayayayaaa….. ou o o u oooo….” Nyanyian lantang Bapak Markus Guarri masih terngiang-ngiang di telinga saya, berhari-hari setelah perjalanan ke Suku Korowai usai.

Video lihat di sini dan sini.

 

Bapak Markus sangat senang menyanyi. Pagi-pagi begitu bangun tidur dan akan turun dari rumah tinggi (sebutan bagi rumah pohon), suara nyanyiannya sudah menggema di udara pagi, diikuti oleh semua anjing-anjingnya yang juga ikut menyanyi bersama. Sewaktu jalan di hutan, sewaktu menebang pohon sagu, sewaktu menokok sagu, sewaktu melinting rokok tembakau, sewaktu memeras buah merah, beliau selalu menyanyi.

aDSC_0153

============================

Pemukiaman Fam Guarri dapat dicapai dengan berjalan kaki sekitar 3 jam dari Kampung Mabul (Ibukota Distrik Koruwai Buluanof, Kabupaten Asmat, Papua). Kampung Mabul sendiri terletak ditepian Sungai Ellianden yang besar. Fam Guarri merupakan salah satu klan dari Suku Koruwai. Konon kabarnya terdapat sekitar 3000 orang Koruwai yang tersebar di hutan rawa pedalaman Papua Selatan .

aLokasi
Lokasi berdasarkan GeoTag foto

Bapak Markus adalah ketua (“nate”) fam Guarri, beliau beserta keluarganya, tinggal di sebuah area yang merupakan milik fam Guarri secara adat turun-temurun. Kompleks pemukiman Fam Guarri berada di tepi Kali Jerni. Terdapat beberapa bangunan di sini , ada 2 rumah tinggi, 1 rumah panggung kehormatan untuk pesta adat (seperti pesta sagu misalnya), satu rumah panggung untuk berkumpulnya mama-mama dan anak-anak, satu rumah tamu (ditanah langsung, tidak pakai panggung) , satu dapur umum pinggir, dan satu saung gazebo kecil untuk duduk-duduk.

aDSC_0243
Di dalam rumah tinggi

Rumah tinggi (gul khaim) yang biasa dipakai Pak Markus, tingginya kurang lebih 7-10 meter diatas tanah, luasnya sekitar 2×3 meter, disangga oleh 1 pohon besar utama dan beberapa pohon kecil dan tiang-tiang kayu penyangga. Dinding nya dari kulit kayu dan pelepah daun sagu. Atapnya dari daun sagu kering. Tangga untuk naik turun nya terbuat dari sebatang pohon kayu keras terpasang vertical, dibuatkan takik-takik untuk pijakan, tanpa pegangan kiri-kanan. Semuanya dirangkai dengan diikat menggunakan tali rotan atau akar ikat yang lentur dan kuat. Didalam rumah tinggi tersebut terdapat perapian, yang dibuat diatas lantai kayu dilapisi tanah, tidak dibentuk tungku seperti di Jawa, melainkan hanya sebatas perapian kayu bakar seperti kalau kita ber-api unggun saat berkemah. Disela-sela ikatan-ikatan di dinding dan atap, diselipkan berbagai macam tulang-belulang hewan buruan yang berhasil ditangkap, seperti burung kaswuari, tikus tanah, burung-burung jenis lain, udang sungai yang berukuran besar, dlsb. Untuk naik ke sini bagi kami susahnya minta ampun, takut kepeleset dan jatuh, jadi perlu bantuan tali dan carrabiner pengaman serta orang yang menahan tali pengaman supaya kami tidak langsung jatuh ke tanah jika terpeleset dan terlepas pegangan. Harus kuat berpegangan pada batang tangga dan pijakan kaki dimiringkan agar bisa mengangkat badan tiap kali naik.

aDSC_0140
Rumah tinggi (kurang lebih 26 meter)

Rumah tinggi lainnya milik Pak Markus ada di lokasi yang sedikit terpisah dari kompleks. Bertengger di atas sebatang pohon kayu keras, menjulang tinggi ke angkasa , lebih tinggi dari pohon-pohon lain di sekitarnya. Sedikit dibawah rumah tinggi tersebut, terdapat semacam teras untuk duduk-duduk. Tingginya dari atas tanah belum pernah ada yang mengukur, mungkin sekitar 26 meter. Ukuran rumahnya lebih kecil dari rumah tinggi sebelumnya, mungkin sekitar 2×2 meter persegi. Lantainya dari batang-batang pohon dilapisi kulit kayu atau pelepah sagu, dindingnya juga sama, atapnya dari anyaman daun sagu. Disini juga ada perapian. Terdapat tangga kayu untuk akses naik turun, yang ini tangga yang seperti kita temui dimana-mana, ada pijakan dan pegangan kiri-kanan. Rumah tinggi yang ini jarang ditempati. Untuk naik ke sini, cenderung lebih mudah karena tangganya tangga biasa dengan pegangan kiri-kanan, hanya saja ketinggiannya yang luar biasa dan bergoyang-goyang, membuat gemetar lutut, keringat dingin keluar di telapak tangan, dan sedikit pusing kalau melihat ke bawah.

Terdapat 3 spot di tepi sungai Jerni untuk keperluan mandi, mencuci, dan ambil air, yang pertama di dekat rumah panggung mama-mama, yang ke-2 dekat dapur umum, dan yang ke-3 sedikit jauh dari pemukiman (biasanya kami mandi dan berendam di sini kalau sedang kepanasan).

 

aDSC_0185
Fam Guarri

Di Fam Guarri ini, selain bertemu dengan Bapak Markus, kami juga bertemu dengan 2 orang mama (karena tidak ditulis, jadi lupa nama-namanya), dan 2 anak kecil (Gita dan Obaja). Gita masih balita , umurnya kurang dari 2 tahun, cantik dan lucu , apalagi kalau lagi tertawa. Obaja, umurnya sekitar 6 tahun, khas anak laki-laki yang nakal dan banyak ulah, tapi jadinya ramai dan seru kalau ada dia. Mama tua, mamanya Gita, dan Gita, memakai rok rumbai-rumbai terbuat dari serat pohon gaharu, tidak memakai atasan. Mama tua dan Mama-nya Gita memakai kalung berhiaskan taring anjing, yang merupakan mas kawin. Obaja telanjang bulat kemana-mana. Bapak Markus juga sama, telanjang, hanya memakai kalung dan semacam sabuk untuk menyelipkan peralatan, rokok, dll.

Pemukiman jadi tambah ramai dengan kedatangan kami (3 perempuan dan 1 laki-laki dewasa), serta 3 orang porter laki-laki yang merupakan penduduk setempat dan 1 anak laki-laki (berumur sekitar 7 tahun, yang merupakan anaknya dari salah satu porter). Rony, porter termuda adalah kakaknya Gita. Pak Enos dan Pak Markus (beserta Osea, anaknya) adalah tetangga klan Pak Markus. Sejak datang, mereka tidak berhenti ramai saling bercerita, kadang-kadang hingga larut malam. Serentetan kalimat-kalimat panjang saling bersahutan, kadang intonasi nya meninggi seperti orang marah-marah.

Pagi-pagi mama-mama pergi ke hutan, siang-siang datang membawa hasil buruan berupa tikus tanah gemuk , nibung (umbut daun sagu muda), dan pucuk daun pakis. Pak Markus bawa nenas matang 4 buah. Rony dan bocah-bocah bawa ikan hasil pancingan. Tikus tanah kemudian dibakar dulu bulu-bulunya sampai habis, baru kemudian dibuka dan dibersihkan organ dalamnya, dipotong-potong dagingnya, kemudian direbus sampai empuk. Itu makanan kesukaan teman seperjalanan saya, Ivonne. Saya tidak berani makan. Nenasnya segar dan manis sekali. Nibungnya sedikit manis. Ikan-ikan bakarnya gurih dan lezat. Pucuk daun pakis, dipotek-potek kemudian di oseng, bisa juga dicampur nibung lalu dibungkus sagu dan dibakar, enak sekali.

Seperti suku-suku di Papua lainnya, Suku Korowai merupakan suku pengumpul dan berburu, bukan bertani. Jadi mereka mengumpulkan bahan makanan apapun yang diperoleh di hutan wilayah adatnya. Di pemukiman Fam Guarri ada sedikit tanaman yang memang sengaja ditanam, seperti cabai (disebut rica) dan nenas, tapi tumbuhnya liar tidak dirawat.

Sagu sebagai makanan pokok diambil dari “ladang sagu”. Yang disebut sebagai “ladang sagu” adalah bagian hutan rawa yang banyak ditumbuhi pohon-pohon sagu, pohon-pohon itu tumbuh dengan sendirinya, bukan ditanam. Yang bisa dipanen adalah pohon sagu yang sudah cukup umur (sekitar 6 tahun) dan dinyatakan sebagai sudah “berisi”. Sagu yang biasa dimakan merupakan sari pati “hati” pohon sagu yang sudah dihancurkan/dihaluskan (ditokok) kemudian di peras. Pohon sagu ditebang, kemudian dibuka kulit kayu kerasnya , menampakan “hati” pohon sagu yang berwarna putih kecoklatan bersemu sedikit merah. Hati sagu kemudian dibongkar (ditokok) dengan semacam penugal, dibacok-bacok menjadi bongkahan kecil-kecil. Lalu diwadahi (biasanya dengan pelepah daun sagu kering).

IMG_20170518_165139_618
Pak Markus sedang makan ulat sagu hidup

Selain itu, ada ulat sagu yang menjadi makanan favorite mereka. Batang-batang dan daun-daun sagu dibiarkan membusuk beberapa minggu, supaya menjadi media bagi bertumbuhnya ulat-ulat sagu. Setelah diperhitungkan ulat-ulat sagunya cukup banyak dan cukup gemuk, pelepah-pelepah sagu membusuk itu akan dibongkar lapisan-demi lapisan, ulat-ulat sagu nya kemudian dikumpulkan untuk dimasak ataupun untuk dimakan mentah-mentah hidup hidup, seperti yang dicontohkan Pak Markus dan Pak Enos. Ulat sagu berwarna putih yang gemuk-gemuk itu dimasukan ke mulut, dikunyah dan dimakan langsung tanpa dimasak. Saya tidak berani makan, cuma berani pegang-pegang sedikit, geli bergerak-gerak ulatnya. Ulat-ulatnya ada yang sudah membungkus diri dalam kepompong berwarna coklat, yang ini juga sama bisa dimakan, kepompongnya dibuka, ulatnya di makan langsung. Pak Markus bahkan dengan isengnya memasukan satu ulat sagu kecil ke dalam lubang kupingnya…, tidak tahu maksudnya apa…, ulat kecil itu masuk terus ke dalam lubang kuping Pak Markus, sampai buntutnya hilang tidak kelihatan lagi… Pak Markus sesekali nyengir bergidik geli sambil tertawa-tawa…, saya terbengong-bengong memperhatikan si ulat sagu… Tidak lama si ulat sagu itu keluar lagi dari lubang kuping…

Sore hari seusai kami pulang dari menokok sagu, Bapak Markus datang dari hutan dengan membawa 2 buah Buah Merah . Buah merah ini berbentuk lonjong memanjang, kulitnya seperti kulit sukun/nangka, dalamnya (“hati”) berwarna putih. Bapak Markus kemudian memotong-motong buah merah tersebut menjadi potongan kecil-kecil yang kemudian direbus hingga lembut. Setelah rebusan Buah Merah ini cukup dingin untuk dipegang, kemudian ditumpahkan ke dalam pelepah kering daun sagu, selanjutnya di remas-remas dan diperas hingga saripati nya keluar.

aDSC_0501
Pak Markus dan Pak Petrus sedang meremas-remas rebusan buah merah panas

Sementara Bapak Markus sedang merebus Buah Merah, Bapak Enos memasak sagu yang tadi ditokok, dengan cara disanggrai dengan wajan, makanya disebut sagu wajan. Sagu wajan yang telah matang aromanya harum sekali, bikin perut keroncongan. Sagu-sagu wajan kemudian ditempatkan diatas pelepah kering daun sagu, dan ditaburi perasan si Buah Merah. Hmmmm….sagu sangrai panas dicocol saos buah merah panas… rasanya luar biasa…. gurih sekali.

===================================================

How to get there :

Rute kami tanggal 21 – 30 April 2017 :

Day-0 Jumat 21-April-2017 : Terbang dari Jakarta ke Sentani (5 jam)

Day-1 Sabtu 22-April-2017

Tiba di Sentani pagi. Melanjutkan penerbangan ke Dekai (Kab. Yahokimo) dengan Trigana Air (berangkat jam 12:00 , tiba jam 12:50, Rp900.000 ). Melanjutkan perjalanan darat dengan mobil (selama 1 jam, kami memakai mobil pick-up sewanya Rp500.000 untuk antar dan jemput lagi nanti) ke Dermaga Logpon (di tepi Sungai Brazza). Melanjutkan perjalanan menyusuri sungai Brazza ke hilir menggunakan speedboat kecil (kami menyewa speedboat kecil, double engine, sewa boat Rp18jt untuk antar dan jemput, belum include fuel / bensin harga Rp50.000-60.000 per liter, untuk pp butuh 400 liter bensin + 20 liter oli) , menuju Dusun Pepera (3-4 jam). Menginap semalam di rumah penduduk (kasih 1jt ke tuan rumah karena ikut masak juga).

Day-2 Minggu 23 April 2017

Melanjutkan perjalanan ke hilir sungai Brazza menuju Kampung Mabul (Ibukota District Kuruwai Buluanop, Kab. Asmat). Di sini kami mencari porter (3 orang, @200rb per hari) merangkap guide dari penduduk setempat yang tau medan dan rute yang biasanya berubah-ubah karena beberapa factor, misalnya pohon tumbang, tergenang air, dll. Dari Mabul memulai perjalanan trekking, memasuki hutan biasa dan hutan rawa, menuju pemukiman salah satu klan suku Korowai terdekat. Setelah trekking 3 jam menembus hutan rimbun, panas, dan lembab serta becek berlumpur, sore-sore kami tiba di pemukiman Klan Guarri (mereka menyebutnya Fam Guarri).

Day-3 Senin 24-April-2017

Kami menjelajahi pemukiman Fam Guarri, menaiki kedua rumah tinggi milik Bapak Guarri dan bercengkrama dengan seluruh anggota keluarga.

Day-4 Selasa 25-April-2017

Kami mengikuti kegiatan Keluarga Guarri memanen dan memproses sagu di ladang sagu serta mencari ulat sagu, dan mengolah buah merah.

Day-5 Rabu 26-April-2017

Untuk 3 hari 2 malam di Fam Guarri, kita kasih uang menginap dan membayar makanan-makanan yang kami makan, kemudian masing-masing dari kami kasih 150rb untuk biaya menokok sagu.

Hari ini kami berpindah ke klan lainnya yang berjarak sekitar 3 -4 jam berjalan kaki.

(Kisahnya akan diceritakan lain waktu )

======

Terimakasih kepada Mas Nanang Sunarko, Bunda Ivone Somber, Mbak Ananta, Pak Abdullah & family, Pak Sam Palembang motorist jempolan, Pak Enos, Pak Petrus, Osea, Rony, Pak Markus Guarri, Mama Tua, Mamanya Gita, Obaja, dan Gita, untuk semua pengalaman hidup luar biasa ini . GBU.

 

Advertisements

Memimpikan Whale shark Nabire bersama Garuda Indonesia Promo

Ahhh…bagaimana rasanya bisa ber-snorkling-snorkling bersama ikan hiu-paus (Rhincodon typus) raksasa yaaa…???  Badanku yang kecil mungil kurus kering ini, mungkin cuma sebesar salah satu giginya saja, katanya dia punya 4000 gigi…!!! Ukuran badan si hiu-paus alias whale shark ini bisa mencapai 12 – 14 meter katanya, beratnya bisa sampai 21 ton ….!!!!   Waakkkkk…… Sedangkan diriku, cuma 1,43 meter, berat 37 kg hiksss….. , jika masuk ke mulutnya yang selebar 6 kaki (182.88 cm) pasti langsung hilang….!!

Tapi untungnya si hiu paus ini tidak doyan diriku, dia doyannya makan plankton dan larva.  Jadi…, walaupun berbadan super besar, tidak berbahaya untuk manusia, kecuali kalau kita kena kibasan ekor atau sirip nya, atau…kalau ketiban hiu paus seberat 21 ton…weekkkk….langsung gepeng…!!

nabire4
Sumber : https://www.google.com/search?q=gigi+hiu+paus&tbm=isch&tbo=u&source=univ&sa=X&ved=0CCYQsARqFQoTCM7C0J6-7sYCFcGQlAodawYPHw&biw=1360&bih=657#tbm=isch&q=whale+shark+nabire

Nahhh…keren sekali bukaaaannn….foto-fotonya..???  Cerita-cerita nya juga keren….

Di Indonesia ini ada beberapa spot untuk bisa snorkling bersama hiu paus, di Kwatisore area Taman Nasional Teluk Cendrawasih (Nabire, Papua) salah satunya. Dan aku pengen bangeeetttttt….. ke sana…!!! Orang sana menyebutnya “Gurano” atau “Hiniotanibre”.  Katanya.., si hiu paus ini biasanya muncul pagi-pagi dan sore-sore di bagan-bagan (keramba ikan) milik nelayan , minta sarapan dan cemilan sore berupa ikan-ikan kecil dari para nelayan tersebut.  Nahhh…, saat-saat itulah kita bisa ikut berenang-renang bersama hiu-paus – hiu-paus tersebut.  Tapi…, tidak boleh terlalu dekat…, apalagi pegang-pegang ya..!!

Jadi…mari berburu tiket promo…!!!  Tiketnya Jakarta – Nabire mahalnya minta ampun… 😦

Memang ada beberapa alternatif untuk mencapai Nabire, misalnya via Biak lalu terbang lagi ke Nabire, atau via Sorong lalu lanjut kapal PELNI ke Nabire, atau terbang via Ambon lanjut Nabire, atau juga via Jayapura…

Untungnya…, ada Promo menarik dari Garuda Indonesia melalui event GATF  di Jakarta Convention Center pada 12 – 14 September 2014, tapinya lagi…. rute Jakarta – Nabire tidak termasuk yang rute promo…  Hmmm….adanya promo rute Jakarta – Biak.., dari Biak masih harus terbang lagi (dengan Susi Air ongkos sekitar Rp2.7jt pp ) ke Nabire , masih jauh sihhh…, tapiiiiii….., baiklaahhh… aku beli saja… si tiket Garuda Jakarta – Biak pp dengan harga sekitar  1.9jt pp (harga normal nya sekitar 5jt pp), untuk keberangkatan tanggal 11-Agustus-2015 dan pulangnya tanggal 18-Agustus-2015.

Biak-tiket1
E-ticket Jakarta – Biak dari Garuda Indonesia Promo

Masih lama yaaaa…?? Beli tiket September 2014, berangkat Agustus 2015…, hampir satu tahun lagi hihi…. tak apalah….., namanya juga tiket promo…

Kenapa pula pilih bulan Agustus..??  Karena.., kabarnya tingkat kemunculan yang paling sering itu sekitar bulan April sampai September. Sedangkan promo GATF untuk penerbangan hingga 18-Agustus-2015, di bulan-bulan lain saya sudah punya tiket untuk ke tempat lain, jadiiii….dipilih lah bulan Agustus 2015.

Dan…, aku dapat 3 teman yang juga sama-sama ingin pergi dan sudah beli tiket Garuda Promo juga, walaupun berangkatnya duluan mereka sehari.!  Asikkkk….ada kawan..!!!

=====================

Begini rencananya nanti :

Hari 0/ 11-Agustus-2015 jam 21:00 terbang bersama Garuda GA 650 dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Biak, sampai di Biak besoknya (tanggal 12-Agustus-2015 jam 05:00.  Istirahat sebentar di Bandara Biak (Frans Kaisiepo Airport), sambil menunggu penerbangan selanjutnya ke Nabire.

NABIRE

nabire3
Teluk Cendrawasih ( http://mapcarta.com/24948040/Map )

Hari 1/ 12Agst2015 Terbang dari Biak ke Nabire dengan Susi Air (jam 13:25-14:25) , lanjut ke Kwantisore, bermalam di local homestay atau di Kali Lemon Resort (Kali Lemon Resort, Jalan Kusuma Bangsa No.11, Desa Kwatisore , Nabire, Papua, Indonesia.  Tel: +62-984-24066.  HP: +62 81392117215 & +6281354136010. E-mail: info@hiniotanibre.com

Hari 2 / 13Agst2015 Menuju bagan di Teluk Cendrawasih, snorkling dengan whale shark, jelajah pulau-pulau, bermalam di local homestay.

Hari 3 / 14Agst2015 : Snorkling lagi, siang / sore kembali ke Kota Nabire, bermalam di hotel di Kota Nabire.

BIAK

biak2

Hari 4/ 15 Agst 2015 Terbang dari Nabire ke Biak (Susi Air, 06:00-07:00), lanjut ke pulau Owi , snorkeling . Bermalam di local homestay .

Hari 5/16 Agustus /Owi-Rurbas – Hotel (BLD). Fullday snorkeling di seputaran pulau Rurbas besar dan Rurbas kecil. Sore kembali ke Biak , menuju desa tradisional di Biak Utara. Bermalam di local homestay.

Hari 6/17 Agustus : explore masyarakat desa tradisional di Biak utara dan air terjun Warsa. Siang kembali ke Kota Biak, lihat carnaval budaya & kulineran sampai malam. Bermalam di hotel di kota Biak.

Hari 7/18Agsts2015 Pulang : Biak-Jkt (GIA, 09:50-13:40)

=====================

Taksiran biayanya…???? Hmmmm….mungkin sekitar 8jt (tidak termasuk tiket Jakarta-Biak pp).

Berangkaaattttt….menggapai impian bersama Garuda Indonesia, airline dengan kenyamanan kelas dunia….!!!!